[Series] My Lost Memory – Chapter 6

my-lost-memory

Author : Bernadette
Genre : Fantasy, Horror, Romance

~~~

Author’s pov

Kampus

Chanyeol berjalan gontai kearah perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat terfavorit chanyeol untuk tidur. Sesampai di perputakaan, chanyeol mencari tempat duduk yang nyaman. Chanyeol segera menggunakan tangannya sebagai bantalan dan mulai menutup mata.

Chanyeol-ah

Seperti merasa ada yang memanggilnya, Chanyeol kembali membuka matanya. Ia mencari sosok yang memanggil namanya tadi. Bagaimana ia bisa mendengar suara itu?

Chanyeol mengerutkan dahi melihat hanya ada dirinya di perpustakaan. Penjaga perpustakaan pun sudah tidak ada di tempatnya bertugas.

“Mwoya? mengapa aku hanya sendiri disini? kulihat beberapa menit yang lalu, ada beberapa mahasiswa disini.” gumam chanyeol.

Ketika chanyeol hendak melanjutkan kegiatan tidurnya tadi, ia kembali mendengar suara halus itu.

Chanyeol, kau kembali.

Chanyeol tak menggubris panggilan itu dan mulai menutup mata lagi. Ia sudah terlanjur memasuki dunia mimpinya.

Sementara itu..

Dara hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak bisa membuat Chanyeol melihat dirinya. Dara mendudukkan dirinya di hadapan Chanyeol. Haruskah ia menggunakan kemampuannya itu?

Chanyeol’s pov

Hawa dingin mulai menyelimuti diriku. Mau tak mau aku membuka mataku dan melihat ruangan ini sudah gelap. Aku merilekskan otot-otot tubuhku dan berjalan gontai untuk menyalakan lampu ruangan ini.

Seettttt…

 

Aku menoleh kearah belakang. Hanya gelap. Suara apa itu? Mengapa aku selalu merasakan bahwa aku tidak sendiri disini? Ini menyebalkan mengingat aku sangat takut dengan hal-hal yang berbau horror  karena Dara noona pernah menakut-nakutiku dengan bonekanya dulu. Dara noona. Aku belum mengetahui keadaannya hari ini. Lampu perpustakaan sudah kunyalakan. Kini, ruangan ini sudah tidak menyeramkan lagi seperti tadi. Kulirik jam tanganku. Sudah pukul 19.00 KST.

Tunggu. Kudengar ada langkah kaki menuju ke arah sini. Jantungku berdetak dengan cepat. Langkah kaki itu semakin terdengar jelas. Aku memejamkan mataku dan menunduk takut. Tuhan, aku sangat takut.

“Oh” pekikan seseorang terdengar. Aku membuka mataku pelan dan meneggakan kepalaku. Ternyata ia manusia. Eung? bukankah hantu tidak bisa menapak tanah? mengapa aku harus takut dengan langkah kaki itu?

Chanyeol, kau sungguh memalukan.

Aku menolehkan kepalaku ke arah sebelah kananku, tetapi tidak ada siapa-siapa. Aku kembali bergidik ngeri dan menolehkan kepalaku lagi kearah orang yang ada di depan pintu perpustakaan.

“Masih ada mahasiswa disini?” tanya nya kaget.

“Apakah kau mahasiswa baru?” lanjutnya kemudian.

“N…ne” jawabku terbata-bata.

“Baiklah. Jam 20.00 kau harus sudah keluar dari wilayah kampus karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Dan aku adalah penjaga perpustakaan. Mian tadi aku meninggalkan ruangan ini sebentar.”

“Dan bisakah aku meminta bantuan?” Sambungnya lagi.

“Tentu. Apa itu?”

“Bisakah kau mengunci pintu ini setelah selesai dengan urusanmu? ada hal penting yang harus kuselesaikan sekarang jadi aku harus pergi.” katanya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di jam tangannya.

“Ne. Aku mengerti” aku membungkukkan tubuhku dan mengambil kunci perpustakaan yang ditaruhnya dimeja.

Aku teringat lagi akan noona. Kurogoh sakuku dan menemukkan handphoneku. Aku segera mencari nomor eomma dan menelponnya.

“Yeoboseyo” suara eomma menyambutku.

“Eo, eomma. Bagaimana keadaan dara noona? aku meridukannya.” tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi.

“Belum seminggu kau tidak bertemu dengannya dan kau merindukannya? apakah kau tidak merindukan eommamu ini?”

Aku menyengir, “Tentu saja aku merindukanmu, eomma. Apa appa sudah pulang dari kantornya?”

“Appa sudah pulang. Dan dara masih dengan kondisinya. Dara masih belum juga sadar. Chanyeol-ah bagaimana hari pertamamu?”

Tiba-tiba, aku teringat kejadian tadi pagi.

“Eomma. Hari ini aku bertemu dengan jiyong hyung”

“Geuraeyo? bagaimana kabar Jiyong? Apakah kamu sudah memberitahu kabar dara? pasti jiyong merindukan dara”

Kebisuan melandaku. Aku kembali teringat ucapan seungri hyung.

Flashback.

Mataku menatap namja itu dari jauh. Aku masih sedikit marah akan sikapnya yang seolah-olah tak mengenaliku. Perhatianku teralihkan ke Seunghyun hyung yang berjalan mendekati jiyong. Daesung, youngbae, dan seungri hyung juga berkumpul disana. Kulihat, Seungri hyung berjalan menjauh dari mejanya. Aku mengikutinya dalam diam.

Kamar Mandi Pria

“Hyung” Panggilku.

Seungri menoleh kearahku. Sejenak ia terkejut dan kembali ke ekspresi awalnya. Tetapi senyuman tak bisa di sembunyikannya.

“Chanyeol. Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu? Dan selama ini kau kemana saja? Kau tau, aku merindukanmu” Seungri mencuci tangannya dan tatapannya beralih kearahku. Tak lupa, ia juga memelukku.

“Hyung. Aku ingin berbicara denganmu”

Seungri melepaskan pelukannya dan menatapku aneh.

“Wae?”

“Kenapa Jiyong hyung bersikap seolah-olah tak mengenaliku?”

“Kalian sudah bertemu?” Tanyanya kaget.

Aku menundukkan kepala dan mengangguk. Seungri terlihat resah dan mendengus pelan.

“Kau tau” aku meneggakkan kepalaku lagi dan memusatkan perhatianku kepada apa yang akan seungri lanjutkan.

“Jiyong amnesia”

Flashback end

“Yeoboseyo, chanyeol-ah. Kau masih disana?”

Aku kembali sadar dari lamunanku, “Ne, eomma”

“Aigoo, kau melamun?”

“Aniyo. Eomma tadi berbicara apa?”

“Eomma menanyakan tentang kabar jiyong”

“Ah mian. Kabar jiyong baik-baik saja dan aku lupa memberitahu tentang dara noona” Aku berbohong.

“Beritahukan kabar dara secepatnya, eo? jangan membuatnya khawatir tentang dara. Dan sampaikan maaf karena kami membawa dara ke New York dan selama satu tahun tak memberitahu kabarnya”

“Ne… eomma” ujarku pasrah.

“Eomma, kututup teleponnya”

Aku mengusap wajahku kasar. Aku menunduk dan retinaku menangkap secarik kertas yang dituliskan dengan tinta warna merah. Keadaan menjadi menyeramkan lagi setelah aku membacanya.

AKU ADA DISINI.

           DARA

Seungri’s pov

 

‘Hyung, aku ingin bertemu denganmu. Sekarang. Di cafe dekat kampus’

 

Send.

 

Pesan terkirim. Aku mengirimkan pesan kepada ketiga hyungku. Youngbae, seunghyun, dan daesung hyung. Jiyong hyung tak kuajak bertemu hari ini, karena aku punya sesuatu yang harus kuceritakan pada ketiga hyungku itu. Kuhembuskan nafasku berat. Sanggupkah aku menceritakan semuanya pada mereka? Dan apakah mereka masih mau menganggapku sebagai teman? Ani, sebagai sahabat. Aku menggeleng mencoba menghilangkan pikiran negatif  itu. Kulanjutkan perjalananku kearah cafe. Cuaca Seoul sangat dingin malam ini, jadi, mau tak mau aku harus merapatkan jaketku.

Aku membuka pintu cafe, mencari tempat duduk, dan mulai mengamati warga Korea yang berlalu lalang di depan cafe. Tak menunggu lama, seunghyun, daesung, dan youngbae hyung sudah berkumpul di meja ini. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Youngbae hyung membaca komik, Seunghyun hyung menelfon Bom noona, dan paling parah lagi, Daesung hyung menonton film di laptopnya. Apakah mereka tidak menganggap aku ada?

“Hyung deul” Ucapku agak keras yang membuat mereka bertiga menghentikan urusan masing masing. Tetapi detik berikutnya, mereka kembali melanjutkan urusannya.

“Bisakah kalian menghentikan urusan kalian sejenak? aku membutuhkan perhatian kalian.” tanyaku lemah tetapi mampu membuat mereka memfokuskan perhatian padaku.

“Bom, kututup telfonnya”

Daesung mem-pause filmnya dan youngbae membatasi komiknya dengan pembatas buku.

“Tapi, dimana jiyong?” tanya youngbae.

“Dia tak kuajak kesini”

“Wae?” kali ini seunghyun.

“Karena ia belum boleh tau tentang ini”

“Tentang apa?”

“Kurasa aku harus menceritakannya sekarang” aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Aku harus menceritakan ini pada kalian sebelum hal yang mengerikan akan terjadi.” lanjutku.

“Taeyeon merupakan dalang dari kecelakaan Dara dan Jiyong tahun lalu.” perkataanku cukup membuat mereka bertiga diam membisu dan membelalakan matanya syok.

FLASHBACK

28 Juli 2014

 

Author’s pov

 

Malam ini merupakan malam romantis bagi kedua pasangan yang tengah menghabiskan waktu bersama di sebuah restoran. Bisa dibilang, pertemuan mereka adalah double date. Perbincangan mereka sangat seru dan mengisi keheningan mereka. Berbagai jenis topik pun dipertanyakan oleh mereka, baik pertanyaan tentang kencan atau pertanyaan tentang kehidupan kuliah.

“Dara, bagaimana pertemuan pertama mu dengan jiyong?” tanya Bom geli.

“Bom-ah jangan bertanya tentang itu. Kau tahu, pertemuan kami berdua sangat tidak romantis” dara tertawa renyah setelah mengatakannya.

“Ah aku ingat sekarang. Kau pernah menceritakannya, bukan?”

“Tidak romantis? ya itu benar. Aku membuatnya terluka pada saat kami pertama kali bertemu” Jiyong menimpali.

“Lalu bagaimana kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu, jiyong?” pertanyaan lainnya terlontar dari mulut seunghyun.

“Hanya memberikannya perhatian penuh dan selalu berada disisinya. Ah jangan lupa berikan cinta yang tulus.” Jiyong merangkul bahu dara.

“Hanya itu?” bisik dara.

“Menurutku kau membuatku jatuh cinta karena ketampananmu” lanjut dara.

“Jinjja? Berarti kau sudah terjerat dalam pesonaku” jawab jiyong sambil mengeluarkan smirk andalannya.

“Kata-katamu terlalu puitis” Dara melepaskan rangkulan jiyong dan meminum winenya.

“Bom. Setelah ini kau mau kemana?”

“Aku akan pulang”

“Jadi hari ini hanya seperti ini?” Seunghyun kecewa dengan penuturan Bom.

“Apakah kau mau berkunjung ke apartemenku?” goda Bom sambil menaikan kedua alisnya.

“Tawaran yang sangat menggoda” Seunghyun tertawa ringan.

“Aigoo. Hentikan keromantisan kalian”

“Seungri?” Tanya jiyong dan seunghyun bersamaan.

“Jadi kalian tak menyadari kami disini?” timpal Daesung yang berada disebelah Seungri.

“Bahkan kalian tak mengajak kami. Dara unnie aku kecewa padamu”

“Chaerin-ah, bukan seperti itu”

“Bom unnie aku juga kecewa denganmu”

“Hentikan sikap kekanak-kanakanmu, Minzy”

“Karena semua sudah berkumpul, bagaimana kalau kita duduk bersama?” jiyong mencoba mencairkan suasana.

“Baiklah” ujar chaerin, minzy, daesung, dan seungri kompak.

Suasana semakin menjadi ramai dengan sedikit perkelahian mereka. Bahkan, chaerin masih saja cemberut.

“Chaerin-ah, Minzy-ah jangan marah lagi, eo? kami lupa untuk mengajak kalian. Bahkan, kami tidak sengaja berkumpul karena Bom dan Seunghyun juga makan malam disini” Dara mencoba menghilangkan rasa kecewa Chaerin dan Minzy.

“Itu benar” dukung Bom.

“Jinjja? kalian tidak sedang berbohong kan?” tanya seungri.

“Kau tidak usah ikut-ikutan” ujar Bom menunjuk wajah seungri. Seungri menunduk dan menahan tawa.

“Unnie, aku hanya bercanda” kata chaerin dengan tampang tak berdosa.

“Mwo?” Tanya dara tak percaya.

“Sebenarnya kami mengikuti kalian tadi. Aku dan Daesung oppa mengikuti dara unnie dan jiyong oppa”

“Sementara aku dan seungri mengikuti bom unnie dan seunghyun oppa” Minzy dan chaerin berhigh-five ria setelah mengucapkannya.

“Mengapa kalian mengikuti kami?” tanya jiyong, dara, seunghyun dan bom bersamaan.

Daesung dan lainnya tak bisa menahan tawa. Tawa mereka pun keluar dan tak bisa dikontrol dengan baik.

“Kami hanya ingin mengamati bagaimana cara kalian berkencan” jawab chaerin yang sudah pulih dari tawanya.

“Wah aku tak bisa percaya ini”

“Aku juga”

“Unnie deul, aku hanya ingin bersenang senang sedikit. Bisakah kita melewati malam ini dengan damai?”

“Minzy benar, lupakan kejahilan kami dan lewati malam ini dengan menyenangkan” timpal Daesung.

“Aku masih tak bisa mempercayai ini” akhirnya jiyong berucap.

“Mari kita habiskan malam ini dengan menyenangkan” seunghyun menyetujui daesung

Malam pun benar-benar berakhir dengan menyenangkan dan hingga pada saatnya untuk pulang.

“Aku akan mengantar bom pulang. Kami duluan” teriak seunghyun yang sudah memasuki mobilnya dan melambai pada mereka.

“Kalau begitu kami juga duluan. Minzy kajja” Daesung menyerahkan helm pada minzy.

“Unnie, kau tidak pulang?” Tanya chaerin.

“Tentu saja dara akan pulang dan yang mengantarnya adalah aku” jiyong menyambar pertanyaan chaerin.

“Geurae. Bawa unnie dengan selamat, eo?”

“Siap” Jiyong dan dara memasuki mobil jiyong, setelah dara sudah duduk dengan manis dikursi penumpang, jiyong mulai menyalakan mesin mobilnya.

Ting..

Handphone Seungri berbunyi. Ada pesan yang masuk.

 

‘Lihatlah pertunjukkan ini sebentar lagi’

                              Taeyeon.

 

Seungri bingung akan perkataan Taeyeon dan memilih mengabaikannya.

“Kajja, chaerin-ah”

“Geurae”

Cittt… brakkkk…braakkkk..braakkkk

 

Belum sampai beberapa menit, Seungri dan Chaerin sudah melihat kecelakaan itu. Jeritan chaerin tak bisa ditahan.

“Itu mobil Jiyong oppa”

Seungri dan chaerin berlari ke arah mobil jiyong. Disana jiyong berlumuran darah didaerah kepala. Sedangkan, dara sudah tidak ada di sekitar TKP. Chaerin menangis sesenggukan dan dengan panik menelpon ambulance dan polisi.

Ting..

 

Handphone Seungri berbunyi lagi.

‘Pertunjukkan yang menarik bukan?’

                         Taeyeon.

 

Seungri menggeram kesal dan membanting handphonenya. Ia tak menyangka, bahwa orang yang dia sayangilah yang melakukan semua ini.

FLASHBACK END

 

                                     

TBC

next>>>

 

Ide muncul lagi, hohoho. Gimana ffnya? makin gaje kan? wkwkwk. Jangan lupa tinggalkan jejak, chingu. Hengsho ^^

Advertisements

23 thoughts on “[Series] My Lost Memory – Chapter 6

  1. wah bener2 greget bacanya ,orang gila mana yang bilang itu pertunjukan manusia apa d*vil tuhhh,emggk punya ot*k emang si nenek sihir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s