MEA CULPA [Chap. 11]

Author : Aitsil96

Bus terakhir baru saja pergi, namun gadis itu masih terduduk di halte. Seorang diri. Makian frustasi terdengar pelan dari bibir cherinya yang sedari tadi mengerucut. Walau wajah cantik itu terlihat tak bersahabat, namun masih terlihat menggemaskan. Sisa air mata telah mengering dari pipinya, begitu juga dengan noda darah di sudut bibir yang kini meninggalkan rasa perih.

Ia terlalu lelah untuk terus tersedu dan meratapi nasib menyedihkannya bagai gadis dungu. Sandara mendesah. Berat dan kasar. Jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel pintarnya.

“Sial!”

Lagi. Gadis itu menggerutu entah untuk yang keberapakalinya dalam dua jam terakhir. Ponsel prianya tidak aktif. Satu-satunya orang yang mampu menjadi sandaran terakhirnya tak bisa dihubungi. Benar-benar sial! Terlebih kini Bom juga tak mungkin ia mintai pertolongan. Apakah Sandara harus menyusulnya ke Daegu?

Astaga, tak adakah orang lain yang bisa ia tuju di saat seperti ini?

Kring!

Layar ponselnya tiba-tiba hidup dengan nomor tak dikenal yang menghubunginya. Gadis itu mengerutkan alisnya seraya berpikir, menatap ponselnya dengan penuh tanda tanya. Sepertinya nomor ini tak asing baginya. Haruskah ia mengangkatnya? Namun saat jarinya akan bergerak, sambungan itu telah terputus.

Ting!

Satu pesan masuk.

‘Aku Ji Yong. Jawab teleponku.’

Manik hazel itu sempurna membelalak lebar. Ji Yong? Jadi… nomor yang baru saja menghubunginya…? Astaga, untuk apa pria itu menghubunginya di saat larut seperti ini?

Yeoboseyo?”

Sandara meneguk liurnya, sadar akan jarinya yang bertindak terlalu cepat saat pria itu menghubunginya kembali. Shit! Seharusnya ia tak perlu mengangkat teleponnya!

Eodiya?’

“Bukan urusanmu!”

‘Jawab pertanyaanku dengan benar.’

Manik hazelnya melebar ketika mendengar ucapan dengan nada dingin tersebut, “Di… halte,” tanpa sadar jawaban itu meluncur dari bibirnya.

‘Sedang apa? Bukankah ini terlalu malam untuk menungu bus?’

“Entahlah,” jawab Sandara parau.

‘Kau tak pulang?’

Shireo!”

Pria di ujung sambungan mengerutkan alisnya, sadar akan jawaban yang terlalu cepat dari Sandara, ‘Wae?’ tanyanya hati-hati.

“Hanya… tidak ingin.”

‘Kirimkan aku alamat jelasmu. Aku akan ke sana.’

Mwo?!”

*****

Deru mesin mobil terdengar dari ujung jalan, membuat Sandara menoleh dan dapat dengan pasti menebak siapa orang yang sedang mengendarai audi hitam tersebut. Ji Yong. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mungkinkah keputusannya untuk memberitahu lokasinya berada pada Ji Yong ini salah? Namun ia juga seakan tak punya pilihan lain. Bukankah hanya pria itu yang mampu dihubunginya untuk saat ini?

Mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Seseorang keluar dari sana dengan suara langkah yang terdengar jelas, namun Sandara memilih untuk menunduk. Sama sekali tak ingin melihat wajah dari pria yang menghampirinya tersebut.

“Sedang apa kau di sini?”

Suara khas itu menyambangi lagi indera pendengarannya, membuat Sandara terhenyak untuk sesaat.

“Hanya… mencari udara segar,” jawabnya asal.

Ji Yong tertawa dengan nada sumbangnya, “Kau pikir aku bisa dibodohi? Mencari udara segar di saat jam menunjukkan pukul sebelas malam?”

“Jika kau kemari untuk mengejekku, maka pergilah.”

Sandara hendak beranjak dari duduknya, namun pergerakan tersebut terhenti ketika Ji Yong mencengkeram pergelangan tangannya, “Tunggu!”

“Lepaskan!”

Manik kelam itu membulat, melihat kondisi Sandara yang tak bisa dibilang baik-baik saja. Walau dengan penerangan lampu halte yang remang, namun Ji Yong dapat melihat jelas ruam di pipi gadis itu, juga noda darah yang telah mengering di sudut bibirnya. Ji Yong ingin bertanya, namun gadis itu memberontak dengan segala sisa daya yang ia punya.

Sandara merasa ini tidak benar. Bertemu dengan pria di hadapannya hanya akan membuang-buang waktunya dan tak akan menyelesaikan apapun, namun akhirnya ia dipaksa harus mengalah. Ji Yong menahannya terlalu kuat. Sama keras kepalanya hingga entah apa yang terjadi, namun pergerakan Ji Yong berakhir dengan mencengkeram kedua bahu Sandara, lalu menarik tubuh ringkih itu ke dalam dekapannya.

Ji Yong memeluk Sandara.

Entah setan apa yang berhasil menguasainya, kejadian itu berlangsung cepat dan bahkan tak sanggup dicegah Sandara. Sempat menegang di tempatnya, namun gadis itu kembali memberontak. Semakin ia bergerak liar, maka di saat itu pula Ji Yong makin mengeratkan pelukannya. Ji Yong tahu mungkin ia sinting, namun ia tidak bisa melepaskan gadis ini begitu saja.

Terlebih karena melihat pancaran manik itu. Manik hazel yang kini mulai menjadi manik favoritnya. Manik yang selalu berpendar terang saat menatap, namun kini bisa ia lihat kilatan kesedihan di sana. Ji Yong membenci kenyataan itu. Benci akan keadaan Sandara yang tersakiti, walau ia tak tahu untuk alasan apa.

Gerakan gadis itu melemah seiring ia yang kehabisan tenaga. Sandara sudah terlalu lelah. Diperlakukan seperti ini oleh Ji Yong entah mengapa mampu membuat air matanya merebak kembali. Cairan asin sialan yang mulai menggenang di pelupuk kini terjun dengan bebasnya tanpa sanggup ia hentikan. Tangis itu pecah. Awalnya pelan, namun tiba-tiba mengeras dan terdengar pilu di telinga pria yang tengah mendekapnya tersebut.

Tangan ringkihnya memukul dada serta punggung Ji Yong. Lemah. Sandara tahu kondisinya benar-benar memprihatinkan, namun ia hanya ingin menumpahkan segala emosinya yang sedari tadi berusaha ditahannya mati-matian. Ia memilih untuk berteriak, menumpahkan segala perasaan campur aduknya pada Ji Yong. Pria yang bahkan tak terlalu lama dikenalnya namun sanggup membuat perasaan tak menentunya membuncah dalam sekejap.

Makin lama, Sandara makin menyadari satu hal yang selama ini berusaha disangkal. Hal terbodoh yang pernah ia lakukan, namun melarikan diri pun untuk saat ini dirasa sangat sulit dan tak memungkinkan.

Ia telah terjatuh. Terjatuh lebih dalam pada pesona seorang Kwon Ji Yong.

*****

“Mandilah. Kau bisa gunakan kamar mandi yang ada di dalam kamar.”

Sandara menoleh pada pria di belakangnya yang tengah merapikan sepatu ke rak tersebut, “Aku… tak punya baju ganti.”

“Pilihlah bajuku yang ada di lemari.”

Jari tangan mungil itu tertaut, kebiasannya di saat gugup seperti ini. Gugup? Oh astaga, sudahkah Sandara bilang bahwa ini pertama kalinya ia akan menginap di apartemen seorang pria asing? Ya. Ji Yong. Bukankah pria itu masih asing untuknya? Gadis itu bahkan baru mengingat nama pria itu kemarin malam. Bukankah ini tak waras? Setelah mengenal pria itu, Sandara memang bagaikan orang sinting.

Dengan isyarat dagunya, Ji Yong memberitahu gadis itu dimana kamarnya. Walaupun tak diberitahu, sepertinya Sandara sudah cukup peka karena hanya ada satu ruangan berpintu di apartemen minimalis milik pria tersebut. Kakinya cukup ragu untuk melangkah, namun apa boleh buat? Ia juga sudah tak nyaman dengan tubuhnya yang lengket oleh keringat.

“Kau… yakin hanya punya ini? Tak adakah pakaian yang lebih baik?”

Ji Yong yang tengah menyeduh cokelat hangat di dapur mendongak. Mendapati Sandara yang telah menghabiskan tiga puluh menit waktunya di dalam kamar dan kini telah keluar dengan kaus kebesaran motif abstrak dan celana training miliknya yang dilipat hingga lutut karena terlalu panjang. Lengkungan tawa muncul di sudut bibirnya, merasa geli dengan penampilan aneh namun tetap menggemaskan dari gadis tersebut.

“Memangnya apa yang bisa kau harapkan dari lemari seorang pria yang tinggal sendiri?”

Sandara memutar maniknya malas, lalu menjatuhkan tubuhnya di sudut sofa. Setidaknya pakaian ini bersih, bukan?

“Mau ku masakkan sesuatu?” tanya Ji Yong seraya mendudukkan dirinya di sebelah Sandara dan menyodorkan cokelat hangat buatannya.

“Tidak, ini sudah cukup.”

Ji Yong mengangguk lalu tanpa sadar tersenyum, “Tidurlah di kamar jika kau sudah selesai.”

Mwo?!”

Sandara hampir saja tersedak jika saja cokelat hangat itu belum lolos melewati kerongkongannya. Di kamar? Bukankah hanya ada satu kamar di apartemen ini? Jadi… maksudnya… mereka…

“Aku akan tidur di sofa. Kau bisa gunakan kamarku.”

Blush!

Astaga, pikiran gadis itu terlalu liar.

“Biar aku saja yang tidur di sini,” ucap Sandara yang telah mengendalikan rona merah di pipinya.

“Jangan membantahku, nona. Atau kau ingin kejadian di mobil terulang kembali?”

Sandara mendelik, mencoba mencerna ucapan Ji Yong. Kejadian di mobil? Kejadian apa memangnya? Seringaian tercetak jelas dari bibir penuh Ji Yong dan tanpa sadar gadis itu memperhatikannya. Semakin diperhatikan, maka ia semakin sadar akan maksud perkataan sinting Ji Yong. Kejadian di mobil? Mungkinkah…?

“Yak!”

Ji Yong terbahak dan mengaduh di saat yang hampir bersamaan ketika gadis itu dengan tanpa ampun memukulinya dengan bantal sofa. Wajah gadis itu kentara merah padam dan pipinya menggembung dengan cara yang lucu. Bukankah menggoda Sandara terlalu menyenangkan untuk dilewatkan begitu saja?

Tangan Ji Yong terulur meraih pergelangan tangan Sandara dan membuat pergerakan gadis itu terhenti seketika. Jarak antar wajah mereka amatlah tipis, dan pikiran gadis itu sudah berkelana tak tentu arah. Ini bukan yang pertama kalinya dan jantung gadis itu mulai berdetak secara tak normal.

Jangan! Jangan lagi! Bukankah kejadian tempo hari sudah lebih dari sinting?

“Tunggu di sini.”

Pria itu beranjak dari posisinya dan meninggalkan Sandara yang masih bertahan dengan ekspresi tak terkendalinya. Gadis itu meneguk liurnya serta akhirnya mampu bernapas normal kembali.

Bodoh! Sebenarnya apa yang kau pikirkan?

Tak lama berselang, Ji Yong kembali dengan kotak putih di genggaman setelah mengambilnya di salah satu nakas yang berada di sudut ruangan. Dengan telaten, pria itu menumpahkan alkohol pada kapas lalu meminta Sandara mendekat.

Ji Yong mengobati luka Sandara.

Gadis itu hanya terdiam seribu bahasa manakala tangan kokoh itu terulur untuk mengobati luka di sudut bibirnya. Perih. Sandara pun sempat meringis meski Ji Yong melakukannya secara perlahan demi mengurangi rasa sakitnya. Sandara kembali dibuat mematung ketika dengan tiba-tiba telapak tangan pria itu mengelus pipinya yang dapat ia rasakan berdenyut pelan.

Bekas tamparan Hye Mi.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Ji Yong setelah membereskan peralatannya.

Sandara kembali terdiam. Lidahnya kelu dengan manik yang berputar tak tentu arah. Bingung harus berbicara seperti apa pada pria yang bahkan tak tahu tentang asal-usul dirinya.

“Tinggalah di sini untuk beberapa waktu.”

“Eh?”

“Bukankah kau tak mempunyai tempat untuk dituju? Tenanglah, aku tidak akan macam-macam.”

Ji Yong melukis senyuman, dan Sandara kembali tertegun bak gadis dungu yang bisu. Walau gadis itu hanya mengetahui pekerjaan macam apa yang pria itu lakukan dan terkesan asing, namun entah mengapa Ji Yong terlihat tulus di matanya. Ia seolah merasa akan baik-baik saja selama bersama pria itu. Entah ini hanya perasaan bodohnya, namun Sandara tak bisa untuk menampik itu semua.

“Terima kasih, namun setelah Bom pulang sepertinya aku akan segera pergi dari sini.”

Ada denyut nyeri yang meremas hatinya perlahan. Entah untuk alasan apa, namun mendengar penolakan Sandara membuat dirinya diselimuti ketidaksukaan yang amat kentara. Ji Yong membenci itu. Membenci ketika Sandara kembali menolak kebaikannya, hingga membayangkan gadis itu yang akan menjauh dari jarak pandangnya membuat pria itu bak cacing kepanasan.

Banyak pertanyaan yang terkumpul dalam benaknya, tentang asal-usul Sandara, tentang kehidupan pribadinya, hingga segala detail tentang gadis tersebut. Termasuk tentang pria yang bersamanya tadi siang. Sekelebat bayangan itu kembali menghampiri. Bayangan saat Sandara tersenyum bahagia pada pria lain yang sialannya berwajah rupawan.

Ji Yong mendengus seraya memutarkan maniknya, menyadari hatinya yang kembali memanas, layaknya tadi siang hingga memberanikan diri menghubungi gadis itu akibat akal sehatnya yang tiba-tiba kacau. Siapa sebenarnya pria itu? Sedekat apa hubungannya dengan Sandara?

Segala pertanyaan pria itu terkumpul di tenggorokannya tanpa sempat ia lontarkan. Melihat Sandara yang mulai menguap hingga membuat matanya berair membuat Ji Yong kembali terenyuh dan menyimpan rasa penasarannya untuk saat ini.

Gaeurae. Tidurlah, ini sudah sangat larut.”

*****

Aku mengedarkan pandangan dengan keringat mengalir di pelipis hingga sekujur tubuhku. Sinar matahari mulai memasuki celah gorden, namun ini masih terlalu pagi dari jam biasanya aku terbangun. Tidur di sofa membuat tubuhku sedikit sakit, terutama di bagian punggung. Aku meringis perlahan lalu beranjak dari posisi terlentang.

‘Siapkan dirimu. Hari ini rekeningmu akan terisi kembali.’

Aku menyeringai melihat pesan singkat dari Seung Hyun yang dikirimnya beberapa menit lalu. Baguslah, setidaknya aku tak perlu memikirkan biaya hidup untuk tiga bulan ke depan.

Kakiku melangkah menuju kamar, berniat untuk menjernihkan pikiran dengan mandi di pagi hari. Baru saja pintu itu ku buka, sesaat kemudian aku baru menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang bergelung di balik selimut putih tebal. Meringkuk hangat di ranjangku dengan dengkuran halusnya yang mampu ku dengar.

Astaga, mengetahui rekeningku akan terisi membuatku terlalu bersemangat hingga melupakan kehadiran Sandara.

Pagi ini aku mandi lebih cepat dari biasanya. Bersiul riang saat melangkah keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang, dan satu handuk kecil lain yang ku gunakan untuk mengusap kasar rambutku yang basah akibat keramas.

Kring!

Satu suara menghentikan pergerakanku yang hendak membuka lemari. Ponsel gadis itu bersuara dan menampilkan panggilan di sana.

Ahjussi?” gumamku seraya membaca nama yang tertera di layar ponsel tersebut.

Dahiku berkerut. Siapa? Haruskah aku mengangkatnya?

Baru saja tanganku terulur, lenguhan gadis itu terdengar seiring dengan pergerakannya yang meregangkan tangannya ke udara. Aku memperhatikannya lamat-lamat, wajah manis itu bahkan terlihat sangat menggoda di pagi hari. Matanya sembab, entah karena kelelahan atau karena menangis hebat sebelum aku membawanya paksa ke apartemenku.

Jika ku ingat lagi, aku bahkan tak mengetahui alasannya menangis hingga saat ini. Rasa penasaranku terhadapnya terlalu besar, namun aku sama sekali tak punya waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut. Atau… mungkin memang tak berani? Termasuk tentang hubungannya dan Seung Hyun. Itu merupakan pertanyaan terbesar untukku, terlebih pria alien itu dengan tegas menolak lebih jauh menjelaskan saat ku tanyakan apa maksud perkataan anehnya.

Akal sehatku selalu tersita akibat kehadirannya. Memperhatikannya dalam jarak sedekat ini sungguh sangat bisa menjungkirbalikkan duniaku dalam sekejap. Singkatnya, katakanlah aku memang sinting.

“Yak! Apa yang kau lakukan di sini?”

Sandara sempurna tersadar saat aku masih betah berdiri di sisi ranjang. Manik indah nan mengagumkan itu menatapku tajam dan dengan reflek tangannya mencengkeram ujung selimut hingga menutupi rapat seluruh tubuhnya. Astaga, gadis ini benar-benar menggemaskan. Mungkinkah ini karena penampilanku yang shirtless?

“Singkirkan pikiran kotormu. Aku sama sekali tak bermaksud untuk menggodamu, nona.”

Tatapan itu makin mendelik tajam, dan itu membuatku makin tak bisa menahan tawa akibat tingkah konyolnya. Dengan isyarat dagu, aku menunjuk pada ponselnya di atas nakas yang telah berhenti berdering, “Ahjussi memanggilmu.”

“Dong Hae?!” ucapnya setengah berteriak dan dengan gerakan cepat mengambil ponselnya, “Astaga! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”

Dahiku berkerut melihat tingkah berlebihannya, “Dong Hae? Siapa dia?”

Sadar akan ucapan dinginku, gadis itu menengadah. Meniknya berputar tak tentu arah, kelihatan bingung untuk menjawab.

Dengan berani aku mencondongkan tubuhku, tak peduli jika ia akan semakin risih dengan jarak kami yang perlahan terkikis, “Siapa dia, Park Sandara?”

Hening beberapa saat hingga satu pernyataan terlontar dari bibir cherinya. Kalimat singkat nan sinting yang membuat diriku luar biasa memanas. Dengan sengaja menyulut bara api yang terpendam hingga seakan mampu membakar diriku di detik itu juga.

“Dia… kekasihku.”

.
.
.

To be continued…

Advertisements

13 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 11]

  1. Alur cerita nya panjang tp rinci bngt thor ga bikin males buat baca,, ^^
    Kira” gmn ya reaksi jidi saat tau klo dara udh punya pcr 😀 jgn sampe jidi nyerah deh, hrs rebut darong dari dongdongae,, 😀😀

  2. aigoooo akhrny ji tau siapa donghae,trus ji bakal lakuin apa dah buat dptin dara ? tp kalo ji tau client yg dia dpt it eommanya dara apa kabar dahh hmmm

  3. Wah sandara kayaknya sudah mulai suka nih sm jiyong….. knp dara masih saja menolak kebaikan dari jiyong jadi kasihan jiyongnya…… yah akhirnya jiyong tau deh klu dara dah punya kekasih patah hati kan jiyongnya…. next chap ya kak ditungguin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s