MY GLOOMY WORLD [Chap. 2]

mgw

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Ia… ibu kandungmu?”

.

.

.

Di sinilah mereka sekarang. Duduk melingkar di meja makan dengan berbagai macam hidangan lezat yang tersaji di hadapan. Seperti perkataan Jun Hyung tadi pagi, malam ini Hye Mi akan datang. Ternyata wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tak datang sendiri, ia membawa putranya juga untuk datang.

Makan malam ini terlihat akrab dengan Jun Hyung yang sedari tadi tak henti menebar senyum dan tawa serta terlihat ramah sebagai tuan rumah yang menjamu tamunya dengan hangat. Acara ini diadakan untuk menyambut tahun baru. Jun Hyung memang sengaja mengundang Hye Mi untuk datang beberapa hari yang lalu. Rupanya perayaan ini juga telah dipersiapkan secara matang oleh Jun Hyung sendiri tanpa diketahui Sandara.

Hye Mi adalah wanita berumur awal 50-an yang masih terlihat anggun. Bisa kau tebak, ia dan Jun Hyung memang memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman. Mereka dipertemukan karena urusan perusahaan dan terus berhubungan baik hingga kini mereka menjalin kisah spesial yang tak pernah disangka sebelumnya akan terjadi. Sandara memang telah mengetahui Hye Mi, secara tidak langsung Jun Hyung telah mengenalkannya pada wanita itu jauh sebelum benih-benih cinta menghampiri hati Jun Hyung dan Hye Mi.

Awalnya Sandara sangat mendukung dengan keputusan ayahnya yang telah memilih Hye Mi, ia adalah wanita yang mempunyai kelembutan dan berhati baik menurut Sandara. Terkadang, ia bahkan sangat diperhatikan oleh Hye Mi jika wanita itu mengunjungi rumahnya. Layaknya teman, mereka juga sering menghabiskan waktu bersama dengan berbelanja dan berbincang tentang banyak hal. Gadis itu pun setuju jika kelak Hye Mi-lah yang akan menemani Jun Hyung di masa tuanya.

Hingga suatu saat Sandara mulai menjauh dari wanita itu. Sandara membenci Hye Mi. Membenci dengan segala kenyataan pahit yang ada tentang wanita itu. Rasa sayang yang mulai tumbuh darinya, mulai jauh terkubur karena kebencian yang amat kentara. Sebenarnya tak ada yang salah mengenai wanita itu. Selama ini ia bahkan selalu bersikap baik padanya. Namun segala kebaikannya tertutupi dengan satu kenyataan menyakitkan. Semua itu karena satu hal. Ji Yong.

*****

Flashback

Mereka saat ini tengah duduk berhadapan di salah satu meja kafe dengan kaca luar yang tak jauh darinya. Memperlihatkan kebun belakang kafe yang dulunya dipenuhi tanaman hias serta air mancur, sekarang telah membeku dengan dominasi salju dimana-mana. Sandara merapatkan hoodienya, meskipun ia telah mengenakan pakaian berlapis-lapis, tapi udara dingin serasa menusuk langsung tulangnya.

 

“Silakan,” seorang pelayan wanita baru saja datang ke mejanya dengan membawa dua buah cangkir yang masih terkepul asap di atasnya.

 

Hari ini adalah awal musim dingin. Salju begitu lebat turun tadi malam sehingga menimbulkan gumpalan-gumpalan padat putih di sepanjang jalan. Sandara dan Ji Yong memutuskan untuk singgah di kafe ini setelah mencari buku referensi untuk tugas mata kuliah Sandara. Hari ini Sandara meminta Ji Yong untuk menemaninya ke toko buku, dan dengan senang hati Ji Yong menerima ajakan itu. Tentu saja ia senang, gadis yang sedang didekatinya ternyata memberikan respon positif padanya. Membuat hatinya bergemuruh bahagia bahkan hampir berteriak norak saking senangnya.

 

“Terima kasih karena mau menemaniku, Ji Yong-ah.”

 

Ji Yong menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal saat melihat Sandara tersenyum manis padanya. Menandakan ia yang salah tingkah, “Ne. Lain kali tak usah sungkan jika ingin meminta bantuan dariku.”

 

Lengkungan di ujung bibir Sandara muncul lagi, menampakkan senyuman yang amat manis di hadapan Ji Yong. Bahkan mungkin ia akan overdosis saking manisnya. Oh Tuhan, mengapa kau ciptakan makhluk semenawan gadis ini? Batin Ji Yong.

 

Sandara dengan tangannya yang jahil memainkan ujung cangkir hot chocolate yang tersaji di hadapannya. Beberapa detik kemudian, muncul seorang pelayanwanita dengan membawa sepiring bungeoppang pesanannya. Kue jajanan super terkenal di Korea dengan bentuk ikan yang memang Sandara gemari.

 

“Jangan hanya menatapnya, makanlah selagi hangat.”

 

Tangan Sandara terangkat untuk mengambilnya setelah sekilas melihat wajah Ji Yong, “Kau bohong, ternyata ini panas,” bibir wanita itu mengunyah dengan lucunya, khas orang kepanasan.

 

“Kau mau?” tawar Sandara.

 

“Aku hanya ingin jika kau yang menyuapinya.”

 

Kunyahan di mulutnya sempat terhenti karena cukup terkejut dengan kalimat yang dituturkan Ji Yong. Namun entah mengapa tangannya serasa bergerak sendiri untuk menyimpan sisa kue yang baru saja digigitnya, kemudian mengambil kue yang lainnya untuk diarahkan pada muka pria di hadapannya itu.

 

Ji Yong sempat ragu karena sebenarnya ucapannya tadi hanya bermaksud menggoda. Tak sangka akan ditanggapi serius oleh Sandara. Namun kini kepala pria itu maju dengan bibir yang terarah pada bungeoppang di hadapannya. Dengan sekali lahap, pria itu memasukannya ke dalam mulut.

 

Setelahnya, kedua insan itu tak ingin menatap satu sama lain. Sandara asik dengan bungeoppangnya, sementara Ji Yong mulai menyeruput hot chocolate. Atmosfer canggung kentara berada di sekitar mereka saat ini, seakan momen ‘suap-suapan’ beberapa saat lalu tak pernah terjadi di antaranya. Saking canggungnya, Ji Yong permisi untuk ke toilet sebentar. Itu sebenarnya hanya alibi, pria itu bahkan hanya sekadar ingin menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan karena ulah Sandara yang dengan lugunya menuruti perintah bodohnya.

 

Saking terburu-burunya pria itu pergi, ia bahkan menjatuhkan dompet yang tadinya berada di kantung belakang celananya. Sandara yang segera menyadarinya segera berdiri dan memungut benda itu. Dompet Ji Yong terjatuh dengan posisi terbuka. Dengan lancangnya gadis itu malah meneliti foto yang berada di dalamnya. Itu adalah foto semasa kecil Ji Yong saat berulang tahun yang ke-7. Terlihat dari kue besar yang berada di hadapannya dengan angka tujuh yang menghiasi.

 

Sandara bahkan sempat tersenyum karena menyadari betapa tampannya pria itu semenjak kecil. Namun segera senyum itu berubah menjadi ekspresi bingung bercampur kaget luar biasa. Perhatiannya teralihkan karena menyadari sesuatu yang ganjil saat melihat wanita yang berdiri di samping Ji Yong kecil. Wanita ini sungguh persis sama dengan wanita yang baru dikenalkan Jun Hyung beberapa minggu yang lalu padanya.

 

Dengan kerutan yang masih tergambar jelas di dahinya, seseorang menarik dompet itu dan membuat Sandara seolah tersentak ke alam sadar. Ji Yong telah datang dan berdiri di hadapannya.

 

“Kau melihat fotoku semasa kecil? Aish, ini sungguh memalukan, Ra-ya.”

 

Ji Yong baru saja menaruh kembali dompetnya di kantung belakang celana saat Sandara dengan erat mencengkeram pergelangan tangannya dengan tatapan tajam terarah padanya.

 

“Han Hye Mi… ibu kandungmu?”

End of Flashback

*****

“Kau sedang tidak nafsu makan?”

Tubuhku segera menegak saat mendengar interupsi dari appa. Aku memilih untuk tersenyum seraya menggeleng lemah tanpa mengeluarkan sepatah katapun ke arahnya. Sejujurnya tak ada sama sekali nafsu makan yang aku miliki saat ini. Sedari tadi tanganku hanya mengaduk-aduk makanan di piring dan sesekali menjejalkannya ke mulut dengan enggan. Tak ada yang salah dengan hidangan ini, semuanya enak dan bahkan cenderung lezat. Namun suasana ini sama sekali tak ingin aku hadapi. Muak. Satu kata yang menggambarkan perasaanku.

“Kau sedang sakit, honey?” tanya Hye Mi lembut yang sedang duduk di hadapanku.

Aniyo, eommonim,” aku memaksakan lagi sebuah lengkungan senyum di bibir seraya menjawab.

Akhirnya aku memutuskan menghabiskan sisa makanan di piringku dengan kecepatan ekstra hingga hampir saja memuntahkan kembali apa yang sudah ku telan. Situasi saat ini membuatku merasakan keadaan yang luar biasa canggung. Sedari tadi aku hanya diam seraya berusaha menjawab berbagai macam pertanyaan yang diajukan appa dan juga Hye Mi sekenanya. Ini adalah kali pertama Hye Mi datang ke rumah dengan membawa putranya. Ji Yong.

Dari ujung bola mata dapat ku lihat pria yang berada di sebelahku itu sedang duduk santai setelah menyantap habis makanannya. Ternyata bukan aku saja yang mendadak pendiam saat makan malam ini diadakan, namun juga dirinya. Ia bahkan tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dengan suara baritonnya setelah memperkenalkan diri pada ayah saat pertama kali tiba. Tak bisa kupungkiri, mataku terlalu gatal untuk tidak mencuri pandang ke arahnya. Sungguh sangat penasaran dengan reaksinya. Namun yang ku lihat ia hanya diam santai dengan pandangan tertunduk. Aish, apa ia tak memperhatikanku yang bahkan sedari tadi hanya fokus pada dirinya?

Abonim, bolehkah aku meminjam Sandara sebentar? Aku ingin lebih akrab dengannya dengan menemaniku untuk mengobrol dan mengelilingi rumah ini.”

Jus jeruk yang baru saja ku habiskan hampir saja membuatku tersedak sehingga membuatku terbatuk pelan. Apa yang baru saja ia katakan? Meminjamku sebentar? Ia pikir aku ini barang, huh?

Ne, tentu saja Ji Yong-ah. Kau bahkan bisa memintanya untuk menemanimu berkeliling rumah hingga larut malam,” appa menjawab dengan antusias seraya mencoba untuk membuat guyonan garing.

Layaknya orang dungu, aku hanya diam memperhatikan Ji Yong yang mulai berdiri dari kursinya lalu menarikku dengan segera setelah membungkuk hormat pada ayahku dan juga Hye Mi. Badanku terseret dengan terburu-buru akibat tarikan kasarnya yang mencengkeram pergelangan tanganku. Aku hanya bisa merintih ngilu pada akhirnya setelah ia melepaskannya dan memijit-mijit bekas cengkeraman tangannya.

Kini kami telah berada di lantai dua. Pria itu dengan lancangnya masuk menuju kamarku tanpa bertanya izin dariku. Ji Yong berjalan mendahuluiku menuju sofa putih yang langsung menghadap kaca balkon yang ada di depan kamar, masih dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia duduk di sana lalu dengan gerakan tangan menepuk ruang kosong di sebelahnya. Mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya. Apa saat ini ia sedang mogok bicara?

“Ada apa kau membawaku kemari?” tanyaku yang kini telah duduk di sampingnya.

Dengan mata kelam itu ia menatapku. Ji Yong sama sekali tak ada niatan sedikitpun membuka bibir penuhnya untuk sekadar menjawab pertanyaanku. Bisa ku rasakan pipi tembamku yang semakin memanas saat ditatap seintens itu olehnya yang masih diam membisu. Aish, selalu saja seperti ini jika aku mulai salah tingkah akibat ulahnya. Tak ingin ditatap terus-terusan olehnya, aku memalingkan wajah darinya lalu dengan tangan menyisir asal rambut yang sebenarnya telah rapi tanpa harus ku tata lagi.

“Tadinya aku ingin membawamu ke taman belakang, namun sepertinya cuaca masih buruk. Tak mungkin aku mengajakmu keluar dengan salju yang masih turun.”

Ji Yong akhirnya bersuara. Membuatku langsung menatap kaca besar di depanku yang menampakkan pepohonan berubah warna menjadi putih karena butiran bernama salju. Musim dingin masih terus akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Malam ini tahun akan segera berganti. Seharusnya aku bersenang-senang untuk merayakannya di pusat kota, bukan malah terkurung di rumah dengan salju di luar yang turun dengan begitu lebat. Sialan. Ini gara-gara acara makan malam barusan.

Aku hanya bisa menghela napas dengan mata yang terpejam. Tapi tunggu, ada yang aneh di sini. Tercium aroma aneh menyentuh hidungku. Ini bau… rokok. Ji Yong merokok. Dengan santainya ia memegang benda itu dan menghisapnya hingga tercipta gumpalan asap berbau menyengat. Sejak kapan ia melakukan hal itu? Setahuku ia bukan pria perokok.

Tanganku dengan spontan mengambil rokok itu untuk dibuang di tempat sampah yang berada di pojok kamar, “Kau gila, huh? Kita berdua bisa mati jika appa mengetahuinya. Ia sangat benci terhadap rokok.”

Bisa ku lihat kini pria itu bahkan hanya menyeringai dan dengan tak tahu diri mengambil lagi bungkus rokok yang masih tersedia penuh di balik kantung mantelnya. Bersiap untuk mengambilnya lagi.

“Ji Yong!”

Dengan kekuatan penuh aku berdiri, bersiap untuk mengambil rokok itu dari genggamannya namun tangannya lebih tangkas dariku untuk menghindar. Ia bahkan kini mengikuti untuk berdiri di hadapanku dengan jarak yang sangat dekat.

“Memangnya kenapa jika ayahmu tidak menyukainya? Bukankah bagus jika ia benci terhadapku sehingga tak jadi menikah dengan eomma?”

Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak. Apa-apaan pria ini? Apa ia melakukannya dengan sengaja untuk mencegah hubungan appa dan juga ibunya?

Bola mataku berputar tak tentu arah, mencari kata-kata yang pantas sebagai jawaban “Jangan kekanakkan, Ji Yong-ah. Lagipula siapa yang akan menikah? Mereka tak pernah membahas rencana seperti itu. Appa tak pernah mengucapkan hal itu padaku.”

Ji Yong menatapku lagi. Tidak, ini bukan tatapan intens layaknya tadi. Ia menatap tajam langsung kedua mataku dengan manik besar kelamnya. Sungguh, ia membuatku takut. Mataku terpejam tepat ketika rokok yang ada di genggamannya terlempar mengenai tempat sampah dan menimbulkan suara nyaring.

“Apa kau terlalu bodoh untuk bisa melihat pancaran mata mereka berdua saat bertatapan? Apa kau bahkan tak bisa melihat bagaimana reaksi eomma yang tersipu malu ketika dipuji oleh ayahmu? Ia bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk datang ke acara makan malam bodoh ini!”

Aku tertunduk, “Meskipun aku juga tak menyukainya, setidaknya hargailah ayahku yang telah bersusah payah untuk menyiapkan semua ini.”

–TBC–

Advertisements

16 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s