SNEEUWWITJE [Chap. 2]

swee

A storyline by. Cho Hana

Sandara Park || Kwon Jiyong

Park Soojin || Kim Jongin || Jung Soojung || Park Jiyeon || Park Hayeon

Kang Seulgi || Jung Taekwoon || Lee Seungri || Im Yoona

Romance || Drama || Marriage-Life

PG-17

.

She is a Snow White, not a Cinderella

.

Buat yang baru baca di chapter ini diharapkan baca prolog/chapter sebelumnya:

Introduction+Prolog [1]

Jiyong hanya mengedarkan pandangan seadanya kala setumpuk barang-barang tak jelas teronggok di depan pintu masuk apartemennya, lengkap bersama sang pemilik yang dikenalnya sebagai sosok paling tak tahu malu di planet bumi ini –Lee Seungri.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Jiyong dengan wajah datar.

“Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Tentu saja aku datang kemari untuk menjenguk hyung-ku tersayang,” Seungri menunjukkan cengiran kudanya yang khas.

“Menjenguk?” Jiyong memberi nada penekanan pada ucapannya tadi. “Dengan membawa koper dan barang-barang pribadimu?”

Seungri tertawa kecil sambil menepuk pundak Jiyong dengan pelan, “Hyung, jangan begitulah. Kita ini teman yang sudah kenal lama bukan?”

Jiyong merotasi matanya dengan malas lalu segera menekan tombol password apartemennya.

“Hyung, kenapa kau mengganti password-nya sih? Aku ‘kan jadi tidak bisa masuk. Seandainya tidak diganti, ‘kan aku bisa masuk sendiri tanpa harus memaksa hyung cepat pulang,” Seungri masih terus berkoar bahkan hingga mereka masuk ke dalam apartemen.

“Ini demi keamanan,” Jiyong meletakkan semua barang belajaannya ke dapur.

“Keamanan?” Seungri menyeret kopernya menuju kamar tamu yang selama ini selalu ia tempati saat berkunjung ke apartemen Jiyong.

“Hmm. Untuk menghindari ada orang jahat masuk—“ Jiyong mulai menata barang belanjaannya ke dalam lemari. “—Juga gelandangan sepertimu yang datang ingin menumpang.”

“Ah hyung, ayolah. Kenapa caramu bicara itu jahat sekali sih? Memangnya salah jika aku kemari. Kau tahu sendiri ‘kan, aku bahkan tak punya keluarga di sini,” Rengek Seungri –persis seperti bocah TK yang minta dibelikan permen kapas oleh ibunya.

Jiyong meraih dua kaleng soda yang tadi ia beli lalu menghampiri Seungri yang sudah duduk dengan santai di ruang tamu.

“Apa kau juga akan mengatakan bahwa aku adalah keluargamu? Ah Seungri-ah, aku merasa sangat tersentuh sekarang,” Jiyong mengelus-ngelus dadanya, membuat gestur seolah-olah dirinya sangat terharu dengan kedatangan Seungri pagi itu.

“Hyung, kumohon. Izinkan aku untuk menginap di sini selama beberapa hari—ah tidak tidak. Mungkin beberapa minggu.”

Jiyong berdecak sebal. Dilemparkannya kaleng soda yang ada di tangannya ke arah Seungri lalu segera membuka miliknya, “Jangka waktu paling sebentar kau menginap adalah 3 bulan. Selebihnya kau selalu menghabiskan waktu hampir setahun di sini.”

Seungri terkekeh mendengar ucapan Jiyong. Entah karena ia merasa ucapan Jiyong benar-benar lucu atau hanya ingin sekedar menutupi rasa malunya sendiri.

Jiyong menghela napas panjang. Seungri sama sekali tak pernah berubah. Mengenal bocah itu sejak 7 tahun yang lalu membuat Jiyong tahu betul seluk beluk kehidupan Seungri. Seungri hanyalah seorang perantau yang datang dari desa kecil. Ayah dan ibunya tinggal di desa dan bekerja sebagai petani. Tak ada satu pun orang yang ingin terjebak dalam pekerjaan seperti yang dilakoni mereka sekarang, namun keadaan yang memaksa semuanya. Seungri hanya lulusan SMA. Setelah lulus, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Orangtuanya tentu saja tak punya biaya yang cukup. Belum lagi, ia masih memiliki adik yang harus disekolahkan juga. Bagi Seungri, masalah keluarganya mungkin cukup berat. Tak pernah ia bayangkan bagaimana jadinya jika orangtuanya tahu bahwa pekerjaannya di kota adalah sebagai gigolo. Mungkin ia takkan punya muka lagi untuk berhadapan langsung dengan mereka.

“Apa Yoona mengusirmu lagi?” Jiyong bersuara setelah agak lama keheningan memenuhi ruangan itu.

Seungri mengembuskan napas berat lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, “Aku benar-benar tidak ingin membahasnya, hyung.”

“Pantas saja kau selalu diusir seperti ini olehnya. Lihatlah, setiap aku bertanya tentang masalahmu, kau pasti akan selalu menghindar,” Jiyong menatap Seungri dengan lekat. “Hei, Lee Seungri, tak peduli sekuat dan sejauh apapun kau berlari, kau takkan bisa kabur dari masalah.”

Seungri berdecak sebal. Motivasi dadakan yang diberikan Jiyong pagi itu sama sekali tak membantunya.

“Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita zaman sekarang. Apa karena mereka semua punya pendidikan yang tinggi, karir yang bagus atau ini karena masalah kesetaraan gender? Hyung, aku benar-benar tidak suka. Dia selalu memaksaku untuk segera menikahinya.”

Jiyong terdiam sejenak lalu meneguk setengah dari isi kaleng minumannya, “Ini sebenarnya sangat sederhana, Lee Seungri. Tanyakan pada hatimu sendiri. Jika kau suka, maka lakukan. Jika tidak, tinggalkan dia.”

“Aku tidak suka pernikahan, tapi aku suka Yoona.”

Jiyong hampir saja menyiram wajah pemuda yang berumur dua tahun lebih muda darinya itu dengan isi kaleng yang ia pegang.

“Inilah yang membuatmu sampai sekarang tidak bisa dewasa, Seungri. Kau itu plin-plan, tidak punya komitmen hidup sama sekali. Kau tidak bisa memilih semua dari dua hal yang ada. Kau harus pilih salah satu. Ya atau tidak?”

“Ah hyung, apa salahnya jika aku jujur? Memang benar kok, aku benci pernikahan, tapi aku menyukai Yoona.”

“Kalau kau suka padanya, berarti kau juga harus menyukai keputusannya. Nikahi dia sekarang.”

“Tidak mau!”

Jiyong menatap Seungri dengan sebal. Sepertinya Seungri benar-benar sudah bertransformasi jadi bocah TK umur lima tahun pagi ini.

“Terserah kau sajalah. Aku jadi ikutan pusing karena memikirkan masalahmu.”

Jiyong langsung pergi ke kamar, meninggalkan Seungri yang masih bergelut dengan pikirannya sendirian.

~~~

Siang itu Dara mengadakan pertemuan mendadak dengan Jongin dan Soojung. Tempat yang ia pilih adalah sebuah kedai kopi yang berjarak tak jauh dari kantor mereka.

“Kalian pasti sudah tahu jelas ‘kan kenapa aku mengadakan pertemuan mendadak seperti ini?” Dara membuka konservasi lebih dulu.

“Apa ini tentang surat warisan tambahan itu?” Jongin berusaha menerka.

“Kau benar, Sekretaris Kim. Apa kau kaget saat mendengarnya semalam?”

Jongin terkekeh pelan, “Ya sedikit.”

“Sebenarnya aku juga merasa kaget. Tapi ketimbang kaget, rasa ambisiku nyatanya lebih besar,” Dara mengulum senyumnya. “Park Hayeon dan anak-anaknya—woah, mereka benar-benar membuatkanku skenario yang sangat hebat. Aku sampai tak bisa berhenti berpikir sejak semalam.” Tangan Dara meraba-raba di udara, mencari cangkir kopinya yang tergeletak di atas meja. Soojung dengan sigap langsung membantu mengambil cangkir kopinya.

“Eonnie, tak perlu khawatir. Tentang masalah perjodohan, meskipun semuanya dilimpahkan kepada pihak ibu tirimu, tapi tetap saja ia tak bisa seenaknya memilih. Putri kandung dari Park Yoonmin –presdir pertama dari Jaeguk Group, salah satu pemegang saham terbesar di kota Seoul- apa masuk akal bisa dijodohkan seenaknya. Bukan sembarangan orang yang bisa menakahimu, eonnie,” Soojung berusaha menenangkan sepupunya.

“Itu benar. Lagipula pengacara Han sendiri yang bilang, bisa saja Samunim menolak calon suami pilihan Ny. Park. Semua keputusan tetap ada di tangan Samunim,” Jongin menimpali.

Dara menyeruput kopinya perlahan lalu kembali mengulas senyum, “Aku tahu itu dengan jelas, tapi aku juga tahu jika sekarang perang yang sesungguhnya sedang berlangsung. Apalagi Park Sojin sudah kembali. Kurasa pertarungan ini akan jadi lebih berat.”

“Lalu apa eonnie ingin kami melakukan sesuatu?” Tanya Soojung.

“Kalian tahu ‘kan jika kalian berdua adalah orang kepercayaanku. Aku sadar, karena aku buta aku tak bisa menjadi orang yang egois. Aku tak bisa melakukan ini semua sendiri. Akan ada banyak tipu muslihat yang bisa memperdaya orang sepertiku.”

“Kami akan selalu ada dipihak Samunim,” Jongin bersuara lugas.

“Terima kasih. Kuharap kalian bisa membantuku untuk terus memantau keadaan. Sekretaris Kim, aku ingin kau menyewa seseorang untuk memata-matai Park Haeyon dan anak-anaknya. Kabari aku jika ada sesuatu yang mencurigakan.”

“Ne, Samunim.”

“Aku harus segera kembali ke rumah. Aku ingin istirahat,” Dara bangkit dari kursinya.

“Biar saya antarkan samunim ke mobil,” Jongin telah siap untuk membantu Dara berjalan menuju mobil, namun Soojung mendahului langkahnya.

“Tidak perlu. Biar aku yang mengantar eonnie ke mobil,” Soojung menatap Jongin dengan sinis. “Bukankah kau ada janji kencan, Sekretaris Kim.”

Jongin sama sekali tak bisa menyembunyikan senyum saat mendengar ucapan Soojung itu. Rasanya kalimat Soojung barusan seperti menggelitik telinganya.

“Ah, kau benar. Terima kasih sudah mengingatkanku, Manager Jung,” Jongin lalu beralih menatap Dara. “Kalau begitu, saya pamit lebih dulu, Samunim.” Ia membungkuk lalu beranjak meninggalkan kedai lebih dulu.

“Dasar brengsek!” Umpat Soojung sambil menatap punggung tegap pemuda itu.

~~~

Jiyong tengah sibuk meracik bahan makanan di dapur, sementara Seungri masih sibuk merenungi nasibnya di kamar. Saat aroma sup dari masakan Jiyong menguar, pemuda bertubuh jangkung itu keluar dari kamarnya. Tak dapat dipungkiri, rasa laparnya mengalahkan perasaan galau yang tengah melandanya saat ini.

“Kenapa?” Jiyong melempar tatapan sinis pada Seungri. Jujur saja, ia masih agak kesal karena pemuda itu mengabaikan sarannya tadi pagi.

“Aku lapar,” Seungri menyahut dengan suara pelan.

“Ada ramyeon di lemari. Kau bisa memasaknya sendiri ‘kan?”

“Yak, hyung, kau tega sekali padaku? Apa kau akan memakan sepanci besar sup ini sendirian? Kau tak mau membaginya denganku? Hyung benar-benar jahat!” Kini Seungri mulai meneriaki Jiyong.

Akhirnya Jiyong terkekeh juga. Ia memang paling tidak bisa berlama-lama marah pada bocah itu.

“Ah, lihatlah kunyuk satu ini. Sudah numpang di apartemen orang, minta makanan juga lagi. Haruskah aku mulai  menghitung semua biayanya sekarang?”

Jiyong mengangkat panci sup yang ia buat lalu membawanya ke meja makan.

“Ya hitung saja. Aku akan mulai berburu malam ini. Akan kumpulkan uang untuk membayar semuanya padamu,” Seungri langsung menghempaskan tubuhnya di salah satu kursinya yang kosong, membiarkan Jiyong menyiapkan semua peralatan makan mereka sendirian.

“Lupakan saja! Yoona akan memenggal kepalamu jika ia tahu kau mulai berburu lagi,” Jiyong meletakkan semangkok sup di depan Seungri.

Seungri menghela napas panjang, “Ah lagi-lagi hyung mengingatkanku pada Yoona. Perasaanku jadi lebih buruk sekarang.”

Mereka menikmati makan siang mereka dengan tenang. Kadang terselip beberapa konservasi ringan di sela-sela aktivitas kunyah-mengunyah mereka.

“Kudengar sekarang sudah tidak ada lagi gadis-gadis yang mau dilayani olehku. Rumor tentang hubunganku dengan Yoona pasti sudah tersebar luas,” Seungri mematut bibirnya sebal.

“Ya begitulah. Bahkan Seunghyun saja tahu tentang hubungan kalian.”

“Ah aku bisa gila. Aku tak punya kelebihan apa-apa selain wajahku yang tampan dan sekarang aku kehilangan satu-satunya mata pencarianku. Apa yang harus kulakukan?”

“Kalau begitu nikahi saja Yoona.”

“Hyung!”

“Kau bilang kau menyukainya ‘kan? Apa susahnya menikahi orang yang kau sukai?”

“Hyung, kau sama sekali tak mengerti dengan posisiku saat ini.”

“Memangnya ada yang harus kumengerti sekarang?” Jiyong memasang wajah yang begitu polos. Demi Tuhan, rasanya Seungri ingin sekali menyiram sup dari mangkuknya ke wajah Jiyong.

“Aku tidak seperti hyung yang dengan mudahnya memutuskan sesuatu. Bahkan hyung langsung menerima tawaran kawin kontrak yang beresiko tanpa pikir panjang.”

Ucapan Seungri itu membuat Jiyong kembali teringat pada perjanjian kawin kontrak yang akan ia jalani bersama Sojin. Entah mengapa ia jadi senyum-senyum sendiri sekarang.

“Untuk apa aku berpikir panjang tentang sesuatu yang kusukai?”

Seungri langsung menautkan kedua alisnya. Ia benar-benar tidak paham dengan arah pembicaraan Jiyong.

“Apa kau tahu siapa klien yang memintaku untuk kawin kontrak?” Tanya Jiyong yang langsung disahut dengan sebuah gelengan kecil dari Seungri. “Dia Park Sojin. Cinta pertamaku.”

“Apa?” Seungri rasa ia perlu membersihkan kupingnya setelah ini. Rasanya sangat tidak masuk akal mendengar Jiyong membicarakan masalah cinta pertamanya.

“Tak perlu kaget begitu. Kau akan kukenalkan nanti padanya. Seunghyun bilang, dia ingin bertemu denganku nanti sore. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.”

~~~

Tengah hari Dara tiba di kediamannya. Seulgi yang sudah menunggunya di depan teras langsung membantunya untuk keluar dari mobil. Ia menuntun Dara menuju kamarnya. Di ruang tamu tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Ny. Park.

“Oh Dara-ya, kau sudah kembali? Tumben kau pulang saat siang hari. Bukankah biasanya kau akan kembali saat malam?” Tanya Ny. Park.

Dara memberi isyarat agar Seulgi menghentikan langkahnya sebentar, “Apa itu jadi masalah untukmu sekarang? Apa kau takut tak bisa leluasa bertindak saat aku berada di rumah?”

Seulas senyum sinis tercipta di wajah Ny. Park, “Tidak. Aku justru merasa senang jika putriku yang jarang pulang cepat sekarang bisa berada di rumah. Apa kau mulai ingin menjadi anak yang patuh, Dara-ssi? Jika memang iya, maka aku pasti akan mencarikanmu calon suami yang paling baik.”

“Terima kasih banyak untuk rencana baikmu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Kita sudah saling mengenal sejak lama. Kau pasti tahu jelas bagaimana kondisiku sekarang. Tidak ada yang bisa menaklukkan diriku, jadi jika kau berpikir untuk menjegalku dengan cara perjodohan, maka bersiaplah untuk sabar. Aku takkan mudah dikalahkan hanya dengan cara murahan seperti itu.”

Ny. Park terdiam sesaat. Tidak bisa ia sembunyikan jika kata-kata Dara barusan begitu menohok hatinya.

“Seulgi, tolong bawa aku segera ke kamar.”

Seulgi pun kembali menuntun Dara menuju kamarnya.

~~~

Ny. Park memasuki kamar putrinya dengan wajah kesal. Saat masuk, dilihatnya Sojin sedang sibuk merias diri di depan cermin.

“Oh eomma, ada apa?” Sojin menatap pantulan wajah ibunya di cermin.

“Si buta itu… dia benar-benar membuatku kesal,” Sahut Ny. Park dengan suara bergetar.

“Apa dia memaki eomma lagi? Apa dia menyakiti eomma dengan kata-katanya?”

Ny. Park terdiam sejenak, berusaha mengatur emosinya yang meluap-luap. Dihempaskannya tubuhnya ke atas sofa kecil di sudut kamar Sojin.

“Tak peduli dengan dirinya. Apapun ia katakan pada eomma, pasti akan selalu membuatku kesal.”

Sojin meninggalkan meja riasnya, menghampiri sang ibu yang nampak tengah kalut. Digenggamnya tangan sang ibu dengan erat, berusaha ikut menenangkannya.

“Eomma, bersabarlah sedikit. Kita pasti bisa mengalahkan anak itu. Dara… dia itu tidak ada apa-apanya. Ia hanya seorang gadis buta sok kuat yang angkuh. Dia tidak akan bisa mengalahkan kita sekarang,” Sojin menatap manik sang ibu dalam-dalam. “Eomma, Sojin berjanji. Sojin akan melakukan apapun untuk menyingkirkan Dara. Sojin akan mengembalikan harga diri kita. Tak akan kubiarkan gadis buta itu menginjak-injak kita lagi seperti dulu.”

7 tahun yang lalu…

 

 

“Luar negeri?” Kening lelaki paruh baya itu nampak berkerut kala Sojin mengutarakan niatnya malam itu.

 

 

“Ne, abeoji. Aku punya rencana untuk meneruskan kuliah di luar negeri. Kudengar di Amerika ada sekolah fashion yang sangat bagus. Aku benar-benar ingin melanjutkan sekolah di sana,” Sojin masih menatap lantai putih yang ada di bawah sana. Ia sama sekali tak berani menatap wajah lelaki paruh baya yang notabennya adalah ayah tirinya itu. Ada sedikit perasaan sungkan saat ia mengutarakan niat kuliahnya itu. Meskipun selama ini sang ayah tiri selalu bersikap baik padanya, namun tetap saja ia merasa tak enak hati.

 

 

Lelaki paruh baya itu menutup sejenak buku tebal yang tengah ia baca. Dilepaskannya kacamata tebal yang sejak tadi menutupi matanya. Terdengar suara helaan napas darinya.

 

 

“Sebenarnya aku tak pernah berpikir jika kau ingin meneruskan sekolahmu ke luar negeri. Sojin-ah, abeoji tahu jika kau memiliki bakat yang luar biasa. Di sekolah kau adalah siswa yang pintar dan aktif, tapi apa kau tidak berpikir untuk kuliah di sini saja?” Ucapan lelaki itu membuat Sojin mengepalkan tangannya. Ia tahu lelaki itu memang berhak untuk menolak permintaannya kali ini. “Bukan karena masalah biaya atau apa, hanya saja kupikir kau harus tetap berada di sini. Kudengar universitas di Seoul juga tak kalah saing dengan universitas-universitas di luar negeri. Aku hanya ingin semua anakku berkumpul di satu tempat yang sama dan hidup dengan rukun.”

 

 

Mendengar penuturan ayahnya tiri, Sojin langsung bangkit dari kursinya. Dengan kepala tertunduk, ditekuknya kedua tungkainya lalu berlutut di depan meja kerja sang ayah.

 

 

“Abeoji, aku mohon. Aku benar-benar ingin meneruskan sekolahku di luar negeri. Aku benar-benar ingin mengejar cita-citaku menjadi seorang desainer. Apa abeoji benar-benar tidak bisa mempertimbangkannya dulu?”

 

 

Suara Sojin terdengar bergetar, persis seperti seseorang yang sedang menahan tangis. Tangannya mengepal keras, berusaha menenggelamkan harga dirinya di depan sang ayah tiri. Lelaki paruh baya itu terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bersuara.

 

 

“Baiklah. Aku akan mengirimkanmu untuk bersekolah di luar negeri.”

 

 

Ucapan lelaki itu langsung membuat kepala Sojin mendongak. Ditatapnya wajah sang ayah tiri dengan mata berbinar, “Benarkah? Abeoji benar-benar akan menyekolahkanku di sana?”

 

 

Lelaki itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya perlahan, “Ya. Anggap saja ini sebagai hadiah untuk anak sepintar dirimu, Sojin-ah.”

 

 

Sojin hampir saja meneteskan air mata haru. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Sebelum ia benar-benar menangis, ia pamit meninggalkan ruang kerja sang ayah. Sojin melangkahkan kakinya dengan riang menuju kamar, namun langkahnya terhenti kala dilihatnya sang kakak tiri –Dara- berdiri di depan pintu kamarnya.

 

 

“Eonnie?” Sojin bergumam pelan. Ia kaget melihat wajah datar Dara yang berdiri di sana.

 

 


“Kau senang? Apa kau sudah puas?” Nada bicara Dara terdengar sangat sinis sekarang.

 

 

Sojin terdiam. Sepertinya Dara menguping pembicaraannya dengan sang ayah tiri saat di ruang kerja tadi.

 


“Kenapa kau diam? Kau begitu lancar saat memohon di depan ayahku, tapi kenapa di depanku kau hanya diam?”

 

 

“Eonnie, aku hanya—“

 

 

“Eonnie?” Dara menyela ucapan Sojin dengan penuh penekanan. “Apa kau adalah saudaraku? Apakah ibuku pernah pernah melahirkan seorang adik?”

 

 

Sojin tersentak. Ucapan Dara barusan sukses menohok hatinya.

 

 

“Hei, Park Sojin, dengarkan aku baik-baik. Hanya karena kau dan aku memiliki marga yang sama, bukan berarti kita ini adalah keluarga. Hanya karena ibumu menjadi istri ayahku, bukan berarti pula kita adalah saudara. Aku… tak pernah menganggapmu sebagai adik sedikit pun.”

 

 

Tenggorokan Sojin tercekat, nyaris ia tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi.

 

 

“Kau pasti sangat senang ‘kan karena telah berhasil membujuk ayahku?” Dara kembali bersuara. “Ya, memang begitulah. Lebih baik kau pergi ke luar negeri. Menghabiskan waktumu sendiri dengan menghambur-hamburkan uang ayah tirimu. Meninggalkan ibu juga adikmu di sini. Kau pasti akan kembali dengan tenang saat dewasa nanti bukan?”

 

 

“Eonnie—“

 

 

“JANGAN PERNAH MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN ITU! APA KAU RASA KAU PANTAS MEMANGGILKU DEMIKIAN?” Dara mulai berteriak, memecah keheningan malam di rumah keluarga Park. “Berhenti memanggilku dengan sebutan ‘eonnie’ atau aku akan menamparmu.”

 

 

Kini air mata Sojin benar-benar telah meleleh. Selama ini ia tak pernah menyangka jika Dara begitu membenci keluarganya. “Eonnie—“

 

 

Plakkk

 

 

Sojin membeku. Pipinya terasa panas dan memerah. Tangan kanan Dara sukses mendarat dengan mulus di pipinya. Sojin terperangah. Ia hampir saja berpikir jika Dara tidaklah buta. Bagaimana bisa gadis buta seperti Dara bisa mendaratkan tangannya tepat di pipi Sojin?

 

 

“Sudah kubilang ‘kan aku akan menamparmu? Apa kau sedang meremehkanku?” Dara masih saja bersuara sinis –tak peduli dengan Sojin yang kini menatapnya dengan wajah kaget. “Kau… akan kukatakan mulai sekarang. Jangan pernah kau bersikap sok baik padaku. Apa gunanya sampah seperti keluargamu bersikap baik padaku? Aku tahu apa niat busuk kalian. Berhenti berpura-pura peduli padaku. Akan lebih baik jika kau terang-terangan melawan.”

 

 

Mata Sojin menatap Dara tanpa berkedip. Mulai hari itu Sojin tahu satu hal. Kakak tirinya –Dara bukanlah gadis sembarangan. Ia bukanlah gadis lemah yang bisa diperdaya dengan mudah. Sojin sudah kehilangan harga dirinya malam itu dan ia berjanji. Ketika ia kembali, ia akan merebut kembali harga diri keluarganya.

~~~

Sojin baru saja memarkir mobilnya di depan sebuah restoran bergaya Italy. Seunghyun baru saja mengabarinya jika mereka telah menunggunya di sana. Tanpa ragu Sojin segera keluar dari mobil dan memasuki area  restoran. Ia terdiam sejenak, mengedarkan pandangannya pada setiap sudut restoran, mencari-cari dimana sosok Seunghyun berada.

“Sojin-ah.”

Sebuah suara baritone menyapa rungu Sojin. Ia memalingkan wajahnya, menatap sesosok pemuda yang duduk di meja paling pojok. Itu Seunghyun. Sojin segera menghampiri meja yang ditempati oleh tiga orang itu. Ia berusaha menebak-nebak siapa kira-kira teman yang dimaksud Seunghyun akan bekerja padanya. Apa sosok pemuda berwajah tampan yang duduk di sebelahnya atau justru sosok pemuda misterius yang duduk membelakangi Sojin?

“Maaf aku terlambat,” Ucap Sojin saat telah sampai di depan meja Seunghyun.

“Tidak apa-apa. Kami juga baru datang. Duduklah,” Seunghyun mempersilahkan Sojin duduk di sebelah pemuda misterius tadi. Sojin menatap pemuda yang duduk di sebelah Seunghyun sebentar lalu beralih pada pemuda misterius yang duduk di sebelahnya. Maniknya matanya tiba-tiba membesar kala wajah itu terasa familiar dalam ingatannya.

“Kwon Jiyong?”

Seiring dengan senyum yang merekah itu, memori di antara mereka berdua seolah berputar kembali.

7 tahun yang lalu…

 

 

Sinar matahari di ufuk barat menyiratkan warna jingga yang begitu cantik. Aktivitas sekolah sudah berakhir sejak 3 jam yang lalu. Hampir seluruh murid telah kembali ke rumah setelah kegiatan ekstrakulikuler berakhir, namun tidak begitu halnya dengan dua remaja ini –Jiyong dan Sojin. Ruangan persegi berukuran sedang itu menjadi saksi bisu cumbuan dua remaja itu. Kala semangat muda yang telah terbakar dengan rasa cinta yang baru pertama kali mereka rasakan di senja yang sepi itu.

 

 

Jiyong masih sibuk menikmati bibir Sojin. Enggan melepaskan tautan tubuh masing-masing meskipun keringat telah hampir membasahi seluruh tubuh mereka. Setelah berkencan selama hampir tiga bulan terakhir, ini pertama kalinya bagi mereka untuk saling menyatukan perasaan dengan cara yang lebih terkesan dewasa. Jiyong memeluk tubuh Sojin dengan seduktif. Suara napas mereka terdengar seirama, menandakan mereka sama-sama menikmati kegiatan itu.

 

 

Tangan Jiyong yang semula memeluk pinggang Sojin beralih meraih kancing seragam kekasihnya. Dengan tak sabar, tangannya membuka satu per satu kancing tersebut, namun tangan Sojin tiba-tiba menahannya. Bahkan gadis itu kini memaksa Jiyong untuk melepaskan tautan bibir mereka.

 

 

“Kenapa? Kau takut?” Tanya Jiyong dengan napas yang terengah-engah.

 

 

Sojin memejamkan matanya sejenak lalu kembali mengancing seragamnya yang sempat terjamah oleh tangan jahil Jiyong. Mengatur napas sejenak sebelum akhirnya benar-benar menjauhi tubuh Jiyong.

 

 

 “Sojin-ah, ada apa? Apa kau marah padaku? Apa aku tadi sudah berlebihan?” Jiyong kembali bertanya, namun Sojin justru memilih bungkam. Diikatnya rambutnya yang berantakan karena ulah Jiyong lalu ia duduk di pojokkan.

 

 

“Jiyong-ah, mari kita berhenti disini,” Akhirnya suara Sojin terdengar juga.

 

 

Jiyong terdiam sejemang. Berharap jika hal yang tadi Sojin tuturkan tidak sepenuhnya serius. Ini benar-benar tidak lucu. Mereka baru berhubungan selama tiga bulan. Haruskah hubungan mereka kandas di tengah jalan?

 

 

“Candaanmu lucu, Sojin. Aku suka. Bolehkah aku menciummu lagi?” Jiyong terkekeh, berusaha mencairkan suasana di sana. Namun, Sojin sama sekali tak menanggapi candaan itu.

 

 

“Aku tidak bercanda. Ini serius, Ji.”

 

 

Jiyong kembali terdiam. Bingung, kesal, sedih. Semuanya bercampur aduk. Namun dari semua perasaan itu, rasa penasarannya kini jadi jauh lebih besar.

 

 

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa aku berbuat salah padamu?” Jiyong berusaha mencari-cari titik terang dari masalah mereka sekarang.

 

 

“Tidak, Ji. Tidak. Kau tidak pernah berbuat salah.”

 

 

“Lalu kenapa? Apa ini karena masalah kuliahmu? Sojin, bukankah kita sudah pernah membahas ini? Bukankah kita sudah sepakat akan menjalin hubungan jarak jauh? Apa kau lupa?”

 

 

“Ji, ini bukan tentang kita. Ini hanya tentang masalahku.”

 

 

“Masalahmu?” Jiyong menatap Sojin heran. Sementara kini gadis itu sudah menundukkan kepalanya. Mungkin ia tengah menyembunyikan air matanya.

 

 

“Ada sesuatu yang harus kulakukan untuk keluargaku, Ji. Kau mungkin takkan mengerti ini, tapi—“ Sojin menjeda kalimatnya sejenak. Terdengar suaranya mulai bergetar sekarang. “—aku benar-benar harus melakukannya sendiri. Aku tidak bisa terus bersamamu karena aku ingin benar-benar fokus melakukan semuanya. Ini tentang harga diri keluargaku, Ji.”

 

 

Jiyong tercengang. Dibiarkannya tubuhnya merosot di lantai. Ia memang benar-benar tak paham dengan jalan pikiran gadis yang kini tengah duduk di depannya itu, namun melihat Sojin terisak demikian, tentu saja membuat hatinya ikut sedih, “Sojin-ah, tidak bisakah kau mempercayaiku? Aku pasti akan sanggup menemanimu.”

 

 

“Tidak. Ini bukan sesuatu yang bisa ditanggung bersama. Jiyong-ah, aku benar-benar harus melakukannya sendiri. Maafkan aku dan terima kasih untuk semuanya. Aku… aku benar-benar akan mengingatmu.”

 

 

Dan sebuah kecupan terakhir dihadiahkan Sojin tepat di bibir Jiyong.

 

 

“Jiyong-ah, tolong anggap ini sebagai hadiah terakhirku. Aku mencintaimu.”

 

==Chapter 2 : END=

 

Adakah yang sadar kalo rating FF-nya naik jadi PG-17?

Sebenarnya aku kurang pinter buat nentuin masalah rating, tapi kuharap adegan-adegan dalam FF ini gak terlalu bikin sakit mata (?) buat dibaca

Gatau kenapa tiba-tiba di Chapter 2 ini aku ngerasa porsinya Jiyong-Sojin lebih banyak daripada porsinya Jiyong-Dara, malah kayaknya gada deh adegan Dara ketemu ama Jiyong

Please,  authornya jangan dirajam ya :”)

Di next chapter berdoa ajalah moga Jiyong bisa cepetan ketemu Dara

 

 

n.p: Ini beneran, mumpung real life lagi gak sibuk jadi bisa posting tiap malem

tetap tinggalkan komentar kalian guys J

 

 

-Hana-

Advertisements

39 thoughts on “SNEEUWWITJE [Chap. 2]

  1. Ahh ..serius unie mlhan d.sini daragon moment.a gga ada ..
    Nyebelin bgt mlhan ada moment ji oppa lgi pcran ma sojin …#pngen nimpuk sojin brani” nya dia ciuman ma ji oppa#..
    Apa ji oppa bklan brsikap jhat ma dara unie ??andwee….
    Udh cukup dara unie menderita …

  2. Coba aja jiyong tau gimana sifat aslinya sojin pasti dia juga gk bakalan mau sama dia. Semoga next chapter aku bisa nemuin daragon moment deh😁😝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s