[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 12.End

ano-another-copy

SCENE 12 <CLOSURE>


Satu tahun berlalu sejak Sandara terakhir kali menghirup udara Korea. Ah… betapa menyenangkannya menginjakkan kaki di tanah kelahirannya lagi. Jawabannya tidak. Dia tidak pulang pada saat liburan dan justru orang tuanya yang memanfaatkan kesempatan untuk berlibur sekaligus mengunjunginya.

Bandara Incheon masih sama sibuknya seperti yang dia ingat. Dan sembari menunggu barang bawaannya, pikirannya melayang pada satu tahun sebelumnya.

Akhirnya satu babak menyedihkan dalam hidupnya selesai. Menyedihkan karena dia tidak memiliki cukup keberanian untuk menghadapi. Terombang-ambing dalam perasaan rendah diri yang berlarut. Hingga menyalahartikan semua hal. Untungnya semua itu dapat ia selesaikan sebelum keberangkatannya satu tahun yang lalu. Saat berpamitan kepada empat orang yang terlibat dalam keruwetan jalan pikirannya.

Rasa sukanya pada Junki tak lebih dari rasa terima kasih karena Junki selalu ada di sampingnya, menemani saat dia membutuhkan seseorang.

“Aku tahu itu,” kata Junki saat Sandara berpamitan. “Aku menyadari kau sedang berada pada suatu titik di mana kau bisa salah mengartikan perasaanmu sendiri.” Ujarnya, lalu menambahkan, “Seandainya saja aku bukanlah orang yang egois, aku pasti sudah akan menerimamu waktu itu,”

“Eh?” Sandara bingung dengan pernyataannya. Apa maksudnya?

“Karena aku adalah orang sangat menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri,” dia menjelaskan, tapi Sandara masih tidak mengerti. “Jika rasa kasihanku waktu itu menang dan aku tidak seegois yang ini, maka aku akan menerimamu. Lalu kau akan menyadari bahwa kau tidaklah benar-benar menyukaiku dan kita berdua akan sama-sama tidak bahagia. Karena itulah aku tidak menerimamu, karena aku ini egois. Mengesampingkan bagaimana perasaanku padamu, tapi yang paling kuiinginkan adalah kebahagiaanku sendiri.”

Sandara hanya bisa menatap Junki dengan tatapan tak percaya.

Sedangkan Joonyoung adalah korban nyata rasa rendah dirinya. Joonyoung seolah menjadi pengingat Sandara bahwa dirinya pernah mengalami krisis kepercayaan diri. Bahwa Joonyounglah yang mengingatkannya Sandara bukanlah Sohee.

“Maafkan aku,” kata Sandara pada kesempatannya bertemu dengan Joonyoung. “Aku yang pengecut tapi aku justru menyalahkanmu. Aku yang tidak berani dengan apa yang akan dipantulkan cermin dariku, sehingga aku memecahkan cermin itu,”

Joonyoung diam memandanginya untuk beberapa saat sebelum menjawab, “Aku tidak menyalahkanmu, aku mengerti posisimu. Aku bersyukur akhirnya kau menyadari bahwa kau tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi spesial. Karena dirimu spesial… karena bagiku kau adalah spesial…”

Dan dia pun memberanikan diri untuk mengajak Sohee bertemu, meminta maaf atas semua sikapnya dulu. Menilik ke belakang, Sandara ingin sekali membenturkan kepalanya sendiri karena sempat ingin menjadi Sohee.

“Aku juga perlu minta maaf padamu,” aku Sohee saat mereka duduk berhadapan dengan masing-masing segelas smoothie di hadapan mereka. “Aku tidak peka dan tanpa sadar menganggap bahwa akulah yang paling penting, bahwa aku adalah pusat gravitasi. Aku lupa jika orang lain memiliki kehidupan mereka sendiri dan apa yang penting bagiku belum tentu penting untuk orang lain.”

“Aku pun demikian,” balas Sandara, mengaduk-aduk isi gelasnya dengan sedotan. Menatap minuman di hadapannya sejenak sebelum kemudian mengangkat pandangannya dan menatap orang yang dulu menjadi sumber keiriannya. “Aku bahkan sampai berharap menjadi dirimu,”

Terakhir adalah orang yang paling dia sakiti atas sikap ketidakdewasaannya. Jiyong. Yang hanya tersenyum menanggapi permintaan maafnya. Karena mengharapkan perhatian lebih darinya, Sandara sampai rela berpura-pura menjadi selain dirinya. Dulu.

“Aku masih terlalu bodoh dan naïf,” kata Sandara.

Jika kembali diingat, Jiyong tidak pernah menuntutnya untuk menjadi seperti Sohee. Semuanya adalah inisiatif Sandara yang sama sekali tidak berpikir panjang.

“Kita sama-sama bodoh dan naïf,” jawab Jiyong. “Aku tidak bisa memutuskan mana yang penting bagiku dan mana yang tidak.”

Kini, setahun berlalu setelah waktu itu, dengan mendorong troli keluar dari pintu kedatangan, Sandara menemukan senyuman yang sama. Senyuman dari orang yang dulu dianggapnya sempurna, hingga lupa bahwa dia juga adalah manusia biasa.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya tak percaya setelah jarak mereka dekat.

Dia hanya mengangkat bahu. Sebuah kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Oke, Sandara perlu meralat, dia adalah manusia yang sempurna. Kata manusia perlu digarisbawahi.

“Kau tidak seharusnya tahu jadwal kepulanganku!” dia tertawa tak percaya.

“Aku memiliki cara untuk tahu akan hal itu,” jawabnya, kemudian mengambil alih troli dari tangan Sandara, kemudian melangkah mendahului dengan mendorong troli.

“Kau kemanakan supirku?”

“Terimalah, hari ini akulah yang menjadi supirmu,” jawabnya tanpa memandang ke belakang.

Masih tersenyum, Sandara memandang punggungnya menjauh. Seandainya dulu pikirannya tidak sedangkal itu, apakah mereka akan seperti sekarang?

**

“Kau baru pulang setelah setahun, bukannya minta untuk langsung diantar pulang, kau justru minta mampir makan,”

“Aku rindu teobbokki…” Sandara merajuk. “Dan lagi pula, Abeoji sedang Daegu dan Oemmoni di Busan. Jadi tidak ada yang menyambut kepulanganku selain Ahjumma Oh,” dia beralasan. Orang tuanya baru akan pulang sore nanti dan mereka sudah berencana untuk makan malam bersama.

Dan meskipun tadi sempat memprotes, akhirnya mobil yang membawa mereka berbelok ke tempat makan juga. Kembali mengingat semuanya, memang benar. Tidak ada yang pernah memaksa Sandara untuk tidak menjadi dirinya selain dirinya sendiri. Betapa konyolnya jika dipikir semuanya terjadi karena rasa tidak amannya.

“Kau ingin makan apa?” tanyanya, menatap menu yang tertulis di papan.

“Teobboki…” jawab Sandara.

“Selain teobboki, maksudku,”

“Mmm…” Sandara ikut melihat apa yang tertulis di menu. “Kimchi pajeon,” putusnya. “Aku juga merindukan kimchi,” akunya.

“Apakah kau ingin cherryade seperti biasanya atau ingin yang lain?”

Sejenak, tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikiran Sandara. Sebuah fakta, bahwa tidak pernah dia memaksakan apa pun kepada Sandara. Meski tahu apa yang disukanyainya, dia akan kembali memastikan bahwa itulah yang Sandara inginkan.

“Sandara…”

“Oh, cherryade,” jawabnya tersenyum.

Setelah pelayan mencatat pesanan mereka dan berlalu, Sandara berkata, “Mianhe dan gomawo,”

Dia menatap Sandara penuh tanya.

“Huh untuk apa?”

“Mianhe… karena aku yang dulu masih kekanakan sudah banyak menyusahkanmu, membuatmu larut dalam rasa bersalah yang tidak seharusnya kau rasakan. Gomawo… karena kau tidak menyalahkanku untuk semua yang terjadi di antara kita semua karena kesalahanku,”

Dia menghela nafas, lalu membenarkan posisi duduknya sebelum akhirnya menatap Sandara langsung pada manik matanya.

“Bukankah kita sudah sepakat, bahwa kita bedua sama-sama bodoh dan naïf?” tanyanya.

Sandara mengangguk.

“Jadi, jangan ungkit lagi soal itu. Kau memiliki porsi kesalahan, dan aku pun demikian. Jadi kita berdua sama-sama memiliki kesalahan.”

“Tapi,”

Dia memberikan tanda untuk Sandara menutup mulutnya.

“Dan kita pun sepakat, akan menjalani semuanya tanpa beban. Untuk itu, tidak perlu mengungkit tentang apa yang dulu terjadi.”

“Tetap saja, Jiyong…” Sandara mendesah frustasi. “Aku hanya ingin kau tahu, aku menyadari kesalahanku dan aku sudah belajar banyak dari hal itu,”

“Arasso,” jawabnya. “Oleh karena itu, kumohon, kau tidak perlu menyebut-nyebut tentang itu lagi.” dia mengangkat tangannya dan mulai mengacak rambut Sandara. Kebiasaan yang masuk dalam daftar hal yang Sandara rindukan. “Kita jalani saja apa yang ada, tanpa harus bingung memikirkan apa yang akan terjadi nantinya atau apa yang telah terjadi,”

Sandara mendesah, mengalah.

“Arasso,” jawab Sandara pada akhirnya.

Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Obrolan mereka pun berganti tentang apa yang terjadi pada Sandara selama di sana dan apa yang terjadi selama Sandara pergi di sini.


THE END

<< back

[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 11.

ano-another-copy

SCENE 11 <THIS RIGHT MOMENT>


“Bommie… apakah aku ini orang yang egois?”

Bom menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Sandara yang akhirnya ikut berhenti. Keduanya tengah berjalan-jalan di Hangang Park, sengaja bertemu saat keduanya memiliki waktu senggang.

“Apa maksudmu?” Bom sedikit kaget dengan pertanyaan Sandara.

“Apakah aku orang yang egois? Apakah aku orang yang selalu mementingkan diri sendiri?” dia kembali teringat perkataan Junki waktu itu.

Bom mengangkat bahu. “Entahlah, tapi kurasa semua orang memiliki insting untuk menjadi egois. Dalam segala kesempatan, mayoritas orang ingin dirinya diprioritaskan. Mungkin aku juga termasuk ke dalam kelompok orang yang egois. Yang berbeda hanyalah kadarnya,”

Sandara tersenyum mendengar jawaban Sandara.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” selidik Bom.

Keduanya melanjutkan langkah. Berjalan perlahan menyusuri taman. Sandara menceritakan apa yang mengganjal dalam hatinya. Tentang Junki dan semua yang dikatakannya.

“Kau sudah banyak berubah, Sandara,” komentar Bom.

“Berubah?” Sandara tak paham.

Bom mengangguk, lalu menjelaskan, “Sandara yang kukenal dulu tidak akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Sandara yang kukenal dulu tidak akan pernah mengutarakan perasaannya kepada orang lain terlebih dahulu. Sandara yang kukenal dulu sangat berbeda dengan Sandara yang kukenal sekarang,”

Senyuman Sandara mengembang mendengar penuturan Bom.

“Terima kasih, Bommie…”

**

Lama Sandara tidak berjalan seorang diri di mall tanpa tujuan yang pasti. Rindu akan aktivitas itu, hari ini dia sengaja mengabaikan tugas kuliah yang menantinya dan memutuskan untuk pergi. Dia sedang ingin memanjakan mata dan hasratnya untuk berbelanja. Meski akhirnya dia memutuskan pulang tanpa ada tambahan barang bawaan apa pun, karena tidak ada yang menarik perhatiannya.

“Sandara,” suara yang begitu dia kenal. Apa sekarang dirinya sedang berhalusinasi lagi? Mungkinsebaiknya dia menemui psikiater.

“Sandara,” lagi-lagi suara itu berkatar. Tapi kedengarannya seperti nyata, bukan halusinasinya semata.

Dan benar saja, matanya mendapati sosok itu, berdiri beberapa langkah di depannya. Memandangnya dengan tatapan yang sama. membuatnya mengingat betapa dulu dia menyukai mata itu.

Rasanya Sandara ingin pergi saja, kabur, dia belum merasa siap.

Dia mulai melangkah mendekati Sandara yang masih diam tak tahu harus berbuat apa.

Tapi Sandara sudah lelah untuk terus menghindar. Energinya telah habis untuk terus berlari dan bersembunyi.

“Jiyong,” akhirnya nama itu keluar dairi bibirnya. Ada getar dalam suaranya. Lama sekali dia tidak menyebut nama itu.

Jiyong berjalan mendekat, hingga sampai di hadapan Sandara. Jiyong sendirian.

Jiyong tersenyum. Senyumannya masih sama. Sebuah senyum yang sanggup membuat hati Sandara berbunga-bunga. Dulu.

Sandara membalas senyumnya, setulus yang disanggupinya. Sedikit ke dalam, masih perih. Tapi dia ingat perkataan Bom kemarin dulu, bahwa dirinya telah berubah, bahwa dia adalah Sandara yang baru. Dia berusaha untuk menjadikan perkataan Bom tentangnya sebagai mantra untuk menguatkan hati.

“Sendirian?” Jiyong bertanya basa-basi.

Sandara mengangguk. “Apakah kau punya waktu? Bagaimana kalau kita makan siang di restoran depan?” entah setan mana yang merasukinya hingga dia berani bertanya demikian.

Jiyong menyanggupi karena memang dia sedang luang. Lagipula sudah lama dia menunggu untuk bisa berbicara dengan Sandara.

Meski merasa canggung, Sandara memaksakan diri untuk banyak bicara. Karena ini adalah kesempatan langka. Lain kali, belum tentu dirinya akan seberani ini.

“Sandara,” panggil Jiyong setelah Sandara diam cukup lama, karena tidak tahu apa yang akan dikatakannya lagi.

Sandara memandangnya dengan mata membulat lebar, membuat Jiyong ingat bagaimana dulu mereka pernah begitu dekat.

“Aku ingin minta maaf,” akhirnya perkataan itu keluar juga, sudah lama sekali permohonan maat itu tidak tersampaikan, mengonggok begitu saja dalam dirinya.

Sandara menarik nafas panjang. Dadanya sesak. Sebenarnya sudah menduga Jiyong akan mengatakan hal itu sejak ajakannya untuk makan tersampaikan keluar. Bahkan sudah sejak bertahun lalu. Dulu dipikirnya, akan sangat menyakitkan bila mendengar Jiyong mengatakan hal itu, tapi sekarang… biasa saja. Tidak ada yang yang pecah.

“Untuk apa?” nada bicara Sandara seperti sedang berhadapan dengan anak kecil.

“Sandara…”

“Sandara…”

Bukan itu jawaban yang Sandara inginkan. Bukan pula Jiyong yang menyebut namanya.

“Jiyong…”

Sandara sadar, ada orang lain lagi sekarang.

“Junki Oppa… Youngie…”

Dua orang yang Sandara panggil namanya tidak sedang menatapnya, melainkan menatap ke arah Jiyong. Tajam.

“Bagaimana kalian bisa berada di sini?” Sandara berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh. Tanpa menyadari bahwa pilihan pertanyaannya salah.

“Aku juga bisa menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu, kenapa kalian bisa berada di sini?” balas Junki, mengalihkan tatapan tajamnya kepada Sandara sekarang.

Sandara berkedip membalas tatapan Junki dan menjawab dengan polos, “Aku sedang makan dengan Jiyong,” lalu menunjuk kursi kosong di meja mereka, “Kalian mau bergabung dengan kami?” Sandara menawarkan.

Suasana semakin menjadi tak nyaman. Keempatnya duduk di satu sisi meja persegi. Junki di sebelah kanannya dengan tatapan terus tertuju kepadanya. Joonyoung berada di sebelah kirinya terang-terangan melirik ke arah Jiyong. Jiyong yang duduk di hadapannya bergantian memandang antara Junki, Sandara, dan Joonyoung.

“Jadi kalian sudah berbaikan?” pertanyaan ini keluar dari Joonyoung.

Sandara dan Jiyong saling pandang.

“Sudah,”

“Sudah,”

Mereka berdua menjawab hampir bersamaan. Rahang Joonyoung mengeras, namun dia tidak berkomentar apa pun.

Sandara benar-benar merasa sangat tidak nyaman. Bukan suasana seperti ini yang diinginkannya saat mengajak Jiyong makan tadi.

Bahkan hingga semua makanan telah selesai mereka makan, suasana tak kunjung berubah.

“Setelah ini, kau mau pergi ke mana lagi?” tanya Junki kepada Sandara.

“Pulang, tapi aku harus menunggu jemputan. Supirku sedang mengantar berkas Eommoni yang tertinggal di rumah tadi,” jawabnya sedikit kaku. Masih teringat akan penolakan Junki tempo hari.

“Kuantar saja,” Joonyoung menawarkan.

“Biar kuantar pulang,” Jiyong menawarkan.

“Kau pulang bersamaku saja,” Junki menawarkan.

Mata Sandara berkedip cepat. Ketiganya berkata dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Eh, tidak perlu. Jemputanku sebentar lagi datang,” dia menolak setelah tersadar dari keterkejutannya.

“Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan. Terima kasih untuk semuanya,” akhirnya Jiyong berpamitan terlebih dahulu.

Kemudian Joonyoung dan Junki menyusul.

Belum hilang rasa kagetnya dengan apa yang baru saja terjadi, ada tiga pesan masuk, berurutas.

Kapan kau ada waktu? Masih ada hal yang perlu kita bicarakan. Dari Jiyong

Kau ada waktu? Aku perlu bicara denganmu. Dari Joonyoung.

Aku perlu bicara denganmu, kapan kau ada waktu? Dari Junki.

**

Sandara masih setengah tak percaya membaca ulang tulisan yang tertera di layar komputernya. Proposalnya untuk program pertukaran mahasiswa ke Stanford diterima. Tapi dia belum bercerita apa pun kepada Bom. Dia tidak ingin Bom terlanjur berharap dan akan merasa lebih kecewa dari dirinya jika proposalnya tidak lolos.

“Agassi, ada tamu,” Ahjumma Oh memberitahu dengan sedikit ragu. “Jiyong-ssi. Aku sudah mengatakan Agassi tidak ingin bertemu, tapi dia benar-benar memaksa kali ini,” Sandara merasa bersalah karena lupa mengatakan kepada Ahjumma Oh bahwa larangan untuk Jiyong sudah dicabut.

“Arasso, Ahjumma Oh. Tidak apa-apa,” katanya.

Rupanya Ahjumma Oh mempersilakan Jiyong masuk dan membiarkannya menunggu di ruang tengah. Sudah lama sekali Sandara tidak melihat Jiyong berada di rumahnya.

“Annyeong,” sapa Sandara riang.

Jiyong tersenyum menyambutnya. Dulu sekali, Sandara menganggap bahwa apa yang ada pada diri Jiyong adalah suatu kesempurnaan. Senyumnya, tutur katanya, sikapnya… tapi sekarang, akhirnya dia menyadari bahwa Jiyong tak ubahnya seperti dirinya. Hanya manusia biasa.

“Aku ke sini untuk melanjutkan obrolan kita kemarin,” katanya tanpa berbasa-basi. Rupanya setelah waktu berlalu, Jiyong masih belum berubah.

Sandara memberikan isyarat dengan matanya agar Jiyong melanjutkan perkataannya.

“Aku ingin minta maaf untuk semua kesalahan yang dulu sudah kulakukan padamu, kesalahan yang tanpa kusadari terus saja kuulangi dan berujung menyakitimu,”

Akhirnya Sandara mendengar permintaan maafnya. Bukannya Sandara tak menyangka akan mendapat permintaan maaf dari Jiyong, tapi dia takjub karena dirinya akhirnya sanggup mendengar permintaan maaf Jiyong.

“…”

“Apa aku ini adalah orang yang egois? Terlalu mementingkan diriku sendiri?” pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Sandara…” Jiyong menegur, karena bukan itu yang diharapkannya akan dia dengar setelah mengucapkan permohonan maafnya.

“Kumohon, jawab saja pertanyaanku itu,” rajuk Sandara.

Jiyong diam. Berfikir.

“Bukankah semua orang pasti akan memiliki naluri untuk bersikap egois?” Jiyong menjawab dalam bentuk pertanyaan. Sandara merasa pernah mendengar hal yang sama terucap. “Semua orang, tak terkecuali aku juga memiliki kecenderungan untuk mementingkan diriku sendiri,” tambahnya melihat Sandara akan membantah.

“Sebenarnya, aku sudah memaafkanmu dari dulu,” ujar Sandara pada akhirnya. “Mungkin, aku hanya tidak siap untuk mengakuinya,” tambahnya sedikit ragu.

Diam.

“Gomawo,” ucap Jiyong diiringis sebuah senyuman.

Sandara mengangguk, membalas senyumannya. Semua bebannya serasa lenyap begitu saja. Mungkin saja senyuman Jiyong memang memiliki efek magis.


SCENE END

<< back next >>