[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 9.

ano-another-copy

SCENE 09 <IT IS NOT AS BAD AS YOU THOUGHT IT IS>


Untuk pertama kalinya dalam lima tahun sejarah persahabatan mereka, Bom mendapati Sandara menyandang status single selama lebih dari sebulan. Rekor terlama sebelumnya hanyalah tiga minggu.

“Aku belum siap,” begitu jawaban berulang kali yang diterima Bom.

“Setelah putus dari Jiyong kemarin, aku berpikir, mungkin aku ini kena karma. Selama ini aku selalu menjawab iya dengan mudahnya lalu menyatakan putus tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Yang kupikirkan adalah selalu perasaanku sendiri, jika aku sudah merasa tak yaman, sudah. Tanpa mau peduli jika mereka benar-benar menyayangiku,”

Lagi-lagi rumah Sandara sepi. Ahjumma Oh sedang berbelanja ke pasar dan orang tua Sandara jelas belum pulang. Hanya ada Sandara dan Bom.

“Apakah kau sudah memaafkannya?” tanya Bom.

Sandara memandang lekat sahabat terdekatnya itu, lalu tertawa.

“Mungkin saja sudah, tapi aku tidak akan pernah bisa lupa. Lagipula kesalahan Jiyong hanya satu, puisi di akuarium waktu itu… selebihnya adalah kesalahanku. Tapi kembali lagi, adakah yang bisa menyalahkan rasa sayang?”

“Kau benar, tidak ada yang bisa menyalahkan rasa sayang,” ulang Bom, lebih kepada dirinya sendiri.

“Lalu bagaimana dengan Joonyoung?”

Sandara menggelengkan kepalanya. Bibirnya mengatup rapat. Pelukannya kian erat pada bantal bonekanya. “Kami masih sering berkomunikasi, tapi aku mencoba membatasi diri. Terakhir yang kudengar darinya, dia masih bersama Sohee, jadi aku tidak ingin menjadi alasan kecemburuannya,”

**

“Eommoni, apa aku harus ikut?” keluh Sandara untuk kesekian kali.

Ibunya yang telah anggun mengenakan gaun resmi menjawab, juga untuk kesekian kali, “Harus, Lee Taepyo berpesan agar kami membawamu.”

Sial, sial, sial!

Maka di sinilah Sandara sekarang. Terperangkap dalam mobil bersama dengan kedua orang tuanya. Tak tahu harus memberikan alasan apa lagi, semuanya tidak mempan. Merutuki nasibnya yang akan terperangkap di antara orang-orang tua dengan pembicaraan yang sama sekali tidak dia suka.

“Perkenalkan, ini putri kami, Sandara…”

Sandara mengangguk sopan kepada pasangan paruh baya sepantaran orang tuanya yang menyambut mereka di pintu.

“Kau sungguh sangat cantik, Sandara…” kalimat yang standar yang biasa didengar dari kolega orang tuanya.

Sandara tersenyum dan memberikan jawaban yang telah terlatih, “Terima kasih,”

“Langsung saja naik ke atas, yang lain sudah berada di sana,”

Sandara melirik ke arah orang tuanya, yang memberikan instruksi lewat tatapan mata bahwa dia harus menurut, kemudian pamit dan langsung menaiki tangga dengan penuh tanda tanya. Meski sedikit ragu, tapi kakinya tak berhenti menapaki anak tangga satu demi satu. Dan betapa kagetnya Sandara saat menemukan beberapa orang – rata-rata seusianya, margin atas dan bawah sekitar lima tahun, berkumpul duduk di lantai mengitari meja kopi. Agak terlihat aneh karena tidak sedikit dari mereka yang mengenakan pakaian resmi, sama sepertinya. Hanya satu orang yang mengenakan pakaian kasual, kaos dan celana pendek.

“Hello new comer,” cowok berkaos dan celana pendek berseru, menyambut kedatangannya. “Welcome to the party!”

Sandara ingin membantah. Ini bukan pesta, ini adalah…

“Ayo sini,” dengan tak sabar, cowok itu bangkit berdiri dan menghampiri Sandara yang masih berdiri di ujung tangga, lalu menariknya dan mengajaknya duduk di atas karpet. “Atau kau ingin turun saja dan makan malam dengan para orang tua?” tanyanya pada Sandara yang masih diam.

Dikirim untuk berada di tengah-tengah para orang tua jelaslah bukan pilihan. Sandara menurut dan ikut duduk di lantai, cukup repot dengan dress yang dikenakannya.

Si cowok berkaos dan celana pendek adalah Lee Junki, anak dari tuan rumah. Dia yang menggagas perkumpulan anak muda di lantai atas ini, karena dia bosan jika harus ikut berpakaian formal saat orang tuanya menjamu tamu untuk makan malam. Karena itulah, pada kesempatan kali ini, dia berpesan kepada orang tuanya agar jangan lupa meminta kepada tamu yang akan diundang makan malam agar membawa anak mereka.

Beginilah hasilnya, berenam mereka duduk mengelilingi meja, menghadap sepanci penuh teobboki.

Sandara merasa tak ada ruginya, toh dia memang sedang ingin makan teobboki. Dan untuk pertama kalinya, dia tak menyesal menerima ajakan/paksaan orang tuanya.

**

Setelah menyelesaikan proses pendaftaran, Bom meminta Sandara untuk mengantarnya ke toko buku. Menambah koleksi novel. Sandara yang kebetulan memang tidak ada acara menyanggupi, sekalian membeli persediaan alat tulis.

Bom sudah pasti akan mendatangi tumpukan novel, dan tidak perlu ditemani, karena ditemani pun akan merugikan orang yang menemaninya. Maka Sandara memutuskan untuk mencari segala keperluannya dan menghampiri Sandara.

HVS ukuran kwarto dan folio, kertas buram, refill pensil, penghapus, bolpoin, selotip, doubletip, sampul mika, klip kertas bermacam ukuran, refill berbagai jenis cutter, gunting, cutting mat ukuran A3, sticky notes, notes, dan berbagai jenis alat tulis memenuhi keranjang belanjaannya. Sedangkan Bom masih belum beranjak dari tempat Sandara meninggalkannya tadi.

“Dasar lama, belanjaanku saja sudah penuh,” komentar Sandara dengan nada pura-pura kesal.

“Berisik,” Bom menjulurkan lidah, lalu mencolek pinggang Sandara yang langsung membuatnya tertawa geli.

“Bommie!” dia memperingatkan.

Bom tertawa penuh kemenangan. Lalu beriringan mereka berjalan ke kasir setelah Sandara memutuskan untuk mengambil lima buah novel.

Saat menunggu kasir menghitung barang belanjaannya, dia mendengar, “Sandara,” seseorang memanggilnya.

Telinga Sandara merasa mengenali suara itu. Berbulan-bulan dia pernah merindukan namanya disebut oleh suara itu. Tapi Sandara tidak begitu mudahnya percaya, ini pasti halusinasi belaka.

“Sandara,” suara itu mengulangi, terdengar penuh kerinduan. Oke, otaknya mungkin sedang konslet.

Sandara berbalik dan matanya menemukan Jiyong berdiri di sana. Halusinasinya bertambah parah, dia sedang membayangkan Jiyong dengan begitu nyata. Seolah-olah dia benar-benar berdiri di sana.

“Jiyong,” itu suara Bom.

“Hey, Bom,”

Jadi dia benar-benar Jiyong?

“Seratus enam puluh ribu dua ratus lima puluh won,” kata sang kasir telah selesai dengan barang belanjaannya. Sandara mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, menyerahkannya kepada kasir, mengambil barang belanjaannya yang telah dimasukkan ke dalam tas plastik, menarik tangan Bom yang bebas, meninggalkan Jiyong yang masih berdiri di sana, mengabaikan panggilan kasir kepadanya, “Agassi, uang kembalianmu…”

Di jalan, Sandara menyetir mobilnya dalam diam.

**

Sandara menolak tawaran Bom untuk menemaninya. Dan Bom mengerti, Sandara sedang ingin sendiri. Sandara ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Sepanjang sore, Sandara hanya duduk di bawah kaki tempat tidurnya. Tidak bergerak sedikit pun.

Memorinya bekerja cepat. Satu tahun mencoba melupakan Jiyong, acuh terhadap semua kegigihan Jiyong yang mencoba sekedar ingin berbicara dengannya. Dia berpesan kepada Ahjumma Oh agar mengatakan dirinya tidak ada di rumah jika Jiyong datang, mengganti nomor ponselnya, hingga menghindari tempat-tempat yang mungkin akan mempertemukan mereka. Dan selama ini, caranya itu berhasil dengan sangat baik. Sampai hari ini.

Sandara kembali berjumpa dengan Jiyong di toko buku. Sandara tidak akan menyalahkan Bom. Ini adalah konflik yang harus diselesaikannya. Bukankah dalam novel yang bisa Bom baca, ceritanya akan jadi semakin menarik jika tokoh utamanya berhasil menyelesaikan konflik, lalu cerita akan berakhir dengan happy ending.

Ketukan pintu. Ahjumma Oh. Pasti Jiyong yang datang.

“Tolong katakan aku tidak di rumah,” pintanya.

“Tapi ini bukan Jiyong,”

Bukan Jiyong? Siapa? Sandara penasaran.

Lee Junki? Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia bisa tahu alamat rumahnya?

“Bagaimana kau bisa berada di sini?” pertanyaannya meluncur begitu saja.

“Apa kau selalu menyambut tamu-tamumu dengan galak begitu?”

Sandara menundukkan kepala, ingat dengan siapa dia berhadapan sekarang. Jika keras kepalanya berlevel sepuluh dari skala sepuluh, maka level keras kepala Junki adalah seratus.

“Aku hanya tidak menyangka melihatmu di rumahku,”

“Oh,” Junki duduk bahkan tanpa perlu dipersilakan, Ahjumma Oh membiarkannya masuk. “Aku berencana untuk makan dakgalbi, bersama dengan yang lain juga. Hanya kau yang tidak merespon di grup, jadi kuputuskan untuk langsung datang mencarimu saja,”

Sandara ingat, di acara makan malam aneh itu, mereka sempat saling bertukar nomor ponsel dan kemudian membuat grup chatting.

“Cepat sana siap-siap,” perintahnya.

Sandara yang bahkan masih berdiri hanya bisa menatap tak percaya kepada manusia di hadapannya.

“Tapi, kau tahu dari mana alamat rumahku?”

“Orang tuamu,” jawabnya santai. “Sudah sana cepat siap-siap. Kita tak punya banyak waktu kalau tak ingin kemalaman sampai Chuncheon.”

“Huh?” Sandara berkedip, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi lima menit terakhir.

“Sudah sana cepat!”

Tunggu, Sandara belum menyetujui apa pun. Tapi belum sempat dia menyatakan protes, Junki sudah berdiri dari duduknya dan mendorong Sandara menuju ke arah tangga.

Sebenarnya ini rumah siapa?

Lima menit kemudian.

“Kenapa lama sekali, sih?”

Bisa-bisanya manusia ini memprotes, padahal ini adalah rekor tercepat Sandara. Biasanya dia membutuhkan minimal lima belas menit. Tapi berhubung rasanya tidak ada yang spesial, Sandara tidak ada keinginan untuk tampil cantik dan mempesona.

Sandara mengikuti Junki keluar setelah berpamitan kepada Ahjumma Oh. Sampai di depan gerbang, sebuah mobil berhenti di belakang mobil yang Sandara rasa adalah mobil Junki. Sandara memiliki firasat siapa pengemudi mobil yang baru datang. Matanya terasa panas.

Junki tidak menyadari bahwa Sandara berdiri diam terpaku.

Jiyong turun dari pintu kemudi.

Selama ini Sandara memang menghindar, karena setiap kali melirik ke dalam, dia masih merasakan perih.

“Apa lagi maumu?” tanya Sandara lelah. Ternyata waktu satu tahun masih belum cukup juga.

Junki sudah berbalik untuk menjawab pertanyaan Sandara, namun urung saat menyadari gadis itu tidak menatap ke arahnya, melainkan kepada orang yang baru datang.

“Aku masih berharap bahwa aku masih bisa memperbaiki semuanya, tapi kau selalu menghindar dariku,” jawab Jiyong dari tempatnya berdiri.

“Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, semuanya sudah terlanjur rusak. Dan memang benar, aku menghindarimu. Karena aku butuh itu untuk menyembuhkan lukaku, tapi hanya dengan melihatmu lagi, semua usaha selama setahun ini sia-sia,” ungkap Sandara datar. Tidak ada lagi kemarahan dalam suaranya.

Junki diam menyaksikan drama yang tengah terjadi di hadapannya.

“Apa masih ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” tanya Sandara. “Jika tidak, aku masih urusan lain.” lalu tanpa menunggu jawaban, dia masuk ke dalam mobil Junki.

Junki merasa bahwa itu adalah isyarat baginya untuk berhenti menonton drama yang sedang terjadi dan duduk di balik kemudi. Dia kemudian menyalakan mesin dan melajukan mobil menjauhi Jiyong, yang masih berdiri diam di tempatnya.

“Kalau kau memang ingin menangis, menangislah,” Junki bersimpati.

Sandara menarik nafas panjang. “Tidak, aku sudah tidak memiliki air mata lagi,”

Dan malam itu, bersama dengan teman-teman barunya, Sandara menghabiskan sewajan penuh dakgalbi yang seharusnya bisa menjadi empat porsi orang dewasa. Seandainya Junki tidak memaksanya pulang, Sandara sudah bermaksud untuk memesan wajan ke dua.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

15 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 9.

  1. Wowwww junki wkwkwk sukaaa kalo udh junki jdi salah satu castny. Nahh salah sndiri siapa suruh lebih fokus ke sohee dibanding dara. Jdi ribeett kann. Nyesal sndiri jdinya. Ayoo cari solusi lain biar dara balik lagii

  2. Sekarang Jiyong yang ngejar ngejar dara. Kan udah dibilangin kali mau setia ama Dara ya jangan terlalu deket ama Sohee. Untung aja ada Junki yang nyelametin Dara dari situasi tdk menyenangkan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s