Phases : Zece

Untitled-2

Yes, semua orang kejebak.. semuanya salah fokus.. kkkk XD hampir semuanya kesel sama Dara.. >////<

dari chapter kemaren pertanyaan yang harusnya muncul adalah :

1. Kenapa Dara ngehindar dari Jiyong (lagi)?
2. Apa yang Jiyong lakukan sampe bikin Dara nyuekin dia (lagi)?

Nah, dari pertanyaan itu bakal jadi pengantar ke chapter ini.. dan kuncinya, coba cek lagi chapter 8 (opt kalo nggak salah~ :3).. nah, setelah ngecek, yuk mari kita lanjut lagi ceritanya.. ^^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Bromo, 28 Oktober 2013

Semburat sinar keemasan menerobos gumpalan awan di cakrawala. Dinginnya udara tak lagi Dara hiraukan demi mengabadikan momen yang belum pernah disaksikannya ini. Dia sudah berkali-kali menyaksikan matahari terbit, tapi ini adalah kali pertamanya menyaksikan matahari terbit di gunung berapi yang masih aktif.

Klik

Klik

Klik

“Serius amat, nih minum dulu..” suara seseorang yang sudah tak asing lagi, membuat perhatian Dara dari pemandangan menakjubkan dihadapannya teralihkan. Juna kini telah duduk disampingnya dengan dua buah cangkir di tangan, satu disodorkan padanya.

“Te-terima kasih,” jawab Dara terbata, kemudian kembali menatap kedepan setelah menerima cangkir berisi teh panas dari pria itu. Dari aromanya, Dara bisa menebak isi cairan dalam cangkir Juna adalah kopi. Minuman yang sangat dia hindari karena bisa membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat dan sistem tubuhnya terganggu – mengerjakan sesuatu tidak tenang namun tidak bisa tidur juga.

“Lagi mikirin apa?” tanya Juna ikut memandang kedepan.

“Nothing much. Just mesmerize with this beauty..” lirih Dara.

Keduanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah beberapa menit berlalu, Juna melirik pada gadis yang tengah duduk disampingnya sekarang. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Dan dari ekspresinya yang terlihat serius, Juna menebak, mungkin.. mungkin saja gadis disampingnya ini memikirkan tentang kejadian waktu itu..

**

Weleri, 13 Agustus 2013

 “Just call him.” Kata Juna tiba-tiba, membuat Dara seketika itu juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap pria itu lekat.

“What did you say?” Dara mencoba meyakinkan pendengarannya. Apa benar tadi Juna berkata memintanya untuk ‘meneleponnya’. Apa maksud pria itu?

“I said, just call him. If you that worry, just ease your anxious by call him.” Nasehat Juna, seolah bisa membaca kegelisahan Dara.

“But..”

“Are you wondering why I know?” tanya Juna terkekeh. “I can read your face, whoever is you’re waiting to call you right now, it must be him who called you this afternoon, am I right?” tebakan Juna tepat sasaran. “Don’t think too much. It will never be wrong even if you call him first.”

Belum genap dua hari mereka berkenalan, dan Juna sudah bisa membaca dirinya seperti ini. Entah Dara harus merasa berterima kasih atau takut kepada pria itu. Namun untuk kali ini, sepertinya dia memilih untuk berterima kasih. Paling tidak, dia merasa memiliki pembenaran untuk sikapnya kali ini.

Dihadapan Juna, Dara langsung mencoba menghubungi nomor ponsel Jiyong. Beberapa kali mencoba, namun pria itu tidak juga mengangkat teleponnya.

Dara menatap Juna, lalu menggelengkan kepalanya kecewa. Jiyong masih belum mengangkat ponselnya.

Jam berlalu, namun Dara masih belum juga bisa menghubungi Jiyong. Hingga pesta resepsi pernikahan selesai, dan orang-orang sibuk membersihkan sisa perlengkapan pesta – masih belum ada kabar dari pria itu.

“Bodoh,” gumam Dara  dalam bahasa ibunya, merutuki kebodohannya sendiri. “Kau bilang ingin menenangkan pikiran, tapi yang kau lakukan justru sebaliknya! Aisht, molla, molla, molla!” lanjutnya dengan bahasa sang ayah.

Kesal, lelah, dan cemas… semuanya bercampur jadi satu.

Akhirnya Dara memutuskan untuk mematikan ponselnya dan pergi tidur.

**

Seoul, 14 September 2013

Bunyi suara dering ponsel menggema di seluruh penjuru ruangan. Sebuah tangan bergerak mencari-cari benda sumber suara, terus mencari mempercayakan arahnya pada arah suara yang sang telinga dengar. Hingga sebuah tubuh terjatuh dengan bunyi debam ringan dari tempat tidur, berhasil menemukan si benda yang dicari dalam saku celana yang teronggok di lantai.

“Yoboseyo?” ucap sebuah suara mengantuk, tanpa mau repot membuka mata. Kepala bersandar pada tempat tidur setelah tubuhnya terjatuh. Tidak mengindahkan keadaan dirinya yang terbelit selimut.

“Urgh…” sebuah suara tertangkap telinganya, namun dia sangat yakin bukan berasal dari si penelepon.

Perlahan matanya terbuka, sedikit demi sedikit kesadaran hinggap dalam kepalanya.

Dimana dirinya sekarang?

Yang jelas bukan di tempat yang dia kenal.

Apa yang telah dilakukannya?

Kondisi tubuhnya yang telanjang dibalik belitan selimut menyalakan seluruh saklar dalam otaknya.

“Sial!”

“.. Yoboseyo?” suara yang terdengar jauh membuatnya sadar, bahwa teleponnya masih tersambung. Matanya berkedip beberapa kali saat mengecek siapa peneleponnya. “Ji, apa kau masih mendengarku?”

“Sial, sial, sial!” umpatnya saat mengingat kilasan-kilasan samar dalam otaknya. Dalam hati dia hanya bisa berdoa agar suara erangan yang tadi didengar telinganya hanyalah sebuah khayalan belaka.

“Ji?” kembali suara dari seberang telepon terdengar. “Apa kau baik-baik saja?”

“Ne-neh…” jawabnya terbata.

“Aisht, jam berapa sekarang?” suara itu berhasil membuat bulu kuduknya meremang. Kepalanya terus merapal doa, bahwa semua ini adalah mimpi. Namun seolah mimpi buruknya menjadi kenyataan, begitu kepalanya menoleh, matanya berhasil menangkap sosok lain diatas tempat tidur.

“Sial!” serunya, melupakan telepon yang menempel di telinga, membuat benda itu berdentang terjatuh membentur lantai.

**

Weleri, 14 September 2013

“Kapan kamu pulang ke Korea, nak?” pertanyaan sang mama menghentikan Dara dari aktivitasnya.

Kedua ibu dan anak ini tengah bergulat memilah dan mengelempokkan kado setelah tadi keluarga besar mereka berkumpul dan bersama-sama membuka kado pernikahan yang diterima oleh Putri dan Ardi. Selain keduanya, ada juga beberapa saudara jauh mama Dara yang gadis itu baru kenal sekarang.

Dara mengembalikan cangkir kedalam kardusnya, kemudian berhati-hati memasukkannya kedalam kardus yang lebih besar. Rencananya barang-barang hadiah ini akan dipaketkan begitu pasangan pengantin baru menempati rumah baru mereka minggu depan.

“Mollayo, belum tahu. Mungkin seminggu setelah mama dan appa. Lagipula, aku masih belum pesan tiket pesawat.” Jawab Dara dengan kepala tertunduk. Pertanyaan mamanya barusan mengingatkannya tentang teleponnya pada Jiyong pagi tadi yang – setelah usaha entah untuk keberapa kalinya, diangkat oleh pria itu. Namun, justru itu yang menjadi masalah. Ada sesuatu yang terjadi pada Jiyong, dan Dara sama sekali tidak menyukai perasaan gamang yang dirasakannya saat ini.

Seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi…

Tapi, tidak… tidak. Dia tidak boleh berpikiran aneh-aneh.

Jiyong tadi pasti hanya masih mengantuk dan tidak menyadari bahwa dialah yang menelepon. Mungkin pria itu mengangkat teleponnya dengan kondisi setengah mengantuk. Ya, pasti begitu.

“.. Dara?!” seruan dari mamanya menyadarkan Dara dari lamunannya.

Mata Dara berkedip cepat, menatap mamanya. “Neh?”

“Itu loh, ditanya sama bulik Ning.”

Dara menoleh pada orang yang dimaksud mamanya, dan tersenyum meminta maaf. “Ma-maaf, kenapa tadi bulik?” tanyanya sedikit terbata.

“Kamu ini lagi ngelamunin siapa sih, pacar ya?” Dara hanya bisa tersenyum kikuk menanggapinya. Meskipun pikirannya mengembara pada satu sosok yang pasti, namun bisakah mereka diberi label sebagai sepasang kekasih? Dara sendiri tidak berani menjamin, meski hatinya sangat mendambakan hal itu.

“Ah, bukan…” elaknya.

“Nggak usah malu-malu. Nggak mungkin gadis secantik kamu belum punya pacar,” goda bulik jauhnya yang lain, kalau tidak salah bernama Tatik. “Anaknya mbak Laras yang ganteng itu saja tidak digubris, padahal dia arsitek.”

Dara merasakan mukanya memanas. Kenapa malah sekarang dirinya yang dijadikan bahan gosip. Sebelum sempat para bulik dan budenya yang lain menambah-nambahi, suara dering telepon menyelamatkan Dara.

Kelegaan gadis itu bertambah melihat identitas peneleponnya. Jiyong.

“Em, saya permisi dulu…” lirih Dara, berpamitan.

**

Incheon International Airport, 15 September 2013

 

Jiyong memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, baru pukul 01.08 dini hari. Masih ada sekitar dua jam lagi sampai jadwal penerbangannya pada pukul 03.15 nanti. Dengan tidak sabar, matanya menjelajah keramaian bandara yang tidak mengenal waktu. Tengah malam seperti ini pun Bandara Internasional Incheon terlihat ramai.

Kembali Jiyong memandangi lembaran tiket ditangannya, berharap bahwa angka waktu yang tertulis disana akan berubah dibawah tatapan tajamnya. Desahan pelan keluar, tidak ada yang apapun yang terjadi. Waktu penerbangannya masih tetap pukul 03.15 nanti, tidak berubah menjadi lebih cepat.

“Aisht! Kwon Jiyong, kau benar-benar mengacaukan semuanya kali ini!” rutuknya pada dirinya sendiri.

Jiyong mengacak rambutnya kesal. Dia benar-benar menyesali semuanya. Kenapa dia bisa berakhir di ranjang wanita lain? Kenapa dia mabuk? Kenapa dia menuruti ajakan teman-temannya untuk pergi ke klub? Kenapa dia datang ke pesta itu sendiri? Kenapa dia harus repot-repot datang ke pesta itu? Kenapa…

Jiyong benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke dinding sampai mati.

Sudah cukup dia mengacau selama ini dengan bersikap tidak peka pada satu-satunya terpenting dalam hidupnya setelah ibunya. Dan sekarang…

“AISHT! SIAL!”

Beberapa jam sebelumnya…

Seoul, 14 September 2013

“Dara-ah… mianhe…” lirih Jiyong pada ponselnya yang dia tujukan untuk gadis yang dia yakini tengah mendengarkannya di ujung sana.

Tidak ada jawaban apapun, namun telinga Jiyong masih bisa menangkap suara isakan pilu yang meremas hatinya. Membuatnya benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat luka lain dalam hati gadisnya…

“Dara-ah, kumohon katakan sesuatu…” pintanya.

“Apa yang harus kukatakan, Ji? Menurutmu apa yang harus kukatakan?”

“Dara-ah…”

“Apa memang ini maumu?” potong Dara.

“A-apa maksudmu?” gugup Jiyong.

“Apa memang ini maumu?” ulang Dara. “Apa begini caramu untuk menyingkirkanku dari hidupmu. Aku tahu, kau pasti muak denganku yang selalu saja menuntutmu macam-macam, bukan begitu?”

“Da-dara…”

“Jadi inilah caramu? Karena sejak dulu aku hanya mengganggu hidupmu saja, iya kan? Ah, aku lupa. Harusnya aku tidak boleh merasa seperti ini – toh, sejak awal memang tidak ada hubungan apa-apa diantara kita. Aku saja yang terlalu berharap.” Telinga Jiyong menangkap suara Dara yang tercekat. Mulutnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara apapun yang keluar. Lidahnya kelu, sama sekali tidak menyukai maksud perkataan Dara barusan.

“Baiklah, Ji… jika itu maumu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Lupakan tentang apa yang kuminta darimu. Aku terlalu bodoh untuk percaya bahwa kau akan berubah…”

“Dara! Apa maksudmu?!” potong Jiyong berang.

“Justru apa maksudmu, Ji?! Kau seolah memberiku harapan besar untuk bisa bersamamu, tapi apa?! Meski kau sering sekali menjalin hubungan pertemanan yang ‘akrab’ dengan banyak wanita, tapi kali ini kau benar-benar keterlaluan, Ji! Kau pikir aku ini apa?! Kau pikir hatiku terbuat dari emas?! Menghadapimu yang selalu bersikap ‘akrab’ dengan banyak wanita saja aku tidak sanggup apalagi sekarang kau… kau…” Dara tidak meneruskan perkataannya dan Jiyong hanya bisa mendengar suara isakan.

“A-atau memang inilah dirimu yang sebenarnya Ji?”

Jiyong tercengang mendengar perkataan Dara yang terakhir. Apa maksud gadis itu bertanya seperti itu? Apa…

Tidak! Tentu saja tidak! Apa Dara berpikir dirinya bisa bersikap serendah itu?

“Dara, apa maksudmu?! Tentu saja tidak?!”

Namun sepertinya tidak menanggapi penyangkalan Jiyong.

“Mungkin kau memang selalu seperti ini, dan aku saja yang bodoh dan tidak menyadarinya. Baiklah, terima kasih telah menyadarkanku. Aku akan melepaskanmu. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan untukku selama ini.”

“DARA!”

“Selamat tinggal!”

“DA-!”

Tut… tuut… tuuut…

Sambungan telepon mereka terputus. Jiyong berusaha untuk kembali menghubungi Dara, namun sepertinya gadis itu mematikan ponselnya.

“SIAL! BAGUS SEKALI KWON JIYONG, BAGUS SEKALI!!” tangannya bergerak memukuli kepalanya sendiri berkali. Rasa kesalnya kemudian dilampiaskan pada ponselnya yang dia banting ke lantai. Masih belum merasa puas, barang-barang yang berada di atas meja kerjanya menjadi sasaran.

Dengan nafas terengah, Jiyong memandang kekacauan yang telah dibuatnya. Sekali lagi dia membenturkan kepalanya ke meja, sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan.

“Sekretaris Im,” panggilnya pada sekretarisnya yang segera berdiri melihatnya keluar ruangan. Wanita itu pun pasti mendengar keributan yang disebabkan Jiyong beberapa saat yang lalu.

“I-iya…”

“Pesan penerbangan ke Indonesia hari ini juga, aku tidak peduli itu ke Jakarta atau ke Bali – tapi yang pasti aku ingin yang paling cepat; kalau perlu gunakan pesawat pribadi atau heli, aku yang akan berurusan dengan ayahku nanti. Setelah itu perintahkan orang untuk membereskan kekacauan di ruanganku, dan juga carikan aku ponsel baru, tidak perlu merubah nomor. Kau bisa mengantarkannya ke apartemen begitu semuanya beres.” Ucap Jiyong memerintahkan sekretarisnya, dan tanpa menunggu jawaban apapun, dia segera melenggang pergi.

“Ba-baik Tuan Kwon…” ucapan itu tidak didengar Jiyong yang telah masuk kedalam lift.

**

Weleri, 14 September 2013

 

Juna menurunkan kamera dari wajahnya saat mendengar suara isakan seseorang. Merasa penasaran, dia menunda rencananya untuk memotret struktur atap bangunan joglo dan memutuskan untuk mencari sumber suara. Berjalan mendekati arah suara yang didengarnya, pandangannya tertuju pada sosok wanita yang dikenalnya, tengah berjongkok dengan memeluk lutut, menangis pilu sembari mencengkeram kuat ponsel di tangannya hingga buku jarinya memutih.

“Waeyo, Ji? Waeyo? Setelah aku kembali berani berharap kau justru memperlakukanku seperti ini?”

Juna tidak mengerti apa yang diucapkan gadis itu, pun dia tidak tahu alasan kenapa gadis itu sampai menangis seperti ini.

“Da-dara…” panggilnya hati-hati, menarik perhatian gadis itu.

Perlahan kepala Dara mendongak. Dengan wajah penuh air mata yang tidak juga berhenti mengalir dari kedua matanya, gadis itu menatap Juna. Isakannya kian keras.

Juna hanya diam di tempat, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya menatap Dara yang juga tidak bergerak, masih tetap berjongkok memeluk lututnya, kepala mendongak menatap kepadanya, air mata seolah tak bisa lagi dihentikan.

**

Seoul, 14 September 2013

Jiyong segera berlari begitu mendengar suara bel pintu menggema di apartemennya. Seperti dugaannya, itu adalah sekretarisnya.

“Tuan Kwon, ini ponsel Anda, seperti yang Anda perintahkan, nomornya tidak diganti. Dan saya sudah meminta mereka untuk memindahkan semua daftar kontak yang ada di ponsel lama Anda ke ponsel ini. Dan penerbangan Anda dijadwalkan pada pukul 03.15 dini hari nanti, tujuan akhir Jakarta. Maaf, saya sudah mencoba mengakses pesawat pribadi maupun helicopter perusahaan, tapi keduanya tidak bisa digunakan sampai besok lusa karena masih sedang dalam pengecekan rutin. Saya sudah meminta orang untuk membereskan ruangan Anda, dan Anda tidak perlu khawatir, karena saya secara langsung mengawasinya.” Jelasnya setelah dipersilakan masuk sembari menyerahkan ponsel beserta tiket pada Jiyong.

“Terima kasih.” Balas Jiyong singkat. Dia melihat arlojinya, sekarang baru jam delapan, dia masih punya sekitar enam jam sampai waktu sampai penerbangannya nanti. “Kirimkan semua pekerjaan yang harus kuselesaikan melalui email. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan berada di Indonesia. Sampai waktu penerbanganku nanti, akan kuselesaikan beberapa berkas yang sebelumnya telah kau kirimkan padaku. Jika ada yang mendesak kau bisa mewakilkanku pada Hyungkyun atau Jinhye noona.”

“Baik, Tuan Kwon.” Jawab sang sekretaris. “Jika sudah tidak ada yang Anda perlukan lagi, saya permisi dulu. Selamat malam, Tuan.”

Jiyong mengangguk singkat pada sekretarisnya. Tanpa menunggu wanita itu benar-benar keluar, Jiyong sudah melangkah menuju ke ruang kerja yang ada di dalam apartemennya. Dia bisa gila jika tidak melakukan apapun.

**

Incheon International Airport, 15 September 2013 – 02.17 KTS

Dengan gelisah, Jiyong menatap pengeras suara di sudut ruangan tunggu, berharap benda itu segera menyerukan panggilan untuk boarding. Dengan tidak sabar, kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai, seolah yang dilakukannya itu akan mempercepat jalannya waktu.

Sejak keberangkatannya dari apartemen tadi, otaknya terus mereka scenario yang kemungkinan akan terjadi. Dia tersesat di negara yang sama sekali tidak dikenalnya… ya, dia memang pernah datang ke Jakarta dan Bali, tapi hanya itu. Dia tidak tahu dengan pasti dimana tepatnya alamat rumah nenek Dara, pun dia tidak tahu bagaimana dirinya bisa kesana setelah dari Jakarta nanti. Tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah dia harus menyusul Dara, bagaimanapun caranya. Dia harus meminta maaf pada gadis itu – bahkan jika Dara memintanya bersujud, akan dengan senang hati dia lakukan.

Jiyong tahu, tindakannya kali ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dirinya bisa seceroboh itu… mabuk, hingga berakhir di ranjang wanita lain.

Disaat hatinya sudah memilih Dara… justru dirinya sendiri yang mengacaukannya. Dan mulut bodohnya sama sekali tidak bisa menyimpan rahasia. Kenapa harus dia mengakui kesalahannya seperti itu? Lewat telepon dan saat dia tidak bisa melihat Dara secara langsung. Jiyong memang lebih memilih memberitahukan kesalahannya langsung pada Dara, bukan orang lain, tapi tidak seperti ini!

Jiyong tidak berani membayangkan bagaimana kondisi Dara saat ini. Saat dimana gadis itu tidak bisa meluapkan emosi, memaki, atau mencacinya langsung.

Gadis itu… gadis itu yang selama ini sudah bersabar menghadapinya. Dan gadis itu pula yang telah disakitinya, berkali-kali.

Desahan kembali lepas dari mulut Jiyong. Akankah Dara memaafkannya?

Tidak, tidak. Dara harus memaafkannya!

Jiyong tidak tahu apa yang bisa dilakukannya jika sampai gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya. Dara sudah terlalu berarti bagi hidupnya. Kehadiran gadis itu bukanlah hal yang singkat, meski begitu, jika seandainya singkat pun, Jiyong sangat yakin Dara akan tetap memiliki arti besar baginya.

“Dara-ah, mianhe…”

“Jiyong hyung!” seruan seseorang menyela kerja otak Jiyong yang sedang berusaha menyusun rencana untuk meminta maaf pada Dara.

Jiyong mengedarkan pandangan dan melihat Hyungkyun bergegas mendekat kearahnya. “Hyungkyun?” dia berdiri dari duduknya menyambut pria itu.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku meneleponmu berkali-kali tapi nomor ponselmu tidak bisa dihubungi, aku bahkan menelepon teman-temanmu, tapi tidak satu pun dari mereka yang tahu kau ada dimana. Aku sampai mendatangi apartemenmu yang ternyata kosong. Akhirnya aku tahu dari Sekretaris Im bahwa kau ada disini.”

“Hyungkyun, ada apa? Aku tidak punya banyak waktu.”

“Kau tidak boleh pergi kemanapun, hyung.” Ucapan Hyungkyun mengejutkan Jiyong, namun belum sempat pertanyaan Jiyong keluar, kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria itu lebih mengejutkan lagi. “Paman ditangkap oleh Kejaksaan karena kasus suap.”

“MWO?!”  

“Kau harus ikut denganku, hyung!”

“Tapi…” Jiyong menatap tiket di tangannya dan dalam kepalanya terbayang wajah Dara ketika pertemuan terakhir mereka sebulan lalu – pertengkaran mereka sebulan lalu.

“Hyung, kita tidak punya waktu lagi. Saat ini seluruh dewan direksi dan para direktur serta manajer telah berkumpul di perusahaan dan sedang diperiksa oleh kejaksaan!”

**

 

 

~ Tbc ~

Arjuna adalah Chef Juna?? NO NO NO NO NO!!! BIG NOOOOOO!!!!

Siapa Juna, udah pernah saya jelasin kan~ di chapter 7/8 kalo nggak salah.. :3

Hms, kalo saya masih bisa istiqomah sih nih ya, cerita ini paling tinggal 4-5 chapter.. inget, kalo saya bisa istiqomah.. kalo nggak, paling bleber lagi kemana2.. >.< aduuuh~ /now playing : Epik High – Don’t Hate Me/ don’t hate me guys.. T^T

………………………………………………….

<< Previous Next >>

 

Advertisements

25 thoughts on “Phases : Zece

  1. why you,,, jiyong??@!@#$ accckkkk….. klo kta bang rhoma tuh, TER.LA.LU…
    hahahahaa,, just kidding koq yg chef juna, hehhee,,, mianhae ^_~

  2. Jiyong kelewat bodoh! Apaan sih maksudnya kaya gitu? Kesel sendiri jadinya!
    Aduh gak tega ngeliat dara nangis kaya gitu. Jiyong udah keterlaluan 😥
    Jiyong udah niat banget mau minta maaf ke dara sampe mau terbang langsung ke indonesia. Tapi masalah lain muncul 😦

  3. Ohmygod -__-
    Jadi gara2 ini dara menghindari jiyong
    Ya iyaa lah, pasti sakit sekali mendapati kenyataan orang yg kita cintai tidur dg wanita lain >.<
    Kenapa harus mabuk sih jiyong, hadeeuh -__-

  4. Nggak mungkin kalo juna itu chef juna. Ndak cocok atuh sama dara unnie😁. Ooo jadi begitu ceritanya kenapa dara unnie marah sama jiyong (lagi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s