[2/4] Heroine Shikkaku !

req-pindapanda-by-laykim


Re-make dari HEROINE SHIKKAKU atau No Longer Heroine live action, karangan Koda Momoko

Poster : Laykim   @ Indo Fanfictions Arts

Re-make by VA Panda

 

[Malam hari]

“C-H-A-E-R-I-N!” Aku merengek dalam sambungan telpon.

Ya, sekiranya sudah berlangsung beberapa jam setelah ciuman ini. CIUMAN PERTAMAKU!

“Ya, ya, ada apa?”

“Chaerin-yah, apakah kau pernah berciuman?”

“Tentu saja.”

GLEK

“MWO?! ODI? ONJE? “

“YA! Reaksimu sunggu berlebihan, Dara!”

“Dengan siapa?”

“Siapa? dengan pria yang aku suka tentu sa–”

“ARG!” Aku berteriak gusar sebelum memutuskan sambungan telpon dengan Chaerin.

“Bahkan si bodoh Chaerin sudah pernah berciuman dengan seseorang yang ia sukai!” Ungkapku dengan kesal. “Lalu aku? Bahkan ciuman pertamaku untuk Jiyong sudah direbut oleh oranglain!” Aku memukul-mukul kasur dengan sangat sedih, lebih dari itu, aku tidak ingin Jiyong mengetahui hal ini! Tidak ada hal lain!Aku harus melakukan hal ini pada Joong Ki besok di sekolah!

Eh, tunggu!

Aku terlalu naif menganggap Chaerin bodoh, tapi untuk urusan asrama dan hal bodoh di dalamnya, Chaerin adalah juara.

Dara, kau bodoh untuk menanyakan pada temanmu yang jelas sudah terlihat lebih unggul!

*

*

**

*

*

Pagi ini, aku berjalan dengan langkah kaki yang berbeda seperti biasanya menuju kelasku. Sesuai dengan arahan otak jeniusku yang kemarin, hari ini ada hal yang perlu aku lakukan padanya!

Aku memasang wajah menyeramkan dengan mengerutkan dahi dan mulut yang dibengkokkan persis seperti hantu melegenda dari Korea.

Di sana! Ya, di sanalah Joong Ki yang berdiri tepat di depan pintu masuk kelasku dengan tangan yang melipat dan melihatku dengan alis yang saling ditautkan.

“Eoh?”

Masih dengan wajah yang sengaja aku pasang menyeramkan, aku mendekatinya dan …. wajahku berubah manis juga menjilat layaknya anjing kepada sang tuan saat melancarkan rencanaku. “Soal kejadian kemarin, itu rahasia kita saja ya.” Mohonku dengan tangan yang terkepal seperti memohon doa setiap malam dan mengedipkan mata untuk berusaha terlihat manis di depannya.

“Kau menghampiriku hanya untuk memintaku menutup mulut?” tanyanya dengan tertawa yang bahkan tidak aku mengerti kenapa demikian. “Ayolah, mana mungkin aku mengatakannya pada oranglain.”

“Benarkah?”

“Tapi …. um, benar juga.” Ia menggodaku! Pria ini, Song Joong Ki berjalan semakin mendekatiku sampai membuat punggungku mencium tembok! “Sebagai gantinya, aku juga bisa meminta sesuatu, kan?”

“Jika aku bisa,” balasku dengan sedikit canggung.

TUNGGU! Akulah yang dicium tapi kenapa kau yang perlu diuntungkan? Aku berkata dalam batin dan bergerak ke samping untuk menghindarinya namun ia melakukan pemboikotan dengan salah satu tangannya tepat di samping wajahku.

“Maksudmu? Hal seperti apa yang dapat kau bantu?”

“Itu … kau harusnya lebih memangkas jarak dan jangan terlalu dekat!” Aku menepis tangannya dan berlari menghindari namun Joong Ki terus menggodaku dengan menuturiku dan mendekatiku di sepanjang koridor kelas kami.

“Apa kau senang?” tanyanya yang telah mampu mengentikanku dengan memperisai menggungakan tangannya.

“Sama sekali tidak!”

“Pembohong! Tertulis jelas di seluruh wajahmu!”

“HEI.” Suara Jiyong masuk ke dalam pendengaranku. Apakah ini bagian dari khayalanku yang terkadang mudah datang akhir-akhir ini? “Gadis itu tidak menyukai perbuatanmu.” Tidak, ini sungguh nyata karena di sana aku melihat Jiyong bersama Hyun Woo di sampingnya menatap kearah Joong Ki dengan tatapan menusuk.

“JIYONG!”

*

*

**

*

*

Eh?

Apa-apaan ini?

Aku mengarahkan bola pada sepuluh pin yang telah dibentuk segitiga itu, namun sama sekali tidak membuat perubahan dengan hal tersebut. Uh, bowling sungguh olahraga yang aku benci!

“Dara-ssi, kau payah!”

Aku menengok Joong Ki yang tengah menertawakanku dan bertepuk tangan karena terlalu puas dengan kondisi ini.

Kacau. Benar-benar kacau dengan double date yang diminta Joong Ki sebagai hadiah tutup mulutnya!

Supaya tetap diam, kau ingin kencan ganda?! Heol!

Masih dengan kesal, aku beranjak kembali mengambil bola bowling berwarna pink kali ini, bersamaan dengan itu Joong Ki mulai berhenti tertawa dan berdiri menuju kearahku sembari berbisik, “sudah ku bilang, kau terlalu terikat padanya.”

Aku mengerutkan dahi namun Joong Ki melanjutkan perkataannya. “Kwon Jiyong itu sangat mudah untuk dibaca, memperlihatkan kita seperti itu.” mataku menengok kearah Jiyong dengan menggeser tubuh Joong Ki yang sedikit menghalangi dan saat mata kami saling bertemu untuk waktu satu detik itu telah membuat aku kembali memiliki semangat yang membara.

“Jiyong,” kataku dengan berbisik.

“Arahkan bolanya pada garis ketiga di sebelah kanan.”

Joong Ki mengarahkanku dan dengan percaya diri aku mempercayai juga mempraktikan apa yang ia katakan untuk mencetak angka dalam permainan bowling ini.

STRIKE!

“YEAY!”

“Kau berhasil!”

Aku berlompat membawa Joong Ki dalam kegilaan sesaat ini. Kami saling bertepuk tangan dan tertawa puas seolah hal itu telah memberikan pernyataan bahwa akulah pemenang dalam permainan ini!

Telah lelah untuk berlompat bersama Joong Ki, akhirnya aku kembali ke tempat dudukku dan terus memfokuskan mata kearah Jiyong yang justru meminum colanya.

“Dara,”

“Eoh?”

“Bagaimana dadoong?”

“Dadoong?” Joong Ki bertanya, yah … percakapan ini memang hanya dimengerti oleh aku dan juga Jiyong.

“Kucingku,” jawabku singkat.

“Saat kecil dulu, kita berdua yang menamainya, kan?”

Eh? Ada apa ini? Dahiku berkerut dengan pernyataan Jiyong. Baiklah, aku perjelas …. bagaimana mungkin ia perlu menjelaskan perkara pemberian nama itu didengan Joong Ki. Mungkinkah Jiyong cemburu?

“Hm, benar.”

“Rumahmu tidak jauh dari sini kan, dan aku sudah sangat ingin makan masakan ibumu lagi.”

Heol, semangatku kian membara berkali lipat.

Sekarang aku tersenyum puas.

HAHAHA

“Dara-ssi, aku juga memiliki perliharaan. Lihatlah foto ini, aku memiliki foto dengan anjingku. Bukankah terlihat lucu?”

https://i1.wp.com/www.ceritakorea.com/wp-content/uploads/2016/05/song-joong-ki9.jpg

https://i1.wp.com/www.ceritakorea.com/wp-content/uploads/2016/05/song-joong-ki11.jpg

Kawaii!”

“Benarkah? Dan lihatlah dengan anak-anak dari anjingku!”

baby dog

“YA! Kau harusnya membagikan satu anjingmu untukku, Joong Ki!”

“Dara, bukankah kau takut anjing?”

Sheesh, aku lupa tentang ketakutanku. Ya, sejak kecil aku hanya terbiasa dengan kucing namun untuk anjing, aku lebih jaga jarak lebih … mungkin bisa diberi contoh untuk Gaho yang sangat jarang aku temui jika berkunjung ke rumah Jiyong?

“Eoh, benarkah apa yang dikatakan Jiyong?”

“Aniya, jika anjingnya seimut ini … aku mudah untuk bersosialisasi!”

“Toilet,”

EH?

Sebenarnya apasih yang merasuki tubuh Jiyong saat ini?

“Puahahahaha, dia mudah sekali dibaca.”

Lihatlah sekarang raja iblis di sebelahku, Song Joong Ki sedang tertawa puas karena melihat mimik masam Jiyong juga dengan kepergian pria yang menjadi objek tawanya itu pergi ke toilet, tanduk iblisnya kian menyembul tinggi di atas kepala.

“Baiklah, giliranku melanjutkan permainan bowling.” Joong Ki beranjak memulai permainannya dan aku masih tersenyum penuh arti di sini.

Sembilan belas agustus menjadi hari peringatan untuk rasa cemburu yang Jiyong tunjukkan!

Bagaimana, Hyun Woo-ssi?

Ya, sekarang aku tengah membatin sembari menjuruskan mata pada tatapan Hyun Woo yang juga melihat kearahku dengan wajah datarnya.

Hah?

Sama sekali tidak memperlihatkan reaksi.

“Ini sebuah kesalahpahaman,”

Huh? Apa yang dimaksud Hyun Woo kali ini?

“Aku tidak sengaja mendengar bahwa kau memiliki perasaan dengan Jiyong saat di kantin, sebenarnya aku merasa … tertekan. Kau yang selalu terus terang tentang perasaanmu kepada Jiyong, bagiku itu hanyalah sisi unik dari dirimu.”

Apa? Bicara apa Hyun Woo sekarang?

“Dara-ssi, aku bahkan secara egois menganggapmu sebagai temanku.”

“Te-man?”

Bukan! Seharusnya kami adalah rival bukan?

“Kenapa kau memaksakan diri untuk menerima Joong Ki jika kau tidak bisa menemukan oranglain yang kau cintai? Menyakiti Joong Ki seolah ia menjadi pelampiasan adalah hal yang tidak baik, Dara-ssi.”

APA? Kenapa kau menyalahkanku, Hyun Woo?

Hal ini bahkan lebih seperti … kau menginginkan Jiyong hanya untuk dirimu sendiri!

Aku menahan bulir panas di mataku, tidak …. Aku tidak boleh menangis di depannya!

“Kau mengatakan hal seperti itu, kau sungguh wanita hina.”

Joong Ki?

Aku menengok kearahnya, ia masih berdiri membelakangi, memegang bola bowlingnya untuk sejenak dan baru mengarahkannya ke sepuluh pin putih di sana.

“Aku hanya ingin bilang bahwa aku ingin menghargai perasaan Dara dan juga Jiyong-”

“Maka,” Joong Ki berbalik dan menatap kearah Hyun Woo tepat setelah bola yang ia lemparkan menjatuhkan sepuluh pin di sana. “Putuslah dengannya.”

Bagiku, ini adalah kondisi yang membuatku sungguh canggung. Joong Ki membelaku saat aku tak mampu berucap bahkan membatu di depan Hyun Woo.

“Ya? Pada akhirnya, itu adalah ucapan manis yang keluar dari mulutmu. Kau tahu, namanya bermulut manis. Kau sungguh membuatku kesal, Hyun Woo.”

Pria ini? Ada apa dengan Joong Ki sesungguhnya?

“Mari kita pergi, Dara-chan.”

Mencium paksa, dan bersikap baik.

Apa maksudnya?

Tapi, kau layak mendapatkannya, Hyun Woo.

*

*

***

*

*

Bahkan jika aku ingin mengulurkan tanganku, sekarang Jiyong sangat jauh dari jangkauanku.

Berjalan menaiki tangga kayu sepulang dari pemainan bowling. Kejadian tadi setidaknya terus mengusik pikiranku bahkan sepanjang perjalanan pulang menuju rumah.

Aku tahu bahwa aku dan Jiyong sudah berteman dalam waktu sepuluh tahun, sangat lama tapi untuk situasi seperti ini … hal ini sungguh mengerikan bagiku. Layaknya Hyun Woo yang mengubah pengaruh bahwa pertemanan kami selama sepuluh tahun ini tidak berarti apapun.

“Dara,”

“Jiyong?”

“Kau berjalan begitu lambat bahkan saat aku mengikuti tepat di belakangmu, kau tak menyadarinya.”

“Oh, mungkin karena banyak hal yang terus mengusik fokusku.”

“Kau bukan orang yang seperti ini sebelumnya, Dara. Kau berhenti bermain bahkan tanpa berpamitan denganku.”

Kau mengkhawatirkanku, Ji?

“Di mana Hyun Woo?”

“Dia pulang ke rumah.”

“Jika boleh aku tahu, apa yang kau suka dari Hyun Woo?”

“Soal itu ….”

“Tenang saja Ji, aku pastikan bahwa ini rahasia antara kita.”

“Hyun Woo memiliki impian yang tinggi, menjadi seorang jurnalis. Dia ingin mengatakan sesutau demi dirinya sendiri kepada dunia. Hebatkan?”

“Huh? Ya,”

“Untuk hal seperti itu, Hyun Woo memiliki keinginan dan tekat. Dia memiliki semua yang tidak aku miliki.”

Apa ini? Kenapa aku begitu semakin kecil untuk membandingkan diri dengan Kim Hyun Woo?

Aku merasakan ketulusan dari ucapan yang dituturkan Jiyong.

Hyun Woo memiliki sebuah impian yang sangat tinggi lalu dibandingkan denganku? Aku tidak memiliki apa-apa karena terlalu fokus untuk Jiyong selama ini tanpa memikirkan masa depan demi kebaikanku.

“Ya!” Aku mendorong Jiyong, melepaskan kekesalanku sejenak karena pria ini tak pernah menatapku sebagai Heroinenya. “Yang terlambat, tidak akan mendapatkan makanan ibuku!”

Aku berlari, menghancurkan remuk hati yang diharapkan ikut terbawa bersama semilir angin. Menyedihkan, sangat menyedihkan bahwa aku harus mendeklarasikan kekalahanku dan berhenti untuk terus mengejar Jiyong setelah banyak waktu yang telah aku buang sia-sia.

Kalian mengenalku kan sekarang?

Akulah Heroine gagal dalam cerita yang telah aku buat.

Heroine gagal yang telah berhenti mengejar cintanya untuk orang yang dianggap bisa berada di samping Hero seperti Jiyong, Kwon Jiyong.

Mana mungkin aku memiliki impian luar biasa seperti yang Hyun Woo miliki?

Karena sampai saat ini, yang aku lakukan hanya melihat Jiyong.

Aku menyerah …. sekarang juga.

Saat ini, yang ingin aku lakukan akan menghilang dan lenyap.

*

*

***

*

*

“Aku akan menghilang dari kehidupannya,”

“Jangan bercanda,”

Baiklah, untuk kesekian kalinya Chaerin masih tenang menyeruput americano hangat tanpa menatapku. Lihatlah gadis satu ini, matanya hanya berpendar pada lelaki di samping meja kami yang tengah bersiul padanya.

Bagaimana tidak? Apa kalian tahu pakaian apa yang tengah ia kenakan saat ini?

Rok celana pendek berwarna hitam yang teramat pendek dengan baju berleher v yang sukses mempertontonkan dadanya.

“Kau terlalu berlebihan dengan pakaianmu, Chae.”

“Mwo? Apa yang salah? Ini musim panas, ne” kata Chaerin membalas dengan memberikan salam ke samping meja kami. Beberapa pria di sana bahkan berpenampilan seperti berandalan namun Chaerin tidak pernah sungkan untuk memperlihatkan sikap yang menurutku menjemukan itu.

Sejujurnya, aku terlalu malas jika menghabiskan waktu bersama Chaerin. Kalian tahu kenapa? Karena dimana pun tempatnya, semua mata pasti berbinar dan Chaerin selalu menjadi pusat perhatian.

[notif LINE]

Dara, aku mempunyai permintaan kepadamu. Mengenai liburan musim panas … bisakah kau menemani Jiyong? Ada hal yang perlu aku lakukan selama liburan bersama keluargaku.

Berulang kali aku mengedipkan mata coklatku. Tidakkah aku salah untuk membaca pesan yang Hyun Woo sampaikan?

Memarahiku dengan perkataan jahat yang menusuk seperti kemarin, lalu sekarang? Memberikan pintu masuk untuk aku mendapatkan Jiyong? Bukankah jika ini terjadi, rencana SMA ku akan berjalan lancar?

“Oh, Chae … bukankah besok kita sudah memasuki liburan musim panas?”

“Eoh, lalu apa yang menarik?”

“YA! Seharusnya kau selalu senang jika menyambut musim panas? Tahun kemarin, apa kau ingat? Kau bersama kekasihmu traveling ke daerah tropis sedangkan aku? Aku hanya membusuk di dalam rumah atau ke tempat toko komik.”

“YA! Apa maksudmu dengan kembali mengatakan itu! Bukankah kau bermaksud menyinggungku bahwa sekarang aku tidak memiliki pasangan. Eoh?”

“Aniya…. kau tahu, Hyun Woo memintaku untuk menghabiskan musim panas bersama Jiyong.”

“YA DARA! Aku pikir kau sudah membulatkan tekat untuk menghilang,”

“Um, hanya saja … aku selalu menghabiskan musim panas dengan Jiyong.

“Itu dia yang salah!”

“Eoh, jadi kau baru menyadari setelah terlampau 365 hari karena tidak mengajakku ke daerah tropis itu huh?”

“Aniya, bukan itu Dara!”

Lee Chaerin, mata runcingnya menatapku dengan dalam. Penuh kehati-hatian seolah mencengkram deru napasku yang tengah beradu sepuluh sentimeter dengannya kini.

“Aku tidak suka dengan tatapanmu,” menyeruput orange juice yang sudah hampir habis, aku membuang muka untuk menghindari tatapan Chaerin.

Look at me,” lengan Chaerin menghimpit pipiku sampai membuat mulutku yang terlihat bulat di sana.

“YA! Hentikan! Kau membuatku malu!”

“Hahaha, mian. “Karena ini liburan musim panas, bagaimana jika pergi ke suatu tempat?”

Baiklah, Chaerin sangat berbeda sekarang. Ia menjadi penurut bahkan senyum di wajahnya tak urung luntur dari pantauanku.

“Aku sangat tidak suka jika kau menyerah dengan begitu mudah dan sebagai seorang temanmu yang setia, aku akan memberikanmu saran yang pasti berhasil kali ini.”

“Ya, masih seputar liburan musim panas … jadi pada akhir liburanku dengan Jiyong, aku akan mengajaknya melihat kembang api bersama!”

“Nona muda, Jika kau melakukan hal itu, kau pasti gagal dengan rencana cintamu.”

EH, BAGAIMANA PAK TUA TIBA-TIBA ADA DI SINI?

Bukankah dia hanya bekerja di kantin?!

“Kau baru melihat mister di luar sekolah kan? Mister memang bekerja saat sore hari di Cafe ini, Dara.”

“Ah, ne … begitu.”

Pak Tua, aniya … Mister kali ini mengambil kursi kosong dan duduk denganku juga Chaerin. Melibatkan dirinya dalam perbincangan masa muda kami.

“Mister, sebelumnya … apa yang kau katakan tentang kegagalan itu?” tanyaku pada pria dewasa itu.

“Nona muda, kau tidak memiliki sebuah ‘jurang pemisah’ dengan pria yang kau cintai.”

“Jurang pemisah?”

“Eoh, mister ada benarnya Dara. Sebuah jarak biasanya berjalan dengan sempurna.” Ungkap Chaerin dengan santai.

Kedua orang di hadapanku hanya menganggukkan kepala sedangkan aku tersudut dengan maksud ‘jarak’ yang mereka inginkan.

“Jarak? Aku bahkan tidak memilikinya! Aku selalu mengabiskan waktuku dengan Jiyong selama ini.” Balasku dengan lesu. Ya, itu sangat benar … aku tidak pernah jauh dari Jiyong, bahkan saat kami bertengkar, terkadang aku langsung mengiriminya pesan bahkan sampai berkunjung ke rumahnya. Jika Jiyong berlibut bersama ayahnya, aku bahkan ikut berlibur bersama dengan menyeret keluargaku bersama dan memastikan liburan yang menyenangkan.

Membuat jarak di antara kami memang terdengar mustahil!

“YA! Kau ingin merebut posisimu sebagai Heroine untuk Jiyong bukan?”

“NE!”

“Kau memang gadis brengsek yang naif, Dara.”

“Mwola, kau sendiri yang membuatku kembali menemukan jiwaku yang sebenarnya.”

“Kalau begitu, kau harus melakukan apa yang dikatakan Mister!” Kedua orang itu kembali menganggukkan kepala.

“Bagaimana bisa,”

Suara barito mister bersua, “sederhana saja. Jangan pernah untuk mencoba menghubungi dia.”

“TIDAK MAU!”

“Apa maksudmu, Dara. Itulah yang dinamakan jarak?!” Chaerin menggebrak meja dan hal itu justru membuat suasana kian memanas.

Baik mister maupun Chaerin bersikukuh dengan rencana mereka yang saling berhubungan. Aku semakin tersudut bahkan mengecil seperti hamster di sudut ruangan.

Chaerin : Dengar, bahkan jika ponselmu berbunyi berulang kali … teruslah mengabaikannya.

Mister : Lalu dia akan berpikir, “Apa yang terjadi?”

Chaerin : Dia akan penasaran.

Mister : Pada saat kalian terpisah, cinta pasti akan mekar.

Chaerin : Dan saat Jiyong tidak bisa menahannya lagi, dia pasti akan mengirimu pesan dan mencarimu.

“Jika aku melakukan itu, Jiyong pasti akan kesepian selama liburan musim panas.” Ucapku ragu dengan memegang kedua pipiku seolah energi bersumber dari sana.

BRAK

Chaerin : Kau tak masalah harus membersihkan kekacauan yang dia buat?

Mister : Apa kau berusaha memperlihatkan daya tarik dengan cara seperti dulu lagi?

Chaerin : Kau harus bangkit dengan rencana yang lebih matang!

Mister : Good luck!

*

*

***

*

*

Fyuh … wejangan tadi sungguh membuatku semakin frustasi.

Jarak? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu jika kehadiranku selalu diibaratkan dengan Jiyong?

Kalian tahu? Aku kini berjalan teramat lesu seperti bukan diriku yang sebenarnya. Kemana larinya semua energi positifku ini, huh?

[Di rel kereta api, saat kereta akan lewat, sirine berbunyi]

Aku tak mau meninggalkan Jiyong sendirian, tapi ….

Di sana Jiyong berdiri dengan memegang handphone kesayangannya. Memotret bunga di sekitar yang tengah bermekaran sayup di sore hari.

Aku terus memantaunya sampai akhirnya ia tersadar akan kehadiranku yang berada di seberangnya.

“Eoh,”

Jiyong terkejut namun handphonenya mengarah padaku.

Kereta mulai datang, seolah menjadi pemangkas jarak awal yang hendak aku lakukan untuk melancarkan rencanaku.

Selamat tinggal!

Aku mencintaimu!

Tunggu hingga aku menjadi wanita berbeda dan cinta kita akan tumbuh!

Setelah itu aku akan menghentikan rencana jarak padamu!

*

*

***

*

*

ROAD TO JIYONG

mission : Recapture the place of HEROINE

mission

Kalian bertanya apakah misiku berjalan dengan sempurna?

Well, inilah hal yang aku lakukan demi menjalankan misi.

Untitled

Tidak pernah lupa menandai kelenderku!

Untitled2

Sedikit lagi,

 marked

Sedikit lagi,penantianku pasti akan berakhir!

Di supermarket, tempat Chaerin kerja paruh waktu

Jiyong : Dia tidak kemari?

Chaerin : Eoh, Dara? Belakangan ini kami tidak pernah bermain bersama.

Jiyong : *mengangguk-angguk*

Chaerin : *tersenyum iblis*

marked 2

Pasti besok, Jiyong akan menghubungiku!

komik

TIDAK PERNAH ADA!

TIDAK ADA SATU PUN PESAN!

Kalian lihat, berapa banyak volume komik yang sudah aku baca! Tapi sekalipun nama Jiyong tidak pernah terlihat mewarnai ponselku!

Apa mungkin Jiyong, sudah melupakanku?

“Bagus bukan? Ao Haru Ride,”

Eh? Suara yang aku dengar sangat familiar!

boneka tangan

Boneka : Bagi gadis SMA, mengabiskan waktu di sini sebanyak mereka memiliki waktu senggang.

Orang misterius : NE! Kami bahkan sudah mengabiskan waktu di sini dari jam 12.00

“Joong Ki-ssi?”

“Annyeong! Lama tak bertemu!”

“Tunggu, kenapa kau ada di sini?”

“Tentu saja untuk bertemu denganmu!”

“Eh?”

“Jika seperti ini saja, melakukan sesuatu seorang diri. Kau tidak akan memiliki kenangan musim panas!”

“Kau benar,”

FYUUUU, kami saling menghebuskan napas. Eh? Mungkinkah Joong Ki sama dengan ku? Tidak banyak melakukan banyak momen di musim panas ini?

“Kalau begitu, maukah kau pergi kencan, Dara?”

 

*

*

***

*

*

Kalian tahu? Ini merupakan kenangan musim panas yang sangat mengasyikkan.

Aku bersama Joong Ki memilih taman kota sebagai tempat untuk bermain. Di sana banyak sekali anak kecil dan hal yang mengasyikkan itu pun  terjadi setelahnya saat kami bertempur dengan pistol air.

Belum cukup sampai di sana, anak kecil jail itu mendorongku menuju kolam buatan yang membuatku basah kuyup.

Marah? Kesal? Tidak, tidak sama sekali.

Karena yang aku rasakan justru kebahagiaan.

“Tadi itu menyenangakan sekali kan?”

Hari sudah beranjak malam dan sekarang kami berniat untuk kembali ke rumah masing-masing. Jangan tanya seberapa kesenangan yang telah membalut di dalam tubuhku, aku bahkan tidak dapat menilai sama sekali!

Joong Ki tak bergeming dan aku pun tak berniat untuk berbalik ke arah Joong Ki yang berada tepat di belakangku.

“Dara, sepertinya aku menyukaimu.”

Aku berhenti melangkah. Berbalik dan mendapati senyum khas Joong Ki yang terlihat santai menatapku tanpa rasa canggung sekalipun.

“Lalu, bagaimana? Apa kau juga mulai suka padaku?”

Aku menghebuskan napas dan melepaskan lengan yang sempat memegang lenganku.

Hampir saja.

Dia bukan pria yang menakutkan, hampir saja aku diperdaya olehnya.

Bagaimanapun, aku tahu bahwa Joong Ki tipe pria yang humoris terlebih dia terkenal ‘playboy’ di sekolah kami.

“Joong Ki,”

Secara refleks, aku maupun Joong Ki berbalik pada sumber suara dan memperlihatkan wanita yang sekitar berusia 25 tahun dengan sedikit mabuk itu melihat ke arah Joong Ki.

“Ternyata benar, memang kau Joong Ki.”

Wanita berambut sebahu ini langsung berjalan gontai menuju Joong Ki dan meleparkan dirinya ke arah Joong Ki sembari memeluknya.

ADA APA DENGAN WANITA MABUK INI?!

“Kau membuat gadis lain menangis lagi, Joong Ki?” ucap wanita yang kini memeluk Joong Ki dengan menatapku seolah itu hal yang lucu baginya.

*

*

***

*

*

Aku tidak tahu kenapa aku menyetujui Joong Ki untuk menemaninya ke apartemen ini. Kasihan? Ya mungkin aku masih memiliki jiwa sebaik itu pada wanita yang sepanjang perjalanan tadi berkata hal kosong yang tidak aku mengerti.

Yang jelas sekarang kami sudah berada di dalam apartemen wanita mabuk itu dan Joong Ki melakukan sikap sebagai seorang pria normal kepada orang yang ia kenal. Ya, aku sangat yakin bahwa wanita ini mungkin salah satu kenalan kakaknya atau mungkin Joong Ki sendiri?

“Aku sudah tidak bisa berjalan, Joong Ki.”

“Kau terlalu banyak minum Noona.”

Joong Ki menepatkan wanita tadi ke sofa coklat dan duduk kemudian, tak jauh jaraknya dari wanita tadi.

“Dia terlalu banyak minum. Mabuk berat,” kataku sembari melemparkan sweater putih tipis ke arah wanita itu.

Aku sangat membenci alkohol dan efek yang ditimbulkan!

“Dia adalah guru les privatku,”

“Hm, aku sudah menduganya.”

“Dan juga mantan kekasihku,”

“Ya aku sudah tahu, huh?! Apa kau bilang?”

“Dia mengajariku banyak hal buruk.”

Kisah tak masuk akal itu ternyata benar ada ?!

“Pada akhirnya dia dimanfaatkan dan dicampakan oleh pria lain.”

“Lalu …..”

“Joong Ki, air!”

“NE,”

Apa-apaan wanita ini? Menyusahkan Joong Ki bertubi-tubi dan pria itu juga melakukan apa yang diperintahkan padanya?! Sulit untuk dipercaya!

“Kau bisa mengatakan apapun sesukamu, tapi sampai sekarang, aku masih menjadi favoritmu kan Joong Ki?”

MWO? Dasar wanita tidak tahu diri! dan Joong Ki hanya tersenyum saat ia tengah mengambil air minum? Heol.

“Meski kau mengerti alasanku tak memiliki tekad, kau senang dipedulikan seperti ini, kan?” wanita mabuk tadi kembali bersua, tersenyum aneh yang kian membuatku muak. “Meski kau bermain-main dengan banyak gadis, pada akhirnya kau tidak bisa melupakanku. Bagian dirimu yang seperti itu, sangat menyedihkan.”

“YA! WANITA TUA!”

“Maksudmu, Aku?”

LIHAT! Mimik wajah wanita tua itu kini berubah pucat pasi dan terkaget dengan gertakkanku.

“YA, kau wanita tua kurang ajar! Joong Ki itu keren! Dia baik, jago olahraga, dan pintar berkata manis. Jadi jangan sombong!”

LIHAT! Hal yang dilakukan wanita tua itu bahkan terus berkedip menatapku dengan mulut yang tak henti membulat!

“Jadi jangan menatapnya seolah kau mengatakan ‘Joong Ki adalah milikku!’. Aku yakin bukan hal seperti itu! Dan yang aku yakini adalah kau pasti menyesal telah mencampakkan Joong Ki!” Aku berbalik ke arah Joong Ki dan menujuk kearahnya, “karena itu, percaya dirilah Joong Ki-ssi!”

Aku mecurahkan kekesalahku saat ini. Masih dengan napas naik-turun, aku menatap Joong Ki namun menit berselang, Joong Ki justru tertawa setelah meninggalkan wajah seriusnya.

“Wah, kau sangat berbahaya Dara-ssi.” ucapnya dan menuju balik. Saat aku mengikuti arah telunjuknya, ternyata wanita tua itu terus melongo seolah terkaget akan banyak hal lain akibat ucapaku yang ditujukan padanya!

“Mmmm… begitu, kalau begitu. Selamat tinggal.” Pamitku dengan sedikit malu.

*

*

***

*

*

Song Joong Ki POV

“Apa hal bodoh yang baru saja ia katakan? Gadis itu sangat buang tenaga mengatakan hal seperti itu padaku.” Yi Na noona kembali bersua setelah Dara meninggalkan apartemennya.

Ya, dia adalah Kang Yi Na. Mantan kekasih yang sangat sulit menghilang dari otak.

Kang Yi Na noona sempat menjadi guru les privat sebelum akhirnya eomma tahu hubungan kami dan menghentikan pekerjaannya untukku. Sejak saat itu, sulit sekali untuk mendapatkan kepercayaan dari eomma ku sendiri bahkan yang aku sadari setelah kami memutuskan untuk hubungan ini adalah …. aku banyak bermain dengan para gadis dan membuat mereka menangis, tapi sekalipun hatiku tak pernah bergetar.

Aku tak mau banyak lagi menghabiskan waktu dengan wanita yang pernah mencampakanku, lantas aku segera menyodorkan air dingin ini padanya.

“Ini membosankan, jadi aku sebaiknya pulang.”

“Terserah kau saja! Sebagai gantinya, setelah kau pergi…”

“Aku tak akan pernah, muncul di hadapanmu lagi, Noona.”

Aku menghembuskan napas, sepertinya hal ini perlu kembali diluruskan.

“Aku, tak tertarik padamu seperti yang kau pikirkan.” Setelah itu, aku tersenyum sejenak sebelum akhirnya berbalik menuju pintu keluar.  “Saat ini, aku tidak bisa mengalihkan padanganku kepada gadis itu.”

*

*

***

*

*

[kembali ke Dara POV]

Apa yang aku lakukan tadi? Hal itu sungguh memalukan!

“Apa yang sebenarnya aku lakukan di sana?!”

Aku mengeluh dengan kebodohanku sendiri. Seorang diri, aku terhenti sebelum perjalanan pulang dan duduk sejenak dekat dengan pohon pinggir jalan. Memalukan, sangat memalukan dan bahkan tanpa dasar yang mendorong aku melakukan hal tadi.

Mungkinkah sebagai bentuk balas budi karena Joong Ki sempat membantuku dihadapan Hyun Woo?

Aku kembali tersenyum. Ya, aku memang tipikal orang yang langsung dengan mudah menemukan kembali diriku yang sebenarnya. Lagipula ini hanyalah bentuk balas budi jadi tidak banyak yang berarti.

“Kembang api?”

Saat aku tenggelam dalam pikiranku, poster mencolok yang ternyata telah ada dari tadi itu baru mengambil fokusku.

“Bukankah pesta kembang api akan dilakukan besok?” tanyaku pada diri sendiri.

Ya, aku sudah menghabiskan musim panas dengan melancarkan misi jarak yang ternyata tidak berjalan sempurna seperti yang diharapkan Chaerin juga Mister. Sebenarnya aku sudah mendapatkan lampu hijau karena Hyun Woo membiarkanku untuk menghabiskan waktu bersama Jiyong, tapi aku tidak memilih hal itu dan lebih memilih rencana yang Chaerin juga Mister katakan.

Jiyong sama sekali tidak menghubungkin, lalu apakah aku harus menghubunginya terlebih dahulu?

“Mianhae, Chaerin-yah.”

Aku memijit angka satu di handphone ku dan langsung terhubung dengan nomor Jiyong yang ternyata aktif.

Jiyong : Eoh, ada apa?

Jadi dia baik-baik saja? pikirku.

Dara : Begini,

Jiyong : Eh, ada apa?

Dara : Besok, mau pergi ke pertunjukkan kembang api?

Jiyong : Baiklah, sampai ketemu besok.

Jadi tidak berhasil ya? Rencana jarak yang sudah berlangsung teramat sulit itu sama sekali tidak berhasil bagi Jiyong.

Eh? Tapi tunggu, bukankah dia setuju untuk datang di pesta kembang api?

BESOK? KAMI BERTEMU ?!


to be continue …


i really Love you, guys!

biar sempet frustasi pas lanjutin bagian ini, aku balik lagi sama janji ‘2 hari’ itu HAHAHA
sempet stuck gitu di bagian tengah tp akhirnya aku lanjutin lagi kkkk~

[DGI PARADE is NOW OPEN]

Makasih supportnya, kritik, dan juga sarannya. Well, cerita ini memang sama persis yah kayak salah satu live action (sama kayak judul) yg baru sekitar 3 minggu lalu aku tonton tp sedikit penyesuaian pada scene tertentu sampai akhirnya seperti DG version kkkk~,
Kalian tahu? Kalo di film, part ini masih di durasi 49 menit dan itu artinya masih ada 1 jam untuk menyelesaikan durasi film. Semoga berjalan lancar yah nih aku kkkk~ (fyi, tadinya bagian guru les Joong Ki mau aku cut tp gajadi wkwk)
jgn lupa tinggalkan komentar karna walaupun remake, itu tak semudah mendengarnya ^^ sorry for typo 😀
Advertisements

22 thoughts on “[2/4] Heroine Shikkaku !

  1. set daahhh….itu ji ko gk ada kangen2nya apa sama dara. padahal kan dara udh bikin misi “jarak”.
    apa dara bakalan gagal? semoga aja nggak.
    joong ki suka dara? gk ikhlas aku.
    dara hanya utk jiyong.
    next chap thor hwaiting.

  2. seperti’y jiyong hanya kagum deh ma hyun wo bukan cinta(isniie sok tau)hehehe,,,,
    cuman melihat poster kembang api dara langsung tergoda unt menelfon jiyong,dan langsung di angkat sama jiyong,,?(tanda” cinta bertebaran di sini),,,

  3. Kasihan dara ya jiyong bener” suka sm hyunwoo ya….. ya udah lah dara sm jongki aja lagipula jongkii jg suka sm dara dan jg jongkii jg nggak kalah keren sm jiyong hehehe…. sebenarnya siapa sih pak tua itu knp slalu nolongin dara??
    semoga liburan musim panas daragon berakhir manis dan semoga mereka berkencan setelah lihat kembang api dan buat hyunwoo semoga diputusin sm jiyong dan semoga jiyong tau klu hyunwoo pernah berkata kasar sm dara…. next chap thor penasaran sm pesta kembang apinya versi daragon hehehe fighting juseooo author

  4. Nahh kan joongki playboy tpi udh trtarik beneran sama dara. Msih bngung sma krakter jiyong. Dia udh suka sma dara apa kagak sih? Kagak peka bgt dah jdi mnusia. Cmburu iyaa tpi cuek jugaa aishh molla. Lnjutttt

  5. Sama nyebelinnya jiyong di versi film (kento yamazaki) dan di versi ff. Gk peka gitu jadi cowok padahal dara udah suka dia dari lama. Tapi yg aku suka di film endingnya keren. Semoga ending disini juga nggak kalah keren. Fighting, unnie!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s