[Series] My Lost Memory – Chapter 7

my-lost-memory

Author : Bernadette
Genre : Fantasy, Horror, Romance

~~~

Author’s pov

 

Perpustakaan

 

 

AKU ADA DISINI.

           DARA

 

Chanyeol terpaku pada tulisan itu. Matanya membelalak lebar dan mulutnya juga tak kalah lebarnya. Ia mencoba mencubit pipinya dan merasakan sakit.

Ini bukan mimpi, Chanyeol-ah. Aku ada disini, dihadapanmu

 

Suara noonanya terdengar lagi. Kali ini, Chanyeol berusaha memberanikan dirinya menatap kearah depan. Ia tak melihat siapa-siapa. Hanya ada belasan kursi dan meja kosong dihadapannya.

“Tidak. Ini hanya halusinasi” Chanyeol menepuk pipinya keras dan mengambil tasnya. Ia berjalan cepat kearah pintu namun dihentikan oleh angin dingin yang berusaha menggapainya.

“Menjauh dariku” bentak Chanyeol ketakutan. Dengan tergesa-gesa, Chanyeol mematikan lampu, membuka pintu, dan mengunci pintu karena panik sekaligus ketakutan. Ia tidak ingin mendapat resiko diganggu oleh makhluk yang ditakutinya. Sementara itu, Dara menatap nanar punggung dongsaengnya itu.

“Cara ini tidak berguna” desah Dara.

“Bagaimana aku bisa membuatnya tidak takut padaku?”

“Aku harus memikirkan cara lain”

Dara berpikir sejenak lalu mengulas senyum dan menghilang.

Cafe

 

“Jadi..”

“Selama ini kau menyembunyikan itu semua pada kami?” Geram seunghyun.

Seungri sudah memberitahu semua yang ia ketahui. Termasuk kejahatan taeyeon yang ia tutupi, rencana taeyeon untuk mengincar nyawa Jiyong, dan pertemuan singkatnya dengan Chanyeol tadi siang. Perasaan kecewa tak bisa dihindari. Mereka kecewa pada seungri karena tidak menceritakannya dari dulu. Mereka mengira kecelakaan jiyong dan dara merupakan hal ketidak-sengajaan, tetapi dalang dari itu semua merupakan saudara sepupu sahabatnya sendiri.

“Ne” desahan pasrah keluar dari mulut Seungri. Seungri menunduk merasa bersalah pada hyung-nya itu.

“Dan kau baru menceritakannya pada saat Taeyeon akan mengincar nyawa Jiyong?! Kau keterlaluan, seungri.” Bentak seunghyun yang dapat menyita perhatian beberapa pengunjung cafe.

“Hyung, tenanglah” sela Youngbae.

“Bagaimana aku bisa tenang?” Seunghyun menghembuskan nafas kasar, “Dia sudah merahasiakan rahasia buruk sepupunya itu”

“Aku hanya ingin melindungi Taeyeon”

“Kau melindunginya dan secara otomatis kau menutupi pembunuhannya, bodoh”

“Dan itu merupakan dosa besar” lanjut seunghyun menyeringai.

“Tolong, hentikan perdebatan kalian” lerai Daesung.

“Kita harus memikirkan cara untuk menghentikan Taeyeon bagaimanapun juga. Jika kalian menghabiskan waktu yang tersisa dengan bertengkar maka, Jiyong bisa saja terbunuh saat ini” lanjut Daesung.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya seungri lemah.

“Apakah kau mengetahui rencana taeyeon kedepannya?”

“Ani.”

“Aku hanya memperingatinya dan meninggalkannya di gudang” lanjutnya.

“Ini akan menjadi rumit” desah seunghyun.

Keadaan hening menyelimuti mereka. Semuanya sedang berpikir dengan pikirannya masing-masing.

“Aku punya ide”

Pandangan semuanya terpusat pada youngbae. Youngbae hanya menyengir dan membagi ide cemerlangnya itu. Setelah mendengar usul youngbae, semua memandang takjub kearah youngbae.

“Sejak kapan youngbae menjadi pintar seperti ini?”

“Hyung jangan menyindirku” dengus youngbae.

“Sebentar..”

“Seungri, Kau bilang kau bertemu dengan Chanyeol tadi siang bukan?” lanjut daesung.

“Ne. Waeyo?”

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada yang spesial. Chanyeol bilang kalau ia sudah menemui jiyong tetapi jiyong tidak mengenalnya dan aku mengatakan padanya bahwa jiyong amnesia.”

Daesung memandang curiga.

“Apalagi yang kalian bicarakan selain itu?”

Seungri mendecak kesal mengetahui hyungnya tidak akan percaya padanya, “Ia langsung pergi tanpa mengucapkan apa-apa”

“Apa kau mengetahui kemana saja Chanyeol setahun ini?”

“Tidak tau sama sekali”

“Jika kau bertemu dengannya di kampus, maka ia juga mahasiswa dikampus yang sama dengan kita. Kita bisa bertemu dengannya kapan saja”

“Apa kau tau ia jurusan apa?” Seunghyun menimpali.

“Aniyo”

“Lalu apa saja yang kau tau tentang chanyeol?”

“Ia bertambah tinggi dan memakai kacamata”

Seunghyun menggeleng tak percaya, “Aku bisa gila.”

Jiyong’s pov

 

‘Jiyong pabbo, bagaimana kau bisa mencampur bumbunya dengan air terlebih dahulu? apakah kau tak pernah memasak ramyun?’

 

Aku tertawa jahil dan mendekatinya.

 

‘Jangan berusaha memelukku’

 

Ia membalik badannya.

 

deg.

 

Aku membuka mataku lebar. Mimpi itu terasa familiar. Bahkan ada aku didalam mimpi itu. Tidak hanya ada aku melainkan ada sosok yeoja yang ciri-cirinya sama dengan yeoja di kecelakaan itu. Kali ini aku menemukan ciri-ciri baru. Kulitnya putih bersih dan perawakannya yang kecil.

Aku berusaha melupakan mimpi itu dan memfokuskan penglihatanku. Oke. Aku masih dengan keadaan utuh diapartemenku. Rupanya aku ketiduran setelah mengerjakan tugas. God, dosen itu perlahan-lahan membunuhku. Aku berjalan kearah dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Kuteguk perlahan airnya untuk mengisi tenggorokanku yang kering ini.

‘Jiyong, jangan menutupi layar tvnya’

 

‘Ji, jangan telat makan. Jika kau telat makan, akan kupastikan kau harus makan setiap jam’

 

‘Arraseo. Aku tidak akan menemui ataupun berbicara dengan namja itu lagi’

 

‘Nado saranghae’

 

Aku memegang kepalaku yang berdenyut kencang dan meringis. Tanpa peringatan, kilasan-kilasan ingatan mencoba masuk kedalam otakku. Suara yeoja yang dimimpiku tadi juga terngiang dalam ingatan itu.

Setelah beberapa menit, aku sudah tidak merasakan sakit lagi dibagian kepalaku. Ternyata, semakin aku mencoba mengingatnya, semakin banyak rasa sakit yang menyerang kepalaku. Bagimana aku bisa mengingatnya dengan cepat? Aku mendesah lesu.

‘Ingatlah memori itu lagi. Kumohon. Untukku’

Permintaan dara kembali terngiang dipikiranku. Dara. Apa dia ada hubungannya dengan semua ini?

Dengungan dikepalaku terasa lagi. Aku harus berusaha lain kali. Aku berjalan kearah kamar dan memerhatikan sekeliling disaat aku merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikanku. Mengapa jendela kamarku terbuka? bukankah aku sudah menutupnya tadi? Aku menghentikan pikiran negatif yang mungkin terjadi dan segera menutup jendela karena angin sepoi-sepoi mulai masuk kedalam kamarku dan membuat tubuhku menggigil. Sudahlah, mungkin aku hanya lupa menutupnya.

 

Dara’s pov

Aku memandang kearah depan. Chanyeol masih saja berjalan cepat dan tanpa melihat dua kali, ia terlihat ketakutan. Aku sangat menyesal telah menakut-nakutinya di perpustakaan dan melupakan fakta bahwa dongsaengku itu sangat penakut. Jangan lupa bahwa penyebabnya menjadi penakut seperti itu karena aku sering menggodanya dengan bonekaku dulu. Boneka yang terlihat menangis darah. Aku heran. Apakah boneka itu sangat menyeramkan?

Aku kembali mengamati gerak-gerik chanyeol. Ia menyebrang dan memasuki apartemen yang terlihat elit. Aku memandangi apartemen itu dan baru menyadari bahwa Chanyeol.satu apartemen dengan jiyong. Chanyeol masih dengan jalan cepatnya dan menuju kearah lift. Keringat dingin mengucur deras didahinya. Aku sangat merasa bersalah dengannya.

“Mengapa lift ini begitu lambat, huh” umpat chanyeol kesal.

 Beruntung ia tidak bisa melihatku. Aku tak bisa membayangkan reaksinya jika ia bisa melihatku.

Pintu lift terbuka. Chanyeol berlari ke arah pintu apartemennya. 805. Tunggu sebentar. Bukankah apartemen jiyong bernomor 806? bagaimana bisa mereka bertetanggaan seperti ini? Aku terdiam dan melupakan chanyeol. Jiyong. Bagiamana keadaannya hari ini? apakah ia baik-baik saja? Kuharap dia tidak terluka sedikitpun. Ingin rasanya aku mengunjungi jiyong, tapi, sekarang aku harus mengurus masalahku dengan chanyeol terlebih dahulu.

Pintu besi ini sudah berhasil kutembus. Chanyeol sudah menyalakan lampu disemua ruangan. Kurasa, ia benar-benar ketakutan. Ia duduk meringkuk di sofa dan membiarkan tvnya menyala. Kudengar handphonenya bergetar. Chanyeol membenarkan letak duduknya dan menjawab telepon.

“Yeoboseyo, eomma. Ada apa menelpon lagi?”

“Chanyeol-ah”

 

“Ne, eomma”

“Dara..”

 

Chanyeol bangkit berdiri. “Ada apa dengan noona?”

“Dara sempat bereaksi saat dokter memeriksanya. Apa sebentar lagi, dara akan bangun?”

Ah untuk sebelumnya, aku sudah mendengar pembicaraan chanyeol dan eomma saat di perpustakaan. Aku sangat senang mengetahui bahwa aku masih hidup. Namun, jiwaku masih belum bisa kembali ke ragaku. Sebenarnya aku sempat bingung memikirkan cara untuk kembali keragaku itu.

“Jeongmalyo? itu kabar baik. Gomawo eomma sudah mau memberitahukan secepatnya padaku”

“Eum.. cheonmaneyo.”

“Kututup teleponnya”

“Eum.. geurae”

Chanyeol terduduk lagi di sofanya. Kini, ia terlihat begitu gembira. Aku hanya tersenyum geli melihatnya. Kurasa, ia begitu senang mendengar kabar itu. Aku memudarkan senyumanku dan teringat rencanaku lagi. Apa aku harus benar-benar menampakkan diriku didepan chanyeol?

Chanyeol’s pov

 

Aku sangat senang mendengar perkembangan noona dari eomma. Aku sungguh berharap dalam waktu dekat ini, dara noona akan sadar dari komanya.

Tolong jangan takut padaku

 

Suara itu kembali terdengar. Aku kembali merasakan hawa dingin yang mencekam sama seperti di perpustakaan kampus tadi. Aku menoleh kearah samping kanan dan kiri untuk mencoba mencari sosok ‘hantu’ itu. Tiba-tiba, layar tv sudah menghitam. Rupanya ‘sosok’ itu mematikan televisinya. Lalu tak lama kemudian, terlihat seorang yeoja memakai busana berwarna putih gading. Wajahnya mulai nampak. Dia noonaku! batinku berteriak.

“Annyeong” sapanya.

“Ba..ba…bagaimana bisa?” tanyaku tergagap.

Ia mengerucutkan bibirnya sebal.

“Yak! Bisakah kau bersikap biasa saja? Tak usah berlagak gagap seperti itu. Aku Dara, noonamu, okay?” serunya tegas.

“Tapi bagaimana bisa aku melihat noona?”

“Karena aku ingin menampakkan diriku didepanmu. Apakah kau tak ingin melihatku?”

“Tentu saja aku ingin. Aku merindukkanmu, noona” jawabku seraya berdiri dan mencoba memeluknya, namun, yang kupeluk hanya angin.

“Ingat, aku hanya jiwa. Tubuhku ada berada di New York dan New York itu jauh dari Seoul” senyumnya mereka setelah mengatakan itu.

“Noona, aku merindukanmu” Tetesan air mata tak dapat kucegah. Aku terlihat sangat cengeng saat ini. Tapi aku tak bisa menahan emosiku. Perasaan senang, lega, rindu berkecamuk didalam dadaku.

“Yak! jangan menangisiku!” bentaknya saat melihat air mataku.

“Arraseo arraseo” ucapku sambil menghapus air mataku dan tertawa.

“Yeol-ah”

“Ehm?”

“Bisakah aku meminta bantuanmu? Hanya kau yang dapat melakukannya.”

TBC

next>>>

 

Entah kenapa aku suka Chanyeol-Dara momentnya, wkwkwk. Mereka hanya adek-kakak aja kok nggak lebih. Mian momen daragonnya sedikit banget. Mudah-mudah chapter selanjutnya ada momen DaraGonnya deh. Hengsho ^^

Advertisements

22 thoughts on “[Series] My Lost Memory – Chapter 7

  1. Kayaknya ada irg yg msuk ke apartemen ji deh._.apa taeyon?jd pnsran apa yg mau di hilang dara ke chanyeolll
    gapapa kok thor suka juga liat chandara moment kkkk next chap di tggu^^

  2. Suka moment chandara disini, tumbenan baca mreka jadi kakak adek kekeke. Aigoo taeyeon kah itu? Jangan sakiti jiyong tae, lu cari cwok lain deh dibandng hrus jdi pembunuh gtu.. lanjuttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s