Remember When #3 : La Fin

remember when ff daragon

Remember When

.

.

“Cinta adalah apa yang pernah ku berikan padamu”

.

.

©2014
va panda presents



“Tidak ada alasan lain. Alasanku masih sama seperti sebelumnya.”

Angin membawa sosok Dara tenggelam beriringan dengan pekatnya malam. Tanpa bermaksud menarik perkataannya sedikitpun, Dara dengan bimbang pada dirinya enggan berbalik. Langkahnya terlihat matang, menyambut pada jalan setapak di bawah temaram lampu taman.

Dara tak bermaksud pergi ke suatu tempat setelah Ia memantapkan diri untuk kembali bertemu muka dengan pria yang masih terus menggerogoti otaknya tanpa henti. Setiap detik, menit bahkan jam, Dara terlalu puas memakan waktu untuk selingan sosok Kwon Jiyong.

“Menurutmu, Aku percaya?” sergah Jiyong dalam sebuah pertanyaan. Pria itu sengaja mempertambah volume suara.

Berdiri mematung dengan punggung saling beradu. Angin senyap menyapu punggung keduanya masing-masing. Dua manusia yang kalap akan pikirannya sendiri. Ego, telah memperbudak jiwa mereka sendiri. Tak ada satupun yang hendak melemahkan ego yang sudah terlanjur meluap.

Sang pria sikap keras kepala dan sang gadis dengan sikap pantang menyerah.

“Hidup layaknya neraka semasa hidup. Apa Kau pikir Aku menginginkannya?”

Gadis bernama Park Sandara itu berbalik. Mata bulatnya menjurus langsung pada punggung tegap yang sudah sangat lama ingin Ia dekap dalam rengkuhannya, tapi sekarang? Untuk menyentuhpun sudah dirasa mustahil.

“Aku tidak menginginkan Kau juga mencicipi apa yang telah lama Aku rasakan. Kau seorang Kwon yang terpandang, Aku tahu di mana seharusnya Aku meletakkan diri pada posisi yang pantas. Terima kasih sudah menjadi seorang teman selama tiga tahun ini tapi Aku sudah memikirkan lama sebelum Kau mengambil keputusan untuk dekat denganku. Kau aman di posisi saat ini dan Aku juga sama. Hanya saja, ini tidak sesuai dugaan. Kau tidak seharusnya menjadi sosok lain selain menjadi Kwon Jiyong yang Aku kenal.”

Jiyong tanpa bisa mengendalikan emosinya, Ia membiarkan airmatanya menganak sungai di permukaan pipi. Ia juga dirundung akan kebimbangan. Ia mengendalikan ego dengan membalikkan badan sampai matanya tertuju pada gadis di tengah pancaran pekatnya malam yang berdampingan.

“Dara-ah,” suaranya melemah. Jiyong membungkam mulut tatkala gadisnya tersenyum getir dengan airmata yang mengalir.

“Jiyong-ah, bisakah Kau seperti dulu lagi jika tanpa Aku di sampingmu?”

“Dara ….”

“Kali ini, bisakah Kau tak melanggar janji? Baik, jangan sebut ini dengan janji, bagaimana menyebutnya dengan … kesepakatan?”

Remember When

“Sebenarnya apa yang merasuki tubuhmu sekarang ini, huh?”

“Tidak ada. Bukankah ini juga yang Kau mau dariku? Kembali menjadi Jiyong yang hangat untuk orang sebeku Lee Chaerin?”

Chaerin tertegun. Ia kembali melihat kilatan dari manik mata coklat teduh milik Jiyong menatapnya dengan lembut, tapi mungkinkah ini Jiyong yang Ia harapkan? Jauh di dalam hati kecilnya menyuarakan bahwa apa yang Ia lihat memang benar sesuai yang Ia harapan namun belum seutuh dari harapan yang ada.

“Apa Dara yang membuatmu bersikap seperti ini?” tanyanya sembari mengarah pada sekuntum bunga lili segar yang dibawa oleh Jiyong bersama kimchi di tangan kanan Jiyong.

“Bagimana Kau bisa tahu? Apa Kau juga mengetahui mengenai kesepakatan Aku dan Dara?” timbal Jiyong yang langsung mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu sedangkan Chaerin hanya terdiam sejenak.

“Aku yang menyuruhnya untuk mencoba berbicara denganmu dan ternyata itu berhasil, tapi untuk soal yang lain itu di luar kehendakku. Adakah hal yang perlu Aku ketahui lagi selain itu selaku adik tirimu, Jiyong?”

“Tidak ada. Ini urusan orang dewasa dan Kau belum bisa dikategorikan sebagai orang dewasa jika belum berada diposisiku saat ini, Chae.”

“Tapi dari yang Kau katakan mengenai kesepakatan dengan Dara, bukankah terdengar seperti lelucon yang menjemukan. Kuharap kalian tidak lagi bersitegang dan bersikap kekanakan bahkan anak kecil lebih baik dibandingkan kalian yang terus berbohong satu sama lain.”

“Chaerin, ada baiknya Kau untuk diam mulai dari sekarang. Mulutmu itu terus mengeluarkan deretan perkataan juga pertanyaan secara bersamaan hanya dengan sekali Kau membuka mulut.”

“Jiyong?”

“Um ….”

“Aku rasa, ini memang Jiyong yang Aku kenal.”

Remember When

 

Gadis berambut ikal itu nampak tersenyum ke arah kamera. Tanpa menyuarakan perasaan yang terbendung di hatinya, senyum yang trepancar dari kedua bola mata bulat itu sudah memperjelas. Ia berdiri santai di bibir pantai yang sudah lama Ia rindukan. Menghirup udara segara yang memenuhi paru-paru mudanya.

“Ini yang namanya hidup!” Ia –Park Sandara berteriak di tengah gemuruh ombak yang saling menyapa.

“Kau sudah merasakan hidup, sayang?”

Dara mengelus lembut sepasang lengan yang memegang pundaknya. Ia sudah mengenal kehangatan yang sudah lama Ia kenal selama hampir dua tahun sebelum akhirnya menenangkan pikirannya.

“Ibu, terima kasih karena Kau hadir dalam hidupku yang telah sepi.”

“Tidak. Ibu yang seharusnya mengatakan demikian, Dara. Maafkan Ibu yang sudah meninggalkanmu dengan pria yang mungkin membuatmu seperti hidup di neraka tapi bagaimanapun, Ayahmu adalah pria terbaik sebenarnya.”

“Ibu … Aku merindukan ayah. Bukankah Aku sendiri yang beranggapan bahwa neraka adalah tempatku, dan selama itu juga, Aku selalu menyalahkan ayah.”

“Tidak sayang itu bukan salahmu. Ini adalah penyesalan yang kita terima. Nama baik ayahmu sudah ada, mereka tidak lagi mengenal ayahmu dengan sebutan pembunuh. Ayahmu … jelas pria terbaik dibalik sikap pemarahnya.”

“Ya, Aku tahu itu. Semoga ayah bahagia di atas sana.”

Senja menguning menjadi latar di mana Dara tersenyum lepas dengan sosok ibu yang akhirnya Ia temui di Filliphina. Kedua orang itu saling beradu pandang di tengah liuknya angin pantai yang mengelus lembut wajah mereka. Rasanya sekarang, sebuah senyuman merupakan sajian wajib yang harus ada di kehidupan Dara.

“Sayang, tidakkah Kau merindukannya?”

Pertanyaan ibunya menyadarkan Dara. Senja tak mampu mempertontonkan seburat rona merah di wajah Dara. Ia hanya merundukkan kepala dengan malu, menarik sudut bibirnya.

“Aku merindukannya tapi Aku yang melarangnya untuk mencintaiku. Jiyong mungkin telah bahagia dengan hidupnya sekarang, Ia sudah menjadi seperti semula –seperti seorang Kwon Jiyong, sebelum mengenal seorang Park Sandara.”

“Tapi bagaimana jika Jiyong masih menyimpan rasa cintanya dengan rapi. Bukankah kalian membuat suatu kesepakatan?”

“Itu … ya itu sebuah kesepakatan di mana masing-masing dari kita harus memperbaiki hidup masing-masing dan jika kita berjodoh, maka biarkan tangan Tuhan yang menjalankannya.”

“Kalau begitu, tidakkah Kau melakukan suatu tindakan dari sekarang?”

Remember When

 

Ia membaca koran pagi yang teronggok di meja kerjanya. Sembari menyesap aroma yauco coffee, seulas senyum jelas menjadi hangatan tambahan di pagi yang masih baru menunjukkan pukul delapan.

“Kali ini, apa alasan senyummu itu?”

“Menurutmu? Siapa lagi yang bisa membuatku tersenyum seperti ini di berita pagi?”

“Siapa lagi? Baik Tuan Kwon, Aku sudah tahu siapa pemilik nama yang sudah terngiang di dalam otakmu. Chukkae!”

“Kau memberiku selamat? Tapi ekspresimu?”

“Sial! Lantas ekspresi apa yang harus Aku berikan jika Kau bahkan enggan mencarikanku pendamping! Lihat Aku! Ini sungguh menyedihkan.”

“Chaerin-ah, bagaimana dengan Seungri?”

“Heol! Terima kasih dan Sampai jumpa di rapat sore ini!”

Chaerin membanting pintu dengan keras hingga membuat Jiyong terkekeh dengan sikap adiknya. Jika menyangkut dengan nama Seungri –seorang pria yang terang-terangan selalu membuntuti Chaerin, adiknya pasti akan frustasi dan menolak mentah-mentah sekalipun Seungri hanya pria satu-satunya yang tersisa di dunia!

“Dasar! Bagaimana jika nanti Kau menyesal Chae,” sungut Jiyong dengan melepas pandang ke arah keramaian jalanan kota dari balik kaca di ketinggian sepuluh meter itu.

“Kau sudah datang?”

Jiyong sudah menghafal desah napas yang mengelus lehernya bersama sepasang telapak tangan yang telah menyapa kedua matanya.

Masih dengan mata yang tertutupi, Jiyong mulai berbicara dengan berharap orang yang di maksud mengerti, “nama juga wajahmu selalu memenuhi berita pagi.”

“Lalu?”

“Tidakkah Kau kecewa dengan sebutan marga yang mereka terus tuliskan di sana?”

Sang gadis mulai gusar. Ia melepaskan telapak tangan yang membungkus kedua mata Jiyong dan tanpa mau prianya berbalik, Ia mengalungkan lengannya pada leher Jiyong dengan sedikit berjinjit.

“Memangnya kenapa? Aku tidak pernah sekalipun mau mengubah namaku. Ingat, itu pemberian ayah dan Aku tidak akan marah jika mereka tak mengubah namaku menjadi nama lain.”

“Tapi Aku sangat kecewa.”

“Alasannya?”

Jiyong berbalik. Menenggelamkan tatapannya ke arah gadis yang masih bertahan untuk memabukkan hatinya tanpa peduli berapa banyak waktu yang sudah dilewati. Ia mengelus punggung tangan gadisnya dan tak lama menciumnya dengan sayang sembari menghirup aroma manis vanilla yang membuatnya nyaman.

“Alasannya … karena Aku sangat menginginkan Kau menjadi Kwon Sandara, seorang artis Filiphina yang sudah dimiliki oleh seorang Presiden Direktur bernama Kwon Jiyong.”

Tanpa membuang waktu, Jiyong menaruh cincin yang sudah Ia persiapkan.

“Will you marry me, Park Sandara?”

 

 

-La Fin-

un | deux | trois

 



 

Hallo!! Duh, ini cerita lama gak disentuh dan tadi sore baru nyoba baca ulang dan nyoba nulis lanjutannya.
Aneh? Duh maapkeun kalo gitu XD
Jadi sebenernya sih pengen buat twoshoot tapi pas udah selesai nulis bagian kedua malah pikir kayaknya konflik harus panjang dan well ternyata gak sanggup. Mungkin gegara udah lama jadi ide cerita udah melayang entah kemana LOL
Eh? Tumben gak dipassword. Halah~ berhubung bentar lagi UAS jadi takutnya gak bisa nyempetin buat cek komentar masuk jadi gak dipassword. Tapi … kesadarannya untuk meninggalkan komentar XP

Tengkyu

Ketjuf bazah :*

LEAVEYOURCOMMENT

Advertisements

20 thoughts on “Remember When #3 : La Fin

  1. Udah slsaai?._.kirain msh bakal lanjut wkwk pntes agak bingung pas bca akhr2nya tiba2 udah will you marry me aja kkkkkk pdhal klo crtnya lbh pnjg bakal bgus kayanya*soktau kkkkk
    tp suka kok sama ini ff d tggu ffnya yg lain unnn^^

  2. Hai kak pindaa!! Baru sempet komen setelah aku baca bbrapa hari lalu/? Maapkan T T tp emng ff nya keren duhh..sempet gk nyangka udh end aja, kalo lebih panjang kayaknya seru muehehe tp segini aja udh daebakk!! Semangat ya kak’-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s