It has to be You [Oneshoot]

 It has to be You

Author: Victorytea | Main Casts: Sandara Park, G-Dragon, Kiko Mizuhara | Support Casts: 2NE1 members, Seulgi of Red Velvet, Kiko’s Boyfriend | Cameo: Taeyeon SNSD, Suzy Miss A, Min Kyung Davichi | Genre: Sad, Romance, Comedy | Rating: T | Length: Oneshoot (4735 words. Long shoot, maybe?)

 

Author Note:

Heyho! Akhirnya punya fanfict baru, hohoho. Maafin kalo ceritanya gaje trus alurnya kecepetan/maksa. Soalnya ini buatnya ngebut 1 hari doang :’’’>> *soalnya malem sebelumnya abis baca-baca fanfict di DGI, jadi dapet inspirasi, hoho. Kritik dan saran di terima, walau pedes kayak cabe-cabean /eh. Anyway, Happy reading! /tebar daun sop bareng Minzy/ /yang udah baca pasti ngerti/?

 

***

“Because the truth is,

It always has to be you.”

***

 

Do you love me?

Do you love me?

Do you love me like the way I love you babe?

Do you love me?

Do, do, do you love me?

Do you love me like the way I love you babe?

 

“UNNIEEEE!!!”Jerit Minzy. Suaranya terdengar jelas dari dapur.

            Aku segera berjalan cepat menuju dapur. Suara ringtone handphone-ku masih terdengar jelas, menjerit-jerit.

“Apa sih? Gak usah teriak-teriak,”Aku mengusap-usap telingaku.

Minzy mendengus kesal, lalu meraih handphone-ku dan memberikannya kepadaku,”Nih! Telfon dari Jiyong Oppa,”Ia melirik layar handphone-ku lagi,”Nah. Missed call,kan.”

“Ck,”gerutuku,”Makanya! Kalo minjem handphone orang itu, kalo udah selesai dibalikin!”

“Terserah deh,”Minzy mencuci sayur sawi yang ada di genggamannya lalu memasukkannya ke mangkuk.

Aku menyenderkan badanku ke kulkas, lalu menekan tombol call ke nomor Jiyong Oppa.

“Katanya mau ketemuan? Kok masih kusut ala kelinci gini?”Minzy melirik piyama putih-pink-ku dan sandal tidur kelinciku.

Dasar maknae menyebalkan.

“Ribut!”Gerutuku.

Yeobosaeyo?”

Suara Jiyong Oppa terdengar dari seberang.

“Ah, ne. yeobosaeyo. Wae geurae, Oppa?”Aku nyengir lebar.

“Tuhkan. Juteknya disini aja, giliran sama dia, ppffttt,”Minzy menggerutu sambil memotong wortelnya kuat-kuat.

Aku melotot kearah Minzy. Ia malah balas melotot. Sialan.

“Ketemuannya jadi kan?”

“Ahahahah… jadi, kok….”

“Udah dimana?”

“Hehehe,”Aku nyengir lebar.

“DIA BARU BANGUN TIDUR, OPPAAA!”Jerit Minzy sekuat yang ia bisa.

Aku kembali melotot. Minzy memeletkan lidahnya.

“Pasti molor lagi,”Kata Jiyong Oppa dengan nada menggoda.

“Apa sih,”Aku tertawa.

“Cepetan. Aku udah nyampe nih.”

“Hehehe, oke deh.”

See ya.”

Too!

            Aku menekan tombol end call dengan senyum lebar. Mendengar Minzy menggerutu lagi sambil mengaduk-aduk rebusan sawinya, aku kembali melotot.

“Rusuh banget sih!”

“Eonni sih, ngeselin! Dari tadi marah-marah mulu! Lagi PMS, ya?”

Aku melotot, lalu melengos meninggalkan dapur.

Yes, bebas,”Bisik Minzy kecil setelah melirik aku yang keluar dapur.

            Aku menutup resleting tasku lalu segera keluar kamar dan menguncinya. Chaerin sedang menonton channel FOX sambil mengunyah popcorn dan memeluk Rilakkuma kesayangannya. Sementara itu, Bom duduk disebelah Chaerin sambil mengecat kuku-kukunya.

Aku menenteng boots hitam St. Laurentku dan duduk di sebelah Bom untuk memakainya.

“Mau kemana?”Tanya Chaerin dengan mulut penuh popcorn.

“Ketemuan.”

“Dengan Jiyong?”Tanya Bom.

Aku mengangguk.

“Pergi dulu, ya,”Aku menepuk pundak Bom sedikit keras, lalu beranjak menuju pintu.

Chaerin mengangguk-angguk sambil meminum Green Tea frappe-nya.

“YAK!”Teriak Bom.

Wae?”

Bom melirik sadis kearahku,”Nail art-ku berantakan, kan!”

Aku cengir lebar,”Sorry. Buru-buru nih,”Aku segera berlari dan menutup pintu.

“DAAAARAAAAA!!!”Jerit Bom murka.

Aku tertawa geli, lalu segera berlari menuju lift.

Sebelum Bom mengejarku dengan pajamas, messy hair dan nail art yang masih basah dan berantakan.

            Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju YG’s Cafetaria.

“Dara-ssi.”

Aku menoleh ke arah belakang. Ternyata Hyejung Eonni, dengan Haru yang menggenggam tangan ibunya erat.

“Ah!”

Aku menunduk cepat,”Annyeong, Eonni!”Aku melirik Haru yang sedang mengemut lollypop berbentuk ikannya,”Annyeong Haru!”

Haru meringis, lalu kembali melanjutkan mengemut lolipopnya. Aku mencubit pipinya gemas.

“Ada kerjaan?”Tanya Hyejung Eonni.

“Hehehe, aniya. Mau ketemuan aja,”Aku meringis lebar,”Ah! Aku sudah terlambat. Duluan ya, Annyeong!

Aku menunduk lagi. Hyejung Eonni tersenyum, lalu aku segera berlari menuju kafetaria.

            Jiyong Oppa tersenyum kecil saat aku mendatangi mejanya dengan senyum lebar dan keringat bercucuran.

“Maaf,”Aku nyengir.

Jiyong Oppa tersenyum,”Duduklah.”

Aku segera duduk di hadapannya, lalu ia menyodorkan Ice Mocha Float-nya.

Aniya, biar aku pesan sendiri saja. Agasshi!”Panggilku.

“Masih mau menahan-nahan kering di tenggorokan? Nanti dehidrasi,”Ledek Jiyong.

Aku nyengir lagi,”Gak enak, ah.”

“Udaaahh, minum,”Jiyong makin memaksa.

Aku mengangguk, lalu menyedot mocha float-nya.

“Nah, tadi malu-malu. Jadinya ¼ gelas habis, kan,”Ledek Jiyong lagi.

Aku menggembungkan pipiku.

Jiyong tertawa.

Agasshi, mango float-nya satu, ya. Oh iya, mix macaroons juga ya,”Pesanku.

Kimchi satu,”Kata Jiyong.

Gadis pelayan kafetaria mengangguk lalu mencatat pesanan kami,”Mohon tunggu beberapa menit.”

“Kangen masakan korea?”Ledekku.

Jiyong tertawa.

“Makan masakan western lama-lama membosankan,”gerutu Jiyong.

Aku tertawa.

“Ekhem.”

Jiyong berdeham. Ini tandanya ia akan berbicara serius.

“Jadi….”Jiyong menghela nafas berat.

“Hm?”
“Sebelumnya, apakah kau mau membantuku?”Tanya Jiyong.

Of course, why not?”

“Kumohon dengarkan baik-baik,”Kata Jiyong.

Aku mengangguk.

“Belakangan ini, kabar bahwa aku dan Kiko memiliki hubungan spesial mulai beredar di kalangan netizen. Dua bulan lalu, kabar ini hanya beredar di dalam negeri. Namun, mulai pertengahan bulan kemarin, kabar ini sudah terdengar hingga luar negeri.”

Jadi, tentang ini.

Jiyong menghela nafas berat,”Aku tak mau mengumumkan hubungan kami berdua sekarang. Kondisinya belum memungkinkan. Kau lihat, artis yang baru saja mengumumkan bahwa mereka berkencan baru-baru ini? Lelakinya kehilangan penggemar, perempuannya dijelek-jelekkan sana-sini. Ini bukan waktu yang tepat.”

“Jadi?”

“Aku mohon. Maukah kau menjadi ‘penutup’ rumor hubungan kami? Please, Darong-ah.”

Jiyong menatapku dengan wajah memelasnya.

Aku menghela nafas.

Bagaimana bisa?

“Aku….”

Aku mengusap wajahku yang berkeringat, walau kafetaria ini full AC.

“Ini pesanannya,”Gadis yang mencatat pesanan kami menaruh pesanan di meja yang kami tempati.

“Kamsahamnida,”sahut kami berbarengan.

Gadis itu menunduk lalu berjalan meninggalkan meja kami.

Aku mengamati mangkuk macaroons-ku dengan tatapan kosong. Beberapa detik kemudian aku mengambil macaroons rasa green tea.

“Bagaimana?”Tanya Jiyong.

“Entahlah.”

“Ya sudah, aku akan minta tolong yang lain saja,”Jiyong mengaduk-aduk kimchi-nya.

Aku menghantamkan kepalaku keras ke meja kafe.

Yak! Mwoya?”Rutuk Jiyong.

“Aniya,”Aku menghela nafas, lalu menyedot mango float-ku beberapa teguk,”aku terima.”

Jiyong tersenyum, lalu ia berdiri dan berjalan kearahku.

“Berdiri,”Perintahnya.

Mwoya?”

“Berdiri.”

Aku menatapnya bingung, lalu menuruti perintahnya.

Jiyong menatapku ke dalam mataku, membuatku merasa risih beberapa saat.

“Gomawo, Daroong-ah,”Jiyong memelukku erat, dalam. Ia tak peduli di sekelilingnya orang banyak yang melihatnya bingung.

Ia tidak pernah memelukku seerat ini.

Sedalam ini.

Sehangat ini.

Berbeda dengan pelukan suportif yang terkadang ia lakukan saat kami first comeback show atau telah sukses shooting MV.

“A… a… aku…”

Tidak, Dara.

Dia bukan siapa-siapamu.

Dia hanya berterimakasih padamu.

Untuk menutupi hubungannya dengan orang lain.

Tidak, Dara.

Ia milik seseorang.

Dan itu bukan dirimu.

“Hm?”

Aku dapat menghirup aroma mint dari tubuhnya. Wangi yang selalu aku sukai.

Setelah beberapa detik, Jiyong melepaskan pelukannya.

I’ll be on your dorm soon.”

For what?”

a bunch of couple things,”Ia tertawa.

Aku-pun tertawa. Walau dalam hatiku sakit.

Ingat Dara, ini semua hanya kepura-puraan publik.

***

“BWAHAHAHAHA!”

            Bom yang berbaring di sebelahku tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling. Aku yang sedang mengunduh fanart diriku mengerutkan dahi.

Yak! Wae geurae?!”Rutukku.

“Lihat saja,”Bom menyodorkan iPhonenya yang berisi tweet para fans yang telah di screenshot-nya.

@ibgsndr1821: same bracelet again! Say yeah to couple cartier bracelet! pic.twitter.com/a121sa

 

@bxxmshakalaka: OMG Daragon daragon daragon u drive me crazy!!!

 

@anna21: @fromyg hey appa please let the world know that @krungy21 @IBGDRGN is REAL!

 

Aku melotot.

Oh. Naega paboya. Jiyong paboya. Pabo pabo paboooooooo!!!”Rutukku sambil mengetok-ngetok kepalaku sendiri.

Bom tertawa terbahak-bahak,”Your fanservice is too much! Oh my…”Bom masih tertawa geli sambil berguling-guling.

IT’S NOT ‘MINE’. IT’S JIYONG’S OKAY,”Rutukku kesal.

“UNNNIIIEEEESSSS!!!”

            Chaerin mendobrak pintu kamar Bom dengan kuat sambil menjerit. Matanya yang sipit sekarang hampir menghilang.

“Ha, mwoya?”

You won’t believe that, Cutie Unnie,”sama seperti Bom, Chaerin menyodorkan iPhonenya yang berisi komentar para fans di foto yang baru saja di upload-nya.

clthegzbqueen : our beautiful gzb queen is back!

 

foreverblackjack_: We miss you Chae!

 

appl.ers: HEY LEADAH PLEASE TELL US! IS SSANTOKKI AND G-DRAGON DATING?! THEY WEAR THE SAME BRACELET AGAIN!

 

joe21: @appl.ers yeah we’re still waiting, right? QUEEN PLEASE GIVE US MORE CLUE PLEASE

 

whysxserixus: everyone is spazzing. Anywy, hey queen. You’re gettin’ beautifuler day by day!

 

paradarksan18: @appl.ers @joe21 thanks god I’m not alone there. YEAH NEW CLUE JUSEYO

 

appl.ers: @joe21 @paradarksan18 YEAAHHH! @daraxxi and @xxxibgdrgn FTW!

 

paradarksan18: @appl.ers @joe21 trust me, they’re about make a plan for their wedding lol

 

“OMG PLEASE I CAN’T CHAE!”Bom tertawa dibalik pundak Chaerin yang bergetar karena geli.

Aku mengusap kepalaku.

THE LAST COMMENT IS FREAKIN’ CUTE YA KNOW HAHAHA,”tawa Chaerin meledak.

Aku diam dibalik bantal putih besar kamar Bom. Menunggu mereka selesai tertawa. Namun, mereka tak kunjung selesai.

“UNNIEEEEDEUUULLLLL!!!”

Kami bertiga menoleh kearah pintu kamar Bom.

            Minzy berdiri dengan mata sipitnya yang sayu, rambutnya yang acak-acakan, T-Shirt putih kusut dan hotpants hitam. Ditangannya terdapat teflon yang siap melayang kapan saja.

“I… itu… buat apa, Mingkki-ah?”Tanya Bom sambil menunjuk teflon.

“Ini?”

Kami mengangguk.

Minzy menyeringai,”Untuk memukul siapa saja yang berani mengganggu tidurku.”

Aku tertawa kecil, lalu menghampirinya dan merangkul pundaknya,”come on, Ming. They’re too annoying to be our friend.”

Minzy menjatuhkan teflonnya dan jalan terkantuk-kantuk di rangkulanku.

Mereka. Menyebalkan.

***

Tok tok tok

“Unnie?”

Aku menghela nafas.

“Unnie?”

Aku masih terdiam sambil memakai jaket merah Chrome Hearts-ku. Couple things again.

“Unnie? Apa kau di dalam?”

Chaerin masih disitu ternyata.

Aku menatap refleksi badanku di cermin full body milikku, lalu tersenyum kecil. Ya, kau cantik, Dara. Kau cantik.

“Unnie, are you okay?”suara Chaerin di balik pintu terdengar khawatir.

Kalimat yang diucapkan Chaerin barusan membuat air mata di pelupuk mataku menumpuk. Hatiku yang perih dan gelisah yang sedari tadi aku sembunyikan menghubungkan saklar menuju mataku. Mataku menggenang, membuat pandanganku kabur. Aku segera terduduk di sofa putih yang terdapat di kamarku.

Kreekk…

Akhirnya Chaerin membuka pintu kamarku yang sebenarnya tidak dikunci.

            Gadis bermata kucing itu berjalan mendekatiku. Ia sudah tampil rapi sepertiku, dengan hoodie putih dan hotpants hitam.

“Unnie, gwaenchanayo?”Tanyanya, lalu melihatku yang terduduk dengan bening-bening kristal yang sudah menetes.

Omona,”Chaerin terkejut.

Wae geurae?”tanyanya lembut.

Aku menggeleng, namun air mataku masih meleleh.

Malhaebwa, Unnie. Itu akan membuatmu lebih tenang,”Chaerin mengusap pundakku lembut, yang sukses membuatku menangis makin keras.

“A… a… aku…”

Chaerin menenggelamkan kepalaku di pundaknya.

“Kau tahu kan, Chae… ternyata membantu Jiyong tidak semudah yang aku bayangkan… mungkin semua fans diluar sana mengira kami benar-benar dating, namun… entahlah. Semakin aku membantunya, semakin aku menyadari bahwa dia bukanlah milikku. Seseorang telah merebut hatinya, dan itu bukan aku. Semakin aku berusaha menjauh dari kenyataan, semakin aku terlempar kedalamnya. Neomu appa, Chae…”jelasku dengan suara serak.

Hatiku ngilu.

Bayang-bayang Jiyong dan Kiko menghantuiku, membuat kepalaku pusing.

Mianhae, Unnie, Mianhae,”Chaerin making menenggelamkan kepalaku di pelukannya,”Maaf karena aku dan Bom Unnie waktu itu meledekmu berlebihan. Kami tidak tahu apa yang kau rasakan, sungguh maafkan kami…”

Aku hanya terdiam sambil menggigit bibirku agar tak ada lagi isakan yang terdengar.

“Kalau mau, aku akan menelfon Jiyong Oppa sekarang, memintanya untuk membatalkan janji kalian.”

Chaerin mengambil iPhone dari saku hoodie putihnya, namun tanganku mencegatnya.

Andwae.”

Wae, Unnie?”

Aku menggeleng,”Janji tetaplah janji, Chae.”

“Lalu? Kau tetap bersikeras menepati janjimu walau hatimu sakit? Sampai kapan? Sampai kapan, Unnie?! Sampai kapan kau lebih memilih mengorbankan dirimu untuk orang lain? Kapan kesempatanmu untuk bahagia?! Life still goes on! WAE, UNNIE?! WAE?! MALHAEBWA!

Chaerin berteriak dengan suara bergetar.

“Aku hanya ingin kau bahagia, Unnie, sungguh,”Chaerin menekan speed dial nomor 8, nomor favorit Jiyong.

Andwae, Chae. Nan gwaenchana,”Aku menahan tangannya sambil menatap ke matanya.

Chaerin menatapku dalam. Seakan-akan memastikan bahwa aku benar-benar tidak apa-apa. Aku tersenyum, walau sedikit terpaksa,”Percayalah.”

Chaerin kembali mengunci iPhone-nya, lalu memelukku erat,”Jika ada seseorang yang membuat hatimu perih, aku akan melindungimu. Yaksokhae.”

Aku tersenyum,”Ne.”

***

Hey, bangunlah.

Dara-ya…

Ppalli ireona!

Hey…

            Aku membuka mataku perlahan-lahan. Siapa yang berani mengganggu tidurku yang pulas ini?

Dara-ya…”Bisik seseorang tepat di telingaku.

“OMO!”

Aku segera duduk tegak sambil mengucek-ngucek mataku. Setelah beberapa saat.

Oh.

Jiyong berdiri di depanku dengan senyum simpul.

Lebih tipis dari biasanya.

Ah, aku sudah lama tak melihatnya secara langsung, apalagi hanya berdua. Tunggu, berapa hari? Ah, hampir dua bulan.

“Oh, annyeong,”Aku berdiri lalu membungkuk dan duduk.

Jiyong duduk di hadapanku lalu mengerutkan keningnya,”apa kau mabuk?”

“Hah? Mabuk? Siapa? Tidak,”Aku menggeleng keras.

Kenapa dia menyangkaku mabuk?
Jiyong tertawa pelan.

Setelah benar-benar sadar, aku memerhatikan Jiyong dari atas sampai bawah. Mulai dari rambutnya sampai sepatunya. Dari mata hingga bibirnya. Benar dugaanku. Ada yang salah dengannya.

“Apa yang terjadi padamu? Kau terlihat tidak… baik-baik saja,”ujarku.

Jiyong menghela nafasnya, lalu mengusap wajahnya, frustasi.

That’s why I call you tonight,”jawabnya.

in 1 AM? Apa kau habis dari club?”Tanyaku.

“Hanya meminum beberapa teguk wine,”jawabnya.

“’Hanya’? Berhentilah, Jiyong. Itu tidak bagus untuk kesehatanmu, lebih baik kau…”

“Ssshhh…”

Jiyong menempelkan telunjuknya di bibirku,”dengarkan aku baik-baik. Ini ceritaku dua bulan yang lalu.”

Aku membeku. Dan tidak ada yang lebih baik daripada diam dan mendengarkannya bercerita.

            Aku meraba kantong jas sebelah kananku. Sebuah kotak kecil tertidur pulas disitu. Baby, you gonna have the most beautiful night in your life, bisikku dalam hati.

Ting tong

            Lift terbuka. Aku segera berjalan cepat menuju kamar nomor 1028. Aku tersenyum ketika melihat pintunya. Dengan gerakan cepat, aku menekan password apartemennya.

Ting tong

Terbuka. Aku berdeham kecil, lalu melangkah masuk ke dalam.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

“Hahaha!”

“Itu lucu sekali bukan?”

“Ya! Oh my god, dia sangat menggemaskan!”

“Tapi kau lebih menggemaskan.”

Seorang lelaki mencubit gemas pipi gadisku. Apa.

Lalu setelah itu, ia, dan seorang lelaki yang aku akui memang tampan, tapi tentu saja lebih tampan aku, berbicara di tengah-tengah film yang sedang bermain di home theater milik Kiko. Mereka berbicara dengan bahasa Jepang yang begitu lancar. Seperti yang kau tahu, bahasa Jepangku sangat payah. Sangat sangat payah.

Namun mungkin kalimat mereka yang terakhir dapat aku mengerti.

Sangat mengerti.

“I love you, honey.”

“I love you more.”

“No. It’s me.”

“No!”

Lalu mereka tertawa lagi.

“Kiko-chan…”

Kiko menoleh kearahku. Matanya terbelalak. Mendapatiku dengan setelan jas rapi, sepatu yang mengilat dan rambut yang sudah kusisir berulang kali, demi dirinya.

“Jiyong Oppa…”

“So,”Aku tertawa kecil, padahal mataku sudah digenangi air mata,”this is what you called ‘true love’? Aw, I’m amazed.”

Kiko tak dapat berkata-kata. Apalagi,

Lelaki Jepang brengsek disebelahnya.

“I… I… am…”

“Enough, Kiko. Enough. I don’t need your explain right now.”

Kiko terdiam.

Aku mengeluarkan sesuatu dari kantong jas sebelah kananku. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Aku membukanya. Sebuah cincin berkilau indah terdapat disitu.

“Kau ingat? Hari itu, kau sendiri yang mengatakannya, bahwa kau sangat ingin aku datang melamarmu dengan cincin ini. Dan sekarang aku datang, sesuai keinginanmu, namun kau malah disitu bersama…”aku melirik lelaki itu,”dia yang entah siapa namanya.”

“Namanya…”

“AM I LOOK LIKE THAT I’M GOING TO CARE ABOUT HIS NAME?!”Tanyaku dengan penekanan yang kuat. Emosiku dalam level tertinggi kali ini.

“So, Kiko, let we end this relationship. Whatever, but, goodbye. Silahkan menikmati malam ini, just the two of you,”ucapku dengan suara bergetar. Aku menutup kotak cincin itu dan memasukkannya ke kantong jas.

Aku balik kanan meninggalkan apartemennya.

“Jiyong Oppa…”

Kiko menahan tangan kananku. Aku berhenti sejenak, menarik nafas lalu berbalik dengan tatapan sinis.

“am I know you?”Tanyaku dengan nada sinis. Padahal, hatiku runtuh. Tidak Kiko, tidak. Kau yang seperti ini membuatku semakin tidak bisa melepasmu, teriakku dalam hati.

Kiko diam, speechless. Matanya berkaca-kaca.

“You don’t need to cry. Anggap saja kita tidak pernah memiliki hubungan apa-apa.”

Aku memang sengaja tak melepaskan genggamannya.

Kiko tertunduk. Sementara si Jepang brengsek itu memerhatikan kami dengan seksama, sambil makan popcorn.

Apa kubilang.

Dia memang brengsek.

Setelah beberapa detik, Kiko melepaskan genggamannya.

“Do you know, I feel lucky to have you,”gumamnya.

“If you feel lucky, why you chose to be with him?”

Setelah menjawab gumamannya, aku melangkah dengan langkah yang lebar, berusaha meninggalkan apartemennya secepat mungkin.

Aku menggigit bibirku kencang hingga memerah. Namun nihil. Suara isakan masih terdengar melewati celah-celah bibirku, sekeras apapun aku mencoba untuk menahannya. Air mata tak kunjung berhenti mengalir dari mataku. Aku bukanlah seorang Naga yang kuat lagi. Aku seperti seorang Naga yang kehilangan kekuatannya. Berjalan linglung tak jelas arah.

Tidak Jiyong, tidak. Kau tidak boleh menangis. Kau bisa hidup dengan baik tanpanya yang sudah mengkhianatimu. Kau kuat Jiyong, masih banyak perempuan yang menginginkanmu!, teriakku dalam hati.

Namun tetap saja. Hingga sampai di hotel, air mataku tak dapat dibendung. Meleleh sesuka hati. Kerjasamanya dengan hatiku terlalu kuat, hingga otakku tak dapat mengontrolnya.

            Aku menatap Jiyong prihatin. Ia tertawa kecil, walaupun air matanya sedikit demi sedikit meleleh dari matanya. Mata itu, yang dapat menghipnotisku dalam hitungan detik.

“Seharusnya aku tidak menangis di hadapan perempuan. Dasar memalukan,”Jiyong merutuki dirinya sendiri.

Seharusnya aku senang jika ia putus dengan pacarnya.

Seharusnya aku bahagia, karena aku dapat terlepas dari ‘couple things issue’ a.k.a kebohongan publik yang sudah direncanakan.

Namun tidak.

Aku berjalan menghampirinya yang tengah menghapus air matanya dengan ujung kemeja putihnya.

“Berdiri.”

Mwo?”
“Berdiri.”

Jiyong mengerutkan dahinya, lalu ia menuruti perintahku,”Apa yang ingin kau lakukan?”

Aku tersenyum, lalu mengusap air mata yang masih bercucuran di matanya,”Uljimayo.”

Jiyong tersenyum.

Oh my. Senyumnya. Manis. Sekali.

“Ibuku pernah berkata, jika kau mengalami masalah yang berat, katakanlah dalam hatimu, inilah hidup. Ujian akan membuatmu semakin kuat. Apapun keputusanmu, hidup akan terus berjalan. Jadi, jangan menghindar dari semua ujian itu. Tantang, hadapi, lawan. Move on, move on, move on!”

Aku tersenyum riang sambil mengepalkan tanganku.

Jiyong tertawa, lalu ia mengacak-acak rambut hitamku,”ah. Kenapa aku baru menyadari bahwa kau manis sekali?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku, lalu berusaha menyembunyikan wajahku yang aku pastikan seperti tomat.

“Jadi, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku antar?”Tawar Jiyong.

“Mobilku?”

“Tenang. Aku akan suruh seorang YG Staff nanti untuk mengambilnya.”

“Tidak usah. Kalau begitu aku akan merepotkan dua orang sekaligus!”Seruku.

“Oh, come on. Kamu mau ngebantu aku buat move on, kan?”Tanya Jiyong.

Aku mengangguk.

So, here we go.”

“Lah, apa hubungannya dengan move on?”Protesku.

“Sudahlah. Kajja,”Jiyong menarik tanganku menuju parkiran.

***

“Eungh…”

            Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Uh, selimut ini begitu nyaman. Tebal, hangat dan beraroma sangat enak. I love it.

“Selamat pagi, Nona Park.”

“Hm…”

Sungguh, siapapun yang menegur tadi, aku lebih memilih selimut ini daripada dia.

“Masih mau tidur?”

“Ne…”

Are you sure?”bisik seseorang itu.

Aku merinding.

“Aish, nuguya?”Rutukku.

“Orang ganteng yang patah hati,”Jawabnya.

“MWO?!”

Aku segera terduduk dan bersandar pada headboard tempat tidur…

Oh no.

“Aku… kenapa aku ada disini?”Pekikku.

“Oh, tenanglah Nona Park,”Jiyong tersenyum. Ia dengan santainya duduk di pinggir tempat tidur di dekatku sambil menekan-nekan remote TV.

Aku melihat badanku dari atas sampai bawah dengan panik, lalu saat itu pula aku bernafas lega.

“Kenapa? Apa kau berpikir sesuatu yang buruk?”Jiyong menatapku dengan tatapan mencurigakan.

“MWO?! Tentu saja, pabo. Apalagi, aku ada disini dengan lelaki yadong sepertimu,”Aku menyipitkan mataku.

Dia menyebalkan.

Really?”Jiyong mengerling sambil menggigit bibirnya.

“ENOUGH, JI. ENOUGH.”

“Kenapa? Kau tidak tahan?”Ledeknya.

“BUKAN. ITU MENJIJIKKAN, KAU TAHU?!”Teriakku.

Dia tambah menyebalkan kalau membahas topik yang seperti ini.

Jiyong tertawa terbahak-bahak.

***

Move On Day: 1

“Jadi… mau kemana kita sekarang?”

            Aku mengunyah cookies dengan khidmat sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.

“Eoh? Ya. Hari ini, kau akan ikut aku ke toko buku,”aku menyeringai.

“Toko buku?”Jiyong mengerutkan dahinya,”Buat apa?”

“Lihat saja nanti.”

“Tapi…”

“Tapi apanya?”

“Bagaimana kita akan menyamar?”

“Tenang saja, itu toko buku yang tidak terlalu besar, itu juga milik temanku.”

Jiyong mengangguk.

“DARA UNNIE!”

            Seulgi memelukku erat sambil berputar-putar. Rambut hitam lurus tipisnya bergoyang kesana-kemari. Setelah melepas pelukannya, ia tersenyum riang.

“Ya ampun, kau tambah cantik saja Unnie. Dan penampilanmu bersama 2NE1… ya Tuhan! Goddess!”Serunya sambil memperbaiki letak kacamatanya.

“Dan ini… siapa?”Tanya Seulgi sambil menunjuk Jiyong yang mengenakan masker hitam,”pacarmu?”

“Aish, bukan. Dia temanku,”aku mengisyaratkan agar Jiyong membuka sedikit maskernya.

“Annyeong,”Jiyong menunduk, lalu membuka maskernya sebentar.

“WHAAAA…”Seulgi terpana,”Ji… deu… rae… gon…”

Jiyong tertawa kecil.

“SUATU KEHORMATAN BISA MENERIMA DUA IKON YG SEPERTI KALIAN! Ah, tak kusangka kalian masih memerhatikan masalah buku. Akan kuantarkan kalian ke ruangan VIP,”ujar Seulgi sambil menarik tanganku dan Jiyong.

Aku dan Jiyong bertukar pandang sambil tertawa geli.

“Jun Ji Hyun…”

            Aku membalik-balik majalah Nylon bulan ini sambil berguling-guling di karpet yang disediakan. Sementara itu, Jiyong duduk di sofa sambil membuka-buka majalah W Korea dengan kaki satu dinaikkan keatas. Disebelahnya ada setumpuk majalah W Korea dan High Cut. Bossy sekali.

“Dasar ya… yang dibaca malah W Korea,”gerutuku.

Jiyong tertawa kecil,”Oh, hei. Lihat!”

Aku melongok, melirik ke model yang ditunjuk Jiyong.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan geli.

“Kenapa? Dia sexy sekali, bukan?”Tanya Jiyong.

“Kumohon Ji, kumohon,”aku menghempaskan badanku ke karpet.

“Kenapa? Bukankah katamu aku bebas memilih yang mana yang aku suka?”

“Kau yakin?”

“Hm, sebentar,”Jiyong merebut Nylon Magazine yang aku pegang.

“Ah, dia cute sekali! Siapa dia? Aduh…”Jiyong berusaha mengingat-ingat.

“Bae Suzy. Miss A. yang mengatakan bahwa lagu Black bagus dan kau jawab dengan begitu angkuhnya.”

“Ah, iya! Hey! Angkuh? Aku hanya bersikap cool,”jawab Jiyong, mengelak.

“Jadi yang mana? Minkyung Davichi atau Suzy Miss A?”Tanyaku.

Jiyong berpikir.

“Suzy, deh.”

***

Move On Day: 2

“Mau kemana kita sekarang, tour guide?”Tanya Jiyong.

            Ia menghidupkan full album Rihanna di Lamborghini-nya. Aku tersenyum riang.

“Kali ini, kita akan melihat orang-orang behind the scene!”Seruku lantang.

Jiyong mengerutkan dahinya, tapi tidak ada yang lebih bagus daripada menurutiku.

“Siapa bilang orang di depan layar saja yang tampil oke? Banyak orang cantik yang memilih untuk bekerja di belakang layar,”jelasku seperti seorang tour guide.

            Jiyong hanya menyimak sembari berjalan menyusuri koridor. Seorang karyawan menunduk dan tersenyum. Aku balas tersenyum.

“Kau kenal mereka?”

“Tentu saja. Oh ya, nanti aku akan membiarkanmu mencari mana yang cocok untuk menjadi targetmu selanjutnya.”

“Kau mau kemana?”

Aku tersenyum, lalu kami berbelok ke sebuah ruangan dengan kertas tertempel di pintunya:

ROOM 12:

CLIO CF SHOOT

10.00 AM S.D 01.00 PM

 

“Annyeong!”Aku menunduk lalu mengeluarkan senyum cerahku.

“Kau datang tepat waktu, Sandara-ssi,”kata Produser.

            Aku tersenyum. Jiyong ikut menunduk bersamaku tadi. Sekarang, matanya berkeliaran, menjelajahi setiap sudut ruangan.

“Kenapa tidak bersama para YG Staff?”

Aku tersenyum,”Aku membawa temanku. Dia sedang tidak ada kerjaan, jadi aku mengajaknya kesini,”ujarku.

Jiyong menatapku dengan tatapan ‘pekerjaanku-menumpuk-pabo’.

Nuguya?”
Jiyong membuka maskernya.

“Ah! G-Dragon!”Pekik beberapa karyawan.

Aku tersenyum, lalu menoleh dengan tatapan ‘apa-yang-sudah-kubilang’.

            Selama 3 jam, aku sibuk dengan pemotretan dan syuting CF. Sementara itu Jiyong sibuk melihat-lihat prosedur pembuatan CF, berkenalan, dan mendekati beberapa wanita yang mungkin menurutnya… menarik.

Siapa bilang aku tidak cemburu?

Sebenarnya aku cemburu. Namun belakangan ini, aku kerap meyakinkan hatiku bahwa yang terbaik adalah melihat Jiyong bahagia. Dan jelas saja, orang yang bisa membuatnya bahagia itu bukan aku. Aku terlalu menyebalkan untuknya. Sekarang, mungkin saja aku senang menikmati hari-hari bersamanya. Namun, ini hanya sementara. Aku hanya membantunya move on dari kekasih lamanya.

            Sesekali Jiyong melihat kearahku, lalu tersenyum suportif. Pada saat aku sedang di make-up, Jiyong sempat memotretku. Aku hanya tertawa. Ya, dia memang sangat suportif. Jadi kau jangan ge-er dulu, Sandara Park.

“Bagaimana pencariannya?”

            Jiyong tersenyum. Aku melirik kearahnya,”ada yang sudah pas dihati?”

“Mungkin belum. Tapi kelihatannya lumayan.”

“Nugu?”

“Bang Minah, pengarah gaya.”

“Ah,”Gumamku. Ya, aku kenal dengan Minah. Gadis yang cantik dan periang.

“Joah,”Aku menulis nama kedua di list.

Bang Minah.

***

Move On Day: 3

“Kemarin itu kau sudah mengajakku survey melalui majalah. Lalu ke behind the scene pemotretan CF kosmetik. Lalu hari ini apa?”

            Aku menyesap vanilla latte-ku sambil tersenyum kecil.

“Sabarlah sedikit. Aku sedang berpikir.”

Jiyong mengangguk. Ia melanjutkan kegiatannya men-scroll explore Instagram-nya, seperti biasa.

“Ah, aku tahu,”Aku menjetikkan jari.

“Mwo?”
“Tidak usah repot-repot. Hey, bukankah gadis cantik pelayan coffee shop adalah hal yang manis?”

            Aku tersenyum simpul ketika melihat Jiyong—masih dengan maskernya—mengerlingkan matanya kearahku yang menyesap vanilla latte di ujung kafe. Ia sedang mendengarkan seorang pelayan kafe berceloteh tentang kopi favoritnya. Setelah itu, dia ikut mencoba membuat cookies bersama pelayan lainnya.

iPhone-ku berdering.

Chaerin.

Yeobosaeyo?”

Unnie, eodisseo?”

Coffee Shop, wae?”

“Sedang apa?”

“Melihat Jiyong membuat cookies.”

“Kau masih dengan program menjodohkannya?”

“Bukan menjodohkan, Chaerin cantik. Tapi membantunya move on.”

“Astaga, bodoh sekali.”

“Bodoh apanya?”

“Aku tak menyangka kau sebodoh ini, Unnie.”

“Bodoh apanya?”

“Tidak adakah cara lain untuk membantunya move on selain mencarikan pacar baru? Kau bukan Eomma-nya, okay.”

Molla.”

“Ibaratnya gini ya. Kamu punya anak kelinci, dan kamu sayang banget sama dia. Tapi ketika anak kelinci itu diambil orang kamu seneng. Itu namanya sinting!”

“Anak kelincinya siapa?”

“Anggap saja Jiyong!”

“Dia tidak mirip anak kelinci.”

“Jadi apa? Anak naga?”

“Dia tidak menyeramkan.”

“Jadi apaaa?”

“Aish, kepalaku pusing Chae.”
“Yeah, whatever Unnie. I wish the best for you. Good luck.”

“Yeah.”

“Jadi bagaimana? Manis bukan?”

            Jiyong tertawa geli. Ia mengarahkan kemudinya kearah kanan.

“Membuat cookies, astaga. Entah kapan aku terakhir bersua dengan dapur.”

Aku tertawa.

“Jadi, ada?”

“Apa?”

“Itu.”

“Ah. Ada seseorang yang lucu disana. Namanya Kim Taeyeon. Dia terobsesi dengan kopi. Ya Tuhan, mungkin saja kamus kopinya lebih luas dari Wikipedia.”

Aku tertawa.

Di list ketiga:

Kim Taeyeon.

***

Move On Day: 8

 

“Hai!”

            Jiyong tersenyum simpul. Ia menggulung lengan kemejanya hingga lengan.

“Bagaimana? Kangen program Move On?”Tanyaku.

“Biasa saja,”Jawabnya.

“Sok cool,”Aku menyikutnya.

Jiyong tertawa.

“Jadi, hari ini kita akan kemana?”

“Destinasi terdekat. Kau takkan merasa asing, Ji.”

“WELCOME, JIYONG OPPA!”

            Tiga malaikat absurd menyambut kami berdua dengan cara mereka yang benar-benar aneh. Mungkin inilah penyakit yang disebut ‘Jiyong-addict’.

Chaerin yang sedang memutar lagu ballad menggantinya menjadi lagu Fantastic Baby, Bom yang sedang menggunting kuku segera mengambil trompet tahun barunya dan meniupnya kuat-kuat. Sementara Minzy, ia yang sedang memasak rela menaburkan daun sopnya menjadi pengganti confetti.

            Jiyong membuka maskernya dan membersihkan badannya dari daun sop. Aku tertawa kecil.

You rock, guys,”Kataku.
“NA NA NA NA NA, NA NA NA NA NA, WOW, FANTASTIC BABY DANCE!”

Chaerin bergoyang di dekat speaker jumbonya, Bom meniup keras trompet dengan nada yang sama mengiringi lagu Fantastic Baby. Minzy rela menunda agenda masak-memasaknya demi berjoget bersama. Aku dan Jiyong bertukar pandang.

“Apa mereka salah minum obat?”Tanya Jiyong.

“Entahlah,”aku menaikkan bahu.

            Seharian kami habiskan bersama di Dorm 2NE1. Mulai dari karaokae-an, bertukar-tukar baju, memasak, makan-makan, perang bantal, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Kali ini aku mempersilahkan kalian mengenal member ke-5 2NE1, G-Dragon!

“Aduh, tapi aku benar-benar terpaksa. Jeongmal Mianhae.”

            Bom menyengir lebar sambil memakai tas hitam Chanelnya. Ia adalah orang terakhir yang tega meninggalkan aku dan Jiyong berdua di dorm, dengan alasan acara shopping dengan Nana tak bisa diganggu gugat.

BAM!

Ia mendobrak pintu dorm.

            Jiyong menonton tayangan M! Countdown yang menampilkan comeback para hoobae kami.
“Ah, semua terlihat begitu cemerlang saat debut,”gumamnya.
“Kangen masa-masa 2006?”Tanyaku.
“Yeah. That moment was sucks, but I miss that,”tawanya.
Aku ikut tertawa.
Beberapa saat, kami berdua hening. Aku kembali stalking SNS, sementara itu Jiyong menyeruput es jeruknya.
“Waktu terasa berjalan begitu saja,”gumam Jiyong.
“Hm?”
“Ya. Kau masih ingat saat kita berjanji, bukan? Lalu rumor, lalu berhasil, lalu ada yang berkhianat, lalu program move on, jadwal, jadwal, jadwal, dan kita sampai pada hari ini.”
Aku tertawa kecil.
“Jika ini sebuah fiksi, apa alurnya akan terasa begitu cepat?”Tanyaku.
“Mungkin saja. Tapi jika ini sebuah fiksi, maka genre-nya adalah romance.”
“Bukan sad angst?”Tanyaku.
Jiyong tertawa,”Campuran antara keduanya, mungkin.”
Aku tersenyum.
“Oh iya! Program Move On hari ini! Jadi, siapa yang akan kau pilih di 2NE1?”Tanyaku.
Aku segera mengambil kertas catatan dan pulpenku.
“Apa kau termasuk?”
“Tidak. Aku, kan, host-nya.”Ujarku beberapa detik kemudian.
Jiyong merebut kertas yang berisi list nama-nama wanita yang akan menjadi sasaran Jiyong untuk menjadi pacarnya. Ia mengamatinya beberapa detik, lalu…
sreeekk… sreekk… sreeekkk… sreeekkk… sreekkk..
Lelaki yang sebenarnya genius itu merobek list itu menjadi kepingan-kepingan kecil kertas, lalu dengan mudahnya membuangnya ke tong sampah.
Aku terperangah.
“Mwo?”Tanyanya.
“KENAPA KAU MEROBEKNYA?!”Pekikku.
“Buat apa itu semua?”Tanyanya enteng.
“Kita sudah 8 hari berkelana, mencari wanita yang pas untukmu, sekarang kau merobeknya dengan mudahnya….”ujarku geram.
“Buat apa itu semua?”
Sialan.
KENAPA DIA BEGITU MENYEBALKAN?!
“Kalau begini akhirnya, berarti kau telah tidak menghargai usahaku untuk membantumu! Kau menyia-nyiakan 8 hariku yang berharga, tau!”Teriakku kesal.
Aku beranjak dari sofa.
Jiyong menahan pergelangan tanganku, lalu ikut berdiri,”Hey, hey…”
Aku berusaha menarik tanganku, namun tenaga Jiyong lebih kuat.
“Berhenti! Begini yang namanya teman?!”Teriakku.
“Dengarkan aku dulu!”Seru Jiyong, ia lalu membalikkan badanku hingga menghadapnya.
Aku terdiam.
“Jika aku bertanya, jawab.”
Aku diam.
“Saat kau mengajakku mengikuti program Move On, apa aku mengatakan iya?”
Aku berpikir cukup lama.
Lalu menggeleng.
“Ketika kau menanyakan wanita mana yang aku suka, apa aku pernah bilang bahwa ada yang aku sukai? Cintai? Atau… tertarik?”
Aku menggeleng.
“Kau kira cuma waktumu yang terbuang sia-sia?”
Aku menggeleng lagi.
Lalu tercenung.
“Jadi…”
“Ya! Coba kau pikir ulang, untuk apa aku mengikutimu ketika sebenarnya aku tidak perlu program Move On itu? Untuk apa aku tetap menjemputmu bolak-balik selama 8 hari hanya untuk pertanyaan ‘jadi mana yang kau suka’? Untuk apa aku membatalkan beberapa acara dengan teman-temanku jika ujung-ujungnya waktuku hanya terbuang sia-sia?”
Aku terdiam.
Jiyong memegang bahuku, menatap mataku dalam. Namun, tatapannya mulai melembut.

“Kau tahu itu semua aku lakukan untuk apa?”

Aku menggeleng.

Jiyong tertawa kecil,”pabo.”

“Pada hari pertama, aku mengikutimu karena aku bosan. But you really have my attention. Dan pada hari-hari selanjutnya, aku tetap mengikuti programmu itu. Untuk apa? Agar aku bisa selalu ada disampingmu, pabo. Aku menunggu-nunggu, adakah session mencari wanita di Dorm 2NE1? Ternyata hari inilah waktunya. Awalnya aku merasa sangat exciting. Namun ketika kau mengatakan kau tidak masuk hitungan, aku berpikir. Jadi untuk apa ini semua? Karena sebenarnya semuanya sudah jelas, Dara-ya. All I want is you. Kau. Kau yang mau menolongku ketika hatiku sedang remuk. Kau yang memiliki hati yang sebening kaca. Kau yang periang. Kau yang ceria. Kau yang unik. Apakah kau sadar, bahwa semua karakter wanita yang kau tuliskan di kertas itu ada dalam dirimu?”

Aku menggeleng.

“Awalnya aku berpikir bahwa kau tak memiliki perasaan yang sama padaku, karena kau telah membantuku mencari pacar baru. Siapa yang tega seseorang yang disukainya pacaran dengan seseorang yang bukan dirinya? Ini membuatku berpikir berulang kali untuk menyatakan perasaanku. Namun dengan bantuan Chaerin, akhirnya aku tahu yang sebenarnya.

Jiyong tertawa lagi.

“Jadi semua sudah jelas. Jangan pernah lagi mencoba men-mak comblang-kan-ku. Karena semuanya semua sudah jelas. It has to be you, Ssantokki.”

            Aku terbengong. Tidak, Sandara Park. Kau terlalu banyak berhalusinasi. Oh, ini pasti mimpi. Kalaupun bukan, ini adalah fatamorgana.

“Seseorang, tolong bangunkan aku,”gumamku.

You’re awake, My Queen,”Jiyong tersenyum, lalu mencubit pelan hidungku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.

“Ah, how cute you’re,”Jiyong memelukku erat.

Erat sekali.

~~~END~~~

Tinggalkan jejak seperti biasa ya…Hengsho.^^

Advertisements

42 thoughts on “It has to be You [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s