God Gave Me You (oneshoot)

ggmu

Author : Reni Bintang

Anyeonghaseyo readers-nim
Ada yang kangen gak sama Reni? Hehe
Balik lagi sama oneshoot terbaru ini. Oh iya ini sequel dari UNTITLED, masih inget gak ceritanya? Hehe kalau lupa baca lagi aja kalau masih inget silahkan lanjut baca aja. Hehe
Happy reading!!!! 😘😘

“Kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?” tiba-tiba Jiyong bertanya setelah hampir lima menit kami duduk disebuah bangku taman dengan keheningan. Aku yang tadi sedang menatap tanah sambil memainkan kedua kakiku langsung melirik kearahnya.

“kenapa tiba-tiba kau bertanya hal itu?” tanyaku dengan suara yang aneh. Aku habis menangis tadi jadi aku pikir suaraku seperti ini karena akibat dari tangisanku.

“aku hanya penasaran.” Katanya sambil tersenyum. “apa kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?” aku menggelengkan kepalaku.

“Aku lebih percaya pada cinta yang timbul karena sering bertemu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku darinya kemudian kembali menatap kebawah. “aku jatuh cinta kepada Donghae karena aku terbiasa bertemu dengannya.” Sambungku dengan sedih. Aku baru saja putus dari pacarku itu maksudku mantan pacarku sekitar satu hari yang lalu. Dan sekarang aku duduk disini dengan Jiyong karena aku butuh seseorang untuk menemaniku malam ini. aku tidak ingin sendirian saat sedang patah hati makanya aku menghubungi Jiyong dan dia seperti biasa akan datang saat aku memintanya. “kalau kau bagaimana?” tanyaku tanpa melihatnya.

“apa?”

“kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?” aku mendengarnya terkekeh.

“pernah.” Katanya kemudian.

“kapan? Pada siapa?” tanyaku lagi masih tanpa melihatnya.

“sudah agak lama.” Katanya dengan lembut. “aku jatuh cinta pada seorang gadis manis yang sangat cantik saat tersenyum tapi sekarang dia sudah tidak terlihat cantik lagi karena senyumnya sudah mulai hilang.” Sambungnya.

“apa aku mengenalnya?”

“mungkin.”

“siapa?”

“aku tidak ingin memberitahumu.” Aku mengangkat kepalaku lalu kembali memandangnya.

“aku saja selalu menceritakan semuanya kepadamu.” Kataku. “kau bahkan menjadi orang pertama yang aku hubungi saat aku putus dari Donghae.” Kataku lagi. “tapi kau tidak mau menceritakan tentang wanita itu?” tanyaku lagi dengan mengerucutkan bibirku dan dia langsung tertawa saat melihatnya. “dasar pelit.” Sambungku.

“Aigoo Dara kau sangat menggemaskan jika sudah merajuk seperti ini.”

“jangan tertawakan aku.” Kataku lagi dengan nada suara kesal.

“kau kesal?”

“iya aku kesal.” Kataku. “jadi cepat beritahu aku siapa wanita yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama? Apa dia wanita yang menyapamu saat kita pergi berdua?” tanyaku yang dia balas dengan gelengan.

“aku tidak akan memberitahumu.” Katanya tegas. “tapi tenang saja Dara karena kau akan menjadi orang pertama yang tahu saat aku mengatakan cintaku kepadanya. Tapi tidak sekarang.” Katanya lagi kembali membuatku mengerucutkan bibir karena kecewa Jiyong tidak ingin terbuka kepadaku.

“jadi kau belum mengatakan cintamu kepadanya?” tanyaku yang dia balas dengan gelengan sambil tersenyum pahit. “kenapa?”

“dia masih mencintai orang lain.”

“cinta segitiga?” tanyaku yang dia balas dengan gelengan.

“lebih tepatnya bertepuk sebelah tangan.” Katanya dengan sedih. Aku menepuk bahunya dua kali karena prihatin kepadanya.

“hatimu pasti sangat sakit karena harus menyembunyikan perasaanmu dari orang yang kau suka.”

“terkadang aku memang merasa sakit tapi terkadang juga dia bisa membuatku bahagia.” Katanya sambil melihat keatas langit. Aku memandang wajah Jiyong dari tempatku duduk dan entah kenapa aku merasa iri kepada wanita yang Jiyong suka.

“aku penasaran dengan gadis itu.” Aku bergumam. “dia sangat beruntung.” Kataku lagi.

“beruntung?” tanyanya sambil melihatku yang masih menatapnya. Aku mengangguk.

“dia beruntung karena dicintai oleh pria sepertimu. Kau sangat baik dan kau memiliki semua hal yang paling diinginkan oleh wanita.” Kataku lagi . Dia tersenyum kemudian menghapus bekas tangisanku tadi yang sudah mengering dari pipiku kemudian mengajakku untuk pulang karena ini sudah sangat malam.

aku sangat penasaran siapa wanita cantik yang berhasil menarik perhatian Jiyong dan aku yakin wanita itu akan sangat beruntung jika menjadi kekasih pria seperti Jiyong. Dia keren, tampan, baik, dan sangat perhatian. Jiyong adalah pria paling adorable yang pernah aku kenal, jika saja aku tidak jatuh cinta setengah mati kepada Donghae aku yakin aku pasti akan jatuh cinta kepada Jiyong apalagi dengan semua sikap dan perlakuan manisnya kepadaku. Dia sahabat pria pertamaku dan orang pertama yang paling aku percaya setelah keluargaku dan kedua sahabat wanitaku.

 ~~~

“Jiyong kau memang sahabat terbaikku.” Kataku sambil memeluk Jiyong dengan bahagia setelah dia datang kerumahku dengan membawa sepotong cake kesukaanku yang diatasnya telah diberi sebuah lilin. Aku senang karena Jiyong mengingat hari ulang tahunku padahal aku saja lupa saat dia ulang tahun.

“Buat permintaan lalu tiup lilinnya.” Ujar Jiyong setelah aku melepaskan pelukanku. aku menurut kemudian memejamkan mata untuk berdoa lalu segera meniup lilin setelahnya. “kau senang?” tanyanya sesaat setelah aku meniup lilin itu. Aku mengangguk dengan senyuman terus tersungging di bibirku.

“aku sangat senang. Gomawo.” Kataku sambil melingkarkan tanganku pada lengannya lalu membawanya masuk kedalam rumahku. Kami duduk di ruang tengah rumahku.

“ini makanlah.” Katanya setelah menyingkirkan lilin diatas cake yang dia bawa. Aku mengambilnya lalu menggigit pinggiran cake itu.

“kenapa kau Cuma bawa sepotong sih?” tanyaku sambil mengunyah. “harusnya kau bawa seloyang penuh.” Ujarku lagi. “aku pasti akan menghabiskan semuanya.”

“kau wanita tapi kau sangat rakus.” Ujar Jiyong sambil berdecak, aku hanya menjulurkan lidahku lalu kembali menggigit cake lagi. “bibirmu penuh dengan coklat Dara.” ujarnya sambil menunjuk wajahku.

“bersihkan.” Kataku sambil memajukan wajahku kearahnya. Dia menurut dan segera membersihkan bibirku dengan tangannya. “terimakasih.” Kataku setelah dia selesai melakukannya.

“Dara orangtuamu kemana?” tanyanya.

“sedang pergi. Kedua adikku sedang main dan aku sedang mendengarkan lagu sebelum kau datang.” Kataku menjelaskan sebelum dia bertanya lebih lanjut. “kadonya mana?” tanyaku kepadanya sambil mengulurkan tanganku yang bebas.

“yang kau makan itu adalah kado dariku.” Katanya sambil menunjuk cake yang tinggal sedikit ditanganku. Aku menggeleng.

“bagaimana bisa kue ini kau bilang kado?” kataku sambil mengerucutkan bibir. “berikan kadoku.” Kataku lagi.

“aku tidak membawa apa-apa lagi selain itu. Jadi kau anggap saja itu kadoku. Oke?” aku menggeleng lagi.

“sirheo.” Kataku sambil merajuk. “aku mau kado yang lain. ini kue ulang tahun bukan kado.”

“ya tuhan Dara kenapa kau sangat rewel sekali sih?” katanya sambil berdecak, aku melihatnya dengan wajah memelas. “arasseo. Apa yang kau inginkan?” tanyanya membuat mataku langsung berbinar dengan senang.

“kau akan memberikan apapun yang aku minta?”

“selama aku bisa memberikannya.” Jawabnya.

“baiklah kalau begitu aku ingin pergi ke Everland.”

Everland?” tanyanya lalu aku mengangguk. “kita bukan anak kecil jadi untuk apa kita kesana?” tanyanya lagi.

“memangnya hanya anak kecil yang boleh pergi ke taman bermain?” tanyaku. “kau tidak ingin pergi?” tanyaku lagi. “baiklah aku tidak akan memaksa. Aku anggap kau hanya pembual.” Kataku lagi sambil melipat tangan lalu membuang muka darinya.

“aigoo.” Katanya. “kau benar-benar seperti seorang gadis abege ketika sedang marah.” Sambungnya. “baiklah kita akan pergi nanti.” Aku langsung melihatnya lagi.

“serius?” tanyaku sambil tersenyum yang dia balas dengan anggukan. “terimakasih Ji.” kataku kemudian bersorak senanglalu kembali memeluknya.

“berhentilah memelukku saat kau sedang senang.” Katanya setelah aku melepaskan pelukanku pada tubuh Jiyong. aku menjulurkan lidahku tidak peduli. Aku menyandarkan kepalaku pada bahunya lalu aku merasakan tangannya menyentuh kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Aku sangat nyaman dengan apa yang dia lakukan ini. “Dara apa permohonanmu tadi?”

“rahasia.”

“ayolah kau tidak pernah merahasiakan apapun dariku.”

“baiklah karena aku baik hati jadi aku akan memberitahumu.” Kataku. “aku meminta untuk diberikan seseorang yang pantas aku cintai.”

“kau meminta itu?” tanyanya. Aku mengangguk.

“aku sudah ditipu oleh Donghae jadi aku tidak ingin lagi mengalami hal itu makanya aku berdoa supaya kelak Tuhan memberikan seseorang yang layak untuk aku cintai dan untuk aku perjuangkan.” Ujarku. “oh iya aku juga mendoakanmu tadi.” Kataku lagi.

“kau mendoakanku?” tanyanya lagi dan aku merasakan tangannya berhenti mengusap kepalaku. “kenapa?”

“karena kau sahabat terbaikku dan karena aku baik hati jadi aku mendoakan untuk kebahagianmu juga. lagipula kau sudah mengingat hari ulang tahunku jadi aku harus membalasnya dengan doa yang tulus.” Kataku sambil mengangkat kepalaku dari bahunya lalu melihatnya.

“apa yang kau minta untukku?”

“aku berdoa supaya wanita yang kau sukai itu bisa membalas perasaanmu. Aku berharap wanita itu bisa membahagiakanmu seperti kau selalu membahagiakan aku.” Kataku sambil tersenyum. aku melihat Jiyong ikut tersenyum setelah mendengarnya. Dia memegang kepalaku lalu meletakkannya di bahunya lagi dan kembali mengusap kepalaku dengan lembut.

“Tuhan tolong kabulkan permintaan wanita ini.” katanya ditengah-tengah usapan lembut tangannya pada kepalaku. Dan entah kenapa aku sekarang merasakan perasaan aneh di dalam hatiku.

~~~

Banyak hal didunia ini yang patut untuk kita syukuri dan salah satu hal yang paling aku sykuri saat ini adalah memiliki seorang sahabat seperti Jiyong. kenapa? Karena dia adalah orang yang akan selalu ada untuk orang yang dia pedulikan tidak peduli jika urusannya sendiri harus dia terlantarkan. Saat aku putus dengan Donghae dua bulan yang lalu bahkan Jiyong rela datang hampir tengah malam ke sebuah taman dekat rumahku saat aku memintanya datang padahal jarak rumahnya dengan rumahku itu sangat jauh. Selain itu juga Jiyong adalah orang yang sangat perhatian kepada orang terdekatnya, Jiyong selalu mengingatkan aku untuk makan tepat waktu dan setiap malam dia selalu menanyakan kejadian apa yang terjadi pada diriku saat siang hari. Jiyong benar-benar seorang sahabat yang sangat aku butuhkan dan aku bersyukur karena kehadiran Jiyong bisa membuatku sedikit melupakan pengkhianatan Donghae kepadaku walaupun tidak bisa aku pungkiri bahwa aku masih sering teringat Donghae tapi setidaknya dengan kehadiran Jiyong disampingku tidak lagi membuatku menangisi pria brengsek itu.

“Dara ada apa?” aku mendengar suara Bom. “kenapa kau dari tadi tertawa sambil melihat ponselmu.” Tanyanya lagi.

“aku sedang membaca pesan Jiyong.” kataku tanpa melihatnya. “dia mengirimkan kata-kata konyol.” Kataku lagi yang masih tertawa.

“Jiyong sahabatnya kekasih Chaerin?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan. “sepertinya kalian semakin dekat saja.”

“begitulah.” Kataku sambil melihatnya kemudian menyimpan ponselku. “aku dan dia memang sangat dekat sekarang.”

“kau menyukainya?” tanya Bom tiba-tiba sambil memicingkan matanya. Aku langsung tertawa setelah mendengarnya.

“Aku menyukainya tapi bukan menyukai seperti yang kau pikirkan.” Kataku setelah tawaku reda. “aku dan dia hanya berteman. Kami berdua menikmati ini jadi tidak mungkin aku menyukainya.” Kataku lagi.

“kau yakin?” tanya Bom lagi. aku mengangguk mantap. “apa Jiyong juga berpikir sepertimu? Apa dia juga hanya menganggapmu sebagai temannya?”

“tentu saja.”

“tapi jika aku dengar dari semua ceritamu aku merasa bahwa dia menyukaimu.” Kata Bom.

“dia menyukaiku?” tanyaku sambil menunjuk diri sendiri. Bom langsung menganggukan kepalanya. “dengar Bomie Jiyong itu sangat keren dan banyak wanita cantik yang menyukainya jadi untuk apa dia menyukaiku yang bukan siapa-siapa ini.” kataku kepada Bom. “lagipula Jiyong bilang dia sedang menyukai seseorang.”

“Hello Dara kau juga keren. Banyak pria yang mendekatimu. Jadi jangan merasa buruk dengan dirimu sendiri.”

“kalau aku keren aku pasti tidak akan dikhianati oleh Donghae.” Kataku dengan sedih.

“berhentilah memikirkan pria brengsek itu Dara.” kata Bom lagi.

“aku tidak memikirkannya.” Kataku sambil mengangkat bahu. “aku hanya teringat kepadanya. dasar brengsek.” Kataku dengan emosi. Aku masih kesal karena dia mengkhianatiku padahal aku sangat percaya dan mencintai dia.

“lalu siapa sekarang yang sering kau pikirkan?”

“tidak ada seorangpun.”

“kau yakin?” tanyanya lagi, aku mengangguk. “kau yakin sudah melupakan si Donghae brengsek itu?”

“belum sih.” Kataku. “tapi sekarang aku tidak lagi sedih jika teringat Donghae jadi mungkin sedikit sedikit aku bisa melupakannya.”

“kau cepat sekali move-on.” Katanya sambil berdecak. Aku tertawa.

“aku cepat move-on dari Donghae karena Jiyong selalu menemaniku setiap hari dan menghiburku jadi hampir tidak ada waktu bagiku untuk meratapi pengkhianat itu.” Kataku sambil tersenyum.

“lihatlah Dara wajahmu merona dan matamu berbinar saat kau berbicara tentang Jiyong.” kata Bom.

“masa sih?” tanyaku sambil memegang kedua pipiku. Bom mengangguk.

“aku yakin kau mulai menyukainya dan menganggap dia lebih dari sekedar sahabat pria.” Kata Bom.

“Aku dan dia hanya bersahabat.” Kataku dengan penekanan.

“itu menurutmu.” Kata Bom. “aku yakin Jiyong melihatmu sebagai wanita, bukan sebagai sahabat. Bisa dibuktikan dengan semua perhatian dan sikapnya kepadamu.” Kata Bom lagi. “tidak ada yang mau jauh-jauh datang hanya untuk menenangkanmu saat kau sedang menangis Dara kecuali jika dia menaruh hati kepadamu.”

“tidak mungkin Bomie.” Kataku. “Jiyong tidak mungkin menyukaiku. Dia memang selalu baik kepada semua orang.”

“darimana kau tahu?”

“aku melihatnya sangat dekat dan menyayangi sahabat-sahabatnya yang lain.”

“sahabat lelaki? Atau sahabat perempuan?” tanyanya.

“laki-laki.”

“kau pernah melihatnya memperlakukan wanita lain?” tanya Bom lagi. aku menggeleng. “kau tidak pernah melihat dia memperlakukan wanita lain jadi bagaiamana bisa kau menyimpulkan bahwa dia baik kepada semua wanita?”

“tidak Bomie.” Kataku lagi sambil menggeleng. Aku memang yakin Jiyong tidak menyukaiku karena dia bilang sudah menyukai gadis lain, gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. “aku yakin Jiyong hanya menganggapku sebagai sahabat yang harus dia lindungi.” Kataku dengan tegas.

“tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita, Dara.” Kata Bom lagi. “setidaknya salah satunya pasti menyimpan perasaan lebih dari itu.” Aku tahu jika Bom sudah bicara maka tidak ada seorangpun yang mampu menghentikan pikirannya. Jadi aku tidak lagi menjawab perkataan Bom karena aku tahu tidak ada gunanya berdebat dengan sahabatku yang sangat keras kepala ini. Tapi setelah mendengar apa yang Bom katakan aku jadi penasaran dengan apa yang Jiyong pikirkan tentang aku. Apakah dia melihatku sebagai seorang wanita atau dia melihatku hanya sebagai sahabat saja? Aku penasaran dan lain kali aku akan menanyakan hal ini kepada Jiyong.

~~~

“Unni Jiyong Oppa sedang menunggumu diluar.” Ujar Durami adikku saat dia masuk kedalam kamarku. Aku yang sedang membaca sebuah majalah langsung melihatnya.

“Jiyong datang?” tanyaku kepadanya yang dia balas dengan anggukan kepala. Aku heran karena biasanya Jiyong akan memberitahuku jika dia akan datang.

“kenapa?” tanyanya. “aku pikir Jiyong Oppa sengaja datang kesini karena kalian akan pergi berdua lagi.” katanya sambil menjatuhkan dirinya ditempat tidurku lalu membaringkan tubuhnya disampingku. “kalian akan berkencan lagi?”

“Aku dan dia tidak pernah berkencan.” kataku sambil berdiri.“dia hanya sahabatku.” Kataku lagi  kemudian pergi untuk menemui Jiyong. “Ji.” kataku setelah menemukannya duduk disofa diteras rumahku.

“Hai.” Katanya sambil tertsenyum riang.

“untuk apa kau kesini?” tanyaku lalu duduk disampingnya.

“menemuimu.”

“menemuiku?” tanyaku yang dia balas dengan anggukan kepala.

“aku ingin mengobrol denganmu.”

“hanya itu?” tanyaku dengan mata yang dipicingkan.

“aku juga ingin meminta bantuanmu untuk mengerjakan tugasku.”

“sudah kuduga. Kau pasti kesini untuk menyuruhku mengerjakan tugasmu.” Kataku sambil berdecak. “kau selalu mengekploitasi otakku. Kau tahu?” kataku lagi yang dia balas dengan tawanya yang pecah.

“ayolah Dara kita kan sahabat. Apa salahnya membantu sahabatmu ini?”

“baiklah-baiklah.” Kataku sambil tersenyum. “tugas apa kali ini?”

“manajemen strategi.” Dia tersenyum sambil menyerahkan sebuah buku tulis kepadaku.

“demi Tuhan Ji aku sangat heran kepadamu. Kau mahasiswa terbaik di fakultasmu tapi kau selalu menyuruhku untuk membantumu mengerjakan tugas.” Kataku setelah menerima buku yang dia serahkan. “aku jadi curiga kau selalu menggunakan joki saat ada test.” Kataku lagi yang dia balas dengan tawa renyah.

“aku juga heran kenapa kau selalu bisa membantuku mengerjakan semua tugasku padahal kau itu bodoh.” Katanya sambil merangkulkan tangannya pada bahuku.

“kau bilang aku bodoh?” tanyaku sambil melihat wajahnya.

“iya kau bodoh Dara. kau sangat bodoh.” Jawabnya sambil mengacak rambutku dengan tangannya. aku segera menjauhkan diriku darinya lalu langsung membereskan lagi rambutku yang sudah berantakan karena ulahnya.

“sialan.” Kataku sambil berdesis yang dia balas dengan tawa puas.

Setelah selesai dengan tugasnya, aku dan dia langsung mengobrol santai seperti yang biasa kami lakukan. Entah kenapa aku sangat suka berbagi cerita dengan Jiyong, aku nyaman saat berbicara dengannya dan aku juga sangat senang saat mendengar suara Jiyong. suaranya sangat khas dan sangat manis apalagi saat dia bernyanyi seperti sekarang sambil memainkan gitarku yang sudah dia anggap sebagai gitar miliknya juga.

God gave me you to show me what’s real

There’s more to life then just how i feel

Aku melipat tanganku dibawah dada sambil menggerakan badanku mengikuti alunan lagu yang sedang Jiyong nyanyikan sambil memetik gitar. Dia tersenyum kemudian mengangguk memberiku izin untuk melanjutkan bait selanjutnya. Aku tersenyum kemudian mengikuti keinginannya.

And all that i’m worth is right before my eyes

And all that i live for though i didn’t know why

Now I do, ‘cause god gave me you

Setelah menyelesaikan bait itu entah kenapa aku merasa hatiku seperti digelitik oleh beberapa perasaan yang bercampur aduk. Dan saat Jiyong menyelesaikan lagu itu aku merasa hatiku berdebar kencang apalagi saat dia menatapku sambil terus menyunggingkan senyuman hangatnya. Aku bahagia saat terus mendengar suaranya. Suara yang mampu menenangkan aku saat aku menangis karena dikhianati oleh Donghae.

Aku teringat dengan perkataan Bom saat itu dan aku yakin sekarang hatiku bisa berdebar seperti ini karena semua perkataan Bom kepadaku. Aku sangat penasaran jadi aku akan menanyakan apa yang membuatku penasaran untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya tidak lebih.

“Ji.” ujarku setelah sebelumnya meminum orange juice milikku. Dia melihatku setelah mendengar suaraku kemudian tersenyum.

“kau ingin bertanya-kan?” tanyanya sambil memicingkan matanya. “wajahmu sedang menunjukkan ekspresi aku sangat penasaran jadi tolong jawab aku.” Katanya membuatku memegang kedua pipiku.

“aku tidak punya ekspresi seperti itu.” Kataku sambil mengerucutkan bibir.

“kau punya.” Katanya sambil tertawa. Aku semakin mengerucutkan bibir karena kesal dia menggodaku. “jadi apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya lagi setelah dia meredakan tawanya.

“aku memang ingin bertanya sesuatu.” Kataku. “tapi aku bertanya hal ini karena aku sangat penasaran, jadi aku mohon jangan salah paham.” Dia menatapku dengan kedua alis yang ditautkan menandakan dia bingung.

“baiklah aku tidak akan salah paham.” Katanya. “jadi apa yang kau ingin tanyakan?”

“Ji apa mungkin kau…” kataku kemudian diam. Apa aku benar-benar harus menanyakan hal ini kepada Jiyong? aku bimbang sekarang. Aku menatap matanya dan dia kini sedang mengangkat sebelah matanya menunggu aku melanjutkan pertanyaanku. “apa mungkin kau menyukaiku?” kataku akhirnya. aku menggigit bibirku dengan gugup kemudian kembali menatap Jiyong yang kini sedang menatapku. Tatapan kami berdua terkunci saat sedang mengamati ekspresi masing-masing. aku sangat tidak pandai dalam hal menilai ekspresi jadi aku sama sekali tidak bisa membaca raut wajah yang Jiyong tunjukkan sekarang.

“aku menyukaimu.” Katanya setelah lama menatapku. Aku melebarkan mataku dengan jawaban yang dia berikan. “aku menyukaimu sebagai seorang wanita jika itu yang kau maksud.” Sambungnya.

“tapi bu-bukankah kau sedang me-menyukai seseorang?” tanyaku sambil tergagap.

“seseorang itu adalah kau Dara. aku jatuh cinta saat pertama kali melihatmu dengan Chaerin.” katanya lagi dan sekarang aku menjadi bodoh karena mendadak melupakan semua kosa kata yang aku tahu setelah mendengar bahwa Jiyong menyukaiku dan dia jatuh cinta kepadaku saat pertama kali bertemu denganku.

 ~~~

Aku sama sekali tidak bisa tidur tadi malam. tidak setelah aku mendengar semua yang Jiyong akui tadi malam. Dia bilang dia menyukaiku selama ini, dia bilang dia jatuh cinta kepadaku sejak pertama kali melihatku. Itu berarti dia sudah menyukaiku hampir satu tahun lamanya dan aku sama sekali tidak menyadari hal itu.

Aku selama ini selalu berpikir bahwa Jiyong bersikap baik kepadaku karena dia menganggapku sebagai sahabatnya dan aku selalu mengira bahwa Jiyong memperlakukan temannya yang lain juga sama seperti dia memperlakukanku tapi ternyata aku salah. Menurut pengakuannya dia hanya bersikap manis kepadaku dan dia bisa dibilang bersikap dingin kepada wanita lain. Semua sikap manisnya, semua perhatiannya dan semua yang dia lakukan untukku adalah karena dia menyukaiku. Dan sekarang aku sangat merasa bersalah karena pasti Jiyong terluka hatinya saat aku selalu menceritakan tentang Donghae kepadanya. aku selalu mengatakan aku sangat mencintai Donghae kepada Jiyong. aku telah menyakiti Jiyong tanpa aku sadari dan aku sangat bodoh karena tidak bisa melihat dia mencintaiku.

“Apa yang kau pikirkan Dara?” tanya Bom yang duduk disampingku. “dari tadi kau hanya melamun. Apa sesuatu telah terjadi?” sambungnya membuat Chaerin yang duduk dimeja depan langsung berbalik kepadaku dan Bom.

“kenapa?” tanya Chaerin.

“aku baik-baik saja.” Kataku. “kalian tenang saja.” Sambungku sambil melihat kedua sahabatku dengan senyuman seadanya.

“kau tidak baik-baik saja Dara.” kata Bom yang diamini oleh Charin. “apa Donghae menyakitimu lagi?” aku menggeleng pelan.

“ini bukan tentang Donghae.” Kataku sambil melihat kebawah dan memainkan kukuku.

“lalu tentang siapa?” tanya Chaerin.

“Jiyong.” gumamku.

“dia kenapa?” tanya Chaerin.

“dia bilang dia menyukaiku.” Kataku sambil mengangkat wajahku lalu melihat Chaerin dan Bom bergiliran. “tadi malam dia bilang dia menyukaiku sebagai wanita dan sebenarnya dia telah menyukaiku sejak lama.” Kataku.

“kau tahu Dara aku selalu benar.” Kata Bom sambil memegang bahuku.

“aku sebenarnya sudah tahu.” kata Chaerin. aku melihatnya untuk meminta penjelasan. “Seungri mengatakan kepadaku bahwa Jiyong sangat baik dan lembut padamu dan itu sama sekali bukan sikap Jiyong yang seperti biasa.” kata Chaerin. “dan Seungri sangat yakin bahwa Jiyong menyukaimu tapi aku dan dia selama ini hanya diam saja karena tidak ingin mencampuri urusan kalian.” Sambungnya.

“harusnya kau memberitahuku.” Kataku dengan sedih. “jika aku tahu aku yakin tidak akan sampai  membuatnya terluka.”

“kau melukainya karena apa?” tanya Bom.

“karena Donghae.” Kataku. “aku tahu dia sebelumnya pernah terlibat masalah dengan Donghae tapi aku tetap saja masih selalu mengagungkan Donghae kepada Jiyong. dia pasti sangat terluka apalagi karena dia menyukaiku.” Sambungku. “aku menyesal.”

“tidak Dara.” ujar Chaerin. “Jiyong pasti sudah memaafkanmu jadi kau jangan merasa menyesal.”

“iya Dara Jiyong pasti mengerti. Tapi jika kau merasa bersalah sebaiknya kau minta maaf saja kepada Jiyong.”

“aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya.” kataku jujur. “tadi malam bahkan tidak ada sepatah katapun yang aku keluarkan saat Jiyong mengakui perasaannya.”

“kenapa?” tanya Bom.

“aku bingung. Aku bingung dengan perasaanku.”

“kau menyukainya Dara.” ujar Bom lagi. aku melihat Chaerin mengangguk tanda setuju dengan apa yang Bom katakan. “kau menyukainya dan kau baru sadar sekarang.”

“tapi aku pikir aku masih mencintai Donghae.” Kataku. Chaerin dan Bom langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan setelah aku mengatakan itu.

“kau sudah tidak mencintainya Dara. kau sudah melupakan Donghae makanya kau tidak lagi memikirkannya. Jiyong sudah membuatmu melupakan Donghae. Kehadiran Jiyong sudah menggantikan rasa cintamu untuk Donghae.” Ujar Bom.

“aku masih ragu aku menyukainya.”

“Dara apalagi yang kau ragukan?” tanya Bom. “semua sikapmu sudah sangat jelas menunjukkan bahwa kau menyukainya. Kau selalu saja bersikap menjadi si kuat Dara saat sedang dengan Donghae tapi jika dengan Jiyong kau selalu bersikap manja dan kekanakan. Kau selalu menunjukkan dirimu yang sebenarnya dihadapan Jiyong. Kau nyaman dengan Jiyong Dara karena kau menyukainya.”

“aku setuju.” Ujar Chaerin. “bukti apa lagi yang kau butuhkan Dara?” Aku terdiam dengan berbagai pemikiran di kepalaku. Apa aku benar-benar sudah melupakan Donghae dan diam-diam mencintai Jiyong dihatiku? Saat aku mempertanyakan siapa yang aku cintai kepada hatiku aku mendengar suara dering menandakan ada pesan masuk kedalam ponselku. Aku melihatnya dan langsung mendesah dengan berat setelah melihat isi pesan tersebut.“ada apa lagi?” tanya Chaerin. aku menunjukkan pesan itu yang datang dari Jiyong. dia mengingatkan aku bahwa besok kami mempunyai janji untuk pergi ke Everland dan dia akan menjemputku besok dirumah.

“ottokeo?” tanyaku kepada mereka berdua. “pasti akan canggung nanti.” Kataku lagi. aku yakin pasti akan sangat canggung saat kami bertemu karena aku tidak bisa lagi bersikap seperti biasa setelah apa yang Jiyong katakan.

“jangan sampai canggung Dara.” kata Bom. “jadikan ini sebagai awal dari hubungan kalian yang baru. Aku yakin Jiyong pasti akan memintamu untuk menjadi kekasihnya nanti jadi kau pikirkan saja jawaban apa yang akan kau katakan kepada Jiyong nanti.” Kata Bom. “kalian tidak boleh canggung Cuma karena masalah ini.” sambungnya.

“iya.” Timbal Chaerin. “sayang sekali jika hubungan kalian berubah Cuma karena masalah ini dan aku setuju dengan apa yang Bomie katakan. pikirkanlah baik-baik sebelum menjawab Jiyong nanti. Apapun keputusanmu aku dan Bomie pasti akan mendukungmu.” Kata Chaerin yang dibalas anggukan oleh Bom. Aku mengangguk setelah mendengar saran mereka dan sekarang bebanku dari sejak tadi malam berkurang setelah mengatakan semuanya kepada kedua sahabat terbaikku itu.

Mereka benar aku harus memikirkan ini. aku harus yakin dengan perasaanku sendiri dan tanya pada hatiku tentang siapa orang yang ada dihatiku sekarang.

~~~

“Hai.” Sapaku setelah keluar dari dalam rumah. Jiyong yang tadinya membelakangiku langsung berbalik dan segera tersenyum.

“kau sudah siap?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan pelan. Aku berjalan kearahnya lalu merangkulkan tanganku pada lengannya. Tadinya aku ingin bersikap seperti biasa namun ternyata aku tidak bisa karena sekarang setelah merangkul tangannya seperti ini aku merasa begitu canggung padahal hal ini sudah biasa aku lakukan dengannya.

Aku dan dia berjalan dengan keheningan sampai masuk kedalam mobil miliknya. Dan setelah masuk seperti biasa dia akan menjadi orang yang melingkarkan sabuk pengaman ditubuhku. Aku nyaman sekaligus merasa aneh sekarang dengan semua perlakuan Jiyong.

“aku akan berkendara dengan aman Dara. tenang saja.” Katanya setelah melingkarkan sabuk pengaman ditubuhku. Aku tersenyum lalu mengangguk. Jiyong langsung menghidupkan mesin mobilnya setelah melingkarkan sabuk pengaman kepada tubuhnya sendiri.

Aku sudah memikirkannya tadi malam. aku memikirkan semua dengan baik-baik karena aku tidak ingin salah lagi dalam bertindak. Aku pikir apa yang Chaerin dan Bom katakan itu benar. Karena sejak Jiyong mengatakan dia jatuh cinta kepada seseorang tiba-tiba saja aku merasa sedikit tidak suka dan merasa iri pada wanita itu.Saat Jiyong ada disampingku aku selalu merasa bahagia. Aku membutuhkan Jiyong saat aku sedang tidak ingin sendiri. Dan aku pikir hal itu saja sudah cukup membuktikan bahwa aku menyukainya.

Aku merasa bodoh karena sama sekali tidak bisa menyadari perasaanku kepada Jiyong. Dan mungkin ini adalah jawaban dari doaku saat itu. Tuhan telah mengirimkan Jiyong untuk menjadi pria yang layak aku cintai. Orang yang aku cari selama ini ternyata tepat berada di sekitarku dan aku terbutakan hanya karena mengira hatiku masih memilih Donghae.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang kepada Jiyong dan kepada diriku sendiri. Haruskah aku mengatakan kepada Jiyong bahwa aku juga mencintainya? Haruskah aku meminta Jiyong untuk menjadikan aku miliknya? Tuhan kenapa aku jadi murahan setelah menyadari perasaanku kepadanya?

“Dara kita sudah sampai.” Aku mendengar suara Jiyong yang langsung menyadarkan aku dari lamunan. Dia sedang memegang bahuku dan mengguncangnya pelan. “kau melamun dari tadi.” kata Jiyong setelah aku menatapnya.

“kita sudah sampai?” tanyaku yang dia balas dengan anggukan.

“kau kenapa?” tanyanya sambil menatapku dengan lekat.

“aku tidak apa-apa.” Ujarku. “aku mungkin hanya lelah. Tugasku sangat banyak.”

“Dara apa mungkin karena malam itu kau jadi seperti ini?” tanyanya. Aku diam dan langsung menatap ke bawah. Akumemainkan kain t-shirtyang aku pakai karena gugup. “aku minta maaf jika pengakuanku membuatmu terkejut.” Ujarnya lagi. “tapi aku mohon Dara jangan bersikap canggung hari ini.” sambungnya. Aku melihatnya karena tidak mengerti dengan apa yang dia coba katakan. “hari ini adalah harimu Dara jadi berbahagialah. Aku akan memberikan kado yang kau minta hari ini jadi aku mohon jangan canggung dan cerialah seperti dirimu yang seperti biasa. Jangan buat hari ini tidak menyenangkan karena pengakuanku malam itu.” Katanya lagi. “kita akan menyelesaikan masalah itu nanti tapi untuk sekarang kita nikmati dulu hari ini. arasseo?” tanyanya. Aku mengangguk lalu tersenyum. seperti yang selalu diharapkan mendengarkan suara Jiyong selalu membuatku merasa lebih baik. Dia tersenyum setelah melihatku tersenyum lalu dia membantuku melepaskan sabuk pengamanku dan segera keluar dari mobil setelahnya.

Setelah keluar dari mobil kami langsung menuju loket untuk membeli tiket dan setelah mendapatkan tiket aku dan Jiyong langsung masuk ke taman bermain terbesar di Korea itu. Selama di everland aku benar-benar melupakan kejadian malam itu, seperti yang Jiyong katakan aku harus menikmati hari ini.

Setelah makan di salah satu restoran di sekitar European Adventure aku dan Jiyong lanngsung berniat menuju Zoo-Topia. Saat kami sedang berjalan menuju kesana sambil memakan ice cream tiba-tiba saja ada dua orang yang menyapa kami dan meminta tolong untuk mengambilkan photo mereka. Mereka sepertinya sepasang kekasih, aku tersenyum karena melihat kebahagian kedua orang itu.

“Dara tunggu sebentar.” Ujar Jiyong setelah menerima sebuah kamera polaroid milik pasangan itu. Aku mengangguk dan berdiri di samping Jiyong yang kini sedang mengambil gambar kedua orang itu. Sesuai intruksi Jiyong mengambil dua gambar. Setelah selesai dan berniat mengembalikan kamera itu tiba-tiba mereka mengatakan akan mengambil gambar kami sebagai tanda terimakasih. Jiyong langsung melihat kepadaku untuk meminta persetujuan yang langsung aku balas dengan anggukan.

Jiyong memegang telapak tanganku dengan lembut lalu membawaku ke tempat pasangan tersebut berpose sebelumnya. Setelah sampai ditempat itu Jiyong langsung melepaskan genggaman tangannya dan segera merangkul bahuku supaya lebih mendekat kepadanya.

“tersenyum Dara karena ini photo pertama kita.” ujar Jiyong sambil melihat kepadaku. “kami siap.” Ujar Jiyong kepada pasangan itu. Dan setelah menghitung sampai hitungan tiga aku langsung tersenyum sambil berpose mengangkat tanganku dan menunujukkan tanda peace dengan tanganku.

“bagus.” Ujar orang itu setelah berhasil mengambil gambar kami. “kalian cocok. Kalian terlihat baik saat berdampingan seperti ini.” Sambungnya sambil menunggu polaroid keluar dari kamera. Aku mendengar Jiyong terkekeh mendengar komentar orang itu. “ini.” orang itu menyerahkan polaroid kepada Jiyong. “terimakasih.” Sambungnya kemudian mengangguk kepadaku dan Jiyong lalu pasangan itu pergi dari hadapanku dan Jiyong.

“tidak buruk.” Kata Jiyong sambil mengamati hasil photo kami.

“aku ingin melihatnya.” kataku sambil mengambil polaroid itu dengan cepat dari tangan Jiyong. Aku melirik kepada Jiyong setelah melihat hasilnya.

“mwo?” tanyanya dengan senyuman usil. Aku menggeleng kemudian tersenyum.

“aku yang akan menyimpan ini.” kataku sambil mengambil dompet lalu menyimpan photo itu di dompetku.

“ayo kita lanjutkan menjelajahi tempat ini.” ujar Jiyong sambil kembali merangkul bahuku kemudian berjalan kearah tujuan kami tadi. Aku tersenyum dengan apa yang dia lakukan sekarang dan aku tidak bisa menahan senyumanku saat mengingat lagi photo tadi. Di photo itu Jiyong sedang menatap sambil tersenyum lembut kearahku yang sedang berpose. Dan aku bisa melihat ketulusan dari tatapan matanya kepadaku. Oh Tuhan, Apakah Jiyong benar-benar orang yang kau kirim untukku?

~~~

Sudah seharian ini aku dan Jiyong menjelajahi tempat ini. Hampir semua wahana kami naiki dan hampir semua tempat kami datangi. Aku menikmati hari ini, aku dan Jiyong benar-benar bersenang-senang disini. Aku sangat berterimakasih karena Jiyong memberikan kado ini kepadaku. aku sangat berterimakasih karena Jiyong ada di sampingku saat ini.

“Dara ini sudah hampir malam.” ujar Jiyong sambil melihat jam tangannya. “sebaiknya kita pulang, kau pasti lelah karena seharian berjalan-jalan disini.” Sambungnya sambil mengusap lembut rambutku.

“kita pulang setelah naik itu.” Kataku sambil menunjuk bianglala besar tidak jauh dari tempatku berdiri. “aku dengar kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah dari atas sana.”

“kau ingin naik itu?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan. “baiklah. Ayo!” ajaknya sambil menggenggam tanganku.

Aku dan Jiyong akhirnya bisa menaiki wahana yang ingin aku naiki setelah mengantri selama beberapa menit. Dan setelah masuk kedalam bianglala aku dan Jiyong mengambil tempat yang berhadapan. Setelah bianglalanya menyala dan terus naik keatas aku langsung melihat keluar jendela lalu melebarkan mata dengan keindahan yang aku lihat.

“Ji lihat ini.” kataku tanpa melihat Jiyong. “indah.” Ujarku lagi dan beberapa detik kemudian aku merasakan kehadiran Jiyong disampingku.

“kau menyukainya?” tanyanya. Aku melihat kepada Jiyong lalu mengangguk cepat sambil tersenyum.

“terimakasih.” Kataku. “aku menikmati hari ini.” sambungku sambil tersenyum.

“syukurlah kalau kau menyukainya.” Katanya sambil mengaitkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga.

“Jiyong.” Ujarku sambil menatap matanya. Dia menjatuhkan matanya tepat kedalam mataku.

“huh?” tanyanya sambil tersenyum.

“aku ingin meminta maaf.” Kataku sambil terus menatapnya.

“kau berbuat salah kepadaku?” tanyanya dengan raut wajah bingung.

“aku telah menyakitimu tanpa aku sadari.” kataku. “aku selalu saja membicarakan Donghae dihadapanmu. Aku tidak tahu kau menyukaiku, aku menyesal Jiyong karena kau pasti sangat terluka saat mendengarnya.”

“kau tidak perlu minta maaf Dara.” ujar Jiyong. “kau sama sekali tidak salah, aku yang salah karena terus memendamnya sendiri jadi itu sudah konsekuensi yang harus aku dapatkan karena mencintaimu diam-diam.”

“tapi Jiyong,-”

“aku baik-baik saja Dara.” kata Jiyong memotong ucapanku. “aku memang terkadang terluka tapi kau juga selalu membuatku bahagia. Dapat melihatmu saja sudah cukup untukku, melihatmu tersenyum dan tertawa itu adalah yang terpenting dari perasaanku.” Katanya sambil mengusap lembut kedua pipiku dengan tangannya.

“Jiyong..” kataku sambil terus menatap matanya yang juga sedang menatapku dengan lembut. Tatapan Jiyong benar-benar sangat menenangkan membuat jantungku terus berdebar. “Jiyong aku pikir aku menyukaimu juga.” kataku akhirnya. aku melihatnya melebarkan kedua matanya setelah mendengar apa yang aku katakan.

“Dara?” tanyanya dengan tatapan bingung. Aku menjatuhkan pandangan mataku pada bibirnya lalu segera mendekatkan wajahku pada wajahnya untuk memberikan kecupan beberapa kali pada bibirnya. Saat aku kembali menatapnya aku bisa melihat keterkejutan Jiyong, dia memejamkan matanya dengan cepat beberapa kali.

“apa kau baru saja menciumku?” tanyanya. Aku mengangguk malu kemudian aku melihat dia menyunggingkan sebuah smirk pada sudut bibirnya dan sejurus kemudian dia mendekatkan kepalanya kepadaku lalu menciumku. Kami berciuman dengan dalam dan lama, dan setelah beberapa saat Jiyong melepaskan bibirku dari ciuman kami lalu memberikan kecupan-kecupan kecil pada bibirku.

Setelah dia menarik kepalanya aku melihat senyumannya yang sangat menawan yang mampu membuat semua wanita tergila-gila. Ya Tuhan kenapa aku baru menyadari bahwa Jiyonglah yang selama ini aku cari?

“Dara?” ujarnya dengan lembut. Aku terus menatap mata coklatnya yang menunjukkan kebahagian. “aku mencintaimu dan aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu seperti yang dilakukan oleh pria brengsek itu kepadamu.” Katanya sambil membelai wajahku.

“aku tahu Jiyong. Aku tahu kau adalah jawaban dari doaku kepada Tuhan.” Aku sama sekali tidak pernah melepaskan tatapanku pada matanya. “aku yakin kau adalah orang yang layak untuk aku cintai dan aku sangat menyesal karena tidak menyadarinya dari dulu.”

“Dara aku juga yakin ini adalah jawaban dari Tuhan atas doa yang kau panjatkan untukku. Doamu dikabulkan karena wanita yang aku cintai akhirnya bisa membalas perasaanku.” Katanya sambil tersenyum, aku ikut tersenyum setelah mengingat doa yang aku panjatkan sebelum aku meniup lilin ulang tahunku. “terimakasih Dara karena kau telah bersedia untuk aku miliki.” Ujar Jiyong sambil menatapku dengan tulus kemudian memelukku dengan sangat erat.

“terimakasih Ji karena kau telah datang dikehidupanku.” Kataku ditengah pelukan kami. Dia melepaskan pelukannya ditubuhku lalu akan kembali menciumku saat tiba-tiba kami mendengar suara pintu dibuka.

“maaf harus mengganggu kalian tapi bianglalanya sudah berhenti.” Aku langsung melihat kearah sumber suara itu dan langsung tersenyum malu setelah melihat pegawai wahana ini sudah membuka pintu bianglala dan memberitahu bahwa kami harus keluar.

“ayo kita pulang Babe.” Ujar Jiyong dengan lembut sambil menggenggam telapak tanganku lalu membawaku keluar dari wahana itu.

Aku dan Jiyong berjalan sambil terus bergandengan sampai menuju parkiran. Kami berjalan dengan diam namun aku tahu baik aku dan Jiyong sama-sama bahagia dan kami berdua sama sekali tidak bisa menahan senyuman kami yang terus tersungging di bibir masing-masing. Tidak banyak kata yang terucap tapi yang paling penting sekarang aku adalah kekasihnya dan akan menjadi wanita beruntung yang akan selalu dibahagiakan oleh Jiyong. Aku yakin Jiyong tidak akan pernah menyakitiku maupun mengecewakan aku karena Jiyong adalah namja yang telah Tuhan berikan kepadaku dan aku yakin pilihan Tuhan tidak pernah salah.

THE END

<<<Back

Ottokeo? Aku harap kalian puas dengan endingnya. Arrggh aku kangen kalian. Ini aku nyuri nyuri waktu buat nulis lagi hehe.

Kalian udah pada baca Our Valentine             Pasta? Aku belum ih soalnya aku sedang tidak dirumah. Dan ini sudah gak sabar buat pulang biar bisa baca itu……

Jangan lupa tinggalkan jejak seperti biasa ya!!! Aku tunggu kritik dan sarannya. Love u readers-nim dan sampai jumpa di FF aku yang lain.

Advertisements

24 thoughts on “God Gave Me You (oneshoot)

  1. duh susahyaa kalo udah bahas friendszone… susah bedain mana sayang mana cinta. udah terlanjur nyaman sihh*eh maap curhat wkwk xD
    baperlahhh thor bacanya..
    goodlahhhh

  2. Aaaaa co cwiiiiiittttttt😍😍
    Beruntungnya jadi dara, abis putus ada yg nemenin, ngehibur, cowo ganteng lagi. Duhduhduh knp saya yg ngenes😂😂
    Seperti biasa ceritanya fresh dan anak muda banget hehehe ini jgn2 pengalaman authornya nahloh nahloh😁😁
    Ditunggu cerita2 kece lainnya. Semangaaaat!!💪💪

  3. omg omg omg kyaaa T,T
    mencintai dalam diam dan akhirnya terbalaskan huaa aku sukaaaa
    seperti biasa author reni aku adalah fans setia mu kalo masalah ff romance kyaa love it
    gomawo for posting ^^ ditunggu karya lainnya ne

    • Haha makasih udah suka. Tapi aku kecewa yg komen dikit 😭😭😭. Jelek kali ya? Duh baper jadinya. Tapi gpp deh yang penting masih punya fans . kamsahamida

  4. akhirnya cintanya jiyong nggak bertepuk sebelah tangan….daranya romantis jg ya ngasih jawaban cintanya jiyong di bianglala sambil liatin pemandangan kota seoul dari atas… dan stlh jadian malah bermesraan smp nggak sadar klu pintu bianglalanya dah dibuka hahahaha…..salut sm perjuangan cintanya jiyong tuk dapetin dara….padahalkan sakit banget klu mendem perasaan ke oranglain apalagi klu cuma dianggap shabat nggak bisa bayangin sakitnya kaya apa gitu tp jiyong bisa bertahan dan nggak sia” perjuangan cintanya ♡♡♡
    untuk kak reni fighting buat ff lainnya ya kak sm sequel dari ff two peoplenya kak ditunggu loh kak…..

  5. Omooo romantisss bgtt syukakkkk. Akhirnya dara bisa move on dan jatuh cinta sama ji. Dan ji juga cintanya udh terbalaskan waaaa syukakkk.

  6. duh jiyong sabar banget nungguin dara…
    sebenarnya dara dah lama suka tuh sama ji cuma masih terjebak di pemikiran bahwa dia cinta ma donghae…

  7. kyaaa akhirnya jiyong ga bertepuk sebelah tangan cinta nya *prok pro prok*
    kenapa gue seneng banget ya kalo ji manggil dara ‘babe’?? daragon feels><
    good job author-nim goodjob!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s