[Series] My Everlasting Winter – Part 12

image

Script writer by : ElsaJung

Tittle : My Everlasting Winter

Duration : Series/Chaptered

Rating : PG-13+ (Teen)

Genre : Slice of Life, AU, Drama, Angst, Fantasy

 

Bab 12

“Psycho Kidnapper”

Pagi ini, udara sangat segar. Semakin lama cuaca semakin membaik. Orang-orang bertanya-tanya apa gerangan yang membuat cuaca musim dingin tidak menentu. Hal itu membuat aktivitas mereka terganggu. Badai, hujan salju, cerah, semuanya bergantian dalam rentan waktu tidak jelas. Bisa saja pada suatu hari cuaca sangat cerah, lalu tiba-tiba badai salju melanda disertai petir dan angin besar yang mengamuk. Ah, itu kisah di hari-hari dulu. Sekarang, situasi lebih baik.

Dara-sang penentu cuaca selama musim dingin-tengah berada dalam kondisi baik. Meski ia tidak sedang senang maupun sedih. Dara duduk di tepi kolam ikan dekat taman belakang rumah. Ia sudah beberapa jam berada di sana tanpa bergerak merubah posisinya seinci pun. Kematian tak lagi menjadi hal yang menakutkan. Untuk apa ia takut, toh, ia sudah bertemu dengan malaikat mautnya. Dan, satu yang diketahuinya, malaikat maut itu tidak terlalu mengerikan. Dara tidak takut untuk mati, tapi ia takut meninggalkan semua orang dalam keadaan yang belum normal seratus persen.

Ketika sedang terlarut dalam lamunannya, Dara mendengar suara dari heels yang bersentuhan dengan lantai sehingga menimbulkan suara ketukan di setiap langkahnya. Suara itu semakin mendekat. Dara tahu, seseorang berjalan ke arahnya sekarang. Seorang gadis cantik bertubuh mungil lengkap menggunakan kamera yang selalu tergantung di lehernya-sangat menjelaskan bahwa ia seseorang yang aktif dalam fotografi karena berprofesi sebagai fotografer.

“Hye Ji?” panggil Taeyeon pada Dara yang tengah duduk termanggu di dekat kolam ikan.

“Hei,” Dara menyapa Taeyeon sembari tersenyum ramah. “Ada perlu apa?”

Taeyeon mengerlingkan matanya sejenak. “Tak ada. Aku hanya ingin duduk di sini bersamamu. Sudah cukup lama kita tidak berbincang-bincang, bukan? Kita sering berbagi cerita meski cerita yang kau sampaikan tidak mampu dicerna oleh orang dengan kapasitas otak rendah sepertiku.” Tambahnya ikut tertawa karena Dara memulainya. “Kuharap, kau tidak merasa canggung.”

“Tidak. Aku tidak merasa canggung, Taeyeon.” Dara tersenyum lemah.

“Aku selalu menginginkan seseorang sepertimu berada di hidupku. Itu akan sangat menyenangkan. Dapat menjadi pendengar yang baik, teman yang baik, sahabat yang baik dan saudara yang baik. Aku tidak mengerti kenapa saudara yang kau ceritakan pada Jiyong itu bisa mengambil segalanya darimu. Apakah ada orang yang lebih baik darimu?” Gadis itu tersenyum kecut menyadari betapa inginnya dia memiliki seseorang seperti Dara. Ya, alasannya ada pada apa yang baru dikatakannya tadi.

Air muka Dara tiba-tiba berubah. Ia tidak lupa akan cerita itu. Ia hanya sedang tidak ingin bicara masalah apa pun tentang Bom. Itu sangat menyakitinya. Semua orang membenci Bom.

“Entahlah. Aku bukanlah orang yang terlalu baik.” Ujar Dara ketika ia terbayang akan keegoisan-nya untuk hidup kembali sebagai seorang Hye Ji sehingga membuat hidup Bom semakin menderita. “Sebenarnya, aku hidup terlalu bahagia sampai ia hidup tanpa rasa senang. Aku pergi dari rumah dan lebih memilih untuk menjalani hidupku seorang diri. Dengan begitu, dia bisa bahagia sementara aku mencari kebahagiaan baru. Ternyata, kebahagiaanku yang sekarang tetap saja membuatnya menderita.”

“Jangan terlalu menyalahkan diri. Tuhan hanya belum menghendakinya bahagia.” Taeyeon dengan sabar menepuk-nepuk bahu Dara yang bergetar menandakan gadis itu tengah menahan tangis. “Kau percaya akan takdir baik dan buruk? Seperti apapun takdirnya, itu akan berada di tempatnya sesuai waktu yang ditentukan. Jika dia belum ditakdirkan untuk bahagia, mau mencari kebahagiaan sampai ke ujung dunia pun, dia tidak akan bisa bahagia. Tuhan itu adil, Hye Ji. Tuhan tidak mungkin tega membiarkan seseorang hidup penuh dengan kesengsaraan. Saudaramu pasti akan bahagia.”

Dara memandang lurus ke depan dengan raut wajah cemas. “Aku takut dia semakin menderita. Ini salahku karena muncul di hadapannya. Ini salahku karena datang disaat dia tengah berbahagia. Ini salahku karena ada di kehidupannya. Ini salahku karena aku hidup. Kenapa aku sangat bodoh?”

“Mau seribu kali kau mengatakannya, tidak akan berarti apapun.”

“Apa yang harus kulakukan? Hampir gila rasanya.”

***

Bom berdiri di dekat Jiyong yang duduk sembari membuka halaman per halaman sebuah majalah. Pemandangan yang sudah menjadi biasa. Maksudnya, bagi Bom, diabaikan oleh Jiyong adalah hal biasa untuk saat ini. Hari-hari dilaluinya dengan peristiwa yang sama, situasi yang sama-seperti tidak ada lagi adegan lain dalam cerita melodrama hidupnya. Bom diam, tak ada yang memperhatikan. Bom memulai pembicaraan, tak ada yang memperhatikan. Mungkin, Bom mati pun tidak ada yang sudi memperhatikan. Tak ada karena semua orang terlalu sibuk dengan lamunan mereka.

Terlalu banyak kesalahan dan kelakukan Bom yang tidak bisa diterima oleh akal sehat Jiyong. Kabar buruknya, hati kecil Jiyong sampai menolak menerima keadaan dengan lapang dada dan tabah. Menurutnya, tidak ada yang seperti itu. Jiyong yakin, jika ada orang lain hidup sebagai dirinya, pasti orang itu akan melakukan hal yang sama. Kenapa? Karena terlalu banyak peristiwa mengejutkan yang terjadi. Dan, bayangkan, bagaimana rasanya ketika kekasihmu berubah drastis menjadi psikopat yang hampir membunuh gadis yang kau sukai, menuduhnya macam-macam serta bertingkah aneh. Apakah kau masih menganggapnya kekasihmu? Tentu tidak, bukan?

“Sebegitu tidak berartinyakah Bom bagimu?” Bom memberanikan dirinya untuk bertanya.

Jiyong hanya menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu benar-benar tidak peduli.

“Aku kekasihmu, Jiyong. Tidak bisakah kau sedikit menghargaiku?”

“Dulu, aku menghargaimu. Sekarang, tak usah bertanya padaku, tanyakan pada dirimu sendiri.”

Sama sekali tidak bisa dipercaya. Rasa sakit apa lagi yang harus diterima Bom kali ini? Sepertinya, mau ia menjadi Park Bom asli atau Dara sekali, tidak akan ada yang berubah. Dulu, Jiyong masih sudi menyapanya ketika bertemu. Dulu. Dulu saat Dara masih hidup. Sekarang, jangankan menyapa, untuk melirik saja rasanya mata Jiyong seperti terbakar. Kalimat yang diucapkan Jiyong seakan menjadi hantaman tersendiri bagi Bom. Menjadi sebuah rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

 “Aku tidak bisa merasakan cintaku ada padamu. Terlalu sulit.” Jiyong mencoba mengutarakan isi hatinya. Bagaimana pun juga, ia tidak terlalu tega untuk mengabaikan Bom. “Aku berada di antara dua pilihan yang membingungkan. Di mana aku harus tetap bersamamu ketika hatiku menolak. Dan, di mana aku harus meninggalkanmu ketika pikiranku mengatakan aku bersalah. Aku memilih untuk mengabaikan dua pilihan tersebut, yaitu di mana aku harus dihadapkan dengan keadaan terburuk dalam hidupku-mencintai seseorang yang tidak kucintai dan memperlakukan orang yang kucintai dengan baik. Kenangan di masa lalu membuatku bersalah.”

“Ini bukan masalah kau mencintaiku atau tidak. Aku mengerti, situasi merumit sekarang. Tak ada orang yang memiliki kondisi baik saat ini. Cukup satu hal yang ingin kutahu sejak dulu, apa alasanmu begitu membenci Bom? Aku akan pergi setelah kau bersedia menjelaskannya.”

Menurut Jiyong, mengungkit orang yang sudah meninggal bukanlah hal yang pantas dilakukan.

“Aku tidak memiliki pertanyaan lain.” Tambah Bom.

Jiyong menghela nafas beratnya. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum bibirnya siap berkata-kata. “Aku tidak membencinya. Aku bukan tidak menyukainya. Aku hanya tidak menganggapnya.” Jiyong menggantung kalimatnya. “Bagiku, dia bukanlah apa-apa. Semua menganggapnya sampah masyarakat, kecuali aku dan kau tentunya. Aku marah saat dia melakukan hal buruk kepadamu. Kau tidak bersalah, tapi dia selalu berulah. Dia berkata dia mencintaiku. Dia memintaku untuk meninggal-kanmu. Lalu, bagaimana aku tidak keberatan? Jalan pikiranku dan Bom berbeda. Dia bukan seseorang yang ingin kujadikan sebagai pendampingku. Perasaanku sedikit lega ketika dialah yang pergi, bukan kau. Anehnya, kau berubah menjadi mirip dengannya.”

“Dia tidak begitu!!” Bom berteriak lantang membuat Jiyong tersentak, kemudian memasang raut wajah bertanya-tanya. “Aku mengerti jika orang-orang menganggapnya sampah. Tapi, tidakkah kalian mencoba berpikir bahwa kalian sendiri yang membuatnya dianggap sampah? Dia bukan gadis yang baik, namun dia mencoba untuk menjadi baik. Tapi, niat baiknya terhalang oleh kebenciannya. Tak akan ada yang mampu mengerti! Kalian tidak tahu apa-apa!” Nafas Bom tersengal-sengal. “Hanya satu, dia ingin bahagia.”

Tidak ada yang bisa dilakukan Jiyong ketika Bom berbalik, kemudian berlari jauh menuju pintu rumah. Ia hanya menatap kepergian Bom dengan belalakan matanya yang berubah seketika menyipit tampak mencurigai sesuatu. Memang ada yang tidak beres. Baru kali ini orang yang diketahuinya bernama Dara marah besar ketika tengah membicarakan saudara kembarnya. Dia yang bertanya dan dia juga yang marah-marah tidak jelas.

Dalam pemikiran orang yang berbeda, yaitu dari pihak Bom, ia bukannya tidak terima dengan pernyataan Jiyong. Bom menerimanya, tapi tidak secara keseluruhan. Terkadang, kejujuran memang tidak selalu baik. Kejujuran adalah hal yang menyakitkan. Dikatakan jelas di sana, kalau perasaan Jiyong sedikit lega ketika Bom yang meninggal. Ah, Bom berpikir kalau kematiannya benar-benar dikehendaki oleh banyak orang. Kenapa mereka tidak berpesta pora saat mendengar kabar bahwa Bom-lah yang meninggal? Kenapa, hah?

Tangis Bom tidak tertahankan lagi. Ia berlari keluar dari rumah. Entah sampai mana Bom berlari. Ia akan terus berlari dan berlari hingga kakinya lelah, tak sanggup berdiri. Ia berharap akan berhenti di tempat yang tepat untuknya. Sebuah tempat yang cocok untuk sampah sepertinya. Sebuah tempat yang cocok untuk orang buangan sepertinya. Sebuah tempat yang cocok untuk pembunuh sepertinya. Ya, sebuah tempat sampah lebih tepatnya. Tempat sampah untuk orang-orang terburuk di dunia ini.

Angan-angan Bom sudah berkelana jauh dari kesadarannya. Cara terbaik agar bisa terhindar dari segala jenis masalah yang dibuatnya adalah mati. Tapi, cara itu hanya dilakukan oleh para pecundang. Lagi pula, Bom telah berjanji akan menormalkan keadaan. Ia akan memperbaiki kesalahannya. Komitmen itu akan tetap bulat jika ia tidak mendengar pernyataan Jiyong.

Sungguh, Bom ingin bertemu dengan malaikat maut sekarang juga.

Sayangnya, ketika tengah sibuk berlari, langkah Bom terhenti seketika. Ia tidak bertemu dengan malaikat maut, melainkan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tak ada di kehidupannya. Tidak ada karena Bom menghilang-pergi ke luar negeri. Seorang laki-laki bertubuh tegap tinggi, dikaruniai wajah tampan dan sempurna bak model. Bom tidak pernah melupakan laki-laki itu sedikit pun karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bom menyukainya meski tidak sebesar rasa cintanya pada Jiyong-kekasih-Dara-itu.

Yoon Ah In.

Meskipun memakai masker yang menutupi separuh bagian wajahnya lengkap bersama kaca mata hitam, Bom mampu mengenali Ah In. Bom mengenali Ah In, baik sifat maupun fisiknya. Anehnya, rasanya seperti ada yang berbeda dalam diri Ah In. Tersirat amarah menggebu-gebu dalam tubuhnya. Ia meremas lengan Bom hingga gadis itu kesakitan. Di dekatnya, ada laki-laki lain bermata panda yang tiba-tiba membungkam mulut Bom dengan lakban.

“Hei, apa-apaan ini! Ah In!” Bom berteriak ketika Ah In menyeretnya menuju sebuah gang sempit.

“Kau masih mengenaliku rupanya, Dara.”

Benar, Bom telah memalsukan kematian Dara. Otomatis, Bom adalah Dara.

Ah In mendorong Bom untuk masuk ke dalam mobilnya secara kasar sebelum ia ikut duduk di bangku penumpang. Sementara di depan, si laki-laki mata panda-yang bernama Seungri menggerak-kan tangannya di atas kemudi-mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Entah ke mana tujuan mereka, Bom tidak tahu. Bom sepenuhnya yakin, nasibnya tidak akan berakhir baik.

***

“Dara!!” Mino berteriak lantang setelah mengunci pintu kamar Dara.

“Ya?” tanya Dara yang baru bangun dari tidurnya.

“Sesuatu terjadi pada Bom! Dia diculik oleh seorang laki-laki bernama Yoon Ah In!”

Tenggorokkan Dara serasa tercekik. Mendengar Bom diculik dan penculiknya adalah Ah In, ini seribu persen kabar buruk. Ah In merupakan laki-laki paling berbahaya yang harus dihindari oleh semua orang. Apalagi orang-orang yang dibenci dan menghalangi kebahagiaan Bom. Dia bisa disebut sebagai laki-laki psikopat. Ah In tega melakukan hal terburuk kepada orang di sekitarnya. Namun, ia tidak pernah menyentuh Dara karena Jiyong selalu berhasil menyelamatkan Dara. Sayangnya, Bom sudah tertangkap dan Dara sudah memikirkan kemungkinan ini-kalau Ah In datang kembali setelah mendengar kabar Bom meninggal. Terlebih ketika ia tahu, Sandara masih hidup.

Dia laki-laki yang sangat berbahaya. Psikopat yang terobsesi pada Bom.

“Gunakan kekuatanmu.” Pinta gadis bermata lebar itu kepada Mino yang sibuk berpikir.

“Aku tidak akan menggunakan kekuatanku begitu saja, Dara. Mereka akan curiga padaku.”

“Bagaimana dengan meminta bantuan Seunghyun?”

“Sebuah serangan misterius pada penculik psikopat? Tidak lucu.”

“Ah In bisa membunuh Bom kapan pun dia mau.”

“Aku akan pergi ke sana. Aku akan mencari keberadaan Bom. Ini masih tanggung jawabku.”

Dara hendak beranjak dari tempat duduknya. “Biarkan aku ikut.”

“Kau juga membutuhkan perlindungan. Jangan berusaha menjadi pahlawan kesiangan.”

Sebelum Mino melangkahkan kaki, Dara berjalan satu langkah lebih dekat, kemudian memeluk sosok malaikat maut yang begitu berarti di hidupnya. Ia memeluk Mino erat-seerat mungkit, sekuat tenaganya. Dara hanya membutuhkan sandaran dan ia melampiaskan seluruh perasaannya dalam pelukan itu. Rasa marah karena Ah In, bersalah karena Bom, bimbang karena Taeyeon dan bersedih karena Jiyong. Dara tidak sanggup merasakan semua itu dalam sehari-dalam waktu yang sama.

Mino mengusap ujung kepala Dara lembut. Ia mengerti betul seperti apa perasaan Dara. Namun, ia harus pergi secepat mungkin demi menyelamatkan Bom, karena memang, Ah In sangat ganas dan cukup mengerikan sebagai seorang manusia. Ingat, harimau atau hewan buas lain diperbolehkan, bahkan diwajibkan berburu dan membunuh mangsanya untuk bertahan hidup. Tapi, seorang manusia tidak diperbolehkan, bahkan sangat dilarang membunuh manusia lainnya untuk kesenangan atau lebih buruk lagi balas dendam. Itu sama saja mengurangi batas hidup seseorang.

Senyuman tipis tergurat di bibir Mino. “Dengarkan aku.” Ujarnya melepas pelukan Dara, lalu mencengkram bahu gadis itu dengan raut wajah serius. “Bom akan selamat. Ah In akan menyesal. Taeyeon dan ucapannya akan menyadarkanmu. Jiyong akan tetap untukmu. Aku akan kembali.”

Sedetik kemudian, Mino menghilang.

***

Dari kejauhan, tampak seorang laki-laki berlari seperti dikejar-kejar oleh anjing penjaga rumah yang menganggapnya sebagai pencuri. Tak ada anjing di belakangnya karena ia tidak benar-benar mencuri. Yang ada hanyalah genggaman tangannya yang terus diacungkan ke depan seakan ingin menunjukkan sesuatu dari baliknya. Dia kelihatan menyembunyikan benda yang tentu berukuran mini dalam genggaman itu. Dia membuatnya terlalu kentara.

Akibat terlalu bersemangat, dia menabrak punggung laki-laki lain yang berdiri menghalanginya.

“Maafkan aku, Jiyong.” Seru Baekhyun membungkukkan tubuhnya lebih dari sembilan puluh derajat. Tak lama, ia tersentak menyadari kebodohannya. “Ah, benar sekali. Kebetulan kau ada di sini. Aku sedang mencari Dara. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya. Penting sekali.”

“Hal apa yang harus kau bicarakan?” tanya Jiyong dengan raut wajah dan nada dingin.

Baekhyun meringis memperlihatkan sederet gigi putihnya. “Ayolah, di mana dia?”

“Aku tidak tahu. Dia pergi setelah membicarakan tentang Bom. Dara marah tidak jelas sembari menangis. Aku hendak mencarinya sekarang untuk meminta maaf.” Jawab Jiyong masih dingin.

“JIYONG!! BAEKHYUN!!”

Entah apa yang terjadi di rumah ini, sepertinya orang-orang tengah senang berlari. Pertama, Bom-yang berlari meninggalkan Bom. Kedua, Mino-yang berlari menghampiri Dara dengan ekspresi wajah tidak biasa. Ketiga, Baekhyun yang berlari mencari Bom sebelum larinya terhentikan oleh Jiyong. Dan, keempat atau mungkin yang terakhir-Dara-yang berlari menghampiri kekasih dan saudara laki-lakinya sembari melambaikan tangan penuh rasa cemas.

Dara membungkukkan badan dengan tubuh yang bergerak naik-turun, nafasnya tersengal-sengal.

“Da..Dara,” Dara masih belum mampu berkata-kata.

“Apa yang terjadi pada Dara?” Baekhyun mulai panik. “Ada apa, Hye Ji?”

“Hye Ji, kau baik-baik saja? Kau kelelahan?” Jiyong juga panik, tapi dalam arti yang berbeda.

“Hei! Ini bukan masalah Hye Ji, Jiyong.” Sergah Baekhyun mengerlingkan matanya malas.

“Sekarang, bukan masalah buruk kalau aku kelelahan. Ada masalah yang sangat buruk.” Gadis itu berusaha menghirup udara lebih banyak untuk mengisi paru-parunya yang kosong. “Beberapa menit lalu, Mino mendatangiku sebelum ia pergi ke luar rumah,” Sekali lagi ia menarik nafas. “Ia berkata, Dara diculik oleh seorang laki-laki bernama Ah In! Mino tahu setelah Dara mengirim pesan acak padanya.”

Dara berteriak pada kedua laki-laki yang berdiri di hadapannya. Mereka berdua hanya melotot tak percaya tanpa memberi respon lain. Dara berpikir, baik Jiyong maupun Baekhyun pasti mencoba untuk mengingat-ingat, siapa Ah In dan apa urusannya dengan Dara. Sudah lama mereka tak bertemu, berurusan atau menghajar Ah In karena laki-laki itu tinggal di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun karena tingkah psikopatnya yang merugikan banyak orang.

Jiyong terkesiap, diiringi dengan Baekhyun yang menjatuhkan rahangnya.

“YOON AH IN?!!” teriak mereka berdua lantang hingga menggema di seluruh ruangan.

“Psikopat gila itu menculik saudaraku?”

“Cepat selamatkan Dara! Kumohon. Bantu Mino juga. Dia tengah mencari Dara.”

Seketika Baekhyun segera berlari menuju lantai atas untuk mengabari Taeyeon tentang masalah ini seraya mengambil mantelnya sebelum meluncur ke TKP. Ia belum tahu pasti tempat mana yang akan dituju. Tapi, ada baiknya jika ia keluar terlebih dahulu dari rumah tanpa membawa Taeyeon karena itu sangat mengerikan. Ah In bisa saja menyandra Taeyeon sebagai gantinya. Baik, Baekhyun akan keluar dari rumah, lalu menghubungi Mino nanti.

Sementara Jiyong, laki-laki itu terpaku di tempatnya, tak bergerak-benar-benar kaku. Ia tampak mengepalkan tangannya kesal sembari menggeram menyeramkan. Jiyong sangat marah. Sekali pun ia membenci Dara palsu yang selama dua bulan ini bersamanya, menurut Jiyong Dara tetaplah Dara dan ini berhubungan dengan seorang psikopat yang telah menjadi musuh bebuyutannya sejak kecil. Sejak kecil? Ya. Dara, Jiyong, Bom dan Ah In sudah saling mengenal sejak kecil. Dan, sejak saat itu juga Ah In banyak berulah. Jiyong tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi.

***

“Ah In, kau sudah keluar dari rumah sakit jiwa?” tanya Bom gugup.

“Tidak perlu bertingkah baik pada orang gila sepertiku. Kekasih bodohmu sangat menyebalkan.”

“Akhirnya kau kembali.” Bom mengembangkan senyumnya seakan bertemu dengan bidadara.

Ah In mengernyitkan dahi dengan senyum merendahkan. “Cari mati kau rupanya.”

“Aku Park Bom.”

“Jangan menyebut nama itu, bodoh.” Sergahnya dingin dengan sedikit geraman.

Semua kalimat dilontarkan Ah In dengan dingin dan datar, tidak terlalu menakutkan memang, terutama bagi Bom yang sangat yakin Ah In tak akan melakukan hal berbahaya padanya. Tapi, kata per kata yang diucapkannya penuh dengan arti mendalam. Segala kebenciannya pada Dara dan Jiyong sangat jelas terdengar di setiap penekanan dalam kalimat singkat dan menyakitkan itu.

Ah In memaksa Bom duduk di sebuah kursi, kemudian mengikatnya seerat mungkin. Ia sangat menantikan saat ini, melihat orang yang dibencinya setengah mati menderita tepat di hadapannya. Ah In berharap, orang yang disayanginya-yang-jelas-jelas-diikatnya bisa ikut senang. Ia belum tahu apa pun tentang kebenaran dari kecelakaan dua bulan lalu. Karena itulah Bom ingin menceritakan semua-nya sehingga ia bisa pergi dari Seoul bersama Ah In.

Tapi, belum saja Bom membuka mulut, Ah In sudah menodongkan pisau tepat di depan wajahnya. Laki-laki itu tampak sangat haus untuk melihat kesengsaraan orang lain. Kini, pisau itu sedikit demi sedikit semakin mendekati pipi Bom. Hanya kurang sepersekian senti, Bom akan mendapat goresan indah di pipinya. Jangankan senti, bergerak sedikit saja, ujung pisau itu sudah siap memberikan kenangan bagi Bom dan wajahnya. Bukan sesuatu yang permanen, tapi siapa yang mau mendapatkan sayatan tepat di wajah?

Nafas Bom tercekat. Oke, dia mulai takut sekarang karena menurutnya, pengakuan sebaiknya tidak dilakukan saat ini. Ah In bisa mengarahkan pisau tersebut ke arah lain dan itu sangat mungkin terjadi. Bom masih menyayangi nyawanya. Tentu saja ia masih menginginkan hidupnya barang sebulan. Bom tidak ingin mati dalam keadaan penuh dosa. Setidaknya, ia ingin menebus kesalahannya dan baru akan hidup dengan tenang jika Ah In percaya serta tidak mengganggunya atau hidup dengan penuh teror jika Ah In tak percaya serta terus mengganggu hidupnya. Yang terpenting, Bom ingin menebus kesalahannya sebelum kehilangan nyawa.

“Kau mengerti, apa yang kurasakan?”

Bom hanya diam tak bergerak demi menghindari ujung pisau yang mengerikan.

Sekali lagi, Bom masih menyayangi nyawanya.

“Aku serasa hancur ketika mendengar kabar itu dari Seungri. Aku begitu mencintai Bom, tidakkah kau mengerti?” nada bicaranya berubah menjadi halus. Ia menitikkan air mata dan image psikopat mulai hilang dari wajahnya. “Hanya aku yang mengerti dia dan aku sangat yakin akan hal itu. Tidak ada yang mempedulikan kesedihannya, termasuk kau dan Jiyong. Saudara macam apa kau ini?! Dia membencimu dan aku berpikir tindakannya sangat wajar. Siapa yang mau diperlakukan seperti Bom dalam hidupnya? Aku terlatih menjadi psikopat karena aku ingin melindunginya.” Raut wajah Ah In berubah berkali-kali lipat lebih menyeramkan dari aslinya. “Dan kau, sangat rakus! Kau sangat rakus akan kebahagiaan. Kau tidak membaginya. Bagaimana aku tahan melihat Bom menderita?”

Hati Bom bergetar mendengar ucapan Ah In-yang-sebenarnya-gertakan-tapi-dianggap perlindung-an olehnya. Tidak ada yang lebih indah dari pengakuan Ah In. Bom belum pernah tahu kalau Ah In sangat mencintainya. Dan, Bom juga tidak pernah tahu sebelumnya kalau Ah In berulah hanya karena ingin melindunginya. Dulu, Bom terlalu kasar pada Ah In. Ia menganggap Ah In pengganggu. Dalam hidupnya, Bom memang hanya menyukai Jiyong dan ia begitu membenci Ah In yang tanpa henti menghantui hidupnya. Tapi ternyata, perbuatan Ah In bukan tanpa alasan.

Ratusan lampiran memori bergentayangan dalam benak Bom. Ia teringat dan baru sadar bahwa Ah In telah melakukan semuanya meski ada beberapa yang terkesan berlebihan. Lima tahun lalu Jiyong memasukkan Ah In ke rumah sakit jiwa dengan bukti-bukti kuat atas penyiksaan yang dilakukan laki-laki itu kepada Dara. Tentu saja tak ada yang berusaha mengelak karena Ah In tidak berbeda dengan orang gila pada umumnya. Bahkan, dia tampak lebih gila. Jauh lebih gila dan lebih gila.

Perlu diketahui, Ah In menderita selama itu untuk membahagiakan Bom.

“Jangan berpikir aku bersikap baik sebab hatiku terenyuh melihat wujudmu yang tampak lemah dan seperti malaikat. Aku seperti ini karena ingin melihatmu lebih menderita. Kita tunggu, apa yang akan terjadi jika kau berada di tempat mengerikan ini sampai Jiyong datang.” Ah In menyeringai licik. Ia mendekati wajah Bom, kemudian berbisik di telinganya, “Kita lihat bersama, oke?”

“Apa kau masih mencintai Bom?” tanya Bom sepelan mungkin agar Ah In tidak tersulut emosi.

“Aku selalu mencintainya, bahkan setelah ia mati sekali.”

Di tempat yang sama, Mino tengah bersembunyi di balik dinding. Sesekali ia merasa takut ketika Ah In mengacung-acungkan pisaunya dengan ganas ke arah Bom. Tapi, sesekali juga ia merasa lega ketika melihat Bom yang tampak tenang. Mino sudah cukup lama berdiri di sana. Bagi Mino, hanya perlu waktu kurang dari satu detik untuk menemukan Bom. Tadinya, ia berpikir, akan sangat sulit menyelamatkan Bom dengan cara normal-dengan-berkelahi-mungkin. Kenyataannya, tidak ada yang perlu diselamatkan. Mino yakin, Bom pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Mino merasakan sesuatu bergetar dari balik saku celananya. Ya, dia jauh lebih baik dari Dara. Ia memiliki ponsel. Tidak perlu bertanya dari mana Mino mendapatkannya karena dia bisa memiliki apa pun yang dia mau. Dan, tidak perlu bertanya siapa yang mengiriminnya pesan karena pengganggu itu pasti Baekhyun yang tak berhenti menanyakan keberadaannya. Mino rasa, bukan saatnya mengikut-sertakan seorang laki-laki tidak jelas dalam urusan penting seperti ini. Bagaimana pun juga, semua yang terjadi berhubungan dengan Dara, baik secara langsung maupun tidak.

“Apakah kau akan tetap mencintainya meski dia adalah aku?”

Mino tidak sabar untuk menonton kelanjutan dari adegan ini. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi Ah In menyikapi pertanyaan Bom yang terdengar melecehkan bagi seorang psikopat sepertinya. Bukan suatu pelecehan yang nyata, tetapi membandingkan orang yang dicintainya dengan orang yang sangat dibencinya merupakan penghinaan baginya. Mino tentu akan menyelamatkan Bom secepat mungkin kalau Ah In berani menodongkan pisaunya sekali lagi.

“Kau harus mempercayai satu hal dalam hidupmu, bahwa kebohongan itu ada di mana-mana.”

Ah In mengernyitkan dahi mendengar ucapan Bom. “Maksudmu?”

“Kalau kau mencintai Bom, kau harus tahu, siapa dia dan seperti apa dia.”

Laki-laki yang selalu memasang tampang serius itu mendekatkan wajahnya ke wajah Bom. Ia meneliti dan melihat dengan jelas setiap lekukan dalam wajah gadis yang dicintainya. Tampak mata-nya mengerjap beberapa kali saat menyadari beberapa hal yang berbeda. Tidak banyak, tapi memang ada yang berbeda. Bagi orang-orang yang mengenal baik Dara dan Bom dengan baik, mereka akan menemukan perbedaan itu. Tapi, bagi orang yang hanya mengenal salah satu dari mereka, akan cukup sulit menemukan perbedaan diantara sepasang kembar identik itu.

“Kau?” Ah In terdiam sesaat.

“Hei! Siapa kau?!” seru Seungri lantang kepada Mino sambil melepas sedotan dari mulutnya.

Ini perbuatan yang sangat ceroboh dan membahayakan. Mino tidak sadar seseorang berjalan men-dekat. Ia serasa tidak merasakan sensor tubuhnya karena terlalu penasaran, apakah Ah In mengerti bahwa gadis yang disandranya adalah Bom? Bodoh! Mino akan menghadapi maut, padahal dialah yang berperan sebagai malaikat maut di sini. Kabar terburuk, Mino tidak bisa berkelahi.

“Diamlah!” Mino mendekatkan ujung jari telunjuknya ke bibir, menginstruksikan kepada Seungri untuk tetap diam dan jangan berkutik. Oke, manusia satu ini tidak berbahaya sama sekali. “Kau yang diam! Dia bisa mendengarmu.”

Spontan, Seungri menutup mulutnya lalu berdiri tegak dalam diam. “Kau siapa?”

“Aku Song Mino. Um, teman Jiyong.”

“Hah? Teman Jiyong? Mau apa kau di sini? Ah In bisa marah besar. Lebih baik, kau pulang.”

Seungri. Dia bukan laki-laki gila sama halnya seperti Ah In. Dia sepenuhnya normal dan tak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini. Ia hanya membantu menyetir dan membungkam Bom, itu saja. Seungri hanya berusaha membantu Ah In. Sesungguhnya, ia sangat tidak setuju dengan ide gila-menculik-orang-tanpa-dosa. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukannya. Terjebak bersama orang gila, membuatnya harus menuruti segala hal yang diinginkan orang gila itu jika masih ingin hidup.

“Tenang saja. Aku tidak ingin mengusiknya.” Balas Mino dengan santai.

***

“Ji, aku tahu, kau khawatir, tapi utamakan keselamatanmu.”

“Tidak ada yang lebih utama daripada Dara, Hye Ji.”

“Kumohon, jangan seperti ini. Tenang, aku pasti membantumu.”

“Tolong diamlah!” bentak Jiyong membuat Dara terdiam.

Dara menundukkan kepalanya, “Maaf, aku hanya tidak ingin kau terluka, Ji.”

Secepat kilat, Jiyong menepikan mobilnya untuk berhenti sejenak. Ia menatap Dara yang duduk sembari menunduk di sampingnya. Tidak lama setelahnya, Jiyong menarik tubuh Dara ke dalam pelukan hangatnya. Jiyong menyandarkan kepala di bahu Dara, kemudian mengusap rambut Dara perlahan. Ia merasa bersalah karena telah membentak Dara. Jiyong sadar, ia tidak harus melakukan hal bodoh semacam itu.

Jiyong berbisik di telinga Dara dengan suara seraknya. “Maafkan aku, aku akan lebih hati-hati.”

Mobil itu kembali melaju dalam lintasannya. Tapi, Jiyong tidak tahu, ia harus pergi ke mana. Sulit baginya untuk mengingat-ingat sesuatu yang terjadi setelah berlalu lima tahun lamanya. Ah In pernah menculik Dara dan membawanya ke sebuah gudang. Jiyong paham, tempat itu memang gudang. Yang tidak diingatnya, di daerah mana gudang itu berada. Kepala Jiyong serasa baru dihempaskan berulang kali di dinding. Ia benar-benar tidak mengingat apapun tentang Ah In.

Dara melirik ke arah Jiyong yang mengemudi dan terfokus pada jalanan sementara wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran tingkat tinggi. Gadis itu tersenyum sesaat. Ya, dia akan pergi dengan tenang jika Jiyong sudah mulai bisa menerima Bom apa adanya. Buktinya, Jiyong tetap saja khawatir meski ia berkata sangat membenci Bom. Tidak ada lagi rasa sedih atau lainnya. Dara merelakan Jiyong sepenuhnya untuk saudara kembar yang sangat disayanginya. Dara tidak akan mengungkit apa pun. Ia siap melihat Bom dan Jiyong bahagia.

Meski hidup dalam wajah yang berbeda, bukan berarti Dara lupa dengan segala hal yang pernah menimpanya dulu. Ia tetap memiliki ingatan seorang Sandara Park. Berbeda dari Jiyong, Dara masih ingat di mana tempatnya disekap dulu ketika Ah In menculiknya. Begitu menakutkan, mengerikan dan menyakitkan. Dara disekap hampir dua hari dan ia dipukuli oleh Ah In. Diinterogasi berbagai macam pertanyaan aneh lengkap dengan ancaman yang seakan mengintimidasinya. Dara tidak akan membiarkan Ah In melakukan hal yang sama kepada Bom.

Jiyong meremas tangan Dara. “Hye Ji?”

“Apakah kita akan melewati jalan perbatasan Seoul-Incheon?”

Jiyong terkesiap. “Aku ingat sekarang! Kita memang harus pergi ke sana! Terima kasih, Hye Ji.”

Di tempat yang berbeda, Baekhyun belum menemui perkembangan dalam pencariannya. Ia kesal, Mino tidak bisa dihubungi. Ponselnya selalu sibuk dan sibuk. Entah sudah berapa liter bahan bakar yang dihabiskannya selama ini. Ia hampir mengelilingi Kota Seoul yang cukup besar. Melintas di berbagai tempat yang sebagian tersisa di ingatannya. Rasa kesalnya bertambah parah, mengingat dia tidak memiliki partner sekarang. Baekhyun menyesal tidak memperbolehkan Taeyeon ikut. Argghhh!! Dia hampir gila!

“Astaga, apa yang harus kulakukan?” Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. “Dara, bertahanlah. Semoga si brengsek itu belum menyentuhmu atau aku akan mengoyak isi perutnya jika ia sampai melakukannya.” Ia kemudian terdiam sesaat, dilanjutkan dengan mengerlingkan mata. “Kenapa malah aku yang terdengar seperti seorang psikopat yang haus akan penderitaan orang lain?”

Saat sedang sibuk mengumpat, sebuah ingatan melesat di pikiran Baekhyun. Ia tahu harus ke mana.

Dara menundukkan kepala ketika melintas di jalan perbatasan antara Seoul-Incheon. Ada sebuah peristiwa yang tidak mungkin dapat dilupakannya dengan mudah, sekeras apapun ia berusaha. Kecelakaan itu, Dara mengingatnya. Di mana ia tergeletak dengan puluhan luka sayatan. Di mana ia meninggal dengan cara yang konyol hanya karena menghindari sebuah truk pengangkut rotan. Di mana ia meninggal, kemudian meminta kesempatan hidup yang membuatnya penuh rasa putus asa. Tempat yang sangat mengerikan baginya.

“Bom meninggal di jalan ini. Sangat tragis.” Ujar Jiyong spontan. Dara yang mendengar ucapan itu tidak membalasnya dengan kalimat apa pun. Jiyong melirik Dara cepat. “Kau kenapa?”

Gadis itu terkesiap. “Tidak ada.” ia memaksakan senyum.

“Kau tidak bertanya seperti apa Bom?” Jiyong menaikkan sebelah alisnya.

Meskipun tidak ingin tahu, Dara berusaha tampak tertarik. “Aku baru akan menanyakannya.”

“Aku yakin, ketika ceritaku selesai, kita sampai di sana.” Ia tersenyum lebar.

Laki-laki itu mengangguk yakin seakan ia sudah menghitung waktu kecepatan laju mobil dengan banyak jumlah kata, kecepatan berbicara, pemahaman Dara dan juga jarak dari tempatnya berada sampai ke tempat tujuan belum lagi berapa banyak pertanyaan yang Dara lontarkan padanya. Pasti Jiyong sudah menjadi ahli fisika jika ia berusaha menghitung aktivitas tersebut. Ah, tidak. Mungkin menjadi peramal karena tahu akan sesuatu yang terjadi di waktu yang belum dialaminya.

Satu per satu kisah diceritakan secara rinci oleh Jiyong, layaknya ia sangat percaya bahwa Dara tak akan membicarakan kisah terlarang itu kepada orang lain. Sebenarnya, tanpa mendengarkan cerita yang hanya membuatnya semakin bersalah, Dara sudah tahu bahwa keadaan Bom memang sangat menyedihkan-jauh dari kata beruntung. Dara sangat ingin menutup telinganya dan berdoa agar ia bisa tuli untuk saat ini saja. Ia sama sekali tidak ingin mendengar kisah yang menyedihkan.

Tidak sama sekali sebelum ia mendengar kisah yang belum di dengarnya.

Jiyong berbicara perihal kecelakaan Bom yang misterius dan lebih tepat masuk dalam kategori pembunuhan berencana. Dara sangat ingin tahu tentang siapa yang melakukan hal keji tersebut. Karena apa? Dara tahu betul, sebelum meninggal, ia berusaha menghindari sebuah truk pengangkut rotan. Anehnya, saat berusaha menghindari, ia menginjak pedal rem, tetapi tidak berfungsi. Salah satu penyebab lainnya, sebab terlalu panik, ia malah menginjak pedal gas. Benar! Kenapa Dara baru memikirkannya? Itu bukan sesuatu yang normal. Mobil Dara baik-baik saja sebelum mampir di toko bunga. Kemungkinan besar, kecelakaan ini sudah direncanakan sebelumnya. Dara yakin, perancang rencana tersebut memulai rencananya di toko bunga-menunggu Dara berhenti sebelum melewati jalan licin itu. Tapi, siapa dan kenapa?

“Kasus ditutup begitu saja.”

Tiba-tiba hening sesaat.

“Ditutup? Bukankah ini sangat penting?” Nada bicara Dara menaik beberapa oktaf.

Hanya sebuah gelengan disertai kalimat, “Tidak penting. Semua orang berkata seperti itu.”

“Tidakkah kalian kejam?”

Dara merasa tidak adil. Kenapa untuk orang yang tidak diperhatikan, dia masih saja tidak disegani, dibela atau dipedulikan padahal ada kabar menyeruak tentang kematiannya? Tidakkah orang-orang memiliki hati nurani? Paling tidak ayah dan ibunya? Kenapa? Beribu pertanyaan berputar-putar di kepala Dara. Tapi, kenapa hanya Dara yang menerima segala jenis kebaikan? Bukankah jika orang tua ingin anak-anaknya menjadi orang baik, merekalah yang harusnya bersikap lebih baik terlebih dahulu? Mencontohkan hal baik. Kali ini tidak! Bom dibuang sejak kecil. Bagaimana Bom bisa jadi orang baik jika ia mengalami masa sulit dalam hidupnya? Apa itu wajar?

“Kejam?” Jiyong tersenyum kecut-bermaksud mengejek. “Tidak ada yang mengenal Bom dengan baik. Tidak ada, selain Ah In. Entah karena pergaulan Ah In memengaruhinya atau entah karena Bom dan Ah In sama-sama bermental psikopat. Perlakuan kami semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perlakuan Bom kepada kami. Kau harus tahu, apa yang kami alami dua belas tahun silam.”

Jiyong menerawang, mencoba merangkai kata yang tidak terlalu kasar.

“Ia hampir membunuh Dara saat berumur 8 tahun.” Kalimat Jiyong terdengar sangat menyeramkan.

Angan Dara mencoba mengingat peristiwa itu, tepat dua belas tahun yang lalu.

Flashback

10th July, 2003

“Hei, kau menyebalkan!” Dara merengek ketika Jiyong menyabotase bonekanya.

“Dee, ambil sendiri kalau kau bisa!” Balas Jiyong tanpa rasa ampun.

Dara berjanji, ia akan mengejar Jiyong meski anak laki-laki seumurannya itu pergi ke luar angkasa dengan membawa boneka kesayangannya. Dara tidak peduli, dia menganggap Tam-Tam-bonekanya tadi-sebagai saudara kembarnya. Lebih tepatnya, pengganti Bom saat Bom pergi ke luar negeri. Ya, Bom hanya pulang beberapa kali dalam setahun. Dan, itu membuat Dara rindu setengah hati pada belahan dirinya. Sungguh, Dara sangat menyayangi Bom.

Boneka itu benar-benar berserah diri kepada Jiyong. Ia dibawa kesana-kemari dengan ekpresi polos yang selalu menghiasi wajahnya. Boneka memang benda mati, tapi tidak bagi Dara. Terkutuk-lah Jiyong dan sifat menyebalkannya! Kalimat tersebut adalah doa yang dipanjatkan Dara ketika ia merasa sebal. Tiga tahun berteman, Jiyong masih tetap bersifat sama. Ah, tidak. Dari tahun ke tahun Jiyong semakin menggila.

“Bom, kau baik-baik saja.”

Wajah menggemaskan Ah In tampak memasang raut cemas. Ia menoleh ke arah Jiyong dan Dara yang tengah berlari saling mengejar. Tiba-tiba rona wajahnya mengeras. Jiwa perlindungan dalam dirinya mulai bereaksi. Ah In benci melihat Bom seperti itu. Ia tahu, Bom membencinya, bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Tapi, bagi Ah In, itu tak akan menjadi masalah besar.

Tanpa menghiraukan Ah In, Bom menyeringai licik ketika Jiyong masuk ke dalam rumah setelah Dara mendapatkan bonekanya. Bom tidak peduli apa yang dilakukan Jiyong, ia hanya terfokus kepada Dara yang terduduk di rerumputan membelakangi Bom. Gadis kecil berambut coklat tua itu berjalan mendekat dengan gunting rumput di tangannya. Ia sudah mengacungkan guntingnya ke atas, siap merobek punggung mungil Dara. Hampir beberapa senti Bom mengayunkan gunting tersebut, Nyonya Park datang, kemudian memarahinya.

Bukannya diam atau meminta maaf, Bom menjadikan Tam-Tam sasarannya. Ia merebut boneka malang itu dari dekapan Dara, lalu mengoyaknya dengan ganas. Bom sama sekali tidak memiliki rasa kepedulian yang tinggi akan apa yang dilakukan dan siapa yang melihatnya. Omelan? Tidak perlu bertanya, lebih dari seribu kalimat didengarnya setiap hari. Telinga Bom terlalu malas untuk mendengar kalimat tidak berguna yang sama sekali tidak merubahnya.

Bom meninggalkan Dara yang menangis begitu saja.

Flashback End

Dara menunduk, bagaimana ia bisa melupakan peristiwa tersebut?

“Aku masih mengingat bonekaku.” Ujarnya lemah.

Jiyong memiringkan kepalanya, “Boneka?” tanyanya kebingungan.

“Ah, tidak. Maksudku, cerita itu mengerikan, aku jadi mengingat bonekaku.” Jawab Dara asal.

“Kau ada-ada saja.” Laki-laki itu terkekeh geli akibat ucapan Dara yang dianggapnya candaan.

Mobil tiba-tiba berhenti di depan semak-semak yang tertutupi salju. Jauh di depan, terdapat sebuah bangunan tua yang tampaknya cukup mengerikan bagi orang yang pertama kali melihatnya, terlebih Dara-karena ia memiliki pengalaman yang sangat buruk di sana. Bahkan, Dara tidak pernah sudi untuk mengingat terlebih mendatangi tempat itu. Tidak. Dara hanya terlalu takut.

Jiyong membukakan pintu mobil untuk Dara, mempersilahkannya keluar. Dengan berat hati, Dara melangkah keluar, kemudian disambung Jiyong menuntunnya berjalan ke bangunan itu lebih dekat, lebih dekat, lebih dekat lagi sampai berada di depan pintu yang terbuka lebar.

Sunyi.

Mungkinkah Bom sudah dibawa pergi?

“Tapi, kenapa kau ada di sini?” tanya Seungri begitu penasaran kepada Mino.

“Hei, aku ada urusan. Pergilah.” Mino menjawab malas.

Hah? Dara? Mino terkejut ketika melihat Jiyong dan Dara datang. Ia segera menarik Seungri.

“Bom?” terdengar suara Ah In bergetar setelah hampir tiga puluh menit berpikir.

Tidak mungkin! Ah In sama sekali tidak bisa mempercayai hal ini, tapi bagaimana lagi? Ia sendiri tak bisa menyangkal kalau gadis yang terduduk di hadapannya bukan Bom. Dia Park Bom, gadis yang sudah dikenalnya lima belas tahun lamanya, lebih dari setengah hidupnya. Anehnya, sebodoh apakah Jiyong sampai tidak bisa mengenal yang mana Dara dan yang mana Bom? Lalu, apa alasan Bom menjadi Dara? Ah In akan mendapatkan jawaban itu.

Tepat ketika Ah In hendak menyentuh Bom, Jiyong datang.

“Jauhkan tanganmu!”

“Jiyong?!” Bom dan Ah In terkejut bersamaan.

Dara berdiri terpaku di tempatnya. Ia sangat takut saat Ah In menatapnya.

“Kekasih baru?” tanya laki-laki psikopat bernada mengejek. “Dia belum mengenalku.”

Ah In mengulurkan tangannya ke arah Dara, tapi tak dihiraukan sama sekali. Dara malah berjalan mundur dengan raut wajah seperti diintai oleh hantu. Jiyong tidak tinggal diam, ia menarik Dara untuk bersembunyi di balik badannya. Tentu saja Jiyong tidak akan membiarkan Ah In menyentuh Bom atau Dara untuk saat ini. Laki-laki itu terlalu berbahaya. Kalau bisa, Jiyong ingin melindungi semua orang dari jangkauan si psikopat gila.

Haruskah Bom berpura-pura menjadi Dara dan berlari meminta pertolongan Jiyong? TIDAK.

Dengan cepat, Jiyong menarik Bom yang terduduk lemas dua meter di depannya. Yap! Ia sudah mendapatkan Bom kembali. Sungguh, ia memiliki banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Bom sekarang juga. Saat hendak mengambil langkah seribu, Jiyong merasa kosong di jemarinya. Tunggu.

DARA?!

“Apa dia sudah gila? Ah, maksudku, sangat gila?!” Mino mengumpat di balik dinding.

Mino sangat ingin keluar dari balik dinding dan datang menyelamatkan Dara serta membuat Ah In menemui ajalnya. Selama Seungri diam, itu baik-baik saja. Seungri memang tidak memihak pada Ah In, jadi ini menjadi peluang besar bagi Mino untuk tetap terlihat tanpa dihajar. Mengerti maksudnya? Tapi, apa yang akan dikatakan semua orang yang ada? Menjadi makhluk yang bukan manusia memang sangat merepotkan. Mino akan keluar, tapi tidak sekarang.

“Bawa saja dia. Aku akan datang lain waktu.” Dia memang sangat hebat. “Astaga, bagaimana kau akan melindungi gadis ini jika kau tidak bisa membedakan siapa yang kau kenal dekat selama hampir lima belas tahun dan siapa yang kau kenal tapi tak kau pedulikan selama lima belas tahun? Setidaknya, menjadi gila dan pintar lebih baik dari pada tidak gila dan bodoh.” Ujarnya dengan penuh kemenang-an. Ia meremas tangan Dara membuat pemiliknya merintih kesakitan. “Sepertinya kau menyukainya, jadi aku mengambilnya. Dia cantik, tapi aku tidak suka.”

“Jiyong, kumohon, tolong dia.” Bom memandang Jiyong penuh harap.

Jiyong tercekat melihat sikap aneh Bom. Ini bukan Bom yang biasanya.

“Tidak. Pergilah bersama,” Dara menunduk lemah. “Pergi bersama Dara. Aku tahu, dia takut.”

***

***

TBC

Note:

Hallo, guys. Sebenarnya, aku ga punya rasa percaya diri tinggi kalian menunggu ff ini T_T.. tapi, gapapa kok, ini tanggung jawabku sebagai author yang harus menyelesaikan ff-nya. Udah lama banget aku ga nge-post ff ini. Salahkanlah otak saya yang susah banget diajak kompromi. Oke, terimakasih. Hengsho ><

Advertisements

12 thoughts on “[Series] My Everlasting Winter – Part 12

  1. Eonni sotoy kalo bilang aku gak nunggu ini. Aku selalu menunggu ff ini! Uwaaaa ah in bawa aja bom, dara tinggal sama jiyong. Seungri sama chaerin. Mino sama seunghyun balik ke alam lain aja. Oh god gereget you know??? Ini M-E-N-G-G-A-N-T-U-N-G!! LANJUT SECEPATNYA PLEASEEEEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s