Half Tone – Part009

Half Tone cover 2
PERINGATAN : fanfiction ini mengandung muatan dewasa! Bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk tidak membacanya.

Half Tone

Author : Defta

Cast     : Sandara Park and Kwon Jiyong

Genre   : Fantacy, Rate M

Setelah meninggalkan Dara sendirian dikamar mereka. Jiyong mulai melangkahkan kakinya ke mana saja, hingga akhirnya dirinya sampai disebuah ruangan yang berada di lantai paling atas namun berada di ujung lorong. Tak seperti semua ruangan yang terlihat ramai, disana sangat sepi dan terlihat sangat gelap. Rasa penasarannya mendorong dirinya untuk pergi ketempat itu.

Dari luar pintu dirinya melihat berbagai rak-rak buku. “Halo…” Ucapnya untuk mengecek apa ada orang di dalam sana. Tidak ada jawaban sama sekali, yang menjawabnya hanyalah pantulan suaranya sendiri. Dengan sedikit ragu dia masuk kedalam ruangan itu. Rak-rak yang berisi puluhan atau bahkan ratusan buku terjejer rapi disana.

1/5 dari ruangan itu masih kosong dan hanya diisi beberapa meja dan kursi. “Ini pasti perpustakaan” Pikir Jiyong menyimpulkan tempat itu. Jiyong bukanlah tipe orang yang gila akan buku, tapi dia suka membaca buku. Ia mengambil salah satu buku ketika terdengar suara decitan pintu. Dirinya menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

“EOH….” Seorang wanita terkejut melihat Jiyong berada disana dan otomatis dirinya menunduk hormat. “Apa yang anda lakukan disiniRaja ?” Tanyanya dengan bahasa formal

“HUH….” Jiyong menghela nafasnya. “Kenapa semua orang berbicara formal padaku ?” tanyanya pada dirinya sendiri.  Kemudian ditatapnya wanita itu dengan penuh selidik. “Kau sepertinya lebih tua dariku” Lanjutnya. “Berapa usiamu ?”

“26 tahun Raja” Jawab wanita.

“Benar dugaanku. Siapa namamu ?”

“SAYA ?” tanpa sadar wanita itu berteriak dengan mendongak dan menatap Jiyong. ketika menyadari dirinya melakukan kesalahan besar wanita itu langsung menunduk dalam. “MAAFKAN SAYA RAJA..” Ucapnya dengan suara lantang.

Jiyong menutup telinganya karna suara wanita itu. “Jadi siapa namamu ?”

“Park Bom”

“Jadi Park Bom-ssi, Apa ini perpustakaan ?” Jiyong bertanya pada wanita bernama Park Bom itu.

(Ah… PERHATIAN… jadi yang masa depan Jiyong di Lorong masa depan itu semuanya bohong, jadi jangan Tanya bagaimana Park bom bisa jadi istrinya Seunghyun, dan kenapa Parkbom ada di Half Tone. OKE ? Karna semua itu ilusi alias bohong)

“Bukan” Jawab Park Bom masih dengan bahasa formal.

Sekali lagi Jiyong mendesah dan dia kembali menatap Park Bom. “Aku lebih muda 5 tahun darimu, jadi kumohon gunakanlah bahasa informal padaku”

“Tapi…”

“Jadi kalau ini bukan perpustakaan lalu apa ?” Jiyong menyahut ucapan Park Bom, karna ia yakin bahwa jika ia membarkan wanita itu berbicara, wanita itu akan menolak permintaannya dengan alasan mereka berada di level yang berbeda.

“Ini adalah gudang Raj….” Park Bom baru akan menggunakan bahasa formal lagi ketika Jiyong meliriknya dengan tajam. “ini adalah gudang, semua buku yang dirasa sudah tidak berguna bagi Half Tone akan dikirim disini” Ulangnya dengan menggunakan bahasa informal.

Jiyong mengagguk mengerti. Ia mengambil kembali buku yang tadi sudah dia pegang, selanjutnya kakinya melangkah menuju 1/5 dari ruangan itu, dirinya duduk disalah satu kursi dan mulai membaca buku itu.

Satu demi satu buku ia  baca, hingga di hari itu dia menghabiskan 4 buah buku setebal 3 cm dan 2 buku setebal 2 cm. tangannya meregang keatas membuat suara gesekan antar tulang belakangnya terdengar nyaring.

“Huh… ada Pria bau disini” Suara Park Bom terdengar, Jiyong menoleh dan melihat wanita itu tengah menutup hidungnya.

Jiyong tertawa. “Berapa jam aku disini ?”

“25 jam 7 menit dan 1 detik”  jawab wanita itu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “Insomniamu sepertinya benar-benar hebat”

“Aku bahkan bisa tidak tidur selama 45 jam kau tau” Ucap Jiyong sombong.

“Itu bukan hal yang bisa kau banggakan” cibir Park Bom. “Setidaknya ganti bajumu, kau benar-benar bau”

Jiyong hanya membuang wajahnya dan mendengus kesal. Mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh.

*

*

Jiyong melintasi salah satu ruangan dengan pintu terbuka,  didalamnya ada Dara yang memakai bathrobe berwarna putih tengah menuang cairan berwarna putih kedalam gelas. Jiyong melihatnya,  pria itu jelas-jelas melihatnya tapi ia acuh dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

Warna putih gading yang menghiasi ruangan dimana jiyong berada membuatnya sedikit jengah, ia melepas kaos oblongnya, membuangnya ke lantai dan berjalan ke sebuah lemari besar di salah satu sisi ruangan itu. Tiba-tiba saja pintu besar yang menjadi jalan masuk ruangan itu terbuka, menampakkan dara yang sempoyongan sambil bertumpu pada daun pintu. “Eoh.. Jiyong disini” ucapnya seolah terkejut melihat pria itu berada disana.

Jiyong hanya diam sambil terus mengawasi apa yang akan dilakukan wanita itu. Semakin lama Dara berjalan semakin dekat kepada jiyong dan ia berhenti tepat di depan jiyong. “Kau baru kembali ?” Tanyany sambil sesekali cecegukan.

“Kau minum? ” jiyong balik bertanya pada Dara.

Dara tertawa dramatis,  ia melingkarkan kedua tangannya di leher jiyong.  “Memang kenapa??  Suamiku?? “

Decakan lidah jiyong terdengar disusul dengan helaan nafas pria itu. Dengan perlahan ia melepaskan kedua tangan dara dari lehernya.  “Apa yang kau lakukan?!”

“Waeyo???” Dara kembali tersenyum  dengan mata yang setengah tertutup.  “Kau menolakku suamiku?” Sekali lagi dara mengalungkan tengannya ke leher Jiyong.  Namun untuk sekali lagi juga jiyong  melepaskan tangan Dara, bahkan kali ini ia menyentaknya dengan keras hingga Dara terdorong beberapa meter ke belakang.

Dara kembali tertawa untuk ke sekian kalinya. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kesedihan,  ia mentertawakan dirinya sendiri, ia mentertawakan kehidupannya. “KENAPA!!!  KENAPA KAU MENJAUHIKU KENAPA KAU MENGHINDAR DARIKU??? “tangis Dara akhirnya pecah, air mata mulai membanjiri wajahnya. “Apa ada wanita di bagian dunia ini yang lebih cantik dari aku ??” Dara mengacak rambutnya dengan frustrasi.  “Katakan namanya dan aku akan membuat wajahnya menjadi buruk rupa dengan tanganku sendiri”

“Kau pasti sudah mabuk” jiyong membuang wajahnya sambil mendesah.

“AKU TIDAK MABUK !!!” Teriak dara. Sedang Jiyong memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeansnya dengan amat santai. “Kenapa kau melakukan ini padaku Jiyong?” Setetes air mata kembali keluar dari pelupuk mata Dara.

Pria itu membeku seketika.  Dari air mata itu Jiyong dapat melihat ketulusan, ketulusan dimana wanita itu benar-benar terluka.  Dari air mata itu Jiyong dapat melihat kesedihan dan penyesalan yang amat sangat. Tapi ketika dirinya mengingat air mata yang keluar dari kelopak mata Yongbae yang keluar karna jeritan kesakitannya, Jiyong mengubah pikirannya.

Cinta ? Omong kosong. Yongbae sudah seperti kakaknya sendiri. Sekarang bagaimana jika kita refleksi Kediri sendiri, fakta bahwa orang yang kau cintai ternyata adalah orang yang membunuh kakakmu sendiri ?? Apa kata cinta dan kasih sayang itu masih berlaku ?

“Apakah tubuhku ini tidak bagus? ” dara kemudian menarik tali bathrobenya dan melepaskannya hingga tubuh polosnya terekspos sempurna.

“DARA APA YANG KAU LAKUKAN!!! ” Jiyong berjalan kelarah dara, berlutut dihadapan wanita itu untuk mengambil kembali bathrobe berwarna putih itu.

Tapi ketika kedua tangannya menyentuh bathrobe itu dara mendorong bahunya hingga ia jatuh terlentang diatas lantai dan dara langsung menindihnya dan wanita itupun langsung mengklaim bibir Jiyong.

Kedua tangannya ia gunakan untuk melingkari leher Jiyong dengan erat.

“Da…hmpttt dara…” ucap Jiyong  tertahan karena dara yang terus melumat bibirnya tanpa jeda. Ia mencoba untuk mendorong tubuh dara tapi gagal karena tubuh mereka benar-benar menempel.

Dengan salah satu tangannya, dara menarik kerah kaos yang Jiyong pakai hingga sobek. Dan tangannya itu mulai menjelajahi      tubuh atas jiyong. Perlahan namun pasti Jiyong mulai membalas ciuman Dara. Sesaat setelah dara berhasil menyobek kaosnya Jiyong mengambil alih permainan.

Sekali gerakan saja Jiyong dapat membalik keadaan dan menindih Dara. Ia menjadi egois dan meraih bibir Dara untuk ia lumat dengan rakus seolah ia akan kehilangan itu sebentar lagi. Nafsunya sudah mencapai puncaknya dan ia menyingkirkan harga dirinya. “Kau sendiri yang memintanya” ucap jiyong sambil melepaskan ikat pinggang celana jeansnya.

Jiyong mulai mengklaim tiap jengkal bahkan tiap inci tubuh dara dengan bibirnya. Ia mencium dan menghisap seluruh tubuh Dara tanpa meninggalkan satu milimeter pun.

Mereka bercinta dengan tubuh telanjang diatas lantai kamar mereka dengan pintu ruangan yang masih terbuka. Bahkan baik Jiyong maupun Dara tak menyadari bahwa perlahan-lahan pintu setinggi 3 meter itu tertutup tanpa menimbulkan suara.

*

*

Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat mau tak mau Dara harus membua matanya. Ia merasakan tubuhnya terbalut kain putih yang tebal. Ya itu adalah selimut. Kedua mata Dara yang masih setengah terbuka itu langsung terbelalak saat melihat bercak merah di lengannya.

“Bodoh” pikinya, ia menurunkan kakinya ke lantai.  Sekujur kaki nya pun bernasib sama,  bercak merah keunguan juga terdapat disana. Pikirannya menjadi buyar, ketika melihat tangannya terdapat kiss mark ia mengira semalam ia masturbasi sendiri. Tapi apa ia melakukannya di kaki juga ? Dara semakin penasaran dan kemudian bangkit dari duduknya lalu berlari kearah kamar mandi.

Ia berdiri di depan cermin yang tinggi. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Hampir sekujur tubuhnya dihasi tanda merah keunguan itu, bahkan dilehernya, dan bercak luka di lehernya yang dibuat jiyong juga masih memerah dan Nampak sangat jelas seolah luka-luka itu dibuat lagi.

Jika sudah seperti itu Dara yakin bahwa dirinya tidak bermasturbasi tapi ia bercinta, ia melakukan seks dengan sesorang. Ia melakukan tapi pertanyaannya dengan siapa ia melakukannya?

Jiyong??  Pria itu bahkan tidak meliriknya sama sekali setelah mengetahui fakta bahwa Dara menipunya demi kelangsungan hidup dunia bagian half tone.

Dara menyerah pada semua pertanyaan itu. Ia menyalakan shower dan berdiri dibawah guyuran air itu berharap jika kepalanya dingin otaknya akan bekerja sebagaimana mestinya.

ketika ia selesai ia menghapus embun yang menyelimuti cermin dihadapan dara. Satu fakta kembali keluar, bahkan jari-jarinya pun tak luput dari jangkauan kiss mark. Pertanyaannya kali ini berbeda,  siapakah gerangan yang sangat terobsesi pada tubuh Dara. Sekali lagi jawaban yang muncul adalah “Jiyong “

Hanya Pria itu yang merasa tidak cukup dengan Dara. Hanya Kwon Jiyong yang tidak akan pernah puas jika itu menyangkut tubuh Dara. Sekali lagi Dara menyerah akan pertanyaannya Di otaknya.

*

*

Beruntung lah pakaian seorang ratu hampir menutupi 90% tubuh Dara.  Ia menuruni puluhan anak tangga yang akan membawanya yang berada di lantai pertama istananya. Dibawah sana audah ada seunghyun yang menanti kehadirannya. Dara kemudian duduk di singgasananya dengan pikiran kosong.

“Anda mendengar kan nasehat saya ” ucap Seunghyun sambil menunduk, Dara terdiam tanda tidak mengerti ucapan pria itu.  “Tantang penerus Half tone”

Dara langsung menatap Seunghyun.  “Apa maksud mu? “

“Semalam saya melihat anda melakukannya dengan Jiyong ” Suara desahan pasrah keluar dari bibir Dara.  Ia kemudian memijat pelipisnya karna merasakan pusing. “Ternyata anda memanfaatkannya dengan sangat baik”

“Aku melakukannya karna aku mencintainya, bukan karna memanfaatkannya!! ” seru Dara memotong ucapan Seunghyun.  “Dengar baik-baik aku sudah memanfaatkannya sekali untuk duduk di kursi ini” Dara memukul singgasananya dengan kesal.  “Dan aku bersumpah tidak akan memanfaatkannya untuk hal lain “

“Tapi Half Tone harus memiliki seorang penerus, atau adik anda SangHyun akan mengambil alih posisi anda”

“Persetan dengan Penerus,  aku tak perduli jika terjadi kudeta karna aku tidak melahirkan seorang penerus”

“Ratu….”

“Apa kau tau Hyun-ah… bagaimana tatapan jiyong kepadaku?  Ia menatap diriku seolah aku adalah pendosa yang tidak termaafkan”setetes air mata kembali meluncur bebas dari  pelupuk mata Dara.  “Dia membenciku Hyun-ah” isakan tangis Dara terdengr memilukan hati.  “Aku mengambil kehidupannya yang berharga”

“Dara-ssi….”

“Aku merindukan tatapan cintanya, aku merindukan  senyum hangatnya”

Tanpa mereka sadari, Jiyong tengah mendengar pembicaraan mereka.

==TBC==

Huah… gak nyangka bisa Update secepat ini diantara tugas menumpuk luar biasa, padahal baru juga 2 minggu sekolah…. Ok… kalau Defta Updatenya lama berarti ada tugas sekolah. Maklum kelas 12 kekekke…

Advertisements

27 thoughts on “Half Tone – Part009

  1. Alurnya makin bikin penasaran,makin banyak konflik walaupun masih samar2,tapi paling nggak jiyong tau kalo dara emang beneran cinta.Moga aja dara dimaafin

  2. Konfliknya bener” bikin pusing tp nggak papa yg penting sudah bisa saya pahami hehehe…. jadi hubungan dara sm sanghyun itu tidak akur dan sanghyun itu jahat atau bagaimana sih defta makin penasaran sm apa yg terjadi sm halftone dan kenapa halftone butuh penerus atau nanti akan terjadi kudeta….. dan semoga next chap jiyong sudah mau ngertiin dara klu sebenarnya dara memang tulus mencintainya bukan cuma akan memanfaatkannya lg seperti dulu…..
    Next chap semoga defta nggak banyak tugas biar cepet update ya hahaha……
    fighting buat defta nglanjutin Ffnya♥♥

  3. Jujurrrrr.. aku bingung sama chapter iniii.. tapi aku ngehargai gimana perjuangan Defta unnie untuk ngebuat chapter ini. Terus semangat, unnie.

  4. Astagaa akuu kasihan banget sama dara
    Kenapa Dia harus berada di posisi yang Serba salah gitu ;(
    Sebenarnya kenapa kalau half tone hancur ? Maksudku kenapa dara dan jiyong ga ke dunia terang ajaa gitu sekalian ?
    Apaa dara emang pengen banget mempertahankan half tone ? Sampai harus menipu jiyong ?
    Arrgg kasihan tapinya, jiyong jahat banget sih, kenapa ga dengerin dara duluu plis lah maafin daraa
    Itu juga pasti demi kebaikan banyak hal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s