OUR DESTINY [Chap. 2]

jhk

Author: Mita (Kwonjita)

Cast: Sandara Park || Kwon Jiyong

G|| Romance || Fantasy

Length| | Chaptered | |

****

BAAAA….😄

Ada yang merindukan author yang malas ini? hahaha tidak ada yah?!!😝

Tapi ceritanya masih ditunggukan?

Maaf, yah ceritanya singkat lol

Udah singkat lama pula updatenya wakakkkk

👌Okehhh selamat membaca readers saying….☺

****

Dara. Gadis ini sangat tidak biasa ada orang berada dibelakangnya. Rishi, itulah yang ia rasakan sangat tidak nyaman. Dihentikannya langkah, lalu memutar tubuhnya menghadap orang yang dari tadi berjalan di belakangnya. Dragon. Lelaki itu mengerutkan keningnya bingung menatap Dara yang mendelik tajam kearahnya, dengan mata menyipit Dara meneliti Dragon dari ujung hingga kaki. ‘mencurigakan’ gumamnya pelan.

Dragon hanya menatapnya datar seperti biasa, membuatnya mendesis jengkel melihat tampang tanpa ekspresi itu lagi. Apakah pria ini hanya punya satu ekspresi? Batinnya menggeleng tidak percaya.

“ya, kau! Berhenti mengikutiku. Lagian aku bisa menjaga diriku sendiri, pergilah aku tidak membutuhkan pengawal. Apalagi pengawal tanpa ekspresi sepertimu. Jadi pergilah” katanya, yang berlalu pergi tanpa peduli tatapan malas yang Dragon layangkan padanya.

“mau kemana kau cebol?” tanyanya sudah berdiri di hadapan Dara, gadis itu terlonjak kaget dengan mulut menganga tidak percaya. Dengan sedikit tergagap dara bertanya “ba-bagaimana bisa kau…” ucapnya terhenti, ia menutup mulutnya ketika otaknya berfikir sesuatu.

“oh…shittt” Dragon mengumpat. Merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia melupakan pantangan itu? sial. Dragon mencoba mencari alasan, tapi memang dasar otaknya tidak mendukung sama sekali, ditambah dengan tatapan curiga menuntut penjelasan dara. Ia sungguh tidak dapat mencari alasan yang masuk akal untuk ukuran Dara. Akhirnya dengan tingkah menyebalkan lah dia menjelaskannya. Bisakah ini disebut penjelasan? Tidak. Itu lebih terlihat mengalihkan topik saja.

“berhentilah kepala kecilmu ini berfikiran yang aneh” ucapnya menoyor pelan kepala Dara membuatnya mendengus jengkel menatap Dragon. Dengan malas ia melangkah menjauh dari Dragon, wajahnya ditekuk marah. Hahh, berani sekali dia mendorong kepalaku seperti itu, dasar brengsek. Ia menghela nafasnya kasar lalu menghentikan langkahnya, dan dengan wajah jengkelnya ia berbalik menatap lelaki yang berjalan santai di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengannya.

“bisakah kau berhenti mengikuti ku heuh?” ia berteriak jengkel, berharap lelaki ini mengerti dengan ketidak sukaannya itu, yah dia sangat tidak menyukai kawal mengawal ini. haha lucu sekali fikirnya, terlebih ia sangat tidak menyukai lelaki dingin dan kasar seperti pria di hadapannya ini. bukannya tenang yang ada hidupnya berantakan tidak tenang. Bagaimana tidak, lelaki ini mengikutinya seperti ini. oh menjengkelkan sekali.

“maaf sekali, itu tidak bisa cebol”

“huhh…ya! Siapa yang kau panggil cebol?”

“memangnya ada orang lain di sini heuh?”

Dara memejamkan matanya, menahan amarah yang mungkin bisa meledak kapan saja. Aish. Lelaki ini sungguh menguji kesabarannya, mulutnya. Ya tuhan bagaimana bisa dia bertemu lelaki dengan mulut seperti ini. telunjuknya terangkat tepat di depan wajah Dragon, dengan jengkel dia berucap.

“kau pikir dirimu tinggi heuh? Haha lucu sekali kau, lihatlah dirimu ini bagaimana bisa kau mengatakan aku cebol sementara dirimupun juga cebol. Kau tidak punya kaca hueh, untuk ukuran pria kau itu Cuma di urutan ketiga haha. Wajah, tubuh, tinggi. Oh ayolah tidak ada perfect nya sama sekali kau tau. Dasar bodoh.” Ejeknya tidak kalah kasar, puas. Yah ia puas melihat wajah merah padam Dragon. Lelaki ini marah dan Dara tidak peduli itu, siapa yang memulai duluan? Fikirnya dan kembali melangkah dengan angkuh meninggalkan Dragon yang berdiri tak berkutik nafasnya memburu.

“eommaaaaaaaaaaaaa” teriaknya marah, ia akan kelangit sekarang meminta ibunya itu untuk menggantinya saja dengan kakak nya. Gadis cebol itu sudah membuatnya jengkel. Ia berani menilai malaikat tertampan dilangit dengan mengatakan dirinya hanya berada di urutan ketiga. Sial.

*

*

*

Jaejoong mendesah gusar menatap kertas ditangannya. Wajahnya tampannya berubah kusut. Frustasi. Ia mencoba memijit pelipis untuk sedikit menghilangkan rasa pusing dikepalanya. Otaknya benar-benar sudah habis terkuras tadi malam. Bayangkan saja semalaman matanya tidak pernah beralih menatap layar liptopnya itu. mencari benda yang sampai sekarang tidak pernah ia temukan bahkan tidak ada yang pernah melihat benda seperti yang terlukis dikertas digenggamannya ini. matanya kembali melirik kertas putih itu, lalu sedetik kemudian ia mengerang dan meremas kesal kertas tersebut.

“terserahlah, aku sungguh lelah mencarinya. Si tua Bangka itu sungguh menyebalkan” gerutunya melempar asal remasan kertas yang terdapat sketsa liontin yang selama ini dia cari-cari tapi sampai sekarang ia tidak pernah menemukan benda itu. dengan langkah lebar ia keluar dari ruangan kerjanya. Semalaman tidak pulang, bahkan ia tidak pernah beranjak dari ruangannya ini. membuatnya lapar. Ia melangkah dengan kerutan bingung melihat tampang kusut sahabatnya.

“ada apa denganmu huh? Kenapa tampangmu kusut seperti itu, membuatmu semakin jelek?” candanya garing, berniat membuat lelocun .tapi bukannya tertawa, Dara malah menatap garang kearahnya dan tanpa aba-aba dia memukul keras kepala jaejoong membuat lelaki itu meringis sakit.

“awww…”

“Yaa! Beraninya kau memukul kepala bosmu” teriaknya. Masih mengelus kepalanya yang kena pukul. Dara hanya memutar matanya malas melihat tingkah lebay sahabat sekaligus bosnya ini. jaejoong berdecak jengkel menatap Dara.

“dasar gadis kasar, pantas saja semua pria kabur darimu” gumamnya menatap malas sahabatnya ini.saat pandangan matanya bertemu mata tajam Dara. Lelaki itu tersenyum kikuk menatap wajah marah Dara, dengan cepat ia menghilang pergi meninggalkan dara dengan wajah jengkelnya itu.

*

*

*

“eomm…ma”

Teriakna Dragon berubah jadi gumaman pelan, saat matanya menatap sosok asing berdiri dihadapan ibunya. Alisnya terangkat menatap heran dengan sosok lelaki separuh baya yang kini tersenyum aneh padanya. Lelaki itu berseru riang yang justru terdengar janggal di telinga Dragon.

“woowww….ternyata keponakan ku sudah tumbuh besar”

Dengan nada tidak suka Dragon bertanya “siapa kau?” entah kenapa ia mempunyai firasat buruk terhadap sosok dihadapannya ini. rasa pensarannya semakin menjadi-jadi saat melihat seringaian terukir jelas disudut bibir lelaki separuh baya itu. terlebih dengan sayap hitam miliknya, jelas ia bukan dari kelompoknya. Mendengar nada bicara Dragon yang sangat jelas menyiratkan ketidak sukaannya. Mau tidak mau membuatnya terkekeh geli. Menarik. Fikirnya.

Dengan santai ia melangkah mendekat dan merangkulkan tangannya dipundak Dragon sambil berkata dengan nada menjengkelkan bagi Dragon. “apakah ibumu tidak pernah menceritakan tentang diriku?”

Ia melirik sekilas wajah muak sang adik, sebelum kembali berucap “ahhh…tentu saja dia tidak mungkin melakukan itu bukan?” ia tersenyum mentap wajah bingung keponakannya ini.

Dragon semakin tidak mengerti dengan ucapan Zargos. Siapa dia? Apa hubungan lelaki ini dengan keluarganya? Apa dia seorang pemberontak? Batinnya. Tawa Zargos seketika pecah, membuat kedua makhluk itu mentap heran kearah zargos. Ia berhenti tertawa lalu kembali berucap.

“ku rasa ibumu belum mengatakan tentang diriku. Apakah kau ingin tahu siapa aku? Baiklah. Mari kita berkenalan. Aku adalah Zargos. Pam…”

“hentikan omong kosongmu itu, dan pergilah dari sini sekarang juga” Allura. Tiba-tiba menyela ucapan Zargos membuat lelaki itu menyeringai menatap wajah kesal adiknya itu. allura lalu memandang kearah putranya yang masih menatap bingung dirinya. Ia tau setelah ini dirinya pasti dihujani ribuan pertanyaan dari putranya ini.

“kau…pergilah temui hyung dan juga deongsaengmu” ucap Allura pada anaknya. Bukan Dragon namanya jika ia menurut begitu saja, melihat Dragon yang sama sekali bergemi membuatnya mendesah kasar, anaknya memang susah sekali diberi pengertian jika ia sudah merasa penasaran akan sesuatu. Sampai ia mendapatkan apa yang dia inginkan jangan harap ia akan jadi anak penurut, ia anak yang sangat keras kepala.

“sepertinya aku memang harus pergi. dan aku menunggu kedatanganmu” ucapnya sarkas, tersenyum remeh dan menghilang begitu saja dari hadapan adik serta keponakannya itu.

Sekarang hanya tinggal mereka berdua, dengan Dragon menatap penuh Tanya. Menuntut penjelasan pada sang ibu.

-TBC-

 

Advertisements

8 thoughts on “OUR DESTINY [Chap. 2]

  1. ha..ha..cebol teriak cebol😝 daragon maupun jaedara moment’y ma sama ancuuuur k’gak ada akur’y😅
    cemungut ya bray bwt next’y💪

  2. jiyong bener2 manja ya…..ckckckck
    wkwkwkwk
    anak “eomma”.
    zargos? paman jiyong? ahhh…bikin penasaran nih authornya.
    next next next…ditunggu bgt kak.

  3. Hahahhaa cebol ngina cebol heloowww ji bener kta dara ku itu juga pendek gak nyadar kalik yak wkwk. Zargos?? Nugu?? Perany jahat kah? Di bca sekilas sprtinya iyaa.

  4. Hahaha jiyong dara bener” lucu ya sama” cebol masih aja saling ejek….. jaedara sahabatan tp sikapnya kaya tom and jerry bener” kocak deh nereka berdua….. jiyong klu sama ommanya manja bgt berbeda klu lg sm dara sih…. next chapnya jangan lama” ya kak makin penasaran sm siapa pamannya dragon itu deh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s