Ahjumma Next Door [Chapter 32] : Stay

Author        : silentapathy
link            : asianfanfics
Indotrans   : dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Apaaaaa??? Unni ada di Busan? Dan Jiyong oppa menyusulnya?” CL bertanya pada Seungri.

“Yah! Gendang telingaku!”

 

“Maaf… Tapi… Aisth! Ada apa sebenarnya?”

 

“Bertanyalah pada mereka setelah meraka kembali.” Kata Seungri sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Aaaahhh… Hari yang melelahkan! Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan disini?”

 

 

“Aku… Aku…” CL berpikir sejenak. “Aku datang kemari tadi pagi, pabo! Kupikir kamu memintaku untuk menjadi pelayanku sebagai imbalan sudah jadi pacar bohonganku. Tapi kamu tidak bilang apa-apa semalam. Jadi… Aku datang… Dan membawakan sarapan untukmu… Tapi kamu tidak ada di rumah. Jadi aku membawakanmu makan malam sekarang. Lagi pula, kesepakatan adalah kesepakatan. Aku tidak mau berhutang padamu.” Kata CL lalu mengalihkan wajah.

Seungri menyeringai. “Aku tidak tahu kamu sebegitu-inginnya menjadi submissive.”

 

“Kamu!” CL memukul lengan Seungri.

“AAAAAAARGHHH!” Seungri mengelus lengannya. “Tolong jangan pakai pukulan! Paling tidak untuk hari ini! Aku lelah dan badanku sakit semua!” Seungri memarahi CL.

“Apa yang kamu kerjakan memangnya?” CL merasa bersalah dan duduk disebelahnya.

“Bukan urusanmu! Psshhht. Memangnya kamu peduli?!” Katanya sambil bersandar dan menutup matanya dengan salah satu lengan/

CL berdiri dan membongkar isi tas berisi makanan yang tadi dia bawa. Dia lalu mengambil sepasang sumpit dan mengulurkannya pada Seungri.

“Makan!”

 

Seungri duduk dan memandang makanan di tangan CL lalu beralih ke wajah gadis itu.

“Makanlah sekarang, tuan, jadi Anda bisa beristirahat dengan baik setelahnya.” Kata CL sambil memutar bola matanya.

Seungri menggigit bibirnya mencoba menahan senyum lebar yang mengancam akan muncul, tapi dia tidak bisa. Tapi bukannya mengambil makanan dari tangan CL, dia malah mencubit pipi gadis galak itu hingga membuatnya tersipu.

“Yah!” CL langsung beralih. “Makan sekarang atau kubiran ini pada Daesung dan Yongbae oppa disebelah!”

“No way!” Seungri langsung menyambar makanan dari tangan CL dan berlari ke meja makan. “Pelayanku sayang, kenapa kamu tidak bergabung denganku?” ejeknya.

“Aku sudah makan.” Jawab CL sambil mengamati Seungri dari kejauhan.

CL tersenyum dan membiarkan dirinya menikmati melihat jiwa asli Seungri sudah kembali. Seungri yang tidak suka bermain-main dan tukang mengejek yang dia tahu.

“Tetaplah seperti itu rat… Aku tidak mau merasa canggung.” Katanya lirih sebelum mengirim pesan kepada Bom dan Minzy tentang informasi yang dia dapat dari Seungri.

==========

SPLASH!

 

 

“BICARALAH!” TOP berteriak kepada seorang pria yang sudah babak belur.

“Bunuh aku… Bunuh aku sekarang. Kamu tidak akan mendapatkan informasi apapun— AAAAAAAAAAAAAAAH!!!”

 

“Hyung hentikah!” Yongbae mendorong TOP saat TOP menyetrum pria itu sekali lagi. “Itu tidak akan berhasil.”

 

 

TOP menarik sebuah kursi dan duduk sebelum menoleh kepada anak buahnya. “Bawa dia ke Tablo hyung.”

 

“Baik pak.” Anak buahnya mengikuti perintahnya dan membawa pergi si pria babak belur.

 

“hyung, kamu tahu itu salah kan? Biarkan Tablo hyung yang melakukannya.” Kata Yongbae.

“Aku ingin ini cepat selesai… Sesegera mungkin.”

 

 

“Kamu tahu  itu tidak akan mudah…” Yongbae menepuk punggungnya.

==========

Jiyong berdiri didepan rumahnya. Ini memang bukan rumah besar yang bisa dipamerkan, akan tetapi ini adalah rumah kecil yang penuh dengan kebahagiaan orang-orang yang tinggal disana.

Tapi semuanya hancur berkeping-keping saat ayahnya gugur dalam misi bersama dengan ayah TOP. Dia masih ingat bagaimana ibunya terserang depresi dan setiap hari terus saja menangis. Hingga ibunya melupakan Jiyong, melupakan Hayi… Bahwa dia masih memiliki mereka, anak-anaknya. Dia baru pulang dari sekolah saat dia menemukan ibunya tewas didalam kamar. Karena bunuh diri.

Sejak saat itu dia bersumpah untuk menjadi polisi seperti ayahnya. Tapi dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya. Kali ini dia akan memastikan bahwa dialah yang akan melindungi keluarganya.

Dan begitu dia menjadi mewujudkan keinginannya menjadi polisi, dia mencurahkan semua perhatiannya. Jiyong menjauhkan diri dari Hayi dan bibinya Lydia, karena dia tahu pekerjaannya ini berbahaya.

Dia tidak pernah berpikir semuanya akan jadi seperti ini.

Mengepalkan jarinya erat, perlahan Jiyong melangkah melewati gerbang masuk rumahnya yang rusak.

==========

“Dara, aku sudah menyiapkan kamar diatas, kamu bisa beristirahat sekarang. Hayi sudah tidur. Ini hari yang berat untuknya.” Ujar Lydia.

“Ani… Aku akan menunggu sampai Jiyong datang… Dan kemudian aku akan pergi. Aku mungkin masih bisa mengejar bus, ajumoni.” Tolaknya.

“Aigoo… Aku pikir itu bukan ide yang bagus, Dara. Tinggallah meskipun hanya semalam, neh?”

 

“Aku… Aku harus pulang ke rumah, ajumoni. Orang tuaku tidak tahu tentang hal ini…” Dara menundukkan kepala, merasa bersalah karena dia tidak memberi tahu orang tuanya tentang hal ini.

“Aku tidak tahu tapi aku yakin Jiyong tidak akan mengijinkanmu bepergian jam segini. Jika kamu mau, akan bisa menelepon Hyunsuk.” Lydia menyarankan.

“Ani… Aku akan baik-baik saja, chincha.”

 

Lydia tersenyum padanya, tahu bahwa dia tidak akan pernah menang melawan Dara. “Kamu sama seperti ayahmu. Well, aku senang Hyunsuk akhirnya menemukan keluarganya. Dia sudah mencari ibumu selama bertahun-tahun dan siapa yang menyangka bahwa dia memiliki seorang putri secantik dirimu.”

 

Wajah Dara berseri mendengar penjelasan Lydia. “Semuanya datang begitu saja seperti sebuah kejutan. Aku bertemu dengan Jiyong terlebih dahulu dan melaluinya, aku bertemu dengan appa. Appa mengatakan padaku, bahwa dia bahkan membuntuti dan menyelediki tentangku karena dia penasaran dengan identitasku. Dan akhirnya semuanya jelas, bahwa dia benar selama ini saat harabeoji mengakui semuanya kepada kamu.”

 

“Aku turut berbahagia untukmu. Ayahmu itu pria yang sangat baik. Meskipun dia sedikit disiplin. Aku ingat suatu hari Jiyong kabur darinya dan kembali kemari dari Seoul. Kamu tahukan Jiyong itu berjiwa bebsa, dia tidak ingin dikekang. Dan tinggal bersama dengan ayahmu, dia pasti merasa seperti itu.” Lydia bercerita pada Dara membuat gadis itu tertawa. Dia tidak bisa membayangkan Jiyong tumbuh besar dibawah pengawasan Komisaris Besar Kesatuan Kepolisian Nasional Korea.

Tidak mengherankan jika ayahnya sedemikian mempercayai Jiyong.

“Ahjumoni…” Dara mengingat sesuatu. “Kumohon terimalah uangnya, neh?”

 

“Aigoo, Dara-yah… Uang itu merupakan bantuan yang sangat besar tapi mengenal Jiyong, aku pikir dia tidak akan menerimanya.”

 

“Kumohon jangan… Jangan memberitahunya tentang ini.”

 

 

“Apa yang tidak boleh aku ketahui, bibi?” Jiyong melangkah masuk mendekati mereka begitu dia melepas sepatunya.

“Omo! Jiyong!” Lydia berdiri dan memeluk keponakannya. Mata Jiyong memeriksa keadaan rumahnya. Pandangannya berakhir pada Dara yang juga berdiri dan menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya.

“Aigoo! Bagaimana kabarmu? Akhirnya kamu pulang.” Lydia mengacak rambut Jiyong.

Jiyong tidak mengatakan apapun. Wajahnya tidak menunjukkan emosi sama sekali dan menatap tajam kearah Dara.

“Kamu pasti lapar. Tunggu disini, aku akan mengambilkan sesuatu untuk kamu makan, neh?” Lydia memberitahunya dan Jiyong hanya bisa menanggapi dengan anggukan.

Begitu Lydia berada diluar jangkauan pandangannya, Jiyong langsung melemparkan tasnya ke lantai dan menarik Dara dalam pelukannya. Dara mencoba melepaskan diri, namun Jiyong memeluknya lebih erat.

“Jiyong…”

 

“Bagaimana jika para lintah darat itu masih disini, huh? Bagaimana jika—“

 

“Tidak ada siapapun disini saat aku sampai… Hanya ada bibimu…” jawab Dara. Jiyong kemudian melepaskan pelukannya dan membalikkan badan, menggaruk tengkuknya.

“H-h-ayi sudah tidur… Dia pasti sangat lelah.” Kata Dara.

“Berapa banyak aku berhutang padamu?” tanya Jiyong pada Dara, tidak menghiraukan perkataan Dara sebelumnya.

“I-itu bukan masalah. Aku yakin appa akan melakukan hal yang sama jika dia tahu…”

 

“Berapa banyak…” tanya Jiyong lagi.

“Jiyong!” Dara membentak dan mencoba membalik tubuh Jiyong agar menghadapnya dengan menarik lengannya.

“AAAAARRRGGHHH!”

 

“O-o-omo…” Dara menutup mulutnya. “A-apa…” Dara melihat ke tangannya yang terasa basah. Dia terkesiap saat melihat darah. Dan langsung mengalihkan pandangan dari telapak tangannya ke Jiyong, dan dia langsung menyadarinya.

Jiyong terluka parah dan berdarah.

Dengan cepat, Dara menarik jaket Jiyong, memaksa melepasnya, membuat Jiyong hampir menjerit kesakitan. “Maaf! Jangan bergerak! Kita harus melepas jaketmu ini!” Dara panik.

“Omo! Apa yang terjadi?” Lydia kembali dengan nampan berisi makanan dan meletakkannya disamping Jiyong.

“Jiyong! Kamu pabo! Apa yang terjadi?!” Lydia menjerit.

“Apa ada rumah sakit didekat sini?” tanya Dara,

“Tidak! Jangan… Aku akan baik-baik saja…”

 

“Berhenti bersikap keras kepala Jiyong! Kamu berdarah! Kamu… Kamu sangat pucat!” Kata Dara, matanya berkaca-kaca dan tangannya gemetar saat akhirnya dia berhadil melepas lengan jaket Jiyong lepas.

 

“Mari kita bawa Jiyong ke kamarnya diatas, Dara-yah. Setelah itu aku akan mencari dokter didekat-dekat sini.” Lydia memberi tahu Dara dan gadis itu langsung setuju.

==========

“Hyunsuk, aku sudah memberitahumu sebelumnya. Aku bersedia menjadi saksi dalam kasus Kim Dongwon. Dia adalah orang dibalik penyelundupan obat-obatan terlarang dari Jepang. Dia juga tahu tentang Akira. Kasino-kasino miliknya, digunakan sebagai kamuflase untuk menutupi bisnis kotornya.”

 

“Abeoji, kenapa Anda baru memberitahuku sekarang? Seharusnya kita bisa menyelesaikan kasus ini sebelumnya.”

 

“Dia akan membalas perbuatan kita… Aku mengenal pria itu.”

 

“Jangan khawatir abeoji. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus ini. Unit ivestigasi Seoul PD sudah mulai menangani kasus ini. Sebaiknya kita melihat perkembangannya. Dan kami akan memberikan perlindungan terbaik kepadamu, semampu kami.”

 

 

==========

“Neh… Arasso unnie.” CL meletakkan kembali teleponnnya kedalam saku.

“Yah rat, Dara unnie dan Jiyong oppa tidak bisa pulang malam ini. Unnie bilang ada emergensi. Apa yang sebenarnya terjadi.”

 

Seungri berdebat dengan dirinya sendiri sejenak. Bisakah dia mempercayai gadis ini? Haruskah dia menceritakan pada CL.

Tapi sebenarnya dirinyalah yang tidak bisa dia bercayai. Dia yang selalu membocorkan rahasia kelompoknya.

Menghentikan pikirannya bekerja lebih jauh, lelah karena kejadian yang terjadi hari ini, dia meletakkan kepalanya di pangkuan CL.

“Jangan berani bergerak.” Seungri mengancam/

“Aisht!” CL hanya bisa mencibir.

“Kamu tahukan kalau kami dari Seoul PD?”

 

“Neh…”

 

“Kami sedang dalam sebuah misi… Mulai hari ini.”

 

“Misi apa? Maksudmu seperti dalam film-film?”

 

“Ini aksi nyata… Menyenangkan sebenarnya. Tapi itu sulit. Aku kadang lupa untuk menghargai hidupku. Dalam pekerjaan ini, pilihannya adalah hidup si polisi atau si penjahat, memilih salah satu.”

 

 

“Kenapa kamu memilih pekerjaan ini?” tanya CL.

“Aku tidak pernah punya kesempatan untuk memilih. Ayahku yang memaksa. Satu-satunya yang menguatkanku adalah para hyung. Mereka membuat ini semua jadi lebih mudah.” Dia tersenyum saat mengatakan hal itu. Ingat bagaimana mereka bertahan saat di akademi kepolisian hingga akhirnya sekarang mereka sudah resmi menjadi anggota polisi.

“Hmm… Apa kamu mencoba menyadarkanku betapa beruntungnya aku?” tanya CL.

“Apa aku membuatmu merasa begitu? Well… Setiap orang punya masalah sendiri dalam hidupnya. Yang kukatakan sulit mungkin saja itu mudah bagimu dan begitu juga sebaliknya. Tapi aku selalu mencoba untuk melihat sisi positif dari semuanya. Aku juga terluka. Aku hanya tidak mau membesar-besarkannya. Seperti sekarang, Jiyong hyung kena tembak dan aku sangat mencemaskannya… Aku yakin kamu mengerti bagaimana rasanya. Sama seperti yang kamu rasakan malam itu pada Dara noon—“ Seungri mengerutkan alisnya saat dia mneyadari CL sudah tidak bereaksi lagi. Dia bangkit duduk dan tertawa melihat CL yang tertidur.

“Aigoo… Kamu baru saja melewatkan kesempatanmu untuk mendengarkan rahasia berhargaku.” Kata Seungri sambil menyelipkan beberapa helai rambut CL dibelakang teinganya. Kemudian dia menggendong CL ke kamar dan merebahkannya ke tempat tidur lalu keluar dan menempatkan dirinya sendiri di sofa.

==========

“Seunghyun? Bagaimana kabarmu? Kamu membuatku cemas seharian ini, aku belum mendengar apapun darimu. Apa kamu baik-baik saja?” Bom bertanya pada orang di ujung satunya. Ini sudah larut sebenarnya dan dia terbangun karena telepon dari TOP tapi gadis itu tidak peduli. Dia sudah menunggu pria itu menghubunginya seharian ini.

“Maaf aku hanya sedang sibuk… Dan… Maaf karena meneleponmu selarut ini… Aku… Aku hanya ingin mendengar suaramu.”

 

“Aigoo. Apa aku sedang bermimpi?” Bom menampar pipinya sendiri.

“Yah, berhenti melakukan itu, kamu tidak bermimpi.” Jawab TOP. “Bagaimana harimu?”

 

“Sibuk seperti biasa… Tapi gladi berjalan dengan baik…”

 

“Chincha? Hmmm… Tapi aku pikir seseorang menyebabkan sedikit penundaan karena melamun.”

 

Bom ternganga mendengar pernyataan TOP dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.

“A-a-apa… S-s-siapa…” Bom mencoba untuk bertanya tapi pipinya serasa terbakar karena malu.

“Hmmm… Eeny, meeny, miny, moe…” TOP bernyanyi menggoda.

“Aisht! Aku akan! Yah! Akan kubunuh kalian beriga!!!” Bom mengancam marah.

“Omona! Kamu bisa membangunkan seisi rumah! Lihat! Kamar disebelahmu lampunya menyala! Aigoo.”

 

“Bagaimana kamu—“

 

“Oops… Ketahuan.” TOP tertawa di ujung satunya. “Bisakah kamu keluar sebentar… Cukup dari balkon… Jika itu—“

 

TOP tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena dia melihat Bom melambaikan tangan dengan semangat padanya.

“Terima kasih, Bommie…” katanya lewat telepon. “Terima kasih…” dia tersenyum mendengar gadir itu terkikik.

==========

[Backsound : One of There Days by Michelle Branch]

 

Dara merapatkan selimut tebal menutupi tubuh Jiyong, mencoba menghangatkan Jiyong yang menggigil kedinginan.

Lydia sedang menemani dokter keluar dan begitu dia kembali untuk melihat keadaan Jiyong, keponakannya itu sudah tertidur.

Dengan tangan gemetaran, Dara meraba kening dan leher Jiyong untuk mengecek suhu tubuhnya berangsur normal. Dara mendesah lega saat merasakan Jiyong sudah tidak sepanas tadi.

Dara membiarkan matanya meneliti wajah Jiyong. Dia bisa melakukan itu karena sekarang Jiyong tidak bisa melihatnya. Mata Jiyong tidak menatapnya. Tidak menyedot kekuatannya.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Dara pada Jiyong, meskipun dia tahu pria itu sedang tertidur. “Kenapa kamu bisa kena tembak?” tanyanya lagi.

Dengan tidak yakin, Dara menjulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Jiyong, dia menunjuk pipinya seolah mengecek bahwa dia memang sungguhan. Dara membiarkan jarinya menelusuri garis rahang pria itu – menyadari betapa sempurnanya seolah dia adalah karya seni, wajahnya – ajaibnya untuk ukuran pria – sangatlah halus. Dia baru akan menyentuh bibir pria itu saat dia merasakan air mata jatuh dari sudut matanya sendiri.

“Kamu membuatku gila karena ciuman itu… Aku merasakan ribuan jarum menusuk hatiku saat melihatku bersamanya… Dan sekarang kamu membuatku khawatir setengah mati…” katanya sambil menghapus air matanya. “Kenapa kamu melakukan hal ini padaku? Aku bahkan tidak bisa memahami bagaimana perasaanku sendiri.”

 

Dara mencoba mengendalikan emosinya. “Aku harus pulang ke rumah. Kumohon mengerilah dan jangan marah padaku saat kita tidak bisa saling melihat satu sama lain di apartemen.” Katanya  masih terus menghapus air mata dengan punggung tangannya. “Kumohon cepatlah sembuh… Kumohon…”

 

Dara baru akan berdiri saat dirasakannya sebuah tangan memegang pergelangan tangannya. Dia melihat kebawah, sangat terkejut melihat Jiyong menatapnya intens.

Dara berkedip dan sedetik kemudian, dia merasakan Jiyong menariknya.

“Tinggal…” Jiyong memohon pada Dara dengan tatapan memelas. “Kumohon… Tinggallah…” Katanya dalam desahan.

Dara ingin menyembuyikan wajahnya. Karena rasa takut, malu, dan segala perasaan lain yang campur aduk dalam hatinya. Hatinya serasa jungkir balik, perutnya terasa tidak nyaman dengan semua kupu-kupu yang berterbangan, seolah baru lepas dari kurungan.

Dara menatap Jiyong, hilang sudah mata yang selalu menatap sekaligus menyedot semua kekuatannya. Melainkan, mata itu memohon. Memohon dan memelas padanya untuk menuruti keinginannya.

Dan untuk pertama kalinya, dia menyerah. Dara membiarkan dirinya dikuasai olah tatapan mata itu. Meskipun takut, dia tahu bagaimana rasanya berada didekat Jiyong – nyaman, dan itu baik bagi perasaannya. Dan dia tidak pernah merasa sebaik ini.

Tidak bisa lagi menahan emosinya, tanpa sadar Dara terisak hebat dalam pelukan Jiyong, semua rasa cemas dan takut yang tadi dia rasakan hilang oleh hangat pelukannya.

“Shhh… Kenapa kamu menangis lagi?” tanya Jiyong sambil membenarkan posisi Dara di tempat tidurnya, meletakkan kepalanya di bahu kirinya, tapi Dara bangun dari sana. “Kenapa?” tanya Jiyong.

“Aku… Aku akan menyakitimu…” kata Dara disela-sela isak tangisnya.

“Aisht… Dasar cengeng.” Jiyong tersenyum lemah. “Kamu tidak akan menyakitiku, jangan khwatir… Ppalli… Kemarilah… Kamu juga butuh tidur. Tinggallah disini malam ini neh? Kumohon…”

 

Perlahan… Dara bergerak dan membaringkan tubuhnya sekali lagi, mencoba mengacuhkan tatapan mata Jiyong.

“Lebih dekat…” Jiyong memberi tahu, tapi lebih terdengar seperti perintah… Dan Dara tanpa sadar menurutinya.

“Lebih dekat…” Jiyong kembali memberi tahunya dan Dara kembali menurut hingga dia bisa merasakan hangat tubuh Jiyong, dan itu membuatnya merinding sampai ke tulang belakangnya.

“Gadis pintar.” Kata Jiyong sambil memegang kepala Dara dengan tangannya dan menepuknya pelan.

Dara melirik kearah Jiyong dan menghembuskan nafas lega saat melihatnya sudah memejamkan mata. Rasanya menyenangkan berada dalam pelukan Jiyong, merasa dekat seperti ini, ini adalah anugrah bagi Dara.

“S-s-s-elaman malam… Cepatlah s-s-sembuh…” katanya sebelum memejamkan mata, akhirnya merasakan semua rasa lelah hilang dari tubuhnya dan perlahan merasa matanya semakin berat.

Jiyong menjawab dengan sebuah kecupan di puncak kepala Dara. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dia berpikir lain kali tidak masalah baginya tertembak, selama gadis ini akan berada disampingnya begitu dia pulang, menyentuhnya seperti ini.

Dan untuk malam ini, mereka melupakan tentang pro dan kontra tentang situasi mereka, apa yang benar dan yang salah, yang seharusnya terjadi dan yang tidak.

Dan bebas dari pikiran-pikiran itu serta membiarkan hati mereka berkata dan menutup mulut mereka, tidak disangka rasanya semenyenangkan ini.

==========

………………………………………………….……

~TBC~

<<back   next>>

Advertisements

43 thoughts on “Ahjumma Next Door [Chapter 32] : Stay

  1. Aishh jiyong oppa jangan ngebuat dara unnie jadi gagap gitu deh😄 sweet momen daragon😍 alien couple juga kangen kangenan nih ceritanya?😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s