Gonna Get Better [Chap. 11]

untitled-1

Author : rmbintang

Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

Kategory : Romance

Dara sedang mengoleskan lipstik pada bibirnya saat tiba-tiba dia mendengar suara ketukan pintu, Dara tidak bergerak dari posisinya namun menyuruh seseorang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. Beberapa detik kemudian dia mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.

“Kau sudah siap berangkat?” Dara mendengar suara neneknya.

“Sebentar lagi. Kenapa memangnya?” Jawab Dara tanpa mengalihkan perhatiannya yang saat ini masih bercermin.

Halmeoni akan pergi ke kuil tapi mobil tua itu sepertinya mogok lagi.” Ujar neneknya yang kini sudah duduk di pinggir tempat tidur Dara.

Halmeoni mau aku mengantarmu ke sana?” Tanya Dara kini sambil berbalik sehingga dia kini duduk menghadap neneknya. Dara mengangkat tangannya lalu melihat jam tangannya. “Tapi aku sudah sedikit terlambat.” Ujar Dara lagi ketika melihat waktu di jam tangannya.

“Kau tidak perlu mengantarku Dara.” Ujar neneknya sambil tersenyum. “Sopir yang akan mengantarkanku, kau cukup meminjamkan mobilmu saja.” Sambungnya lagi. Dara diam sebentar untuk berpikir lalu setelah beberapa detik dia langsung mengangguk.

“Baiklah kalau begitu!” Ujar Dara sambil tersenyum. “Halmeoni pakai saja mobilku!” Ujarnya lagi kini sambil berdiri lalu berjalan menuju nakas kemudian mengambil ponselnya. “Aku akan menghubungi Jiyong supaya dia bisa memberiku tumpangan.” Ujar Dara lagi kini sambil menggeser-geserkan layar ponselnya dengan perasaan berseri. Dara tersenyum ketika dia menemukan nomor kontak Jiyong lalu akan menyentuh tanda telpon saat neneknya berbicara.

“Kau tidak usah menghubunginya!” Ujar neneknya yang membuat Dara langsung menatapnya lalu mengerutkan kening.

“Kalau aku tidak menghubunginya bagaimana bisa aku sampai di kantor? Aku tidak bisa memakai bis karena aku sudah sedikit terlambat!” Ujar Dara sambil menatap neneknya dengan lekat.

Halmeoni sudah menyuruh seseorang untuk mengantarmu ke kantor.” Ujar neneknya kini sambil tersenyum. Dara kembali mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang neneknya katakan itu.

“Siapa?” Tanya Dara pelan yang hanya dibalas senyuman penuh arti dari neneknya. Dara awalnya tidak mengerti namun ketika dia melihat senyuman neneknya itu dia langsung sadar siapa orang yang neneknya maksud. “Halmeoni tolong jangan katakan bahwa halmeoni menghubungi pria brengsek itu?” Ujar Dara dengan mata yang dibuka sedikit lebar.

“Ssst!!” Ujar neneknya. “Kau tidak boleh menyebut dia dengan sebutan itu Dara. Jika dia mendengarnya dia pasti akan tersinggung. Kau harus menjaga sikapmu di hadapannya!” Dara hanya memutar bola mata ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh neneknya itu.

Halmeoni pokoknya aku tidak ingin berangkat bersamanya!” Ujar Dara yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang neneknya katakan barusan. “Aku akan menghubungi Jiyong!” Katanya lagi sambil kembali melihat ponselnya.

“Sayangnya kau tidak bisa menolak!” Ujar neneknya lagi yang kembali membuat Dara menatapnya. “Karena Donghae sudah menunggumu di bawah.” Sambungnya kini sambil berdiri dari tempat tidur Dara lalu berjalan melewati Dara yang kini sedang menatap neneknya dengan tatapan tidak percaya.

Halmeoni pasti sudah merencanakan hal ini.” Ujar Dara kepada neneknya yang kini sudah mencapai pintu kamar Dara.

“Jangan membuatnya menunggu terlalu lama dan jangan tunjukan wajah kesalmu kepadanya!” Ujar neneknya yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang Dara katakan barusan.

****

“Kenapa kau hanya diam saja?” Tanya Donghae yang kini sedang menyetir di kursi kemudi sedangkan di sampingnya ada Dara yang dari tadi hanya diam saja sambil menatap keluar jendela. “Apa kau tidak suka karena harus melihat wajah tampanku pagi-pagi seperti ini?” Tanyanya lagi kini dengan suara menggoda.

“Jika kau tahu kenapa kau harus bertanya.” Gumam Dara masih dengan tatapan yang menatap keluar jendela. Donghae langsung tertawa ketika mendengar apa yang Dara katakan itu.

“Jadi kau mengakui bahwa aku ini tampan huh?” Tanyanya lagi masih dengan tawa renyahnya. Dara langsung mengalihkan perhatiannya pada pria itu ketika mendengar apa yang dia dengar.

“Oh please!!! You know that is not what i meant.” Ujar Dara sambil memutar bola mata. “Aku tidak suka kau mengantarku jadi jika halmeoni memintanya lagi aku mohon kau bilang saja bahwa kau sibuk atau mempunyai urusan lain, pokoknya cari alasan untuk menolak permintaannya.” Ujar Dara lagi yang hanya ditanggapi senyuman oleh Donghae.

“Aku tidak bisa melakukan apa yang kau katakan itu.”

Wae?” Tanya Dara. “Apa susahnya sih?”

“Aku bisa kualat jika menolak permintaan nenek mertuaku.” Ujar Donghae kali ini sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Dara yang membuat Dara mual setengah mati.

“Jangan menyebut nenekku dengan sebutan itu.” Ujar Dara memperingati dengan sedikit mendengus. “Dan kau jangan pernah lagi memanfaatkan nenekku untuk mendekatiku!” Ujar Dara lagi kini dengan tatapan sebal.

“Apa yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti!”

“Oh please jangan berpura-pura dungu saat ini.” Ujar Dara. “Kau meminta halmeoni untuk menyuruhku menemanimu pergi ke pesta besok malam. Aku tidak suka kau menyuruh nenekku dengan seenaknya seperti itu.”

“Oh masalah itu!” Ujar Donghae sambil menganggukan kepalanya. “Aku tidak punya pilihan lain karena kau sama sekali tidak pernah mengangkat telponku, bahkan pesanku tidak pernah kau baca jadi aku terpaksa meminta bantuan halmeoni. Lagipula kau harus mulai terbiasa untuk menemaniku pergi ke pesta, apalagi jika kita sudah resmi bertunangan maka kau harus bersiap karena jadwalmu pasti akan sangat padat.”

“Yah apa maksud perkataanmu itu huh?” Tanya Dara dengan sedikit sewot. “Jangan pernah bermimpi aku mau bertunangan dengan pria sepertimu!”

Wae?”

“Aku tidak mau saja!” Ujar Dara. “Lagipula kau sudah punya kekasih, kan?”

“Memangnya jika aku tidak punya kekasih apa kau mau bertunangan denganku?”

No! Never!”

“Kenapa kau menolak bertunangan dengan pria tampan sepertiku?” Tanya Donghae lagi. “Apa karena kau punya kekasih?” Dara diam saat Donghae menanyakan hal itu dan itu membuat Donghae langsung tertawa. “Dara-ah apa susahnya menerima perjodohan kita? Lagipula kedua keluarga kita sudah sangat setuju dengan rencana ini.”

“Lalu apa karena keluarga kita setuju lantas kita bisa menikah?” Tanya Dara. “Lagipula mereka bukan keluargaku.” Sambung Dara kini dengan suara menggumam tapi itu tidak luput dari indera pendengaran Donghae yang membuatnya untuk sesaat mengerutkan kening. “Pokoknya aku menolak keras perjodohan ini dan aku sama sekali tidak mau menikah denganmu. Titik!” Ujar Dara lagi membuat Donghae kembali memfokuskan perhatiannya kepada Dara.

“Yah kenapa kau sudah menolakku? Padahal aku kan belum melamarmu!” Ujar Donghae lagi yang tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang gadis itu ucapkan. Dara akan kembali berbicara saat Donghae tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.

“Kenapa kau berhenti?” Tanya Dara yang dari tadi tidak melepaskan pandangannya pada Donghae.

“Kita sudah sampai di tempat kerjamu!” Ujar Donghae sambil menunjuk ke belakang Dara dengan dagunya. Dara langsung berbalik lalu mengedarkan pandangannya lalu sadar bahwa dia sudah berada tepat di depan gedung kantornya.

“Aku tidak sadar bahwa kita sudah sampai!” Ujar Dara kini sambil mengambil tasnya yang dia taruh di jok belakang.

“Kau tidak sadar huh? Apa mungkin karena kau terlalu nyaman saat bersamaku hingga kau tidak sadar waktu berlalu dengan cepat?” Ujar Donghae, dia tersenyum menggoda sambil menaikan salah satu alis matanya yang membuat Dara kembali memutar bola mata.

Anyway thanks karena telah mengantarku.” Ujar Dara kini sambil melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Dia akan membuka pintu mobilnya saat tiba-tiba Donghae mengulurkan sesuatu kepadanya. Dara menurunkan pandangannya lalu matanya langsung berbinar ketika melihat apa yang pria itu pegang saat ini.

“Ini untukmu, salam perkenalan dariku.” Dara mengalihkan tatapannya kepada Donghae ketika mendengar apa yang pria itu katakan. Donghae lalu menaruh benda itu tepat di pangkuan Dara kemudian langsung mengulurkan tangannya. “Annyeong! Namaku Lee Donghae. Nona Park, apakah aku bisa menjadi temanmu?”

Dara Pov

Aku menghembuskan nafas lega saat akhirnya jam menunjukan pukul lima petang yang berarti bahwa jam kantor sudah selesai. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi di belakang lalu memijat keningku dengan sebelah tangan untuk menyegarkan kembali tubuhku yang sudah lelah karena seharian bekerja. Setelah merasa lebih baik aku lalu menegakkan posisi dudukku lagi kemudian mulai membereskan meja kerjaku yang sedikit berantakan.

Setelah membereskan meja aku lalu mengambil ponselku untuk memainkan game sambil menunggu Jiyong datang. Malam ini kami memiliki janji untuk pergi bersama, aku sudah memutuskan bahwa aku ingin menonton sebuah film dengannya lalu kami bisa makan malam di restoran yang Jiyong pernah ingin tunjukan kepadaku. Aku terus tersenyum ketika menunggu kedatangannya. Aku tidak sabar untuk bisa pergi dengannya

Aku terus bermain game sampai aku tidak sadar bahwa waktu terus bergerak, ketika aku melihat jam ternyata sudah hampir lima belas menit berlalu namun Jiyong belum datang. Aku lalu mengeluarkan aplikasi game itu kemudian mencari nama Jiyong lalu menghubunginya. Aku mendengar telponku tersambung namun Jiyong belum mengangkat panggilanku. Aku mencoba sekali lagi namun Jiyong masih belum mengangkat telpon dariku membuatku sedikit merenggut.

Aku memutuskan untuk menemui Jiyong di ruangannya karena mungkin saja dia masih belum menyelesaikan pekerjaannya. Setelah sampai di ruangan Jiyong aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan di sana aku melihat Jiyong yang kini sedang berbicara dengan Tiffany sambil memegang beberapa berkas. Mereka berbicara dengan pandangan fokus pada layar komputer, mereka terlihat sangat serius sampai tidak menyadari kehadiranku.

“Jiyong!” Ujarku yang langsung membuatnya mengalihkan perhatiannya.

“Dara?” Tanya Jiyong setelah dia melihatku.

“Aku menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya.” Ujarku sambil sedikit merenggut.

“Ah mianhae, aku tidak tahu kau menghubungiku!” Jiyong menatapku sebentar sebelum dia berbicara dengan Tiffany dan menyuruhnya menunggu sebentar. Setelah wanita itu mengangguk Jiyong langsung berdiri dari tempat duduknya. “Ada apa kau kemari?” Tanyanya sambil berdiri kemudian berjalan kearahku.

“Ada apa?” Tanyaku balik dengan sedikit tidak percaya. Please, jangan katakan bahwa dia lupa bahwa kami memiliki janji malam ini. “Jangan bilang kau lupa dengan rencana kita malam ini!” Kataku sambil menyilangkan tangan di depan dada. Jiyong membulatkan matanya lalu menatapku dengan tatapan memohon maaf.

“Aku tidak lupa Dara, aku hanya tidak ingat bahwa hari ini adalah hari jumat.” Ujar Jiyong. “Mianhae.” Aku menggelengkan kepala.

“Jangan minta maaf!” Ujarku. “Cepat bereskan barangmu lalu pergi dari sini. Aku ingin menonton film yang waktu itu Bom ceritakan kepada kita.”

“Pekerjaanku belum selesai!” Ujar Jiyong. “Dan sebentar lagi aku dan Tiffany harus rapat dengan Kim Sajang.” Sambungnya.

“Aku akan menunggumu!” Ujarku sambil mengedikan bahu.

“Aku takut ini akan lama Dara.” Jiyong mengangkat tangannya lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.

“Jadi apa maksudmu acara kita malam ini batal?” Tanyaku dengan sedikit kecewa.

“Apa kau keberatan jika kita pergi besok saja?” Aku langsung menggelengkan kepalaku.

“Aku harus pergi ke suatu tempat besok malam!” Ujarku.

“Kalau begitu kita bisa pergi sebelum kau pergi ke tempat itu.” Ujar Jiyong lagi, namun aku kembali menggelengkan kepala.

“Baiklah kalau kau tidak ingin pergi malam ini.” Kataku lagi sebelum berbalik lalu akan melangkah untuk meninggalkan ruangannya ketika aku merasakan Jiyong menahan tanganku.

“Kau mau ke mana?”

“Kau tidak bisa pergi denganku jadi aku akan pergi sendiri oke? Sekarang tolong lepaskan tanganku!”

“Aku bukannya tidak ingin Dara, kau tahu aku tidak bisa!” Ujar Jiyong dengan mata yang menatap tepat pada mataku. “Aku mohon mengertilah!”

Arasseo.” Ujarku sambil menganggukan kepala. “Aku mengerti!”

“Kau tidak mengerti, kau marah!” Ujar Jiyong yang aku balas dengan sedikit tertawa.

“Aku tidak marah. Aku tidak punya hak untuk marah kepadamu hanya karena hal ini.” Ujarku kini sambil melepaskan tanganku yang masih Jiyong tahan lalu sekali lagi berbalik kemudian berjalan meninggalkan Jiyong.

Aku tidak berbalik atau menghentikan langkahku ketika aku mendengar Jiyong terus memanggil namaku, aku hanya takut Jiyong tahu bahwa aku benar-benar kecewa karena dia membatalkan acara kami malam ini, aku tidak ingin Jiyong tahu bahwa aku sedikit terluka sekarang. Apa ini juga yang Jiyong rasakan ketika aku meninggalkannya dan memilih pergi dengan Soohyuk malam itu? Apa ini adalah cara Jiyong untuk membalasku?

****

Aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke bioskop sendirian, aku belum ingin pulang ke rumah karena tidak ingin mendengarkan nenekku yang pasti akan terus membahas tentang rencananya menjodohkan aku dengan Donghae. Dia terus membahasnya sejak aku setuju untuk menemani Donghae ke pesta temannya.

Omong-omong tentang pria itu aku jadi teringat coklat yang tadi dia berikan kepadaku saat dia mengantarku ke kantor. Dia memberikan coklat itu sebagai salam perkenalannya denganku karena waktu pertama kali kami bertemu kami melakukannya dengan tidak benar.

Aku langsung tersenyum ketika mengingat kejadian itu, aku bahkan menyiramnya dengan air dingin. Aku mengingat kata makiannya kepadaku saat aku pergi meninggalkan meja kami setelah aku menyiramnya. Aku pikir dia menyerah setelah kejadian itu karena laki-laki lain biasanya langsung menyerah dan mengatakan bahwa aku adalah wanita kasar tapi ternyata Donghae tidak melakukan hal itu, dia bahkan mengatakan bahwa dia ingin menjadi temanku.

Bip bip. Aku yang sedang menunggu pintu studio bioskop dibuka langsung merogoh ponselku untuk melihat pesan masuk yang ternyata datang dari Jiyong.

            From : Freak Jiyong

            Mianhae, kau di mana?

Setelah membaca pesannya aku lalu kembali memasukan ponselku ke dalam tas karena tidak berniat untuk membalas pesannya. Aku sebenarnya tidak marah karena Jiyong membatalkan rencana kami malam ini. Aku hanya merasa sedikit kecewa dan sedih, apalagi karena dia hanya ditemani oleh wanita sialan itu. Aku merasa Jiyong lebih memilih untuk bersamanya dibanding menemaniku. Memikirkan Jiyong memilih wanita lain dibandingkan aku membuat perasaanku benar-benar terluka.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu studio itu dibuka. Tanpa menunggu waktu lama aku lalu langsung masuk ke dalam studio itu yang kini baru beberapa orang yang masuk. Aku duduk di kursi yang berada di tengah pada row paling belakang. Aku menaruh minuman dan popcorn pada tempatnya lalu menyimpan tas pada kursi sampingku karena kursi itu sudah aku booking, aku sengaja membeli tiga tiket sehingga tidak perlu bersebelahan dengan orang asing.

Sembari menunggu film itu mulai diputar aku membuka aplikasi instagram milikku lalu melihat postingan yang muncul di timeline dan memberikan love pada beberapa postingan yang aku suka.

Ketika terus menggeser ke bawah tiba-tiba aku melihat gambar yang Chaerin posting di akun miliknya. Di gambar itu dia sedang tersenyum dengan Soohyuk yang memeluknya dari belakang. Tiba-tiba sebuah senyuman simpul tersungging di bibirku ketika melihat gambar itu, ini adalah untuk pertama kalinya aku merasa senang ketika melihat mereka berdua, karena biasanya hatiku akan sakit jika melihat kebersamaan mereka. Namun kini aku bisa tersenyum dan ikut merasakan kebahagian mereka. Apakah ini artinya bahwa aku sudah benar-benar melupakan Soohyuk dan merelakannya bahagia dengan Chaerin? Aku sangat berharap bahwa itu adalah yang terjadi.

Ketika filmnya diputar, aku langsung mematikan ponselku lalu menyimpannya ke dalam tas. Aku memang selalu mematikan ponselku ketika sedang menonton film sehingga aku bisa fokus menonton tanpa ada gangguan. Aku menonton sambil memegangi popcorn sehingga aku bisa mudah memakannya.

Ketika hampir seperempat jalan film itu diputar tiba-tiba aku merasakan seseorang duduk di kursi yang telah aku booking. Aku mengerutkan keningku karena seharusnya orang lain tidak boleh duduk di kursi itu. Aku akan berbalik untuk memberitahu orang itu bahwa dia salah tempat duduk saat tiba-tiba aku merasakan tempat popcorn-ku diambil oleh orang itu.

Tanpa menunggu waktu lama aku langsung melirik orang itu lalu langsung membulatkan mataku ketika melihat seseorang yang sudah sangat aku kenal sekarang duduk di tempat itu sambil memakan popcorn milikku sedangkan matanya fokus pada layar di depan kami.

“Kenapa kau di sini?” Tanyaku dengan suara bingung.

“Ssstt.” Ujar Jiyong sambil melirik kepadaku. “Pelankan suaramu, kau mengganggu orang lain.” Sambungnya dengan suara pelan.

Ottokeo?” Tanyaku lagi kini dengan suara pelan. “Bukannya kau tidak bisa menemaniku?” Tanyaku lagi masih dengan mata yang fokus menatapnya.

“Aku akan menjelaskannya nanti!” Ujar Jiyong lagi. “Sekarang kita nikmati dulu film-nya.” Tempat ini memang gelap tapi itu bukan berarti aku tidak bisa melihat senyuman yang dia sunggingkan. Aku kembali pada posisiku semula dan tiba-tiba senyuman simpul langsung tersungging di sudut bibirku. Lagi, perasaan aneh itu muncul lagi. Perasaan yang hanya aku rasakan saat aku sedang bersama dengan Jiyong.

****

Jiyong Pov

Aku menyerahkan sapu tanganku kepada Dara ketika aku mendengarnya sedikit terisak ketika kami sedang menonton sebuah film. Dara memang sangat sensitif jadi dia bisa dengan mudah menangis hanya karena menonton film sedih. Dara melirik kepadaku sebelum dia mengambil sapu tangan itu.

“Jangan tertawa!” Ujarnya dengan suara mengancam ketika dia menatapku, aku memang selalu ingin tertawa ketika melihat Dara menangis hanya karena hal ini.

“Aku tidak tertawa.” Ujarku sambil menggelengkan kepala. Dara mendengus sebelum dia kembali menatap pada layar.

Aku dan Dara sedang menonton film. Seharusnya aku tidak berada di sini sekarang. Aku tadi sedang melakukan rapat dengan atasanku namun aku sama sekali tidak bisa fokus karena pikiranku terus tertuju kepada Dara. Dia terlihat marah dan kecewa karena aku tidak bisa menemaninya. Melihat wajah sedihnya itu membuatku merasa sangat tidak enak sehingga akhirnya aku meminta kepada atasanku untuk membatalkan rapat itu.

Aku segera menghubungi Dara setelah aku keluar dari ruangan rapat namun dia tidak membalasnya, ketika aku menelpon ternyata nomornya sedang tidak aktif. Dara memang selalu mematikan ponselnya ketika dia sedang menonton film jadi aku langsung memutuskan untuk menyusulnya ke bioskop karena Dara mengatakan bahwa dia sangat ingin menonton sebuah film.

Ketika tiba di bioskop aku langsung membeli tiket, walaupun pegawainya bilang bahwa film-nya sudah dimulai beberapa menit tapi aku tidak peduli karena aku datang ke sini bukan untuk menonton film tapi untuk menemani Dara jadi setelah memberikan tiket pada petugas yang menunggu di depan pintu studio aku langsung masuk lalu menuju kursi paling belakang karena aku tahu Dara selalu memilih kursi paling belakang ketika dia menonton film.

Ruangan itu memang gelap tapi aku dengan mudah bisa menemukan tempat duduk Dara yang berada tepat di tengah. Aku tersenyum karena bisa menemukannya lalu berjalan pelan kearahnya yang fokus pada layar di depannya. Tanpa bersuara aku langsung duduk di kursi kosong di sampingnya lalu mengambil popcorn yang sedang dia pegang. Aku yang menatap lurus ke depan bisa merasakan ketika Dara melirikku lalu sedikit terkejut ketika melihat kedatanganku.

Setelah film-nya selesai aku dan Dara langsung keluar dari studio.

“Aku ingin ke restroom dulu.” Ujar Dara saat kami keluar dari pintu keluar studio. Aku mengangguk kemudian berjalan bersamanya sampai dia masuk ke dalam restroom. Aku menunggunya di luar sambil menyandarkan tubuhku pada tembok.

Aku menutup mataku, mencuri waktu untuk mengistirahatkan tubuhku sambil menunggunya keluar. setelah beberapa detik tiba-tiba aku merasakan bahuku di sentuh oleh seseorang. Aku pikir itu Dara jadi aku langsung membuka mataku lalu menegakan tubuhku namun ternyata itu bukan Dara tapi seorang wanita yang tidak aku kenal.

Oppa.” Ujarnya ketika aku menatapnya. “Aku tadinya ragu ketika melihatmu, tapi ternyata ini benar-benar kau.” Ujarnya lagi sambil tersenyum. aku mengerutkan kening karena sedikit bingung.

Nuguseyo?” Tanyaku masih dengan kening berkerut. Wanita itu langsung tertawa.

“Yah apa kau melupakan aku?” Tanyanya masih sambil tertawa.

“Maaf tapi aku benar-benar tidak mengenalmu.” Kataku lagi dan wanita itu malah kembali tertawa.

“Kita bertemu di pesawat menuju Kanada musim semi tahun lalu. Aku duduk di sampingmu dan kita menghabiskan perjalanan kita dengan mengobrol sampai pesawat kita sampai di tujuan.” Katanya menjelaskan namun aku sama sekali tidak ingat. “Aigoo bagaimana kau bisa lupa denganku padahal waktu itu kita bahkan sempat beberapa kali bertemu selama kau menyelesaikan pekerjaanmu di sana.”

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak ingat.” Kataku jujur. Dia kembali tersenyum lalu mengedikan bahunya.

Nevermind.” Ujarnya. “Kalau begitu apakah aku bisa meminta nomor ponselmu?” Tanya wanita itu lagi. “Aku sekarang tinggal di Seoul jadi mungkin kita bisa minum kopi sesekali.” Katanya lagi, dia tersenyum malu sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Aku akan mengatakan sesuatu ketika aku tiba-tiba mendengar suara Dara yang ternyata sudah keluar dari restroom.

“Sedang apa kau di sini?” Tanyanya dengan tatapan tajam. “Ayo kita pulang!” Ujar Dara lagi sambil merangkulkan tangannya pada lenganku lalu menyeretku pergi melewati wanita itu yang hanya menatap kami dengan sedikit bingung. “Siapa wanita tadi?” Tanya Dara setelah kami keluar dari bioskop. Kami sekarang berjalan dengan tangannya yang masih melingkari lenganku. Kami berjalan seperti sepasang kekasih karena hal itu.

“Aku tidak tahu!” Kataku sambil mengedikan bahu, aku tersenyum karena Dara masih belum melepaskan tangannya.

“Kenapa kau berbicara dengan orang asing?” Tanya Dara, aku merasakan dia melirikku sebentar sebelum kembali mengalihkan tatapannya lurus ke depan. “Apa kau sedang merayunya? Apa wanita itu korbanmu yang baru?”

Anni.” Ujarku. “Aku tidak mengenalnya atau bisa aku katakan aku lupa dengan wanita itu tapi dia bilang bahwa kami pernah bertemu di pesawat dan pernah beberapa kali bertemu.”

“Oh.” Ujarnya pelan. “Jadi dia salah satu partner one night stand-mu?” Tanya Dara lagi.

“Apa kau sedang mengintrogasiku?” Tanyaku kini sambil memiringkan wajahku lalu menatapnya. Dia menghentikan langkahnya yang membuatku ikut menghentikan langkah kakiku.

“Aku hanya bertanya.” Ujarnya.

“Tapi kenapa aku merasa bahwa kau sedang mengintrogasiku? Seperti yang dilakukan oleh seorang wanita ketika melihat kekasihnya tertangkap basah berbicara dengan wanita lain?” Tanyaku, Dara diam selama beberapa saat sambil menatapku sebelum dia mengalihkan pandangannya lalu melepaskan rangkulan tangannya di lenganku.

“Aku lapar.” Katanya sambil berjalan lagi, kini meninggalkan aku yang masih diam di tempatku berdiri sambil menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Apa ini hanya pemikiranku saja? bahwa setiap kali Dara melihatku dengan wanita lain Dara pasti akan bertanya dengan nada protektif, seolah dia tidak suka dengan hal itu. Apa ini hanya pemikiranku saja ketika aku mengira bahwa Dara juga menyukaiku? Apa ini hanya pemikiranku saja ketika aku merasa bahwa Dara selalu menyangkal dan menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya?

****

Aku akhirnya membawa Dara ke bistro yang dulu aku pilih untuk menjadi tempatku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku memilih tempat duduk yang sama persis seperti waktu itu. Aku tersenyum miris ketika kembali menginjakkan kakiku di tempat ini. Karena secara perlahan luka saat Dara meninggalkan aku malam itu kembali aku rasakan, bahkan aku masih bisa mengingat ketika aku berbicara sendiri di meja ini.

“Tempatnya sangat bagus!” Aku langsung menatap Dara yang sedang tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat ini. Dia terlihat sangat senang. “Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?” Tanya Dara lagi kini dengan tatapan yang penuh kepadaku. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku sengaja mencari tempat ini khusus untuknya, karena dia pasti akan menyukainya.

“Aku menemukannya begitu saja.” Kataku akhirnya. Dara tersenyum manis sebelum dia mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya pelayan itu sesaat setelah dia sampai di meja kami.

“Kami ingin memesan.” Ujar Dara sambil membuka buku menu. Dara lalu mengatakan pesanannya kepada pelayan itu kemudian menanyakan apa yang ingin aku pesan. pelayan itu mengulang semua pesanan kami lalu akan pergi saat tiba-tiba dia melihatku lalu tersenyum.

“Wah bukankah anda yang dulu berbicara sendiri di sini?” Tanya pelayan itu dengan mata berbinar. Aku mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan pelayan itu.

“Berbicara sendiri?” Tanya Dara dengan wajah sedikit bingung sambil menatapku lalu beralih pada pelayan itu. pelayan itu mengangguk antusias.

“Tuan ini pernah datang kemari beberapa waktu yang lalu. Dia duduk persis di tempat ini, dia memesan menu untuk dua orang namun dia hanya sendirian kemudian dia mulai berbicara sendiri untuk latihan casting.”

“Casting?” Tanya Dara lagi yang pelayan itu kembali balas dengan anggukan.

“Tuan apakah casting-nya berhasil? Aku yakin kau pasti mendapatkan peran itu karena saat latihan waktu itu kau melakukannya dengan sangat baik. Aku mengira bahwa kau sedang marah sungguhan, aku bahkan bisa merasakan luka dari suaramu waktu itu.” Ujar pelayan itu lagi yang hanya aku tanggapi dengan senyuman seadanya. “Wah pesanan anda bahkan sama persis seperti malam itu. Steak rare dan anggur ini.” Kata pelayan itu lagi. Dara terus menatapku ketika pelayan itu berbicara. “Ah maaf, aku terlalu banyak berbicara.” Ujar pelayan itu sambil membungkuk. “Mohon tunggu sebentar, pesanan anda akan segera kami proses.” Ujar pelayan itu lagi sebelum dia pergi dari meja kami.

Setelah pelayan itu pergi yang tersisa sekarang hanya keheningan. Aku bisa merasakan Dara terus menatap kepadaku, sedangkan aku tidak bisa menatap kepadanya karena aku takut Dara dapat melihat luka yang kini aku rasakan ketika mengingat malam itu, mengingat semua yang telah dikatakan oleh pelayan itu.

“Jiyong?” Tanya Dara tiba-tiba setelah kami dilanda keheningan selama beberapa saat. Aku ingin terus menghindari tatapannya namun saat mendengar suaranya hatiku kembali lemah dan dengan perlahan aku memaksa diriku untuk menatapnya. “Apa kau datang ke sini waktu itu?” Tanya Dara ketika aku menatap matanya. “Wae?” Tanyanya lagi karena aku hanya diam. “Apa kau memesan menu untuk dua orang karena berharap aku akan datang?” Tanya Dara kini dengan suara tercekat. “Kenapa kau memesan menu itu padahal kau tidak suka rare steak? Apa kau memesan semua itu karena aku menyukainya?” Tanya Dara lagi dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari mataku. Aku diam sama sekali tidak bisa menjawab apa yang Dara tanyakan itu karena aku tahu bahwa dengan sorot mataku saja sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaannya.

****

Now Playing – Down For You, Kehlani

Setelah menghabiskan makan malam, Jiyong dan Dara memutuskan untuk keluar dari bistro. Mereka berdua berjalan dengan keheningan yang menemani mereka bahkan sejak mereka berada di dalam bistro.

Jiyong tidak bisa mengatakan apapun untuk menjelaskan apa yang telah dikatakan oleh pelayan kepada Dara tadi, begitu juga dengan Dara yang sama sekali tidak tahu harus melakukan apa setelah tahu bahwa Jiyong sangat terluka karena keegoisannya malam itu.

Dara tidak pernah mengira bahwa luka yang telah dia torehkan begitu dalam sehingga bisa membuat pria yang selalu dia anggap tegar dan kuat ini ternyata diam-diam menyimpan lukanya sendirian. Jiyong terluka namun dia sama sekali tidak menunjukkannya kepada Dara dan bertingkah semua telah baik-baik saja. Sekali lagi Dara merasa telah menjadi orang yang sangat egois karena tidak pernah peduli terhadap luka yang telah dia sebabkan kepada seseorang yang selalu dia anggap berarti.

“Aku akan mengantarmu pulang!” Ujar Jiyong sesaat setelah mereka masuk ke dalam mobil Jiyong. Dara awalnya mengangguk lalu dia langsung menatap Jiyong yang saat ini sedang menghidupkan mesin mobilnya.

“Jiyong aku belum ingin pulang. Apakah kita bisa pergi ke apartemenmu saja?” Tanya Dara dengan sedikit ragu. Jiyong hanya diam dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa Dara baca namun beberapa detik kemudian Jiyong akhirnya mengangguk.

Setelah tiba di apartemennya, Jiyong langsung menyuruh Dara masuk ke dalam.

“Aku akan pergi mandi dulu. Lakukan saja apapun yang kau inginkan di sini, kau bisa mengambil minuman sendiri di kulkas jika kau ingin minum.” Ujar Jiyong Sambil menaruh tas Dara di atas sofa.

“Oh.” Ujar Dara ketika Jiyong berbalik lalu menatapnya. Jiyong tersenyum kepada Dara sebelum meninggalkan gadis itu untuk membersihkan dirinya.

Setelah Jiyong masuk ke dalam kamarnya, Dara langsung mengambil minuman bersoda di dalam mesin pendingin. Dara membuka kaleng soda itu sambil berjalan pelan, menyusuri semua sudut tempat tinggal Jiyong. ini bukan pertama kalinya Dara datang ke sini, namun ini pertama kalinya dia melakukan hal ini.

Dara terus berjalan sampai dia mencapai balkon apartemen Jiyong. Dia merendahkan tubuhnya lalu duduk bersandar pada jendela kaca, dia menatap langit yang malam ini terasa sangat gelap karena hanya ada sedikit bintang malam ini. Dara lalu menghirup udara malam sambil memejamkan matanya secara perlahan. Awalnya dia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar namun dia malah tertidur.

Setelah selesai mandi dan memakai kaos dan celana training, Jiyong langsung keluar dari dalam kamarnya untuk menemui Dara yang sedang menunggunya. Jiyong sedikit mengerutkan keningnya karena tidak mendapati Dara di ruang tengah maupun di ruang tamu. Jiyong lalu menuju ke dapur namun Jiyong masih belum melihat Dara. Jiyong sempat berpikir bahwa Dara mungkin pulang ketika dia sedang mandi namun pemikirannya langsung hilang saat dia masih melihat tas Dara di atas sofa.

“Dara?” Jiyong memanggil nama wanita itu dengan lembut sambil berjalan kearah balkon apartemennya untuk menutup pintunya karena udara malam ini terasa sangat dingin. Saat akan menutup pintu kaca itu saat itulah Jiyong melihat Dara yang sedang bersandar pada tembok sambil memeluk kedua lututnya, sedangkan matanya kini tertutup rapat.

Jiyong kembali masuk ke dalam apartemennya lalu mengambil selimbut kecil. Jiyong lalu kembali ke balkon setelah menemukan selimbut untuk menutupi tubuh Dara. Jiyong tersenyum simpul lalu berjalan pelan menuju pada wanita yang sangat dia kagumi itu.

Jiyong duduk di samping wanita itu kemudian menutup tubub Dara dengan selimbut yang tadi dia bawa. Jiyong lalu memiringkan wajahnya untuk kembali memperhatikan wajah damai Dara saat wanita itu sedang terlelap. Tanpa sadar tangannya terangkat lalu mengusap pelan rambut Dara yang membuat Dara sedikit menggumam lalu beberapa detik kemudian wanita itu membuka matanya.

“Kau sudah selesai mandi?” Tanya Dara dengan mata yang masih berat. Dia mengucek kedua matanya untuk menghilangkan rasa kantuk. Setelah beberapa saat Dara akhirnya menegakan tubuhnya lalu sadar dengan tangan Jiyong yang sekarang sedang memegangi kepalanya. Dara langsung mendongkak untuk menatap Jiyong yang disambut senyuman hangat pria itu.

“Kenapa kau tidur di sini?” Tanya Jiyong. Jiyong masih mengusap lembut rambut Dara, tidak lagi peduli dengan apa yang akan wanita itu pikirkan karena toh Dara sudah tahu semuanya. “Kalau kau ingin kau bisa tidur di kamarku!” Ujar Jiyong lagi dan hal itu tiba-tiba membuat pipi Dara memanas lalu merona yang membuat Jiyong langsung tertawa. “Kenapa dengan wajahmu huh? Apa kau merona karena apa yang aku katakan?” Tanya Jiyong lagi yang membuat Dara langsung menangkub wajahnya dengan dua tangan.

Anni.” Jawab Dara sambil menggeleng. “Aku tidak merona, wajahku memerah karena aku kedinginan.” Elak Dara lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Jiyong namun bibirnya masih tersenyum karena alasan yang Dara katakan itu.

“Dingin ya?” Tanya Jiyong. “Kau ingin masuk ke dalam dan menghangatkan tubuhmu? Aku bisa membuatkan ramen panas untukmu.” Ujar Jiyong lagi yang Dara balas dengan gelengan.

“Aku suka di sini.” Ujarnya sambil menurunkan tangannya lalu kembali menyandarkan tubuhnya di tembok. Jiyong tersenyum lagi lalu melakukan hal yang sama. Mereka duduk bersebelahan sambil menatap pemandangan kota yang terhampar di depan mereka. “Kenapa kau menyusulku? Bagaimana rapatnya?” Tanya Dara setelah beberapa saat mereka berdua hanya diam saja.

“Aku tidak suka melihatmu marah seperti tadi.” Ujar Jiyong setelah dia mengalihkan perhatiannya kepada bidadari yang selalu ada di hatinya. “Aku meminta Kim sajang untuk mengganti rapatnya lain waktu.”

“Aku tidak marah.” Ujar Dara sambil mengedikan bahu. “Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak punya asalan untuk marah kepadamu hanya karena kau tidak bisa menemaniku malam ini.”

“Kalau begitu anggap saja aku tidak enak karena membiarkan wanita cantik sepertimu duduk sendirian sambil menonton film romantis karena hal itu benar-benar sangat menyedihkan!” Ujar Jiyong lagi sambil tersenyum.

“Apa kau ingin mengatakan bahwa kau kasihan kepadaku Jiyong?” Tanya Dara yang Jiyong balas dengan gelengan pelan.

“Aku peduli kepadamu.” Ujar Jiyong dengan tatapan yang membuat hati Dara meleleh. Tatapan yang seolah mengatakan bahwa Jiyong mengagumi setiap inchi dari wajahnya, seolah hanya dia hal terindah yang pernah pria itu lihat.

Wae?” Tanya Dara dengan menatap tepat pada mata Jiyong. Dara tahu betul apa maksud dari perkataan Jiyong namun dia ingin mendengarnya langsung dari bibir pria itu tentang perasaannya kepada Dara karena sejak malam itu, baik Dara maupun Jiyong sama sekali tidak pernah membahas tentang perasaan mereka. Mereka berdua sama-sama berpura-pura bahwa malam itu tidak pernah ada. Dara menunggu jawaban Jiyong namun pria itu malah mengalihkan tatapannya dari Dara lalu mendongkak untuk menatap langit.

“Langitnya gelap.” Ujar Jiyong. Dara masih menatap Jiyong, mengikuti semua gerakan Jiyong dengan matanya. “Bintangnya hilang dan apakah kau tahu kenapa?” Tanya Jiyong kini sambil kembali menatap pada Dara.

“Kenapa?” Tanya Dara yang sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Jiyong.

“Mereka bersembunyi dibalik awan karena mereka malu.” Ujar Jiyong pelan dengan tangan terangkat lalu membelai lembut rambutnya yang kembali membuat Dara merasa meleleh. “Mereka tahu bahwa ada yang lebih indah daripada sinar yang mereka pancarkan.” Ujar Jiyong kini dengan tangan yang berpindah pada wajah cantik Dara lalu mengusapnya dengan jempol tangannya.

Wajah Dara langsung memerah karena apa yang Jiyong lakukan saat ini, tatapan pria itu benar-benar menghipnotisnya sehingga Dara sama sekali tidak bisa bergerak karena takut Jiyong akan melepaskan tangannya dari wajah Dara. Dara mendambakan ini, sentuhan lembut dari seseorang yang tulus kepadanya.

“Bintang itu hilang karena ada seseorang yang seribu kali lebih cantik dibandingkan kerlipan mereka.” Ujar Jiyong lagi dengan mata yang menelusuri setiap inchi wajah Dara, seolah mencari kecacatan yang mungkin dia temukan namun nihil karena wajah ini, wanita ini begitu sempurna. Dara diam saja saat Jiyong sedikit menarik kepalanya sehingga kini wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi. Dara yakin sedikit saja mereka bergerak maka bibir mereka pasti akan bersentuhan.

“Lalu siapakah orang itu?” Tanya Dara pelan. Hatinya berdegup dengan sangat kencang saat tangan Jiyong kembali mengusap lembut wajahnya sebelum berpindah pada belakang kepala Dara.

“Dirimu.” Ujar Jiyong sebelum dia memiringkan wajahnya lalu menarik wajah Dara semakin mendekat kemudian tanpa menunggu waktu lama pria itu mengklaim bibir Dara, bibir yang selama ini sangat dia ingin kecup, bibir yang selama ini selalu ingin dia sentuh. Dara membulatkan matanya ketika Jiyong bukan hanya mengecup bibirnya namun juga menciumnya begitu dalam. Dara lalu menutup matanya saat Jiyong memperdalam ciuman mereka lalu dia melakukan hal yang seharusnya dia lakukan yaitu membalas ciuman Jiyong.

Untuk sesaat Dara tersentak dengan kenyataan yang sekarang melintasi di kepalanya namun wanita itu tidak melepaskan diri dari bibir Jiyong yang sekarang telah memperangkapnya. Hatinya kembali meleleh ketika dia merasakan tangan Jiyong yang saat ini memegangi pinggangnya lalu menarik tubuhnya semakin mendekat sehingga mereka bisa memperdalam ciuman yang saat ini sedang mereka bagi. Bahkan tanpa Dara sadari dirinya kini sudah berada dipangkuan Jiyong. Tangannya dengan liar menelusuri kepala Jiyong sebagai pegangan sedangkan bibir mereka terus saling melumat seolah hidup mereka bergantung pada hal itu.

Dara tahu bahwa mereka tidak sedang meniru adegan ciuman dari film yang tadi mereka tonton atau dari film romantis lain yang pernah mereka tonton namun Dara tahu bahwa ciuman Jiyong adalah yang terbaik yang pernah dia rasakan. Caranya menyentuh Dara membuat air mata Dara menetes karena sekarang dia menyadari sesuatu yang telah lama dia sangkal tanpa dia sadari. Sentuhan Jiyong, entah sejak kapan tapi Dara merasa bahwa dia selalu mendambakan ini.

TBC

Mian karena membuat kalian menunggu terlalu lama. semoga suka dengan chapter ini dan terimakasih untuk komentar kalian di chapter sebelumnya… Jangan lupa berikan komentar di chapter ini!!

Hengshoo Readers-nim!!!

Advertisements

22 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 11]

  1. omonaaaa, akhirnya mereka ciuman jugaa wkwkw, akhirnya dara sadar sma perasaan dia ke ji. dan akhirnya ji dapat balasan dari dara, oh tuhann aku bhagiaaa kalo dpt crita ff yg kaya gini, kereeeennnnn..

  2. Ahhhh sukaaa bangetttt😆 lumer aku lumerrrr…
    Udah was-was aja pas Donghae muncul, dia blak2an bgt sih ke Dara, mana neneknya juga maksa terus kan sebel
    Semoga setelah adegan cium mencium itu, lgsg jadian ya thorrr. Biarin Donghae jadian sama neneknya Dara aja😝
    Ditunggu bgt chapter selanjutnya fighting!!💪💪

  3. gada part yg sweet slain di part trkhr chap ini kkkkk akhrnyaaa mereka sadar sama perasaan mereka masing masingg kkkkkk

  4. Wadduuhhhh, bisa kali cepetan jadiannya,hm.
    Gregeeettt nunggu kalian jadian. Couple bikin gemeessshhh.
    Nxt chp ditunggu^^

  5. Waaadduuuhh, couple ini bikin gemeesss paarraahh.
    Kapan jadiannya sih,hm.
    Greegeett tau ngliat kalian gitu mulu,hihi.
    Nxt chp ditunggu^^

  6. Waaadduuuhh, couple ini bikin gemeesss paarraahh.
    Kapan jadiannya sih,hm.
    Greegeett tau ngliat kalian gitu mulu,hihi.
    Nxt chp ditunggu secepatnya^^

  7. Fix lahhh jadian jadian jadian pleasee~ donghae nya tenggelamkan sajaaaa~ daragon bersatu wkwkwk
    next chap semoga daragon bersatu, nenek dara gausah bawel thor hehe
    ditunggu ^^

  8. Wah aq suka banget sama chap ini romantis banget moment daragonnya hehehe….. akhirnya kak renny bikin daragon moment yg sweet apalagi ini chap full buat daragon….. akhirnya dara mulai sadar kalau dia juga udah mulai suka sama jiyong dan semoga setelah ini semua mereka mulai berkencan deh Next chap semoga makin sweet deh daragonnya ya kak fighting buat lanjut ffnya ya kak♥♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s