12:30 (Time) [Oneshoot]

tumblr_o4qy9si4ex1s5qqm2o4_1280

Author : Aitsil96

.

Right now, we’re like the clock hands at 12:30

Our backs turned against each other

Looking at different places, about to throw everything away

Ji Yong mengeratkan mantelnya. Musim dingin telah tiba dengan butiran putih bernama salju yang menumpuk di sepanjang jalan yang tengah ia tapaki. Langkahnya pelan, bahkan cenderung sempoyongan dengan wajah yang memerah. Pria itu mabuk. Jam telah menunjukkan hampir tengah malam dengan ia yang baru saja memarkirkan mobil sport mewahnya di pelataran rumah secara sembarang

Pria itu baru saja menghabiskan malam di pub yang terletak tak jauh dari studionya. Ia pemabuk? Tidak juga, namun keadaan yang tengah dialaminya kali ini mampu membuat ia sanggup menghabiskan wine dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, bahkan dengan tiga botol penuh yang ia tenggak habis seorang diri. Pria itu masih memiliki kadar kesadaran yang cukup baik.

Sialan! Padahal ia berniat untuk tak sadarkan diri walau hanya untuk malam ini. Ia ingin melepaskan penatnya, namun tubuhnya seakan mengkhianati. Ia sungguh hanya ingin istirahat sekarang, berbaring di ranjang empuknya dan menenangkan diri di sana. Namun entah mengapa seakan ada cengkeraman di kakinya yang menahan hingga sedari tadi ia memperlambat perjalanannya untuk menuju rumah.

Bagaimanapun juga, dengan menyambangi rumah hanya akan menambah rasa pening di kepalanya. Namun apa boleh buat jika itu bahkan hanya satu-satunya tempat yang bisa ia tuju? Pandangannya tertumbuk setelah tepat berada di pintu depan rumah bercat abu-abu itu. Ia menghela napas. Berat dan menyesakkan.

‘Haruskah aku masuk ke dalam?’

Dengan menguatkan diri terlebih dahulu, ia melangkah dengan gontai. Tangan besarnya meraih kenop pintu, lalu membukanya.

“Kau baru pulang?”

Tepat seperti dugaannya. Gadis itu belum tidur. Sialan!

“Hm,” gumam Ji Yong sebagai jawaban.

“Mabuk? Lagi?”

Ji Yong menghela napas. Tak terhitung untuk yang keberapa kalinya.

“Kau akan terus seperti ini? Kau akan terus-menerus mengabaikanku?”

Oh Tuhan, buatlah ia lenyap di detik ini juga! Ji Yong sungguh sangat lelah. Ia kehabisan tenaga. Tak bisakah gadis itu menutup mulutnya hanya untuk malam ini saja demi kedamaiannya? Haruskah mereka berdebat lagi bahkan saat hari telah mulai berganti?

“Aku tak ingin kita bertengkar. Hanya untuk kali ini saja, biarkan aku beristirahat. Kau bisa mengoceh saat matahari telah terbit nanti,” ucap Ji Yong menekankan setiap kata-katanya seraya melangkah melewati gadis yang tengah berdiri di hadapannya

“Dan saat pagi nanti kau pun telah pergi? Bukankah begitu maksudmu?”

Ji Yong menghentikan langkahnya. Ia berdecak seraya menggertakan gigi dan memejamkan matanya erat. Kesal? Sangat. Lagi dan lagi. Hanya keluhan ini yang akan diungkapkan gadisnya. Haruskah hal ini merecoki ketentraman hidupnya setiap hari? Ji Yong bahkan merasa ini bukanlah masalah yang harus dibesar-besarkan seperti apa yang dilakukan gadis tersebut. Oh ayolah, bukankah gadis itu seharusnya memahami bahwa ia tengah mempersiapkan album solonya mati-matian setelah kakak tertua grupnya enlist?

“Tidurlah. Aku sedang tak ingin mendebatmu,” ucapnya lirih.

“Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak jika kau terus-menerus menghindariku?”

Gadis bersurai pirang itu tak kehilangan akal untuk terus berulah. Ia bahkan dengan berani melangkahkan kakinya untuk kemudian berhadapan dengan Ji Yong. Kekasihnya. Ya, mereka adalah sepasang kekasih selama dua tahun terakhir.

Ji Yong tengah menahan buncahan amarahnya yang hampir meledak. Ia akhirnya mendengus lalu mendelik dengan manik kelamnya. Ia menatap lurus gadis di hadapannya dengan tatapan tajam, “Jebal. Kau hanya akan membuat bebanku bertambah banyak akibat ulahmu.”

Gadis itu memecah keheningan malam dengan tawa mengejeknya tepat di depan wajah tampan Ji Yong, “Jadi… selama ini aku hanya jadi beban untukmu?”

“Jangan salah paham. Bukan begitu maksudku, aku hanya…”

“Jika aku hanya jadi beban bagimu, untuk apa kau memaksaku untuk tinggal bersamamu? Kita bahkan harus hidup secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain. Kau pikir aku tak lelah hidup seperti ini demi menutupi hubungan kita? Aku jengah, Kwon. Tapi selama ini aku berusaha bertahan demi dirimu!”

“Dan kini kau mulai mengabaikanku? Kau bahkan hanya mendatangiku saat kau butuh. Kau pikir aku ini hanya sebuah pelampiasan di kala kau lelah dengan rutinitasmu?” lanjut gadis itu berapi-api dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk.

“Tak pernahkah kau berpikir bahwa aku pun tersiksa dengan semua ini? Menyembunyikan status di depan publik bukanlah hal yang mudah untukku. Kau pikir selama ini aku hanya bersenang-senang demi menghibur penggemarku? Kau salah besar, Park.”

Gadis itu makin berurai air mata, “Aku berusaha mengerti itu selama dua tahun terakhir, tapi aku amat membenci kenyataan bahwa kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku memang egois, Kwon. Tapi aku juga hanyalah seorang gadis biasa yang ingin dicintai layaknya pasangan lain.”

“Bukankah seharusnya sedari awal kau sudah mengerti akan semua risiko jika berhubungan denganku? Mengapa harus dipermasalahkan sekarang? Aku seorang idol. Bagaimanapun juga aku mempunyai image yang harus ku jaga.”

“Kau tak mempunyai waktu untukku, Kwon. Anggaplah aku kekanakkan karena memang begitu pada kenyataannya. Aku cemburu. Aku iri pada orang-orang di sekitarmu yang bisa melihatmu setiap hari, tidak seperti aku yang hanya bisa menungguimu pulang larut malam dan paginya kau sudah akan pergi lagi.”

Ji Yong melembut, berusaha mengerti akan perasaan gadisnya, “Bukannya aku tak ingin mengerti dirimu, namun bagaimana lagi jika aku mempunyai kesibukan yang sama sekali tak bisa ku tinggalkan? Kau bahkan mengetahui dengan jelas bahwa aku tengah mempertahankan karirku untuk tetap berada di puncak walau anggota grup kami tak lengkap untuk sementara. Kau pun tahu ini bukanlah hal yang mudah untukku.”

“Berulang kali aku mencoba memahaminya, namun hasilnya akan tetap sama,” gadis itu menjeda cukup lama, “Aku tak bisa menerimanya. Kau hanya mementingkan karirmu tanpa pernah mempedulikan keberadaanku. Keberadaan gadis biasa yang selalu menunggumu di istana yang kau bangun namun bagai penjara untukku. Aku… tak bisa jika kau terus-menerus mengabaikanku.”

Ji Yong sempurna menunduk. Tangannya terangkat untuk kemudian mengacak-acak surai kecokelatannya yang sejak awal memang telah tak tertata rapi. Ia ingin meledak detik ini juga, namun sayangnya ia terlalu lemah jika melihat gadis yang dikasihinya berurai air mata seperti ini di hadapannya. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas kasar.

“Lalu kau ingin bagaimana, huh?”

“Maaf, tapi aku tak bisa lagi menjalaninya, Kwon. Sekeras apapun aku berusaha, namun aku akan tetap tersakiti jika terus seperti ini.”

“Maksudmu?”

“Aku tak akan sanggup untuk menjadi kekasih seorang Kwon Ji Yong.”

Bagai dihunus sebilah pedang tajam, ucapan gadis itu mampu mengoyak tepat di ulu jantungnya. Kejadian sinting yang baru dialaminya membuat otak Ji Yong serasa beku untuk sesaat. Melumpuhkan seluruh sistem syarafnya hingga membuat rasa sesak yang menjadi-jadi di rongga dadanya.

Manik kelam itu tertumbuk pada objek di hadapannya. Gadis mungil bersurai pirang yang membingkai wajah manis nan menggemaskan. Bibirnya bergetar, menahan rasa emosi yang juga hampir membludak. Manik hazelnya yang selalu indah ketika berkedip kini tengah menatapnya. Tajam. Pancaran rasa kesakitan tergambar dari sana dengan genangan sisa air mata yang masih membekas.

Gadis itu. Park Sandara.

Ji Yong mencintainya? Sangat. Ia bahkan menyayangi gadis itu hingga rasanya hampir gila karenanya. Namun mengapa kini ia hanya terdiam seribu bahasa bagai orang dungu ketika kekasihnya ingin meninggalkannya? Pria itu bahkan masih mematung ketika gadis itu berbalik dan menutup pintu kamar dengan suara berdebam yang memekakkan telinga. Jawabannya hanya satu. Karena ia tahu bahwa waktu telah berubah.

Dulu mungkin saja Sandara siap untuk tetap bersamanya, menerima segala risiko untuk berhubungan dengan public figure yang sangat sulit untuk menjaga privasi seperti dirinya. Namun waktulah yang akhirnya membuat gadis itu jengah dengan keadaan tersebut. Ji Yong tak bisa menyalahkan gadis itu, karena bagaimanapun ia juga tersakiti karena kelakuannya. Namun ia juga tak bisa sepenuhnya merasa bersalah pada gadisnya karena ini memang tuntutan pekerjaan yang sama sekali tak bisa ditinggalkannya.

Akhirnya, ia hanya bisa menyerah. Seiring dengan detakan jam yang terus berputar, maka ia tahu bahwa waktu telah berubah. Waktu juga yang mengubah segala perasaan maupun keadaan yang tak bisa dihindari. Ji Yong tak pernah membayangkan ini semua akan terjadi, namun akhirnya ia harus mengerti. Bahwa sekeras apapun ia berusaha untuk mempertahankan, jika waktu memang telah menghendaki maka ia tak bisa memaksakan sisi keegoisannya.

Di tengah suasana tak waras yang tengah terjadi, jauh dalam relung hatinya Ji Yong merapal sebuah kalimat.

‘Mungkinkah jam yang rusak akan berdetak sekali lagi?’

I’m letting you go right now

I’m letting you go and everything has stopped

But I believe the broken clock will move once again

 

–END–

Inspired by BEAST – 12:30

Meet me on wattpad : @Listiaandani

 

Advertisements

11 thoughts on “12:30 (Time) [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s