[Twoshoot 2/2] Tulipa Pulchella : Our Memories of Love

tulipa

La mia luce, she's my light that shine bright even when darkness surrounded

Author : VA Panda || Title : Tulipa Pulchella || Genre : Fantasy, Romance, Hurt, Drama ||
Starring : Sandara Park, Kwon Jiyong, Lee Donghae, Lee Seungri

 

Sebuah kenangan bercerita pada rentetan cerita yang akan diungkapkan kemudian hari. Pada ruang waktu yang sulit ditebak, hatimu yang akan bertindak untuk menghujam jutaan kenangan indah maupun buruk. Dari semua waktu yang dimiliki antara Jiyong dan Sandara misalnya. Sekarang, keduanya lebih sering bercakap pada memori yang masih membekas dalam otak. Sandara dan juga Jiyong, saling bercerita pada pahit hidup yang mereka lewati namun setelah semua usai, keduanya saling bertatap … bagaimanapun, hal terpahit menjadi sebuah peristiwa istimewa dan jauh lebih menyenangkan dibandingkan tempat di mana keduanya hanya berdiam diri melihat semua keindahan delusi semata.

“Adakah alasan lain untuk aku hidup?”

Sandara bertanya pada dirinya sendiri. Gadis manis itu mengulum senyum, mengalihkan tatapannya ke arah Jiyong. Sekarang, keduanya tengah berbaring di hamparan rerumputan tenang dalam buaian senja. Langit kemerahan seolah menjadi latar yang sangat akrab bagi mereka berdua, sama seperti hari pertama keduanya bertemu.

“Lantas, apa kau hanya ingin tinggal dalam dimensi ini? Sebuah tempat yang terus membuatmu bimbang dan terpuruk menunggu kabar Tuhan atas berakhirnya dunia?”

Tak ada kata lain yang hendak Jiyong ungkapkan. Baginya, ia masih menginginkan hidup di antara orang yang belum ia ketahui siapa yang mencintainya secara tulus namun hal itupun berlaku saat Sandara datang dalam sisa waktunya. Tak pernah sekalipun Jiyong menginginkan suatu keistimewaan yang hendak ia ungkap pada Tuhan, namun kali ini, untuk Sandara … Jiyong menginginkan berbagi waktu bersama dengan gadis ini.

“Kau,” gadis manis itu bersuar lirih. Memposisikan tubuhnya menyamping tepat ke arah Jiyong, ia kian mendekap Jiyong dalam pelukannya, mencari kehangatan yang bahkan tak terasa dalam indera perabanya.

Jiyong membalas sebuah senyuman khas Sandara. Ia membalas pelukan hangat yang Sandara berikan lalu keduanya saling menatap dalam ke arah manik mereka dalam waktu yang sangat lama sampai jarak kian memangkas keduanya.

“Jika ada harapan untuk kembali ke dunia, kembalilah bersama ku, Sandara.” Menyadari jarak mereka yang kian dekat, Jiyong menaruh lengan di pinggang Sandara, memeluknya dan mengecup lembut dahi Sandara seolah energi untuk kembali hidup berada di sana.

Tuhan yang berkehendak. Andai saja kau tahu berapa kecil harapan yang aku miliki untuk tetap hidup dan kembali seperti sediakala.

Derai sungai yang menganak di permukaan mulus pipi Sandara menjadi cara untuk Jiyong terus memeluknya dan mengelus lembut Sandara. Gadis itu tak memberikan jawaban pasti namun sebuah derai airmata justru memberi jawaban yang tidak dimengerti Jiyong karena dibandingkan untuk langsung bercerita pada Jiyong, Sandara lebih memilih berkomunikasi dalam batinnya.

Entah apa yang dirasakan keduanya. Bagi Jiyong, gadis yang kian ia peluk erat adalah pusat kebahagiaannya saat ini namun bagi Sandara, pria seperti Jiyong masih belum mengetuk utuh pintu hatinya karena memori pria yang lebih lama bersama di dalam hidupnya tak kunjung mengilang dalam sekali mata terpejam.

Gadis itu kini menyelisik pada langit biru nan luas, ia tersenyum getir namun berusaha memastikan untuk dapat menyembunyikan hal itu pada Jiyong yang memilih mengirup aroma tubuhnya.

 

***

Pada dunia yang nyata dan di waktu beberapa jam berselang. Awan putih yang menggunung, mengantarkan seorang pria berwajah sendu pada sebuah tempat menyakitkan hatinya. Kaki yang sedikit tergores luka seolah membawa bekas memori seminggu yang lalu. Pria paruh baya ini lebih memilih mengurungkan diri, menyalahkan kesalahan yang justru hanya merengut anaknya, Kwon Jiyong.

Langkah tertatihnya sampai mencapai koridor rumah sakit yang memperlihatkan banyak orang berseragam sekolah tertunduk lesu. Salah satu anak di pojok koridor, Lee Seungri menjadi salah satu orang yang ia kenal namun pria itu tak mengira bahwa oranglain yang memenuhi koridor rumah sakit justru mengkhawatirkan anaknya yang tengah koma.

“Ahjussi,”

Seungri dengan sigap menggapai ayah Jiyong saat pria itu terpincang dalam jalannya menuju kenop pintu di mana Jiyong berada.

Melihat sosok Seungri di depan matanya seolah menggambarkan bahwa ia seperti Jiyong. Pria muda yang terus memandangnya dengan tatapan kosong namun kini hatinya mencolos saat mengingat bahwa Jiyong masih harus berjuang dalam komanya.

Dalam peristiwa seminggu yang lalu. Jiyong tak lantas langsung diketemukan oleh pihak polisi, jauh dari jarak sekiranya 1 kilometer, tubuh Jiyong baru ditemukan dengan banyak darah yang mulai mengering.

Bagi sang ayah, memperoleh kesempatan hidup justru terbayang bahwa neraka yang akan ia temukan. Mendapati kabar bahwa Jiyong koma dengan semua banyak alat yang bersarang di tubuh anaknya kian membuat rasa bersalah terus menggerogoti pikirannya.

Kini sekarang, ia menengok pada kaca di pintu. Anaknya yang malah masih terus tertidur lemah seolah mempersilakan ajal menjemput.

Rinai air mata menganak sungai di antara pipi sang ayah. Ia mulai memutar kenop pintu dengan bimbang. Menarik napas dalam seolah udara di sekitar menjadi pusat energinya.

Namun sebelum sempat langkah kakinya hendak melangkah melewati pintu, seorang wanita menatapnya sosok pria itu dengan nanar. Desiran hatinya kian mencolos saat di mana terlihat dengan jelas bahwa anaknya, Kwon Jiyong tengah membaringkan tubuhnya dengan lemah.

“Kau penyebab anakmu dalam kemalangan!” Wanita paruh baya berteriak dan hampir jatuh saat ia memberontak namun yang dilakukan sang suami justru diam membatu tanpa hal lain yang menjadi pusat perhatian selain Kwon Jiyong.

Pria paruh baya itu menangis hebat dengan tubuh bergetar namun dengan kekuatan yang masih ada ia justru mengguncang tubuh Jiyong yang lemah saat bersamaan suara lengkingan detak jantung itu kian membuat semua orang panik.

“Jiyongie, sadarlah!” Pria itu berteriak semakin tak terima dan mengguncang tubuh anaknya kian menjadi. “Kembalilah pada ayah!”

***

Jiyong mengedarkan pandangannya. Lengan pria itu menyelisik di sekitar namun hanya hamparan rumput basah yang menyambutnya, bukan sosok gadis yang memenuhi hatinya.

“Sandara!”

Pria itu berkata dengan panik, berdiri singgap dan bertingkah resah mencari keberadaan Sandara yang bahkan tidak ia lihat dari jangkauannya kini. Jiyong berlari pada bagian kiri, sebuah air mancur dengan burung yang mandi di sekitar adalah jawaban bahwa sosok yang ia cari tak berada di sana. Lanjut dengan kepanikannya, Jiyong berlari pada bagian kanan namun hanya pepohonan rindang menjulang yang memenuhi pantauannya.

“SANDARA!”

Sekali lagi ia berteriak. Wajah yang kian pucat ditambah dengan keringat kian menjalar perasaan takut yang mengerjap. Dalam dimensi ini, sebuah dunia yang dihuni para roh, banyak kemungkinan yang di dapat. Jika bukan roh tersebut kembali pada jiwa di dunia yang sesungguhnya, kemungkinan lain adalah roh tersebut menempati dimensi lain setelah kematian. Tetapi, bagaimana Sandara bisa melakukan hal ini tanpa pamit padanya? Batin Jiyong membuncang, pikirannya amat kacau sampai akhirnya ia memaksakan diri masuk ke dalam hutan sunyi nan lembab di sana.

Jiyong berlari tanpa tentu arah. Hutan yang ia jelajah sangat jauh dari hutan yang Jiyong tahu kebanyakan. Tidak ada seberkas sinar yang masuk dicelah pohon rindang dan seolah pepohonan itu menjadi jeruji bagi setiap roh yang masuk ke dalam hutan ini. Jiyong tidak banyak mau berasumsi pada hutan gelap yang membuatnya kesulitan mencari arah, karena yang pria itu inginkan hanyalah Sandara … mencari di mana keberadaan Sandara saat ia terbangun dari tidur namun sosoknya mengilang tanpa jejak.

“Jiyongie,”

Arah pandang Jiyong dengan mata elangnya langsung mencari sumber suara. Dalam waktu limatahun, Jiyong tak pernah melupakan suara misterius yang ia asumsikan sebagai noonanya yang sudah meninggal dunia. Pria itu lantas terhentik, memilih terdiam di antara sunyi juga gulita yang mengiringi pada suara lain masuk dalam indera pendengarannya.

“Cepatlah pergi dari tempat ini Jiyong, berlarilah terus sampai kau sekiranya menemukan seberkas sinar!”

Suara Kwon Dami menginstruksinya. Entah apa yang membuat persendiannya menjadi sigap untuk bertindak sebelum otaknya menyerukan hal tersebut, Jiyong berlari terus sekalipun ia sempat terjatuh dan membentur dedaunan di sana.

Mungkinkah ini yang dinamakan dimensi setelah kematian?

Jiyong terus berlari sampai akhirnya perlahan seberkas cahaya membawa ia untuk sekiranya tersenyum … karena seolah dewi di antara kegelapan, Sandara berdiri dengan gaun putih menyala tepat pada seberkas sinar yang membias pada sosoknya.

“San-da-ra,” dengan suara terbata Jiyong perlahan berjalan lambat. Pria itu masih terus melukiskan senyum namun perlahan senyumannya mulai meragu saat di mana sosok Sandara berbalik dan tepat di depan matanya … seorang pria lain tengah ia peluk dengan rindu.

“Ji,” gadis itu membalas lirih. Bertindak menjauh saat Jiyong berusaha menggapainya namun ia mengindari dan terus mengeratkan cengkraman pada pria tinggi dengan pakaian putih senada dengan Sandara.

“Aku sudah menemukan alasan untuk aku tetap tinggal di sini,” ia akhirnya kembali berujar bersama pria yang kini mengadap ke arah Jiyong dengan senyum merendahkannya. “Donghae, aku sudah menemukannya. Dia adalah alasan aku untuk tinggal selamanya di sini.” Sambung Sandara dengan rintikan kecil airmata di permukaan wajahnya.

“Sandara, ini tidak benar.” Jiyong dengan tidak terima masih berusaha menjangkau Sandara namun sebuah kenyataan pahit menghentikan aksinya saat di mana pria bernama Lee Donghae itu memeluk Sandara dari belakang, seketika sebuah rasa sesak pada jantungnya yang dirasa berdetak.

“Dia lebih memilihku, manusia lemah.” Suara nan menusuk itu datang dari sosok Donghae yang justru terlihat mengganjal bagi Jiyong.

Jika diharapkan Sandara akan kembali memeluk Donghae, hal itu sangat jauh berbeda dari anggapan Jiyong semula. Gadis itu memperlihatkan dengan pasti sebuah mimik wajah keterkejutan dan ia mengentikan tangisan yang sempat memekakan telinga Jiyong jika itu untuk sosok seperti Lee Donghae, kekasihnya dulu.

“Kau bukan Donghae,” kali ini Sandara bersuara datar.

Melepaskan cengkraman lengan Donghae yang melilit pada tubuhnya lalu berbalik untuk melihat dalam kedua mata Donghae. Di sana, Sandara tidak menemukan kehangatan khas musim semi. Kembali memastikan, Sandara menatap dalam dan mengelus rahang Donghae namun pria itu hanya tertawa renyah dan mencengkram paksa lengan Sandara saat gadis itu menyadari bahwa ia bukanlah sosok pria yang diharapkan.

“Kau harus ikut denganku gadis manis!”

Seketika itu, Jiyong membatu dengan menahan napasnya. Tak pernah sekalipun Jiyong memiliki sebuah ketakutan pada sosok hantu namun tepat di depan matanya, pria yang semula berwujud Lee Donghae itu berubah dengan wujud menyeramkan. Wajah sosok menyeramkan itu mengelupaskan kulit wajahnya seolah luka bakar, bola matanya merah menyala, bibirnya terkantup rapat bersatu dengan hidung seperti jelmaan voldemort ditambah tanduk setan menyala di kepalanya.

“Sandara!!!”

Jiyong berseru memanggil nama gadisnya saat Sandara tengah berusaha melepaskan cengkaraman pada kuku sosok menyeramkan yang membuat Sandara mengaduh sakit.

“Ji-yong, tolong,” dengan tertatih, Sandara memohon pada Jiyong dan langsung mendapati Jiyong yang berlari pada posisinya.

Pria itu mengambil celah untuk mencoba melepaskan Sandara namun terasa sulit saat pemberontakan lain yang diberikan oleh sosok menyeramkan itu membuatnya tersungkur pada tanah yang lembab. Tak menunggu beberapa detik berselang, saat Jiyong mendapatkan kesadarannya, pria itu mencari benda runcing di sekitar dan menemukan perak runcing yang menyala. Jiyong berlari, menikam tepat pada bagian perut yang memuncratkan lendir kuning kehijauan namun hal itu tak berhasil langsung membuatnya menang untuk mendapatkan Sandara.

“Sandara,” ia berkata dengan gigi bergelutuk seakan murka.

“Jiyong, pergilah, demi aku.”

Entah suruhan konyol apa yang Sandara katakan saat gadis itu justru menatap nanar pada sosok Jiyong yang bersilau dengan benang di sekitar tubuhnya seolah menjadi jalan untuk pria itu mengilang pada dimensi singgahan ini.

“Apa yang-” pria itu tak dapat melanjutkan kata-katanya saat serangga bersinar mengitari tubuhnya dan menenggelamkannya sampai tak mendapatkan celah untuk melihat Sandara sekarang.

“Kita akan bertemu kelak,” ia menangkap suara bergetar Sandara untuk terakhir kalinya sebelum sebuah silau cahaya lampu membuatnya terhenyak dan berteriak melengking memanggil Sandara pada dunia sesungguhnya.

 

***

 

“Mau anggur? atau mungkin apel? Aku sangat bersemangat untuk menunggumu, hyung.” Seungri dengan semangat berapi-api terus menggucang tubuh Jiyong yang masih terus melihat ke arah luar jendela rumahnya.

Hirup pikuk keramain pusat kota dan klakson yang saling beradu kian membuatnya tersadar bahwa Jiyong sudah berada pada dunia yang ia inginkan. Sudah hampir lima hari saat dirinya tersadar koma dan terus menyebutkan nama gadis yang sama -asing bagi pendengaran kedua orang tua bahkan seluruh teman sekolahnya. Sandara Park, ia tidak bisa menemukan sosok atau bahkan nama gadis itu dalam daftar siswi di Korea dengan bantuan Seungri.

Kini, pria yang terbalut luka pada kaki juga dengan kursi rodanya masih terus bersikap dingin walau kini kedua orangtuanya mulai hangat pada Jiyong. Ia hanya diam membatu, menatap nanar pada lukisan Tuhan yang kembali menempatkannya pada dunia semestinya ia huni dengan Sandara di sampingnya. Ia bersandar lemah pada kursi rodanya, melihat pada samping kanan saat Seungri menyodorkan potongan apel segar untuknya.

“Terima kasih, Seungri.” Ia berujar dan tersenyum dalam diam yang membuat Seungri menepuk kedua tangan dengan bangga.

“Yeah! Akhirnya kau tersenyum juga!” Ia berteriak histeris dan kian memekakan telinga Jiyong.

Dalam waktu ini, Jiyong mengutarakan semua yang membekas dalam hatinya lewat buku diary. Ia tak akan pernah bisa membuat kenangan Sandara di dimensi yang lalu mengikis begitu saja tanpa sebuah bukti melalui pena setidaknya.

Jiyong mengirup segar udara pagi yang masih belum memperlihatkan mentari terlebih Venus lebih tersohor dengan sedikit redup. Panorama ini menjadi salah satu yang sangat ia rindukan selain Sandara tentunya. Hatinya terhenyak tatkala ia memori itu hinggap di mana Sandara terbelenggu akibat sosok yang menyerupai mantan kekasihnya yang telah tiada.

“Seungri, bisakah kita pergi ke taman kota?”

Ne hyung! Tapi aku tidak bisa berlama di sana karena akan berangkat sekolah.”

“Tenang saja, aku bisa memastikan bahwa aku akan kembali dengan selamat.”

Jiyong tersenyum lagi. Entah mengapa, sebuah perasaan hangat menjalar di sekitar tubuh Jiyong dan bisa membuatnya dengan mudah untuk tersenyum juga berbicara banyak dibandingkan beberapa hari yang lalu saat dirinya lebih memilih untuk mengurung diri.

Seungri mendorong kursi ruda Jiyong dengan suara siulan yang sangat tak asing bagi Jiyong. Layaknya de javu, Jiyong mengulum senyum sekali lagi mengingat bahwa melodi ini sangatlah persis seperti yang digumamkan Sandara saat mereka pertama kali bertemu, kala senja di antara hamparan bunga tulip yang menyerukan keakraban.

Hyung, kita sampai!”

“Terima kasih, dan kau bisa pergi ke sekolah.”

“Oh ayolah, hyung. Masih sangat pagi untuk menunggu depan pagar sekolah, bahkan Chaerin akan pergi ke sekolah tidak pada waktu ini!” Seungri mengeluh sembari mengentakkan kaki. Alasannya untuk bersemangat ke sekolah memang hanya satu penyebab yaitu Lee Chaerin, gadis bersurai blonde yang baru pindah dari London.

“Seungri-ah, pergilah.” Jiyong meminta dengan wajah datar yang bisa memastikan untuk Seungri angkat kaki menuju sekolah.

Sekarang, pepohonan rindang yang jarang itu menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi Jiyong. Ia melihat dengan mata berbinar pada pohon oak tua yang berada di ujung taman di kelilingi siulan burung yang merdu. Pria itu tertawa tanpa sebab namun ia terhenti saat dirasa kursi roda yang ia kayuh cukup berat dan tidak berjalan sesuai keinginannya.

“Apa kau tidak membutuhkan teman?”

Jiyong terkaget dan dalam waktu seperkian detik ia membalikkan tubuhnya. Sesosok yang lebih indah dari panorama semesta berada tepat di depan matanya seolah halusinasi. Jiyong memutar badannya lagi dan tertawa akan halusinasinya namun sosok yang ia lihat tadi membalas dengan rengekan yang membuatnya geli.

“Apa penduduk Korea terus akan bersikap acuh seperti ini? Kalau begitu ada baiknya untuk aku kembali ke London.”

Saat gadis yang berada di balik punggung Jiyong mencoba menjauh, pria itu menangkap lengan lembut yang membuat sebuah perasaan manis mengalir di sekitar tubuhnya. “Apa kau Sandara?” ia bertanya dengan ragu.

Gadis itu tersenyum lantas menganggukkan kepalanya. Jiyong terdiam sesaat, menyaksikan pemandangan indah yang lain seperti cahaya yang memaksa masuk tepat pada sosok Sandara yang terus membuatnya tak henti tersenyum puas.

“Aku tahu, kau akan kembali.”

Jiyong menarik lengan Sandara dan karena tidak siap akhirnya gadis itu jatuh pada pangkuan Jiyong. Pria itu memeluk hangat Sandara dan berbisik pada telinga Sandara yang membuat keterkejutan lain juga rona merah di wajah putihnya. “Aku sangat merindukanmu, kau semakin cantik.”

 

 


the end


A/N :
Alhamdulillah dengan ini Pinda kibarkan bendera karena twoshoot kedua yang dibuat setelah twoshoot sebelumnya dengan judul Return selesai!
Yash!
Senangnya maksimal banget yah pokonya.
Uh, makasih buat komentar kalian sebelumnya dan maafkan kalo misalkan fic ini jauh dari harapan atau mungkin kurang memuaskan hati kalian yah 😦

Thanks for,
Yunita Sintono (Haru) cintaku!! ❤
Agustina Handoko, Flyhani, Ratna, Nnisa, lonely9412, siska yanuar, Oktyas, KwonJiTa, ayu kwon, Darakwon, NanDa Ra Khiky, ceriia, Ima, Ria, Bernadette Michelle, Momoka, Nexsy, Dian Ai,

Advertisements

16 thoughts on “[Twoshoot 2/2] Tulipa Pulchella : Our Memories of Love

  1. aku semepet khawatir klo ini bakalan sad ending….. ternyata Happy Ending….horreee.
    klo aa epilognya ini lebih mantap kak……kekekekek sampe mereka nikah gtu…. 😀
    thanks…buat ceritanya kak, ditunggu karya2 ff yg lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s