The Darkness of Tokyo [Part 4] : Underworld

10276312_1471488663080948_1744920155_n

Author : VA Panda

Title : The Darkness of Tokyo

Genre : Horror–Dark Fantasy

Cast : Park Sandara | Kwon Jiyong | Mizuhara Kiko | Ikuta Toma | Lee Chaerin

Support Cast : Soo Ra and Soo Hye (Oc’s) | Kang Jae Soo (Oc) | All member of 2ne1 and Big Bang

Length : 5 Chapter

Disclaimer : This story is purely fresh from my brain. All cast in this fanfiction not my mine expect Oc. If you wanna be take out this story please inform me, don’t take story without permissions.

Ndak tau kenapa, tiba-tiba nulisnya cepet begini. Ah..mungkin karena fantasi kali yah kkk~ ngomong-ngomong pertanyaan kemarin udah di jawab yah 🙂
Tengkyu karena otak saya masih inget sekilas film devil’s due yang bikin Saya sempet tidur pas nonton bareng temen lol
Happy reading…*wink

©April, 2014

.

.

.

.

.

Underworld-

.

.

.

.

.

Pusaran yang Sandara lihat dengan tidak percaya telah membawanya seraya memutarkan tubuhnya mengikuti arus pusaran yang kian lama semakin cepat. Sandara berusaha menangkap benda apapun yang ada disana untuk setidaknya menghambat dia terjatuh dengan punggung yang pertama kali akan menghantam tanah, tapi nyatanya portal yang dia masuki berisi langit hitam bersih tanpa awan dan tanpa apapun yang bisa menahannya untuk terjatuh.

Gadis itu merasakan tubuhnya terjatuh bebas di tengah langit tanpa parasut hingga membuatnya memejamkan mata erat tanpa mampu berteriak atau membuka mulut –meminta bantuan. Kedua tangannya terlentang dengan kaku dan yang kemudian terasa dipunggungnya adalah dahan pohon yang menjadi hal pertama yang menyambutnya serta setelahnya dia terguling di tanah yang rata.

Sandara mengerang merasakan sakit dibagian siku dan punggungnya. Ekor matanya sekelebat melirik kearah langit lepas tanpa bintang yang bersandar disana. Cermin indah yang berhasil menghisapnya dengan meninggalkan pusaran yang semakin menyurut hingga menghilan, terlihat di langit gelap membuatnya terperangkap di tempat asing ini. Gadis itu menggigil di hamparan tanah dingin yang mencekam kerongkongannya bersama asap hangat yang keluar dari mulutnya menyatakan perbedaan suhu drastis seperti musim dingin yang parah.

Sandara mulai menghamburkan pandangannya dengan mulai beranjak duduk di hamparan tanah yang nyatanya tandus dengan banyak retakan di permukaannya. Tempat ini sepenuhnya terlihat sepi layaknya pemakaman namun akan sedikit berbeda karena yang terlihat disekitarnya di penuhi oleh bangunan model Victorian yang berjejer dengan apik. Model maupun penataan halaman depan tidak dapat dibedakan sama sekali. Rumah Victorian yang dia lihat seperti rumahnya, sangat persis ! Tapi bagaimana bisa dia berada di Seoul dan lagi di lingkungannya hanya ada satu rumah model seperti ini bahkan tidak ada bangunan rumah lain yang menyerupai rumahnya

Kakinya dia paksakan untuk berdiri agar dapat menumpukan beban berat badannya. Langkahnya terhuyung saat merasakan pening di kepalanya kian mendera. Itu sangat terasa sakit ! Semakin terasa sakit tiap detiknya yang diikuti pandangan di depan matanya seolah berputar dengan cepat mengelilinginya. Sandara mulai berteriak dengan lantang karena kesakitan dibagian kepala seolah terhujam oleh seonggok kayu besar tepat dibelakang kepalanya.

“Ahhh !!!” kerikil kecil seakan masuk tepat dikerongkongannya saat Sandara tidak dapat mendengar suaranya. Pekikannya hanya terdengar dalam hati sedangkan tempat itu masih membisu bersama hembusan angin dingin yang menyambut di kulit tangan dan kaki Sandara yang terbuka.

Gadis itu sangat ingin menangis dan merengek untuk bisa keluar dari komplek bangunan Inggris kuno ini, tetapi itu tidak akan berguna sama sekali. Jiyong ataupun kru film tidak mungkin menemukannya walaupun Sandara sempat mendengar Jiyong meneriaki namanya sebelum tubuhnya tertarik oleh cermin aneh itu. Bahkan, jika boleh jujur, hingga detik ini Sandara belum percaya seutuhnya bahwa cermin itu seperti portal masuk bagi Sandara ke tempat lain.

Mungkinkah dia berada di Eropa ? Pertanyaan itu melintas di otaknya yang masih sulit mencerna hal aneh yang dialami akibat cermin di ruangan itu. Memang dari awal Sandara tahu ada hal ganjil dari cermin dua sisi yang dia lihat. Bayangkan saja bagaimana cermin yang biasanya hanya memiliki satu sisi, tapi kali ini ada sisi lain di belakang cermin itu. Tapi dia masih sadar kalau hidup di dunia nyata, bukan di dunia fantasi ataupun kartun yang bisa membuat menciptakan dunia berbeda hanya dari benda, sekalipun itu cermin !

Gadis itu menghela napas dengan sambutan asap yang keluar dari mulutnya. Cuaca nampaknya sangat mudah membunuhnya karena dia bahkan tidak mengenakan mantel ataupun baju tebal.

Dia mulai merundukkan kepalanya kearah kaki, jelas kakinya masih berpijak jadi besar kemungkinan kalau dia masih hidup, bukan hantu, tapi gadis itu hanya sekedar meyakinkan pada dirinya sendiri. Perlu kesadaran penuh saat dia menyusuri pinggiran jalan dengan temaran lampu jalan yang sedikit membantu penglihatannya.

“Tempat ini sangat asing,” suaranya perlahan mulai terdengar hingga membuat gadis itu merekahkan senyuman senang.

Entah bagaimana, Sandara merasakan kalau tempat ini berhawa dingin saat langkahnya semakin berjalan berkeliling di tengah jalan mengingat kendaraan roda empat tidak terparkir di samping jalan raya. Suasana sangat sunyi dan menyeramkan untuk Sandara tapi dia juga tidak dapat menutupi rasa kesalnya karena terkurung di tempat asing ini.

“Cari wanita itu !” suara murka pria terdengar menggema hingga membuat Sandara menghentikan langkahnya dan menyelisik dengan teliti untuk mencari sumber suara yang mungkin bisa membantunya untuk keluar dari tempat gila ini.

Sandara mulai berlari membawa wages hitamnya hingga membuat kakinya langsung bertemu pada aspal yang dingin seperti batu es. Gadis itu terhenti dan mengerjap beberapa kali setelah melihat cahaya putih melintas dengan cepat melewatinya yang kemudian berhenti di hadapannya. Itu hanya seberkas sinar yang sangat menyilaukan, tapi dari sana sebuah bisikan lembut menyapa indera pendengarannya.

“Jangan pergi ke sana,” cegah suara yang berasal dari sinar putih menyala. “Kau harus menemukan kedua putri kecilmu yang terkurung di dalam dunia kenistaan ini. Semua yang kau lihat di sini hanya tipuan bagi mereka yang akan memperalat kemampuan kedua anakmu itu sebelum purnama menyala dan kau harus menghindar dari mereka,” sambung suara itu, namun tidak sedikitpun Sandara mampu menatap kearah cahaya yang menyilaukan manik matanya.

Setelah menyampaikan pesan pada Sandara, cahaya itu melesat ke langit hingga menerobos kearah pusaran yang tiba-tiba muncul lalu menghilang hanya dalam hitungan detik.

Mulutnya sulit terkantup dengan sempurna setelah dia menyadari, mengapa cahaya tadi yang mungkin ada orang di dalamnya atau apapun sosok lain di sana tidak membantunya keluar dari tempat memuakkan ini. Gadis itu terus menggerutu dan saat ada batu kecil di depan kakinya tanpa pikir panjang Sandara menendang asal tanpa tujuan hingga di sambut suara lain yang mungkin mengenai orang tersebut.

“Dia ada di sana !” teriak lelaki berpakaian merah kegelapan seraya menunjukkan telunjukkan tepat di batang hidung Sandara.

***

Bayangan dirinya di dinding dengan tidur terlentang menyambut penglihatannya. Sandara mengerjap beberapa kali dan mulai menggerakkan persendiannya yang terasa kaku, tetapi sebuah ikatan tali yang melilit bagian perutnya menyulitkan pergerakan gadis itu. Sandara masih berjuang keras untuk bisa bangun dari ranjang yang di penuhi jerami bukan lagi bantalan empuk yang ada di tempat tidurnya. Aroma kopi hitam panas merasuk ke rongga hidungnya dan lolongan serigala menggetarkan tubuhnya hingga keringat dingin mulai menjalar di dahinya.

“Kau sudah bangun ?” Tanya seorang wanita berambut pirang yang terduduk di sebelahnya.

“Di mana ini dan kenapa aku berada disini ?” Tanya Sandara bingung karena terakhir yang dia ingat adalah teriakan pria samar-samar terlihat olehnya dan setelahnya semua yang di lihat perlahan gelap.

“Aku menyelamatkanmu dari gangguan raga yang terperangkap di dunia ini, apa jadinya nanti jika mereka menjadikanmu santapan malam di meja makan ?” dengan sombong wanita itu membalasnya

“Tapi kenapa aku di ikat seperti ini ?” Sandara mulai bertanya.

“Karena saat kami membantumu kau terus meronta bahkan merusak perabotan kami yang memang sudah tidak layak di gunakan,” balas wanita berambut pirang itu tetapi Sandara justru tidak mengingat apapun seperti yang dikatakan wanita di hadapannya.

“Si–siapa kau ?” Tanya balik Sandara yang tidak mampu menghilangkan suara bergetar.

“Kau tidak mengenal sahabatmu sendiri ?” Wanita berambut pirang itu tertawa getir seraya menyibakkan poni panjang yang menutupi sebagian wajahnya. “Bagaimana kalau seperti ini ?”

“Chae–Chaerin,” mata bulatnya menatap sungkan kearah sahabat baiknya dulu. “Bagaimana kau bisa berada di sini ?” pertanyaan singkat itu menjadi awal pembicaraan panjang mereka.

Sandara menatap lekat mata kucing Chaerin yang dengan sabar menjelaskan bahwa tempat ini hanyalah halusinasi semata, semua yang berada di sini tidak sepenuhnya benar karena perlu kecermatan yang teliti untuk membedakan mana raga yang terperangkap di tempat ini dan mana orang nyata. Gadis itu sesekali akan mengerutkan keningnya dengan tidak percaya, tapi mengingat berbagai kejadian aneh terus menimpanya akhir-akhir ini, perlahan Sandara mulai mempercayai setiap perkataan yang di tuturkan sahabatnya itu. Satu lagi, Chaerin juga menjelaskan alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini dan dia pula yang menemukan Sandara di tidak sadarkan diri di tengah jalan.

“Lalu bagaimana cara kita bisa keluar dari sini, Chae ?” Sandara bertanya ragu setelah dia tahu kalau Chaerin juga mengalami hal yang sama sepertinya.

“Kita nanti akan mengadakan ritual agar portal kembali terbuka saat purnama tiba, Dara.” Jawabnya dengan tenang dan mengarah pada Taeyang, Seungri, Seunghyun dan juga Bom yang ikut terperangkap dalam dunia di dalam cermin ini.

“Tapi-” Pikiran Sandara menerawang jauh dan memori yang masih terngiang di otaknya terus berputar tanpa henti, “cahaya itu memperingatiku agar aku menemukan kedua putriku yang terkurung di sini, mungkinkah mereka adalah janin yang aku gugurkan ?”

Chaerin mendecakkan lidah dengan kesal. Matanya menatap tajam kearah Sandara yang masih menatap langit-langit ruangan itu. “Aku sudah memperingatimu, Dara. Kita tidak bisa mempercayai hal apapun yang berada di sini terlebih itu hanya cahaya kosong, kan ?”

Sandara menoleh kearah Chaerin yang masih terduduk di pinggir ranjang tanpa membuka tali yang melilit sebagian tubuh Sandara. “Tapi itu seperti sebuah nasihat, Chae. Memperingatiku untuk berhati-hati pada mereka yang bahkan tidak aku tahu apa itu.”

“Bagaimana kalau cahaya itu justru adalah raga yang terperangkap di dunia ini ? Bagaimana kalau kau tengah di kelabui olehnya ? Bagaimana jika kau menuruti seluruh yang dikatakan oleh cahaya itu membuatmu terperangkap dalam dunia dalam cermin ini ?” Deretan pertanyaan terlontar dengan cepat oleh Chaerin yang berwajah merah padam karena berusaha menahan emosinya.

“A–aku hanya…” Sandara terbata mendengar Chaerin yang terlihat kesal padanya. “Aku–”

“Berhenti untuk mempercayai omong kosong itu, Dara. Kedua gadis kecil itu hanya omong kosong !” Potong Chaerin yang bersiap berdiri meninggalkan Sandara yang menatap kikuk kearah Chaerin. Sandara sangat takut kalau Chaerin akan kembali memusuhinya.

“Chae..” ada nada memelas yang di tunjukkan dari Sandara, “kau tidak marah, kan ?”

Chaerin dengan cepat melukiskan senyuman hangat kearah Sandara dan mulia menghampirinya untuk membantu gadis itu membuka tali yang melilitnya. “Lupakan, Dara. Aku tidak marah padamu. Kau mau menemui Jiyong lagi, kan ? Maka dari itu kau harus mengikuti perkataanku.”

Seketika Sandara membeku. Gadis itu sangat ingat bahwa Chaerin membenci Jiyong bahkan tidak membiarkan Sandara untuk terus bersamanya, lalu bagaimana bisa Chaerin mengatakan dengan mudah nama Jiyong di hadapannya seakan memperbolehkan Jiyong masuk ke dalam kehidupan Sandara ?

“Ada apa lagi, Dara ?” Chaerin bertanya dengan lembut seraya membantu Sandara bangun untuk duduk.

“Bukan apa-apa,” kata Sandara berusaha menghindar tatapan menyelidik dari Chaerin. “Berapa lama aku tertidur ? Punggungku sangat sakit sekali,” sambung Sandara seraya merentangkan lengan dan menggerakkan lehernya yang terasa kaku.

“Kau bahkan belum satu jam tertidur, Dara.” Balas Chaerin yang mulai melangkah bersama Sandara menuju pintu kamar. “Maaf mengenai jerami itu karena kami tidak menemukan yang lebih baik di sini.”

“Tidak masalah, Chae tapi entah mengapa aku justru merasa seperti tidur sangat lama sekali.”

“Hanya perasaanmu.”

***

Lilin merah mengelilingi Sandara yang terduduk di lantai kayu yang berdebu. Gadis itu hanya mengikuti saran Chaerin untuk diam di tengah-tengah saat ritual yang di pimpin Taeyang di mulai. Walau Sandara sebelumnya membangkang tapi Chaerin merujuknya untuk melakukan hal itu hingga akhirnya Sandara dengan terpaksa mematuhi keinginan Chaerin.

Ruangan ini di dominasi oleh cahaya yang gelap walaupun salah satu lampu di sudut kanan dekat tangga berkedip-kedip tanpa berhenti tapi tetap tidak dapat membantu memperlihatkan keseluruhan gambaran di ruangan itu dengan jelas.

Sandara memang bisa melihat Taeyang yang menggenggam belati perak dengan jubbah merah yang hampir menutupi wajahnya, Bom yang berada di samping kanan Taeyang ikut ambil kendali memegang kotak aneh dengan tulisan Yunani di sana, belum lagi Seunghyun yang berada di samping kiri Taeyang dan dialah yang menata lilin-lilin ini layaknya sebuah simbol.

“Chae, di mana kekasihmu ? Di mana Seungri ?” Tanya Sandara dengan berbisik tapi Chaerin tidak menjawab pertanyaannya. Gadis bermata kucing itu justru menjauhkan dirinya dari Sandara dan ikut berada di samping Seunghyun untuk membantunya memegang benda yang di taruh di depan dadanya.

Benda itu berukuran setengah lengan orang dewasa yang memiliki mata berlian di atasnya sedangkan sanggahan untuk memegangnya terpahat cantik oleh kayu yang di rangkai sangat teliti tiap detailnya.

Saat Sandara masih terkagum-kagum melihat benda yang kini di pegang oleh Seunghyun dan Chaerin satu-satu, dia sedikit terlonjak saat mendapati mata merah menyala yang ada di mata keempat orang dekatnya itu. Mulut mereka bergumam layaknya mengucapkan mantra dengan mata yang terus menatap kearah Sandara yang sekarang tidak dapat menggerakkan tubuhnya sedikitpun.

Sandara terlalu sulit mengeluarkan suaranya seperti pertama kali dia terjatuh di dalam dunia ini. Air matanya mulai berlinang memoles kulit putihnya, tubuhnya bahkan bergetar hebat seraya menggigit bibirnya untuk menahan ketakutan yang tiba-tiba melandanya dengan cepat saat melihat perubahan yang terjadi oleh keempat orang yang berada di hadapannya.

Chaerin dengan mata menyala mulai mengeluarkan tanduk yang tiba-tiba tumbuh di sudut puncak kepalanya. Senyumannya yang semakin lebar merobek keseluruhan wajahnya hingga yang terlihat adalah wajah wanita tua dengan cucuran darah dari mulutnya yang masing menyunggingkan senyum.

Seunghyun dengan mata yang sama seperti Chaerin memperllihatkan seringai dan dengan tangan kanannya dia langsung menggaruk-garuk wajahnya bersama darah yang mengalir deras menunjukkan wajah gelap yang sudah tidak dapat di kenali bahkan salah satu matanya terjatuh kelantai hingga menimbulkan bunyi yang menggema.

Bom nampak lebih lamban berubah menjadi wujud aslinya. Gadis itu menarik lambutnya yang hitam panjang hingga tercabut sampai akar dan setelahnya menimbulkan amis darah yang menyeruak. Sekilas matanya berkedip pada Sandara yang seperti ingin memuntahkan isi dalam perutnya sebelum dia menjilati wajahnya dengan lidah panjang dan runcing yang dia punya. Rupanya sangat persis seperti monster.

“Kau tidak percaya dengan apa yang kau lihat, Park Sandara ?”

Sandara memalingkan fokusnya dari Chaerin, Seunghyun dan Bom saat suara Taeyang tertangkap oleh pendengarannya. Pria bermata sipit itu menarik salah satu sudut bibirnya dengan angkuh seraya menata Sandara dengan hina.

“Kau yang memaksaku untuk melakukan ini ! Kau yang selalu membangkangku agar menjauhi Jiyong ! Pria itu brengsek ! Sekarang lihat apa yang dia perbuat padamu ! Pada hidupmu !” Teriak Taeyang meluapkan emosinya yang sudah mencapai batas kenormalannya.

“Taeyang-ssi, kau saudaraku, apa yang kau lakukan tentang semua ini. Jelaskan aku, kumohon !” Tidak ada sedikitpun suara ataupun gerakan mulut yang tertangkap oleh Taeyang, tapi pria itu mengulas senyum bangga karena bisa dengan mudah membaca pikiran Sandara sekalipun itu berada di atas kepalanya.

“Kau memang saudaraku, tapi itu sudah lama saat kau lebih memilih Jiyong di bandingkan tinggal terpuruk bersamaku di Busan !” Taeyang semakin berteriak disela kebisingan yang di buat oleh ketiga raga yang terperangkan dan nyatanya mereka bukan orang yang di kenal Sandara.

“Apa yang kau maksud, Taeyang-ssi ?” Ingin sekali Sandara memeluk erat Taeyang yang telihat hancur dari manik matanya yang gelap saat memandang Sandara.

“Kau yang membuatku bekerja sama dengan para iblis saat aku perlu menggantungkan nyawaku seperti menjual kepada mereka hingga akhirnya aku menjadi manusi satu-satunya yang terkurung di sini !” Pria itu mempererat genggamannya pada belati yang memancarkan seberkas sinar sekilas saat Taeyang menaikkan belatinya sampai cahaya purnama mengenai benda tersebut.

“Tidak tahu kah kau saat itu aku sedang sakit keras. Itu berurusan dengan nyawaku hingga akhirnya aku membuat kesepakatan dengan para iblis untuk memperpanjang umurku, tapi apa yang aku dapat ? Aku justru terkurung selamanya di antara sisi keburukan dan kebaikan dunia !”

Taeyang mulai berjalan pelan menghampiri Sandara yang semakin bergetar. Gadis itu tidak bisa menggerakkan lengan dan kakinya, membuka mulutnya, ataupun berkedip dan memalingkan wajahnya dari Taeyang. Kini Sandara sangat persis seperti patung dan Taeyang bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.

“Tapi itu tidak masalah karena selama satu tahu aku berada di sini, rencana untuk membuat dunia baru tanpa ada orang sepertimu langsung membuat aku berjuang keras melakukannya,” tawanya pahit, “sepertinya aku perlu memberikan rasa terima kasihku pada kekasih yang selalu kau cintai karena tanpa benih yang sempat tertanam di rahimmu tidak akan melancarkan rencana hebatku ini.”

Taeyang sekarang sudah tepat berada di hadapan Sandara dan membelai secara perlahan leher Sandara dengan belatinya tanpa sayatan sedikitpun.

“Aku hanya membutuhkan darahmu noona untuk mengaliri simbol yang sudah di buat oleh sosok yang kau anggap sebagai Seunghyun itu. Bahkan kau tidak sedikitpun memperdulikan berbagai nasihat-nasihat yang sebenarnya berasal dari biksu tua itu. Kejadian di dalam mimpi (part 1) bahkan saat kau baru berpijak tidak lama di dunia yang aku kuasai ini ?”

“Kau kejam, Taeyang !” desis Sandara dalam hati.

“Siapa yang kau bilang kejam sekarang ? Bukankah kau dan Jiyong yang jahat karena menggugurkan anak istimewa itu hingga dia terperangkap di tempat yang sama sepertiku ? Dunia yang tercipta karena dosa manusian maupun perjanjian manusia dengan iblis.”

“Sekarang kita hanya tinggal menunggu salah satu iblisku membawa Soo Ra dan Soo Hye ke tempat ini.” Kata Taeyang seraya mempesiapkan belatinya untuk menusuk leher Sandara.

Gadis itu hanya memejamkan mata erat, kali ini matanya bisa dia kendalikan untuk di tutup rapat. Dia berteriak tertahan dan berusaha menggelengkan kepalanya yang akhirnya berhasil. Tubuh Sandara tidak lagi seperti patung yang kaku. Sandara menatap tajam kearah Taeyang dengan mata putih termasuk iris matanya sekalipun hingga mengakibatkan Taeyang memundurkan langkahnya dengan lamban.

“Apa yang terjadi di sini ?” Pria itu bertanya merujuk ke tiga iblisnya yang telah mengabdi untuk melancarkan rencana hebat. Namun di luar dugaan mereka, Sandara terbang melayang hingga bisa mencapai langit-langit seraya merentangkan kedua lengannya dan segera timbul sayap putih layaknya malaikat.

“Persaingan sengit baru di mulai Taeyang dan kita lihat siapa yang akan membuat dunia baru di alam semesta ini !” gadis itu berteriak seraya menghempaskan kedua sayap putihnya yang lebar dengan membawa angina ribut hingga membuat benda di sekeliling itu bertebaran secara liar dan lampu yang berkedip terpecah dengan sekali hempasan bahkan Taeyang dan ke tiga iblisnya perlu usaha keras untuk memperkuat cengkramannya di dinding.

“Dia pasti mendapatkan bantuan dari para biksu itu,” Taeyang berujar disela hembusan angin yang semakin menjadi-jadi.

“Ini akan tidak adil,” dengus Taeyang. “Kalian bertiga harus menyatu denganku untuk melawan wanita sialan itu !” gertaknya menggelegar hingga memecahkan kebisingan di tempat itu.

To be Continue..

Terima kasih buat semuanya yang sudah baca ff ini 🙂
Nah berhubung next part adalah part terakhir maka saya meminta untuk kalian meninggalkan jejak di part ini, karena akan saya kasih pw untuk part selanjutnya.
Bisa message ke VA Panda dengan memberikan keterangan user name kalian saat komentar di part ini, Sedangkan untuk epilog kalian minimal terlihat oleh Saya empat kali. Saya lakukan ini karena saya juga menghargai nama-nama orang yang bahkan komen dari prolog sampai part kemarin itu
Badan pegel-pegel, jadi saya akhiri, hihi. Pupayyyy

<next>>

Advertisements

140 thoughts on “The Darkness of Tokyo [Part 4] : Underworld

  1. Firasat ku udah gak enak kok tiba” chaerin bisa ada d.sana,,apa lagi chaerin gak suka sama jiyong tapi pas ngomong kata jiyong biasa aja,,,dara harus nya percaya dengan perasaan mu,,taeyang kenapa kok jahat sih sama saudaranya sendiri elah pakek bikin perjanjian sama iblis lagi,,,syukur lah doa para biksu tersampaikan untuk dara jadi bisa slamet,tinggal nyari anak.y berhasil gak ya,,,
    penasaran sama next part minta PW.y ya
    xiesy69@gmail.com

  2. Huaa eonie, ceritanya daebak. Bacanya ampe merinding lohh ini. Awalnya rada kurang paham, tapi karena penyampaiannya gak berat akhirnya ngerti alurnya. Gak nyangka aja klo si taeyang begitu.. Berharap dara bisa bawa anaknya dehh.. Dan bsa balik ke jiyong. Semoga happy ending.
    Btw boleh mnta pw chap 5 sma epilog eon? Biar gak penasaran jdnya. Boleh dikirim ke email verenyunky85@gmail.com ya eon. Gomawo. Lanjut terus bikin cerita” lainnya, ditunggu.. Hengsho!!

  3. Aku udah curiga dari awal kenapa tiba2 chaerin ada disana,ternysta itu iblis yang menyamar,
    Taeyang juga kenapa harus bersekutu sama iblis kalau akhirnya dia malah terkurung disana bukannya hidup lebih lama,
    Untung aja do’a para biksu menyelamatkan dara dari mereka berempat,
    Ayo dara cepat temukan anak kembarmu sebelum keduluan sama anak buah taeyang.

    Thor minta PWnya yah,,,,
    Ini email aku: atcunajah@gmail.com

    Makasiih sebelumnya

  4. Nah lho ternyata bukan teman2 dara itu cuma anak buah taeyang oppa…kenapa taeyang oppa jadi jhat begitu sih? Aku harap itu bukan taeyang oppa beneran sama kyak yang lain…ini cerita dari awal bkin rasa campur aduk sumpah tapi kebanyakan rasa penasaran campur merinding sih haha
    Okey aku mau minta PW nya biar enggak penasaran ma nih cerita tolong dikirim PW nya yah Pinda!

  5. Nah lho ternyata bukan teman2 dara itu cuma anak buah taeyang oppa…kenapa taeyang oppa jadi jhat begitu sih? Aku harap itu bukan taeyang oppa beneran sama kyak yang lain…ini cerita dari awal bkin rasa campur aduk sumpah tapi kebanyakan rasa penasaran campur merinding sih haha
    Okey aku mau minta PW nya biar enggak penasaran ma nih cerita tolong dikirim PW nya yah Pinda, mita.ropitasari1@gmail.com

  6. Koq yongbae oppa jdi jahat ..
    Cerita.a makin bkin pnsran …
    Unie krimn aqu pw nya k.nmer hp aqu aja ni 089529778731

  7. Pinda unie aqu minta pw part5 sma epiloge.a ..
    Bisa kirim lwat nmer hp kn .
    Ni nmer.a 089529778731.
    Khamsahamidda..😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s