[Series] Coming To You – 6

coming to you

Author : Jung Yoorey

Title : Coming To You

Cast : Sandara Park (Dara 2NE1), Kwon Jiyong (GD Big Bang)

Other Cast : Lee Haru (OC), other

Genre : Fantasy, Fluffy, Friendship, Sad, a bit Comedy

Rating : Teenager

Backsound’s : Big Bang – Let’s Not Fall In Love

 Note

Baca note diakhir cerita

 


 

 

 

Kenapa saat kau mulai berharga, kau pergi? apa ini yang kau sebut bahagia?

 

*

 

20.00 KST, Jiyong’s apartement

“aku pulang.”

Jiyong sedikit membesarkan suaranya upaya memanggil sandara. Haru segera melepaskan tangan jiyong yang menggenggam lengannya dan berlari masuk ke ruang tengah.

“dara unnie!” teriak haru penuh antusias.

Jiyong tersenyum tipis dan menyusul haru. Gadis kecil itu celingak-celinguk mencari keberadaan sandara. Begitupula jiyong yang sedikit bingung, tumben sandara tidak ada di ruang tengah.

“Dee?” panggil jiyong agak keras. Kakinya melangkah ke dapur dan tidak menemukan siapa-siapa. Jantungnya mulai berdebar. Dimana sandara?

“dee?” jiyong kembali memanggil sandara, kali ini diikuti oleh kakinya yang melangkah cepat ke arah kamar haru—yang untuk sementara ditempati oleh sandara.

Cklek!

Pintu dibuka cukup kasar oleh jiyong dan kembali tidak menemukan siapa-siapa. Wajahnya kusut. Jantungnya terpacu kuat.

“dimana dara unnie, oppa?” haru muncul didekat kaki jiyong. jiyong meringis dan menggeleng.

“tadi dia ada diruang tengah sebelum aku menjemputmu.”

Haru nampak berpikir. “mungkin dara unnie pergi jalan-jalan.”

Jiyong menatap keponakan cantiknya itu. “heh? Jalan-jalan? Kemana?”

Haru mengangka bahunya. “mungkin dara unnie lagi cari makan? Atau berkencan? Oh tidak, dia tidak boleh berkencan selain dengan oppa!”

Jiyong speechless menatap haru. Gadis kecil itu sangat pintar memanas-manasi suasana.

“aku akan mencarinya diluar. Kau bisa jaga rumah kan, putri kecil?” jiyong mengacak rambut haru.

Haru mengacungkan jempolnya “tentu. Segera bawa dara unnie pulang, oppa!”

Jiyong meringis. “dia tidak punya tempat tinggal lain, sayang. Ia pasti akan pulang, dan aku akan membawanya.”

*

20.10 KST, Gyeongpodae Beach

“kau beritahu dara kalau jiyong mencintainya?”

Chaerin mengangguk pelan. lelaki di hadapannya menatap chaerin penuh rasa sakit seakan bisa merasakan apa yang chaerin rasakan. Lee seungri.

“aku tahu jiyong mencintai dara.” Gumamnya pelan. pipi putihnya memerah.

Seungri menatap gadis yang dicintainya itu lembut. “tapi itu tidak harus kau yang memberitahu dara, chae.”

Chaerin menghela nafas. “tadi sohee dan lizzy berulah.” Seungri mengangkat alisnya. “saat ke perpustakaan tadi, aku melihat sohee dan lizzy membentak dara dan hampir memukul dara. Dan aku datang menahannya.”

Seungri melotot tidak percaya. “hah? kau serius?”

Chaerin mengangguk.

“apa jiyong tahu hal ini?”

Chaerin menggeleng kali ini. “tidak. aku belum memberitahu jiyong. kupikir dara juga tidak begitu ingin jiyong tahu. Dan jika jiyong tahu, aku tidak takin sohee dan lizzy akan baik-baik saja.”

“ya, benar juga sih.”

Angin pantai malam itu sedikitnya bisa membuat chaerin tenang. Ini ide seungri. Ia melihat gadis itu berjalan seorang diri di taman kampus dan mengajaknya untuk refreshing diluar, sekalian jalan-jalan. Chaerin diam-diam sangat berterima kasih karena seungri bisa membaca situasinya sekarang ini.

“rat..”

Seungri menoleh. Rambut panjang chaerin berterbangan pelan membuat lelaki itu berdebar. “ya, chae?”

“berjanjilah lagi padaku.”

Seungri mengangkat alisnya.

“seperti dulu kau janji tidak memberitahu siapapun aku menyukai jiyong, maka kali ini berjanjilah jangan beritahu dara kalau aku menyukai jiyong. aku tidak mau dara menjauhi jiyong karenaku. Aku tidak mau merusak kebahagiaan dara. Dan berjanjilah untuk menjaga jiyong dan biarkan dia bahagia dengan dara. Intinya, dara tidak boleh tahu aku menyukai jiyong.”

Seungri speechless.

*

20.20 KST, Seveneleven

“kau bodoh!”

“kau lebih bodoh!”

“gah, kau jauh lebih bodoh dariku!”

“kau percaya diri. Tapi sayangnya kau bodoh!”

Tatapan maut bom dan seunghyun merusak suasana di seveneleven malam itu. daesung dan minji memilih untuk pindah tempat duduk karena dua alien itu sungguh sungguh ribut. Seandainya ada jiyong disana, maka bom dan seunghyun sudah basah kuyup oleh siraman minuman jiyong.

Sejak sampai dari tadi, bom dan seunghyun tidak berhenti berdebat. Ah ralat, sejak mereka diatas motor pun mulut mereka tidak berhenti berkicau. Kata bom, seunghyun mengendarai motornya sangat kencang dan menuduh seunghyun kalau lelaki itu modus ingin dipeluk olehnya.

“baiklah aku menyerah.” Kesal seunghyun dan mengalihkan matanya dari tatapan kilat bom yang sekarang tersenyum penuh kemenangan.

“akhirnya kau mengakui kan kalau kau memang ingin dipeluk olehku.”

Seunghyun mendecak. “cuih, apa gunanya aku dipeluk oleh jagung raksasa.” Gumamnya.

Bom melotot. “Apa?! kau menjilat ludahmu sendiri!”

“sejak kapan?”

“dasar lelaki yang jati dirinya tidak jelas!”

“heh? Dasar perempuan raksasa yang tidak punya sopan santun!”

Dan pertengkaran itu kembali dimulai. Bahkan belum sampai 30 detik setelah seunghyun mengaku menyerah, sekarang mereka kembali dengan ronde kedua.

i love you baby im not a monster..’ (Monster – BigBang)

Bom yang hendak melempar tissue kewajah seunghyun segera melirik ponselnya yang terletak di meja seveneleven. Seunghyun ikut melirik ke arah ponsel gadis seksi itu.

Bom mendengus melihat seunghyun dan menyambar ponselnya cepat. Seunghyun hanya mendecih. Bom segera mengangkat telefon masuknya. Kwon jiyong.

“kenapa jiyong? tumben menelfon.”

apa kau bersama dara?”

Bom mengernyit. “tidak. bukankah dia bersamamu tadi?”

argh sial..”

“hei, dimana dara?”

kau pikir kenapa aku menelfonmu?

Bom menggertakkan giginya. “mungkin dia ada dirumahnya.”

tidak ada, aku sudah mencarinya. Sekarang aku sedang mencarinya di sekitar gangnam.”

“kalau begitu aku akan mencarinya juga.”

Jiyong mengiyakan dan segera memutus sambungan telfon.

Bom membereskan barang-barangnya dan menatap seunghyun yang mengangkat alisnya bingung. “cepat berdiri bodoh! Dara menghilang dan kita harus membantu jiyong sekarang!”

Seunghyun hanya menganga.

*

“dimana kau sandara park?”

Jiyong tidak berhenti bergumam dengan wajah yang benar-benar khawatir. Jangankan wajahnya, nafasnya pun terdengar sangat depresi.

Jiyong mengacak rambutnya ketika ia sudah melewati sebuah rumah makan yang sama selama 3 kali dan belum menemukan sandara. Jantung jiyong berdebar. Entah kenapa. Ia takut gadis joseon itu pergi.

“dee.. kau dimana?” suara jiyong mulai serak. Kepalanya celingak celinguk mencari keberadaan sandara.

Ia tahu ini ia bertemu dara belum genap seminggu. Tapi sandara seperti sudah bersamanya sejak lama. Seakan sandara adalah bagian hidupnya.

Jiyong tidak tahu sejak kapan ia mulai sangat takut kehilangan gadis itu, tapi jiyong benar-benar serius sekarang. ia benar-benar takut.

Padahal sandara sangat merepotkan dan terkadang membuatnya kesal minta ampun. Tapi ada saat dimana sandara membuatnya menjadi konyol dan menjadi lover boy. Sandara mencuri semuanya. bahkan seorang kwon jiyong sampai repot-repot berkeliling gangnam dengan kedua kakinya hanya untuk mencari seorang gadis yang baru dikenalnya.

Jiyong mencintai sandara. Entah sejak kapan. Tapi jiyong merasa nyaman dengan perasaan ini. jujur saja, ia takut jika sandara meninggalkannya disaat ia mencintai gadis itu. gadis yang belum seminggu dikenalnya, gadis asing yang berasal dari masa lalu, gadis yang hampir membunuh gaho, gadis yang pernah tidur seranjang dengannya, dan gadis yang membuatnya hilang kontrol bahkan ketika angin menyakitinya.

Sandara park

“dimana kau?” lirihnya pelan. Matanya memerah.

“ji?”

Jiyong bagai disetrum listrik ribuan volt saat mendengar suara yang sangat ia rindukan itu. padahal belum 5 jam ia mendengar suara itu, tapi rasanya sangat lega mendengar suara itu lagi. tubuhnya kaku.

“sandara!” jiyong segera berlari ke arah sandara yang berada 5 meter didepannya. Gadis itu menenteng sebuah tas kertas kecil dan wajahnya terlihat kaget.

yak kau darimana saja? kau tahu aku hampir gila mencarimu?!” teriak jiyong melepaskan seluruh rasa khawatirnya. Ia benar-benar lega sekarang.

Sandara tersontak kaget mendengar teriakan jiyong. lelaki itu mencengkram lengannya. Terlihat semburat cemas di wajah jiyong yang membuat sandara jadi sulit untuk berbicara.

“a-aku..”

“aku sudah bilang jangan keluar rumah jika tidak bilang padaku!”

“ta-tapi..”

“jangan seenaknya pergi seperti ini! kau membuatku berpikir yang tidak-tidak. seharusnya kau menungguku dirumah!”

“i-itu..”

“kau tahu aku sangat khawatir.. bagaimana kalau kau tersesat dan tidak kembali?” suara jiyong memelan. Cengkramannya melemas. Sandara meneguk liurnya dengan tatapan sendu.

“aku pikir kau—kau sudah kembali ke joseon..” mata jiyong berkaca-kaca. Ia cengeng. Ia akui itu.

Sandara menggeleng. “tidak, aku tidak akan pergi begitu saja, ji. Lagipula aku punya peta kok, seorang penjaga memberinya padaku.”

Jiyong menatap sandara dalam dan segera memeluk gadis itu erat. Sandara tercengang ketika merasakan jiyong bergetar dipelukannya.

“jangan pergi seperti ini. kau tahu aku sangat takut kehilanganmu..”

Sandara mengelus punggung jiyong upaya menenangkan lelaki itu. “aku tidak pergi kemana-mana ji, aku ada disini.”

Jiyong mengeratkan pelukannya. “aku takut kau tidak kembali..”

Sandara menepuk punggung jiyong lembut mencoba untuk menenangkan lelaki itu. “aku disini ji, tenanglah.”

Jiyong merasakan sesak didadanya mulai melonggar. Paru-parunya kembali kembang kempis secara normal. Ia memang lemah, dan semua ini karena sandara. Gadis asing dari joseon—bodoh.

*

20.45 KST, Jiyong’s Apartement

“aku sudah menemukan dara.”

dimana?

“saat aku mencarinya di gangnam. Rupanya dia dari kantor pos mengambilkan suratku.”

astaga gadis itu! yasudah, baguslah dara sudah ketemu. Lebih baik kau antar dia pulang. tapi kenapa dia mengambilkan suratmu?

Gluk. Jiyong meneguk liurnya. Ia mulai bingung menjelaskan pada bom. “e-eh itu.. a-ah ya, aku lupa ternyata aku tadi menyuruhnya untuk mengambilkan suratku. Hahaha..” jiyong tertawa garing.

what the..? ternyata kau sama bodohnya dengan seunghyun.”

Jiyong meringis ketika mendengar seunghyun protes dengan ungkapan bom. “baiklah, sudah dulu ya. terima kasih sudah membantuku.”

tentu saja. salam sama dara, ya.—kenapa kau menjitakku bodoh?! Aku lebih tua darimu!

Jiyong segera memutuskan sambungan ketika bom berdebat kembali dengan seunghyun. Ia menaruh ponselnya di meja makan dan keluar ke ruang tengah. Gadis yang membuatnya kalang kabut itu sedang duduk dan bermain bersama haru.

“aku tidak percaya unnie tidak tahu doraemon.” Celetuk haru. Jiyong tersenyum tipis.

Sandara menggeleng serius. “aku tidak tahu doraemon. Apa itu seekor mamalia?”

Tawa jiyong hampir pecah ketika haru merengut. Jiyong dengan gagah mengambil tempat disamping haru dan menaruh lengan kanannya di sofa belakang haru dan sandara.

oppa! unnie tidak tahu doraemon.” Adu haru sebal. Bagaimana bisa sandara tidak tahu tokoh kartun yang sekarang menjadi panutan haru itu?

Sandara menatap jiyong meminta penjelasan tentang doraemon. Jiyong tersenyum tipis. “dia hanya bergurau. Tapi dia tahu kok. ia hanya mengusilimu.”

Haru menatap sandara dengan wajah cemberut. “uuh, unnie kau sangat usil.”

Sandara hanya meringis manis dan mengikuti skenario jiyong. ia mulai terbiasa dengan kebohongan yang jiyong ciptakan untuknya.

“aku lapar. Apa kau lapar, haru?” sandara menatap gadis kecil itu dan dibalas dengan anggukan pasti.

“aku sangat lapar!”

Sandara menatap jiyong dengan pandangan yang mungkin hanya bisa diartikan oleh jiyong. “mau makan diluar lagi?” tawar lelaki itu dengan senyuman tipisnya.

Haru menggeleng. “aku mau makan makanan buatan oppa.”

Gadis kecil itu mendapat pelototan dari ahjussi tampannya. Jiyong memang pandai memasak. Ya, air panas dan racun—juga roti isi instan yang selalu ia masak ketika sarapan.

“jiyong pandai memasak?” gumam sandara bingung. seakan ia baru menemukan sebuah ufo, mulutnya membentuk sebuah O kecil.

“a-aku bisa sih tapi..”

oppa pernah membuatkanku nasi goreng yang sangat enak. Unnie harus mencicipinya.”

Jiyong tidak berani bilang kalau sebenarnya dulu itu bukan buatannya. Tapi buatan minji yang kebetulan meminjam dapurnya dulu. sebagai ahjussi yang ingin terlihat keren di depan keponakannya, jiyong pun dengan bangga mengklaim bahwa nasi goreng itu adalah buatan tangan supernya.

“nasi goreng? Nasi digoreng?” sandara bertanya dengan santai walau terlihat jelas ia mencoba untuk menutupi keterkejutannya.

unnie tidak tahu lagi?”

Sandara terdiam sejenak lalu menggeleng. “aku hanya membuat lelucon.”

Jiyong merasakan darahnya mengalir hangat dengan pemandangan didepannya. Tidak ada yang lebih melegakan lagi dibanding sekarang. sandara yang terlihat begitu santai berbicara dengan haru ditengah-tengah mereka.

Seperti keluarga komplit yang bahagia.

“baiklah, ayo kita lihat oppamu memasak untuk kita.” ucapan sandara menyadarkan jiyong dari lamunan keluarga komplitnya dan segera memelototi sandara. Sandara tersenyum manis dengan polosnya.

“setuju!” sahut haru semangat.

“bukankah kau punya tugas sekolah, haru?” jiyong mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari status ‘ahjussi keren’ dan berhasil. Haru terlihat mengingat sesuatu.

“ah benar. Sepertinya aku akan menunggu di kamarku saja. baiklah, selamat memasak oppa. dara unnie kau harus melihat jiyong oppa memasak dan menceritakannya padaku.” kemudian gadis kecil itu segera masuk kekamarnya meninggalkan jiyong dan sandara berdua.

Jiyong langsung melotot pada sandara. “kau harus tahu bahwa aku tidak pandai memasak. Sama sekali.” tekan jiyong di ujung kalimat.

Sandara mengangkat bahunya cuek. “lalu kenapa kau berbohong padanya kalau kau pandai memasak?”

Jiyong mengusap wajahnya. Akhir-akhir ini perasaannya sangat labil. Benar-benar seperti anak SMA yang masih pubertas. Ia kesal, lalu khawatir, kembali kesal, lalu melembut, dan berujung dengan kembali kesal. seperti kompor yang di on-off kan dan meledak.

“kau bisa memasak?” tanya jiyong akhirnya.

Sandara terlihat berpikir. “aku bisa membakar perapian dan menuangkan alkohol.”

Jiyong menggertakkan giginya menahan diri untuk tidak menggigit gadis bodoh itu.

“oh ya! aku juga bisa me-lap sendok.. kalau kau mengizinkan.”

GOD!

*

jiyong pov

Entah kenapa aku kesal dengan fakta bahwa aku tidak tahu memasak didepan sandara. Sebagai ahjussi idaman—untuk anak-anak!—aku bisa merusak reputasiku didepan gadis joseon yang sama bodohnya denganku ini. ah, aku masih lebih pintar.

“wuah telur ayam..”

Aku mendesah berat melihatnya terus kagum ketika aku mengizinkannya melihat-lihat bahan makanan tapi tidak boleh menyentuh apapun. Sejauh ini dia seorang yang penurut.

“ah ji—” Pyarr

Atau tidak?

“DARA! Aku sudah bilang jangan menyentuh apapun dan hanya lihat!” luapan kekesalanku membludak ketika ia memecahkan sebutir telur seharga 3 sen itu. jangan anggap remeh 3 sen, bung! Mereka uang dan akan tetap menang.

Sandara terlihat diam dengan teriakanku dan segera membersihkan pecahan telur di lantai. Aku segera berjongkok membantunya dan ia langsung berdiri. Aku mendongak bingung. kenapa gadis ini?

“aku akan melihat bahan yang lain.” Ucapnya pelan. hei, dia aneh. Aku menatap punggungnya yang sedang bergerak-gerak melihat akuarium di dapur. Aku benar-benar mencengkramnya jika ia berpikir ikan di akuarium itu termasuk bahan makanan.

“mereka bukan bahan makanan, dee.” Ucapku memecah keheningan. Tanganku sibuk me-lap lantai dengan kain basah. Argh, bau telur ini kenapa sangat busuk? Tidak seperti telur lainnya.

“aku tahu. Mereka lucu dan tidak layak untuk dimakan. Apa ini bayi piranha?”

Grr, otaknya sangat imut.

Aku berdiri dan membuang asal lap ditanganku ke westafel dan mencuci tanganku lalu berdiri disampingnya. “ini ikan mas koki, dara. Apa di joseon tidak ada ikan semacam ini?”

Sandara menggeleng. Matanya memandang kagum pada joe, nama ikan mas kokiku. “tidak ada. Masa sekarang sangat indah. seandainya shinjoo oppa disini, ia benar-benar suka dengan ikan.”

Jantungku menyeri akibat efek ‘shinjoo’. Lelaki itu mengacaukan saja. darahku mengalir cepat ke ubun-ubunku. Rasanya tidak rela bibir tipis itu mengucapkan nama mantan kekasihnya. Tanganku mengepal.

“shinjoo oppa pernah menangkap sebuah ikan yang lucu untukku tapi tidak seperti ini. ia tipis dan berwarna kemerahan. Shinjoo oppa bilang ia mirip denganku jadi ia menangkapnya dan kami memeliharanya. Shinjoo oppa—”

“jangan menyebut namanya lagi!”

Dara pov

“ah ji—”Pyarr

Ups. Aku tidak sengaja memecahkan sebutir telur ketika aku ingin memberitahu jiyong bahwa itu telur busuk.

“DARA! Aku sudah bilang jangan menyentuh apapun dan hanya lihat!”

Aku terdiam kaget. Ia sering membentakku, tapi entah kenapa rasanya aneh ketika aku sadar bahwa aku nyaman bersamanya. aku segera membersihkannya sebisaku tapi tiba-tiba ia berjongkok disampingku dan ikut membersihkan.

Jantungku kembali berdegup melihatnya sedekat ini. wajah dinginnya yang tegas, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan bibir yang tipis. Jiyong benar-benar tampan.

Oh tidak. aku tidak kuat melihatnya terus. Dengan cepat aku langsung berdiri. “aku akan melihat bahan yang lain.” Bohongku. Ini sebenarnya tidak benar, aku tidak diajar untuk berbohong. Tapi entah kenapa.. bersama jiyong semuanya seperti fiksi untukku.

Aku mencuci tangan disamping akuarium—jiyong sudah mengajarku menggunakan keran air otomatisnya. Aku melap tanganku dan melihat ikan-ikan di akuarium yang sukses mencuri perhatianku.

Ingatanku terbang pada shinjoo oppa. bagaimana aku bisa melupakannya? Aku sangat mencintainya. sangat mencintainya. ia sudah bersamaku sejak berumur 8 tahun dan ia menjadi pengawal pribadiku. Tapi aku sadar bahwa hubungan kami harusnya lebih dari itu dan akhirnya kami pun menjalin hubungan dibelakang keluarga dan statusku sebagai putri kerajaan.

Sampai hal tidak menyenangkan terjadi. ayahku tahu bahwa aku menjalin hubungan dengan shinjoo oppa dan melakukan berbagai cara untuk memisahkan kami. Usaha terakhirnya sangat membuatku terpuruk. Membuat shinjoo oppa mau tidak mau melepas nyawanya.

Shinjoo oppa selalu membuatku tertawa dan aku nyaman bersamanya. ia biasa memberiku bunga yang dipetiknya di kebun, buah-buahan, dan juga ikan untuk dirawat. Kami menaruhnya didalam sebuah kaca kotak yang kecil membiarkannya bergabung denganku didalam kamarku. Shinjoo oppa bilang ia sangat suka ikan dan jika ada waktu luang, dia ingin mengajakku main di sungai untuk melihat ikan-ikan yang dia sukai.

“mereka bukan bahan makanan, dee.”

Aku terbangun dari ingatanku dan tersenyum tipis. “aku tahu. Mereka lucu dan tidak layak untuk dimakan. Apa ini bayi piranha?” tanyaku penasaran. Bentuknya memang seperti piranha mini.

“ini ikan mas koki, dara. Apa di joseon tidak ada ikan semacam ini?”

Ikan mas koki. Namanya lucu. Aku menggeleng dan terus menatap ikan itu. “tidak ada. Masa sekarang sangat indah. seandainya shinjoo oppa disini, ia benar-benar suka dengan ikan.”

Aku tidak tahan untuk tidak memberitahu jiyong bahwa shinjoo oppa sangat suka ikan. Seakan itu adalah informasi penting, aku pun melanjutkan.

“shinjoo oppa pernah menangkap sebuah ikan yang lucu untukku tapi tidak seperti ini. ia tipis dan berwarna kemerahan. Shinjoo oppa bilang ia mirip denganku jadi ia menangkapnya dan kami memeliharanya. Shinjoo oppa—”

“jangan menyebut namanya lagi!”

Deg

Aku terkesiap dan menatapnya bingung. ia membentakku lagi, tapi kali ini aku bisa dengar nada lain disana. Wajahnya agak memerah dan kilatan dimatanya mengerikan. Sepertinya ini familiar.

“j-ji..”

“berhenti menyebut nama lelaki lain ketika kau bersamaku, dara.” Ucapnya sambil menatapku tajam. rahangnya menegas.

Aku meneguk liurku. Kenapa jiyong jadi seperti ini? “t-tapi ini shinjoo op—”

“aku sudah bilang jangan sebut namanya lagi!”

Suaranya meninggi lebih dari sebelumnya membuatku sedikit mundur. Aku tahu. Aku melihatnya seperti ini tadi pagi ketika youngbae datang.

Author pov

Nafas jiyong menderu menatap sandara. Tangannya masih terkepal sementara sandara menatap jiyong kaget. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya jiyong membentaknya, tapi entah kenapa sandara sangat sakit. Ia ingat ketika ayahnya dulu memarahinya karena memilih shinjoo.

Tes

Jiyong tersadar sepenuhnya ketika ia menemukan setitik air—yang seharusnya tidak boleh keluar—membasahi pipi mulus sandara. Dengan cepat ia mendekati sandara dan menangkup wajah gadis itu.

“maafkan aku.. maafkan aku..” gumam jiyong. rasa bersalah menyelimutinya. Jempolnya bergerak mengusap wajah sandara sementara sandara meremas ujung bajunya.

Jiyong mendongakkan kepala sandara menghadap ke wajahnya. Hatinya terpukul ketika sandara langsung terisak. gadis joseon yang selalu ceria dan lembut itu menangis didepannya. Dan hebatnya itu karena jiyong.

“maafkan aku dee, aku tidak bermaksud. Tolong berhenti menangis..” jiyong segera memeluk sandara dan membenamkan wajah sandara di pundaknya. Sandara segera memeluk jiyong dan menangis disana. Entah kenapa ia sangat ingin menangis ketika melihat mata jiyong.

mianhae.. mianhae mianhae..” bisik jiyong berulang kali. Sandara hanya diam terisak di pelukannya.

Jiyong mengelus rambut sandara dengan lembut. Wajahnya terlihat keras ketika mendengar sandara kembali menyebut nama shinjoo. Dan jiyong hanya terus mengucapkan maaf pada gadis itu.

*

Makan malam yang sedikit keruh itu akhirnya selesai. jiyong sebelumnya memutuskan untuk memasak ramen untuk mereka bertiga karena HANYA itu satu-satunya makanan yang bisa dia masak. Dan ajaibnya sandara dan haru memujinya.

Jiyong hampir kehilangan akalnya tadi ketika melihat sandara menangis untuk pertama kalinya. Ia merasa jantungnya ditarik keluar dan ia hanya bisa terus mengucapkan maaf sampai akhirnya sandara mengatakan ia hanya kaget dan kembali ceria.

Gadis itu membuat jiyong benar-benar menggila, untuk hari ini. sejak pagi ia tidak berhenti berubah-ubah. Sekarang jiyong merasa ia mempunyai 2 jiwa. 1 jiwa dengan sifat dingin dan 1 jiwa dengan sifat lembut. Sandara memang penyakit mengerikan.

“jiyong~”

Jiyong menaikkan alisnya ketika sandara keluar dari kamar haru. Jiyong berpikir mungkin haru sudah tidur, karena sebelumnya haru minta ditemani tidur oleh sandara.

“aku ingin bertanya.”

Jiyong menggeser duduknya mempersihlahkan sandara duduk disampingnya—di sofa ruang tengah. Sandara duduk disamping jiyong dengan sedikit jarak. Jiyong menaruh lengannya disofa belakang sandara.

“apa?”

Sandara meneguk liurnya. Ia sedikit tidak yakin dengan pertanyaannya. Tapi ia harus menanyakannya. Ia tidak suka penasaran dan ia memang blak-blakan, ya, ia tidak dibesarkan untuk menjadi penyimpan rahasia.

“apa ada perempuan yang pernah menyakitimu?”

Mungkin jika jiyong sedang minum, makan ruang tengahnya sudah banjir karena semburannya. Bagaimana bisa sandara bertanya seperti itu? jiyong menatap sandara mengintimidasi—kembali pada jiyong yang dingin.

“kenapa kau bertanya seperti itu?”

Sandara mengangkat bahunya polos. “hanya dengar-dengar di sekolahmu. Memang benar yah?”

Jiyong masih menatap sandara tajam. “aku tidak begitu suka bohong jadi aku akan jujur. Ya, benar.”

Sandara terdiam sejenak menatap jiyong mencari celah ke mata lelaki itu. tapi tatapannya sangat tajam. “siapa?”

Jiyong menahan nafasnya sejenak.

“jiyong kau lupa bawa bekalmu kan? Ayo makan bekalku saja!”

“hi jiyong, sepertinya harimu buruk. Ceritalah padaku.”

“jiyong kurasa kakiku sakit.”

“kenapa kau meninggalkan chaerin dan seungri?”

“jiyong ini tidak benar, kau tidak boleh melakukannya.”

“kau benar-benar brengsek yang sangat perhatian.”

“lihat aku ketika aku bicara padamu, huh.”

“kenapa kau terlambat? Aku benar-benar takut..”

“jiyong, bisakah aku menciummu?”

“aku mencintaimu kwon jiyong.”

“kita hentikan semua ini. aku tidak bisa melanjutkannya.”

“aku tidak mencintaimu lagi.”

“jiyong?”

Kilasan seperti film di otak jiyong seketika terhambur ketika suara sandara menyadarkannya. Dada jiyong mulai sesak ketika melihat sandara. Gadis itu mengingatkannya pada masa lalu yang tidak ingin ia ingat lagi.

“kalau kau tidak mau cerita, tidak apa. kau terlihat buruk sekarang.” ucap sandara lembut mencoba meredakan jiyong yang terlihat emosional.

Jiyong menggeleng. “Tidak. aku hanya akan memberitahumu sedikit. Tapi setelah itu jangan mengungkitnya lagi. kau mau dengar?”

Sandara terdiam melihat raut wajah jiyong. lelaki itu terlihat enggan untuk cerita. Sandara memutuskan untuk menggeleng. “Tidak usah, aku hanya ingin kau untuk tidak mengingatnya lagi. maaf aku sudah mengungkitnya.”

Tatapan jiyong melembut. Lelaki tampan itu kembali ke jiwanya yang baru. “kau benar-benar tidak mau tahu?”

Sandara menatap jiyong halus.“aku tidak punya hak apapun untuk tahu masa lalumu, kan?”

Jiyong terdiam mendengarnya. entah kenapa ia merasa nyeri didadanya ketika sandara berkata bahwa ia tidak punya hak apapun terhadapnya. Padahal jiyong sudah hampir mempunyai kepribadian ganda—atau mungkin sudah karena sandara benar-benar membuatnya ingin mati konyol.

“kau membuat ini menjadi rumit, hahaha.” Kekeh jiyong pelan. mencoba untuk menghilangkan rasa kecewanya.

Sandara ikut terkekeh dan itu membuatnya terlihat sangat manis.

“ngomong-ngomong, kau tahu darimana kalau aku pernah, yah.. disakiti oleh perempuan sebelumnya?”

Sandara sedikit tersentak mengingat kejadian siang tadi di perpustakaan. Jiyong menyadari perubahan sikap sandara yang mendadak menerawang dengan raut yang masam.

“apa terjadi sesuatu padamu?”

Sandara segera menggeleng. “ti-tidak.”

Mata jiyong menyipit. “kau tidak boleh berbohong, kau putri kerajaan yang punya etika, bukankah aku benar?”

Sandara menghela nafas dan menatap jiyong sambil mengerucutkan bibirnya membuat jiyong tercekat oleh keimutan gadis itu. “kau benar tapi tidak terjadi apapun padaku.”

Jiyong menatap sandara tajam. “baiklah, besok aku akan mencari tahunya sendiri.”

Sandara melotot dan segera menggeleng. “Tidak usah! Aku baik-baik saja.”

“kalau begitu ceritakan padaku apa yang mengganggumu.”

Sandara kembali menggeleng. “kau tidak perlu tahu, lagipula itu hanya salah paham.” seketika raut wajah sandara menegang ketika menyadari bahwa ia keceplosan. “a-ah..”

Jiyong mendecak. “cerita atau aku akan menginterogasi semua murid di kampus besok. Aku tidak main-main, apa yang aku ucapkan akan aku lakukan Sandara Park.”

Sandara meneguk liurnya. Ia sudah ketahuan. “tadi ada dua orang perempuan datang padaku dan yah.. sepertinya mereka suka padamu. Ia bilang kau itu miliknya dan aku tidak boleh ada didekatmu—”

what the fcking hell! Siapa yang berani bilang begitu padamu?” jiyong mulai naik pitam ketika seseorang berusaha menjauhkan sandara darinya.

Sandara mendelik. “putri kerajaan tidak boleh disela, jiyong-ssi.”

Jiyong menatap sandara tajam.

Sandara tidak bergeming dan melanjutkan ceritanya. “setelah itu ia bilang kalau ia hanya ingin melindungimu dari perempuan yang bisa saja menyakitimi seperti dulu. jadi aku bertanya-tanya apa yang menyakitimu sampai mereka ingin melindungimu.”

Jiyong mengepalkan tangannya. “aku tidak butuh mereka, jadi tidak usah dengar mereka. dan lagi, jika ada yang mengganggumu, siapapun itu, langsung beritahu aku. kau harus tahu itu dara, aku tidak mau kau kenapa-kenapa selagi kau diluar jangkauan mataku.” Terdengar cheesy. Tapi inilah si konyol jiyong.

Sandara menatap jiyong nanar.

“aku hampir memukul diriku sendiri ketika kau menghilang tadi sore. Jantungku terasa berhenti ketika kau menangis karenaku tadi. Berhenti menyiksaku..” jiyong menyentuh pipi sandara dan mengelusnya lembut.

Sandara tercengang melihat jiyong yang sangat lembut ini. jantungnya berdenyut melihat tatapan jiyong yang benar-benar mengingatkannya pada seseorang.

“jiyong..” gumam sandara.

Jiyong menaikkan alisnya sambil tetap mengelus wajah mulus sandara.

Gadis itu menatap jiyong pilu. “bagaimana nanti kalau aku kembali ke masa laluku?”

Jiyong terpaku. Tangannya berhenti mengelus pipi sandara berganti raut emosionalnya lagi.

“kau mau meninggalkanku?” bisik jiyong lemah. Tatapan tajamnya sirna begitu saja.

Sandara menggeleng dan menangkap tangan jiyong yang jatuh. “aku tidak meninggalkanmu, sejak awal aku datang kemari hanya untuk menemukan apa itu kebahagiaan. Tapi.. bagaimana jika kebahagiaanku itu sudah kutemukan?”

Jiyong tidak pernah masuk ke pembicaraan seperti ini sebelumnya dengan sandara. Mereka berdua lebih asyik dengan dunia mereka dan melupakan status sandara yang berasal dari masa lalu.

“maka jangan bahagia.” lirih jiyong tegas namun tersirat rasa tidak rela disana.

Sandara terbelalak. “maksudmu?”

Jiyong menghela nafas dan membaringkan kepalanya di paha sandara membuat sandara terbelalak. tangan gadis itu menyentuh kening jiyong. “ada apa denganmu? Kau sakit?”

Jiyong tidak menjawab dan menarik tangan sandara lalu menaruhnya di rambutnya. “elus rambutku.” Pinta jiyong dengan lenguhan manja. Matanya tertutup.

Sandara mengernyitkan keningnya bingung dan mengelus rambut jiyong lembut. “aku tidak mengerti dirimu, jiyong.” bisiknya.

Jiyong tersenyum tipis dalam jalannya menuju mimpi. “kau tidak perlu mengerti diriku. Kau akan terkejut jika kau tahu diriku yang sebenarnya.”

Sandara hanya bisa menutup mulutnya dan mengelus rambut jiyong penuh sayang.

*

22.05 KST, Youngbae’s Apartement

Youngbae menutup kulkasnya dan segera masuk ke kamarnya. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat sangat tampan. youngbae menghela nafas pelan ketika melihat laptopnya.

“tugas, tugas, dan tugas.” Keluhnya pelan dan kembali duduk di posisi yang bisa membuatnya stres. Mengerjakan tugas.

Tangannya bergerak ke kursor mencari jawaban dari pertanyaan yang diberi oleh dosennya. Merepotkan.

“aku bisa gila.” Gumamnya kesal.

dwidora bwasseul ttae saenggakboda meolli waisseosseo..’ (fear – mino ft. Taeyang)

Youngbae menoleh ke samping laptopnya. Ponselnya berbunyi. Dengan cepat Youngbae menarik ponselnya dan membaca siapa yang menelfonnya malam begini.

“heh?” matanya makin menyipit setelah membaca siapa yang menelfonnya malam buta seperti ini. Dengan ribuan pertanyaan, Youngbae segera menjawabnya.

youngbae?

Youngbae terdiam sejenak. “lama sekali sejak terakhir kali kau menghubungiku.”

maaf, aku hanya mencari waktu yang tepat..

Youngbae berdiri dari posisinya dan berbaring di kasurnya. Raut wajahnya tidak terbaca.

“apa kabarmu di slovakia?”

cukup baik. Aku baru saja diterima sebagai reporter disini.

Youngbae tersenyum tipis. “kabar yang menyenangkan. Kau sangat ingin menjadi reporter kan? Selamat ya akhirnya mimpimu terwujud.”

slovakia hanya kota kecil, reporter tidak berarti apa-apa disini. tapi terima kasih.

“jika itu kau, maka tidak alasan untuk tidak melihat acaramu.” Goda Youngbae.

Terdengar kekehan dari seberang sana. “kau tidak berubah, senang sekali membuatku percaya diri.

Youngbae meringis geli. “dimana kau sekarang?”

di taman kota. Kau sendiri?

“diapartement, seperti biasanya. Tugasku menumpuk. Seandainya kau ada disini, kau pasti membantuku, kan?” Keluh Youngbae nyaman.

kenapa aku harus membantumu, ckck.

“hehehe, apa kabar minho hyung disana?”

dia baik, tapi masih harus melanjutkan kemo terapi.

“aku berharap yang terbaik untuknya.”

terima kasih.”

Keduanya terdiam. Youngbae menatap ke atap-atap apartementnya kosong. Suara gadis itu membuatnya hampa.

lalu.. apa kabar jiyong disana?

Youngbae mendesah tanpa suara. pertanyaan yang ingin hindari. “dia baik.” Jawabnya singkat.

kalian.. masih tidak bisa kembali berteman?

Youngbae bangkit dari tidurnya dan mencengkram ponselnya. “tidak ada alasan untuk kami kembali berteman. Kau tahu sendiri kan, dia itu bagaimana? Kau juga tahu kan, aku itu bagaimana?”

maaf, ini semua karenaku..

Youngbae menarik nafasnya pelan. “tidak, ini juga salahku.”

hm.. aku hanya ingin tahu kabar lelaki itu. apa dia menemukan.. seseorang?

Youngbae menerawang mengingat sandara. Gadis yang akhir-akhir ini selalu berada di sisi jiyong. mengubah si dingin jiyong menjadi si protektif jiyong. gadis itu muncul secara ajaib.

youngbae? Kau masih disana?

“ah y-ya, aku masih.”

apa jiyong sedang dekat dengan seorang perempuan?

“ya.”

eh? si-siapa?” suara gadis itu tercekat.

Youngbae menghela nafas berat. “beberapa hari yang lalu, jiyong muncul di kampus dengan seorang perempuan yang cantik. sepertinya dia bukan mahasiswa dikampus. Tapi jiyong sepertinya sangat melindunginya, ia tidak membiarkan laki-laki mendekatinya. Dari caranya melihat perempuan itu, sepertinya ia menyukainya.”

benarkah?

“kau terdengar patah hati.”

ti-tidak! aku hanya ingin tahu tentangnya, lagipula aku dan dia sudah tidak ada apa-apa lagi. kami berteman.

Youngbae tersenyum pahit. “lalu aku dan kau? Apa kita juga sudah tidak ada apa-apa lagi?”

Gadis di seberang sana terdiam membuat Youngbae terkekeh. “jangan menganggapnya terlalu serius, aku hanya bercanda. Kita tetap teman, kan?”

kau membuatku kaget, bodoh. Tentu saja, kau adalah teman nomor satuku.

“baguslah kalau begitu.”

youngbae..

“ya? kenapa?”

aku akan ke seoul.”

TBC

 next >>

Author’s note : Haiii! No comment buat chapter dipaksakan kali ini-_- sumpah bingung mau dikemanain yah ni alurnya supaya sesuai sama yang aku pikir dan jadilah alur diatas wkwk. Kayaknya typo masih banyak nih jadi aku minta koreksinya yaJ terus kalo ada alur yang melenceng, langsung komen aja gak usah segan-segan tegur. Justru aku berterima kasih kalo kalian ngoreksi ff aku hehe. dan oh ya, chapter ini kayaknya masih lama deh endnya, soalnya masih banyak konflik yang belum muncul. Kalo boleh jujur, ini masih awal konflik lho. MASIH AWAL. Jadi kalo udah ada yang bosan, maafin._.

Dan mungkin ada yang bingung, kok di ff ini kyknya ganti harinya lama banget yah? Yes, kalian benar. Aku sengaja ngebuat ff ini dengan pergantian hari yang lama. Aku pengen ngejelasin hari-hari dara di masa depan ini. kalo dilangkahin kan nanti kayak gak berkesan gitu. jadi well, aku bikin setting waktunya itu full day.

Soal trailer? Sumpah aku aja bingung kok bisa jadi gitu endnyaxD soalnya ada yang bingung wkwk kita sama/?. Pokoknya aku gak masukin foto di trailer itu asal-asal doang. Semuanya punya arti sendiri. entah itu pahit atau senang. Aku buat yang mengandung makna dalam buat ff ini.

Oke ngebacot dihentikan karena gak bakal kelar/? Overall, aku seneng banget lumayan banyak juga yang nunggu ff ini^^ thankyou for reading guys. hengsho applers and daragon!^^

p.s: di ff ini aku udah ngasih bayangan soal konflik kedepannya, semoga kalian udah bisa ngerti ya^^

Advertisements

27 thoughts on “[Series] Coming To You – 6

  1. Apa apaan inii, dara unnie sama jiyong oppa jangan ngebuat orang jomblo jadi terpojok dong😂 jadi iri keromantisan mereka berduaaa #plaak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s