Showdown [Part 4]

1533166_1432057203690761_1962643134_n_001

Author : VA Panda
Lenght : Series
Genre : Thriller, Mystery

Sebelumnya Saya mau jelasin posisi Sandara disini itu lebih tua dari Jiyong, dan usia Chaerin dan Jiyong terpaut 1 tahun, atau bisa dibilang kalau Chaerin seusia dengan Zelo. Mungkin bisa juga dibilang usia Sandara hampir sama dengan Seunghyun. Ada pertanyaan lain ? Diluar dari Suzy, Saya masih rahasiakan hihi~
Ada yang gemar komik Conan kan ? Nah disini Saya ambil bagian penyelesaian masalahnya, partitur ? ingat bagian itu ? Dan bagi yang tahu bagian itu silakan tanggapi sendiri~~

– U N R A V E L I N G S

Kibasan angin musim semi mulai masuk melalui jendela kaca yang terbuka tepat di kamar Jiyong. Pria itu mulai menggeliat dan menarik selimut tebalnya dengan refleks saat merasakan lengannya terasa disentuh lembut oleh sesuatu, pikirannya berkata ‘mungkin angin tengah tersipu untuk memaksanya terbangun menikmati harum bunga ume yang mulai berguguran.’

“Jiyong,”

Mata Jiyong langsung membulat dengan sempurna saat telinganya berhasil menangkap suara lembut seorang wanita yang memanggil namanya. Pria itu jelas tahu bahwa ini bukan merupakan suara bibinya, yang biasa membangunkannya dipagi hari.

Jiyong mulai terduduk menumpukkan punggungnnya, matanya terpaksa ia perlihatkan dibalik sorotan mentari pagi yang terpantul dari jendela, dan entah mengapa rasa kantuknya seketika hilang saat melihat sosok orang yang berdiri ditirai jendela kamarnya.

“Jiyong, Bibimu dan yang lain menunggu dimeja makan, sebaiknya kau cepat membersihkan diri dan bersiap ke sekolah,” ujar Sandara yang baru mengaitkan tali tirai pada masing sudut.

Jiyong masih bungkam, namun matanya masih terus berusaha melihat Sandara yang ditampilkan bayangan buram dari mata coklat Jiyong –karena dia baru tidur beberapa menit yang lalu.

“Dan…..Pamanmu berpesan agar kau menemuinya di kantor polisi sehabis pulang sekolah,” sambung Sandara sebelum beranjak menarik knop pintu.

Jiyong hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian ia menundukkan kepala –berusahanya menyembunyikan rona merah dipipinya, sedangkan bagian telapak tangannya sama sekali tak membantu, karena keringat dingin mengalir dengan deras bersama dentuman jantungnya yang memacu cukup cepat.

Noona,” lidahnya yang kelu berhasil Jiyong taklukkan. Pria itu mulai mendongkakkan kepalanya dengan memberanikan diri langsung menatap manik mata milik Sandara diseberang tempatnya berada.

Gommawo,” sambungnya menyimbulkan senyuman merekah yang dibalas dengan senyuman puas dengan deretan gigi rapih milik Sandara.

Jiyong membeku di tempatnya dengan terus menatap kepergian Sandara yang perlahan punggungnnya menghilang dibalik pintu yang tertutup oleh tarikan wanita itu. Sama seperti remaja biasanya, senyuman senang tak dapat ia sembunyikan. Jiyong mulai berdiri dengan tegak dan mengangkat legan kanannya tinggi dengan menggepalkannya. Dia remaja, remaja yang baru merasakan hangatnya cinta mulai menerpa sikap dingin yang selalu ia tunjukkan pada pasang mata diluar sana.

“Noona ?” tanyanya pada diri sendiri –yang mulai menurunkan lengan kemenangan itu.

“Apakah aku baru mengatakannya ?” sambung pertanyaan yang hanya dapat ia jawab sendiri.

“Gadis itu bahkan lebih terlihat muda dariku, aisht.” Kepalanya ia gelengkan dengan menutupi wajahnya yang terbenam pada kedua telapak tangannya.

********

Jiyong melangkahkan kakinya dengan riang. Pagi ini sangat berbeda dibanding dengan hari sebelumnya –tepatnya hari sebelum ia bertemu dengan orang itu. Paras cantik Sandara bahkan masih terus memutari sekeliling kepalanya dibawah redup sinar bintang pagi yang seolah ikut tersenyum bersamanya.

“Jiyong Hyung !” suara teriakan dibalik punggung Jiyong terdengar oleh telinganya dan saat Jiyong mulai berbaik, wajah cerah Zelo langsung menyapanya.

“Pagi, Hyung !” Sambung Zelo dengan menepuk bahu kiri Jiyong.

“Pagi,” balas Jiyong seadanya dan melanjutkan langkahnya untuk ke sekolah.

Mereka berdua terdiam dalam perjalanan. Jiyong hanya sesekali melirik kearah Zelo –seorang yang baru ia kenal, namun entah mengapa ia merasa senang jika memiliki teman yang otaknya setara dengannya –bukan bermaksud sombong, sedangkan Zelo, dengan senyum merekahnya yang tak pernah luntur, pria yang lebih muda dari Jiyong itu selalu menatap kearah depan –walau sesekali melemparkan senyum sapa pada tiap orang yang ia lewati.

“Hyung, apa kau sudah tahu kabar yang baru didapatkan para penyidik semalam ?” tanya Zelo.

Penuturan dari Zelo menarik perhatian Jiyong, akhirnya pria itupun berbalik menatap Zelo.

“Sebenarnya aku belum tahu, Paman belum mengabariku. Apa detektif Choi yang mengabarimu ?”

“Mungkin tidak bisa dikatakan seperti itu juga bila aku tak memaksa Hyungku untuk memberikan setiap informasi yang bertambah saat penyelidikan.” Balas Zelo dengan menggaruk kepalanya yang menampilakan deretan senyum lengkap.

“Kau sangat tertarik dengan kasus ini ?” tanya Jiyong dengan mengerutkan keningnya.

“Sangat tertarik,” jawab Zelo menatap langit bersih di atas sana. “Musim dingin lalu, Aku sengaja pindah dari Hokkaido ke Seoul hanya untuk mencoba membantu Hyungku secara diam-diam, tapi aku bercerita kepada TOP Hyung, bahwa aku akan melanjutkan perguruan tinggi di Seoul, karena itulah TOP Hyung dan kedua orangtuaku menyetujuinya.”

“Apa yang membuatmu sangat tertarik dengan kasus ini ?” tanya Jiyong dengan antusias.

“Kedua orangtuaku mengingikanku untuk melanjutkan sebagai dokter, sama seperti mereka berdua, sedangkan Hyung menjadi detektif sangat tidak direstui hingga saat ini, karena itulah TOP Hyung tak tinggal bersamaku dan orangtuaku di Jepang. Aku kagum dengan Hyungku, karena ia berani mengambil resiko dan berusaha membuktikan bahwa detektif adalah pekerjaan yang mampu ia kendalikan sendiri.” Tutur Zelo panjang lebar.

“Jadi kau ingin menjadi sama seperti Hyungmu ?” Tanya Jiyong saat berhasil menyimpulkan ungkapan dari Zelo.

“Ne. Mungkin aku akan tetap menjadi seperti yang diinginkan orangtuaku, tapi cita-citaku tak dapat dibohongi, dan saat aku tahu bahwa di sekolahku ada seorang seperti Jiyong Hyung, kuharap kau bisa membimbingku, Hyung.”

Jiyong menatap mata Zelo yang terlihat penuh harap padanya, ia tak enak hati jika tak membatu pria yang ingin menunjukkan kemampuannya. Mungkin membantu Zelo bisa menjadi pilihan yang baik, karena itu tentu tak akan merugikannya sama sekali.

“Kita bisa berteman mulai dari sekarang, dan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepadaku. Dan sebenarnya apa yang didapatkan tim penyidik semalam ?”

“Oh iya aku lupa, TOP Hyung mengatakan kalau salah satu anak buahnya menemukan sobekan kertas yang tak jauh dari lokasi kejadian, mereka menduga kemungkinan terjadi perebutan sebelum Jung Hyun meninggal, tapi sidik jari di sana tidak sesuai dengan sidik jari milik Jung Hyun.”

“Jadi menurut mereka di sini ada seorang yang kemungkinan berpihak pada kepolisian ?” duga Jiyong.

“Bisa dibilang begitu Hyung, dan mereka juga menduga bahwa ini wasiat yang diberikan Jung Hyun sebelum meninggal, karena sobekkan kertas ini berupa partitur(1). Tapi aku sedikit ragu,”

“Mungkinkah demikian ? Sedangkan saat Paman Hyun Suk mencoba menintrogasinya dia bahkan selalu mengelak mengetahui hal lain, aku tidak sependapat dengan pemikiran penyidik, karena menurutku pada waktu bersamaan juga saat tersangka membunuh Jung Hyun, ada seseorang yang melihat dan memberikan petunjukkan dan ia simbolkan dengan partitur, sebenarnya alasan utama yang harus kita cari adalah maksud si pelaku membunuh Jung Hyun ini, apa dia sengaja membunuh karena berusaha menghilangkan saksi atau sengaja karena Jung Hyun juga termasuk anggota mereka,” jelas Jiyong dengan panjang lebar, sedangkan Zelo dibuat terperanga oleh pendapatnya.

“Mereka memang benar mengenaimu, Hyung. Kau amat pandai menarik kesimpulan, pantas saja kepolisian memintamu untuk membatu mereka, kau sungguh jenius. Bravo!” ujar Zelo dengan nada yang terkesan mengeluhkan seorang Kwon Jiyong –yang sebenarnya semua yang diungkapkan Zelo sudah terlalu sering diucapkan oleh oranglain.

“Itu karena sebelumnya aku memohon kepada Paman untuk memasukkanku dalam penyelidikan kasus ini, dan sebenarnya itu hanya dugaan tidak ada yang perlu di spesialkan,” balas Jiyong merendah.

“Aisht…..kau terlalu menutup mata dengan kelebihanmu itu, aku terlalu sering mendengar bahwa Tuan Hyun Suk termaksud ketua yang memilih anggotanya yang berpengalaman dan pandai, dan kau termasuk Hyung.” Tutur Zelo.

Bangunan sekolah mulai nampak beberapa langkah lagi dari posisi mereka, Zelo mengacuhkan jam dilengannya yang hampir menunjukkan pukul tujuh pagi, tepat saat bel masuk, dan terkadang rasa keingintahuan seseorang tak pernah mengenal waktu, persis seperti saat ini.

“Hyung…..” Zelo memulai memanggil Jiyong dengan nada manisnya.

“Mwo ?” Jawab Jiyong acuh dan dia mulai menjadi pribadi dingin.

“Apakah kau tahu,mengapa semalam handphone Dara noona mati ?” Tanya Zelo yang membuat Jiyong menghentikan langkahnya.

“Aku tidak tahu, dan untuk apa kau menelepon pagi buta seperti itu, kau bisa saja mengganggu waktu tidur seseorang.” Jawabnya dengan melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah.

“Hyung…..” Kini Zelo memanggilnya dengan suara yang terbilang manis untuk seorang pria.

“Mwo~?” Jawab Jiyong dengan malas.

“Darimana kau tahu kalau aku menghubungi Noona ?”

********

Saat mentari mulai menjulang tepat pada atas kepala, tim penyidik bersama detektif Choi tengah tersibukkan dengan berkas berupa bukti yang mereka temukan di kasus pembunuhan pianis itu. Jung Hyun dengan kematian yang sengaja dilakukan seseorang, dan tersangka tersebut dengan cerobohnya meninggalkan jejak berupa sidik jari pada partitur yang baru mereka temui dibelakang pintu yang ditemui dibalik karpet yang ada diruangan itu.

“Kau bisa membaca partitur ini ? Kurasa ini berupa informasi yang diberikan Jung Hyun sebelum ia tewas.” Curiga detektif Choi Siwon.

“Tapi aku tidak sependapat denganmu, jika kau tahu bagaimana seorang Jung Hyun kau pasti tak akan menyimpulkan demikian, dan ditambah bahwa sidik jari yang ada disobekkan kertas itu tidak sesuai dengan milik Jung Hyun,” balas Seunghyun dengan serius.

“Aku tahu ini kasusmu dan ini sudah terlampau lama, karena kau belum menghasilkan kesimpulan yang pasti, mulai dari pemberontakan di musim dingin lalu. Apa kau tak dapat menyelesaikannya dengan cepat, Seunghyun-ah? Karena bisa saja aku meminta persetujuan Inspektur Hyun Suk agar aku menggantikan tugasmu yang masih setengah jalan ini.” Tutur Siwon dengan seulas senyuman singkat di salah satu sudut bibirnya.

“Aku bisa menyelesaikannya,” ujar Seunghyun seraya berdiri pada kursi kerjanya. “Dan apakah kau tak ingat kalau Inspektur Hyun Suk sendiri yang memintaku menyelidiki kasus ini ?” sambungnya yang kini menatap tajam kearah Siwon dengan tangan mengepal

“Kau terlalu lamban detektif Choi Seunghyun,” kata Siwon dengan kembali memperlihatkan deretan giginya. Pria tinggi itu mulai melangkah mendekati tempat Seunghyun, “jangan memperlibatkan egomu dalam kasus ini, Seunghyun.” Sambungnya sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja Seunghyun, “satu lagi, jangan karena keegoanmu hingga membuat ada lagi nyawa yang terlibat oleh tindakan para pemberontak itu.”

Seunghyun membeku di tempatnya, dadanya bergemuruh dengan buku tangan yang semakin terlihat memucat. Pria tampan itu mendesah berat sebelum akhirnya menjatuhkan diri pada kursi kerja putarnya. Kepalanya nampak pening saat mengerti maksud dari perkataan terakhir Siwon, Seunghyun memijat kedua sisi pelipisnya dengan pikiran berat ‘kasus ini harus ia selesaikan secepatnya’ kiranya itulah yang ia pikirkan.

Dia kembali menghembuskan nafas panjang dan mengambil sobekkan kertas yang ada dimejanya, sebuah sandi berupa tulisan musik itu, dia sedikit dapat membaca tanda baca di paranada dengan lambang dalam penulisan notasi musik disana  –setidaknya Seunghyun tahu arti dari tanda kromatik yang tertulis di sana, mol(2) dan kres(3), tapi dia belum dapat membaca arti yang tersirat di kertas itu.

“Sebelum Jung Hyun ditemukan oleh keponakan Inspektur Hyun Suk, bukankah ia mendengar alunan melodi yang terdengar dari dalam ruangan di mana Jung Hyun ditemukan telah meninggal. Lalu tim penyidik menemukan sobekkan kertas yang berisi partitur tak jauh dari tempat kejadian, entah mengapa aku justru berfikiran berbeda dengan kesimpulan yang lain.” Kata Seunghyun yang berbicara dengan fikirannya sendiri.

Seunghyun memalingkan wajahnya kearah pintu saat mendengar suara ketukan di pintu masuk ruangannya. Wajah Zelo, adiknya langsung terlihat dengan senyuman hangat yang ia pancarkan, dan tepat di sebalahnya adalah Jiyong.

“Siang, Hyung.,” sapa Zelo singkat dan langsung mengistirahatkan tubuhnya disalah satu kursi dalam ruangan itu.

“Mengapa kau datang kesini, Zelo ?” tanya Seunghyun menatap tajam ke arah adiknya yang tengah memegang berbagai pernak-pernik yang ada di meja kecil sebelah tempatnya terduduk.

Zelo enggan menghentikan kegiatannya, pria itu hanya menunjuk jari telunjuknya kearah Jiyong yang semakin membuat Seunghyun mengernyit keningnya.

“Maksudmu ?” tanya Seunghyun.

“Detektif Choi, Zelo hanya menemaniku untuk menemui Paman Hyun Suk, dan berhubung Paman sedang pergi keluar jadi aku menyetujui permintaannya untuk menemui.”  Tutur Jiyong.

“Begitukah ? Jiyong, bisakah kau membantuku untuk membaca notasi balok pada partitur ini ?” ujar Seunghyun yang telah berdiri memberikan sobekkan kertas dan langsung direbut oleh Zelo yang terlihat tertarik dengan itu.

“YA ! Bisakah kau jangan melakukan itu ? Itu barang bukti yang sangat berharga.” Geram Seunghyun yang dibalas garis wajah serius yang tiba-tiba muncul diwajah Zelo.

Seunghyun berusaha merebut kertas tadi dari lengan Zelo, namun sesuai dugaan Zelo enggan memberikannya begitu saja saat ia tengah berkonsentrasi dengan pemikirannya.

“Ini mudah, Hyung. Jika kita mempraktikkannya pada piano dengan tuts hitam dan putih, aku akan membaca tuts bagian kanan piano yang berwarna putih sebagai A dan dilanjut pada tuts yang hitam B. Dengan itu kita bisa saja menuliskan pesan pada notasi balok.” Jelas Zelo kepada Seunghyun.

“Jadi apa pesan yang tertera di sana ?” tanya Seunghyun.

’Kematian hitam datang bersama Putri dibalik tudung’….ini sepenggal arti dari sobekkan kertas ini. Aku rasa lebih banyak informasi pada sobekkan kertas ini.”

“Ini pesan untuk menghentikan black death.”

Pintu ruangan Detektif Choi kembali terbuka dengan dorongan dari seorang di luar sana yang terlihat tergopoh-gopoh. Tiga pasang mata disana memalingkan pandangannya ke arah pintu yang kemudian memperlihatkan wajah Lee Joon dengan handphone yang terpasang di lengannya.


To Be Continued..


1. Disebut juga sebagai tulisan musik.
2. Nada Kromatik yang berguna untuk menurunkan not setengah nada.
3. Nada Kromatik yang berguna untuk menaikkan not setengah nada.

Pasti pada tanya, siapa sih orang yang berpihak pada kepolisian ? Dia siapa ? Apa maksudnya ? Saya jawab di next part ok ? Saya pakai bias lain Saya lagi :3 kkkk~
Momen daragonnya sedikit yah, gak sesuai harapan saya ini juga 🙂 , toh Saya fikir kalo Saya harus fokusin konflik sebelum mereka bahagia (mungkin) LOL

Oke, Saya juga mau bilang kalau saya bakal lama post part selanjutnya rencananya sih sebelum mau nyelesain setengah dari ff ini, tapi baru dapet kabar Februari Saya mulai ujian praktik, jadi semoga kalian bisa memakluminya yah 😀 hehe.Minta doanya juga dooong~ 😀 hehe

<<back next>>

 

Advertisements

42 thoughts on “Showdown [Part 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s