My Lovely PRETTY BOY : 004

little-sun

Author : Little Sun

Genre : Romance

Ratting : T

Long : 4/10 chapter

Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong, Jang Wooyoung, Ahn Sohee

**

Chapter 4

Bom berjalan ke meja sepuluh sambil membawa pesanan pelanggan.

“Dua frappe, tiga latte, satu americano, dan satu mocchiato. Selamat menikmati,” kata Bom saat meletakkan kopi-kopi yang dibawanya ke atas meja.

My latte!” kata salah seorang yeoja yang duduk mengapit seorang namja.

Semua orang yang duduk di situ mulai mengambil kopi mereka masing-masing.

“Ada yang ingin Agashi pesan lagi?” tanya Bom sambil mendarkan pandangannya.

Aniyo,”  jawab seorang namja yang duduk bersama seorang namja.

Omo~! Bukankah dia Yongbae sunbaenim?

Bom kembali mengedarkan pandangannya dan dia menyadari bahwa yang duduk di sekeliling meja itu adalah Kang Daesung, Choi Sooyoung, Kim Taeyeon, Lee Seungri, Hwang Tiffany, dan.. pandangannya berhenti pada seorang namja berambut hijau yang duduk tepat di sebelah Bom.

NEOL!” pekik Bom.

Semua orang yang duduk di kursi itu langsung menoleh ke arah Bom. Namja berambut hijau itu juga ikut menoleh ke arah Bom, memandang Bom dengan tatapan bingung sama seperti yang lain.

Bom mengambil frappe yang sedang dipegang oleh seorang yeoja yang duduk di samping Bom.

“Ya~! Frappe-ku!” teriak Taeyeon.

Bom mengangkat cangkir itu tinggi-tinggi lalu perlahan menuangkannya di atas kepala namja berambut hijau itu. Namja itu menutup kedua matanya saat frappe yang dituangkan oleh Bom menyentuh rambutnya dan turun ke wajahnya. Taeyeon dan Tiffany memekik saat melihat kejadian itu dan meletakkan kedua tangan mereka di depan mulut mereka.

Omoo~!”

Bom tidak peduli meski kini seluruh perhatian orang-orang yang datang ke café itu tertuju padanya. Bom tersenyum puas.

“Seung.. seunghyun hyung,” kata salah seorang namja itu meja itu.

Seunghyun mengusap wajahnya lalu menoleh ke arah Bom.

“Itu balasan yang setimpal karena kau telah mempermalukanku kemarin,” kata Bom.

Seunghyun menatap Bom dengan tajam.

Well, selamat menikmati kopi Agashi,” kata Bom. Bom tersenyum sambil mengusap bahu Seunghyun.

Bom berbalik. Langkahnya terhenti saat dia melihat Kyuhyun.

“Ya~! PARK BOM! Apa yang baru saja kau lakukan pada pelanggan?” tanya Kyuhyun yang kini sudah berdiri di depan Bom sambil meletakkan tangannya di kedua pinggangnya.

Kyuhyun yang tadinya sedang berada di kantornya langsung keluar saat salah seorang pegawainya memanggilnya keluar dan mengatakan bahwa sedang terjadi keributan di luar.

Bom tersenyum, “Kyuhyun-ah,” kata Bom.

“Tidak ada Kyuhyun-ah. Aku.. panggil aku Manager Cho. Sekarang kita sedang dalam jam kerja,” kata Kyuhyun dengan tegas.

“Manager Cho..,” kata Bom.

Kyuhyun berjalan ke arah Seunghyun lalu membungkuk dan menawarkan sapu tangannya pada Seunghyun, “Jeosonghamnida atas apa yang baru saja pegawai kami lakukan pada Agashi. Kami akan mengganti kerugian Agashi,” kata Kyuhyun.

Bom langsung berbalik saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kyuhyun.

Eonni,” kata Minzy dan Chaerin yang saat ini sudah berdiri di belakang Bom.

“Ya~! Kami mau kau memecat pelayanmu itu,” kata Taeyeon yang kini sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bagaimana kau bisa mempekerjakan pegawai seperti dia yang tidak tau sopan santun?” tanya Tiffany.

Mwo? You, b*tch! Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Chaerin sambil memandang tajam pada Tiffany.

Minzy langsung memegang kedua bahu Chaerin saat Chaerin mencoba berjalan mendekati Tiffany.

Jeosonghamnida,” kata Kyuhyun, “Saya benar-benar meminta maaf atas hal yang baru saja terjadi.

Seunghyun mengambil sapu tangan yang disodorkan oleh Kyuhyun lalu membersihkan sisa-sisa kopi di wajahnya dengan sapu tangan itu. Seunghyun membersihkan bajunya lalu mengelap kedua tangannya dengan sapu tangan itu.

“Ambil ini,” kata Seunghyun tanpa menoleh ke arah Kyuhyun.

Ne?” tanya Kyuhyun bingung.

Seunghyun menjatuhkan sapu tangan itu ke lantai di sebelah tempat duduknya kemudian dia menoleh dan menatap Bom tajam.

Neol.. ambil sapu tangan itu,” kata Seunghyun.

Bom mebelakakkan matanya saat mendengar kata-kata Seunghyun.

“Ambil sapu tangan itu dan berikan padaku,” kata Seunghyun.

Kyuhyun yang sedikit bingung menoleh pada Bom kemudian kembali menolehkan kepalanya pada Seunghyun.

Agashi..,” kata Kyuhyun.

Meski Kyuhyun merasa bersalah atas hal yang baru saja di lakukan oleh Bom tetapi dia tidak mungkin membiarkan Bom melakukan permintaan Seunghyun. Bagaimana pun juga dia adalah pegawainya dan meski mereka bukan saudara kandung, Kyuhyun sudah menganggap Bom, Chaerin, Dara, dan Minzy sebagai saudaranya sendiri. Jadi, Kyuhyun tidak mungkin membiarkan Seunghyun mempermalukan Bom. Well, Bom juga telah mempermalukan Seunghyun tetapi Bom seorang yeoja sedangkan Seunghyun seorang namja. Tentu saja hal ini akan menjadi sesuatu yang berbeda.

“Aku mau dia melakukan itu, maka masalah ini selesai,” kata Seunghyun. Dia terus menatap Bom dengan tatapan dinginnya.

Agashi, apa kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara lain?” tanya Kyuhyun, “Kami akan..,”

“Manager Cho,” panggil Bom. Bom menyela kata-kata Kyuhyun.

Bom berjalan mendekat. Pandangan Bom tak sedetikpun lepas dari mata Seunghyun.

Nunna,” kata Kyuhyun.

Eonni,” kata Minzy.

Bom sampai di samping Seunghyun. Mereka berdua saling melemparkan tatapan benci satu sama lain. Seunghyun menaikkan salah satu alisnya dan memperlihatkan seringainya. Masih nampak jelas jejak-jejakfrappe yang tertinggal di tepi-tepi wajah Seunghyun. Jejak-jejak itu membekas membentuk garis-garis coklat yang ditinggalkan oleh frappe yang dituangkan oleh Bom beberapa saat lalu.

Bom  membungkkan tubuhnya.

Eonni,” kata Minzy dan Chaerin bersamaan.

Kyuhyun membelalakkan matanya saat dia mulai menyadari apa yang akan dilakukan oleh Bom. Seunhyung terkejut selama beberapa saat kemudian dia kembali memperlihatkan seringainya.

Bom berhenti sesaat sebelum mengambil sapu tangan yang yang terpisah beberapa mili dari tangannya. Dia menarik napas panjang sesaat kemudian dia mengambil sapu tangan itu dan kembali menegakkan tubuhnya.

Seunghyun tersenyum puas saat dia bertatapan dengan Bom. Bom tersenyum tipis. Dia sedikit membungkukan tubuhnya ke arah Seunghyun.

“Sepertinya kau belum membersihkan noda-noda ini dengan bersih,” kata Bom sambil membersihkan jejak-jejak frappe di tepi-tepi wajah Seunghyun. Seunghyun terdiam saat Bom membersihkan wajahnya. Setiap orang dalam ruangan itu memperhatikan mereka berdua dengan seksama.

Bom kembali menegakkan tubuhnya saat dia selesai membersihkan wajah Seunghyun. Bom kembali menampakkan senyumnya.

Well, wajahmu sudah bersih sekarang,” kata Bom, “Tapi..,”

PLAKK!!

Terdengar beberapa orang menahan napas mereka saat tangan Bom mendarat di wajah Seunghyun.

Perfect!” kata Bom kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Eonni!”

Chaerin dan Minzy berlari mengikuti Bom yang berjalan keluar meninggalkan café.

**

Dara dan Jiyong berjalan beriringan menuju ke halte bus. Dara berjalan sambil memegang tali ranselnya dan Jiyong memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Hanya suara deru mesin-mesin kendaraan yang berlalu-lalang di sebelah kiri mereka yang mengisi keheningan itu.

Dara dan Jiyong berhenti berjalan saat mereka sampai di halte bus yang mereka tuju. Jiyong menarik tangan Dara dan mereka berdua duduk berdampingan di kursi halte.

“Dara-ah,”

“Hmm..,” Dara menoleh ke arah Jiyong.

“Kau.. tinggal dengan siapa di apartement sebelah?” tanya Jiyong.

“Aku tinggal bersama dengan Bom, Chaerin, dan Minzy,” jawab Dara.

“Hanya kalian berempat dan semuanya yeoja?” tanya Jiyong.

Ne,” jawab Dara, “Kami sudah terbiasa tinggal bersama sejak masih di sekolah menengah,”

“Sejak kapan.. kau, tinggal terpisah dari orang tuamu?” tanya Jiyong.

Dara tersenyum tipis. Matanya mengikuti setiap yang mobil yang berlalu-lalang di depan mereka.

“Sejak.. aku lupa.. sepertinya setelah aku lulus dari sekolah dasar,” jawab Dara.

Mwo?” jawab Jiyong.

Dara menoleh, “Waeyo?”

“Kau terlalu muda untuk tinggal sendiri,” kata Jiyong.

“Tapi aku senang. Setidaknya aku bisa sedikit mengurasi perasaan itu,” jawab Dara.

Matanya kembali menerawang dan Jiyong tidak suka saat dia melihat ekspresi yang kembali terlihat di wajahnya.

“Ji-ah,” Dara tiba-tiba menoleh ke arah Jiyong.

“Hmm..,”

“Kenapa kau memakai baju yeoja waktu itu?” tanya Dara.

“Ahh.. itu,” Jiyong menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sebenarnya..

Flash back

 

“ANIYYOOO!!” teriak Jiyong saat dia mengetahui hukuman yang harus dia lakukan setelah dia kalah bertaruh dengan member BIGBANG yang lain.

“Hyung, kau kalah dan kau harus melakukan ini. Bukankah ini perjanjian kita tadi?” tanya Daesung.

“Shiro! Aku tidak mau melakukan ini,” kata Jiyong.

“Tapi hyung, kita sudah sepakat tadi. Lihat, baju ini bagus,” kata Seungri sambil memperlihatkan baju yang dipegangnya, “Kau akan terlihat sangat cantik,” kata Seungri sambil melemparkan sebuah kedipan matanya pada Jiyong.

“Ya~! LEE SEUNGRI! Jangan berkedip kepadaku! Kau membuat bulu romaku berdiri,” kata Jiyong sambil mengarahkan jari telunjukkan pada Seungri.

 

“Hahahaa..,”

“Jiyong-ah, pakai saja. Kau hanya perlu berjalan dan setelah itu selesai. Tidak aka nada orang yang mengenalimu. Aku jamin,” kata Yongbae.

“Yongbae-ah, kenapa kau malah tidak membantuku,” gerutu Jiyong pada sahabat kecilnya itu.

“Aku juga ingin melihatmu memakai itu,” jawab Yongbae.

“Ya~!”

“Sudahlah, pakai saja Jiyong-ie,” kata Seunghyun.

“Hyung,”

**

“Baiklah, hyung. Sekarang kau harus berjalan dari sini sampai ujung jalan di sebelah sana. Jangan mencoba melakukan hal aneh. Kami akan mengikutimu dari belakang,” kata Seungri.

Jiyong menelan ludahnya dengan berat. Di depannya terlihat kerumunan orang yang berlalu-lalang di sepanjang kompleks perbelanjaan. Teriakan, sendang gurau, dan tawa terdengar dari setiap penjuru.

“Selamat berjuang, hyung,” kata Daesung sebelum mereka berempat menghilang.

Kini Jiyong berdiri sendiri di tengah kerumunan orang-orang itu. Dia menarik napas panjang.

“Hanya perlu berjalan dan berpura-pura tidak ada yang tau,” kata Jiyong.

Jiyong mulai berjalan, “Invisible, invisible, invisible..,” gumam Jiyong sepanjang jalan.

Hanya beberapa meter lagi sebelum Jiyong sampai di ujung kompleks pertokoan ini.

“Hey cantik, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?”

Dua orang namja berjalan mendekati Jiyong.

“Kami akan mentraktirmu makan,” kata namja yang berdiri di sebelah kanan Jiyong, “Kita bersenang-senang bersama,”

Jiyong berjalan mundur, dia mengeratkan syalnya dan kedua namja itu terus saja mengapitnya.

“Ya!”

Tiba-tiba seorang yeoja berteriak dan berjalan mendekati Jiyong dan kedua namja itu.

 

End of Flashback

 

..dan itu adalah saat pertama kali kita bertemu,” jelas Jiyong.

Omoo~, jadi waktu itu?” tanya Dara sambil memiringkan kepalanya.

Ne, aku kalah taruhan dari mereka dan aku harus memakai baju yeoja,”

“Kyaa.. aku jadi malu. Kenapa dulu aku harus bersikap seperti itu?” gerutu Dara.

“Kekeke~, tapi jika kau tidak muncul, aku juga tidak tau apa yang akan terjadi padaku. Mereka berempat tiba-tiba menghilang,” kata Jiyong, “Tega-teganya mereka meninggalkanku sendirian di tengah keramaian dalam balutan baju yeoja? Yang benar saja,”

“Hahaha..,” Dara tertawa saat mendengar kata-kata Jiyong.

Wae?”  tanya Jiyong.

“Sebenarnya, menurutku kau sangat cantik,” kata Dara.

MWO?” Kedua mata Jiyong melebar saat menderang kata-kata Dara, “Naneun namja~ naneun namja~,”

Dara berdiri lalu berlari meninggalkan Jiyong. Dari kejauhan terlihat bus yang mereka tunggu berjalan mendekat. Saat pintu bus terbuka, Dara langsung melompat naik dan segera berlari ke kursi paling belakang. Jiyong mengikuti dari belakang dan langsung duduk di sebelah Dara.

“Tertangkap!” kata Jiyong sambil menggenggam kedua pergelagan tangan Dara.

**

Seunghyun keluar dari kamar mandinya dalam balutan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Setelah kejadian penumpahan frappe di café tadi, Seunghyun langsung pulang ke rumahnya bersama dengan Seungri, Yongbae, dan Daesung. Adiknya, Sooyoung, dan beberapa temannya –yang namanya tidak diketahui oleh Seunghyun– pergi ke club bersama dengan teman-temannya yang lain.

Seungri terbaring di atas ranjang Seunghyun. Daesung dan Yongbae duduk berdampingan di depan televisi milik Seunghyun, asyik bermain game.

“Kalian berhasil menghubungi Jiyong?” tanya Seunghyun sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

“Belum,” jawab Seungri.

“Aneh, dia bilang dia akan datang,” kata Seunghyun sambil mencari baju ganti dalam lemarinya.

Seunghyun mengeluarkan baju dan celana yang akan dipakainya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.

Diirrttt~

Seungri mengambil handphone-nya yang bergetar di dalam saku celana jeansnya.

From Jiyong hyung:

“Mian, handphone-ku di tas. I’ll come asap!”

Seungri bangun dari posisi tidurnya.

“Oh, Jiyong hyung mengirimiku pesan,” kata Seungri.

Daesung dan Yongbae menghentikan permainan mereka dan menoleh ke arah Seungri.

Jinja?” tanya Daesung.

“Ke mana dia tadi?” tanya Yongbae.

Mollayo. Jiyong hyung hanya bilang kalau handphone-nya di tas,” jawab Seungri. Dia kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang.

**

Minzy duduk di sofa sambil sesekali melihat layar handphone-nya. Bom duduk di samping Minzy sambil memakan jagung-jagung favoritnya. Chaerin berjalan bolak-balik di ruangan itu. Sekali dia mengecek jam dinding yang terpampang di dinding ruangan itu.

“Ini sudah hampir jam delapan malam. Ke mana anak itu pergi,” gerutu Bom.

“Kau berhasil menghubunginya? Ada pesan dari dia?” tanya Chaerin pada Minzy.

Handphone-nya tidak aktif,” jawab Minzy.

Aigoo~ ke mana anak itu pergi. Tidak biasanya dia seperti ini,” gerutu Bom.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu depan terbuka.

Omoo~! Itu pasti Dara,” kata Bom langsung beranjak dari kursinya.

Mereka bertiga langsung berlari ke pintu depan. Lampu di lorong pintu depan menyala dan terlihat seseorang menggunakan hoddie masuk ke rumah sambil mententeng beberapa tas dan sebuah kantong plastik.

“SANDARA PARK!!” Bom berteriak begitu orang itu berbalik menghadap mereka bertiga.

“Oh,” kata orang itu saat mendongakkan kepala.

Omoo~! Kyuhyun oppa!” pekik Minzy.

“Kyuhyun-ah, ku kira kau Dara,” kata Bom sambil berbalik, kembali ke sofa yang tadi dia duduki.

Minzy mengekor di belakang Bom.

“Dia belum pulang?” tanya Kyuhyun pada Chaerin yang masih berdiri di lorong.

Chaerin menggeleng.

“Ini sudah malam. Kalian berhasil menghubungi dia?” tanya Kyuhyun sambil berjalan masuk.

Handphone-nya tidak bisa dihubungi,” jawab Minzy.

“Apa yang kau bawa itu?” tanya Bom saat melihat barang bawaan kalian.

Kyuhyun meletakkan barang bawaan mereka di meja lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang Minzy dan Bom duduki.

“Tas kalian. Kalian pergi begitu saja dan meninggalkan semua barang bawaan kalian di café,” jawab Kyuhyun.

Minzy mengendus aroma baru di ruangan itu, “Oppa membeli sesuatu?” tanya Minzy, “Aku mencium bau ayam goreng,”

Kyuhyun terkekeh, “Hidung memang tajam,”

Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak putih dengan logo ayam di atasnya.

Omoo~! Ayam goreng?” tanya Chaerin yang kini duduk di sebelah Kyuhyun.

“Yap~! Saat aku dalam perjalanan ke sini aku membeli ini,” jelas Kyuhyun.

“Asyik! MAKAN!” kata Bom.

Mereka bertiga langsung berebut mengambil ayam goreng yang dalam kotak itu. Mereka mulai memakan ayam goreng mereka masing-masing.

“Kalian tau, gara-gara kejadian tadi aku hampir mengalami kebangkrutan!” kata Kyuhyun. Dia melipat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Mii..aannn..ee,” kata Bom sambil memakan ayam gorengnya.

“Untung aku berhasil membuat traktat perdamaian dengan mereka,” gerutu Kyuhyun.

“Traktat?” cibir Chaerin.

“Tsk! Kau itu,” kata Kyuhyun.

**

Dara berdiri di depan pintu apartementnya dan Jiyong berdiri di pintu apartement-nya.

“Hmm.. aku masuk,” kata Dara sambil memegang gagang pintu apartement-nya.

Ne, good night,” kata Jiyong.

Good night,” kata Dara.

Dara membuka pintu apartement-nya lalu memasuki apartement-nya. Dia tersenyum ketika mengingat kejadian-kejadian yang dia alami hari ini sambil menutup pintu apartement-nya. Dia berbalik lalu melepas sepatunya.

Dara mendengar ketukan kaki di lantai saat dia melepas sepatunya. Lampu lorong menyala. Dara mendongakkan kepalanya. Dia melihat Bom mengetuk-ngetukkan kakiknya sambil melipat kedua tangannya di dada, Chaerin merangkulkan tangannya di bahu Minzy, dan Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di dinding. Mereka berempat menampakkan ekspresi wajah yang sama.

“Oh, kenapa kalian semua berdiri di sini? Menyambutku?” tanya Dara.

Tak satupun dari mereka berempat yang menjawab pertanyaan Dara. Dara menegakkan tubuhnya.

“Kalian kenapa?” tanya Dara.

“Apa kau tidak melupakan sesuatu?” tanya Bom.

Dara memiringkan kepalanya, mencoba mengingat hal yang terlupakan olehnya.

“Hari ini, pukul 4 sore,” kata Kyuhyun mencoba membantu mengembalikan ingatan Dara.

“Cho’s Café,” tambah Chaerin.

Dara mencoba mengingat hal yang harus dilakukannya.

Omoo~! Shift sore!” kata Dara.

“Akhirnya kau ingat juga,” gerutu Kyuhyun.

“Kenapa handphone eonni tidak dapat kami hubungi?” tanya Minzy.

Dara mengeluarkan handphone-nya dari dalam tas. Dia mencoba menghidupkan handphone-nya.

“Baterai-nya habis,” kata Dara sambil menunjukkan handphone-nya yang mati.

“Sandara Park! Bagaimana bisa kau seceroboh ini?” kata Bom sambil melempatkan boneka yang berada di atas meja di dekatnya ke kepala Dara.

Appaa~,” kata Dara sambil mengusap kepalanya.

“Tsk!” Bom mendecakkan lidahnya, “Apa kau tidak tau bahwa kami sangat mengkhawatirkanmu? Bagaimana bisa kau melupakan shift kerja kita? Dan kenapa kau tidak ada di ruang latihan saat Minzy menjemputmu ke sana? Sekarang sudah jam delapan malam! Kenapa kau baru pulang sekarang? Sandara Park! Kau tidak tau betapa cemasnya kami? Bagaimana kalau kau diculik? Bagaimana kalau kau dirampok? Omoo~! Diperkosa? Dibunuh? Dimutilasi? Bagaimana kalau hal itu sampai terjadi? Sandara Park, apa kau..,”

Bom langsung mengentikan kata-katanya saat tiba-tiba saja Dara sudah melingkarkan tangannya di leher Bom.

Mianhae, aku benar-benar lupa,” kata Dara.

Bom melepaskan pelukan Dara, “Well, kali ini pelukanmu tidak akan berhasin,” kata Bom.

“Jadi Sandara Park-ssi, sejak tadi Agashi pergi ke mana?” tanya Chaerin.

Naneun..,” Dara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit salah tingkah harus menjawab apa.

“Tunggu,” kata Minzy. Dia mengendus-endus udara di sekitarnya. Dia mengendus Chaerin.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Chaerin.

Lalu berpindah ke Kyuhyun, “Ini bukan aroma parfum oppa. Terlalu maskulin dibandingkan parfum oppa,” kata Minzy sambil kembali mengendus-endus udara di sekitarnya.

MWO?” tanya Kyuhyun, tidak terima dengan perkataan Minzy.

Minzy mengendus aroma tubuh Bom.

“Ya~! Mingkki-ah, apa yang kau lakukan?” tanya Bom.

Minzy menegakkan tubuhnya lalu menoleh tajam ke arah Dara.

“Baunya dari sini,” kata Minzy sambil memegang lengan jaket yang dikenakan Dara.

“Itu.. jaket siapa?” tanya Chaerin.

“Ini..,”

**

“JADI SEHARIAN INI KAU PERGI DENGAN KWON JIYONG DAN LUPA DENGAN SHIFT KERJAMU?” tanya Kyuhyun.

“Oh my GOD!” kata Chaerin.

Dara-ah, kami tidak habis pikir, bagaimana bisa kau pergi berkencan dengan namja Kwon itu dan melupakan shift kerjamu?” tanya Bom.

Mianhae,” kata Dara sambil menundukkan kepalanya.

“Kau ini.. jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” kata Bom. Bom kemudian berdiri dan berjalan ke kamarnya.

BLAM!

Minzy ikut berdiri dan masuk ke kamarnya yang menjadi satu dengan kamar Bom.

“Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku pulang. Jangan lupa dengan shift kerjamu lagi,”

Kyuhyun berdiri dan berjalan keluar. Chaerin mengantar Kyuhyun sampai ke pintu.

“Hati-hati di jalan,” Dara bisa mendengar Chaerin meneriakka kata-kata itu dari ruang tengah.

Beberapa saat kemudian Chaerin kembali ke ruang tengah.

“Ayo tidur,” kata Chaerin lalu berjalan ke kamar mereka. Dara mengikuti Chaerin di belakangnya.

**

Beberapa hari setelah kejadian di atap, Dara dan Jiyong sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sesekali mereka berpapasan di lorong YG Building dan hanya saling menyapa. Sejak kejadian itu, Dara terus saja berada di samping Bom. Bom belum sepenuhnya memaafkan Dara atas kejadian hari itu. Jiyong juga mulai sibuk dengan kegiatan universitas karena sebentar lagi liburan musim panas akan segera tiba.

Di gedung apartement mereka pun, Dara dan Jiyong juga tidak pernah bertemu karena mereka pergi dan pulang ke apartement di jam-jam yang berbeda. Terkadang Jiyong bahkan tidak pulang ke apartementnya, dia menginap di studio Teddy dan menyelesaikan tugas-tugasnya.

Jiyong kini duduk di tepi jendela lantai sambil membaca laporan-lapora kegiatan universitas yang baru saja diserahkan padanya. Seungri berdiri di sampingnya. Dia memutar-mutar bola yang ada di tangannya sambil memandangi siswa yang berlalu lalang dari jendela lantai dua, tempat mereka berada saat ini.

“Jadi, bagaimana hubungan hyung dengan yeoja itu?” tanya Seungri sambil terus mengamati gerak-gerik setiap siswa dari atas.

“Hubungan apa?” tanya Jiyong tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari laporan-laporan yang dibacanya.

“Kalian kan sudah berkencan. Apakah hubungan kalian berdua hanya sampai di situ?” tanya Seungri.

Jiyong berhenti sejenak, dia menoleh menatap Seungri, “Mollayo,” jawab Jiyong lalu dia kembali membaca laporan-laporan di tangannya. Sesekali dia memberi tanda pada beberapa bagian yang dirasa kurang pas dengan pensil yang dipegangnya.

“Ku kira hyung akan mengencaninya. Ku kira hyung sudah mulai melupakan dia,” kata Seungri.

“Dia sudah pergi,” kata Jiyong.

Seungri berhenti memainkan bola yang dipegangnya lalu meletakkannya di meja. Kemudian dia duduk di tepi meja yang berada di depan jendela sambil mengamati langit biru yang terlihat membentang luas dari atas sini.

“Aku.. berharap hyung benar-benar melupakan gadis itu dan mencoba hubungan yang baru dengan Dara,” kata Seungri.

Jiyong berhenti membaca laporan-laporan itu saat mendengar kata-kata Seungri.

“Kejadian itu sudah sangat lama hyung dan hyung berhak untuk bahagia,” jelas Seungri lalu menoleh ke arah hyung-nya.

“Tidak semudah itu,” gumam Jiyong.

“Aku tau, tapi setidaknya hyung harus mencoba,” kata Seungri.

Saat mengamati siswa dari lantai dua gedung itu, pandangan Seungri berhenti pada dua orang yang sedang berdiri tak jauh dari gedung itu. Hanya ada mereka berdua di daerah itu. Mereka berdua berdiri berhadapan. Seungri memicingkan matanya, mencoba mengenali kedua orang itu. Yeoja itu berdiri membelakangi Seungri. Dari postur tubuhnya, Seungri bisa mengenali bahwa namja itu adalah Ok Taecyeon, salah satu playboy di universitas ini. Well, dia juga terkenal di beberapa daerah di luar universitas.

“Sepertinya Taecyeon mulai mendapatkan mangsa baru,” kata Seungri, “Apakah yeoja itu siswa angkatan bawah? Aku tidak begitu familiar dengannya,”

Jiyong membalikkan badannya dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Seungri. Mata Jiyong melebar saat mengenali siluet tubuh yeoja yang saat ini sedang berhadapan dengan Taecyeon.

Ya.. tidak salah lagi.

Jiyong langsung berbalik dan berlari keluar.

Hyung!”

**

Dara berdiri di halaman belakang YG Building. Dia berdiri berhadapan dengan sunbae-nya, Ok Taecyeon. Namja ini tiba-tiba saja datang menemui Dara dan memintanya bertemu dengannya.

Dara-ah, aku tau kau takut jika bersentuhan dengan namja. Aku tidak peduli dengan alasan di balik semua itu. Aku ingin membantumu lepas dari perasaan itu,” kata Taecyeon.

Dara menatap namja itu. Namja itu menatapnya dengan ekspresi yang sama. Ya, ekspresi mereka berdua sama. Dara masih ingat dengan jelas ekspresi itu.

Dara-ah, apakah aku boleh membantumu? Meski kau takut dengan namja, tidak selamanya kan kau akan takut dengan namja? Kau juga butuh seorang namja untuk melindungimu,” kata Taecyeon.

Dara beberapa kali mencoba menghindari membuat kontak mata dengan Taecyeon.

Dara-ah, naneun joayo,”  kata Taecyeon, “Apakah aku bisa menjadi namjachingu-mu?”

Sunbaenim..,” kata Dara, “Ajigeun an dwaeyo,” –aku belum siap untuk itu.

“Itu tidak masalah, kita bisa mencobanya bersama-sama,” kata Taecyeon.

“Tapi sunbaenim,” kata Dara.

Dara-ah..,” kata Taecyeon, tanpa sadar dia memegang bahu Dara.

Deg!

Secara spontan Dara langsung menggenggam tangan Taecyeon dengan kuat dan mejauhkannya dari tubuhnya. Taecyeon terkejut saat mendapatkan perlakuan tersebut dari Dara. Dara berjalan mundur saat Taecyeon mulai berjalan mendekatinya. Dara terus berjalan mundur sampai kakinya membentur dinding yang ada di belakangnya.

Taecyeon merentangkan kedua tangannya dan memenjara Dara dalam kedua tangannya yang bersandar di dinding tepat di sebelah kanan dan kiri kepala Dara.

“Ya~! Sandara Park!”

Detak jantung Dara semakin cepat saat dia melihat ekspresi wajah yang tergores di wajah Taecyeon. Ya, ekspresi mereka sama.

“Aku tidak peduli dengan masalahmu! Aku tidak peduli siapa kamu! Aku telah memintamu dengan baik untuk menjadi kekasihku! Di luar sana banyak yeoja yang ingin menjadi kekasihku! Tapi kamu dengan seenaknya telah menyia-nyiakan kesempatan itu! Nan.. Ok Taecyeon tidak bisa menerima perlakuanmu!”

Taecyeon menggenggam kedua lengan Dara dengan kuat sehingga Dara tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Taecyeon mendekatkan wajahnya. Perasaan itu mulai muncul. Perasaan itu mulai muncul dalam tubuh Dara. Perlahan tubuhnya mulai gemetar. Napas Dara berpacu, tidak stabil. Dara menutup kedua matanya saat wajah Taecyeon semakin dekat ke wajahnya.

“Ya~! Sunbaenim, bukankah dia sudah bilang dia tidak mau menjadi kekasihmu?”

Dara membuka matanya saat mendengar suara itu. Wajah Taecyeon berhenti beberapa centimeter di depan wajahnya. Sebuah tangan menghalangi wajah Taecyeon untuk mendekat ke wajah Dara. Taecyeon menarik tanggannya dan menepis tangan yang menghalangi wajahnya.

Dara mendongak.

Annyeong, Dara-ah,” kata Jiyong sambil melambaikan sebelah tangannya pada Dara.

Setengah badan Jiyong bersandar pada pinggiran jendela yang berada di atas kepala Dara.

Sunbaenim, sekarang sunbaenim bisa pergi,” kata Jiyong. Dia melipat kedua tangannya di bingkai jendela dan merebahkan kepalanya di atas kedua tangannya.

Mwo? Ya~! Kwon Jiyong! Apa yang sedang kau lakukan di sini?” bentak Taecyeon.

“Aku hanya sedang mengunjungi temanku,” kata Jiyong, “Benarkan, Dara-ah?”

Dara mendekatkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Sebaiknya kau pergi. Ini bukan urusanmu,” kata Taecyeon.

Jiyong menegakkan tubuhnya lalu melompati bingkai jendela.

Well, kalau begitu aku akan membawa Dara pergi. Aku ada urusan dengannya,” kata Jiyong sambil menatap Taecyeon dengan tanjam. Nada suaranya berubah menjadi dingin. Sebelah tangan Jiyong merangkul tubuh Dara yang masih gemetar dan mendekatkannya ke tubuh Jiyong.

“Kau.. sebaiknya.. pergi. KWON JIYONG!” kata Taecyeon sambil melemparkan sebuah pukulan ke arah Jiyong.

Jiyong langsung menangkis pukulan itu. Dia menggenggam tangan Taecyeon dengan sebelah tangannya yang bebas dan memutar tangan Taecyeon.

Jiyong berbisik tepat di telinga Taecyeon, “Aku harap ini adalah kali terakhirnya kau muncul di hadapan Dara dan aku,”

Setelah itu Jiyong langsung melepaskan genggaman tangannya dari Taecyeon dan berjalan meninggalkan tempat itu bersama Dara.

**

Jiyong duduk di atap YG Building sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dara duduk di pangkuannya sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Jiyong. Meski Dara tidak mengeluarkan suara, Jiyong tau yeoja ini masih menangis. Tubuhnya dingin. Sejak tadi Dara masih gemetar.

Jiyong mengeratkan pelukannya. Dia mengusap kepala Dara dengan tangan kanannya.

Dara-ah,” kata Jiyong memecah keheningan di tempat itu, “Bagaimana kalau aku menjadi kekasihmu? Aku tidak ingin hal tadi terulang. Setidaknya jika aku menjadi kekasihmu, tidak akan ada lagi namja yang mendekatimu,”

Dara mendongakkan kepalanya, menatap wajah Jiyong. Jiyong menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Dara.

“Bagaimana?” tanya Jiyong.

 

to be continue ..


see you next time!

©2012Littlesun

Please read, like, and comments! 😀


Advertisements

23 thoughts on “My Lovely PRETTY BOY : 004

  1. AduhAduh TOP jahat sama bom. Until bom berani ngelawan, hajar aja unn, he he. Aduh kenapa taecyeonnya jahat? Duh untung Ada Jiyong. Unnie terima aja jangan mikir mikir 😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s