Phases : Douăsprezece

Untitled-2

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Seoul, 12 November 2014

Jika ditanya mengenai pernikahan seperti apa yang dia inginkan, maka Dara memiliki beragam jawaban.

Dulu, Dara kecil menginginkan pernikahan ala negeri dongeng. Pernikahan seperti milik Cinderella atau Putri Salju… pernikahan impian yang Walt Disney bisikkan dalam benak gadis-gadis kecil melalui film-film dongeng yang selalu berakhir dengan kalimat “…dan mereka pun hidup bahagia selamanya.” Lalu disusul dengan burung-burung merpati putih berterbangan dan gambar terakhir yang muncul adalah klip sebuah kastil dari kejauhan.

Ketika remaja, Dara menginginkan pernikahan meriah, didatangi oleh semua orang yang dikenalnya, berbagi kebahagiaan. Tidak lagi terpaku pada pernikahan ala negeri dongeng, namun dirinya yang remaja telah membayangkan sesosok pria yang akan mendampinginya di pelaminan adalah orang terkasih yang mengisi hatinya. Masih belum jelas siapakah pria itu, namun Dara sangat yakin bahwa pria itu nantinya adalah pria yang hanya mencintainya seorang.

Beranjak dewasa, Dara sudah mulai bisa membayangkan dengan jelas siapa sosok yang kelak akan mendampinginya di pelaminan. Tidak penting lagi gaun seperti apa yang akan dia kenakan, atau berapa banyak tamu yang akan diundang… karena yang utama adalah bahwa mempelai prianya adalah orang yang telah ditunjuk oleh hatinya.

Dan kini…

“Yeoppoeda…” ucap Chaerin penuh kagum. Tangannya dia letakkan di kedua bahu Dara, menatap pantulan unnie-nya itu di cermin.

“Kau juga tak kalah cantik,” balas Dara, tersenyum balas menatap gadis yang telah dia anggap seperti adiknya sendiri.

Perkataan Dara membuat kedua pipi Chaerin semakin memerah – bukan karena efek dari perona pipi.

“Unnie, jangan membuatku malu!” sungut Chaerin yang tidak biasa mendapatkan pujian seperti itu. Banyak yang berkata dirinya menarik, hot, seksi… tapi cantik… jarang sekali ada yang berkata demikian selain orang tuanya.

“Kenapa malu, aku berkata yang sejujurnya.”

“Aisht, sudahlah! Ini kan hari besarmu. Harusnya kau yang mendapatkan semua pujian!”

Dara hanya tertawa mendengarnya dan berkata, “Dan semuanya berkat dirimu, Rin. Gaun ini sangat indah, melebihi ekspektasiku.” Dia berputar-putar di depan cermin, kembali mengagumi gaun indah yang menutupi tubuhnya. Gaun yang secara khusus dirancang Chaerin untuknya. “Aku ingin identitasku sebagai orang Korea dan Indonesia terlihat,” begitu pinta Dara saat ditanya Chaerin dulu.

Dan Chaerin merancang sebuah gaun yang cantik – perpaduan antara hanbok dan kebaya, dengan menggunakan kain batik sebagai material dominan.

Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan kedua gadis itu, tak lama pintu terbuka dan sosok Putri muncul dari balik pintu kamar.

“It’s my clue to take my leave,” ucap Chaerin tersenyum pada Putri, dia lalu beralih pada Dara. “And you, sissy.. congratulation.” Dan Chaerin pun keluar kemudian setelah mencium pipi Dara.

“Hai mbak,” sapa Putri pada sepupunya.

“Hai,” balas Dara.

“Gimana kabar mempelai perempuan kita tersayang?” dia berjalan masuk dan melangkah mendekati Dara yang kini telah duduk di ujung ranjang.

“I don’t know what to feel… exited, nervous, happy, afraid… but honestly it’s overwhelming.” Akunya jujur.

Putri tersenyum dan duduk di sebelah Dara.

“For a preggy mom, you’re quite active, you know?” Dara berkomentar, menatap perut Putri yang sudah mulai membuncit di usia kehamilannya yang menginjak minggu ke-23. “And I must say, being preggy is good for you, make you look sexier than ever!”

Kedua sepupu itu tertawa. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan. Terlebih setelah Putri menikah dan Dara kembali ke Korea. Dara lebih sering berhubungan dengan Bagus melalui sambungan telepon.

“That’s hormone for you, sis.” Balas Putri menjulurkan lidahnya. “Anggap aja sebagai efek samping positif dari hamil, karena aku sama sekali nggak pernah kelihatan ‘seksi’. You’ve known what I mean,” dengus Putri. Dara mengangguk setuju. Sepertinya sudah gen bawaan dari keluarga mereka untuk bertubuh kecil – kurus, langsing, tapi kurang dari berat badan proporsional.

“Hahaha…”

“Udah cukup ngomongin soal aku, hari ini kan hari besarmu.” Putri mengalihkan pembicaraan.

“Hhh…” Dara mendesah. “I want time flies fast but at the other hand, I’m afraid.” Keluhnya tersenyum gugup.

“Nah, itu normal. Kalau kamu baik-baik saja, malah akan jadi aneh.” Gurau Putri. “Everything will be okay, you love him and he loves you. The feeling is mutual,”

“Yes, I know.”

Percakapan mereka terhenti sejenak dikarenakan sebuah bunyi dering. Ada telepon masuk. Dara berdiri dan mengambil ponselnya dari atas meja rias. Senyumnya merekah melihat identitas peneleponnya.

“Angkat dulu aja mbak, aku keluar dulu dan laporan kalau mempelai perempuannya sudah siap.” Lagi-lagi calon ibu ini bergurau. Dara hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

“Thank you, sis.”

“Hey there…” sapa Dara setelah Putri menutup pintu kamarnya dari luar.

“Hey there girl friend,” balas si penelepon. “How are you?”

“Bad. I’m frightened.”

“Hahaha… why so? You’ll chicken out at the last minute?”

“No way!” sambar Dara cepat. Mana mungkin dia mundur sekarang. Tidak setelah semua yang harus dilaluinya.

“That’s it. Just stick on your ‘no way’, there was many reason until you blurted it out in no minute, and then you’ll be fine. No matter what, I’ll always here for you, girl friend.”

“Thank you, Jun. Thank you very much, love you.”

“Love you too, girl friend.”

**

Seoul, 12 November 2013

 

Diam.

Hampir dua jam keduanya hanya duduk dalam diam, berjarak. Sesekali suara mobil yang melintas mengisi kebisuan yang tercipta. Bahkan jika ada sebatang jarum yang terjatuh di lantai, suaranya akan terdengar nyaring.

“Dara-ah,”

Dara berjengit mendengar namanya dipanggil demikian, namun dia tidak berani menoleh, tidak percaya pada air matanya yang sudah mengancam akan kembali berkhianat dan mengalir keluar.

“Dara-ah, kumohon katakan sesuatu.” Pinta Jiyong merasa tertekan dengan senyap yang nyata kian menghimpit. Hal itu diperparah dengan jarak yang diciptakan Dara, yang sengaja memilih tempat sejauh mungkin darinya.

“Apa yang harus kukatakan?” tanya Dara lirih setelah diam beberapa saat.

“Apapun.” Balas Jiyong cepat. “Katakan saja apapun.” Dia menatap gadis yang bersamanya penuh harap.

Mereka sudah kembali mengenakan pakaian masing-masing, seolah keintiman mereka beberapa saat yang lalu tidak pernah terjadi.

“Aku ingin sekali mencacimu,” Dara memulai. “Memarahimu, memukulmu… tapi aku tidak sanggup melakukannya. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi.” katanya tanpa memandang Jiyong.

“Dara-ah…”

“Setelah ini apa lagi, Ji? Aku minta waktu padamu untuk berpikir, siapa aku bagimu—,”

“Aku mencintaimu, Dara…” potong Jiyong tanpa berpikir, kepalanya langsung menoleh kearah gadis itu.

Dara hanya mendengus.

“Benarkah? Tapi jika begini caramu mencintaiku, aku tidak sanggup, Ji… aku lelah. Sangat lelah.” Akunya. “Dan lebih lelah lagi karena hati dan otakku terus berusaha mencari alasan untuk perbuatanmu kali ini. Alasan yang tidak kunjung bisa kutemukan.” Akhirnya, air mata yang coba dibendung Dara luruh. Namun segera dia menghapusnya.

“Aku tahu lagi-lagi aku mengacaukan semuanya.” . Tiba-tiba saja Dara dikagetkan oleh Jiyong yang tanpa diduga bersujud memeluk kakinya.

“Ji, apa yang kau lakukan?” Dara tak lagi bisa menahan air matanya.

“Kumohon maafkan aku, Dara… maafkan aku. Meski aku yakin permintaanku ini sangat sulit, tapi aku akan melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku.”

“La-lalu setelah itu? Setelah aku me-memaaf-kanmu, lalu a-apa?” tanya Dara terbata di sela tangisnya. Tubuhnya masih duduk diam tak bergerak meski Jiyong bersujud di kakinya.

**

Seoul, 11 Januari 2014

Dua orang wanita muda duduk berhadapan di sebuah kafe di daerah Itaewon. Seorang berwajah tegang dan yang seorang lagi terlihat santai saja menyesap teh yang dipesannya.

“I never be a fan of tea.” Ucapnya sambil meletakkan cangkir tehnya.

“So, why bothering yourself to order the tea?” tanya wanita yang duduk dihadapannya.

“Sudden decision, when I saw tea in the menu, I want to drink it. Honestly, it’s not bad.” Komentarnya.

“Tea is never bad. It is making calm,” balas wanita yang satu lagi, meraih cangkir coklat hangat miliknya. “But I prefer on chocolate. Its bittersweet is addicting.”

“Said by the one who says tea is calming. So say it, Sandara, why do you want to meet me? You want to curse me in front of my face for slept with your guy, don’t you?”

Diingatkan demikian, Dara mendesah, wajahnya kian tegang. Tangannya semakin kuat menggenggam cangkir. “I want to,” akunya jujur. “But I can’t, Kiko.” Lalu dia mengalihkan pembicaraan. “How is your baby?”

“Hahaha, you’re funny. If this is a drama, you’ll pull my hair in all direction until bald…” Kiko tertawa. “But well, if you want to be like drama, you’ll do it since the first time. The baby is good, your guy attends all my need, even for my craving.”

“Well, good to know it.” Dara tersenyum, meski bukan senyuman tertulusnya. “Say it, Kiko, are you really okay for giving the baby to me? Don’t you want to raise your own child?” tanyanya hati-hati.

“And what? Force Jiyong to marry me?” pernyataan ini membuat Dara langsung sesak. Kiko langsung tertawa, bisa membaca ekspresi ketidakrelaan di wajah Dara dengan jelas. “I won’t do it. I know Jiyong will never love me, even I have his child. I was a product of broken home because my parents were not loved each other. And I loathe a marriage because of that. Moreover, this child was an accident. It was supposed be a one night stand, but well we were drunk and mistakes happened.”

Dara ingin membenarkan pernyataan Kiko. Bagaimana pun caranya dilahirkan di dunia ini, anak bukanlah sebuah kesalahan. Tapi dia memilih diam.

“You’ll be the mother, Sandara. It’s either I give to the orphanage when this child born or abort it.”

“Kiko!”

“What? I’m being honest here. I’m a model and having a child is not in my priority. Lucky me, my agency agrees to postpone my schedule until last trimester of this year and you both are attending all my need.”

Dara mendesah, enggan berdebat. “So, what’s your plan?”

“After giving birth? Well, I’ll give the child to you and back to Japan.”

**

Seoul, 27 Mei 2014

 

Dara berjalan mondar-mandir di ruang tengah, terus melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya.

“Tenang aja, nak.” Ucap sang mama berusaha menenangkan.

“Tapi, ma… mereka sudah hampir satu jam di dalam sana.” Dengus Dara tak sabar, untuk kesekian kalinya melihat ke arah pintu ruang kerja ayahnya.

“Itu hal yang wajar dilakukan oleh seorang ayah dan calon menantunya.” Seloroh mamanya santai membuat Dara langsung menghentikan langkahnya seketika itu juga.

“Mama!”

Mama Dara hanya menatap polos, “Apa?” mengangkat sebelah alisnya. “Hubungan kalian tidak serius? Kalau tidak, putus saja.”

“Mamaaa!” seru Dara ngeri. Terkadang sikap cuek mamanya bisa berpotensi membuat dirinya terserang penyakit darah tinggi dadakan.

Beruntung suara pintu yang terbuka mencegah terjadinya perang antara ibu dan anak. Keduanya segera menoleh secara bersamaan, membuat dua orang pria yang baru saja keluar dari ruangan itu keheranan.

“Apa yang appa katakan padamu?” tanya Dara penuh rasa penasaran.

“Itu rahasia.” Jawab Jiyong.

Mereka berdua tengah duduk bersebelahan di ayunan yang terdapat di halaman samping rumah orang tua Dara. Orang tua Dara meminta putri mereka untuk mengundang Jiyong makan malam. Dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu, Dara setuju. Keraguannya semakin besar ketika setelah selesai makan malam, ayahnya meminta untuk berbicara dengan Jiyong – hanya berdua saja.

Jelas Dara panik. Takut jika ayahnya menentang hubungan mereka. Orang tuanya tahu mengenai kehamilan Kiko, dan dengan kenyataan bahwa dirinya telah setuju untuk menjadi ibu dari anak Jiyong nantinya semakin membuat Dara tak bisa menyembunyikan apa pun dari kedua orang tuanya.

“Ji…” rengek Dara masih merasa tak tenang.

Jiyong menggenggam tangan Dara dengan satu tangannya, kemudian merangkul bahu gadis itu dengan tangan yang lain.

“Jangan khawatir.” Ucap Jiyong sebelum mengecup kepala Dara.

Dara mendesah, menyandarkan kepalanya di bahu Jiyong. “Bagaimana mungkin aku tidak khawatir. Kalian berbicara empat mata selama hampir satu jam.”

“Itu masih normal. Jika aku jadi ayahmu, mungkin aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menginjak rumah ini.” candanya.

“Ji, ini tidak lucu.” Protes Dara mengerucutkan bibir.

“Aku serius.” balas Jiyong. “Tapi jika ini bisa membuatmu lebih tenang, kuberitahu kau, tidak ada masalah apa pun. Hanya pembicaraan antara ayah dan pria yang ingin mempersunting anaknya.”

Dara tidak bisa mencegah rona merah muncul di kedua pipinya mendengar hal itu, wajahnya memanas.

“Gomawo, Dara-ah.” Gumam Jiyong, kembali mengecup puncak kepala Dara. “Sejak kedatanganmu dalam hidupku, kau selalu bisa membuat hidupku jadi lebih baik. Aku tidak bisa mengucapkan apa pun lagi selain rasa terima kasih dan maaf.”

Dara mengangkat kepalanya, membuat pandangan mereka bertemu. “Ji, bukankah kita sudah melewati bagian ini?”

“Aku bersungguh-sungguh, Dara-ah. Terima kasih karena telah menjadi dirimu dan maaf karena aku adalah aku.”

“Ji…”

“Saranghae…” ucap Jiyong tulus, masih menatap mata gadis itu.

Dara menggigit bibirnya menahan senyuman. “Nado, saranghae…” balasnya lirih, semakin tersipu.

Jiyong tersenyum dan menundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya di bibir gadis yang dicintainya – yang terlambat dia sadari bahwa dia mencintai gadis itu. Tapi seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

**

Seoul, 14 November 2014

 

Jiyong terus saja menatap wanita di hadapannya yang kini dengan bangga bisa disebutnya sebagai istrinya. Dia merasa sebagai pria yang paling beruntung. Setelah semua kebodohan yang dia lakukan… setelah semua luka yang tertoreh… setelah semua air mata yang keluar… akhirnya, saat ini telah tiba.

“Gomawo… mianhe…” tak hentinya dia membisikkan dua kata itu di telinga Dara.

Jiyong bersungguh-sungguh sepenuh hati. Sungguh, dia berterima kasih pada Dara karena dirinya adalah Dara – wanita yang dicintainya, yang mau menerima segala kurangnya. Dan sungguh, dia meminta maaf karena dia adalah Jiyong – pria yang hanya bisa melakukan kesalahan demi kesalahan, satu-satunya hal benar yang dilakukannya adalah mencintai Dara.

“Ji… berhenti. Bukankah kita sudah sepakat?” Dara mencoba mengingatkan, memegangi pipi Jiyong dengan tangannya.

Jiyong menggenggam tangan Dara yang memegangi pipinya dan menciumnya. “Aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya. Aku ingin kau tahu bahwa rasa terima kasihku tidak akan pernah berkurang dan aku sangat menyesali semua kesalahan yang kulakukan.”

Dara tidak bisa berkata-kata. Sial. Pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu sungguh pandai berkata-kata. Beruntung, appa Dara datang menghampiri mereka.

“Appa,”

“Abeoji,”

“Apa appa mengganggu kalian?” tanya pria paruh baya itu begitu sampai di hadapan mereka. Meski tidak ada jejak air mata yang tersisa, tapi Dara yakin ayahnya itu menangis.

“Ani,” jawab keduanya bersamaan.

“Jiyong, aku percaya padamu. Kumohon jaga putriku satu-satunya ini, meski dia sering bersikap keras kepala, aku mohon, kau bersabar padanya dan bimbing dia agar menjadi istri yang baik. Kupegang janji yang kau ucapkan kala itu.”

“Baik, abeoji.” Jawab Jiyong.

“Dan kau, sayang,” dia beralih pada putrinya. “Sekarang kau telah menjadi seorang istri. Dirimu sudah bukan tanggung jawab appa lagi, tapi menjadi tanggung jawab suamimu. Dan jadilah istri sesungguhnya, seperti yang diajarkan oleh mama dan mbah putrimu.”

Tak pelak, nasehat dari ayahnya membuat mata Dara berkaca-kaca. Jiyong mengelus punggung Dara perlahan, menenangkan istrinya itu.

“Appa…”

“Ada apa ini?” sebuah suara mengalihkan perhatian ketiganya. Mama Dara muncul dan berjalan mendekati mereka.

“Mama…”

“Sudah, hentikan drama ini. Lihat, semua orang menatap ke mari.” Dia mengedipkan sebelah mata pada Jiyong dan kemudian menarik suaminya pergi.

Jiyong tersenyum melihat tingkah ibu mertuanya, “Mamamu benar-benar penuh kejutan.”

“That’s my mama…”

Baru saja mereka berniat untuk menghampiri pada tamu, suara tangisan terdengar. Secara reflek, kepala Dara berputar mencari sumber suara yang sudah sangat dia hafal. Dan benar saja, tak berselang lama, ibu tiri Jiyong datang menghampiri mereka dengan Mino dalam gendongannya. Bayi berusia empat bulan itu menangis keras, sedikit meronta membuat Jinhye kewalahan.

“Omo, Mino-ah…” Dara segera berjalan meninggalkan Jiyong dan mengambil alih putra Jiyong dari gendongan ibu mertuanya. “Waeyo, chagi-ah?” dia segera menimang tubuh kecil Mino. Beruntung gaun pengantinnya tidak menyulitkan. Dalam hati Dara semakin berterima kasih pada Chaerin atas gaun rancangannya ini.

“Mianhe, aku tahu ini hari kalian berdua, tapi aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.” Ucap Jinhye penuh sesal.

“Gwenchana, noona.” Jawab Jiyong, tersenyum. Matanya tertuju pada Dara dan Mino yang perlahan tapi pasti sudah mulai tenang.

“Sepertinya putramu cemburu, karena kau memonopoli Dara sejak pagi tadi.” Gurau Jinhye.

Jiyong tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Sepertinya begitu.” mau tak mau dia pun setuju.

“Dara benar-benar menjadi ibu yang baik bagi Mino.”

Sejak dilahirkan, praktis Dara lah yang berperan sebagai ibu Mino, sementara Kiko hanya sekali melihat anak yang telah dilahirkannya sebelum kepulangannya ke Jepang. Bahkan sepulangnya mereka dari rumah sakit, Mino langsung dibawa ke apartemen Dara. Terlebih sejak kehadiran Mino, Dara langsung mengundurkan diri dari pekerjaannya membuat Dongwook sempat mengamuk pada Jiyong karena membuatnya kehilangan salah seorang fotografer terbaiknya.

“Ya, aku tidak bisa lebih berterima kasih lagi karenanya.”

**

 

 

~ Tbc ~

Cooling down.. *o*~ kkkkk

Walopun saya nggak yakin, apakah akan cool down dengan plot dan alur yang makin semrawut.. OTL

Semoga bisa mengerti dan memahami apa maksud saya, kadang ada baiknya hanya mengerti apa yang perlu dimengerti tanpa perlu tahu apa segala hal yang sebenarnya terjadi.. ngerti maksud saya? kalo nggak ya udah.. :p

Makasih buat yang udah baca.. see you next time.. XD

………………………………………………….

<< Previous Next >>

 

Advertisements

23 thoughts on “Phases : Douăsprezece

  1. Agak aneh sih kalo ngeliat dara unnie ngangkat anaknya kiko jadi anaknya. Tapi tak apalah. Akhirnya mereka menikah. Aku kira dara unnie nikahnya sama juna😝. Dara unnie emang terlalu cinta sama jiyong oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s