He is Yours or Mine? [Oneshoot]

757-f

Sandara Park || Kwon Jiyong || Park Bom || Oneshoot

Author : Oktyas

Note : Ini sebenernya bukan ff daragon, tp cerpen biasa, cuman aku ganti namanya doang. Jadi kalo feelnya agak kurang. Maaf ya.

 

Peluh membasahi kening gadis itu. Rambutnya terlihat kusut, pakaiannya berantakan, tapi siapa pun yang melihatnya masih bisa terpana dengan kecantikannya. Semua orang mengakui betapa cantiknya dia, betapa manisnya saat ia tersenyum. Mata bulat cokelatnya terlihat sangat hidup rambut cokelat bergelombangnya terlihat sangat pas membingkai wajahnya.

“Hey cupu!” –ralat, tidak semua orang. Kecuali laki-laki ini. Dia adalah Jiyong.Jiyong mulai memanggil Dara cupu ketika gadis itu memutuskan untuk memakai kaca mata daripada lensa. Seseorang yang selalu ‘menemani’ harinya. “Jika kau tidak kuat berjalan, kenapa tidak ikut mobil ambulan saja? Tidak usah sok hebat.” Katanya dengan tertawa.

Dara -biasa gadis itu dipanggil, memberikan tatapan tajamnya yang dibalas Jiyong dengan menjulurkan lidahnya lalu berlari mendahuluinya bersama teman-temannya yang lain.  Kelas Dara mengadakan acara berkemah di Waseley Hills Country Park. Dan mereka diharuskan untuk berjalan dari awal pintu masuk sampai di tempat di mana mereka berkemah nanti. Waseley Hills Country Park adalah sebuah hutan lindung yang berada di Gannow Green, Ln Rubery Brimingham, Inggris. Pemandangannya sangat indah, dan udaranya sangat sejuk. Ini adalah suasana yang Dara dambakan setiap harinya. Harusnya berjalan berapa jam pun di sini tidak merasa lelah, tapi Dara dia memang bukan tipe orang yang suka berolahraga, dan ditambah dengan gangguan pernafasan yang dialaminya sejak ia lahir. Semua temannya tahu jika ia dan olahraga tidak akan bisa berada di satu jalan yang sama termasuk Jiyong sialan itu.

Kwon Jiyong, dia adalah tetangga Dara sejak dia berada di sekolah menengah atas.  Dan mulai saat itu, Dara dipaksa untuk berpisah dengan hidup damainya. Awalnya ia bersikap menyenangkan, mengajak Dara keluar, berpergian, tapi lama-lama dia bersikap semakin menyebalkan. Sifat jahil dan usilnya sudah melewati batas. Itu tidak masalah sebenarnya, tapi Dara dapat dipastikan sebagai korban utama kejahilan Jiyong. Jika kalian berpikir Jiyong adalah tipe laki-laki urakan, kalian salah besar. Dia sangat cool. Tapi juga tidak kaku. Dia tidak banyak bicara dengan sembarang orang.Mata cokelatnya, rambutnya pirang yang dicampur dengan semir cokelat. Laki-laki itu dikenal playboy.Jiyong bisa dibilang sangat pemilih, dia hanya akan berkencan dengan perempuan yang memiliki image bagus di kampus. Oh dan satu lagi, sepertinya Tuhan benar-benar mencintai Jiyong, dia juga salah satu mahasiswa dengan nilai tertinggi di angkatan mereka.

”Dara, apa kau baik-baik saja?” suara Bom membuatnya tersadar.  Dia adalah teman baik Dara. Memiliki tubuh yang seksi, cantik dengan rambut dicat merah.

“Aku tidak akan mati hanya karena berjalan sepanjang  5 km Bom. Tidak usah khawatir.” Dara menepuk pundakBom membuat sahabatnya itu tertawa.

“Tapi kau membawa tas yang hampir seberat dirimu. Oh dan Dara, jika kau mati di sini, aku tidak akan memaafkanmu.” Bom menenggak air minumnya dan menawarkannya pada Meggi yang diterima gadis bermata hijau itu dengan senang hati. “Kau adalah Sandara Park puteri dari penulis terkenal Park Hyosin, jangan permalukan ayahmu dan carilah cara mati yang lebih berkelas.”

“Bom!” keduanya terdiam ketika mendengar teriakan dari barisan depan, dan di sana Jiyong melambai ke arah Bom. “Ayo satu tenda denganku, akan kupastikan kau akan punya malam yang hangat.”

“Aku tidak yakin Jiyong, aku membawa selimut yang dapat dipastikan lebih mahal dari otak kotormu!” jawab Bom santai, yang ditanggapi tawaan Jiyong. Ia sedang dalam misi untuk membawa Bom berkencan, tapi gadis tidak pernah memberikan jawaban yang diinginkan Jiyong.

Tanpa sepengetahuan Bom, Dara memandangi Bom dengan senyum getir di bibirnya. Lalu pandangannya beralih pada laki-laki pengganggu hidupnya yang sangat disayangkan juga alasan kenapa selama ini dia tersenyum. Dara menyukai Jiyong lebih dari yang dia sendiri tahu.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka membangun tendanya sesuai kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya. Satu kelompok terdapat empat orang. Dara, Bom, Minzy, Chaerin satu kelompok. Beruntung mereka bisa memilih anggota kelompoknya sendiri. Para lelaki ikut membantu mendirikan tenda kelompok perempuan. Dan bisa ditebak kelompok Dara mendapat bantuan sukarela dari Jiyong.

Tentu saja Jiyong memilih kelompok ini. Dia pasti ingin mencuri kesempatan untuk mendekati Bom. Batin Dara.

Meskipun Bom terang-terangan menolak Jiyong, tapi menurut Dara ada kemungkinan nanti Bom akan menerima lelaki itu. Mereka berteman, Bom terlihat nyaman bersama Jiyong, begitu pula sebaliknya. Banyak juga mahasiswa yang membicarakan mereka akan terlihat cocok bersama. Jiyong sering terlihat bersama dengannya dan Bom. Tapi perilaku Jiyong padanya dan Bom berbeda seratus delapan puluh derajat. Ia akan mati-matian mengusili Dara, dan sikapnya berubah manis, seperti seorang remaja norak yang ingin mengajak kencan gadis impiannya.

“Cupu! Berhentilah melamun. Kau tidak akan menyelesaikan pekerjaanmu.” Entah datang dari mana si pengganggu itu dan mengambil alih pekerjaan Dara. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mendirikan tenda dengan dibantu Jiyong dan beberapa teman laki-lakinya.

Dara duduk bersandar pada sebuah pohon yang terletak di tepi, jauh dari keramaian sambil meneguk minumnya ketika Jiyong berjalan ke arahnya. Gadis itu menaikkan alisnya saat melihat Jiyong berjalan ke arahnya. Oh ayolah, aku sudah duduk jauh-jauh dari kalian, tapi kenapa dia tetap datang ke sini? Tanya Dara dalam hati dengan kesal. Jiyong lalu duduk di sebelah Dara menghembuskan nafas kasar karena lelah. Pulir keringat terlihat jelas menetes dari keningnya tidak memperhatikan ekspresi wajah murah Dara.

 “Ah aku sangat haus.” Jiyong merebut botol air minum yang dipegang Dara dan langsung meminumnya.

“Hey! Dasar tidak punya sopan santun.” Gerutu Dara kesal. Dia sedang merasa tidak ingin diganggu oleh siapapun, tapi laki-laki di sebelahnya seperti tidak peduli dengan mood-nya sekarang.

“Sandara Park. Kau tahu, ketika kau marah kau mengerutkan keningmu dan membuatnya terlipat. Lalu mengerucutkan bibir kecilmu itu. Dan kau pikir kau terlihat cantik jika wajahmu seperti itu hah?” Tanya Jiyong dengan nada santai.

“APA PEDULIMU? KAU SELALU MEMBUATKU MARAH!” Dara menekankan setiap kata-kata yang ia ucapkan sambil menatap wajah Jiyong dengan tatapan tajamnya.

“WOW.” Jiyong mengangkat tangannya sedikit terkejut dengan reaksi yang dia dapatkan dari Dara. “Padahal aku belum melakukan satu rencana pun untuk menjahilimu, tapi sepertinya kau sedang dalam kondisi yang buruk.” Laki-laki itu menghela nafasnya pelan.

“Dara, aku perlu bicara serius padamu.” Kata Jiyong melihat ke arah perempuan di sebelahnya, tapi ia tetap menutup matanya dan bersandar pada pohon di belakangnya. “Kau mengenal Bom dengan baik kan? Aku ingin menanyakan sesuatu tentang dia. Apa kencan impiannya? Dan oh, makanan kesukaannya juga. Kau tahu kan?” Hening. Jiyong tidak mendapat jawaban dari Dara.

“Dara, ayolah bantu aku.” Kali ini Jiyong menepuk bahu gadis itu.

Perlahan Dara membuka matanya dan menoleh ke arah Jiyong. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan lelaki itu. Hanya diam dan menatap matanya.  Ia mencoba menyembunyikan rasa sakitnya, mencoba memahami bahwa lelaki di depannya ini tidak mencintainya. “Apa kau serius pada Bom?” Tanyanya pelan. Jiyong pikir, awalnya Dara akan berteriak karena ia telah mengganggu waktu istirahatnya, tapi tidak. Gadis itu bertanya dengan sungguh-sungguh, dengant tatapan yang Jiyong sulit artikan.

“Tentu aku sungguh-sungguh.”

“Kau yakin? Aku tidak ingin sahabatku menjadi korbanmu. Hanya menjadi koleksimu selama beberapa minggu.”

“Aku menyukai Bom. Aku akan serius dengannya. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyia-nyiakannya.” Dara mengalihkan pandangannya. Mendengar pengakuan perasaan laki-laki yang ia cintai tapi perasaan lelaki itu bukan untukmu. Dadanya terasa diremas. Hatinya terasa diambil paksa dari tempatnya dan dihempaskan ke tanah.

“Aku pegang kata-katamu Jiyong.” Dara menegakkan tubuhnya. “Dia suka melakukan perjalanan jauh, dia juga suka mendaki, mungkin itu cukup membantumu. Aku tidak tahu bagaimana kencan impiannya. Oh, dan soal makanan dia tidak terlalu pemilih, tapi dia sangat suka makanan itali.”Dara langsung mengubah ekspresinya menjadi seceria mungkin.

“Dia gadis petualang. Sangat menarik. Terima kasih Dee. Mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu lain kali.” Dengan itu Jiyong beranjak pergi dan menghampiri Bom yang berkumpul dengan teman-temannya yang lain.

“Sepertinya ini akhir kisah cintaku.” Dara tersenyum getir dengan pandangan menerawang.

Malam telah tiba, semua yang ikut acara kemah ini berkumpul mengelilingi api unggun. Beberapa orang membakar sosis dan marshmallow. Yang lain mempersiapkan cemilan yang sudah mereka bawa dari rumah. Para anak laki-laki mengiringi malam dingin ini dengan alunan gitar yang indah dan menyanyikan lagu dengan suara merdu mereka. Semua yang berada di sini melupakan masalah mereka sejenak. Yang mereka pedulikan adalah tertawa bersama sahabatnya, bernyanyi, dan saling berbagi cerita. Begitu pun Dara seolah dia lupa rasa sakit hati yang ia rasakan siang tadi. Ia bernyanyi dengan Bom sampai suara mereka serak.

“Hei semuanya, mohon perhatian sebentar.” Jiyong tiba-tiba berdiri dari tempat di mana ia duduk dan berjalan ke arah Dara dan Bom. Mereka menatap Jiyong dengan heran.

“Bom, aku punya hadiah kecil untukmu malam ini.” Lanjut Jiyong dengan senyum di wajahnya. “Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Tolong dengarkan sekali ini saja.” Terdengar suara sorakan dan siulan dari teman-teman mereka.

“Uhm.” Bom terlihat bingung. Ini adalah pertama kalinya Jiyong bersikap manis kepada seorang perempuan. “Oke. Aku akan mendengarkan.” Dan Jiyong dengan menggunakan gitar ia menyanyikan lagu dari Azealia Banks yang berjudul Gimme a Chance. Semua terdiam menikmati lagu yang disenandungkan pria itu. Dara menatap Jiyong tanpa berkedip, andai gadis itu adalah dirinya. Andai gadis yang membuat Jiyong jatuh cinta itu adalah dirinya.

Jiyong menyelesaikan lagunya dihadiahi tepuk tangan yang meriah. “Bom, beri aku kesempatan. Kumohon.” Kata Jiyong sambil meraih tangannya dan menggenggamnya. Bom membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Ia melihat ke arah Dara mencari bantuan dari temannya.

“Percayakan dengan hatimu Bom.” Dara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Sepertinya tidak buruk. Aku memberimu kesempatan.” Bom mengatakan dengan malu-malu.

“Terima kasih Bom.” Jiyongmencium punggung tangan Bom. Teman-temannya memberikan ucapan selamat pada pasangan baru tersebut.

Dara tidak dapat menahan air matanya kali ini. Jiyong memeluk Bom yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya dan mencium kening gadis itu. Ia tahu kali ini Jiyong benar-benar serius dengan Bom, dan dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kedua sahabatnya. Bom beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari api unggun. Ia tidak tahu ke mana ia berjalan. Ia lalu duduk di sebuah batu. Ia menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasakan. Ia menangis sampai rasanya sesak. Dalam hatinya dia berjanji malam ini adalah malam terakhir ia menangisi mereka. Esok, setidaknya ia akan mencoba untuk menjadi sahabat yang akan selalu berada di sisi mereka lagi. Karena tidaklah semua di dunia ini akan mendapatkan akhir yang bahagia kan?

Dara ingin kembali pada teman-temannya yang berkumpul. Ia takut Bom akan cemas dengan keberadaan Dara. Tapi dengan kondisi mata sembab dan hidung merah, itu pasti akan membuat curiga semua yang di sana. Dan akhirnya, gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hutan. Semakin menjauh area perkemahan, semakin gelap karena sedikitnya lampu yang ada. Dan ada sesuatu yang menarik pandangan Dara. Seperti sebuah botol dengan surat di dalamnya. Karena penasaran, Dara pun menuruni jalan menurun yang cukup terjal penuh dengan batu dan daun kering. Dengan berpegangan pohon-pohon di sampingnya. Tiba-tiba ada ular yang melilit tangannya yang sedang berpegangan pada dahan pohon. Dara pun menjerit mencoba melepaskan ular tersebut dari tangannya, tapi ia kehilangan keseimbangan yang membuat dirinya terjatuh. Tubuhnya terus terguling sampai ke dasar bukit terjal tersebut dan masuk ke dalam sungai.

Dara mencoba membuka matanya tapi seperti ada kabut yang membuat pandangannya menjadi gelap. Lalu terdengar suara bisikan halus yang membuat Dara semakin menutup matanya.

“Tidurlah. Ini hanya mimpi. Ini hanya mimpi.”

***

Dara membuka matanya perlahan. Ia merasakan rasa sakit di punggung dan kepalanya. Seketika ia panik saat mengingat ia jatuh dari bukit. Apa ia berhasil hidup? Tanyanya dalam hati. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat poster Adam Levine di dinding hadapannya. Dengan segera ia duduk, ia mengedarkan pandangannya pada ruangan ini.

“Ini kamarku.” Gumam Dara tidak percaya. “Jadi ini hanya mimpi?” Dia menghembuskan nafas lega. Sakit pada punggung dan kepalanya itu karena ia terjatuh dari tempat tidur .

“Tapi mimpinya terlihat sangat nyata.” Dara lalu mengusap matanya. Bahkan dia masih merasakan bekas air yang mengalir. “Jiyong dan Bom?! Mereka tidak berpacaran sungguhan kan?!” tiba-tiba ia merasa sesak hanya karena membayangkan kedua sahabatnya berpacaran. Semuanya adalah mimpi. Kecuali perasaan yang ia miliki pada Jiyong.

Dara berangkat ke kampus dengan hati berdebar-debar. Ia seperti tidak siap bertemu dengan Bom ataupun Jiyong. Mimpinya membuatnya gugup tanpa sebab yang pasti. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Dari kejauhan ia melihat kedua sahabatnya sedang berbincang di bangku taman. Meski melihat dari belakang, Dara sangat hafal jika mereka sedang tertawa dilihat dari punggung mereka yang bergerak naik turun.

Dara berjalan ke arah kelas tanpa berpikir akan menyapa mereka berdua. Hatinya belum siap. Tapi saat melewati Jiyong dan Bom, tidak sengaja ia mendengar namanya disebut. Ia berhenti dan menjaga jarak untuk mendengarkan percakapan keduanya.

“Ayolah Bom.” Bujuk Jiyong.

“Ya Tuhan aku tidak percaya. Kau adalah laki-laki pengecut.” Kata Bom disela tawanya. “Katakan sekali lagi jika kau menyukai sahabatku.”

“Aku menyukai Dara. Oh tidak, aku mencintainya. Aku mencintai gadis cupu itu. Sudah puas? Sekarang katakan padaku bagaimana aku harus menyatakan perasaanku padanya.”

“Bawa dia makan malam, dan kau harus buat suasananya seromantis mungkin tapi jangan sampai membuat Dara canggung.”

Dara terpaku. Dia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Jiyong mencintainya? Bagaimana bisa? Keringat dingin mulai memenuhi telapak tangannya, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Dan entah ingin membuat suasana lebih canggung, ia tidak sengaja menjatuhkan bukunya membuat Jiyong dan Bom menoleh ke belakang.

“Dara!” Bom berjalan ke arah Dara dengan senyum cerah di wajahnya. Tapi kesadaran gadis itu sepertinya belum pulih. “Hey Darong! Kau tidak apa-apa?” Tanya Bom mengguncangkan tubuh Dara.

“A-aku..”

“Ya Tuhan, apa kau mendengar percakapan aku dan Jiyong?” Dara mengangguk. Wajah Jiyong langsung memucat. Bagaimana bisa rencananya gagal sebelum dimulai.

“Dengar Dee, aku seharusnya melakukan ini di café atau restaurant mahal tapi sepertinya pada kondisi darurat seperti ini aku harus mengatakannya sekarang. Sandara Park, maukah kau menjadi kekasihku?”

He is mine.” Bisik Dara teringat pada mimpinya lalu tersenyum sambil menatap Jiyong.

THE END

Maaf belum bisa nglanjutin BTS. Sabar ya. Aku harap kalian menikmati oneshoot pendek dari aku. Hengshooooooo.

Advertisements

21 thoughts on “He is Yours or Mine? [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s