The King’s Assassin [Special Chapter] : The King’s Heir Part 3

 

TKH

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

Di Istana, para Dayang Istana yang menunggu di depan pintu kamar Ibu Suri hanya bisa berlutut begitu melihat Ratu tercinta mereka, bersujud dalam-dalam menanti respon dari Ibu Suri. Sudah hampir satu jam dan Dara masih di sana, menanti kesempatan untuk bertemu dengan wanita tua itu.

“D-d-aebi Mama… Jungjeong Mama masih berlutut menanti Anda mempersilahkannya masuk,” Dayang Istana mengumumkan sembari memberikan tatapan meminta maaf kepada Ratu mereka. Dara menjawab dengan sebuah senyuman, membuat Dayang Istana semakin merasa bersalah padanya.

“Daebi Mama…”

“Aku… aku tidak ingin bertemu dengannya. Katakan padanya untuk pergi,” Dara mengerutkan alisnya. Tadinya dia mengira suara kasar dari Ibu Suri yang dulu selalu membuatnya gemetar ketakutan – tapi bukan. Suara wanita tua itu terdengar serak, bergetar, dan penuh keraguan. Hatinya teremas sakit. Sudah bertahun-tahun berlalu dan mungkin, dia masih dihantui oleh mimpi buruk yang disebabkan oleh perbuatan buruknya sendiri.

“Ijinkan saya untuk bertemu dengan Anda sebentar saja, Mama… saya mohon—,” Dara berbicara, tapi Minzy menghentikannya.

“Jangan… Mama… Anda tahu beliau tidak menyukai Anda.”

“Minzy-ah… baik beliau menyukaiku atau tidak, itu bukan masalah lagi. Aku adalah Ratu negara ini sekarang dan aku harus memberi hormat kepada beliau. Aku harus merawat beliau dan itu adalah tugasku untuk mengurus semua wanita di dalam Istana. Dan Ibu Suri pun juga termasuk. Jadi, jika beliau enggan membukakan pintunya untukku, aku akan tetap di sini dan menunggu sampai beliau mau menerimaku,”

“Mama… jika Yang Mulia Raja tahu hal ini,”

“Beliau tidak akan tahu. Yang Mulia Raja tidak berada di sini dan aku ingin melakukannya. Tolong, katakan kepada pelayan untuk membuatkan teh dan camilan,” kata Dara kepada Minzy karena tahu Dayang Istana itu pasti akan mencoba mengubah keputusannya.

Dara tetap diam di sana meskipun lututnya mulai terasa sakit, tangannya mulai dingin, sementara para Dayang Istana semakin menundukkan kepala dalam-dalam, mencemaskan Ratu mereka.

“Mama… saya mohon… kita kembali saja lain kali,” kata salah seorang Dayang Istana.

“Tidak… aku akan tetap di sini,”

“Tapi sepertinya Daebi Mama…”

“BIARKAN DIA MASUK,”

Mata Dara melebar begitu mendengar suara itu dari balik pintu kamar Ibu Suri yang tertutup. Dia menoleh kepada para Dayang Istana dan tersenyum penuh kemennagan sebelum berdiri – tapi lututnya gemetaran. Dua pelayan segera mendekat padanya dan membantunya berdiri.

“Terima kasih,” dia meringis kepada mereka – membuat mereka tersipu.

“Sudah tugas kami untuk menjaga Anda, Mama…”

Dara tersenyum pada mereka sekali lagi dan bahkan sedikit membungkukkan bada, membuat para Dayang Istana terkejut dan Dara akhirnya ingat. Mungkin, dia butuh waktu lama untuk membiasakan diri sebagai seorang Ratu. Meskipun dengan harapan penuh di dalam dada, Dara masi butuh banyak keberanian untuk mempersiapkan diri dan masuk ke kamar Ibu Suri, tapi begitu dia melangkah masuk, hatinya langsung redup.

Ruangannya terlalu gelap. Jendela-jendela di tutup dan membuatnya merasa sesak. Tapi yang paling membuatnya terkesiap adalah keadaan Ibu Suri. Hilang sudah wanita perkasa yang pernah dikenalnya dan dia takuti. Yang duduk di dalam sana adalah seorang wanita tua, lemah, dan seolah kalah.

“Mama…” kata Dara pelan dan memberikan penghormatan kepada Ibu Suri.

“Kenapa kau sangat keras kepala? Sudah kubilang padamu aku tidakingin menemuimu.”

“A-a-nda tidak hadir saat pernikahan kami. Saya bertanya-tanya—,”

“Aku tidak ingin menyaksikan hal itu,” kata Ibu Suri, mengalihkan pandangannya dari Dara.

“Seperti yang sudah saya duga. Maafkan saya, Mama…”

“Lalu kenapa kau di sini?”

“Saya hanya ingin mengunjungi Anda, Mama…”

“Hentikan semua kegilaan ini, Raja selalu saja berubah seperti orang gila bila terkait denganmu – bagaimana jika dia tahu kau berlutut di hadapanku? Cucuku yang tidak tahu diri itu—,”

“Raja tidak sedang berada di Istana… jadi saya mohon tenanglah. Dia kemarin pergi bersama Pangeran,”

“Dia pergi?” Ibu Suri menoleh kepada Dara.

“Yeh, Mama…”

“Ke mana mereka pergi? Dan… kenapa dia membawa anak itu bersamanya?” tanya Ibu Suri, dan hati Dara sedikit merasa senang saat dia menyadari nada kecemasan dari wanita tua itu.

“Mereka pergi menuju ke Utara, Mama…”

“Aisht, provinsi yang menikmati kemurahan hati Yang Mulia…” gumam Ibu Sura pada dirinya sendiri, tidak menyadari Dara sedang mencoba membuka jendela.

“Anda harusnya membiarkan udara masuk, Daebi Mama… ini baik untuk kesehatan Anda,”

“Jangan berani-berani,”

“Akan menyenangkan jika cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamar. Anda terlihat sangat pucat, Mama,”

“Beraninya kau—,”

Dara berbalik menatap Ibu Suri dengan sebuah senyuman. Apa pun alasan yang membuat sang Ibu Suri mengusir orang-orang dari hidupnya, dia tidak pernah bisa mengerti. Tapi keluarga Raja adalah keluarganya juga sekarang. Mungkin ini adalah sedikit hal yang bisa dilakukannya.

“Saya akan mencoba untuk menjadi cahaya matahari untuk Anda, Mama… cahaya mampu menembus celah sempit meskipun jendela Anda tertutup rapat. Saya akan mencoba menjadi udara pagi untuk Anda. Hembusan angin yang mampus berhembus lebut setiap kali pintu Anda terbuka ketika pelayan masuk. Anda mungkin membenci cahaya matahari dan udara di luar sekarang, mama, seperti kebencian Anda kepada saya. Tapi saya tidak akan pernah pergi. Saya akan tetap berada di sini. Saya akan terus berada di sekitar Anda, Mama… ijinkan saya untuk merawat Anda. Saya mohon, jangan meminta saya untuk pergi,”

**

Rombongan Raja memutuskan untuk naik ke gunung dan mengunjungi Master Wu di rumahnya setelah makan siang dan beristirahat. Raja sedikit merasa cemas karena dia tidak yakin bagaimana reaksi Pangeran nantinya terhadap kegiatan mereka – tapi dia bisa merasa sedikit lega, saat anak itu terlihat senang begitu tahu apa yang akan mereka lakukan karena kegiatan ini mengingatkannya pada tempat di mana dia dibesarkan. Dengan penuh semangat, bocah itu meminta untuk berjalan mendaki dengan sedikit bantuan dari sang Raja dan setiap kali Jiyong menawarkan bantuan untuk Hanbin, dia akan berlari mendahului mereka – membuat Jiyong ketakutan. Jiyong tidak mau mengambil resiko demi keselamatan putranya dan untuk itulah dia memberikan tanda kepada orang-orangnya untuk berpencar dan naik terlebih dahulu – Hanbin harus dilindungi dari segala arah.

Siang hampir menjelang sore saat akhirnya mereka sampai di tanah datar yang sudah sangat dikenal oleh Raja, senyumannya langsung terkembang.

“Selamat datang di tempat yang paling berkesan bagiku dan ibumu, Hanbin.” Jiyong menepuk bahu putranya yang malah mendongak menatapnya, bertanya-tanya.

“Apa yang membuat tempat ini spesial?” tanya anak itu membuat sang Raja meringis lebar padanya.

“Well… itu karena… mungkin,” cengiran Raja semakin lebar begitu kepalanya dipenuhi oleh pikiran tentang Ratu. “Kau dibuat di sini,” dia memiringkan kepalanya ke samping. “Hmm… itu masuk akal. Bisa dibilang, tempat ini adalah tempat di mana Omma Mama dan Appa Mama membawamu ke dunia ini, arasso?”

“Bagaimana?” tanya anak itu lebih jauh merasa penasaran, membuat Raja mengerutkan wajahnya tak berdaya. “Saya dilahirkan di Jeju…”

“Aisht, kau menanyakan terlalu banyak pertanyaan. Tanyakan kepada ibumu begitu kita pulang, kau mengerti? Sekarang mari kita menemui kakek tua kita itu. Kemarilah,”

Tidak jauh dari sana, di belakang rimbunan semak lebat, lima orang melihat ayah dan anak itu dengan seksama.

“Apa kalian siap?” tanya Seunghyun, pandangannya tak pernah lepas dari Raja dan Pangeran yang sekarang tengah disambut oleh Master Wu di dalam rumahnya, sementara para Pengawal Kerajaan berjaga-jaga di sekitar rumah, sambil memanfaatkan waktu mereka untuk beristirahat.

“Rencana nomor satu…” Daesung berjongkok dan menatap yang lain. “Karena mereka berdua sangat kompetitif… mereka perlu mendapatkan pelajaran untuk bisa menerima kekalahan,” ucapnya bijak membuat yang lain mengangguk.

“Kau membuatku bangga, Daesung,” Seungri menyeringai. “Bagus sekali,”

“Jadi… apakah kita akan memulai dari anak itu dulu?” tanya Harang.

“Ya. Dia harus menyadari bahwa ayahnya adalah Raja… dan dia hanyalah seorang Pangeran…” kata Daesung.

“Bagus,” Yongbae lalu berdiri. “Kedengarannya seperti rencana bagus,”

**

“Anda harusnya tidak perlu repot-repot membawakanku ini, Jeonha. Aigoo,” kata Master Wu saat membuka bungkusan berisi rempah dan obat-obatan yang dibawa masuk oleh Pangawal Kerajaan. “Tapi saya tidak akan menolaknya, ini pasti akan sangat berguna bagi para penduduk. Kamsahamnida,”

“Aisht, ini bukan apa-apa,” Raja mengibaskan tangannya pada si kakek tua. “Dara ingin mengirimkan ini padamu karena dia tidak bisa ikut bersama kami. Dia yang memaksaku untuk membawanya. Kumohon, jangan merasa terbebani. Lagipula, di tanganmu, aku yakin ini akan sangat bermanfaat,”

“Hal itu akan kupastikan. Gubernur datang menemuiku untuk meminta bantuan minggu lalu. Dia bilang istrinya sakit dan dia tidak bisa menemukan obat yang tepat di apotek lokal. Sepertinya tempat itu mulai kekurangan. Apotek dan klinin,” katanya. “Saya jadi ingat… bukankah kami sudah mengirimkan surat permintaan ke kantor Anda bulanlalu?”

“Apa kau tidak menerima kiriman pertamanya?” tanya Raja kaget, tapi kakek tua itu hanya menggelengkan kepala. “Aku ingat aku menandatangani surat perintah untuk segera mengirimkannya kepadamu. Kau harusnya menulis surat padaku lagi,”

“Maafkan saya, Jeonha, tapi saya pikir Anda sedang sibuk dan Anda belum melihat surat saya. Tapi sekarang, Anda sudah membawakan obat-obatan yang sangat bagus, rasa terima kasih saja tidak akan cukup. Saya mohon… sampaikan salah saya kepada Ratu, dan semoga pernikahan Anda bahagia. Katakan padanya bahwa kakek tua ini merindukannya.”

Pernikahan. Pernikahan. Entah kenapa kata-kata itu berdengung di kepala Raja dan mengingatkannya kenapa dia tiba-tiba mengunjungi tempat ini.

“Aisht. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi begitu aku kembali ke Hanyang.” Katanya, menyudahi topik mereka sebelumnya.

“Anda harus Jeonha… kita tidak tahu pasti apa penyebabnya,”

“Oh,” Jiyong lalu terbatuk dan berdeham. “… ngomong-ngomong aku datang jauh-jauh ke mari untuk satu tujuan…” katanya, tiba-tiba ingat bahwa putranya sekarang sedang bersama para Pengawal Kerajaan. Dia menoleh ke belakang saat mendengar suara tawa Hanbin dan hal itu membuatnya tersenyum. Anak itu mungkin sedang menikmati bermain dengan para rekannya dan pengawal – kejadian langka bisa mendengar suara tawa Pangeran yang seperti ini. Jiyong menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Master Wu yang meringis lebar.

“Silakan lanjutkan, Jeonha…” katanya, tapi Jiyong tidak tahu bagaimana caranya dia harus menceritakan masalahnya kepada si kakek tua.

“Aku… aku… yakin kau pasti sudah tahu kenapa aku tiba-tiba datang ke mari. Aku hanya ingin… bertanya jika… jika…”

“Semuanya akan baik-baik saja… ini hanyalah sebuah tahapan. Anda dikelilingi oleh orang-orang yang setia kepada Anda. Tolong, percayalah pada nasehat mereka. Hanya itu yang bisa kukatakan,”

“Y-y-ah… aku sudah datang jauh-jauh ke mari dan hanya itukah yang kau katakan? Aku tidak percaya,” dengus Jiyong tidak percaya yang membuat kakek tua itu menjulurkan lidahnya.

“Jeonha… Anda tahu saya sudah semakin tua dan kekuatan saya sekarang sudah terbatas, itulah alasannya kenapa saya meninggalkan Harang di Hanyang beberapa tahun yang lalu. Untuk melindungi Anda. Untuk memberitahu dan memperingatkan Anda jika ada sesuatu yang akan membahayakan Anda dan keluarga Anda. Saya percaya Anda mulai mempercayainya dengan memberinya tugas sebagai Kepala Pengawal Anda.”

“Aku tahu, tapi kau tetap saja beda… kau tahu segalanya…”

“Oh, tidak… saya semua hal saya ketahui. Saya hanyalah seorang kakek tua dengan tubuh lemah dan tak berguna sekarang…”

“Jangan bicara seperti itu,” Raja mencondongkan tubuhnya ke meja, entah kenapa dia mulai merasa merinding.

“Aigoo… aku hanya mengatakan yang sejujurnya.”

“Jika Dara mendengar ini, dia pasti akan merasa sedih,” kata Jiyong, tahu bagaimana Ratu sangat menghormati kakek tua ini.

“Maafkan saya…”

“Kumohon, jaga dirimu. Aku akan meninggalkan beberapa orangku di sini—,”

“Aisht… saya tidak ingin menjadi beban untuk siapa pun,”

“Kau tidak menjadi beban… dan aku tidak ingin memperpanjang mengenai hal ini. Kami akan menginap untuk mala mini dan besok siang kami akan kembali ke Hanyang. Aku akan meninggalkan tiga orangku dan mereka akan tinggal bersamamu di sini.

Master Wu hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah dan tersenyum, matanya yang putih menyipit dan bibirnya melengkung membentuk senyuman. “Sepertinya Anda masih sama seperti anak yang saya kenal dulu. Anda sama sekali belum berubah. Apa yang Raja inginkan, pasti Raja dapatkan. Tapi bagaimana Anda akan menghadapi Pangeran yang sepertinya sama keras kepala dan arogannya dengan Anda, Jeonha?”

“Y-y-ah…” Jiyong memberikan tatapan memperingatkan kepada si kakek tua, seolah dia bisa melihatnya.

“Temuilah dia sekarang… saya rasa dia ingin mengatakan sesuatu kepada Anda… lebih tepatnya meminta ijin kepada Anda…”

“Benarkah?” tanya Jiyong, merasa senang mengetahui Pangeran akan meminta ijin darinya untuk pertama kali. “Kau pasti bercanda. Anak nakal itu punya harga diri—,”

“Keluarlah… dia menunggu,” Master Wu semakin meringis lebar sementara Raja segera berdiri dan merapikan pakaiannya, ingin terlihat mengagumkan di hadapan putranya.

“Aku akan segera kembali,” kata Raja dan segera keluar dari ruangan.

Dia menggeser pintu terbuka, dan bertanya-tanya kenapa tidak terdengar apa pun, padahal baru saja dia mendengar suara tawa Pangeran. Alisnya berkerut menatap orang-orangnya, menatap penuh tanya akan ke mana Pangeran pergi.

Dia baru akan  keluar dan melangkah turun dari rumah, saat dia mendengar Seunghyun tiba-tiba saja berbicara.

“Jeonha…” didengarnya Kepala Penasehatnya berkata dan dia segera menolehkan kepalanya ke kiri dan apa yang dilihatnya membuat kedua alisnya terangkat.

Seunghyun, Seungri, Yongbae, Daesung, dan Harang membungkuk dalam membuatnya bingung, tapi yang lebih mebuatnya bingung lagi adalah melihat putranya berlutut dengan kepala di atas tangannya yang berada di tanah.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?” tanyanya, sedikit meninggikan suaranya.

“Jeonha… Pangeran tadi bermain-main di sekitar rumah dan tiba-tiba dia melihat para Pengawal sednag berlatih panah di belakang rumah…” Seungri mulai menjelaskan.

“Dan???” tanya Jiyong, meminta mereka untuk melanjutkan.

“Pangeran ingin belajar panah, Jeonha, tapi tentu saja kami tidak berani memberinya ijin karena sangat berbahaya—,” kata Yongbae, tapi Hanbin memotong penjelasannya.

“Jeonha…” Jiyong mesara jantungnya berdetak cepat mendengar anak itu memanggilnya. Ini adalah kali pertama, pikirnya. Anak ini pasti sangat frustasi. Semuanya diam menunggu Raja untuk menjawab anak itu.

“B-b-icaralah,” suara Raja lirih, penuh kendali dan antisipasi.

“A-a-ppa Mama… saya melihat mereka bermain dengan busur dan anak panah… s-s-aya mohon… ijinkan saya… ijinkan saya untuk melakukan itu juga,” kata anak itu membaut Seunghyun menoleh kepada rekan-rekannya dengan senyuman, dalam hati berterima kasih kepada Eunuch Seunghwan yang telah memberitahukan informasi ini kepada mereka.

“Tapi Hanbin…”

“Saya mohon, Jeonha…”

“Kau masih terlalu kecil. Kau bisa terluka… itu terlalu besar untukmu—,”

“Tapi ahjussi bilang mereka bisa membuatkan yang kecil untukku!” protes anak itu dan Jiyong hanya bisa mendelik kepada orang-orangnya. Para Penjaga Kerajaan langsung membuang pandangan, menghindari tatapan menghukum dari Raja.

“Hanbin…”

“Saya mohon, Jeonha… mereka tidak mengijinkan saya karena takut Anda akan menghukum mereka. Tapi Anda tidak akan melakukannya, kan? Anda akan mengijinkan saya, kan?”

Jiyong hanya bisa ternganga, matanya tidak pernah meninggalkan sosok anak yang tengah bersujud di hadapannya. Bagaimana bisa dia menolak permintaan pertama putranya kepadanya? Dia mencoba bersuara, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya. Kenapa rasanya kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya? Ini sangatlah mirih, dia terlalu terkejut, hingga tanpa disadari dirinya sudah mengambil langkah mendekati putranya. Dia berjongkok dan meraih tubuh putranya dengan tangan gemetaran, mengagetkan Pangeran saat dia sedikit meremas bahunya.

“Kenapa kau ingin belajar panah?” tanya Raja kepada Pangeran dengan suara lembut. “Berhenti menundukkan kepala dan tatap aku.”

Hanbin perlahan menatap ayahnya, sementara itu sang Raja masih saja terpesona dengan kemiripan mereka. Jiyong harus menahan diri untuk tidak tersenyum pada putranya yang terlihat sangat serius dan penuh kesungguhan, dengan berani menatapnya tanpa berkedip.

“Saya ingin belajar memanah… jadi saya bisa melindungi omma,”

**

“Dalam memanah… mata itu lebih penting dibanding tangan,” jelas Raja sedangkan Hanbin menatapnya penuh minat. “Kekuatan lengan dan… tangan juga diperlukan, tapi kau lebih membutuhkan matamu untuk bisa mengenai target sasaran,”

“Itukah alasannya kenapa mereka bertanya tentang pandanganku dan apakah aku kidal atau tidak saat mereka membuatkan busur untukku?” tanya anak itu.

“Ya. Itu sangat penting, sebaiknya busurmu dibuatkan khusus untukmu.” Kata Jiyong sebelum memberikan sinyal kepada orang-orangnya untuk datang. “Pakaikan pelindung lengan dan dada untuk Pangeran, cepat!”

Hanbin meringis, sangat senang dengan pengalaman barunya ini karena dia tahu, di dalam Istana sana ibunya pasti tidak akan setuju. Pikiran kanak-kanaknya merasa bersalah saat memikirkan ibunya belum memaafkan sikap tidak sopannya kemaren dan jika sampai ibunya tahu tentang hal ini ibunya pasti akan kembali merasa sedih. Tapi memanah sangat menarik baginya. Tak lama kemudian, Hanbin sudah menarik-narik jubah ayahnya meminta perhatian.

“Ya?” Jiyong terkejut.

“Hmm… bisakah Anda berjanji untuk tidak mengatakan kepada omma tentang hal ini?”

“Kenapa? Apakah dia menentang hal ini?”

“Saya ingat, samchon mengajari saya bagaimana caranya memegang pedang… dan omma memergoki kami. Mereka bertengkar dan omma marah pada saya,” kata anak itu menatap ke arah jemarinya.

“Dia marah padamu? Itu tidak mungkin, dia selalu saja membelamu. Well mungkin, jika di antara kita,” Jiyong tertawa.

“Itu tidak benar. Akhir-akhir ini omma sering memarahi saya karena katanya saya mempermalukan omma dihadapan Anda. Dia bahkan tidak tidak tidur bersama saya semalam. Apakah omma bersama dengan Anda?”

Jiyong hampir tersedak mendengar perkataan Pangeran yang rasanya salah dalam pendengarannya. Dia melonggarkan kerahnya. “Tidak. Dia tidur di kamarnya sendiri.”

“Lihat kan? Omma marah,” Hanbin semakin murung. Jiyong dan rombongannya mulai turun ke hutan untuk berburu dan mengajari sang Pangeran kecil beberapa dasar dalam memanah – seperti yang anak itu harapkan.

“Aku sedikit bingung, n-nak…” Jiyong tergagap dengan panggilannya kepada Pangeran. “Kenapa Ratu marah padamu sebelum kita berangkat?”

“Saya… saya bertengkar dengan Lee Hayi, Appa Mama…”

“Kalian bertengkar?” mata Jiyong melebar. Dia berhenti sejenak dan menatap putranya.

“Dan lalu gadis itu meninjuku. Lihat wajah saya ini. Ini masih sakit. Omma Mama sudah mengobatinya, tapi masih sedikit sakit,”

Raja terkejut. Dia memiringkan kepala putranya… dan melihat memar ringan di rahang kirinya. Dielusnya bagian itu, membuat Hanbin sedikit meringis. Lalu dia tersadar. Inikah yang dibicarakan Dara dan Minzy sebelum dia datang kemarin? Tidak heran Dara sampai sakit kepala. Tapi dia tidak bisa mengenyahkan kenyataan bahwa Dara telah berbohong padanya dan menutupi kesalahan putra mereka.

“Maaf. Master Wu akan mengobatimu sampai benar-benar sembuh begitu kita kembali ke rumahnya.”

“Benarkah?”

“Ya. Sekarang kemarilah. Dengarkan omma-mu, Hanbin-ah. Dan ingat… kau harus menghormati anak perempuan seperti Hayi,”

“Kenapa? Saat di Jeju satu-satunya wanita yang harus saya hadapi adalah Lady Gong. Omma tidak pernah mengatakan apa pun tentang anak perempuan. Kami tinggal terisolasi. Semuanya yang ada di sini baru untuk saya.” Anak itu memberengut.

Jiyong mulai mendapatkan gambaran jelas mengenai kehidupan mereka di Jeju. “Mari kita sepakati begini… jika kau bsia memanah dengan baik, aku akan menceritakan sesuatu padamu tentang masa kecil kami.”

“Anda dan omma?” Jiyong ragu sejenak. Dia benci jika harus menceritakan tentang dirinya dulu yang kata orang arogan. Dia meringis sambil menggelengkan kepala. Rasanya dia sudah mendapatkan balasannya kini. Tapi melihat tatapan di mata putranya yang melebar penuh rasa penasaran… Raja mendesah pasrah.

“Ya. Aku akan menceritakan padamu tentang itu,” kata Raja, tapi tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya dan segera memberi sinyal kepada semua orang untuk diam.

“Shhh…” katanya kepada Hanbin yang langsung saja diam di tempat dan berdiri kaku saat Raja meletakkan telunjuk di bibirnya. “Ini dia.” Jiyong mengedipkan sebelah matanya kepada Pangeran sebelum memiringkan kepalanya ke salah satu arah.

“Pelan-pelan… jangan membuat suara,” katanya pada anak itu. Dia memandang sekeliling dan memberi sinyal kepada orang-orangnya untuk diam di tempat mereka masih-masing.

“Apa itu?” tanya Hanbin saat Raja menyingkap semak-semak.

“Seekor kelinci,”

“Oooh…”

“Siap-siap. Ambil sebatang anak panah dan arahkan seperti yang telah diajarkan kepadamu tadi.”

“Neh,” Hanbin sedikit menunduk, meraih sebatang anak panah kecil di punggungnya dan meletakkannya di busur. “Apakah benar begini?”

“Ya. Tarik nafas dalam-dalam. Jangan terburu-buru. Gunakan matamu. Pastikan pandanganmu tertuju pada sasaran. Tarik nafas, nak. Tarik nafas,”

Pangeran mengangguk. “Kelincinya tidak bergerak,” bisik Pangeran.

“Apa kau sudah membidik targetmu?”

“Saya rasa sudah,”

“Lepaskan panahnya!”

Hanbin melepaskan panah pertamanya, membidik kelinci, tapi anak panahnya mendarat di tanah di dekatnya, membuat hewan itu berlari kabur. Hanbin berdiri penuh sesal. “Tidak kena!”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Kau masih perlu banyak belajar. Suatu saat nanti kau pasti akan bisa membidik target tepat sasaran.”

Keduanya memutuskan untuk masuk semakin dalam ke hutan dan menjauh dari Pengawal Kerajaan. Hanbin terlihat antusias meskipun tadi sempat merasa kecewa, namun Raja sudah kehilangan harapan. Hari sudah sore dan mereka masih belum mendapatkan apa pun.

“Aigoo… sungguh mengecewakan. Sepertinya mereka menyadari kedatangan kita.”

“Apakah kita akan berhenti berburu?” wajah Hanbin langsung kecewa mendengar perkataan terakhir dari Raja.

“Jangan khawatir. Kita masih selalu bisa kembali ke mari. Masih ada besok, bukan?”

“Oh… baiklah kalau begitu.”

“Kita akan berlatih lagi untuk mengasah keterampilanmu begitu kembali ke kemah, oke?”

Hanbin mengangguk, semangatnya kembali hanya dengan satu janji dari sang Raja. Ayah dan anak itu memutuskan untuk kembali kepada Pengawal Kerajaan yang tengah menanti mereka, namun kemudian mereka mendengar sebuah suara yang membuat langkah Raja langsung berhenti. Dia menunduk dan menahan Hanbin yang langsung diam di tempat mendengar suara semakin mendekat ke arah mereka.

“Apa itu?” bisik anak itu.

“Shhh… dia datang ke arah sini…”

“Saya rasa yang ini lebih besar,” Hanbin menatap Raja dengan ekspresi cemas, suaranya lirih.

“Memang benar… ambil senjatamu, nak, pelan-pelan… dan ikuti gerakanku,” kata Jiyong dan dengan tangan gemetaran, Pangeran segera mengikuti perkataan ayahnya.

“I-i-tu apa?” tanya Hanbin, rasa takut perlahan-lahan menjalar dalam tubuhnya.

“Kurasa itu adalah babi liar,” kata Jiyong membua Pangeran semakin gemetaran dan itu tidak luput dari perhatian Jiyong. “Shhh… jangan takut. Ada aku di sini,”

Suara berisik yang dihasilkan oleh kaki hewan itu saat menginjak dedaunan kering di tanah menjadi semakin jelas setiap detiknya. Nafas Jiyong berat, sementara Hanbin menahan nafas dan memegangi panah dan busurnya kuat-kuat.

“Di sana! Di balik semak, nak! Arahkan ke sana!” kata Jiyong sambil menyiapkan panah dan busur miliknya. “Lepaskan! Sekarang!”

Dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, Hanbin melepaskan rentangan senar busur kecilnya dan bersamaan dengan itu, anak panahnya menembus pada sesuatu di semak lebat di seberang mereka. Suara erangan keras menggema di udara. Jiyong meringis. “Bagus sekali, Hanbin… bagus— Tidaaaak!!!”

Jiyong tidak sempat melanjutkan kalimatnya begitu semak lebat di hadapan mereka tersingkap tiba-tiba dan seekor babi hutan berwarna hitam menerjang ke arah mereka. Raja secara insting langsung mendorong putranya ke samping dan berguling menjauh dari hewan itu sambil menembakkan anak panahnya, namun gagal, yang justru semakin membuat hewan itu marah.

“Hanbin lari!”

Hanbin segera merangkak menjauh dan bersembunyi di balik semak-semak, menatap ayahnya bertarung dengan hewan hitam itu. Dengusan nafas dari babi hutan itu terdengar keras, sama seperti suara nafas Raja yang terengah-engah. Jiyong berguling menjauh saat akhirnya dia bisa menemukan kesempatan untuk menusuk bagian matanya dan begitu jaraknya sudah aman, Jiyong langsung menarik anak panah lain dan membidikkannya ke si binatang liar. Babi itu kembali akan menerjang Jiyong, namun dengan penuh keakuratan dan presisi, dia menembakkan anak panah dengan gerakan mulus dan ujung tajam panah menembus dada babi hutan itu, membuat si hewan jatuh berdebam – mati.

“JEONHA! JEONHA!” Harang tiba-tiba saja keluar dari semak bersamaan dengan para Pengawal Kerajaan. “JEONHA!”

“Aku di sini! Kami baik-baik saja!” seru Jiyong perlahan duduk dan mencoba mengumpulkan kekuatannya.

“Apa yang terjadi? Ya Tuhan, kami sangat cemas. Kami mendengar suara auman keras dan suara Anda, itulah kenapa kami segera ke mari— Oh Tuhan!” Seunghyun terkesiap begitu melihat hewan yang sudah tak bernyawa di atas tanah.

“Hewan itu menyerang kami,” Jiyong berdiri dan berlari menuju ke Hanbin. “Hanbin! Hanbin, apa kau baik-baik saja?” tanyanya pada Hanbin, berlutut dan menangkup wajah putranya. Anak itu hanya mengangguk lemah dan yang bisa Raja lakukan adalah memeluk putranya erat.

“Kau pasti sangat takut. Tuhan… ayo kita kembali ke rumah Master Wu. Kemari. Aku akan menggendongmu.” Kata Jiyong tapi anak itu menggelengkan kepalanya.

“Appa Mama… Anda berdarah.

**

“KAU TIDAK MENGATAKAN KEPADA KAMI JIKA ADA BINATANG BUAS BERKELIARAN DI SANA!!!” Seunghyun menggebrak meja. “HARANG, BAGAIMANA BISA KAU TEGA MEMBAHAYAKAN NYAWA RAJA DAN PENERUSNYA?!”

“Berburu tidak pernah menjadi rencana, tapi kau memaksanya. Eunuch Seunghwan mengusulkan tentang memanah, tapi tidak berburu. Aisht, kami belum bisa percaya padamu sepenuhnya,” tutur Seungri pada Harang sambil berjalan mondar-mandir.

“Bagaimana jika… bagaimana jika mereka terluka? Aisht! Kenapa juga kita mau mendengarkannya?”

“Saya melihat semuanya. Tidak akan ada yang terjadi kepada mereka,” kata Harang dengan suara lirih sambil meremas-remas jemarinya. “Maafkan saya,”

“Jangan marahi anak ini. Dia tahu apa yang dia lakukan,” Master Wu tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan langsung menempatkan diri di sisi Harang. “Percayalah pada insting Harang sama seperti kalian percaya pada instingku,”

“Tapi Master, apakah kau tidak mendengar apa yang terjadi? Raja terluka di lengannya! Bagaimana kami akan mejelaskan hal ini kepada Ratu?” tanya Yongbae.

“Aigoo… Dara akan mengerti. Dia tinggal di sini selama tujuh tahun. Dia sangat mengenal tempat ini,”

“Well… kalian tahu, kan? Bencana sudah berakhir, saya pikir kita memperoleh hasil positif dari kejadian tadi,” kata Daesung membuat semua orang memperhatikannya.

“Saya rasa… anak itu sudah mulai ‘melihat’ ayahnya,”

**

“Sungainya dekat. Mengalir dari air terjun di puncak gunung sampai ke kaki gunung. Itu akan mengurangi lelah di tubuh Anda. Cobalah,” kata Master Wu.

“Hanbin-ah, apa kau mau pergi denganku?” tanya Jiyong dengan senyuman penuh harap. Lukanya sudah diobati oleh Master Wu, namun air yang ada di rumah Master Wu tidak cukup untuk mereka semua.

“Apakah luka Anda masih sakit?” tanya anak itu penasaran dan Jiyong melirik kepada rekan-rekannya dan Master Wu sebelum kembali menatap putranya – tidak bisa percaya dengan nada khawatir yang didengarnya.

“Aku… aku tidak apa-apa. Aku yakin kau pasti rindu berenang. Omma-mu bilang padaku kau sangat pandai berenang.”

Hanbin mengusap hidungnya penuh bangga sambil meringis. “Jeju dikelilingi oleh air. Tidak mungkin penduduk lokal Jeju tidak tahu caranya berenang,”

“Kalau begitu, mari kita pergi? Apakah Anda yakin Anda bik-baik saja, Jeonha?” tanya Harang.

“Ya. Aku sudah merasa lebih baik,”

“Pergilah sekarang. Anda berdua tidak akan menyesal. Dara juga sering pergi ke sana.

“Chincha?” tanya Jiyong dan Hanbin serentak.

Kakek tua itu mengangguk. “Tanya saja pada Harang. Dia selalu mengikuti Dara setiap kali pergi mandi,”

“Master!” wajah Harang memerah tapi begitu dia merasakan tatapan tajam dari sang Raja. Dia segera berlari kabur keluar dari rumah sebelum dia mati.

“Harang! Dasar keparat! Jangan sampai aku menangkapmu!”

“Maafkan hamba, Jeonha! Saya hanya ingin melindungi Yang Mulia Ratu karena dulu beliau selalu berusaha untuk bunuh diri!”

“Haraaaang!!!”

**

Berjongkok untuk menyembunyikan diri di balik batu besar di tepi sungai, Yongbae, Seunghyun, Daesung, dan Seungri memutuskan untuk mengamati ayah dan anak yang sedang menikmati air dingin segar di sungai. Para Pengawal Kerajaan mengelilingi tempat itu dan terus menjaga Raja dan penerusnya – kali ini memastikan agar tidak ada satu pun hal yang terjadi.

“Hyung… apa kalian yakin bisa mempercayai Daesung lagi kali ini?” tanya Seungri.

“Yah, kenapa Anda meragukan rencana saya? Bahkan Master Wu ikut berpartisipasi dan mendorong mereka untuk berenang. Kita semua tahu Pangeran bisa berenang dengan baik karena dia dilahirkan di Jeju. Kita harus memberikan pelajaran kepada Yang Mulia Raja agar mempercayai Pangeran. Dengan begitu, mereka berdua akan bisa saling menerima kekuatan dan kelemahan masing-masing.” Kata Daesung.

Yongbae mrndelik kepada Daesung. “Pscht… jika sesuatu terjadi kepada mereka aku bersumpah—,”

“Aisht! Bisakah kalian berhenti? Kita harus tenang, sungguh. Cukup amati dan jika ada perkembangan baru dalam hubungan mereka. Dasar idiot, apa kalian mengerti?” tanya Seunghyun dan yang lain hanya mengangguk pasrah.

“Uhm, jika aku boleh bertanya hyung… kenapa kita bersembunyi?” tanya Seungri. Yang lainnya saling tatap begitu sadar, mereka semua berdeham dan langsung berdiri.

“Yongbae yang memulainya,”

“Yah! Kenapa aku? Seunghyun hyung yang memulainya!”

“Aisht! Hentikan! Kalian semua!” Seunghyun memarahi ketiganya dan berjalan pergi dari sana begitu saja. Tiga orang lainnya mengekor dan duduk di tepi sungai mengamati ayah dan anak itu menikmati air segar.

“Tidak heran, dia menyukai tempat ini,”

“Omma?”

“Neh… ini seperti sebuah surge kecil.” Kata Raja sambil melihat sekelilingnya. Dia mendongah dan melihat bulan bersinar cerah di atas mereka.

“Hanbin-ah…” panggil Jiyong pada putranya, tapi tidak ada jawaban. Dia menoleh ke samping dan menyadari putranya sudah melompat terjun ke air. “Hanbin! Jangan terlalu jauh!”

“Jangan cemas, saya tahu caranya berenang!” anak itu tertawa, tapi Jiyong tetap saja tidak bisa tennag. Apakah ini yang disebut naluri kebapakan? Selalu mencemaskan anakny?

“Hanbin, dengankan aku sekali ini saja,”

“Saya baik-baik saja!” Hanbin melambaikan tangannya padanya. Jelas sekali anak nakal itu tahu caranya berenang, pikir Jiyong. Dia hanya memandang Pangeran kecilnya menikmati berenang dan menyelam ke dalam air di bawah cahaya bulan dan kembali ke permukaan dengan cengiran lebar di wahanya. Hanbin terus melakukan hal itu sampai Jiyong akhirnya menyadari bahwa putranya sudah terlalu lama berada di dalam air.

“Hanbin?” Jiyong berdiri dari tempatnya dan berlari menuju ke sisi sungai yang lebih dalam. “Hanbin! Nak! Di mana kau?! Hanbin!” Jiyong mulai merasa panik, pikirannya ke mana-mana. Kenapa anak itu belum muncul lagi di permukaan?

Para Penjaga Istana mulai masuk ke dalam air mengikuti Raja yang mencari putranya sendiri. bahkan Harang dan Seungri mulai berenang ke tempat di mana mereka terakhir melihat Hanbin.

“Sudah kubilang padamu! Ini bukan ide yang bagus!” Seungri mendelik pada Harang.

“Ini tidak mungkin, hyung! Saya melihatnya… saya—,” Harang tidak sempat menyelesaikan perkataannya begitu mereka melihat sosok anak-anak di sisi sungai yang lain, melambaikan tangan dengan semangat kepada mereka.

“ANNYEONG!!!”

“OMONA, PANGERAN HANBIN! APA YANG ANDA LAKUKAN DI SANA?!” seru Harang dan segera berenang ke sisi lain sungai. Dia meraih anak itu dan menggendongnya di punggung lalu kembali ke sisi yang satunya di mana yang lain tengah menunggu. Penjaga Istana mulai menyeret Raja mereka yang hampir tenggelam ke tepi sungai dan menepuk punggungnya – dirinya sudah mulai tersedak, tapi Raja mengaibaikan keadaannya. Dengan lutut gemetaran dia berdiri dan berlari menuju ke putranya, memeluknya erat seolah tidak akan ada lagi hari esok.

“Dasar anak nakal! Kau membuatku cemas! Beraninya kau!” dia memukul punggung Hanbin ringan sambil memeluk anak itu erat. “Apa yang kau pikirkan? Huh?” Jiyong terus memeluk putranya dan mamandang wajah Hanbin menanti jawaban.

Hanbin hanya balas menatap ayahnya dengan alis berkerut. Dia memiringkan kepalanya dan mencondongkan tubuh. “Apakah Anda menangis?”

“Bwoh?”

“Anda menangis?”

“Y-y-ah… hanya k-k-arena kupikir kau tenggelem—! Aisht! Beraninya kau membuatku sangat cemas, Hanbin! Apa kau selalu membuat ibumu cemas sepanjang waktu? Tuhan…”

“Tidak… saya minta maaf Jeonha. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya ingin membuat Anda terkejut,”

“Aisht!” Jiyong mengacak rambut basah Hanbin dan mencubit pipinya. “Kau sama seperti ibumu.” Katanya tapi anak itu menggelengkan kepalanya.

“Itu mengerikan. Omma selalu bilang saya mirip dengan ayah saya,”

**

“Sudah saya bilang tidak akan ada yang terjadi kepada mereka,” kata Harang bangga.

“Aisht, jika aku tahu rencana ini akan memberi kita serangan jantung, aku tdiak akan langsung menolaknya begitu mendengarnya darimu dan Daesung! Aisht!” kata Seungri, meletakkan sumpitnya sedikit terlalu keras.

“Sopan santun, nak. Sopan santun,” Master Wu mengingatkan kemudian mengunyah makanannya.

“Maafkan aku, Master, tapi apa kau punya obat untuk meringankan sakit dada? Aku bersumpah aku hampir terkena serangan jantung! Ini lebih buruk daripada Chaerin mengancamku untuk bercerai!”

“Dia sudah mengancammu— Oh Tuhan!” Yongbae terkesiap dan menutup mulutnya.

“Aww diamlah, hyung.”

“Aku bisa merasakan hangatnya udara mala mini. Raja dan penerusnya sudah mulai dekat. Sebentar lagi dia akan mengerti kenapa anak itu bersikap demikian. Kalian tidak akan pernah bertemu dengan seorang anak berusia empat tahun yang sama sepertinya,” kata Master Wu.

“Aku pun menyadari hal itu, Master.” Kata Seunghyun. “Taehyun jauh lebih manja jika dibandingkan dengan Hanbin.”

“Oh ya, dia selalu saja bertengkar dengan Hayi-ku,” sela Seungri kembali merasa kesal, sampai menyemburkan makanan keluar dari mulutnya.

“Aisht, hentikan ini! Kalian semua seperti kembali seperti kanak-kanak. Anda Tuan dan Anda juga Profesor Choi. Aisht!” Daesung memarahi mereka.

“Pscht. Seungri hyung hanya terlalu protektif kepada putrinya.” Harang tertawa.

“Tunggu saja sampai kau sendiri punya anak perempuan, kau pun pasti akan merasakan hal yang sama,” balas Seungri.

“Cukup,” Yongbae memperingatkan. “Kita harus makan. Besok kita akan melakukan pulang ke Hanyang dan itu adalah perjalanan yang panjang. Langkah terakhir tergantung kepada Hayi dan Taehyun… mari kita lihat apakah mereka yang akan mereka lakukan untuk membuat Hanbin menceritakan tentang ayahnya,”

“Sekarang kalian semua mengerti tentang hal terpenting dari rencana ini,” Daesung meringis.

**

“Apa kau makan dengan enak?” tanya Jiyong pada Hanbin yang sudah terbaring di kasurnya.

“Neh. Masakan Master Wu sangat enak.”

“Bagus kalau begitu. Masakan Master Wu memang enak, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan masakan omma-mu. Bukankah kau setuju?” tanya Jiyong, meski dia belum banyak merasakan masakan Dara. Dia hanya tahu Hanbin sangat mencintai omma-nya, sehingga sebaiknya Jiyong yang memuji Dara terlebih dahulu.

“Apa? Anda pasti bercanda,” dengus Hanbin dan tertawa, membuat Jiyong melongo. “Omma… mari kita bilang… kadang dia memang bagus dalam beberapa hal. Kadang juga tidak.”

“Chincha?”

“Neh. Tapi tetap saja omma yang terbaik bagiku. Saat kami tinggal di Jeju… well…”

“Hanbin…”

“Apa itu pengasingan? Saya tidak banyak bertemu dengan orang-orang di sana karena mereka mengacuhkan kami. Kami hidup di gunung, dekat dengan lait. Saat kami datang ke kota… saya mendengar orang-orang bilang omma sedang dalam pengasingan. Apa maksudnya itu? Saya berpikir omma punya penyakit menular atau semacamnya. Sebagian besar orang mengacuhkannya…”

Jiyong hanya bisa memejamkan matanya dan menelan ludah berat. Apakah dia akan mendengar semua yang Dara sembunyikan darinya? “Aku tidak tahu…”

“Oh… Anda juga tidak tahu apa artinya?”

“Tidak… maksudku… seorang yang diasingkan adalah… well… seseorang yang… dipaksa untuk hidup di luar tempat yang biasa dia tinggali… sebagai hukuman…”

“Kenapa? Apakah omma adalah penjahat?”

“Tidak… tidak… tentu saja tidak… nyatanya dia adalah seorang pahlawan,”

“Saya tidak mengerti.” Anak itu menerawang, pikiran mudanya mencoba mencerna semua kenyataan yang diketahuinya. “Samchon bilang omma harus berada jauh dari Anda agar Anda bisa menduduki tahta. Samchon bilang saya harus menjadi pria yang berani suatu hari nanti dan memastikan omma tidak akan pernah menangis lagi,”

“Omma-mu sering menangis?”

“Neh. Omma berkata kepada saya untuk bersabar. Katanya omma akan membawa saya ke tempat seharusnya saya berada suatu hari nanti. Saat kami makan, omma akan melihat saya dengan tatapan sedih dan akan meminta maaf karena omma hanya bisa menyiapkan bubur hambar karena katanya saya ini dikirimkan oleh Dewa dan tidak seharusnya saya hidup seperti itu. Setiap malam… omma akan menangis setiap kali menidurkan saya. Katanya saya seharusnya tidur di tempat yang lebih nyaman dan bukan di kasur jerami dan selimut tua.” Kata Hanbin sama sekali tidak menyadari Raja yang menunduk dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Tapi apa Anda tahu? Saya memang bosan makan bubur dan punggung saya pegal karena tidur di kasur jerami, tapi saya merindukan saat-saat itu. Omma adalah Ratu saya dan saya adalah Pangeran-nya dan kami hidup dengan tenang. Saya tidak masalah harus makan bubur setiap hari, asalkan omma yang memasaknya. Di dalam istana, pelayan yang melakukan itu untuk kita, bukan? Saat saya tidur sedirian di kamar saya di Hanyang, saya merindukan kamar lama saya di Jeju. Memang kecil, tapi sangat nyaman. Saya tidak peduli dengan kasur jerami. Saat omma ada di sebelah saya dan memeluk saya… itu membuat saya mengantu. Apakah Anda juga merasa demikian—,” Hanbin menoleh untuk melihat ayahnya dan menemukan pria itu sudah gemetaran dan menangis.

“Jeonha…”

“Maafkan aku,” Jiyong gemetaran hebat tak terkendali. “Maafkan aku, putraku. Ayahmu ini tidak bisa melindungimu dan ibumu,”

“Inilah kenapa saya membenci Anda.” Hanbin bangun dan duduk menatap ayahnya. “Andalah yang menyebabkan omma menangis. Tapi saat saya melihat Anda… saya ingin memeluk Anda dan bicara pada Anda. Tapi saya takut. Saya takut Anda akan melukai saya seperti Anda telah melukai omma. Banyak hal yang bisa membuat saya membenci Anda. Tapi saya tidak bisa menemukan kebencian itu dalam diri saya. Itulah kenapa saya membenci Anda. Apakah itu masuk akal?” tanya Hanbin menasaran menatap sosok Raja yang menangis keras di hadapan putranya sendiri.

“Itu masuk akal… itu sangat masuk akal. Maafkan aku. Maafkan aku, nak. Aku dulu sangat tidak berdaya,”

“Saya merasa bersalah saat di dulu di Jeju, omma selalu saja bersedih. dan saat kami tiba di Hanyang omma selalu saja gembira. Saya pikir omma melukapan saya ketika dia bertemu kembali dengan Anda. Tapi Anda adalah ayah saya, kan?”

“Benar, benar…”

“Apakah Anda juga seperti saya saat Anda masih kecil?”

“Bwoh?” Jiyong mengangkat pandangan dan mengapus air matanya.

“Karena kata omma, saya sangat mirip dengan Anda dalam banyak hal,”

“Oh, Hanbin! Kau tidak mengerti betapa besar aku melihat diriku sendiri dalam dirimu. Aku berhutang banyak padamu dan ibumu. Tapi, kumohon jangan membenciku. Mahkota yang kukenakan sudah sangat berat. Dan sebentar lagi, kau akan mengerti saat tiba saatnya bagimu untuk memakainya,”

“Saya juga minta maaf Jeonha… jika saya akan jadi seperti Anda saat saya tumbuh besar nanti… saya tidak ingin putra saya membuat saya menangis,” anak itu meringis membuat Jiyong semakin ternganga tak percaya.

“Aisht, Hanbin-ku. Dasar anak nakal… kemarilah!”

“Anda terlihat menggelikan, Jeonha.”

“Appa. Panggil aku appa…”

“Anda terlihat menggelikan, appa,”

“Aisht! Jangan sebut-sebut bagian menggelikan,”

“Tapi Anda memang menggelikan! Anda terlihat sangat lucu. Seorang Raja tidak boleh menangis!”

“Yah, Raja juga seorang manusia!”

“Tetap saja…”

“Apa aku sudah bilang padamu… aku menyayangimu dan kau serta ibumu memiliki arti lebih dari seisi dunia bagiku?”

“Ani.”

“Kalau begitu aku mengatakannya padamu sekarang,”

“Anda menyayangi saya?”

“Ya,”

“Dan saya serta omma memiliki arti lebih dari seisi dunia bagi Anda?”

“Ya,”

“Dan kita akan tidur sekamar mulai dari sekarang?  Kita bertiga?”

“Ya,— tunggu tidak. Apa???”

**

Perjalanan kembali ke Istana sangat lama dan melelahkan, tapi Raja dan Pangeran tidak hentinya berbincang. Dengan senyum penuh kemenangan, kelima rekan terpercaya Raja turun dari kuda tunggangan masing-masing, bermaksud mengantarkan tuan mereka ke kamar masing-masing agar beristirahat, tapi keduanya memprotes, mengatakan mereka berdua ingin melihat Ratu.

“Aku ingin bertemu dengan Ratu-ku.” Kata Jiyong.

“Aku… aku ingin bertemu dengan Omma Mama…” Hanbin mengikuti ayahnya dan keduanya saling melemparkan seringaian satu sama lain.

“Tapi… Jeonha… Yang Mulia Pangeran—,”

“Apa yang Raj ainginkan, selalu Raja dapatkan!” kata Jiyong.

“Begitu juga dengan penerusnya!” Hanbin segera mengikuti.

Para Dayang Isana yangan tertawa melihat tingkah ayah dan anak itu dan tanpa banyak berdebat, mereka segera mengantarkan mereka ke gazebo tempat Dara berada bersama dengan yang lain. mereka masih jauh, tapi Jiyong bisa mendengarkan suara tawa mereka. Dengan penuh harap, segera dia menggendong Hanbin dan berlari ke tempat di mana mereka akan menemukan para wanita itu, tapi apa yang dilihatnya membuat langkahnya terhenti.

“Halma Mama?”

“Siapa dia, Appa Mama?”

Jiyong tersenyum sejenak sebelum menurunkan Hanbin. “Mendekatlah padanya. Dia akan senang sekali bertemu denganmu. Dia adalah nenek buyutmu,”

**

“Pastikan jaga Pangeran! Aisht!” perintah Ibu Suri saat anak-anak mulai berlarian. Dia tersenyum begitu melihat mereka bermain dengan riang dan setelah menarik nafas dalam, dia menatap Jiyong.

“Ratu meminta agar para Dayang Istana juga harus belajar tentang pelajaran Neo-Konfusius, itulah sebabnya seperti yang kau lihat pengiring kita hanya ada setengah dari biasanya. Mereka belajar secara bergelombang. Sudah dimulai pagi ini. Lady Gong yang memimpin mereka,” beritahu wanita tua itu kepada Jiyong yang semakin terpesona kepada istrinya.

“Hanya dalam waktu beberapa hari, dia sudah berhasil melakukan banyak hal. Bukankah saudara ipar saya sangat mengagumkan, Jeonha?” puji Bom bangga pada Jiyong. “Dia bahkan berhasil menyeret Halma Mama keluar dari goanya,”

“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” Dara dengan malu-malu menundukkan kepalanya.

“Kerja keras Anda sudah terbayarkan. Anda memang layak menjadi Ratu di negeri ini.” tambah Chaerin.

“Aku sangat bangga bisa menjadi seorang suami yang bangga pada istri yang menakjubkan sepertinya,” komentar Jiyong membuat yang lain tertawa, sementara Dara yang mulai merasa tak nyaman berdiri dan membungkukkan badan kepada mereka.

“Saya perlu bicara sebentar kepada putra saya,”

“Oh silakan, lakukan saja. Aku tahu kau sangat merindukannya,” kata Ibu Suri.

Dara kembali membungkukkan badan dan keluar dari gazebo, berjalan berjingkat mendekati Hanbin yang tengah duduk bersama Hayi dan Taehyun di jembatan yang membelah kolam. Dia sudah dekat dengan ketiga anak itu dan tidak bisa mencegah dirinya untuk ikut mendengarkan pembicaraan mereka dan tidak jauh dari sana, dia pun bertanya-tanya kenapa kelima rekan Raja terlihat seperti orang gila bersembunyi di balik pohon seolah sedang memata-matai mereka. Dia mengenyahkan pikirannya dan lanjut mendengarkan percakapan anak-anak itu.

“Waaaah! Daebak! Ayahmu yang menulis buku itu?” tanya Taehyun pada Hayi.

“Neh! Dia yang menulisnya! Dia adalah ayah yang mengagumkan. Bagaimana denganmu Taehyun orabeoni?”

“Well, ayahku adalah ahli pedang yang hebat dan dia membantu Raja dalam mengambil keputusan.” Kata Taehyun. “Aku sangat ingin menjadi sepertinya suatu hari nanti,”

“Benarkah? Dia pasti berteman akrab dengan Raja. Jadi kau pun perlu berteman dengan Yang Mulia Pangeran,” Hayi tertawa, pertengkaran mereka telah terlupakan sama sekali.

“Hei, bagaimana dengan Anda, Yang Mulia? Katakan pada kami tentang ayah Anda.” Pinta Hayi kepada Hanbin, tapi Taehyun menyelanya.

“Aisht, dia adalah pamanku tapi dia tetap saja membuatku takut. Dia sangat menyeramkan—,”

“Appa… Appa Mama sama sekali tidak menyeramkan.” Kata Hanbin. “Sebenarnya… dia sangat lucu,”

“Benarkah?” tanya Hayi dan Taehyun serempak.

“Dia memang sedikit pemarah tapi dia sangat penyabar. Dia mengijinkanku untuk mendaki gunung. Dia mengajari bagaimana caranya memegang busur dan anak panah dengan benar karena kubilang padanya aku ingin melindungi omma. Dia menangis saat dia pikir aku tenggelam di sungai dan dia sendiri pun hampir tenggelam. Dia menyuapiku dan menidurkanku dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku. Dia adalah Raja tapi dia mau meminta maaf kepadaku. Bukankah ayahku adalah orang yang hebat?” Hanbin tersenyum kepada teman-teman bermainnya dan di belakangnya, Dara mengusap air mata suka cinta yang mengalir turun di kedua pipinya.

“Anda berhasil, Jiyong, Anda berhasil,” katanya pada dirinya sendiri.

**

“Jeonha…”

“Masuklah,”

“Dara segera masuk ke dalam kamar Raja dan membungkukkan badan kepadanya, dan Dara langsung memutar bola matanya saat merasakan pria itu segera menariknya ke pangkuan.

“Tidak bisa menunggu?”

“Ya. Selain itu, kau tahu betapa bencinya aku saat kau memberikan hormat seperti itu padaku,”

“Itu adalah aturan,”

“Aku tidak peduli,”

“Itu bentuk penghormatan,”

“Kita saling menghormati satu sama lain. Sudah kubilang padamu… setelah pintu tertutup hanya ada kau dan aku… dan malam yang dingin yang akan kita ubah menjadi… panas,”

“Jeonha!” Dara memukul dada Jiyong, membuat pria itu tertawa.

“Kita sudah menikah dan kau masih saja sama mengagumkannya seperti saat pertama kali aku melihatmu,”

“Anda sangat pandai merayu, Jeonha,”

“Kau tidak pandai merayu, Ratuku, tapi aku tahu mulutmu ini terasa manis,” kata Raja dan dengan satu gerakan mulus, dia sudah memegangi bagian kepala Ratu, memiringkannya agar bertemu dengan mulutnya yang sudah lapar. “Aku merindukanmu,”

“Jeonha,”

“Aku sangat merindukanmu, Dara,” katanya menelan semua lenguhan istrinya, lidah mereka saling berdansa dalam irama yang lambat dan manis. Dara mulai mengangkat kedua lengannya dan mengalungkannya di leher Raja, tapi pria itu menghentikan ciuman dalam mereka dan menggantinya dengan ciuman-ciuman ringan di bibirnya.

“Aku mencintaimu,” kata Jiyong, meringis lebar.

“Saya juga mencintai Anda, Anda tahu hal itu,”

“Ya.” Jiyong tersenyum. “Apa yang telah kulakukan sampai aku mendapatkan istri yang sangat sempurna sepertimu?”

“Saya tidak sempurna,”

“Kau sempurna. Di mataku dan di mata Hanbin, kau sempurna. Kami tidak mungkin meminta lebih.”

Dara tersenyum dan menyentuh pipi Raja saat tiba saja dirinya diangkat begitu saja.

“Aaah! Jeonha! Apa yang Anda lakukan?”

“Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba mendapatkan sebuah ide untuk kejutan. Ratuku telah bekerja keras. Dia butuh istirahat,” kata Jiyong menendang pintu hingga terbuka dan bertemu dengan Dayang Ratu yang memasang ekspresi kaget.

“Errr… maafkan kami,” kata Dara dan para Dayang Istana hanya memalingkan pandangan dari mereka.

“Kemana Anda akan membawa saya?”

“Ke surge kita?”

“Apa? Jeonha! Saya yang berencana memberikan kejutan untuk Anda, bukan sebaliknya!”

“Aisht, diamlah. Kau tidak ingin membangunkannya, kan?”

Dara hanya bisa menatap pria yang sudah dia percayakan akan hidupnya. Dirinya telah banyak menderita, berulang kali dia terluka dan melihat Jiyong tersenyum lebar sekarang ini, dia sanggup melupakan semua kesulitan yang pernah dialaminya dan berpikir keputusannya dulu sangatlah tepat. Tidak ada penyesalan. Dia akan selalu bersyukur karena telah menyerahkan dirinya secara sepenuhnya kepada pria ini.

“Kita di sini,” Jiyong meringis dan merapikan diri sebelum masuk ke dalam kamar, sementara Dara hanya bisa berdiri diam, para Dayang Istana meringis dengan kepala tertunduk.

“Apa yang kita lakukan—,”

“Aigoo, Hanbin-ah,” Dara mengerutkan alisnya saat mendengar Jiyong meninggikan suaranya di dalam kamar. Jantungnya mulai berdetak keras. Apa yang telah Hanbin lakukan kali ini hingga membuat Raja marah?

“Hanbin!” Dara langsung melesat masuk dan menemukan Hanbin tengah menata kasur tempat tidur mereka – walaupun itu semua kacau. Terdapat tiga bantal di atas kasur yang berantakan, dan juga sebuah selimut besar. dia menoleh ke arah lemari tempat selimut disimpan dan ternganga melihatnya berantakan.

“Apa yang kau lakukan—,”

“Appa Mama bilang kita akan tidur bersama, omma. Kita bertiga. Saya sedang merapikan tempat kita tidur. Apakah tidak masalah bagi Anda?”

“Oh, Hanbin! Hanbin-ku!” Dara berlutut dan memeluk putranya. “Kau sangat manis sekali,”

“Eherrrm,” Jiyong berdeham, mendapatkan perhatian dari keduanya.

“Oh… bagaimana mungkin saya bisa lupa pada si pahit-manis,” Dara tertawa membuat Raja memberengut.

“Yah… Dara-ah… apa maksudnya dengan pahit manis?”

“Saya hanya bercanda, Jeonha. Apa Anda tidak ingin bergabung dengan kami?”

**

“Apa?” Dara bangkit dari tempat tidur dan mendelik tajam kepada Jiyong yang berada di sisi lain, Hanbin berada di antara mereka. “Seekor babi liar?”

“Neh! Anda harus melihat bagaimana Appa Mama menembakkan anah panahnya ke hewan itu,” Hanbin memperagakan gerakan dengan masih berbaring di kasur. “Itu sangat mengagumkan! Beliau mengenai babi itu!”

“Dan kau bilang kau hampir tenggelam—,”

“Aniyo. Bukan saya. Beliau yang tenggelam, HAHAHA!” Hanbin menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Jiyong yang perlahan menggulung tubuhnya, meringkuk.

Dara ingin marah pada Jiyong karena sudah menuruti keinginan Hanbin, tapi bagaimana bisa jika keduanya menikmati pengalaman bersama mereka.

“Jadi Raja hampri saja tenggelam—,”

“Yah… bukankah sudah cukup memalukan karena aku menangis di depan Hanbin?” balas Raja. “Itu adalah pengalaman yang paling memalukan,”

“Tapi aneh sekali,” kata Hanbin tiba-tiba. “Saat omma marah kepada saya, Lady Gong dan Seunghwan bicara kepada saya.” Aku Hanbin.

“Oh… kami meminta mereka untuk melihatmu,” kata Dara.

“Jadi apanya yang aneh, Hanbin?” Jiyong tidak sabar, merasakan ada sesuatu dengan perkataan putranya.

“Euncuh bertanya kepada saya apakah saya tertarik dengan memanah dan saya jawab iya. Lalu itu terjadi di sana kemarin. Eunuch juga bertanya apakah saya bisa berenang… lalu itu juga terjadi lagi kemarin.”

Mulut Jiyong ternganga lebar. Apakah itu hanya sebuah kebetulan? “Orang tua itu punya banyak hal yang harus dijelaskan padaku besok,” kata Jiyong, tapi Hanbin menarik-narik jubah sutranya dan menatapnya.

“Tapi apa Anda tahu? Ada satu hal yang saya sesalkan sudah saya katakan padanya dan saya harap itu tidak akan menjadi kenyataan,” kata Hanbin, berganti menatap ibunya kini.

“Apa itu?”

“Saya bilang padanya saya ingin kembali ke Jeju bersama omma.” Kata Hanbin. “Tapi sekarang, saya tidak ingin tinggal di sana lagi. Makan makanan enak tidak lagi sepi, tidak saat kita makan bersama. Dan tidur di kamar yang besar sebesar milik saya, tidak terasa sedih lagi, tidak saat saya memiliki dua pasang lengan Anda berdua memeluk saya sampai tidur,” Hanbin tersenyum kepada orang tuanya yang masih ternganga mendengar perkataannya.

“AIsht, kau benar-benar bocah yang pandai,” Jiyong mengacak rambut putranya. “Kau membuatku senang mendengarnya,”

“Aisht, kalian berdua!” Dara menghapus air matanya dna memeluk Raja dan Pangeran. “Kalian berdua sangat pandai bicara dan kalian selalu saja membuatku tak bisa berkata-kata,”

“Benarkah?” tanya JIyong dan Hanbin bersamaan dan Dara mengangguk mengiyakan.

“Aisht, kau benar-benar putraku. Kau mendapatkan hal itu dariku,”

“Omma, saya lebih baik daripada Appa Mama, kan?”

“Hanbin!”

“Appa Mama tidak bisa berenang, omma!”

“Yah! Aisht,”

“Aku tahu.”

“Aisht, kenapa kau membelanya lagi, Dara-ah?”

“Saya tidak membelanya! Saya hanya bilang saya tahu kalau Anda tidak bisa berenang.”

“Aku tidak ingin mendengarkan hal ini,”

“Appa Mama tidak bisa berenang,”

“Oh, diamlah, Hanbin. Kau bahkan tidak bisa memanah kelinci!”

“Tapi saya memanah kaki kaki babi hutan!”

“Aku memanah jantungnya!”

“Tapi Anda juga kena pukul hewan itu, haha!”

“Kau!”

“AIsht! Diam kalian berdua! Atau aku akan pergi dari kamar ini?!”

“Kami akan diam!”

“Mianhe, omma…”

“Aku mencintaimu, Dara…”

“Oh Tuhan, berilah aku ketenangan!”

Malam semakin gelap, tapi di dalam kamar Pangeran, masih terang dan penuh kehidupan. Suara tawa dan pertengkaran Keluarga Kerajaan menggema di seluruh Istana, mengirimkan kehangatan dan keceriaan bagi semua yang mendengarnya – jiwa dan raga.

Jelas sudah, hal tragis dan malam-malam penuh ketakutan telah berakhir. Raja telah mendapatkan Ratunya kembali. Dan semuanya pun bersuka-cita, seseorang berhasil membawa Istana yang suram menjadi kembali hidup…

Hanbin. Calon Putra Mahkota. Penerus tahta Raja.

The End

 

<< Previous

Advertisements

49 thoughts on “The King’s Assassin [Special Chapter] : The King’s Heir Part 3

  1. Akhirnya happy ending,nggak kebayangbgimana pusingnya jadi dara harus ngurusin 2 orang yg super keras kepala hahaha
    Masih beoum baca chap yg di pw nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s