BE MINE [Chap. 5]

25335697-176-k89752

Story by : mbie07

Link : Meet her on Wattpat & Aff

Indo Trans : DANG

Karakter:

Kwon Jiyong, Sandara Park, Lee Chaerin, Lee Sung Ri, Choi Seung Hyun, Park Bom

—ooo—

Here you go, Chapter 5!

Dara tidak bisa menghentikan dirinya untuk tertawa saat ia ingat apa yang terjadi di tepi sungai sebelum matahari tenggelam. Ibunya menatapnya bingung, bingung dengan perilaku aneh putrinya. “Apakah terjadi sesuatu yang baik, sayang?” Tanyanya sambil meletakkan semangkuk nasi di atas meja. Dara menutup mulutnya sambil menatap malu-malu ibunya. “Yaah, acara amalnya sangat menyenangkan.” Dia tersenyum tapi ibunya dapat melihat bahwa pasti ada sesuatu yang berbeda pada senyum putrinya hari ini. “Oh ~ kay … Hanya ingat Ibu selalu di sini siap untuk mendengarkan.” Katanya sambil mulai makan. Dara tersipu malu saat meraih nasinya.

Dia tidak bisa untuk tidak memikirkan bagaimana bersyukurnya dia hari ini. Dia mampu untuk membantu dan membuat seseorang bahagia. Dia bertemu Yoochun dan menghabiskan waktu dengannya dan Jiyong. Kemudian ia tahu bahwa Jiyong tinggal hanya satu jalan jauh dari dia. Ia menggigit bibirnya. Lalu ia belajar bagaimana ciuman dapat menjadi hal yang paling manis di dunia. Ia merasa dirinya sedang jungkir balik dan bahkan ia bisa mendengar degub jantungnya yang sangat keras. Dia mendesah, menarik perhatian ibunya. “Apa ada yang salah, sayang?” tanya Ibunya cemas. Dia menggeleng dan mulai makan lagi mengatakan Ibunya tidak perlu khawatir dan dia merasa baik.

Semua orang tersenyum dan menyapa Dara saat dia berjalan ke kelas. Dan dengan senyum di bibirnya dia akan menyambut mereka kembali bahkan orang-orang yang dia tidak tahu. Teman-temannya cepat mengerumuni dirinya saat melihat dirinya menempatkan tasnya di atas meja dan kemudian duduk. “Selamat pagi.” Sambut Dara dengan senyum di wajah dan dibalas hangat oleh teman-temannya. “Aku harus mulai menyembahmu! Bayangkan kau berhasil menaklukkan satu-satunya murid terkasar, Kwon Jiyong!” Seung Ri berseru semangat, diikuti tawa dari teman-temannya. Bagaimana kau melakukannya? Aku benar-benar ingin tahu.” kata Minzy membuat Dara tertawa dan mengangkat bahunya, gadis yang terkenal menaklukkan Kwon Jiyong. Come on guys, dia tidak perlu keajaiban untuk itu. Jiyong adalah orang yang baik.” CL mengatakan dengan yakin hingga mendapatkan ejekan dari Seung Ri dan begitulan awal pertengkaran tak berujung mereka dimulai. “Kalian tahu, apa yang dikatakan Cl adalah benar, yang terjadi bukanlah sebuah keajaiban. Kalian hanya perlu melihatnya tapi tidak hanya dengan mata.” Kata Dara tertawa membuat teman-temannya diam saat mereka menatapnya. Mereka saling memandang satu-sama lain dan berpikir mungkin yang dikatakan Dara benar, bukan hanya dengan mata jika ingin melihat seorang Kwon Jiyong.

Mungkin mereka juga perlu membuka pikiran dan hati mereka, siapa tahu mereka bahkan mungkin teman-teman yang hebat. Semua mata tertuju pada pintu saat orang yang mereka bicarakan tiba di kelas dengan plester lain di wajahnya dan perban di tangannya. Dengan malas ia berjalan, tangan di bahu memegang tas sementara yang lain berada di dalam sakunya. Dan seperti biasa ia mengemut lollipop di mulutnya saat ia pergi ke tempat duduknya, di belakang Dara. Kelas terdiam merasakan hawa buruk yang akan terjadi hari ini. Dia kemudian menjatuhkan tasnya di atas meja sambil duduk di kursinya. Di detik selanjutnya ia membenamkan kepalanya di meja mencoba untuk tidur. Selamat pagi Jiyong.” Dara tersenyum padanya saat ia berbalik menghadapnya dengan dagu di lengannya yang bersandar di atas kursinya. Dia seperti anak kecil yang sedang menonton seekor ikan mas berenang dalam akuarium besar.

Jiyong menegang di tempatnya saat memori kemarin melintas di kepalanya. Rahangnya terkatup, ia tidak sadar menggaruk kepalanya sebelum mengintip padanya. Dia memarahi dirinya karena merasa ribuan kupu-kupu di perutnya saat ia menatap dan tenggelam di mata cokelat yang indah dan senyum malaikatnya. Dia mengangguk terpaksa saat ia menggerakkan bibirnya ingin mengatakan sesuatu namun tidak dapat mengucapkan kata apapun. “Sial.” Dia mengutuk dirinya sambil mengepalkan tangannya erat. Ia merasa seperti ia keluar dari tubuhnya, ia tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik.

“Apa kau sudah mengerjakan tugas kalkulus?” Tanya Dara. Dia menatapnya sementara seolah-olah ia sedang menerjemahkan apa yang Dara katakan. “Yeah.” Katanya dengan suara rendah cukup baginya untuk mendengar. “Kau menjawab semuanya?” Tanyanya lagi sambil mengangguk. Dara cepat berbalik sambil meraih tasnya dan cepat membuka buku kalkulus nya. Bisakah kau membantuku?” Tanyanya. Jiyong duduk lurus seperti Dara menempatkannya kedua lutut di kursinya seperti anak yang sedang menaiki kursi untuk mencapai stoples kue. Dia kemudian menempatkan bukunya di atas meja Jiyong lalu menunjuk pada bukunya. Jiyong meletakkan tangannya disaku dan meraih pena saat ia mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Tidak ada yang berbicara, lebih dari 30 orang di dalam kelas dan yang bisa kalian dengar adalah burung bersenandung, angin bersiul, napas mereka dan suara Dara, sebagian besar sementara Jiyong akan menjawab dengan ya atau tidak dan kadang-kadang memberikan penjelasan singkat. Teman-teman mereka hanya mendengarkan percakapan mereka seperti semacam simfoni yang dimainkan. Mereka menatap Jiyong dan Dara seolah-olah mereka menyaksikan keajaiban saat kedua orang itu hanya tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Dara! Kau dipanggil oleh Guru Yang.” Seorang anak laki-laki berkata sambil mengetuk pintu membuat semua orang menatapnya seperti dia sudah melakukan dosa besar. Oke, aku akan di sana.” Ia tersenyum dan anak laik-laki itu pamit ingin melarikan diri karena tatapan aneh semua orang padanya. “Terima kasih bantuanmu, aku harus pergi sebentar.” Ia tersenyum pada Jiyong yang hanya mengangguk padanya.

Dara kemudian berjalan keluar dari ruangan dengan Jiyong menatapnya sampai perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Lalu ada keheningan yang aneh tergantung di udara. Semua orang takut untuk bergerak, takut memecah  suasana karena mungkin neraka pun akan terbuka. Dia menghela napas sambil berdiri, agresif. Kursinya jatuh di lantai diikuti suara keras dari logam memukul lantai yang bergema di empat sudut ruangan. Jiyong mengejar Dara, tidak berjalan tapi juga tidak berlari.

Jiyong mampu mengejarnya saat dia hendak turun tangga. Dia berhenti merenungkan apakah ia harus  memanggilnya atau tidak. Jika ia memanggilnya, apa yang harus dia panggil? Park? Dara? Sandara? Brat? Dia tidak tau dan dia harus cepat sebelum dia pergi lebih jauh.

Jiyong berlari kepadanya dan menarik lengan membuatnya menoleh pada. Dia tersenyum sementara Jiyonf hanya menatapnya tidak tahu harus berkata apa. Dia yakin bahwa dia akan mengatakan sesuatu namun rasanya seperti hilang dari kepalanya dan suaranya hilang . “Aku mengerti jangan khawatir.” Kata Dara sambil tersenyum. “Itu kau Jiyong, aku tidak masalah  dengan itu.” Lanjutnya dengan itu ia melepaskan tangannya dan Jiyong hanya mengangguk padanya sambil tersenyum tipis. Dia kemudian menunduk sambil berbalik dan berjalan kembali ke kelas dengan menatap sosok Dara yang menghilang. Dia tersenyum.

Dara tahu Jiyong terganggu oleh apa yang terjadi kemarin, tentang ciuman mereka. Ia tahu itu adalah sesuatu yang bahkan tidak Jiyong rencanakan. Dan mungkin Dara juga tidak bisa menolaknya. Itu adalah ciuman, kontak fisik antar bibir. Itu bukan sesuatu yang signifikan jika tidak ada perasaan sama sekali. Dara mengerti, sangat mengerti lebih mengerti daripada Jiyong. Itu tidak mengganggunya, dia benar-benar baik-baik saja dengan itu. Dia tidak sedih atau gelisah, dia masih merasakan hal yang sama masih penasaran tentang Jiyong, masih tertarik padanya, masih ingin menyelamatkannya.

Makan siang. Dara berada di atap sekolah. Dia menatap lapangan yang besar, siswa mengobrol, tertawa, bermain dan berjalan. Dia tersenyum sambil merentangkan nya lengan kemudian berbalik berjalan menuju ke dinding dan duduk bersandar. Dia kemudian membuka buku kalkulus, dia tidak bisa menyelesaikannya, dan ada banyak hal-hal yang dia tidak bisa mengerti. Dia mengerang frustrasi, ketika dia home schooling jawaban atas setiap soal sudah diberikan kepadanya karena mereka tidak ingin memaksanya untuk berpikir. Dan sekarang dia benar-benar di sekolah dia merasakan bagaimana sulitnya untuk menyesuaikan, terutama dia tidak hanya murid biasa tapi ketua kelas.

Dia merengut lalu ia hanya menutup bukunya, dia sudah sampai sakit kepala namun tidak ada satu hal pun yang memasuki kepalanya. Kemudian meraih buku catatan dan membacanya. Dia melihat kertas merah muda dengan desian bunga. Dia tersenyum itu to-do-list nya. Di sana, kalian dapat membaca sepuluh hal yang dia ingin lakukan karena sekarang dia sudah bisa hidup normal. Senyumannya berubah menjadi rengutan  mengetahui bahwa dia belum mampu melakukan satu halpun dalam daftar itu. Dan daftar itu sendiri masih belum lengkap, masih hanya berisi tiga hal yang dia ingin lakukan. Dia kemudian meraih pulpen untuk menulis sesuatu dan menyelesaikan daftarnya. Dia berpikir keras namun dia tidak bisa memikirkan apa pun.  Kemudian dia teringat saat dia tinggal di rumah sakit, dia tahu ada banyak hal yang ingin dia lakukan, tapi sekarang tampaknya seperti kepalanya kosong tidak bisa memikirkan apapun.

Dia mendesah saat ia hendak melipat dan menyimpan kertas itu. Kemudian angin bertiup kencang dan membawa kertas itu terbang. Dia berdiri mengejar kertas tanpa memperhatikan bahwa dia sudah di ambang pagar besi hanya untuk menangkap kertas itu. Dia perlahan-lahan menoleh ke pemilik tangan yang melilit pinggangnya. Dia menatapnya, dia terlihat marah dengan alisnya yang naik. “Menurutmu, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Jiyong dengan bisikan marah, Dara menelan ludah. Dara kemudian mengambil langkah mundur dan berdiri di depannya, kepala menunduk, menggigit bibir, gelisah dengan memegangi kertasnya. “Aku hanya ingin menangkap to-do-list ku saja.” Jawabnya dengan kejujuran. Kau bisa jatuh, kau tahu,” Katanya terdengar frustrasi dengan bagaimana kecerobohnya. Jiyong tumbuh dengan  mengurus dirinya sendiri, ia hidup dengan dirinya sendiri, belajar hal-hal apapun sendiri. Namun gadis mungil yang berdiri di depannya ini perlu tidak bisa untuk mengurus dirinya sendiri bahkan setiap waktu.

Jiyong, aku minta maaf.” Dara menghela napas, meminta maaf meskipun ia tahu ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Lupakan saja,” Desisnya sambil berbalik darinya. Dara dengan cepat meraih lengannya tahu dia marah. Aku sangat menyesal. Janji, aku akan lebih hati-hati.” Katanya berdoa supaya Jiyong memaafkannya. Dia memutar matanya lalu ia berbalik, menghadap ke arah Dara. “Apa kamu tau, kau baru saja akan menukar nyawamu dengan selembar kertas sial itu?” tanyanya dengan suara rendah, jelas sedang marah. Lalu Dara mengangguk.

Tanpa berkata apa-apa Jiyong meraih kertas dan membacanya tiba-tiba Dara memerah malu. Apa ini?” Tanyanya, lalu Dara dengan cepat mencuri kertas itu dari tangannya. “To Do List ku.” Jawabnya gagap, lalu ia berjalan dan menempatkan kertas itu di antara halaman acak pada buku catatannya. Jiyong mengangkat alisnya. Dara kemudian mulai gelisah. Dia menghela napas dan menatap matanya. Apakah kau ingat saat kau bertanya tentang apa yang aku tahu tentang kehidupan? Apa yang aku tahu tentang harapan?” Tanyanya lalu Jiyong merasa rahangnya terkatup erat sambil mengangguk padanya. Dia kemudian duduk dan bersandar di dinding “Mmmm, sebenarnya aku lahir dengan sebuah lubang di hati. Jadi selama enam belas tahun terakhir aku hidup dengan menghirup udara rumah sakit, mengandalkan mesin yang terhubung ke tubuhku,” Katanya menatap lantai lalu Jiyong berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya. Dia kemudian memeluk lututnya.

“Aku merasa mati, aku tidak merasa hidup sama sekali. Tapi aku berdoa dengan keras aku berpegang pada Tuhan, pada harapan dan pada keluargaku karena mereka satu-satunya hal yang aku punya,” Katanya. “Aku hampir mati meskipun semua doa, meskipun segala sesuatu yang kami lakukan … Aku berpikir untuk mengakhiri hidupku, mengakhiri penderitaan keluargaku, tetapi ketika aku melihat ibu yang aku tahu sudah mati kelelahan karenaku yang masih tersenyum dan berjuang untuk pertempuran yang tidak pernah dimilikinya… Aku merasa seperti aku perlu untuk bertahan dan berjuang, aku harus sembuh… tapi yang paling utama aku tahu aku tidak hanya perlu berjuang, untuk sembuh, aku ingin berjuang, untuk sembuh dan … menjadi normal,” Dara menoleh kepadanya dengan senyum di bibirnya saat Jiyong menatapnya, ia tidak mampu mengatakan apa-apa. Tapi dengan kisahnya, dia yakin bahwa itu yang membuatnya menarik.

Pada ulang tahun keenam belas, aku akhirnya mendapat donor hati. Kemudian kami mulai mempersiapkan operasi meskipun mengetahui bahwa aku hanya punya 30%  kesempatan untuk bertahan hidup. Tapi sekarang aku di sini kan? Aku masih hidup dan aku hidup dengan keajaiban,” Katanya tertawa sambil menatapnya. “Jadi jika kau bertanya padaku apa yang aku tahu tentang kehidupan, aku tidak tahu praktis nya, aku akui bahkan tidak tahu tentang pekerjaan rumah tangga tapi aku belajar … tetapi jika kau bertanya tentang kehidupan, tentang bagaimana hidup, aku tahu betapa pentingnya adalah bagaimana aku harus  menghargai itu, bagaimana hal itu dapat dengan mudah diambil dari siapa pun. Sebenarnya kita hanya meminjam itu.” Katanya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya di langit. Dia lalu menatap awan berbentuk. Wow,” Dia menarik napas kagum. Jiyong tidak bisa menjauhkan pandangannya dari Dara dan sekarang dia merasa seperti dia tidak bisa untuk jauh dari dirinya.

Entah bagaimana, Jiyong tidak keberatan jika ia adalah gadis paling ceroboh karena itu akan memberikan kesempatan untuk menjaganya.

—ooo—

 

sorry for the typos, mungkin karena copas dari pdf jadi DANG pikir banyak spasi yang tidak sync dengan Word, tapi DANG udah usahain sebaik mungkin supaya bisa di baca dan dipahami dengan mudah, kalo kalian masih susah bacanya berarti DANG harus lebih teliti dan edit lebih  manual lagi.

Okay big thanks, see you next week.

 

DANG

Advertisements

36 thoughts on “BE MINE [Chap. 5]

  1. aww sllu trouble jka bka ff.. hiksss hikss
    kda menulis komentar pun trouble…

    thor, aku kira itu kertas dara nga dpt. trnyta dpat… jiyong itu kya_x pintar, nd skrg y mulai enak dgn dara. bhkn kiss..
    oh ya thor, sblm_x dchptr 4 aku dh komemt berpa kali, tpi trouble entah masuk atau tidak….

  2. ngga banyak yang bakal aku komentarin karena dari tadi aku gak koment apa -apa hehe, ya walaupun banyak typos dan beberapa kata kebalik tapi aku wajarin itu hehe aku tahu betapa sulitnya mengtrans XD
    di chap ini banyak banget pembelajarannya. jadi lebih banyak bersyukur alhamdulillah. semoga bisa cepet di post lagi kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s