BE MINE [Chap. 12]

25335697-176-k89752

Story by : mbie07

Link : Meet her on Wattpat & Aff

Indo Trans : DANG

Karakter:

Kwon Jiyong, Sandara Park, Lee Chaerin, Lee Sung Ri, Choi Seung Hyun, Park Bom

—ooo—

Here you go, chapter 12!

Itu hampir jam satu malam ketika mereka memutuskan untuk kembali ke kabin mereka. Lelah namun sangat senang. Setelah beristirahat sebentar, Dara meraih handuk dan piyamanya dan berjalan ke kamar mandi dengan Jiyong yang memandanginya di setiap gerakan Dara sampai Dara menutup kamar mandi. Jiyong berkedip sekali, lalu berkedip dua kali dan melepaskan sebuah desahan. Lalu ia melepas beanie merah muda dan mengacak rambutnya sambil meraihkamera digitalnya yang ada di sakunya.

Jiyong menyalakan kameranya dan segera melihat satu persatu gambarnya. Ada begitu banyak gambar, bahkan dia tidak bisa menghitungnya, tapi di dalam dirinya dai masih menginginkan lebih banyak foto-foto Dara. Jiyong  masih kehausan akan foto-foto Dara, untuk menangkap gerakannya, senyumnya dan tawanya. Untuk mengabadikan setiap detailnya. Dia menghela napas lain lalu dia berdiri, ia memasukkan kamernya kedalam tas dan saat itiu juga Dara keluar dari kamar mandi.

Dara mengeringkan rambutnya dengan handuk merah muda dan ia berdiri di sana dengan piyama bergambar kelinci merah muda. Dara tersenyum pada Jiyong, lalu JIyong menatapnya. Mereka hanya diam, tidak lebih, tidak kurang. Mereka hanya saling bertatap mata dan tenggelam di dalamnya. Jiyong berdiri dan meraih handuknya segera berjalan ke kamar mandi dan hampir membanting pintu di belakang Dara. Dara tertawa sedikit lalu ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap kosong di tempat tidur yang kosong dan berantakan miliknya. Dia tersenyum lalu ia berdiri dan meraih mainan kuning yang Jiyong berikan. Dia duduk di lantai saat ia mulai berbicara dengan mainan dan bermain dengan lengan boneka itu. Dia ingat mainan itu belum mempunyai nama sama sekali. Dara berhenti sejenak untuk memikirkan sebuah nama.

Dara menggeram frustrasi setelah hampir menghancurkan kepalanya tapi bahkan sebuah namapun tidak muncul dipikirannya. Ia menghela napas sekali lagi kelelahan. Dia hanya mulai menyenandungkan lagu sambil bermain dengan mainan kuningnnya. Dia berusaha untuk tidak tertidur saat ia hampir ketiduran. Dia ingin tetap terbangun saat Jiyong keluar dari kamar mandi. Dara ingin meminita Jiyong untuk tidur di sampingnya, tapi Dara tidak bisa menahan dirinya, dia akhirnya tertidur dengan kepalanya yang bersandar di pinggir tempat tidurnya.

Jiyong keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk putih, telanjang dada dan hanya mengenakan sweatpant abu-abunya. Matanya mendarat pada gadis mungil yang sedang tidur di lantai dengan kepalanya bersandar di tepi tempat tidurnya. Jiyong menghela napasnya lalu ia melempar handuknya dan meraih kaos putih dan segera memakainya. Ia berjalan menuju Dara dan dengan lembut membungkus tubuh Dara dengan lengannya lalu dengan hati-hati mengangkatnya, untuk hanya sudpaya Dara tidak bergerak dalam tidurnya. Dengan lembut, Jiyong menempatkan Dara di atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Lalu Jiyong berbalik dan pergi ke tempat tidurnya, ia duduk di tepi tempat tidurnya dengan  menopang dagunya dengan tangan.

Jiyong menatap Dara yang tidur damai di tempat tidurnya, disaat itu juga dia merasa dia terlalu jauh darinya, Jiyong merasa Dara tidak bisa dijangkau, dia terlalu jauh. Lalu Jiyong berdiri dan berjalan  ke arah Dara, sambil menahan napasnya sampai ia mencapai tempat tidur Dara dan ia masih tidak mengalihkan pandangannya dari Dara. Jiyong menatapnya saat ia tidur. Dia melihat Dara seperti dia semacam kemustahilan, seperti dia adalah keajaiban, lebih mulia dari malaikat dan indah saat ia tidur, tidak ada seorangpun yang bisa dibandingkan dengannya. Dengan lembut Jiyong menyingkirkan helai rambut Dara yang menutupi wajahnya. Sebuah senyum kecil tertarik dibibir Jiyong lalu ia  berdiri dan meraih kamera digitalnya lagi. Ia mulai mengambil foto Dara, tanpa henti. Ia mencoba untuk memotret setiap hembusan napasnya, setiap gerakan. Puas dengan hasil potretnya, lalu ia menempatkan kembali kameranya ke tas dan duduk kembali di samping Dara.

Jiyong hanya menatap Dara lagi, menghitung setiap napasnya dan bertanya-tanya apa yang ia mimpikan. Bertanya apakah ia berada di  mimpinya. Dara meringkuk lebih dekat kepadanya seolah-olah dia menyadari Jiyong berada di sampingnya, sedangkan Jiyong hanya berjarak millimeter darinya. Jiyong,” bisik Dara, mata Jiyong melebar terkejut. Senyum lebar terbentang di bibir Jiyong. Lalu ia membungkuk dan memberi ciuman kecil di bibir Dara. Ia mulai membelai rambutnya, bertanya-tanya apakah ia hanya bisa menghentikan waktu dan bisa tinggal dim omen ini untuk sisa hidunya. Jiyong perlahan merebahkan dirinya di  samping Dara, membungkusnya dengan lengannya. Ia menariknya lebih dekat sambil mencium rambutnya lembut dan tanpa di sadari ia hanya tertidur dengan Dara dilengannya.

Jiyong membuka matanya perlahan karena cahaya matahari yang menyelinap masuk dari jendela kamarnya. Tidur ternyenyat pertamanya. Ia merasa seperti ini adalah satu-satunya tidur dalam hidupnya. Ia merasa selama ini setiap malam ia hanya mencoba untuk tidur. Matanya mendarat pada gadis yang tidur di sampingnya dan ia tidak pernah merasa begitu ringan, begitu puas. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini, ia bangun di pagi lain dan melihat wajah malaikat Dara menemaninya. Dalam delapan belas tahun belakangannya ketidka ia tidur ia meminta untuk tidak pernah bangun, tapi sekarang ia hanya bersyukur ia diberikan hari hari lain untuk hidup. Jiyong menariknya lebih dekat dengannya dan mencium keningnya.

Dara terbangun dan membuka matanya. Senyum terbentuk dibibirnya saat ia melihat Jiyong berbaring di sampingnya, memeluknya. “Selamat pagi, tampan.” dia berkata dengan suara serak membuat Jiyong sedikit tertawa. “Selamat pagi,” jawabnya sambil menyandarkan dahinya dengan dahi miliknya. Jiyong perlahan menariknya dan mengecup bibirnya, hampir tidak peduli jika mereka baru saja bangun. Jiyong menciumnya. Dara  menciumnya dan saat itulahh mereka sadar apapun yang terjadi, rasa sebuah ciuman tidak akan berubah, itu masih manis seperti biasanya. Mereka salng menarik diri, dan dara sedikit tertawa sementara Jiyong masih menyandarkan dahinya pada dahi Dara dengan matanya yang kembali menutup.

Dara duduk dan meregangkan tangannya ke atas, lalu Jiyong duduk tapi ia seakan tidak pernah merasa cukup akan Dara. Lengannya dipakai untuk memeluk pinggang Dara dan sedangkan dagunya menempel pada bahu Dara. Dara tertawa sambil meletakkan lengannya diatas bahu Jiyong. Kemudian mereka berdua mendengar ketukan dari pintu. Waktu untuk bangun, lovebirds! Kita masih perlu Joging  1km sebelum sarapan!” Chaerin berkata sambil tertawa. Jiyong mengerang frustrasi sementara Dara terkekeh. “We’re coming!” Dara menjawab sambil tertwaw. “Kalian hanya punya 5 menit,” Chaerin menjawab sebelum meninggalkan pintu mereka. Dengan cepat Dara turun dari tempat tidur dengan menarik Jiyong. Dara Pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya sementara Jiyong hanya duduk dan menunggu karena ia tidak berencana untuk berganti pakaian. Ia  hanya menyambar jaket hitamnya, dan memakai beanie pink nya dan ia siap untuk pergi.

Ketika mereka mencapai lapangan, semua orang menatap mereka sedangkan Jiyong masih merapikan jaketnya. Kedua mata Dara dan Jiyong mendarat pada mereka, mempertanyakan. Apa?” Jiyong mendesis setelah bosan menebak apa alasan mereka menatapnya. Mereka tersentak lalu segera mengalihkan pandangannya dari Jiyong dan Dara. Guru Yang memalsukan batuk lalu memberikan instruksi dan dengan aba-abanya semua siswa mulai berlari dan saling membalap untuk mencapai garis finish seolah itu adalah marathon, sementara itu hanya jogging. Dara hanya tertawa sambil Dara dan Jiyong mulai berjalan mengikuti di belakang siswa yang sedang lari dan tertawa. Sementara siswa lain berlarian dan saling membalap, mereka hanya berjalan seolah mereka sedang tour, melihat situs-situs sejarah.

Setelah hampir satu jam  mereka akhirnya kembali ke kamp  di mana alat pancing, ember dan alat lain menunggu mereka. Oh kita akan memancing untuk sarapan!” Dara berseru sambil menggenggam kedua tangannya bersama-sama dalam kegembiraan. setelah mendengarkan arahan Guru Yang, mereka semua berjalan ke danau kecil di dekat kamp dan mereka membawa bahan yang dibutuhkan. Dara seperti naik ke atas awan sembilan saat ia melihat danau dan ia segera menarik Jiyong sambil menunjuk danau, bercerita bagaimana dia selalu bermimpi melihat danau dan betapa bahagianya ia dapat melihatnya sekarang.

Mereka mulai memancing dengan Jiyong mulai mengajarkan Dara hampir semuanya. Chaerin sedang melihat mereka dua dengan senyum di bibirnya. Cemburu?” Tanya Seung Ri membuat Chaerin menolehkan kepalanya pada Seung Ri yang sedang duduk di sana, menunggu ikan untuk mengambil umpannya. Chaerin menyipitkan matanya pada Seung Ri sementara Seung Ri bahkan tidak menatapnya. Ya, punya masalah dengan Itu?” Kata Chaerin terengah sambil menyilangkan tangan di dadanya. Tidak, Chaerin tidak benar-benar cemburu. Bahkan dia bahagia untuk mereka, itu hanya terlalu pagi untuk berdebat dan bertengkar dengannya dan lagi dia belum cukup energy untuk melakukannya. Seung Ri memiringkan kepalanya menghadap Chaerin, ia terkejut karena Seung Ri hanya menghela napasnya. Chaerin terkejut karena reaksi Seung Ri, ia hanya mengatupkan bibirnya dan ia mulai memainkan jari-jarinya di belakang punggungnya.

Seung Ri mengerutkan kening sambil mengangkat lengannya, menyuruh Chaerin untuk lebih mendekat  kepadanya. Chaerin memelototinya, mencoba untuk mencari tau apa yang ia akan lakukan. Chaerin menggigit bibirnya saat ia perlahan berjalan kepadanya. Seung Ri meraih tangannya saat Chaerin sudah dalam jangkauannya. Chaerin bingung pada awalnya dia sekarang sangat dekat dengan Seung Ri. Tanpa mengalihkan pandangannya pada Chaerin, Seung Ri memberikan alat pancingnya.Dengarkan aku baik-baik. Tidak ada satu kata pun,” Seung Ri berkata dengan nada berwibawa. Lalu dia mulai mengajari Chaerin tentang segala sesuatu yang saya dia tahu tentang memancing dan Chaerin hanya menatapnya sepanjang waktu saat Seung Ri menjelaskan. Dia bingung, tidak satu katapun yang bisa dia katakan karena dia sudah tenggelam dalam pikirannya.

Chaerin tiba-tiba tertawa dan mencubit pipi Seung Ri. Yah! Itu menyakitkan!” Seung Ri berkata sambil mengusap pipinya. Chaerin tersenyum padanya membuat Seung Ri hampir jatuh dari papn kayu tempat mereka berdiri sekarang. “Kau manis,” Kata Chaerin membuat Seung Ri menatap kosong padanya. Kecanggungan mulai merangkak di antara mereka.

Mereka berdua  memalsukan batuk dengan pipi mereka yang berubah  warna menjadi merah. Kemudian perhatian mereka beralih pada pancing yang mulai bergerak, keduanya memegang erat sambil menariknya Setelah melihat itu, mereka berdua tersenyum. “Aku pikir sebaiknya kita menarik bersama-sama,” Chaerin berkata mengusir kecanggungan mereka. “Aku pikir juga begitu, itu tampak seperti ikan yang besar,” Seung Ri berkata sambil tertawa.

Setelah memancing semua siswa berada di tempat yang sudah mereka pilih untukmembuat api dan mulai memanggang ikan yang mereka tangkap. Dara begitu gembira saat sedang menonton ikan yang sedang dipanggang dengan Jiyong yang berada di sampingnya. Dia bertanya berton-ton pertanyaan tapi Jiyong seakan tidak pernah lelah menjawabnya. Dara Kemudian berdiri. “Aku akan mengambil sesuatu,” Dia berbicara sambil berlari-lari kecil ke kabin mereka dengan Jiyong menatp padanya. Tapi di tengah jalan dia kehilangan keseimbangan sambil memegang erat dadanya dan jatuh saat ia mulai terengah-engah. Dia akhirnya Ingat dia lupa untuk meminum obatnya kemarin dan itu tidak baik. Jiyong berlari kepadanya karena semua teman sekelas mereka panik dan mendekatinya. Beri ruang yang terbuka untuknya!” Teriak Guru Yang membuat semua orang melangkah mundur.

Dara, apa yang terjadi?” Jiyong bertanya gemetar, hampir di ambang panik. “Obat dan perangkatku,” Kata Dara  lemah sambil bertahan dengan napas yang berat. “Itu di tasku,” Ia berkata. Dengan cepat Jiyong berlari dan mendorong semua orang yang menghalangi jalannya. Lalu Minzy dan Chaerin menangis gugup.

Tanpa berpikir panjang Jiyong mengobrak abrik barang-barang Dara saat mencari obat dan perangkatnya. Dia hanya menuangkan semua isi tas Dara saat mencarinya dengan tangan gemetar.  Dia bisa mendengar jantungnya berdebar keras dan otaknya seolah selalu meneriakkan jika kau tidak cepat kau bisa kehilangannya. Setelah menemukan barang yang dicarinya, ia berlari cepat dan mencapai Dara dalam hitungan detik. Jiyong segera duduk dan membuka botol obatnya membuat Dara meminum obatnya dengan Chaerin menyerahkan air minum untuk Dara. Dara masih mencengkeram dadanya dengan ia terkunci dalam pelukan Jiyong. Jiyong gemetar, Ia takut ia akan kehilangan kewarasannya. Dara merasa bersalah karena membuat semua orang khawatir hanya karena dia lupa meminum obatnya.
Dara mencengkeram kemeja Jiyong erat sambil perlahan-lahan napasnya kembali normal. Saat mereka yakin Dara sudah baik-baik saja, Jiyong mengangkat tubuhnya membuatnya duduk di kursi kabin luar mereka.  Jiyong memegang tangan Dara erat tatapannya tidak pernah meninggalkannya. Bahkan ia takut berkedip. Dara dengan erat memejamkan mata dan menghela napas. Dia membuka telapak tangannya dan meminta perangkat nya, perangkat EKG nya. Jiyong menyerahkannya lalu ia membalik perangkat dan ditempatkan jarinya pada sensor di tepi perangkat. Setelah inisialisasi perangkat mulai EKG mulai membacanya kondisinya, dengan hati-hati Jiyong menatap garis itu  membacanya. Jiyong bisa membacanya, ia belajar tentang hal itu tanpa alasan khusus sebelumnya, tapi sekarang ia senang ia pernah mempelajarinya.

Jiyong menatap Dara. “Kau perlu istirahat,” Jiyong berkata membuat Dara menatapnya, matanya melebar. Bagaimana kau tahu?” Dia bertanya. Aku bisa membaca EKG,” jawabnya dengan jujur. Dara menggigit bibirnya sambil mematikan EKG nya. “Maafkan aku karena membuat semua orang khawatir.” Dara berkata sambil membelai wajah Jiyong. Jiyong mengangguk. Katakan saja apa yang terjadi,” Jiyong berkata dengan suara rendah.  “Aku lupa meminum obatku,” jawabnya jujur sambil mendesah, Jiyong mengangguk. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan Dara meringkuk lebih dekat kepadanya. Ia melepaskan sebuah desahan. “Apakah ini akan terjadi lagi?”  Ia bertanya. Mungkin ia, mungkin tidak … aku, tidak, kita tidak benar-benar tahu,” Jawabnya membuat napas Dara menyapu leher Jiyong. Jiyong memperketat pelukannya, ia menutup rapat matanya. Apa yang perlu kita lakukan untuk mencegah itu?” Ia bertanya masih tidak menatapnya. Aku hanya selalu perlu minum obat-obatanku dan aku akan baik-baik saja. Kecuali jika pengobatannya mempunyai efek samping atau …..” Dia berhenti saat ia menghela napas lain. Atau apa?” Jiyong bertanya kehabisan kesabaran. Tubuhku akan menolak hati baruku.” Dara berkata dengan suara rendah. Jiyong menggigit bibirnya, ia tampaknya hilang akal bahkan hanya memikirkan kemungkinan bahwa Dara bisa diambil dari sisinya sudah cukup membuatnya lemah, dan jika Dara benar-benar meninggalkannya dia pasti akan hancur. Rahangnya terkatup dan tinjunya mengepal. Dara merasakan tubuh Jiyong yang menegang. “Ji..” Serunya. Jiyong menutup matanya erat lalu perlahan membukanya.

Itu tidak mungkin, kau memiliki hati selama hampir setahun, dua tahun pada kenyataannya,” Jiyong berkata dengan tegas dengan emosi tercampur dalam suaranya. Kemarahan, rasa sakit, cinta, semuanya suaranya hanya membaur dan tidak hanya suaranya tapi di Dadanya. Itu selalu mungk—“ Dara tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Jiyong memotongnya.

Tidak, jangan katakan itu,” desisnya saat ia menarik Dara lebih dekat kepadanya. Dara Tersenyum saat dia memejamkan mata. Aku tidak akan mati Ji, aku tidak akan pernah meninggalkamu… tidak sekarang … tidak pernah …” Dara berbisik lembut kepadanya membuat air mata JIyong merangkak turun di pipinya. Dia selalu sendirian selama hidupnya. Ia selalu kesakitan. Ia sengsara. Ia adalah tragedi itu sendiri.  Namu dulu saat dia merasa seperti itu ia seperti mati adalah pilihan yang lebih baik, dia tidak pernah menangis, ia tidak pernah. Tapi sekarang, hanya mengetahui bahwa Dara bisa meninggalkannya kapan saja. Mengetahui ia hanya meminjam Dara,  membuat hatinya sesak karena begitu banyak rasa takut, begitu banyak rasa sakit. Ia tidak bisa menahannya, bahakan hanya memikirkannya, dia tetap tidak tahan. Ia mengusap air matanya kasar lalu mempererat pelukannya lagi.

Siapa bilang kau boleh meninggalkaku? Kau tidak akan meninggalkanku, kau akan tinggal denganku selamanya,” Jiyong berkata dengan tegas membuat Dara mengangguk. Selamanya,” Ia mengulang lalu Dara mengangguk lagi. Kemudian hal yang sama ia katakan lagi dan lagi dengan Dara mengangguk lagi dan lagi. Ia selalu mengulang kata-kata itu seakan dia berharap bahwa kata-katanya akan menjadi kenyataan.

P r e v i e w !

 

Chapter 13!


Jiyong menatap tangannya yang
berdarah, itu ditutupi dengan darah teman sekolahnya. Ia pernah melakukan ini sebelumnya, ia hampir membunuh seseorang menggunakan tangan kosong. Ia melakukan itu sebelumnya dan ia tidak merasakan apa-apa. Dia di skors, dan dia sudah mendapatkan reputasi buruk tetapi dia tidak peduli.


Tangannya mungkin tidak pernah bersih
. Tapi sekarang Dara berdiri di depannya dengan darah di tangannya, dengan Dara memegangnya lalu Jiyong menatap matanya. Jiyong merasa ia  begitu kecil, Bahwa ia tidak layak untuk berdiri di hadapannya, melihat di matanya atau bahkan memegangnya.

 

Aku seperti Dara ini! Aku bisa membunuh tanpa ragu-ragu. Aku hampir membunuh bajingan itu di sini !! Aku …. aku … ini aku!” Jiyong berkata sambil menarik tangannya dari genggaman Dara, hingga darahnya menetes pada seragam, lantai dan tembok putih di belakangnya. Dara tidak pernah mengalihkan tatapannya pada Jiyong. Dia menatapnya,  seolah tidak terjadi apa-apa, ia menatap seperti yang biasa ia lakukan, tatapan yang sama seperti sebelum sebelumnya, penuh pengertian, penuh cinta. Jiyong jatuh berlutut ketika ia mulai meninju lantai sampai darahnya mulai bercampur dengan darah di tangannya. Dengan cepat Dara membungkuk dan menghentikannya. Dara memeluknya dengan erat.


“J
angan tinggalkan aku mohon. Aku tahu tanganku tidak bersih. Aku tahu aku tidak layak untukmu tapi tolong jangan tinggalkan aku,” bisiknya gemetar sambil membungkus Dara dengan lengannya, membuat baju Dara ternoda oleh darah ditangannya. “Jangan tinggalkan aku,” Ia memohon sekali lagi sambil membenamkan kepalanya di bahu Dara sebagai air mata mengalir dipipinya.


Dara Tersenyum sambil menarik diri darinya
. Kemudian ia memegang erat tangannya dan tersenyum. Mata mereka bertemu. Bibir Dara melengkung membentuk senyuman saat ia membelai wajahnya. “Please, be mine,” Dara berkata, dengan memohon. Jiyong menatapnya, terkejut, hampir mati rasa dan hampir tidak bernapas.  Kemudian bibirnya membentuk senyuman. Air mata Dara merangkak ke bawah pipnya ini adalah pertama kalinya dia melihat Jiyong tersenyum dan dia bisa merasakan hatinya sesak karena begitu banyak emosi yang merasukinya, dia tidak tahu  bagaimana mengatasinya, emosi itu mengambil alih tubuhnya, memakannya hidup-hidup.


“Aku selalu menjadi milikmu, bahkan dari awal aku
selalu menjadi milikmu.”

 

—000—

Sorry latepost!

Gimana preview nya?

Penasaran?

Oke, di chapter sebelum nya ada yang tanya, kok di karakter ada Bom sama TOP.

Tapi mereka nggak muncul muncul ya DANG?

jadi bangga DANG, ternyata pembaca di sini ada yang perhatian sama DANG (?)

bukan maksudnya perhatian sama detil FF ini, bahkan sekecil apapun itu.

Dan jawabannya adalah, kenapa BOM TOP nggak muncul muncul?

Kalo kalian setia baca, pasti kalian bakal nemuin mereka kok.

hahaha.

Sooo, See you next week!

 

Sincerely yours,

DANG

Advertisements

37 thoughts on “BE MINE [Chap. 12]

  1. jd mereka blm pacaran tp dah mesra gitu gak perlu bilang cinta tp nggak bisa terpisahkan…… makin lama jiyong nggak bisa jauh dr dara dan skrng jiyong makin sayang dan overprotective……
    jd daranya blm sembuh total ya…. mudah”an nggak terjadi sesuatu yg parah yg akan terjadi sm dara…..
    buat cl sm seungri dah ada kemajuan nich….
    nggak sabar sm konfliknya dan mudah”an nggak akan ngeganggu hubungannya daragon deh ……
    apa konfliknya ada hubungannya dgn top & bom…..next chapnya dang jd baper setelah baca previewnya….. fighting buat dangnya♡♡♡

  2. Dara unnie harus tetep rutin minum obatnya biar tubuhnya nerima hati baru itu. Jiyong bener bener romantis di chapter ini dan buat chapter selanjutnya aku bener bener penasaran😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s