My Love, My Bodyguard #3

love-bodyguard

Author :: Yussie
Cast       :: Sandara Park, Kwon Jiyong, Lee Donghae, Lee Chaerin, Park Bom, and other cast

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi, di Bandara Incheon, dua orang pria tampan terlihat gelisah seperti sedang menunggu kedatangan seseorang yang tak kunjung datang. Kedua pria itu adalah Kwon Jiyong dan Lee Seungri yang sedang gelisah menunggu seorang Sandara Park yang belum juga datang padahal pesawat mereka akan segera lepas landas dalam waktu kurang dari setengah jam lagi.

“Aisht, Ri, coba kau hubungi ponsel Dara lagi, siapa tau kali ini dia akan menjawabnya.” Ucap Jiyong.

“Aisht hyung, aku sudah menghubungi ponsel Dara noona semenjak kita baru sampai di sini, namun tidak sekalipun diangkat oleh noona. Memangnya kau tidak melihat daritadi ponselku tidak lepas dari telingaku!” balas Seungri tidak mau kalah dari Jiyong.

Hem, apa Dara mengurungkan niatnya dan berniat mundur untuk menjadi bodyguardku ya, pikir Jiyong.

Tidak lama kemudian, terdengar suara orang berlari yang mendekat ke arah mereka. Dan tadaa, disanalah terlihat seorang Sandara Park sedang berlari sekuat tenaga sambil membawa sebuah koper hitam yang cukup besar. Dengan segala tenaga yang masih dimilikinya, Dara berlari sambil berusaha menyeret kopernya agar cepat sampai di gate yang dia tuju.

“Hosh, hosh, hosh, maafkan aku Jiyong-ssi, aku terlambat, tadi aku turun di terminal yang salah. Aku tidak melihat-lihat lagi tadi ketika turun dari taksi karena aku terburu-buru, sehingga aku malah masuk ke terminal kedatangan luar negeri, bukan keberangkatan. Sekali lagi, maafkan aku Jiyong-ssi, Seungri-ssi.” Ucap Dara masih dengan nafas yang tersengal sambil membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.

“Gwenchana noona, kita belum terlambat. Pesawatnya masih belum lepas landas.” Ucap Seungri sambil berjalan menghampiri Dara dan memberinya sebotol air minum.

“Gomawo, Seungri-ssi.” Balas Dara sambil meminum air mineral yang diberikan oleh Seungri.

“Baiklah, jika begitu, semua sudah lengkap dan kita harus segera masuk untuk boarding. Dan Dara, lain kali angkat ponselmu ketika kami menelepon.” Ucap Jiyong dengan nada memerintah.

“Hem ponsel? Aigo, kurasa aku lupa membawa ponselku Jiyong-ssi, tertinggal di meja ruang tamuku. Kurasa tadi aku lupa membawanya pada saat aku akan keluar rumah. Maafkan aku sekali lagi Jiyong-ssi.” Ucap Dara sambil membungkukkan badannya lagi. Setelah itu dia memukul kepalanya sendiri agar dirinya tidak melakukan hal yang lebih ceroboh lagi. Aigo Dara, kau sudah melakukan banyak kecerobohan untuk memulai hari ini, jaga sikapmu agar tidak ada lagi kebodohan yang kau lakukan, hwaiting Dara! Gumam Dara dalam hati sambil membulatkan tekad untuk tidak ceroboh lagi.

“Sudahlah, tidak masalah, aku sudah memaafkanmu. Ayo sekarang kita segera masuk untuk boarding, kurasa pesawatnya sudah akan lepas landas.” Ucap Jiyong sambil terburu-buru mengambil kopernya yang ternyata sama persis dengan koper yang Dara miliki. Dan tanpa Jiyong sadari, dia malah membawa koper milik Dara! Omo, baik Dara maupun Jiyong tidak menyadari akan insiden salah koper ini sampai koper mereka masuk ke dalam bagasi pesawat.

Di dalam pesawat pun Jiyong hanya bisa cemberut memperhatikan Dara dan Seungri yang duduk berdekatan. Sementara Jiyong duduk di bangku terpisah, berseberangan dengan tempat duduk mereka. Jiyong lalu mengambil earphone untuk mendengarkan music agar rasa bosannya hilang. Di samping untuk menghilangkan kebosanan, Jiyong juga malas untuk mendengar percakapan antara Dara dan Seungri yang terlihat semakin akrab. Entahlah, namun dalam hati Jiyong, dia sangat iri pada Seungri dan ada rasa kesal ketika melihat Dara tertawa juga tersenyum pada Seungri sepanjang obrolan mereka. Jiyong jadi berpikir bahwa Seungri sengaja memilih tempat duduk di samping Dara agar bisa menggodanya, dan sengaja menempatkan Jiyong duduk di seberang mereka agar dia tidak bisa menganggu Seungri dan Dara.

Aisht, bocah panda itu, lihat saja nanti, akan kuberi kau tugas yang banyak agar kau tidak bisa menggoda Dara lagi, gumam Jiyong dalam hati. Sementara telinganya mendengarkan music, mata Jiyong tidak bisa lepas untuk tetap memandangi Dara yang sekarang sedang tersipu malu karena gurauan Seungri. Entah apa yang Seungri ucapkan sampai pipi Dara memerah karena malu. Namun Jiyong merasa semakin kesal melihat hal itu, sehingga dia memutuskan untuk memejamkan matanya saja, berusaha untuk tidur, namun aisht, dia tetap tidak dapat tidur dan malah semakin memperhatikan gerak-gerik Dara dan Seungri. Setelah Dara dan Seungri menghentikan obrolan mereka untuk mulai tidur, barulah Jiyong bisa tidur.

Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Hongkong. Mereka pun segera menuju hotel yang sudah dibooking sebelumnya oleh Seungri. Hotel tempat Jiyong biasa menginap ketika dirinya sedang berada di Hongkong. Dan, tidak ada satupun baik Dara maupun Jiyong yang menyadari bahwa koper mereka tertukar karena koper mereka memang sama persis.

Setibanya mereka di kamar hotel mereka masing-masing. Jiyong langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Dara langsung bergegas mandi untuk menyegarkan dirinya. Sementara Seungri langsung menonton televisi, memencet remote dan berhenti memencet remote ketika melihat channel yang menyajikan acara pemilihan model-model cantik, sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, lebih tepatnya kekasihnya saat ini, yang sudah membuatnya sangat jatuh cinta dan insyaf dari predikat playboy. “Yoboseoyo, chagi-ah, aku sudah sampai di Hongkong, namun aku langsung merindukanmu chagi.” Ucap Seungri merajuk pada yeojachingunya. Lalu Seungri terus melanjutkan percakapannya di telepon dengan yeojachingunya itu.

Sementara itu di kamar Jiyong. Jiyong bangun setelah dirasa tubuhnya sudah lumayan segar. Jiyong tidak tidur tadi, dia hanya merebahkan dirinya untuk melepas rasa lelah karena perjalanannya dari Seoul sampai di sini mereka berada sekarang.

Jiyong bermaksud untuk mandi, namun dia ingin mengambil terlebih dahulu sabun cair yang ada di dalam kopernya. Bukannya pihak hotel tidak menyediakan sabun maupun semua perlengkapan mandi, namun itulah kebiasaan Jiyong. Dia selalu membawa sabunnya sendiri ketika dia bepergian kemanapun yang membutuhkan waktu beberapa hari. Ssst, itu semua karena Jiyong masih memakai sabun untuk bayi, karena dia sangat suka wanginya yang lembut. Dia pun mulai membuka kopernya, namun dia merasa aneh karena seingatnya dia mengunci kopernya dengan gembok yang menggunakan kode. Tapi, kenapa kopernya tiba-tiba tidak terkunci dengan benar? Apakah ada yang membuka dan mengambil barangnya ketika kopernya masih di bagasi pesawat, pikirnya.

Jiyong pun segera membuka kopernya dan oow alangkah kagetnya dia begitu mendapati isi kopernya adalah baju, underwear dan perlengkapan seorang yeoja. Hem, koper siapa ini, apakah ini milik Dara, karena dari bandara Incheon, Jiyong yakin bahwa dia membawa koper yang benar, pikir Jiyong. Namun, Jiyong tertarik ketika melihat sesuatu, lebih tepatnya sebuah benda, yah ada sebuah boneka coklat yang dia temukan di koper itu. Dan di bawah boneka tersebut, Jiyong melihat sebuah selimut halus seperti sengaja ditaruh sebagai tempat tidur untuk boneka tersebut. “Aisht, apakah yeoja ini masih bermain boneka seperti ini, tidakkah dia ingat berapa umurnya sekarang” gumam Jiyong. Tapi semakin Jiyong melihat boneka itu, Jiyong seperti pernah mengenal boneka itu, tidak asing dengan boneka yang sekarang sedang dia pegang. “Apakah boneka ini sama dengan boneka yang pernah kukenal? Dan apakah Dara adalah gadis kecil itu?” gumamnya. Namun, dia berpikir lagi, boneka seperti ini pasti banyak dijual dan tidak mungkin jika gadis kecil itu adalah Dara.

Setelah Jiyong menutup kembali koper tersebut, yang diyakininya adalah milik Dara, maka Jiyong pun segera bergegas menuju kamar Dara yang terletak di depan kamarnya persis. Jiyong mengetuk pintu kamar Dara namun tidak ada jawaban. Ketika Jiyong memegang handle pintu kamar Dara, ternyata pintunya langsung terbuka. “Aisht, yeoja ini ceroboh sekali, masa pintu kamarnya tidak dikunci. Bagaimana jika ada orang asing atau orang jahat yang masuk ke kamarnya.” Gerutu Jiyong sambil memasuki kamar Dara setelah menutup pintu terlebih dahulu. Setelah Jiyong menaruh kopernya di dalam, dia pun segera memanggil Dara.

“Dara-ssi, apakah kau di dalam? Maaf aku lancang masuk, kau tidak mengunci pintumu dengan benar. Bagaimana jika ada orang asing yang berniat berbuat jahat padamu? Aisht, kau ini sungguh cero..boh.” Ucapan Jiyong terhenti ketika Dara tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan hanya ditutupi sehelai handuk, sehingga memperlihatkan kulit putih mulusnya. Ditambah dengan rambutnya yang basah sehingga menambah aura keseksian yang dipancarkan olehnya.

Jiyong pun hanya bisa terpana melihat pemandangan yang sangat indah yang sekarang sedang tersaji di depannya sehingga membuat matanya tidak berkedip sedikitpun. Jiyong menyukai pemandangan ini, ditambah dia selalu suka ketika melihat seorang wanita dengan rambut yang basah sehabis mandi, karena menurutnya, wanita terlihat paling seksi ketika rambutnya basah sehabis mandi. Aigo, jantung Jiyong pun semakin berdetak kencang tak karuan ketika Dara tidak juga menyadari kehadiran Jiyong dan Dara malah bernyanyi untuk dirinya sendiri.

Jiyong mencoba mengatur nafas dan mengendalikan dirinya untuk tidak langsung memeluk Dara yang saat ini benar-benar menggoda. “Tenang Ji, kendalikan dirimu, kau harus bisa mengendalikan ‘temanmu’ di bawah sana yang mulai bangun karena efek pemandangan yang indah ini.” Gumam Jiyong sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya. Setelah dirasa dirinya cukup tenang, Jiyong lalu memanggil Dara.

“Hem, err, Dara-ssi.” Ucap Jiyong dengan suara yang berusaha dibuat setenang mungkin.

Dara yang mendengar suara seseorang langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung terkejut mengetahui bahwa Jiyong ada di kamarnya dan dengan keadaan dirinya sekarang yang hanya berbalut handuk.

“Kyaaah, Ji-Jiyong-ssi, apa yang kau lakukan di kamarku! Kyaah, pervert, cepat kau keluar dari kamarku sekarang!” jerit Dara setelah melihat Jiyong yang masih memandang ke arahnya.

“Aisht, tenanglah Dara, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Tenang saja, aku tidak tertarik untuk berbuat hal semacam itu padamu.” Ucap Jiyong berusaha mengendalikan dirinya lagi dengan suara yang dibuat se-cool mungkin untuk berbohong atas apa yang sedang dirasakannya saat ini melihat Dara yang sangat indah. Padahal kenyataannya dia ingin sekali langsung menjadikan Dara miliknya saat ini juga, hehe, yadong mode on. Namun dia tidak ingin menjadi namja yang kurang ajar, yang tidak menghormati wanita, karena appanya selalu mengajarkan Jiyong untuk menjadi laki-laki sejati yang tidak pernah mempermainkan wanita. Dan Jiyong selalu ingat petuah appanya, karena dia tidak ingin mengecewakan orangtuanya jika dia menjadi namja yang brengsek. Ingat, dia adalah good son, hehe.

“Oh ok, baiklah, a-aku pegang kata-katamu itu, Jiyong-ssi. Hem, mau apa kau kesini?” Tanya Dara memberanikan diri setelah berusaha percaya pada kata-kata Jiyong.

“O-oh itu, iya aku lupa. Ini, sepertinya koper kita tertukar Dara-ssi. Karena koper yang kubawa ini berisi baju dan perlengkapan seorang yeoja. Dan, aisht, kau lupa untuk mengunci kopermu Dara-ssi, makanya aku bisa membukanya dan baru tahu bahwa koper kita tertukar.” Ujar Jiyong menjelaskan maksud kedatangannya.

“Ditambah lagi, pintumu tadi tidak kau kunci. Oleh karena itu aku bisa masuk ke kamarmu. Aisht, lain kali jangan lupa untuk mengunci pintumu, ok. Jangan sampai nanti ada orang asing yang mungkin saja berniat jahat padamu bisa masuk ke kamarmu dengan leluasa.” Ucap Jiyong menambah penjelasannya ketika melihat wajah penuh tanya Dara yang menyiratkan pertanyaan kenapa Jiyong bisa masuk ke kamarnya.

“Aisht, chincha? Pintunya tidak terkunci? Aisht, pabo Dara, tapi tadi sepertinya aku sudah mengunci pintunya, apakah kurang benar aku menguncinya.” Gumam Dara bertanya pada Jiyong atau lebih tepatnya bertanya untuk dirinya sendiri.

“Sudah, cepat kau pakai bajumu, Dara-ssi. Jangan sampai aku berubah pikiran.” Ucap Jiyong sambil memamerkan smirk-evilnya.

Dara pun segera mengambil koper yang dibawa Jiyong dan mengambil baju, celana juga underwearnya dan segera masuk ke kamar mandi lagi untuk memakai baju di sana. Dia tidak ingin Jiyong melihatnya ganti baju.

Selama Dara di kamar mandi, Jiyong pun segera mengambil koper miliknya yang benar, yang masih tergeletak di lantai kamar Dara. Setelah berhasil membuka koper miliknya, Jiyong pun yakin bahwa koper itu memang kopernya dan kopernya memang benar tertukar dengan milik Dara karena koper mereka berdua sama persis.

Tak lama kemudian, Dara pun keluar dari kamar mandi dengan memakai t-shirt dan jeans, yah gaya yang sangat casual, namun Jiyong suka melihatnya, karena itu berarti Dara bukanlah tipe yeoja yang banyak tingkah seperti yeoja-yeoja yang sering mendekatinya.

“Baiklah Dara-ssi, aku mau pamit kembali ke kamarku. Aku sudah mendapatkan koper milikku yang benar. Sekarang aku mau menyegarkan diriku juga dengan mandi. Dan maaf jika aku lancang masuk ke kamarmu, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin mengantarkan kopermu yang tertukar dengan koperku.” Ujar Ji sambil berjalan menuju pintu keluar.

“Gwenchana, Jiyong-ssi, aku yang berterimakasih karena kau sudah mau repot-repot mengantarkan koperku. Tapi aku masih tidak habis pikir kenapa koper kita bisa tertukar.” Dara berkata sambil tersenyum.

“Entahlah Dara-ssi, mungkin hanya sebuah insiden kecil. Karena koper kita sama persis. Oh iya, dan satu lagi, lain kali jangan lupa mengunci kopermu, arra.” Jawab Jiyong sambil melambaikan tangannya memegang handle pintu kamar Dara.

Namun, ketika Jiyong berusaha membuka pintu, entah kenapa pintunya tidak bisa terbuka, seperti terkunci sendiri. Jiyong pun tetap berusaha beberapa kali sekuat tenaganya agar pintu segera terbuka, namun hasilnya sia-sia. Sekuat apapun tenaga yang Jiyong keluarkan, namun pintu tetap tidak mau terbuka.

“Aisht, sepertinya pintu ini kuncinya rusak, karena tiba-tiba terkunci sendiri, padahal tadi aku hanya menutupnya.” Gumam Jiyong.

“Kenapa Jiyong-ssi? Ada apa dengan pintunya? Apa pintunya tidak bisa dibuka? Aisht, kurasa kuncinya mungkin macet atau bermasalah, karena tadi aku yakin aku sudah menguncinya sebelum aku mandi, namun kau berkata bahwa pintunya tidak terkunci.” Ucap Dara sambil mendekati Jiyong.

“Iya, kurasa kuncinya bermasalah, karena pintunya tidak bisa dibuka.” Jawab Jiyong sambil tetap berusaha membuka pintu tersebut.

“Aisht, sial, tetap tidak bisa dibuka!” ucap Jiyong sambil menendang pintu tersebut.

“Aku akan menghubungi Seungri agar dia bisa membantu kita.” Ucap Jiyong sambil mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Seungri.

“Yeoboseoyo hyung, ada apa?” jawab Seungri di ujung telepon.

“Yah Ri, cepat kau ke kamar Dara, dan bawa teknisi hotel bersamamu, sepertinya kunci kamar Dara bermasalah, karena pintunya tidak bisa dibuka. Dan sekarang aku tidak terjebak di dalam bersama Dara, tidak bisa keluar dari kamar.” Ucap Jiyong memerintah.

“Bwoh, hyung, bagaimana kau bisa ada di kamar Dara noona? Apa yang kau lakukan berdua dengan noona? Yah, hyung, ternyata kau naksir Dara noona ya? Woah, hyungku mulai nakal dengan yeoja.” Jawab Seungri.

“Yah Lee Seungri! Jangan berpikiran macam-macam dan jangan banyak tanya. Sekarang cepat kau hubungi pihak hotel agar segera dapat mengirimkan teknisinya secepat mungkin untuk memperbaiki pintu ini!” jawab Jiyong dengan suara yang meninggi.

“Oh, baiklah hyungku yang sedang kasmaran. Kau tenang-tenanglah dengan Dara noona di dalam kamarnya, aku akan berusaha secepat mungkin untuk membuka pintu tersebut. Atau, kau mau selama aku bisa agar kau bisa berduaan lebih lama dengan Dara noona?” goda Seungri.

“Yah Ri! Kau, tut tut tut.” Ucapan Jiyong terputus karena Seungri langsung mematikan ponselnya untuk menghindari amarah lainnya dari Jiyong. “Aisht, panda ini, lihat saja nanti hukumanmu.” Gumam Jiyong.

“Hem, bagaimana Jiyong-ssi, apakah Seungri bisa membantu kita?” Tanya Dara membuat Jiyong menoleh kepadanya.

“Iya, dia akan segera ke sini membawa teknisi untuk memperbaiki pintu ini. Dan aku harap, itu tidak akan memakan waktu yang lama.” Ujar Jiyong sambil mendesah dan berjalan ke arah sofa yang ada di kamar Dara. Dan diikuti oleh Dara yang juga berjalan menuju ke tempat tidurnya dan segera duduk di pinggir tempat tidur.

Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan ternyata Seungri sudah datang bersama dengan seorang teknisi hotel. Jiyong pun segera berjalan kembali ke arah pintu, sementara Dara masih duduk di tepi ranjang.

Setelah lama berusaha dengan pintu tersebut, terdengar suara Seungri yang berbincang-bincang dengan teknisi tersebut. Lalu terdengar suara Seungri. “Hyung, teknisinya bilang jika anak kuncinya harus diganti karena kuncinya patah di dalam. Jadi ini akan membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, mungkin sekitar satu jam hyung. Karena teknisinya perlu mengambil terlebih dahulu stock yang ada di gudang, dan gudangnya ada di dekat hotel ini, sekitar 15 menit perjalanan dari sini. Jadi, kau nikmatilah dulu waktumu berduaan dengan Dara noona, oke hyung!” ucap Seungri dari balik pintu sambil tersenyum jahil.

“Aisht, baiklah, jangan lama-lama Ri, aku tidak enak dengan Dara.” Balas Jiyong dan Jiyong pun segera menghampiri Dara.

“Dara, maafkan aku, Seungri bilang teknisinya butuh waktu sekitar satu jam untuk memperbaiki pintu tersebut karena dia harus mengambil terlebih dahulu stock anak kunci di gudang.” Ucap Jiyong mencoba menjelaskan kepada Dara.

“Oh, baiklah, ti-tidak apa-apa Jiyong-ssi, aku mengerti.” Jawab Dara yang langsung canggung dengan situasi ini. Yah, siapa yang tidak akan canggung jika situasinya seperti ini. Seorang namja dan yeoja yang baru mengenal berada di dalam kamar yang sama karena sebuah insiden! Aigo, Dara berdoa dalam hatinya semoga namja ini tidak akan berbuat macam-macam.

“Hem, Dara-ssi, bolehkah aku mandi di kamar mandimu? Karena aku sudah tidak tahan lagi, badanku sudah lengket sekali.” Jiyong meminta izin kepada Dara. Seketika itu juga mata Dara langsung melebar. Omo, bagaimana ini, pikirnya. Namun dia juga merasa kasihan pada Jiyong, sehingga dia akhirnya memperbolehkan Jiyong untuk mandi di kamar mandinya.

Setengah jam kemudian, Jiyong keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap dan itu membuat Dara lega, karena dia tidak harus melihat seorang namja bertelanjang dada keluar dari kamar mandi. Yah, walaupun dia sering melihat adiknya, Sanghyun ketika sehabis mandi, tapi itu tetap beda, Sanghyun adalah adiknya sendiri, sehingga dia tidak merasa canggung.

Jiyong perlahan berjalan menuju sofa tempat Dara duduk sekarang. Dara duduk di sofa sambil menonton televisi, namun pandangannya tertuju kepada Jiyong yang kini tengah duduk di sampingnya, ikut menonton televisi. Dan ketika Jiyong duduk di sebelahnya, Dara dapat mencium aroma Jiyong, seperti aroma bayi, ya itu dikarenakan Jiyong yang memakai sabun bayi. Dan juga bau parfum yang Jiyong pakai, oh bau ini sangat lembut namun maskulin, Dara suka dengan aroma ini.

Keterpesonaan Dara pada Jiyong terhenti saat terdengar suara pintu yang terbuka. Pintu sudah selesai diperbaiki. Pada saat itulah, Seungri masuk dan segera menghampiri mereka berdua.

“Yah, pengantin baru, apa yang sedang kalian lakukan, hah?” Tanya Seungri menggoda Jiyong dan Dara.

Jiyong yang melihat Seungri berjalan mendekatinya langsung berdiri dan menjitak kepala Seungri ketika Seungri sudah berada di sampingnya.

“Yah, appo hyung. Kau bukannya berterimakasih padaku malah memukulku. Dara noona, tolong kau balas menghukum Ji hyung.” Rajuk Seungri pada Dara yang malah dibalas dengan jitakan yang lebih keras dari Jiyong.

“Ayo sekarang kita keluar Ri. Err, Dara, terimakasih sudah mengizinkanku memakai kamar mandimu. Dan maaf atas insiden pintu ini.” Ucap Jiyong sambil menyeret Seungri untuk keluar dari kamar Dara.

“Yah, hyung! Kalian sudah melakukan hal apa sehingga kau sampai perlu mandi di kamar Dara noona?” teriak Seungri dengan wajah yang mesum.

“Yah, Ri! Kau jangan berpikiran macam-macam! Sudah, ayo kita keluar, dan biarkan Dara beristirahat. Dara gomawo, dan jangan lupa kita ketemu nanti malam di restoran untuk makan malam dan meeting dengan rekan bisnisku. Kita akan menemui beberapa klien selama di sini, arra.” Ucap Jiyong sambil berjalan menuju pintu dengan satu tangan tetap menyeret Seungri, sementara tangan lainnya membawa koper. Dara pun mengikuti mereka berdua sampai di pintu kamarnya.

Ketika sudah sampai di luar kamar, Jiyong berhenti dan berbalik ke arah Dara. “Dan jangan lupa untuk mengunci pintu kamarmu dengan benar, arra!” ucap Jiyong berjalan menuju kamarnya dan lalu memerintah Seungri untuk membawakan kopernya ke dalam kamarnya.

“Arraso, bos.” Ucap Dara sambil menganggukkan kepalanya. Lalu Dara segera masuk ke kamarnya untuk segera beristirahat sejenak sebelum meeting dengan klien Jiyong malam nanti.

Malamnya, meeting dengan klien yang Jiyong maksudkan berjalan dengan lancar. Mereka bertiga pun segera kembali ke kamar masing-masing setelah meeting selesai. Mengistirahatkan diri masing-masing serta mempersiapkan untuk meeting esok hari yang dijadwalkan pada jam makan siang di restoran dekat hotel tempat mereka menginap.

Keesokan paginya, Dara, Jiyong dan Seungri sedang berada di restoran hotel untuk sarapan bersama. Suasana sarapan pagi itu penuh dengan lelucon-lelucon yang dilontarkan oleh Seungri. Mereka bertiga sekarang mulai akrab dan Dara pun sudah tidak terlalu merasa canggung kepada Seungri dan Jiyong, khususnya Seungri, karena Seungri bisa membuat Dara merasa nyaman untuk berteman dengannya. Tapi dengan Jiyong, Dara sesekali masih merasa gugup karena pembawaan Jiyong yang cuek dan agak dingin, berbeda dengan Seungri yang ramah dan hangat. Walaupun begitu, Dara tahu bahwa Jiyong adalah namja yang baik, karena hal itu sudah terbukti ketika mereka terkunci bersama di kamar Dara kemarin.

Sarapan sudah selesai dan mereka bertiga akan segera kembali ke kamar masing-masing. Ketika Dara sudah berdiri dan mulai berjalan meninggalkan restoran, tanpa sengaja Dara tersandung kaki kursi yang tadi Jiyong duduki. Dara pun kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh di lantai andai saja Jiyong tidak sigap menangkap tubuh kecil Dara. Belum hilang keterkejutan Dara karena akan terjatuh, ketika Dara merasakan ada yang ganjil, tangan Jiyong tidak sengaja memegang payudara Dara untuk menahan agar Dara tidak terjatuh! Jadi posisi Jiyong tepat di samping Dara dan tangannya tidak sengaja memegang asset Dara dengan refleks ketika Dara tersandung.

Ketika Jiyong menyadari hal tersebut, Jiyong langsung berubah panik dan segera melepaskan tangannya yang menempel di badan Dara dan hal itu tentu menyebabkan tubuh Dara kembali limbung dan akan terjatuh lagi, sehingga Jiyong kembali dengan sigap menahan tubuh Dara kembali, namun kali ini Jiyong memegang bahu Dara demi menghindari kesalahan lagi. Namun hal itu malah menyebabkan tubuh Dara menjadi limbung dan akan terjatuh ke belakang. Jiyong lagi-lagi dengan sigap menahan tubuh Dara, sehingga pemandangannya menjadi seperti adegan di film-film romantis, lengan Jiyong menahan tubuh Dara di bagian punggung dan mata mereka kini saling tatap untuk beberapa saat. Satu..dua..tiga..empat..lima detik berlalu dan mereka masih membeku dengan saling menatap satu sama lain, Jiyong tenggelam dalam kecantikan Dara, begitupun Dara tenggelam akan pesona kuat yang ada pada Jiyong.

Seungri yang melihat pemandangan tersebut hanya tersenyum kecil. Lalu Seungri pun berdeham sambil berkata “Ekhem, hyung, noona, apakah sekarang kalian bisa saling melepaskan diri? Karena aku jadi rindu pada yeojachinguku apabila kalian terus seperti itu.” Ujarnya dengan pandangan yang menggoda keduanya.

Setelah mendengar ucapan Seungri, barulah Jiyong dan Dara sadar. Dara segera berusaha berdiri tegak dibantu oleh Jiyong dan mereka saling melepaskan diri. Namun suasana setelah insiden tadi menimbulkan kecanggungan diantara mereka berdua.

Jiyong segera meminta maaf karena tadi tidak sengaja memegang aset Dara. “Err, Dara, aku minta maaf atas kejadian tadi, aku benar-benar tidak ada maksud untuk melakukan tindakan yang tidak pantas seperti tadi.” ucap Jiyong sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

“Err, ti-tidak apa-apa Jiyong. Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau sudah menolongku sehingga aku tidak terjatuh. Err, lupakan soal insiden memalukan tadi, aku tahu kau tidak bermaksud memegangnya.” Ucap Dara dengan wajah yang masih tertunduk malu.

“Ba-baiklah, Ji-Jiyong, Seungri, aku akan duluan ke kamarku untuk menyiapkan segala sesuatu untuk meeting kita siang nanti.” Kata Dara sambil berjalan melewati Jiyong dan Seungri tanpa melihat wajah mereka lagi karena Dara masih merasa malu.

“Aisht, pabo Dara, lagi-lagi kau melakukan hal bodoh yang menyebabkan sesuatu yang memalukan.” Gumam Dara sambil berjalan cepat menuju lift tanpa melihat ke belakang lagi. Setelah sampai di lift, barulah Dara merasa lega. “Kyaah, lagi-lagi kau pabo Dara, pabo, pabo.” Teriak Dara di dalam lift. Untunglah hanya ada Dara seorang di lift, jadi dia tidak akan merasa malu lagi karena sudah berteriak.

Sementara itu, setelah Dara masuk dalam lift dan tidak terlihat lagi, Seungri mendekati Jiyong dan langsung merangkul pundaknya sambil menggoda Jiyong.

“Aigo, hyungku sepertinya sedang jatuh cinta. Jangan menyangkal jika kau tidak terpesona pada Dara noona, hyung. Aku bisa melihat itu dari matamu. Andai aku belum mempunyai Minzy, aku pasti akan mendekati Dara noona, karena dia sangat cantik dan juga yeoja yang sederhana.” Ujar Seungri sambil menaik-turunkan alisnya menggoda hyungnya itu.

“Aisht Ri, kau jangan sok tahu.” Ucap Jiyong dibuat se-cool mungkin walaupun sekarang jantungnya masih berdetak kencang akibat insiden tadi.

“Baiklah jika kau belum mau mengakuinya, hyung. Aku hanya ingin mengingatkan saja agar kau jangan sampai terlambat menyadari perasaanmu, karena kuyakin banyak namja yang menginginkan Dara noona untuk menjadi kekasihnya hyung. Jadi jangan sampai kau gigit jari dan patah hati bahkan sebelum kau menyatakan cintamu pada noona.” Ujar Seungri sambil berjalan meninggalkanku.

“Yah, Ri! Apa maksudmu hah?! Apa kau juga bermaksud mendekati Dara? Andwe, jangan sampai kau berani melakukannya. Aku peringatkan kau, Ri!” teriak Jiyong sambil berlari perlahan mengejar Seungri yang sudah berada di depan pintu lift.

“Aniyo, tenang saja hyung. Aku tidak ada niat untuk menjadikan Dara noona sebagai yeojachinguku. Aku kan tadi sudah bilang bahwa aku sudah mempunyai Minzy-ah. Aku sudah tobat sebagai playboy semenjak aku berpacaran dengannya hyung, karena aku tidak ingin menyakiti hatinya yang tulus mencintaiku. Lagipula aku sudah bahagia dengannya dan semakin hari dia membuatku semakin mencintainya hyung. Lain waktu akan kukenalkan kau dengan Minzy-ah. Mungkin kita bisa double date hyung, aku dengan Minzy, dan kau dengan Dara noona, hihi.” Ucap Seungri sambil masuk ke dalam lift diikuti dengan Jiyong yang hanya melotot kepadanya tanpa berkata apa-apa.

Siangnya, di Restoran yang sudah disepakati

Jiyong, Seungri dan Dara sudah sampai di restoran dekat hotel tempat mereka menginap. Mereka sedang duduk di sebuah meja yang sudah dibooking sebelumnya oleh Seungri untuk menjamu klien mereka. Jiyong dan Dara masih merasa canggung karena kejadian tadi pagi, tapi Seungri berusaha mencairkan Susana canggung tersebut dengan gurauan-gurauan garingnya dan mulai menceritakan mengenai yeojachingunya sebagai topik pembicaraan.

Jiyong mendengarkan cerita Seungri namun matanya diam-diam menatap Dara. Bagi Jiyong, saat ini Dara sangat cantik dan menawan dengan baju yang dipakainya. Dara memakai tank top pink dan rok di atas lutut dipermanis dengan belt yang dikenakannya serta kalung sebagai aksesoris tambahan. Rambut Dara hanya diikat ke belakang, namun dengan penampilannya tersebut membuat pesona Dara semakin terpancar. Orang-orang di restoran memandang ke arah Dara, khususnya para pria yang terus memandangi Dara tanpa berkedip. Dara yang menyadari bahwa orang di sekelilingnya sedang memandanginya, merasa canggung, tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Jiyong yang juga menyadari hal tersebut juga merasa kesal, tidak rela jika pria lain memandangi Dara seperti kucing yang akan menerkam tikus. Namun Jiyong tidak dapat berbuat apa-apa ataupun marah kepada mereka karena dia tahu bahwa dia bukan siapa-siapa bagi Dara.

Begini kira-kira penampilan Dara :

Jiyong melihat klien yang mereka tunggu sudah tiba. Dia merupakan seorang pebisnis muda yang berasal dari Korea Selatan juga, namun sekarang dia sudah menetap di Hongkong. Dengan segera Jiyong berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah kliennya untuk memberi salam. Ketika melihat Jiyong berdiri, Dara dan Seungri yang tadinya sedang mengobrol ikut berdiri juga hendak memberi salam. Namun betapa terkejutnya Dara ketika melihat klien yang sekarang sedang bersalaman dengan Jiyong. Dara mencoba meyakinkan penglihatannya lagi dan berharap bahwa penglihatannya salah. Berada tidak jauh dari tempat duduknya, terlihat seorang Lee Donghae sedang bersalaman dengan Jiyong. Donghae tidak sendiri, ada seorang gadis cantik berdiri di sampingnya sambil memeluk tangan Donghae dengan sangat mesra. Ya benar, itu adalah Lee Donghae, mata Dara tidak salah mengenali pria itu, pria yang dulu sangat dicintai oleh Dara, namun dia juga pria yang menghancurkan hati Dara menjadi berkeping-keping.

Dara pun hanya bisa diam terpaku masih terkejut dengan kenyataan bahwa klien yang akan ditemuinya adalah Donghae oppanya. Seketika hatinya langsung terasa sakit, teramat sakit, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Dara dan hal itu tidak luput dari penglihatan Seungri, namun Seungri tidak berani bertanya apa-apa.

Tak lama kemudian, Jiyong beserta Donghae dan tunangannya berjalan menuju tempat Dara dan Seungri berada. Jiyong lalu memperkenalkan Donghae dan tunangannya kepada Seungri dan Dara.

“Seungri, Dara, perkenalkan klien yang akan menjalin kerjasama dengan kita nantinya, Lee Donghae dan Jung Krystal.” Ujar Jiyong memperkenalkan kliennya.

Mata Donghae terbelalak lebar dan bibirnya kelu tidak dapat berkata apa-apa ketika dia melihat Dara, ya dia Sandara Park, yeoja yang pernah mengisi hari-harinya dan seseorang yang pernah dia sakiti, walaupun Donghae tidak bermaksud menyakitinya. Daralah yeoja yang selama dua tahun kemarin masih berusaha dicari oleh Donghae untuk menjelaskan kesalahpahaman yang telah terjadi, kesalahpahaman yang terjadi karena kebodohan seorang Lee Donghae sehingga dia menyakiti yeoja yang juga mulai mencuri hatinya. Dua tahun dia mencari Dara yang menghilang setelah lulus kuliah, namun dia tidak pernah berhasil menemukan Dara yang seperti hilang ditelan bumi, sampai akhirnya dia menyerah dan mengikuti perintah appanya untuk bertunangan dengan Jung Krystal, anak rekanan bisnisnya.

Hati Donghae pun terasa sakit saat melihat Dara, yeoja yang selama ini dicarinya, yeoja yang sudah disakitinya, seorang yeoja berhati tulus yang pernah ada di hidup Donghae. Dan sekarang dia bisa bertemu dengan Dara, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah ada Krystal disampingnya sekarang. Walaupun Donghae saat ini sangat ingin memeluk Dara dengan erat dan meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan, namun Donghae hanya bisa terpaku menatap Dara yang sekarang sedang menundukkan wajahnya, yang Donghae tahu pasti Dara sedang menahan air matanya yang akan jatuh.

Dara hanya membungkukkan badannya untuk menyapa Donghae dan Krystal, diikuti oleh Seungri yang langsung bisa membaca situasi yang saat ini sedang terjadi. Setelah dibalas dengan Donghae dan Krystal yang juga membungkukkan badan, maka mereka semua pun duduk mengelilingi meja, dengan Seungri berada di sebelah kanan Dara dan Donghae berada di depan Dara, sementara Jiyong duduk di sebelah Donghae. Mereka pun mulai membicarakan kerjasama yang akan mereka lakukan, namun Donghae masih terpecah konsentrasinya antara mendengarkan Jiyong tentang kerjasama mereka dan terus diam-diam memperhatikan wajah Dara yang masih terus menunduk, sementara Krystal masih terus berpegangan manja pada lengan kanannya.

Seungri yang tahu akan keadaan Dara, langsung memegang tangan Dara yang gemetar untuk menguatkan Dara. Dara yang kaget karena Seungri menggenggam tangannya, langsung menoleh pada Seungri, masih dengan mata yang berkaca-kaca, lalu langsung menundukkan wajah kembali guna menahan air matanya agar tidak terjatuh. Dara tidak mau mengacaukan meeting Jiyong dengan klien potensialnya walaupun itu berarti Dara harus menahan rasa sakit yang menyengat di hatinya. Kenangan menyakitkan tentang Donghae pun kembali hadir menghampiri Dara.

 

Flashback

Dara POV

Sebulan telah berlalu dan sekarang Dara sudah menjadi sangat dekat dan akrab dengan Donghae oppa. Hubungan mereka pun bisa dibilang lebih dari sekedar teman biasa dengan segala perhatian yang Donghae berikan untuk Dara. Mereka sering pergi nonton ataupun sekedar makan siang berdua. Dara merasa sangat bahagia dengan perhatian yang Donghae berikan dan rasa cinta itu semakin besar di hati Dara.

Yah, siapa yang tidak akan merasa bahagia apabila seorang namja tampan, baik hati, dan popular di Universitasnya selalu ada untuknya, menghabiskan waktu berdua dengannya apabila sedang jam istirahat ataupun sedang tidak ada kuliah. Rasa gugup ketika berdekatan dengan seorang namja pun hilang sudah dengan segala sikap manis Donghae. Sahabatnya, Park Bom pun merasa bahagia dengan Dara yang sekarang lebih percaya diri dan lebih ceria.

Sampai suatu hari, Dara berniat memberikan bekal sarapan untuk Donghae yang khusus dibuat oleh Dara dengan penuh cinta. Dara tahu bahwa hari ini Donghae oppanya ada jadwal kuliah pagi, jadi Dara pergi ke kampus pagi-pagi hanya untuk memberikan bekal sarapan untuk Donghae walaupun Dara ada jadwal baru siang nanti. Ketika sedang berjalan menuju kelas Donghae, Dara pun melihat bahwa Donghae oppanya sedang berjalan masuk ke dalam kelas bersama sahabatnya, Choi Siwon, yang juga merupakan namja popular di kampusnya.

“Ah, itu dia Donghae oppa.” Gumam Dara. Ketika Dara akan memanggil Donghae oppanya, tiba-tiba Dara mendengar suara Siwon yang sedang berbicara dengan Donghae oppanya.

“Jadi, bagaimana Donghae, apakah kau sudah bisa menaklukan hati si gadis ceroboh itu, hah?” Tanya Siwon dan Donghae tidak menjawabnya.

“Jangan lupa waktumu sebentar lagi akan habis, jika kau tidak bisa menjadikan Dara sebagai kekasihmu, maka kau akan kalah dalam taruhan kita dan siap-siap kehilangan mobilmu, arra, hahaha.” Terdengar tawa Siwon.

“Aisht, jangan kau ingatkan lagi tentang taruhan itu. Mobilku tidak akan pernah menjadi mobilmu, asal kau tahu itu! Lagipula aku yakin bahwa Dara mencintaiku, aku bisa melihat dari matanya.” Jawab Donghae.

“Jadi, jangan kau berani menyentuh mobilku arra! Dan sebentar lagi aku akan menyatakan cintaku kepada Dara dan aku yakin bahwa pasti akan menerimaku. Siapa yang akan menolak kharisma seorang Lee Donghae, hahaha.” Ucap Donghae menyombongkan dirinya.

Oh, hatiku langsung hancur berkeping-keping. Ternyata selama ini Donghae oppa hanya menjadikanku taruhan baginya. Dia tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Apakah semua perhatian yang dia berikan untukku hanyalah palsu belaka? Aisht, pabo Dara! Tentu saja pasti itu semua hanya sandiwaranya untuk memenangkan taruhan ini. Ah, hatiku rasanya sakit, dada ini terasa sangat sakit mendengar ucapan Donghae oppa. Orang yang sebulan ini selalu berada disampingku, melindungiku, memperlakukanku seperti seorang putri, ternyata hanya berniat mempermainkanku. Padahal perasaanku tulus mencintai Donghae oppa, kenapa oppa, kenapa? Tangisku dalam diam. Perlahan air mataku pun jatuh dan semakin deras seiring dengan sakit yang semakin menjadi-jadi di dadaku ini. Aku pun mendengar Donghae oppa berbicara lagi kepada Siwon oppa.

“Kau tahu, Dara sangat lugu dan lucu, aku rasa aku..” ucapan Donghae oppa terpotong karena aku menjatuhkan bekal sarapan yang tadinya aku ingin berikan padanya. Terdengar suara klontang dari tempat makan yang aku bawa dan itu langsung menarik perhatian Donghae dan Siwon oppa. Donghae oppa langsung melihat ke arah sumber suara dan itu adalah ke arahku. Ketika Donghae oppa melihattku dan mata kami bertemu, air mataku semakin deras jatuh dan hati ini semakin sakit, sangat sakit sehingga aku pun segera berbalik menjauh dari kelasnya dan aku pun mulai berlari sebisaku, walaupun kaki ini sungguh sangat terasa berat. Sempat kudengar Donghae oppa berteriak memanggil namaku, namun tidak kuhiraukan dan aku semakin mempercepat lariku.

Semenjak hari itu, aku selalu berusaha menghindari Donghae oppa. Aku tidak masuk kuliah hampir dua minggu lamanya. Dan ketika aku mulai kembali kuliah, apabila jadwalku berbarengan dengan jadwal Donghae oppa, aku akan bolos mata kuliah tersebut. Kudengar juga dari Bommie, bahwa Donghae oppa selalu mencariku, namun Bommie yang sudah mengetahui apa yang sudah kudengar waktu itu, selalu bersikap dingin pada Donghae oppa, bahkan pernah hampir memukulnya.

Sampai aku lulus kuliah, aku berhasil menghindari pertemuan dengan Donghae oppa dengan berbagai macam cara. Aku sudah tidak mau lagi melihat wajahnya karena itu akan semakin membuatku sakit. Perlahan-lahan aku mulai menyembuhkan diriku sendiri. Dan setelah hatiku mulai perlahan sembuh, aku bertekad bahwa aku harus menjadi seorang yeoja yang kuat, seorang yeoja yang bisa melindungi diriku sendiri. Yeoja yang tidak dipandang remeh oleh orang lain, agar tidak mudah dipermainkan oleh orang lain.

Oleh karena itu, saat Chaerin membuka usaha bodyguard, aku pun meminta Chaerin untuk memperbolehkanku bekerja padanya. Aku ingin belajar menjadi yeoja yang kuat, yeoja yang bisa beladiri, yeoja yang disegani oleh orang, dan dihormati oleh orang lain.

Donghae POV

Aku sedang berbincang mengenai taruhan dengan Siwon, dan aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan kalah taruhan, karena aku yakin bahwa Dara juga menyukaiku. Aku sangat yakin bahwa besok ketika aku akan menyatakan cintaku padanya, dia akan langsung menerimaku. Aku mulai merasa bahwa aku juga mulai jatuh cinta padanya. Yah padanya, pada Sandara Park, seorang yeoja ceroboh yang terkenal di kampus karena kecerobohan tingkat tingginya. Saat Siwon menantangku untuk bertaruh apakah aku dapat menaklukan hatinya, aku dengan sangat percaya diri menerima tantangannya, karena siapa yang akan menolak kharisma seorang Lee Donghae, namja berwajah malaikat seperti yang biasa aku dengar jika para yeoja di kampus sedang menggosip tentangku.

Namun, setelah aku berhasil dekat dengan Dara belakangan ini, aku mulai merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku berdebar jika dekat dengannya, dan merasakan rindu jika sehari saja aku tak melihatnya. Dan besok aku akan menjadikannya milikku seorang. Persetan dengan taruhan ini, aku tidak peduli. Lagipula, aku pasti akan menang karena aku yakin jika Dara juga mencintaiku.

“Kau tahu, Dara sangat lugu dan lucu, aku rasa aku..” klontang, ucapanku terhenti ketika kudengar suara benda terjatuh. Aku mencari sumber suara dan di sana, kulihat Dara sedang berdiri dekat jendela dengan air mata yang sudah jatuh di pipinya.

Oh tidak, apakah dia mendengar percakapanku dan Siwon tadi? pikirku. Aisht, pabo kau Donghae, tentu saja pasti dia mendengarnya, kau pasti bisa melihat dari matanya yang sudah sembab. Dara, tunggu dulu, kau jangan salah paham dulu, aku tadi baru mau mengatakan pada Siwon bahwa aku rasa aku mulai menyukaimu Sandara, pikirku.

Kulihat dia berbalik pergi dan berlari secepat yang dia bisa. Aku coba memanggil dan mengejarnya, namun dia semakin cepat berlari hingga tidak terlihat lagi. Itulah terakhir kali aku melihatnya. Rasanya aku ingin sekali menghukum diriku sendiri, aku sudah menyakiti hati seorang yeoja yang kucintai, yang sebulan ini sudah mengisi hari-hariku dengan keceriannya.

Setelah kejadian itu, aku menceritakan perasaanku yang sebenarnya terhadap Dara kepada Siwon. Siwon pun meminta maaf karena sudah membuat Dara tidak mau melihatku lagi. Ya, semenjak hari itu, aku tidak pernah sekalipun melihat Dara di kampus. Dara selalu menghindariku dengan berbagai cara dan itu selalu berhasil. Sahabat baiknya pun, Park Bom, tidak mau membantuku walaupun aku sudah berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Dia malah hampir memukulku waktu dia tahu bahwa aku sudah sangat menyakiti Dara. Yah, aku tidak menyalahkannya, memang akulah yang salah.

Aku terus mencarinya sampai hari wisudaku, sampai dua tahun setelah aku lulus, namun aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Dia bagai hilang ditelan bumi. Di tengah keputusasanku, akhirnya aku menyerah. Dan pada saat itu pula, appa bilang akan menjodohkanku dengan putri rekan bisnisnya yang bernama Jung Krystal. Aku pun menyetujuinya dengan begitu saja tanpa perlawanan, walaupun di hatiku masih tersimpan sebuah nama, Sandara Park.

Flasback End

Akhirnya makan siang pun selesai. Krystal, tunangan Donghae pamit terlebih dahulu karena ada janji untuk fitting baju pengantin mereka yang sudah jadi dan tinggal sedikit perbaikan. Setelah Krystal pamit, suasana menjadi canggung kembali dengan Dara yang masih menunduk sepanjang acara makan siang tadi. Yah, Donghae dan Krystal memang akan segera menikah dalam waktu beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, Donghae ingin segera menyelesaikan tugasnya sebelum waktu pernikahan.

Seungri yang ponselnya bordering segera meminta izin pada Jiyong untuk menerima telepon tersebut terlebih dahulu. Sekarang hanya ada Jiyong, Dara dan Donghae. Jiyong bukannya tidak menyadari akan keadaan Dara yang semenjak bertemu Donghae menjadi lebih diam dan selalu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mereka semua. Dan Jiyong tahu bahwa Dara sedang menahan tangisnya, karena jelas terlihat olehnya sekarang bahwa mata Dara sudah sangat berkaca-kaca menahan agar air matanya tidak jatuh.

Jiyong memang tidak tahu sebenarnya ada hubungan apa antara Donghae dan Dara. Namun dia bisa menangkap ada sesuatu yang pernah terjadi antara mereka berdua. Jiyong juga tadi memperhatikan bahwa selama makan siang, Seungri terus menggenggam tangan Dara. Dan dia tahu bahwa Seungri sedang menguatkan hati Dara. Keheningan tadi terpecahkan oleh suara Donghae.

“Da-Dara-ah, bisakah aku berbicara sesuatu kepadamu sebentar saja, berdua?” Tanya Donghae sambil menatap Dara.

Dara langsung mengangkat wajahnya, terlihat terkejut mendengar suara Donghae. Lalu Dara menatap Jiyong, meminta dengan matanya agar dia tidak dibiarkan berdua saja dengan Donghae. Jiyong yang melihat hal tersebut langsung menanggapi permintaan Donghae.

“Hem, maaf hyung, kurasa Dara tidak mau jika hanya ditinggal berdua denganmu. Jadi, bolehkan aku menemaninya disini sementara kalian berbicara? Aku janji aku hanya akan menjadi pendengar yang baik dan tidak akan mencampuri urusan kalian berdua.”ucap Jiyong kemudian.

Lalu Donghae mengangguk dan mulai berpindah tempat untuk duduk di samping Dara, begitu pula dengan Jiyong yang berpindah tempat duduk ke samping Dara juga.

“Dara-ah, aku minta maaf jika aku pernah menyakitimu. Aku merasa sangat bersalah padamu. Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun namun kau selalu berhasil menghindariku. Aku, aku sebenarnya mencintaimu, Dara. Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu.” Ucap Donghae yang membuat air mata yang sedari tadi ditahan Dara langsung mengalir keluar ke pipi mulusnya.

Jiyong yang melihat hal itu, langsung semakin mendekatkan diri kepada Dara dan mulai menggenggam tangan Dara dan tidak ada penolakan dari Dara. Hati Dara sangat sakit sekarang, dan dia membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.

 

 

-To be continue-

 

Hallo readers,

Semoga suka dengan chapter ini ya

Dan sebagai penjelasan, Donghae bukanlah orang yang mengirimkan ancaman untuk Jiyong

Selamat membaca dan terimakasih bwt commentnya

 

<< Back  Next >>

Advertisements

42 thoughts on “My Love, My Bodyguard #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s