[Part 8] My Crazy Neighbor : Plan B

my-crazy-neighbor
Author : Haru & VA Panda|| Title : My Crazy Neighbor || Genre : Comedy, School life, Romance, Drama || Starring : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jang Kiyong, Mizuhara Kiko, Stephanie

Awesome poster by Alkindi @Indo Fanfiction Arts

.

.

Sandara bergegas lari dari rumah Jiyong dengan amarah masih melekat erat pada gadis bertubuh mungil tersebut, seolah terdapat aura negatif yang semerbak namun tak berbau dapat dirasakan saat kedatangannya dirumah.

“Eo, noona.”

Ucap Sanghyun sang adik yang tengah menonton baseball dengan mulut penuh popcorn.

“Sanghyun-aaaah,” rengek Dara dan mendekati sang adik, matanya sedikit berkaca-kaca dan membenamkan wajah mungilnya di bahu Sanghyun.

Noona, kau sungguh aneh. Biasanya kau tidak pernah selemah ini.”

“Ya! Aku tidak lemah,” Ucapnya seraya bangun dari posisi manjanya. “Aku hanya lelah sehabis mencabut rumput di halaman rumah.”

“Malam-malam?”

Dara mengerutkan dahinya dan berjalan dengan ketus menuju kamarnya sementara mata Sanghyun mengikuti setiap gerik noona nya.

*

*

***

*

*

Dara POV

Entah siapa yang menaruh bawang di sekitar rumahku saat ini, namun mataku tak dapat berhenti berair. Tidak, aku tidak lemah. Aku hanya lelah, itu saja.

Aku masih mengingat setiap ucapan Jiyong yang kali ini sungguh menyakiti hati kecilku yang tak berdosa.

“Memangnya dia pikir segalanya dapat berjalan mudah hanya karena memanfaatkan popularitas, eo!!” Aku berteriak keras dengan jendela kamar terbuka berharap Jiyong mendengarnya.

“Aku tidak butuh bantuan lobby­ mu kepada si ular cobra Stephanie, aku akan mengikuti kompetisi itu sendiri tanpa bantuanmu! Dan aku bukan parasit!” Aku masih berteriak dan entah mengapa sebuah cairan keluar dari mataku yang indah. Apa aku menangisi seonggok katak rawa?

Aku menutup keras jendela kamar dan mendapati ponselku berdering dengan nada yang kampungan. Ah, benar sejak tadi aku akan keluar ponselku berdering menandakan ada pesan yang masuk. Kali ini ringtone panggilan masuk menggema di setiap sudut kamarku.

Yeoboseyo,” Ucapku hati-hati menunggu jawaban seseorang diujung telepon.

Yeoboseyo Sandara-ssi?”

Ah suara ini tidak asing untukku, aku diam dan masih berpikir siapakan pemilik suara yang sama dengan suara lelaki ini.

“Sandara-ssi apa kau tidak melihat isi pesanku? Bunyinya sungguh mengganggu bukan? Hahaha aku menggantinya saat kita berada di kantin saat itu. Aku pikir, saat bersamamu aku terlalu kaku jadi aku menggantinya agar terasa seperti aku orang yang menyenangkan tapi ternyata kau tidak menyadarinya.”

Aku terdiam dan mendengarkan suara yang sangat familiar ini, Jang Kiyong. Tiba-tiba air mataku kembali merembes masuk dan seketika menghentikan ocehan Kiyong yang terlihat sangat bersemangat, sangat bukan dirinya.

“….. Sandara-ssi apa kau tidak menyukainya? Mianhae, mungkin aku berlebihan.”

Aniya” aku menjawab dengan tawa saat air mataku masih menempel bahkan mengalir entah darimana. “Aku tidak menyangka itu kau Jang Kiyong, haha ternyata seleramu sangat kampungan.”

Tidak ada jawaban apapun darinya untuk beberapa saat sampai ia memutus jaringan telepon. Aku menghela napas panjang kebingungan dan merebahkan tubuhku dengan kedua tangan menutupi wajah,

Suara notifikasi e-mail berbunyi, nama Jang Kiyong muncul dan mengirimkan sebuah video.

Ige mwoya?

Aku membuka video tersebut dan mendapati Jang Kiyong sedang menari dengan gerakan yang kaku, sangat kaku bahkan ia tak tahu gerakan itu sama sekali dan hanya menaik turunkan lengannya tidak beraturan.

Aku tak dapat menahan tawa dengan tingkah konyolnya kali ini, seorang Jang Kiyong yang baru kuketahui memiliki wibawa seorang pemimpin dan sangat pendiam, menunjukkan sisi dari tingkah konyol yang canggung.

Aku tertawa terpingkal-pingkal jika mengingat kembali bagaimana Kiyong saat bersamaku. Ia selalu ada disaat seperti ini, seolah mengerti bahwa aku membutuhkan seseorang walaupun aku terlihat kuat.

Aku membuka isi pesan dari Kiyong yang sudah sejak lama aku diamkan karena mengurusi si katak rawa yang jahat itu. Aku benci padanya. Sangat.

Sandara-ssi, kau ada waktu?
Sandara-ssi kau disana? Apa aku mengganggu?
Sandara-ssi pasti kau sedang sibuk latihan menari. Mian terus mengganggu. Fighting! ^^o

3 pesan masuk berurutan darinya dan membuat bibirku entah mengapa menyungging dan perasaan senang merasup ke tubuhku.

*

*

***

*

*

Pelajaran dimulai dengan sangat membosankan yang membuat Sandara berkali-kali menguap secara diam-diam karena guru kali ini sangat-sangat killer dan musuh terbesar Sandara. Oh songsaengnim, guru bahasa inggris yang selalu menyerang muridnya dengan serangan kata-kata ajaib dan sangat tidak keren untuk didengar.

“Dara-ya,” Bisik seseorang dan sebuah kertas mendarat tepat di mejanya.


Gwenchana? Aku minta maaf semalam berada diantara kalian dan mendengar percakapan kalian pula, Dara-ya aku sungguh menyesal. Jiyong-ssi pun merasa sangat bersalah padamu. Mianhae.

 

Kiko.


Sandara menoleh ke arah Kiko dan mendapati gadis itu menampakkan wajah sangat bersalah dan sangat menyesal. Sandara membalas dengan senyum dan gestur bibirnya yang bergerak mengucapkan Gwenchana secara berbisik.

Tanpa disangka, Oh songsaengnim memperhatikannya dan dengan cepat memanggil tanpa menyebut nama Sandara yang membuat gadis itu menoleh kedepan dan tersentak kaget –setidaknya lemparan spidol papan tulis bisa diibaratkan sebagai panggilan untuk seorang murid.

“Your name is……”

“Eo……. Sandara Park, songsaengnim

Bagaimana mungkin ia tidak mengenaliku, aish ucapnya dalam hati.

Please repeat what I said earlier, tell me about the history of Joseon dynasty and their influence to our country.”

Sandara menghela napas pendek dan menundukkan kepalanya, ia menghindari kontak mata dengan Oh songsaengnim. Namun dengan keberanian yang ia punya dan merasa tak ingin kalah, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar ke arah Oh songsaengnim.

Mollayo songsaengnim, mianhamnida.” Ia membungkukkan tubuhnya 90 derajat dengan masih terlihat ceria yang dibalas dengan tatapan killer.

*

*

***

*

*

Dara POV

Mwoya igeeeeee, aku sangat mengutuk 2 hari ini. Mengapa dewi fortuna yang selalu menguntit dibelakangku kali ini pergi entah kemana. Apa ia mengambil cuti?

Aku berdiri di koridor kelas dengan mengangkat kaki kiriku, saat tidak ada siapapun apalagi Oh songsaengnim yang kejam itu. Aku mengulang tarian yang ku lewatkan untuk dance competition, aku akan melakukannya sendiri dan tak akan pernah meminta bantuan Kwon Jiyong si katak rawa yang tidak berperikekatakan.

“Sandara-ssi,” Suara itu…. Jang Kiyong.

Aigoo Kiyongiee!” Dengan gembira aku menyambut lelaki yang berhasil membuatku tertawa sangat keras semalam sampai Sanghyun menganggapku memiliki masalah kejiwaan.

“Dihukum lagi?” Tanyanya dengan diikuti dengan tawa geli.

Ne¸ aku kena hukuman lagi karena tidak dapat menjawab pertanyaan Oh songsaengnim

Di sela obrolan kami, tiba-tiba Oh songsaengnim keluar kelas dan membuat Jang Kiyong tersentak kaget dan malah ikut berbaris bersamaku mengangkat kedua kaki kirinya. Kami berdua saling berhadapan dan menahan tawa masing-masing.

Tentu saja Oh songsaengnim tak akan mengingat siapa saja yang ia hukum mengingat di kelas pun ia hanya berfokus pada kesalahan orang lain tanpa mengingat nama mereka.

*

*

***

*

*

G-Dragon POV

Hari ini tidak banyak hal yang berarti. Aku meneguk air mineral dingin yang diberikan Soo Hyun. Keringat menjalar di sekitar tubuhku, beruntunglah Soo Hyuk memberikan perhatiannya kepadaku, sahabatnya.

Gomawo,” ujarku pada Soo Hyuk.

Kami duduk tepat di samping lapangan sepak bola. Musim panas kali ini sungguh sangat menyengat. Aku menengok ke sekeliling sembari meneguk kembali air mineral dingin yang sungguh mampu membuat dahagaku sirna.

Bye the way, bagaimana rencanamu? Kau sudah memantapkannya?” Soo Hyuk yang tengah berdiri tepat di depanku kini bertanya sebelum akhirnya ia mengambil posisi duduk tepat di samping kananku.

Mwola, aku bahkan belum bertemu lagi dengan Chihuahua itu.” Jawabku seadanya.

Soo Hyuk sudah aku ceritakan kejadian semalam. Mengenai perkelahian adu mulutku dengan Sandara dan menurutnya kali ini perkataanku cukup kasar. Soo Hyuk berpendapat bahwa seorang gadis sangat sensitif jika mengenai soal perkataan yang diperuntukan untuknya. Lalu aku bertanya dalam batin apakah hal itu berlaku bagi Chihuahua sekelas Sandara? Well, tak sesuai dugaanku justru Soo Hyuk menjawab … Hati gadis manapun di dunia ini sangat mudah terluka. Pernah mendengar tentang pria lebih berpikir dengan logika dibandikan dengan perempuan yang memilih berpikir dengan perasaan, yah Soo Hyuk rasa hal itu berlaku amat mutlak.

“Soo Hyuk, bisakah kau membantuku untuk berbicara dengan Stephanie?”

“Kenapa harus aku? Kau bahkan bisa melakukannya sendiri.”

“Oh man, ayolah … kita sudah bersahabat cukup lama. Apakah kau tidak ada sedikitpun kebaikan untuk membantuku, eoh?”

Soo Hyuk membuang mukanya, ia berdesis dan menatapku dengan wajah yang sulit aku ungkapkan sekarang. “Cih, kau bahkan menikam orang yang kau katakan sebagai sa-ha-bat-mu ini.”

Omona. Apakah Lee Soo Hyuk sang dewa cinta ini tengah menyamaiku sebagai rivalnya karena menerima tawaran Stephanie untuk berkencan tempo hari?

“YA! Aku bahkan tidak tertarik sama sekali dengannya. Tubuhnya bahkan tidak lebih baik dibandingkan dengan mantan kekasihku yang dulu.” Ungkapku kesal.

Heol, Stephanie mungkin termasuk siswi di SMA Sevit yang sangat ini diajak untuk berkencan tapi itu bagi mereka, bukan bagiku. Mungkin gadis itu memang memiliki perawakan yang sangat baik untuk memperbaiki keturunan seseorang tapi jika itu disangkut pautkan denganku … demi apapun aku bahkan bisa memperbaiki keturunanku sendiri dengan mudah jika mengingat posisiku di sekolah ini sangat berpengaruh karena prestasi akademik maupun non-akademiknya.

“Jujurlah Ji, kau bukannya tidak tertarik tapi kau merasa tersaingi dengan tinggi badannya bukan?”

“MWO?”

Lihat wajah Soo Hyuk! Pria itu bahkan masih bisa memasang wajah tanpa dosa dan matanya menatapku dengan polos seperti snoopy yang tidak pernah terlihat memiliki kesalahan apapun!

“YA! Kau bosan hidup!” Aku memukul kepalanya dengan botol mineral yang masih aku pegang.

Soo Hyuk hanya menghembuskan napasnya sembari mengelus kepala. Jika kalian berpikir ia seorang pria yang bisa menahan amarahnya, kalian sangat salah besar! Biar aku perjelas, Soo Hyuk hanya melakukan semua itu demi harga diri yang masih menghargai ekspetasi pada puluhan pasang mata gadis yang memantaunya.

Pria ini memang memiliki wajah yang selalu terlihat tenang bahkan lebih tidak berekspresi karena hal itu mutlak ia miliki sekaling mencoba satu juta cara namun Soo Hyuk terlahir dengan wajah yang tidak bisa berekspresi banyak. Layaknya tokoh dalam manga, ekspetasi para gadis terhadap Soo Hyuk adalah pria dingin yang memiliki hati lembut tapi realita yang terjadi tidak demikian. Namun tidak banyak yang akan menyadarinya selain aku mungkin satu-satunya di dunia ini.

Michyeoseo?!” Soo Hyuk yang bersuara seperti geraman serigala penguntit itu menatapku dengan mata menyala di balik rambut hitam legamnya yang sepanjang bahu.

“Kau bilang apa?” Aku menggodanya. Mendekatkan telingaku sembari menautkan kedua alisku yang mungkin semakin membuatnya ingin memasukkanku ke dalam isi perut monster rawa.

“YA!” Ia mengantupkan mulutkan dengan menggeratkan giginya.

Aku tertawa dengan sangat puas. Oh, sudah berapa lama aku tidak menggoda Soo Hyuk selama ini. Ekspresinya bahkan sama sekali tidak menyeramkan. Masih dengan tertawa dengan mulut menganga lebar bahkan sampai mataku sulit menahan air mata saat ini namun secara tiba-tiba aku menghentikan tawaku. Kembali duduk tegak dan berdiri saat melihat Sandara melewati tangga bersama si anak baru dengan saling bertukar minuman masing-masing. Heol!

*

*

***

*

*

Langkahnya sengaja ia setarakan dengan hembusan angin seadanya di musim panas. Kwon Jiyong yang ditemani Soo Hyuk entah kapan mereka sudah berjarak sejauh dua meter di belakang Kiyong dan juga Dara.

“Kau ingin meminta maaf dengan Dara? Kukira ini waktu yang tepat, Ji.”

Soo Hyuk yang berada di sampingnya bertanya dengan menggulung lengan bajunya. Setelah tak lama sama sekali tidak mendengar jawaban dari pertanyaannya, Soo Hyuk kini berusaha berjalan lebih cepat di depan Jiyong.

“YA!” Jiyong berusaha memanggil Soo Hyuk dengan suara teriakan yang sengaja ia anggap mampu disamarkan dengan angin.

“Kau sama sekali tidak menghiraukan pertanyaanku, jadi lebih baik aku menyapa Dara dan orang yang kau bilang seperti kriminal itu saja.”

Kwon Jiyong hanya diam. Meneguk dengan berat saliva menuju tenggorokannya, ia berusaha bersikap normal namun kecemasannya langsung datang saat dilihatnya Soo Hyuk sudah hampir menyetarakan posisinya di antara Kiyong dan juga Sandara.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Jiyong pada dirinya sendiri.

Oppa!

Dari kejauhan, Lee Sung Kyung berlari dengan memegang kipas hello kittynya. Aroma tubuhnya begitu menyengat tepat saat dirinya dengan tidak sengaja menubruk bahu Jiyong. Gadis berambut pirang platina itu masih berlari dengan penuh semangat dan langsung memeluk dari belakang tubuh Soo Hyuk yang membuat pria itu terkejut sebelum sempat menyapa Sandara.

Jiyong menghela napas, setidaknya Sung Kyung bisa menghentikan apa yang mungkin akan dikatakan oleh Soo Hyuk.

“YA! Cebol!”

Baru dalam hitungan detik Jiyong memutar tubuhnya untuk menuju kelasnya, suara teriakan Sung Kyung yang menggema sekalipun dalam ruangan terbuka itu membuatnya kembali menengok pada arah sumber suara.

“Bagaimana persiapanmu? Apakah kau yakin bisa mengalahkan sahabatku, Lee Stephanie yang bahkan sudah membanggakan sekolah kita selama dua tahun berturut-turut?”

“YA! Siapa kau? Dan siapa yang kau maksud dengan cebol?” Jang Kiyong bersuara dengan kharismanya, pria itu melipatkan tangannya dan maju beberapa langkah sampai tepat berharapan dengan Sung Kyung.

“Lalu kau siapa? Apa kau salah satu pria yang ikut terhipnotis dengan gadis jelek ini?” Lengan Sung Kyung menggapai rambut Sandara dan memutarnya dengan menatap sosok Sandara dari atas sampai bawah.

“Sung Kyung-ah, jaga ucapanmu.” Soo Hyuk mengintrupasinya. Tangannya memegang Sung Kyung untuk menariknya pergi menjauh sebelum membuat kegaduhan lain.

Sung Kyung menepis tangan Soo Hyuk dan gadis itu kembali berkomentar dengan lidah tak kalah tajam dari sebelumnya. “Cebol! Berapa banyak uang yang kau keluarkan sampai bahkan setelah Jiyong kau bisa dengan mudah mendapatkan pengganti yang tidak jauh berbeda.”

Sandara hanya diam, ia menghela napas. Gadis ini memang bukan termasuk orang yang senang beradu mulut dengan sesama teman terlebih kali ini ocehan Sung Kyung sudah cukup mampu menarik beberapa teman-temannya yang tidak sengaja lewat di sekitar oerseteruan mereka.

Jebal, berhentilah.” Sandara berkata dengan suara rendahnya. Ia menunduk seolah malu akan ketertarikan teman-teman yang kini tengah melingkari mereka.

“YA! Kau sekarang bahkan mempunyai rasa malu. Lalu bagaimana dengan kelakuanmu yang menyeramkan itu, mendekati para lelaki tampan seolah itu adalah kehidupanmu yang sesungguhnya.”

“Sung Kyung-ah, kau tidak bisa mengatakan hal buruk seperti itu. Jiyong pasti akan marah besar jika kau tahu kau menyakiti Dara.”

“Terserahlah, oppa! Apa yang aku katakan memang benar adanya!”

Jiyong yang semula hanya diam memantau kini merasa geram dengan kelakuan Sung Kyung. Gadis itu memang tidak jauh berbeda dengan kedua temannya yang sama-sama nenek sihir. Berlidah tajam bahkan tidak pantas untuk menjadi salah satu duta sekolah ini jika mengingat Stephanie yang menjadi pasangan Jiyong sebagai duta sekolah SMA Sevit.

“Kau dan mulut kotormu itu memang tidak jauh berbeda dengan si katak rawa.”

Langkah Jiyong terhenti saat dilihatnya Sandara mengeluarkan ungkapan yang bisa tidak dipercaya oleh Jiyong.

Di sana, Sandara maju menubruk tubuh Sung Kyung dengan tangan terlipat –tak jauh berbeda dengan Sung Kyung. Matanya menatap lurus kearah Sung Kyung seolah tidak ada hal yang perlu ia takutkan, sedangkan Kiyong yang berada di sampingnya sejenak diam sebelum akhirnya berkata.

“Aku tidak bermaksud mengancammu tapi aku memiliki rekaman dari ucapan buruk yang baru saja kau katakan. Asal kau tahu saja, pamanku kepala polisi di distrik ini dan jika aku memberikan rekaman ini padanya, kau mudah aku tuntut atas pencemaran nama baik.”

“MWO?”

“Sudahlah, Kiyongie. Semakin kau mengurusi orang seperti ini, justru semakin kepalamu ingin pecah saja.”

“YA! Michyeoseo!”

“Ani, aku memang benar. Kau berbicara sangat banyak bahkan di luar pertanyaanmu sebelumnya. Tenang saja, aku masih menunggu permintaan maafmu dan akan aku pastikan bahkan aku akan memenangkan kompetensi itu.”

“Tapi Dara-ah, bukankah kau tidak memiliki pasangan untuk ikut dance competition?” Soo Hyuk bertanya dan langsung membuat Sung Kyung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Sandara yang berekpresi persis seperti tengah melahap jeruk asam.

“Puahahaha … belum apa-apa, kau bahkan sudah mengibarkan bendera putih!”

“Itu…aku bisa melakukannya! Sendiri! Ya, sendiri tanpa bantuan katak rawa dan lagipula sudah memiliki plan B.”

Kiyong tertawa singkat, menggenggam tangan Sandara dan memperlihatkannya dihadapan Sung Kyung juga Soo Hyuk genggaman Kiyong dan juga Sandara. “Dan aku adalah plan B untuk Dara.”

 

 

 


-To be continue-

<<back  ||  next>>


Trailer Fanfiction  BARU!!!:

A/N :
Haru : Di sini aku rasa tidak terlihat dengan ketara tokoh antagonis. Ini hanya school-life versi daragon kkk~ Kiko-chan tidak jahat~
Pinda : Bakal aku pastiin untuk ff ini akan sampai selesai jadi yang sebelumnya berfikir author gaakan lanjutin ff ini terlampau waktu yang lama … berarti hanya tinggal bersabar ^o^

 

 

Advertisements

23 thoughts on “[Part 8] My Crazy Neighbor : Plan B

  1. Jujur ajaaa aku suka dengan dara-kiyong couple #digebukinapplers# Jiyong juga sih udh keterlaluan sama dara jadi sakit ativsendiri kan. Pinda unnie dan Haru unnie, Fighting buat next chapternya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s