TURNING 30 [Chap. 3]

1444798149710

 

Author:: @astarinur (IG & Twitter)

                      @astarinurINDO ( Wattpad )

Cast:: 1. Sandara Park

  1. Kwon Jiyong
  2. Kim Hanbin
  3. LEE Hi
  4. Nam Taehyun
  5. Lee Donghae
  6. Jessica Jung

Genre::  Romance, angst, genre dan alurnya masih blank! Go with the flow aja!!

Rate::  15⬆

Length:: multishot/ chapter

 

 

JIYONG, “F*CK SHIT DARA!”

 

 

 

 

Enjoy!!

Oh iya aku rekomendasiin bacanya sambil muter playlist ini, kalau ada…

I MISS YOU SO BAD / IKON

BABY BABY / WINNER

PILLOWTALK / ZAYN MALIK

 

 

 

 

 

Mereka saling membelakangi punggung mereka masing – masing, setelah  percakapan tadi dara sama sekali tidak bisa menatap jiyong. Bisa karena malu ataupun karena kesal, jiyong jelas – jelas tahu dan tahu betul kejadian tempo hari yang telah menghancurkan kehidupan percintaannya ditambah jiyong yang tidak mengerti perasaan dara dengan sedikit meledeknya mengakibatkan dara agak kesal kepadanya.

Pikir dara, seharusnya jiyong memikirkan perasaannya terlebih dahulu sebelum mengatakan hal itu, tapi dara juga tidak bisa menyalahkan jiyong sepenuhnya akan nasib percintaannya lagipula bukankah jiyong juga menolongnya meloloskan dirinya dari situasi menyedihkan itu?

Hmm… sungguh beribu – ribu kabel kusut sedang berputar dalam kepalanya.

“Heh……!” Dara mendengarnya, sepertinya dia mengarah kepada dara karena mau kepada siapa lagi? Toh hanya ada dirinya dan jiyong di lift ini. Dara berbalik sedikit meluruskan posisi berdirinya meski tidak sepenuhnya melihat wajahnya.

“Emp…!” Balas dara memberikan respon kepadanya walaupun hanya sekedar hmm saja.

“Apa kau akan berlama – lama di lift ini? Lihat pintunya sudah terbuka!” Jiyong mendahului dara dan keluar meninggalkan dara yang termenung. Dara menatap langkah kakinya dan menutup matanya malu menyadari jika dia tak ada niatan untuk sama sekali menegornya, dia hanya memberitahu jika lift sudah terbuka dan tujuannya sudah sampai.

“Aigooo…!” Dara mengutuk otaknya, untung saja tadi dia tidak membuka mulutnya dan mengeluarkan banyak kata yang nantinya akan mempermalukannya. Dara pun akhirnya keluar dan segera menghampiri mobilnya. Disisi lain jiyong juga mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah adiknya untuk mengambil raport sementara hayi.

Jiyong memasangkan helmnya dan secepat kilat melesat menuju sekolah itu. Tidak terkecuali dara yang sama – sama pergi ke tujuan yang sama dengan jiyong.

  • ••••

“Oppa, hayi sangat ketakutan!”

Hayi mengeratkan pelukannya kepada taehyun, setelah semalam dengan sangat mengejutkan hayi menghubunginya dengan menggunakan telpon umum taehyun tidak bisa sama sekali tertidur karena keadaan hayi yang sangat mengenaskan. untung saja taehyun bisa menemukan hayi dengan cepat sesuai arah yang dikatakan hayi jika tidak mungkin saja hayi sudah pingsan dijalan.

Saat ini hayi tengah tertidur dalam pelukannya, sesekali hayi mengigau dan menggigil seperti ketakutan. Taehyun belum sempat menghubungi jiyong karena terlalu focus menjaga hayi. Taehyun juga ingin menenangkan hayi terlebih dahulu sebelum menghubungi jiyong. Namun suara bell mengusiknya, taehyun merasa tidak akan menerima tamu lalu siapa ini?

Dengan hati – hati taehyun melepaskan pelukan hayi dan berjalan menghampiri pintu depan.

“Anyeonghaseyoo..!” seorang ahjussi berdiri didepan pintu itu, taehyun mengerutkan keningnya seperti familiar dengan wajahnya. Namun sebelum itu alangkah baiknya taehyun mempersilakan ahjussi itu untuk masuk daripada diam berdiri diluar, itu bukan tindakan sopan jadi taehyun membawanya masuk ke dalam rumahnya dan mempersilakannya untuk duduk.

“Mianhae menganggumu anak muda! Tapi maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengambil putri saya Lee Hayi!” Taehyun meneliti ekspresi wajahnya dan berusaha membaca gerak – gerik tubuhnya namun sepertinya ahjussi ini tidak memiliki niat buruk namun taehyun tidak bisa gegabah dan memberikan hayi kepadanya tanpa meyakinkan dirinya jika ahjussi itu benar – benar adalah ayahnya.

“Mian ahjussi saya tidak tahu jika kau adalah ayahnya hayi? Apakah kau mempunyai bukti? Aku juga bingung bagaimana bisa kau ketahui alamat rumahku!” Taehyun agak sedikit bernada introgasi menatap sipit ahjussi itu.

“Ini!” Ahjussi itu menunjukan fotonya bersamaan dengan jiyong dan hayi yang masih bayi, taehyun pun mulai mempercayainya.

“Bagaimana ahjussi tahu alamat rumahku ini?” ahjussi itu tersenyum dan tenang menjawab taehyun.

“Mudah! Aku tahu alamatmu pastinya dari jiyong! Bukankah kau dokter penjaga hayi?” Ahjussi itu melihat taehyun sekilas dan taehyun menganggukan kepalanya.  Lalu ahjussi itu melanjutkan pembicaraannya, “.…Tapi ini hanya sekedar instingku saja, menebak jika hayi ada dirumahmu karena semalam hayi menghilang dan aku tidak bisa menemukannya dimana – mana jadi aku pikir mungkin ini adalah jawaban yang paling tepat.” Ahjussi itu menunjukan wajah sangat khawatir terhadap hayi.

“Emp kalau begitu, mian sudah mencurigaimu! Terang saja aku tidak rahu karena selama ini aku tidak pernah bertemu dengan siapapun selain jiyong saja, oh iya ahjussi hayi ada dikamarku! Dia tengah tertidur!” Taehyun membawa ahjussi itu kekamarnya menunjukan hayi yang sedang tertidur lelap.

“Anak muda! Bisakah aku meminta tolong? tolong rahasiakan keberadaan hayi dari jiyong?” Taehyun langsung menatapnya curiga.

“Apa maksudmu ahjussi?”

“Hubungan kami sedang tidak baik dan jiyong tengah pusing memikirkan perusahaan kami yang sedang diambang bangkrut jadi untuk menghindari jiyong bertambah beban aku sengaja membawa hayi denganku jadi aku mohon jangan kau beritahu dia jika hayi ada disini! Biarkan dia focus dengan tanggungjawabnya saat ini!” ahjussi itu benar – benar mengelabui taehyun sehingga taehyun percaya kepada setiap omongannya.

“Baiklah ahjussi aku akan melakukan yang terbaik!” Taehyun meyakinkan ahjussi itu.

“Kamsahamnida! kalau begitu nanti sekitar jam 2 siang akan ada seseorang yang menjemput hayi untuk saat ini biarkan hayi beristirahat!” Taehyun mengangguk menyutujuinya.

Ahjussi itu pamit dan segera meninggalkan mereka, tak lupa memberikan kecupan didahi hayi untuk memberikan efek sungguhan.

Ahjussi itu atau ayah jiyong itu, Mr.Park tersenyum dan tertawa terbahak disepanjang perjalanannya pulang. Dia tidak sangka akan sangat mudah mengelabuinya dan membuat semua rencananya lancar.

“Aigoo… ini sangat menyenangkan! Memang Detektif Kim sangatlah handal, dia bisa menemukan hayi dalam waktu yang singkat!”

Mr. Park tersenyum licik —

  • ••••

“Noona!” Suara familiar dari adiknya, dara mencari sumber suara itu dan terlihat hanbin tengah berjalan menghampirinya.

Saat dara akan berjalan menghampiri hanbin seseorang menabraknya cukup untuk membuat dara hampir terjatuh.

“Aww…!” Dara mengeluh kesakitan dan memegangi pundaknya yang tadi bertabrakan.

“Mian apa kau terluka?” Suara itu? Dara tahu suara siapa itu! Dan saat dia mendongak benar saja dugaannya.

“Kau…!” Dara menunjuknya, “apa yang kau lakukan disini ? Jangan katakan kau mengikutiku?” Dara melupakan rasa sakitnya dan mulai menggerutu kepada laki – laki didepannya.

“Ah kau… ! Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu?” Laki – laki itu, jiyong tepatnya balik menggertaknya.

Sebelum perdebatan dimulai kembali hanbin tiba dihadapan mereka. Dia menatap jiyong.

“Cusungeooo… Apa kau mengenali noonaku?” Hanbin membungkuk dengan sopan kepadanya dan bertanya dengan nada yang ramah kepada jiyong.

“Ahhh… tentu aku mengenalnya! Dia…” jiyong menatap dara sekilas lalu melanjutkan perkataannya. “dia sekretarisku! Lalu apa hubunganmu dengannya? Aku dengar tadi kau memanggilnya noona apa dia noonamu?” Hanbin mengangguk dan merangkul tangan dara.

“Yaaa hanbin~ah kau tidak perlu berbicara dengannya, ayo tunjukan dimana ruangannya!” Dara menarik hanbin dari hadapan jiyong, dan jiyong hanya menyunggingkan senyuman kecil disudut bibirnya.

Jiyong pun kembali melanjutkan perjalanannya. Sedangkan dara tak habis menggerutu disepanjang perjalanannya menuju ruangan kelas hanbin.

“noona? Wehhh.… tadi hyung itu berkata jika kau adalah sekertarisnya tapi noona malah bertindak seperti tadi?” Hanbin menatapnya bingung namun dara masih dengan wajah kesalnya hanya menjitak kepala hanbin.

“yaaaa noona wehhhh? Mengapa kau jitak kepalaku? Aigooo… kau sehari ada disekolahku mungkin aku akan terus – menerus kau permalukan, ingat aku ini mempunyai banyak fans jadi noona harus bisa menjaga imageku dengan baik!” Gerutu hanbin mengusap bagian kepalanya yang tadi dara jitak.

“Oh yeahhhh?” Dara meliriknya kecut. “Sudah cepat tunjukan saja kelasmu!” Hanbin mengerucutkan bibirnya tapi tetap menuruti perintah dara.

setelah dara dan hanbin menemukan kelas yang mereka tuju tak lama hanbin pun mendapatkan raport sementaranya. Dara pamit dan segera meninggalkan sekolah hanbin, hanbin sendiri dia masih mempunyai urusan jadi terpaksa dara harus pulang sendiri.

“Hmmm… sebaiknya malam ini aku pergi ke club saja! Lagipula kapan terakhir aku pergi kesana, ah… mungkin setahun yang lalu mengingat donghae yang selalu melarangku pergi minum!.… ” dara menghentikan perkataanya menyadari telah menyebut nama yang sudah dia hapus dalam hidupnya. “Hahhh… aigoo dara~ah kau masih saja mengingatnya!!” Lelah, dara berjalan agak lesu menuju mobilnya namun ekspresi wajahnya langsung berubah ketika melihat satu sosok tubuh laki – laki yang tentunya ia kenali bersandar dengan nyaman dimobilnya. Baru saja aku mengingatnya, kutuk dara menyesali perkataannya tadi.

Laki – laki itu tersenyum kepada dara seakan tidak ada sama sekali permasalahan yang terjadi diantara mereka.

Dara menegakan tubuhnya dan membusungkan dadanya menatap matanya seakan menantangnya. Saat jarak diantara mereka dekat dara memberanikan dirinya memalingkan wajahnya dan berjalan lurus kemobilnya, namun sebuah tangan menahannya saat dia akan membuka pintu mobil. Tangan ini … bukan lagi milikku, pikir dara seraya menghempaskannya.

“Dara… !” Suara ini, suara yang pernah mengisi hari – harinya dengan indah. Dalam waktu beberapa detik dara termenung mengingat suaranya yang dulu selalu saja mampu membuatnya bahagia.

“Baby…” saat kata itu keluar darinya dara menaikan tanganya seakan menahannya untuk melanjutkan apapun  kata yang akan keluar dari mulutnya. “Stopp… !” Rintih hati dara, dia tidak ingin tersakiti lagi walaupun jujur saja donghae masih menempati hatinya.

Dara kembali membuka pintu mobilnya berencana untuk secepatnya pergi dari hadapannya sebelum dia akan terhanyut dan kembali luluh oleh kata – katanya. Namun saat pintu mobilnya terbuka beberapa centi saja tangan itu kembali menahan dara dengan membanting pintu itu untuk tertutup, lalu dalam sekejap tubuh dara sudah ada dalam dekapannya.

“Donghae… !” Rintih dara berusaha melepaskan pelukannya.

“Baby please!! Kau harus dengar penjelasanku, kemarin hanyalah sebuah kebohongan! Aku masih mencintaimu dan aku juga tahu kau pun sama baby! Please baby… kau harus mempercayaiku!!” Dara terdiam mendengar omongannya, namun otaknya berteriak no… no dara!.

“Donghae … aku …

Blaggg…

Tiba – tiba seseorang menarik donghae dari tubuh dara dan membantingnya kebawah.

“Omg donghae… apa yang kau lakukan!! Stoppp!” Dara histeris saat seorang yang tak terduga datang dan secara tiba – tiba memukuli donghae.

Dara berlutut dibawah memegangi wajah donghae yang saat ini babak belur dan menatap tanya kepada laki – laki yang kini berdiri kokoh menatapnya dengan tatapan yang tak mampu dara artikan.

Jiyong, laki – laki yang kini berdiri didepan mereka menatap jijik donghae dia sangat ingin memukulnya lagi bahkan kalau perlu membunuhnya. Saat tadi dia berencana untuk menghampiri motornya dia berpas – pasan dengan suatu tontonan yang membuatnya kesal, dia menyaksikan peristiwa itu dengan mata lebarnya dan saat donghae dengan secara paksa memeluk dara entah mengapa tangannya langsung mengepal kencang lalu saat jiyong mengingat bahwa donghae telah mematahkan hati dara tempo hari membuat emosinya semakin tak karuan.

Jiyong menatap donghae dengan benci dan berencana akan memukulnya lagi jika tidak ditahan oleh dara.

“Stop! Apa yang kau pikirkan?” Jerit dara menahannya, donghae sendiri hanya bisa menyaksikan saja karena pukulan jiyong lumayan terasa menyakitkan membuat donghae tak mampu berkutip, donghae hanya memegangi wajahnya yang terasa perih dan menyayangkan keadaan wajahnya yang pastinya akan terlihat lebam membekas diwajahnya.

Dengan emosi yang masih tersisa dalam dirinya jiyong menarik tangan dara untuk bangkit dan membawanya bersamanya meninggalkan donghae yang masih terkapar dibawah, dara disitu berontak namun genggaman jiyong terbilang sangat kuat sehingga dara tak mampu melepaskannya. Jiyong dengan urat wajah yang mengencang dan tatapan dinginnya tetap berjalan membawanya ke arah motornya berada.

“Yaaaaa… lepaskan !! Lepaskan aku!” Dara masih berusaha sampai akhirnya tangannya terlepas. Dara disitu menatap jiyong dengan marah, namun jiyong sendiri tanpa sepengetahuan dara melepaskan jaket yang dipakainya dan memasangkan jaket itu dengan melingkarkannya dibagian pinggangnya seolah tidak cukup jas tadi pagi yang juga ia pakaikan kepada dara untuk menutupi tubuh dara yang terbuka, dara semakin termenung dengan perlakuannya. Apa dia gila? Apa dia kehilangan akal sehatnya? Gerutu dara dalam hatinya menghembuskan nafas beratnya masih menatap jiyong dengan marah.

Setelah jiyong selesai dengan persiapannya ia menyalakan motornya dan bukannya dia memakai helmnya ia malah memasangkan helm itu kepada dara.

“Naik!” Singkat jiyong bernada perintah. Dara tidak paham dengan perlakuannya itu, dia hanya berdiri disana dengan helm dan jaket tadi yang jiyong pakaikan tanpa memberikan respon apapun, terlalu bingung dan kesal dengan tingkah lakunya. Namun saat jiyong menaikan nada suaranya dara mulai seperti ketakutan dan secara terintimidasi menuruti perintahnya, dara pada akhirnya menaiki motor jiyong.

  • •••

“Mr. Park!” Suara lembut yang terdengar seperti suara bisikan mengusik telinga Mr.Park yang kini tengah duduk manis dikursi empuk seraya membaca koran ditangannya, Mr.Park menurunkan koran ditangannya untuk menatap Hayi yang sejak tadi berdiri didepan pintu ruangannya yang terbuka. Disana Hayi dengan wajah tanpa ekspresinya berdiri menghadapnya menunggu Mr.Park melihatnya.

Mr. Park menyuruh Hayi untuk mendekat dengan isyarat tangannya, Hayi pun berjalan kedalam ruangannya berusaha melupakan rasa takutnya, setelah tadi siang dia secara terpaksa ikut pulang bersama para penjaga dari ayahnya Hayi sudah paham jika ini merupakan ancaman untuknya apabila kabur lagi maka hal buruk akan terjadi kepadanya dan pastinya ayahnya akan melakukan hal lebih menyeramkan jadi Hayi lebih memilih untuk menuruti ayahnya dan berusaha menjadi anak yang baik sampai waktunya jiyong, oppanya menjemputnya. Jujur saja Hayi sangat ketakutan saat dia tiba dirumah ini dan mendapati Mr.Park ayahnya sudah menunggunya dan menunjukan wajah marah kepadanya, Hayi pikir ayahnya akan menghukumnya tapi nyatanya tidak, Mr.Park tidak banyak bicara dan hanya memintanya untuk tidak kabur lagi setelah itu pergi keruangannya. Ulah ayahnya ini membuat pikiran Hayi simpang siur antara bingung dan lega juga bercampur takut, takut jika ini hanyalah satu cara lain untuk menghukumnya maka dari itu Hayi memberanikan dirinya untuk menemui ayahnya ini dan meminta maaf atas tindakannya kemarin.

Hayi duduk dikursi tepat menghadap ayahnya Mr.Park dia sedang berusaha menekan rasa takutnya dan berusaha menatap mata ayahnya itu.

“Weh…?” Tatapan dan pertanyaan malas terlontar dari mulut ayahnya itu, Hayi mencoba membuka mulutnya namun hanya kata tak bermakna yang keluar dari mulut Hayi. “Emp … emp … emp!” Mr. Park menghela nafasnya mendengar omongan kosong dari Hayi.

“Sekarang kau keluar jika kau masih belajar berbicara dan kembali saat kau sudah lancar berbicara, membuang – buang waktuku saja!” Mr. Park kembali membaca korannya dan menghiraukan Hayi yang masih berada disana.

Hayi berdiri dan membungkuk beberapa kali.

“Mianhamnida Mr. Park aku hanya ingin emp… meminta maaf atas perbuatanku kemarin!” Hayi menunggu reaksi dari ayahnya dengan khawatir. Namun Mr. Park tidak menatap Hayi dan hanya meganggukan kepalanya. Hayi membungkuk untuk terakhir kalinya dan keluar dari ruangannya, namun langkahnya terhenti saat dia teringat sesuatu, hayi berjalan kembali menghadap ayahnya,

“Mr. Park tolong ijinkan aku untuk berjalan sebentar diluar aku janji tidak akan kabur!! Aku hanya ingin bermain ditaman saja!” Mr. Park menurunkan korannya dan berpikir sebentar sebelum ia mengangguk memperbolehkan hayi. Mata hayi berbinar cerah dan kembali ia membungkukan badannya. Hayi berlari keluar dengan antusias.

“Yeobseyoo detektif kim!”  Setelah hayi keluar Mr. Park langsung menghubungi Detektif Kim Jaejoong kepercayaannya.

“Mr. Park, kali ini apa yang harus aku lakukan ?” Detektif Kim langsung to the point.

“Kau jaga dari jarak jauh gadis kemarin yang aku tunjukkan di foto, ingat kau hanya menjaganya dari jarak jauh jangan sampai anak aneh itu tahu jika kau mengawasinya araseo!”

“Ara!”

Mr. Park mematikan telponnya lalu beralih kepada korannya kembali.

Sementara itu,

Hayi memasang jaketnya dan pergi keluar rumah membawa mp3 dan headphonenya. Hayi berjalan seraya mengingat – ngingat arah ke taman. Hayi sebenarnya ingin sekali untuk kabur lagi tapi mengingat jika ayahnya itu sangat menyeramkan hayi urungkan niatnya itu. Jujur dia sangat rindu dengan oppanya, sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan jiyong? Entah, hayi tak mau menghitung waktu.

“Ah sebaiknya aku duduk diayunan itu saja!!” Gumam hayi melihat sepasang ayunan tergantung pada batang pohon besar, saat ini hayi tentunya sudah sampai di taman itu namun sayang taman ini terlihat usang dan kosong tak ada orang yang berkeliaran di taman ini.

“Hmmm… ini lebih baik!” Hayi duduk dan terhanyut dalam lantunan ayunan yang ia duduki, seraya mendengarkan musik di mp3nya hayi menutup matanya mencoba menikmati waktunya disana. Dia harap semua akan segera kembali seperti semula. Dia ingin kembali bersama jiyong dan melewati hari – harinya dengan tenang bersama jiyong.

Sekitar 45 menit hayi tak meyadari jika dirinya telah menghabiskan waktu sendirinya disana, sebuah langkah kaki menyadarkan hayi. Namun saat hayi akan berbalik melihat siapa orang itu sebuah tangan seseorang  mengayunkan ayunannya. Hayi mulai takut dia mendongak kebelakang menatap orang itu.

“Anyeong!” Suara lembut orang itu menyapanya. Hayi ingat siapa orang itu, “Mengapa kau ada disini sendirian!” Dengan nada lembut orang itu mengatakannya masih mengayunkan ayunannya. Hayi tak habis pikir dengan perbuatannya, apa orang itu mengikutinya kemana – mana? Mengapa dia selalu ada dimana hayi berada? Tanya otak hayi.

“Apa kau masih mengingatku? Aku hanbin, tadi tak sengaja aku melihatmu sendirian disini! Apa aku mengganggumu?” Hanbin menghentikan mengayunkan ayunan itu dan berjalan menghadap wajah hayi. Hayi menatapnya bingung dia sama sekali tak mengenalinya.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya hayi singkat, hanbin tersenyum mendengar suaranya lagi. Dia berjongkok kebawah seraya melepaskan headphone yang dipakai hayi.

“Apakah boleh aku katakan jika aku menginginkanmu?” Hanbin menggelengkan kepalanya.  “Ahh… itu terlalu cepat jadi saat ini yang aku inginkan darimu hanyalah keberadaanmu, ijinkan aku menjadi temanmu!!” Lanjutnya, Hayi menatap mata hanbin yang memang terlihat beda, senyuman dan tatapan matanya memang murni, dan tulus. Tapi inilah hal baru untuknya, baru kali ini dia menemukan seseorang yang berani mendekatinya dan bahkan ingin menjadi temannya. Bukankah dirinya adalah orang aneh?  Lalu mengapa dia sangat bersikeras mendekatinya?

Dalam posisi ini, hanbin menunggu balasan dari permintaannya tadi. Dia terbilang harap – harap cemas, saat tadi dia pulang dari latihan bermain skateboard bersama mino dia berniat mengambil barang – barang yang ditinggalkan di rumah mino untuk dia bawa pulang ke rumahnya tapi ditengah perjalanan ia mendapati pemandangan indah di taman usang itu dan entah apa yang ia pikirkan karena kakinya langsung berjalan menghampirinya.

“Aku beda!” Hanbin mendongak menatap mata hayi saat dia melontarkan sebuah kata. “Aku beda! Aku bukan seperti orang – orang biasa!” Lanjut hayi membuat hanbin kebingungan.

Hanbin berdiri dan berjalan kebelakang mengayunkan ayunan hayi lagi. “Aku tak mengerti maksudmu tapi yang aku tahu adalah perbedaan bukan merupakan sesuatu yang harus dijauhi, bukankah dengan perbedaan hidup terasa indah berwarna? Aku yakin kita mampu mengetahui keindahan perbedaan itu jika kita mencobanya!” Puitis, pikir hayi mendengar perkataan hanbin.

Emp… baiklah tak ada salahnya toh dia sudah beberapa kali menolongku! Walaupun awalnya dia sangat aneh dan membuatku takut tapi… jiyong oppa pernah katakan jika berteman dengan seseorang itu hal yang indah. Gumam hati hayi.

Hayi menganggukan kepalanya, hanbin melihat itu. Bingung, hanbin menghentikan ayunan itu. Hayi berdiri dan menghadapnya. Dia tersenyum, pikir hanbin saat hayi tersenyum kepadanya.

“Perkenalkan namaku Hayi!” Hanbin termenung menatap tangan hayi yang terulur dihadapannya. Hanbin melirik wajah – tangan – wajah lalu tangannya lagi karena dia masih tak percaya dan bertanya – tanya apakah ini sungguh terjadi? Apa benar wanita didepannya ini menerima permintaannya tadi?

“Mian aku hanya ingin resmi berkenalan denganmu!” Gumam hayi menarik tangannya ke bawah, tapi sebelum itu terjadi hanbin menarik tangan hayi dan mengayunkannya antusias.

“Aigooo..   yeyeye kita belum berkenalan secara resmi! Namaku hanbin!” Hayi tersenyum membuat wajah hanbin mengembang seperti roti yang mengembang setelah matang. Dia sangat senang,

  • •••••

“Ini dimana?” Tanya dara bingung melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekelilingnya. Jiyong turun dari motornya dan menarik tangan dara untuk masuk ke dalam rumah kecilnya.

“Duduk… !” Perintah jiyong yang lalu meninggalkannya sendiri.

Dara disitu sangat bingung dan tak mampu berkata apapun, dia lalu membuka helm dikepalanya terlebih dahulu sebelum duduk di sofa. Belum beberapa menit lamanya jiyong sudah datang kembali membawa 2 buah gelas jus ditangannya. Jiyong pun duduk di sofa menghadap dara dan menyodorkan satu gelas untuk dara namun dara malah menggelengkan kepalanya secara langsung menolak tawaran jiyong itu. Jiyong menaikan alisnya dan hanya menyimpan jus itu di atas meja didepannya.

“Bisa kau jelaskan apa maksudmu membawaku kesini?” Dara menatapnya kesal namun jiyong malah tertawa geli membuat dara semakin kesal. Dara mengigit giginya keras menahan emosi yang ingin sekali keluar dalam dirinya.

“Aku ingin pulang!” Gumam dara berjalan ke arah pintu depan namun langkahnya terhenti saat mendengar omongan jiyong. “Kau tidak bisa pulang!” Dara berbalik menatapnya, “maksudmu?” Tanya dara dengan nada yang cukup keras. “Kau lihat! Rumahku ini sangat jauh dari mana – mana dan tidak ada satu pun taxi atau pun kendaraan umum lainnya yang lewat ke daerah ini!” Pekik jiyong menertawakan dara dalam hatinya. “Moga dia percaya dengan omonganku!” Pikir jiyong menunggu reaksi dari dara.

“Kau hanya bercanda bukan?” Dara sungguh tak tahan dengan sikapnya. Dia ingin sekali merobek wajah menyebalkan jiyong itu.

“Intinya kau hanya bisa pulang jika aku yang mengantarkanmu saja, jadi sekarang lebih baik kau diam dan duduk manis di sofa itu!” Jawab jiyong menunjuk sofa tadi yang dara duduki dan  menatap dara dengan wajah playfullnya.

“Boragoooooooo??” Teriak dara, dia frustasi sudah tak mampu menahan emosinya dan berlari kearah jiyong.

“Kau bilang apa hah??” Teriak dara seraya menghempaskan tubuhnya keatas jiyong dan mengakhirinya dengan duduk dipangkuan jiyong, lalu dia mengeluarkan semua jurusnya memborbardir tubuh jiyong. Dara memukul jiyong disemua bagian tubuh yang tercapai olehnya, lalu menggenggam wajah jiyong dan menariknya ke kiri dan ke kanan membuat jiyong berteriak … ” yaaaaaaa …… !” Namun dara belum selesai sampai disitu dia menarik rambut jiyong lumayan kencang kali ini membuat jiyong tak tahan dan menarik tangan dara dari rambutnya seraya mengangkat kedua tangan dara keatas kepala dara dan mengunci tangannya disana, jiyong menatap dara kesal kedua saling satu sama lain bernafas berat dan dengan detak jantung yang berdetak lebih kencang, jiyong dengan keadaan sangat kacau akibat serangan dara tadi dan dara dengan keadaan yang kini seperti buronan yang tertangkap oleh polisi kedua tangannya dikunci diatas kepalanya oleh tangan jiyong. Namun satu hal yang mereka tidak sadar adalah posisi keadaan mereka yang terbilang sangatlah intim.

“Lepaskan aku!!! Aku belum selesai memukulmu yaaaaaa… !!!!” teriak dara berusaha menarik tangannya,  tindakannya ini membuat tubuhnya dara bergoyang dipangkuan jiyong. Jiyong menghela nafasnya merasakan rasa aneh pada bagian bawahnya, dia membuka dan menutup matanya seolah menahan sesuatu saat dara tetap bergoyang dipangkuannya yang berusaha menarik tangannya dari genggaman jiyong.

“Oh shiiiittttt! My Baby maker bergerak, damn f**kkkk!!” Pikir jiyong menahan sesuatu, meneriaki dirinya sendiri.

“OMG baby, jangan terbangun tetap tertidur okeeeee, jeballl!” Teriak batin jiyong.

“Wanita stop… !! Oh man jangan terus bergerak kau akan membangunkan baby makerku f**k!” teriak jiyong membuat dara kaku dan berhenti bergerak, dara menatapnya horor seakan paham apa maksudnya. Dengan mata bulatnya dara menatap jiyong dengan takut. “Jangan katakan… ???” Ragu, dara membuka mulutnya tak percaya.

“Fckkkkkkk…… shit!!” Jiyong kini mengutuk dirinya saat dia tahu sesuatu telah terjadi dengan ‘babynya’ itu. Dia melepaskan tangan dara dan mengangkat tubuh dara dari pangkuannya lalu secepat kilat jiyong berlari kearah kamar mandi. Dara membuka mulutnya tak percaya dia baru saja membuat …

 

 

“Omg omg … ohmaigatttt dara~ahhhhh!” otak dara menjerit dan kedua tangannya langsung beralih menutup wajahnya merasakan panas dan pastinya rona pipinya yang merah karena rasa malu yang sangat besar ia rasakan.

 Dia paham tentunya! Dia bukan gadis muda lagi, dia sudah hampir menuju 30 tahun saat ini. Hal seperti ini sudah bukanlah hal awam apalagi jujur saja dirinya terkadang suka menonton video porno, yaaa alibinya untuk pengetahuan tapi ya kita tahu apa yang disebut dengan ‘rasa penasaran dan keingintahuan terhadap sesuatu yang merupakan lazim dan bukan hal umum dilakukan apalagi menyangkut lawan jenis kita’.

Dara memegangi wajahnya terlalu malu, apa yang harus dara katakan saat jiyong selesai dengan urusannya? Apakah dara sanggup menatap wajahnya setelah kejadian tadi? Apa dara harus bersembunyi saja? Apa? …… apa … apa … apa … dan apa dalam pikirannya, hal konyol sekalipun dara pikirkan untuk menghindari jiyong.

“Gahhhhh… apa aku harus bersembunyi saja??? Kyahhhh omg dara apa yang kau pikirkan tadi?? Kau sudah melalukan hal yang … omg aku bahkan tak sanggup mengingatnya lagi!” Dara histeris dia mondar – mandir disana jarinya tak henti ia gigit karena rasa tegang, gugup, malu dan bahkan takut ia rasakan. Dara berjalan kesekeliling ruangan itu dan mencoba mencari tempat persembunyian untuknya,

cerrrrrr…

 

Dara mendengar suara air mengalir, dan entah mengapa seakan iblis jahat tengah mempengaruhi otaknya dara malah berjalan menghampiri suara itu. Dia berjinjit seraya menempelkan telinganya pada sebuah pintu yang ia yakini merupakan sumber suara tadi.

namun alangkah mengejutkannya ketika dara mendapati jika suara dalam ruangan itu bukan hanya suara air tapi juga suara jiyong,

“Omg … maafkan aku Tuhan!” Dara mengutuk dirinya atas kelakuan tercela ini namun tetap saja iblis penasarannya itu merayunya untuk tetap berada disitu.

“Omg … apakah itu suara rintihan???? Ah bukan itu suara desahan… !!! Omg !!” Dara menggigit jarinya mendengarkan suara yang keluar dari kamar mandi itu. Dia bahkan ‘hampir’ membayangkan apa yang tengah terjadi dan tengah dilakukan jiyong didalam kamar mandi itu.

“Fckinggggggggg shittttt sandaraaaaaa…!” mata dara terbuka lebar saat mendengar jiyong berteriak tapi bukan hal itu yang membuat dara terkejut tapi karena namanya yang dia teriakanlah yang membuat dirinya sangat terkejut.

“Apa dia … apa dia menyebut namaku?? Apa dia … apa dia menyebut namaku saat dia melakukan itu?? Apa dia gila? Apa… apa … dia benar – benar?” Dara tidak bisa memikirkan apapun alasan yang tepat untuk memahami kejadian ini. Dara menegakan tubuhnya dan berlari kearah sofa tadi dan duduk seakan tak bernyawa disana.

  • •••••

“EKHEMMMM …… !!” dara terkejut mendengar suara itu.  Aigooo… apa yang harus aku katakan… aku sangat malu!  keluh hati dara menunggu jiyong menghampirinya.

… dan benar saja jiyong berjalan menghampirinya dan tiba – tiba duduk disampingnya, jiyong menghempaskan tubuhnya disana seraya menghela nafasnya kencang. Dara terdiam kaku ditempat tak henti hatinya mengutuk dirinya sendiri.

Jiyong berbalik kearah dara, lalu jarak beberapa detik kini dara ada dipangkuannya jiyong terduduk kaku menahan nafasnya. Tangan dara berada didada jiyong menahan tubuhnya untuk lebih dekat dengannya.

“Kau gadis nakal!!!” Suara jiyong yang seperti menggoda bergulir pelan ditelinga dara seakan fungsi tubuhnya sengaja ikut menggodanya. Dara memalingkan wajahnya dara jiyong.

“Sekarang jika kau melakukan hal seperti tadi lagi aku jamin kau akan kumakan hidup – hidup!!!” Jiyong membuang nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan omongannya.

“Lihat… apa yang telah kau lakukan terhadapku tadi!!! Kau sungguh membuatku gila!” dara menatapnya canggung lalu, “mian!” seakan berbisik dara menundukan kepalanya.

Mereka masih dalam posisi itu tapi kali ini situasi aman terkendali. Jiyong merapihkan rambut dara yang jatuh didepan wajahnya yang secara otomatis membuat dara terkejut atas perlakuannya. Dengan tenang jiyong memandang wajah dara seakan mencari sesuatu. Dara semakin bingung dengan perilakunya yang tak mampu ditebaknya itu, dara tak paham sedikitpun atas tindakan jiyong kepadanya.

“Heh?” Panggil jiyong.

“Aku akan mengantarkanmu pulang!” Singkat jiyong memindahkan posisi dara tadi dan beranjak pergi keluar, dara tak mengerti namun kakinya ikut berjalan mengikutinya dari belakang. Selang beberapa menit mereka pun langsung melesat pergi.

 ^^ TBC.

Next >>

Anyeong 🙆🙌👋

Mian chapter ini pendek banget…

Tapi tenang , tunggu kelanjutannya oke!!

jangan lupa komenannya ya??? 😝😜😘😘😆👅

HENGSHOOOO

ANYEONG ✌✌💗💋💕

Advertisements

26 thoughts on “TURNING 30 [Chap. 3]

  1. Lucu ya mereka ber2 ,ku bacanya seyum2 sendiri,,dara mulai nakal ya✌n sepertinya hayi and hanbin mungkinkah# fallinginlove
    Kita tunggu lanjutanya tp jngn lm ya thor👏👏✌ tuk yg merayakanya GONG XI FAT CAI 🙏🎍🎇👲👲MOGA kita semua sehat n sukses amin

  2. Akhirnya update juga,hampir lupa gimana kelanjutannya.
    Hanbin dan hayi udah berteman,jiyong pun mulai bertingkah posesif sama dara.
    OmG,,,,little dragon ngamuk.
    Ayahnya jiyong jahat banget sama hayi,yang sabar ya hayi???

  3. Lupaaa sama cerita awal nya wkwkwkwk, uhhh hayi udah berteman sama hanbin jiyongg udahh mulai ngelindungin dara wkwkwkwk, dara nakal yaa wkwkwkwwk

  4. mampus tuh jiyong jadi korban kenakalannya dara wkwkwk. kirain dara bakal di kisseu, ternyata engga hahahahaha.
    akhirnya hayi mau temenan sama hanbin yeay

  5. Woww dara nakal yaa smpai gila di kamar mndi tuh jiyong wkwkw. Ketawa sndiri bca bgian itu wkwkkw. Hayi hanbin udh mulai dekat nih ciehhh… lanjutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s