SEOULITE [Chap. 2]

HOLD MY HAND

Author : DeeXXI

Genre : romance

Cast : Kwon Jiyong and Sandara Park

Inpiration from lee hi’s album seoulite

Descript : menceritakan tentang kisah dua orang yang berasal dari seoul yang kembali bertemu di london. Juga menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis yang berakhir bahagia. Mereka berpisah lalu dipertemukan kembali walau secara sengaja.

This fanfiction dedicated for reader : Rara renata, Semisafitri, Indah, Kwonjita, WinniKurnia, Nanda Fahma, DaraKwon, Shrfh.xx, Dian Ai, diah, ima, meita, Syifa Maulidiana, Novi46, diahvipanda, dan Siska Amelia, thanks for comment from ya guys. Flying kiss from me, Dara eonni and Jiyong Oppa :* :* :*

><><Hold My Hand><><

2 tahun kemudian

Sandara POV

Hari selasa yang terasa istimewa setelah minggu lalu kami menerima seorang fotografer baru. Yess, minggu lalu fotografer baru kami datang dan memperkenalkan diri. Dia berasal dari seoul, sama sepertiku dan yap dia adalah kwon Jiyong. mantan kekasihku.

Mantan? Oh ya, dia hanya mantanku sekarang. Kami berpisah setelah 2 minggu kepergianku ke eropa. Kami hanya tidak bisa menjalani semuanya dari jarak jauh. Kami memutuskan ini dengan baik-baik. dan merelakan segalanya pada takdir. Mungkin jika kita memang telah ditakdirkan bersama kita akan kembali bersama.

“hay Dara” seperti biasanya, aku akan menyapa seluruh karyawan yang ada disini. Aku memasuki ruanganku dan melihat jadwalku hari ini. Tidak begitu padat. Aku melirik keluar jendela, aku terkadang merindukan suasana kota seoul. Aku akan kembali jika waktunya memang sudah tepat. Aku merindukan eomma.

Jam makan siang sudah lewat 5 menit yang lalu tapi aku masih berkutik di depan komputerku. Mengedit hasil gambarku kemarin siang. Itu adalah hasil gambar pre-wedding. Cukup mudah memang tapi jumlah yang diminta yang sulit. Mereka meminta 50 gambar berbeda effect dan edisi. Sial bukan?

Seseorang mengetuk ruanganku, aku menyuruhnya masuk dan tebak siapa dia. Jiyong kwon. “kau tidak makan siang?” tanyanya, aku menggeleng. Masih sibuk dengan tugasku ini, ia mendekatiku dengan gelas kertas di genggamannya. “kau terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini” aku mendesah sebelum meliriknya “beginilah pekerjaanku. Setelah aku mendapatkan tugasku yang kedua di roma, aku ditugaskan menjadi seorang editor sekaligus fotografer” ucapku, ia tertawa kecil dengan tangannya yang jail mengacak rambutku.

Aku mendengus kesal, “kau ingin sesuatu? Aku akan membawanya kemari” aku meliriknya, memperhitungkan jawaban yang akan aku berikan padanya. “baiklah, satu sandwich dan salad” ia mengerutkan kening “apakah itu makan siangmu setiap hari?” tanyanya, aku mengangguk. “ada apa?” ia hanya menggeleng dengan langkah kakinya yang menjauh keluar dari ruanganku. Aku mengangkat bahu.

Jiyong datang setelah beberapa menit. Kurasa. Saat aku bekerja, aku tidak pernah tahu berapa lama aku berada di depan komputer. Terlalu sibuk hanya untuk melihat jam. Bahkan memindahkan pandangan ke sudut bawah layarpun terasa sulit. Ia membawa apa yang aku inginkan bersama beberapa makanan berat.

Aku merenggangkan ototku yang terasa kebas. Tugasku terhitung 4 hasil edit lagi. Aku melirik jam di sisi ruanganku. Great, waktunya pulang Sandara park! Kau berhasil mengurung dirimu selama kurang lebih 10 jam.

Aku keluar dari ruanganku dan bertemu dengan Jiyong didepan ruangannya. Tidak, ia tidak memiliki ruangan khusus sepertiku. Sama sepertiku diawal kerjaku. Memiliki ruangan yang diisi oleh 4 fotografer. Dan Jiyong juga seperti itu. sepertinya, dia adalah yang terakhir.

Jiyong mendekatiku, “akan pulang?” tanyanya, aku hanya mengangguk. “kau terlihat sangat kurus Dara” aku menggigit bibir bawahku, apakah dia memperhatikanku? “benarkah?” tanyaku. Ia hanya mengangguk, “kau terlihat seperti tulang berjalan” aku mendengus, ia mengejekku ternyata.

Kami berada di halte, menunggu kedatangan bis yang akan mengantarkan kami ke apartement. Dan beruntungnya apartement miliknya berada di satu arah denganku. Kami banyak mengobrol. Tentang pekerjaan, masa lalu, keluarga dan kerinduan kami ke seoul. Ya walaupun Jiyong terhitung masih baru disini, ia ternyata memiliki perasaan rindu yang mendalam pada ibunya.

“kau telah menghubungi ibumu?” tanyaku, ia menggeleng. “aku tidak ingin membuatnya khawatir. Ia selalu menangis setiap kali aku menghubunginya” kami tertawa. “dia masih sama seperti dulu. Sangat menyayangimu” ia mengangguk “bagaimana tidak, aku adalah anak lelaki satu satunya. Dan dami noona telah memiliki keluarganya sendiri. Kau tahu dia melahirkan anak keduanya saat aku berangkat kemari” ceritanya “benarkah?” ia mengangguk

Dia mulai menceritakan tentang dami eonni kakaknya. “bagaimana denganmu? Apakah kau sering menghubungi ibumu?” tanya Jiyong, “tentu saja, kau tahu ia selalu memintaku untuk kembali secepatnya. Tidakkah dia tahu bahwa aku datang kemari bukan untuk berlibur” kami larut dalam obrolan kami.

Kami semakin dekat sejak hari itu. kalian tahu, Jiyong kini semakin tumbuh dewasa. Ia menjadi seorang pria yang tangguh dan errr tampan. Tingkat ketampanannya tidak dapat ditandingi walau oleh justin bieber, atau brad pitt, atau christiano ronaldo, ataupun lee minho. Tidak, dia tetap kwon Jiyong yang menurutku tampan.

Jiyong memasuki ruanganku setelah mengetuk pintunya sebanyak 8 kali. Ya, terkadang dia menyebalkan. “jika seseorang mengetuk pintumu sebanyak 8 kali, itu tandanya adalah aku. Aku akan masuk walau kau tidak menyuruhnya” heol, dia fikir siapa lagi yang akan mengetuk pintu sebanyak itu? aku bahkan akan mengetahui bahwa seseorang yang mengetuk pintu itu adalah Jiyong saat pintu telah diketuk sebanyak 4 kali. Teman-temanku atau siapapun hanya akan mengetuk sebanyak 2 kali.

Ia memasuki ruanganku dengan kotak makan ditangannya. Itu adalah makan siangku, aku yakin. Kebiasaan dia yang lainnya, membawakanku makan siang. “kau terlihat sangat kurus dan itu mengganggu penglihatanku” sial, memangnya dulu seperti apa bentuk tubuhku?

Seperti hari sebelumnya, aku dan Jiyong kembali kerumah bersama. Setidaknya aku memiliki teman yang bisa diajak mengobrol dengan bahasa ibu. “kau memiliki jadwal untuk besok?” tanyanya, aku menoleh lalu menggeleng. “mau pergi ke suatu tempat?” tawarnya, “kemana?” tanyaku. “hanya berjalan-jalan” aku mengangguk mengiyakan. Tidak begitu buruk, untuk sekedar refreshing.

Dan hari ini, aku dan Jiyong akan berjalan-jalan disekitar big eye. Ya, sekedar melepas penat karena pekerjaan yang menumpuk. Aku berjalan di samping Jiyong yang setia dengan kameranya. Aku menatap tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk melihat hasil potretnya.

Aku kembali ke masa lalu, tangan itu selalu menggenggamku. Aku membuat batuk palsu menarik perhatiannya, ia menoleh dan tersenyum. Oh god bunuh aku sekarang, dia semakin tampan dimataku. “ada apa?” tanya Jiyong, aku menggeleng dengan senyum yang dipaksakan. Lalu menggosok tanganku yang kedinginan. Ini hampir musim dingin, dan mungkin akan turun hujan.

Jiyong masih tersenyum hangat, ia meraih tanganku dan menggenggamnya, ia selalu tahu apa yang aku inginkan. Aku tersenyum ke arahnya. “hanya katakan apapun yang kau inginkan. Kita bukan orang lain bukan?” tanyanya, aku mengangguk. Dan ohh wajahku terasa terbakar. “tidak perlu merona, kau seperti gadis remaja yang baru merasakan cinta” aku menggigit bibir bawahku.

Kami berakhir di sebuah cafe, untuk beristirahat. Aku menatapnya, ia benar-benar terlihat tampan sekarang. Bukan berarti dulu ia tak tampan, tapi aku merasa Jiyong terlihat semakin tampan. “ji” panggilku, ia mendongak dan menatapku. Masih sama seperti yang selalu ia lakukan setiap kali menatapku.

Aku tersenyum dan mendekatkan tubuhku padanya. “bisakah aku terus menggenggam tanganmu? Merasakan kembali kehangatan yang ada di tanganmu? Bisakah? Bisakah…. bisakah kau kembali padaku?” tanyaku dengan tatapan memohon. Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Terlebih, dulu akulah yang memutuskan hubungan.

Aku masih menatapnya yang kini mengkerutkan kening. Mungkin ia bingung, tapi aku benar-benar ingin kembali dengannya. Untuk alasan yang tidak aku ketahui “hatiku dingin karena kekosongan. Bisakah kita kembali seperti dulu? Bisakah aku kembali merasakan kehangatanmu?” tanyaku.

Dan dia masih diam, apakah dia telah melupakan perasaanku. Aku mendesah sebelum mundur, menyandarkan punggungku pada kursi di belakangku. Ia menunduk sebelum menampilkan senyumnya, “apakah kau yakin Dara?” tanyanya, aku mengangkat bahuku “dulu kita berpisah karena jarak. Dan sekarang kita dekat” kuharap ia mengerti tentang apa yang aku ucapkan barusan.

Dia tersenyum lalu meraih tanganku. “jika itu yang kau mau. Baiklah, mengapa tidak kita coba lagi hubungan yang dulu” aku menatapnya tidak percaya, “Apa? Kau tidak ingin?” tanyanya, bodoh. “te..tentu saja… kau tidak sedang bercanda bukan?” tanyaku, ia mengangkat bahu. “ini tentang sebuah perasaan, aku tidak ingin bermain pada perasaan” oh crap sepertinya aku kembali merona.

_to be continue_

a/n : Alohaaa yeorobunnn!!!! I’m back with next chap of this fanfic! Ini songfic dari lagu hold my hand. Mian jeongmal mianhae kalau gak ngefeel atau malah ngancurin feeling dari lagunya huhuhu (-_-“) i’m not good for making fanfic actually kekeke next chap adalah lagu breathe. Chapter selanjutnya bakal didedikasikan kepada reader yang comment. Semoga kalian suka sama next chap yang makin absurd ini kekeke XD masih meminta dan memohon untuk meninggalkan jejak tulisan ^^ comment woy comment XD

Advertisements

27 thoughts on “SEOULITE [Chap. 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s