[Series] Melody of The Paint – 8

edit1

Melody of the paint

Author: alexandria

Cast star: Kwon Jiyong(30th), Sandara Park(28th), Lee Donghae(29th), Park Sanghyun(20th), Choi Dongwook(28th), Choi Seunghyun(20th), Lee Seungri(25th),Lee Chaerin(29th)

 

Part 8

Jiyong menatap managernya dengan sinis sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa konfirmasi apa-apa darinya untuk datang ke rumahnya hari ini. Tapi itu bukan topik yang ia herankan, yang diherakannya adalah ia membawa kekasihnya bersamanya dan ini adalah untuk pertama kali ia mengajak seseorang ke rumahnya.

“Hello hyung!” Seungri menyalaminya sambil mengangkat tangan kanannya. Tapi tatapan Jiyong tidak berubah.

Seungri dan Chaerin berjalan mendekat,Chaering membungkuk, “A-anyeonghasaeyo..”

Jiyong hanya melihat sekilas pada Chaerin dan kembali menatap Seungri, menunggu Ia menjelaskan apa yang terjadi sekarang.

“Apakah kamu meneleponku tadi?” Tanya Jiyong akhirnya dengan bersikap sok santai tapi tetap memasang ekspresi dinginnya.

“Seingatku tadi aku meneleponmu hyung dan katanya aku bisa datang kesini dan harus membawa Chaerin.” Jawab Seungri sambil menarik Chaerin ke sisinya.

Jiyong mengerutkan keningnya lagi, mengingat apakah tadi ada telepon dari Seungri tapi seingatnya, handphone-nya dari tadi pagi belum ia pegang.

“Chaee…..”

Jiyong memalingkan wajahnya ke arah suara itu, dan ekspresi wajahnya langsung berubah dari dingin menjadi cemas.

“Yaaak! Sudah ku bilang jangan banyak bergerak dan tetaplah di tempat tidur kan?!” kata Jiyong sambil berlari ke lantai atas, ke arah dimana Sandara berada.

“Sudah ku bilang, aku sudah mendingan tuan Kwon..”

“Ani! Kamu berada di rumahku, jadi dengarlah perintahku.”

“Perintah?! Kamu bilang perintah?! Hah.” Sandara tidak percaya akan apa yang didengarnya. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperintah karena dia adalah orang yang akan memerintah. Ia melipat kedua tangannya dan menatap ganas Jiyong yang ada dihadapanya sekarang.

“Ya. Ini perintah. Mungkin di luar sana kamu adalah bos tapi disini, Aku! Jadi berhentilah menjadi pembangkang.” Jiyong berjalan ke arahnya dan mendorong kursi roda ke arah kamar Sandara sekarang.

“Chaeee……… Bantu aku untuk keluar dari sini…….” teriak Sandara kepada temannya yang sekarang seperti patung dengan mulut terbuka dan membulatkan matanya.

“Apa yang barusan terjadi, seungri-ah?”

Seungri hanya tersenyum dan menatap kamar Sandara yang masih terbuka lebar, mendengar suara berdebat antara Sandara dan Jiyong, “Menarik.”

~~~

“How’s ur day, ssantoki?” tanya Chaerin saat duduk di tempat tidur Sandara.

“Kamu bisa lihat sendiri kan?!”

Chaerin terkekeh melihat wajah Sandara yang masih kesal dengan perlakuan Jiyong padanya.

“Aku rasa dia akan dingin padamu makanya aku khawatir dan ingin melihatmu. Tapi ternyata..”

“Tarik kata tapimu itu chaelin-ah…. hidupku disini seperti neraka.”

“Dia jadi terlihat berbeda denganmu. Aku tak pernah melihat roman wajahnya seperti tadi ketika dia melihatmu.”

Sandara menarik napas dalam dan menyerah. Ia menghentakkan kakinya ke sebarang arah dan menggeram, “bawa aku pulang, chaelin-aah”

Chaerin menatap hangat sahabatnya itu dan tertawa terbahak-bahak.

“bwaaahahaahahahahahahahhaa,, omooo… perutku.. bwahahahaha”

“Ada apa?” Sandara mengerutkan alisnya sambil menatap bingung kepada teman yang sudah dianggap saudaranya itu.

“hahahah… ani.. aniyoo” Chaerin masih saja terkik, Ia masih merasa keadaan Sandara dan Jiyong sekarang berubah. Dulunya yang seperti ada perang yang tidak kelihatan ketika mereka bertatapan tapi hellnow, ini lebih sangat menarik ketika melihat kecemasan yang dalam pada ekspresi Jiyong tadi. “Jadi sejak kapan kamu sudah berubah ssantoki?”

“ha?!” Sandara masih belum mengerti apa maksud pertanyaan dari Chaerin.

“Iya, kapan kamu dan Jiyong menjadi begitu … hmm.. apa kata yang tepat ya?!”

“aahh.. MOLAA.. Jangan  berpikiran aneh chae. Dia itu sangat menjengkelkan dan aku disini sangatlah sengsara.”

“kekekekkk… Aku rasa tidak seperti itu, aku merasa kamu belum menyadarinya.. ckckck.. ” Kata Chaerin sambil mencipitkan matanya yang memang sudah segaris itu, “Bagaimana keadaanmu Ssantoki?”

“Seperti yang kamu lihat sekarang ini, aku sudah lebih baik dan si brengsek itu tidak mau aku kembali ke rumah kecuali aku sudah sembuh total.” Sandara melipat tangannya di depan dadanya dengan ekspresinya yang sebal.

“Ommo… bwaaahhahaahhaahha… lihat ini… bwhahahahahahahh.. aaahhh ahhh ahh perutku…”

“Yak!! Hentikan!! Pch..”

“omoo.. Ssantoki, apa kamu buta atau tidak mau menerima kenyataan bahwa seorang pianis terkenal, Kwon Jiyong telah berubah hanya kepadamu?!”

“Eheeeemmmm…” Suara berdeham dari arah pintu kamar Sandara yang ternyata daritadi terbuka dan entah dari kapan manusia yang tidak ingin Sandara lihat berdiri disana sambil berlipat tangannya.

“Ooh, maaf Tuan Kwon.. maaf kalau suara tawaku berisik” Chaerin dengan sigap berdiri dan menunduk ke arah Jiyong berada.

“Sedang apa kamu disitu hah?!” Tanya Sandara menatap Jiyong yang sedang memandanginya daritadi.

“Hm.. tadi aku hanya melewati kamar ini dan ternyata aku mendengar namaku disebut” Ekspresi Jiyong masih sama, datar.

“Oh mianhe Tuan Kwon, Aku tadi hanya-”

“Berhenti meminta maaf Chae.. Kamu tidak salah apa-apa. Apa salahnya kalau kita menyebut namanya? Apa dia Tuhan ha?!”

“sssttt! Ssantoki jangan seperti itu”, ucap Chaerin pelan sambil masih menundukan kepalanya.

“Aku rasa temanmu yang keras kepala ini tidak pernah berubah Chaerin. Aku jadi sangat penasaran dengan sifat aslinya. Apa memang dia menyebalkan seperti ini?!” kata Jiyong sambil berjalan menuju kursi yang berada di sebelah ranjang Sandara. Jiyong memasukan kedua tangannya di dalam saku celananya sambil memandang Sandara yang sedang menatapnya dengan kesal, “mwo?!”

“Kenapa kamu disini sekarang?! Lanjutkan aktivitasmu sana.. dan anggap saja namamu tadi tidak disebut.” Kata Sandara tanpa melihat Jiyong yang terus menatapnya.

“Chaerin-ssi, apa kamu sudah makan?”

Chaerin mendongak menatap Jiyong yang tidak lepas pandangannya pada Sandara, dan ia tersenyum, “Belum Tuan Kwon.. aku akan menyusul seungri dulu untuk menanyakannya tentang makan siang, so permisi” Chaerin berjalan keluar kamar, menatap Sandara yang masih berekspresi kesal sambil membuang muka ke arah jendela, ia mengerti maksud dari pertanyaan Jiyong, Jiyong hanya mau berbicara dengan Sandara.

“Kenapa kamu kesal denganku?” Tanya Jiyong ketika hanya tinggal mereka berdua.

Sandara tidak menjawab, ia bahkan tidak mau menatap Jiyong.

“Aku bicara denganmu,Sandara..”

Sandara masih diam, ia bahkan terlihat seperti patung.

*brrrrttt* *brrrrrrrrrrrttt*

Getar HP Sandara yang ada di atas nakas samping ranjangnya mengalihkan pandangannya. Dan disitu tertera nama yang membuat dunianya lebih membosankan. Tapi karena ingin menghindari tatapan Jiyong, Sandara pun menjawab panggilan itu.

“Yeobeosaeyo..”

“Dara?! Akhirnya kamu mengangkat teleponku, kamu sudah tidak apa-apa? Aku dengar kamu sakit dari keluargamu.”

“Hm.. aku tidak apa-apa”

“Kamu dimana sekarang? Tadi aku berpapasan dengan Sanghyun dan ia bilang kamu tidak di rumah saat ini”

“Aku ada di tempat yang paling menyebalkan yang pernah ada di dunia ini” Sandara mengatakan itu sambil menatap sinis ke arah Jiyong yang menatapnya datar.

“Apa maksudnya say-” Jiyong mengambil hp Sandara dan mendengar suara Donghae yang masih berbicara.

“Hei kembalikan hpku!! Yaaak !!”Sandara berusaha untuk meraih hpnya dari genggaman Jiyong yang masih mendengarkan ocehan Donghae.

Jiyong masih menatapnya datar tapi ada yang lain dari tatapan itu ketika mendengar panggilan Donghae pada Sandara, seketika itu juga ia mengakhiri panggilan Donghae dan menonaktifkan hp Sandara.

“Aku pikir kamu butuh istirahat bukan mendengarkan ocehan dari anak manja sepertinya”

“yaaaak!!!! Siapa kamu yang berani-berani mengambil hpku!” teriak Sandara.

“Aku?! Aku pemilik rumah ini dan di rumah ini yang berkuasa adalah aku. Siapa pun yang tinggal disini menurut pada perintahku” Jawab Jiyong tak kalah keras dengan suara Sandara. “Dan Hp-mu akan aku simpan sampai kamu sembuh.” Dengan begitu Jiyong beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari kamar Sandara. Sedangkan Sandara hanya menatapnya bingung.

Apa yang sudah aku lakukan sampai dia seperti itu?! oh God, if you listen to my voice now,please save me from this crazy man, benak Sandara sambil menutup matanya kuat-kuat berharap ia dapat bangun dari mimpi buruk ini.

~~~

“hei hyung, aku pulang dulu ya..” teriak Seungri pada Jiyong ketika melihatnya sedang menyirami rumput halaman rumahnya.

Jiyong menanggukan kepalanya pada Seungri dan Chaerin yang melambaikan tangan mereka.

“Tuan Kwon, aku permisi.. tolong jagalah temanku itu, dia sudah seperti keluarga bagiku dan lebih berarti dari pacarku ini.” Kata Chaerin sambil mengusap kedua tangannya, memohon dengan imutnya di depan Jiyong.

“Yaak.. kenapa kamu berkata seperti itu baby?!!” rengek Seungri yang hanya mendapatkan tatapan sinis Chaerin.

Jiyong kembali mengganggukan kepalanya, kali ini dibarengi dengan senyum simpul melihat tingkah pasangan aneh di depannya ini. Mereka pun meninggalkan gerbang pintu rumah Jiyong dengan BMW biru Seungri. Dan Jiyong pun melanjutkan apa yang ia lakukan tadi.

Rumah Jiyong sangatlah besar, jika dibandingkan dengan rumah Sandara, rumah Jiyong masih lebih asri. Dengan halaman depan yang luas dan hijau, serta ada taman dan bermacam-macam bunga, tersedia juga kolam ikan yang unik di tengah-tengah taman serta air mancur mini di sisi-sisi taman. Ia pun berjalan ke sisi kolam dan memberi makan ikan-ikan yang tergolong masih berukuran kecil.

Selesai dengan aktivitas tamannya, ia pun berjalan memasuki rumah, ia berjalan sambil menunduk sehingga tidak menyadari kursi roda Sandara di depannya dan, “AAAAkkk!!” kakinya terbentur dengan kursi roda Sandara.

Sandara tersenyum melihat ekspresi kesakitan dari seorang Kwon Jiyong. Jiyong merupakan orang yang dapat dibilang miskin akan ekspresi sehingga ketika ekspresi baru muncul, Sandara sangat menikmatinya.

“Sedang apa kamu disini?” Tanya Jiyong yang masih memijat kakinya.

“Hmm.. melihatmu..”

“Maksudku, kenapa kamu disini?!”

“Aku… Aku bosan di dalam rumah terus, aku hanya ingin menghirup udara segar, dan aku melihatmu disana.” Sandara memiringkan kepalanya dan melihat kaki Jiyong yang mulai memerah, “Dorong aku ke dalam please.. ”

Jiyong pun menuruti Sandara, mendorongnya sampai di ruang tamu, dan ia menghempaskan dirinya di sofa, masih memijit kakinya sambil menahan sakit.

“Adjumaa…… Hye Jung Adjumaaa” teriak Sandara yang membuat Jiyong menatap kesal padanya.

“Ya nona?” Hye Jung datang dengan tergesa-gesa masih memakai celemek memasaknya.

“Adjuma mian… tolong ambilkan minyak pijat?”

“Neh nona.. sebentar saya ambilkan”.

Tak lama kemudian Hye Jung datang dengan minyak pijatnya dan memberikan itu kepada Sandara yang kini memposisikan dirinya menghadap Jiyong.

“ini nona. Yang ada Cuma ini saja”

“Iya adjuma. Terima kasih.. kamu boleh melanjutkan memasaknya” Sandara tersenyum hangat pada adjuma yang Sandara pikir adalah orang yang sangat hangat.

Sandara pung menuangkan minyak tersebut di telapak tangannya dan menggosokan di kaki Jiyong.

“Hei, apa yang kamu lakukan sekarang?” Jiyong tersentak dengan apa yang dilakukan Sandara sekarang.

“Diamlah..”

“Kamu jangan terlalu banyak bergerak Sandara. Pinggulmu belum sembuh total.” Jiyong menghentikan tangan Sandara dan membuat ia duduk dengan tegak.

“Kalau begitu, letakan kakimu di pangkuanku.”

“Aku tidak apa-apa”

“Kalau tidak dipijit, kakimu akan bengkak dan memar Tuan Kwon.” Mendegnar Sandara memanggilnya dengan sebutan Tuan, ia kembali menatap Sandara dingin, “Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku dengan Tuan kan?! Apa aku harus mengingatkanmu lagi?!”

“Hmm.. bukan begitu Jiyong, aku-”

“Kamu kenapa?! Kenapa kamu kesal denganku tadi?! Kenapa kamu tidak mau menatapku tadi?! kenapa kamu tidak mau berbicara denganku tadi?! Ada apa dengan kamu Sandara?”

“Hei, calm down.. Aku kenapa? Kamu yang kenapa Jiyong.. Kenapa kamu marah?”

“Siapa bilang aku marah?!”

“Terus kalau bukan marah kenapa? Lagian kembalikan hp-ku. Ada yang harus aku hubungi.”

“No! Kamu harus istirahat.”

“Tapi Jiyong..”

“Atau kamu butuh menghubungi pacarmu itu?” Tanya Jiyong dengan nada santai dan menatap tajam pada Sandara. Tatapan Jiyong sangat mengintimidasi Sandara, membuat Sandara tidak dapat berkutik dalam tatapannya.

“Apa kamu sudah mempunyai pacar Sandara?” Jiyong menatap Sandara dalam dan sebaliknya.

~~~To Be Continue~~~

Dear reader, mianhae…

Satu tahun lebih saya hiatus

Ini karena aktivitas baru yang sedang saya geluti.

Akan saya usahakan akan selalu update y..

Sekali lagi mianhae.

Jadi gimana ceritaku kali ini?

Apakah membuat readers penasaran?

Atau kah hanya flat?

Oh iya saran saja, kalau memang sudah lupa jalan ceritanya

Dibaca dari awal saja.

Kebetulan ini baru part 8

Jangan lupa dicomment dan dilike ya..

Gumawoo

*bowtothefloor*

Advertisements

19 thoughts on “[Series] Melody of The Paint – 8

  1. gk apa2 kok thor…aku udh biasa nunggu…kekekke
    dan akhirnya sang author kembali dgn kelanjutan cerita ini…..#baksu
    semakin penasaran bgt thor. ji udh mulai menunjukan dia suka sama dara tuh.
    dan dia nanya apa dara udh punya pacar? kira2 apa jawaban dara ya?
    next chap thor and keep fighting.

  2. udh lama bgt nunggu ff nie .akhir.a d.update lagi .
    pnsran ma lnjutan cerita.a …
    knpa ji oppa gga mau d.panggil tuan ma dara unie ??
    tp td ma chae unie d.panggil tuan gga protes ..
    aga lupa” inget ma cerita yg dlu ..
    next jgn lama” iia ..

  3. gak apa2 kok thor, nungguin 2ne1 kambek aja aku sabar apalagi nunggu ff ini 🙂 untung aja masih ingat sama jalan critanya.. aishh dara kagak bisa memahami situasi, ji udh ngekode malah kagak nyadar wkwkw. cieeee ji udh mulai modus nanyain dara ad pcar apa kagak wkkwkkwkw 🙂

  4. Nahh ini.. kemaren2 aku mikirin apaaa ff yg jiyongnya jadi pianis eh langsung di update. Mungkin kita punya sinyal2 tertentu thorr😂😂 emg kadang asik baca sampe lupa judul
    Wahh ga kerasa setaun hiatus, sambil baca sambil nginget dan untungnya belum lupa jd msh bisa nginkutin alurnya
    Jiyong udah mulai pengen cari tau tentang dara, cemburu lahh dia mah sama donghae sampe ngambil hp dara gituuu
    Semangatt thorrr, dinantikan kelanjutannya!💪💪

  5. Yey yey long time no see.. akhirnya ff yg paling aku tunggu2 update juga.. semoga authornya gk hiatus lgi yah dan bisa update trus ni ff.. semangat author..

  6. Nggak papa kok thor yg penting ni Ff harus smp selesai….. mereka berdua bener2 pasangan yg bikin greget deh….. kayanya chaerin sudah sadar klu jiyong bisa bersikap hangat hanya pada dara deh….. itu knp jiyong marah saat dara dpt tlpn dr donghae dan knp jiyong jg nanya ke dara klu dara sudah punya pacar apa jangan2 jiyong sudah mulai suka sm dara ya thor????
    Next chap ditunggu jangan lama2 makin penasaran sm jawaban dara soal donghae dan bagaimana reaksi jiyong selanjutnya…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s