MEA CULPA [Chap. 6]

mea-culpa

Author : Aitsil96

Main Cast : Park Sandara and Kwon Ji Yong

“Bisakah kau mengantarku ke kamar milik Bom saja? Lagipula sudah dua hari aku tinggal di rumah,” ucap Sandara setelah melepaskan sabuk pengamannya.

“Bukankah memang sudah seharusnya kau tinggal di rumah setiap hari?”

Gadis yang berada di kursi samping kemudi itu memutar bola matanya malas seraya bersedekap, “Jangan pura-pura bodoh dan tak mengerti situasi, Lee. Kau tahu betul maksud ucapanku.”

“Kalau begitu tinggalah bersamaku.”

“Jangan gila, Tuan Lee!”

“Kau hanya perlu tinggal di rumah tanpa harus banyak protes, Dara-ya. Setidaknya dengan kau yang menghabiskan waktu di kamarmu membuat aku tak mempunyai pikiran yang macam-macam tentangmu.”

“Terkurung di kamarku sendiri lebih tepatnya,” ralat gadis itu cepat.

“Kau yang mengurung dirimu sendiri.”

Sandara mendesah, “Lalu kau pikir aku harus bagaimana, huh? Kau pikir aku bisa bebas bergerak di rumah itu dengan adanya dia di sekitarku?”

“Dia yang kau maksud adalah ibumu, Dara-ya. Ibu kandungmu sendiri,” Dong Hae mempertegas setiap kata yang ia ucapkan, “Tak lelahkah kau jika harus hidup seperti ini selama empat tahun terakhir?”

“Harusnya kau tanya dia, bukan aku. Kau pikir aku tak tersiksa selama ini melihatnya keluar-masuk rumah dan membawa lelaki brengsek dari club malam?”

“Aku tahu, tapi bagaimana lagi? Ia ibumu, Dara-ya. Meskipun kau mengabaikannya, namun setidaknya tinggalah dengan baik bersamanya.”

“Kalau kau lupa aku ini anaknya, Lee. Anak kandungnya. Ibu mana yang tega melukai perasaan anak kandungnya hingga sejauh ini?”

Dong Hae terdiam, merasa bersalah pada akhirnya. Sementara gadis di sampingnya masih menatap nyalang dengan air mata yang menggenang di pelupuk. Sandara hampir hilang kendali jika saja ia tak sadar dengan siapa ia berbicara saat ini. Dong Hae adalah kekasihnya. Setidaknya ia masih punya rasa hormat terhadap pria yang sekaligus telah menjadi teman berbagi keluh kesahnya sedari kecil.

“Seberapa keras kau membuatku mengerti, maka sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa untuk mengerti, Lee. Jadi sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini. Aku tak ingin membahasnya lebih jauh. Kau benar-benar merusak mood-ku.”

Sandara memutuskan untuk membuang mukanya hingga menghadap kaca. Ia menghela napas dan kemudian menghapus jejak air mata yang merembes ke pipinya. Gadis itu muak, namun sebisa mungkin ia tahan karena tak ingin berdebat. Ia lelah? Tentu saja. Selain dibebani tugas kuliah yang makin hari makin menumpuk, membahas hal-hal sialan seperti ini hanya akan menguras tenaga beserta pikirannya.

Mereka kini tengah berada di mobil yang berhenti tepat di depan toko yang berjarak beberapa rumah dengan rumah Sandara. Entahlah, namun gadis itu memang selalu mati-matian tak ingin Dong Hae mengantarnya sampai di depan rumahnya. Ia tak suka jika siapapun, termasuk Dong Hae, bertemu ibunya.

Bibir cheri yang awalnya mengerucut karena rasa kesal itu kini terbuka ketika mendapati mobil yang melintas tepat di sampingnya secara berlawanan arah. Bagai gerakan lambat, Sandara terperangah melihat seorang pria yang berada di kursi kemudi itu tengah menjalankan mobilnya. Pria bersurai hijau itu! Aigoo, mengapa dunia serasa sempit sekali hingga ia bertemu dua kali dalam satu hari yang sama dengan pria itu?

“Dara-ya,” Dong Hae berucap lemah.

Gadis itu tersentak, “Ah, ya?”

“Maaf. Maafkan aku.”

Ani… gwaenchanna, Lee. Maaf juga karena… mungkin… aku terlalu terbawa emosi.”

Dong Hae menangkap kegugupan Sandara, “Kau… melamun?”

“Ti… tidak. Hanya saja aku…” lidah gadis itu tiba-tiba kelu, bingung harus berkata-kata lebih jauh.

“Kenapa?”

“Tidak, lupakan.”

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Apa maksudmu?”

Dong Hae terdiam sejenak, “Entahlah, namun ku rasa semenjak kejadian itu kau selalu melamun.”

Sandara tahu betul kejadian yang dimaksud Dong Hae adalah kejadian tak sadarkan dirinya seusai dari club, namun benarkah? Benarkah ia jadi sering melamun akhir-akhir ini? Mungkinkah itu karena…? Ck, sepertinya kau mulai gila, Park Sandara! Apa yang kau pikirkan dengan sekelebat wajah pria bersurai mirip rumput laut itu?

Mianhae, mungkin dengan banyaknya tugas akhir-akhir ini membuatku tak fokus. Kau tahu tugas-tugas itu seakan mencekik leherku setiap harinya.”

Dong Hae tersenyum, “Kalau begitu segeralah pulang dan selesaikan tugas-tugasmu.”

Sandara juga tersenyum untuk membalas, namun entah mengapa kini seperti ada yang janggal pada perasannya. Ia seolah-olah tengah… berbohong? Aish, memangnya apa yang tengah ia sembunyikan? Mungkinkah tentang kehadiran pria lain yang sampai kini masih tak ia ingat namanya tersebut? Ck, lalu apa hubungannya? Bukankah sama sekali tak penting untuk membahas pria tersebut pada Dong Hae?

*****

Yeoboseyo?”

‘Dee, kau dimana?’

“Di rumah. Wae?”

‘Kau pasti sudah menyelesaikan tugas-tugasmu, bukan?’

Sandara mendengus, sahabatnya itu tidak salah lagi pasti ingin meminjam tugasnya sebagai contekan. Dasar kebiasaan!

“Berhentilah basa-basi, Bom-ie. Aku tahu maksudmu.”

Terdengar suara kekehan di ujung telepon, ‘Kau cepat tanggap, namun sebenarnya bukan itu tujuan utamaku menghubungimu.’

“Lalu?”

‘Seung Ri mengundang kita untuk datang ke pesta ulang tahun ibunya nanti malam. Datanglah.’

Keningnya berkerut sedetik kemudian. Seung Ri? Bukankah ia adalah pria blonde yang ditemuinya saat di club? Sandara mungkin memang memiliki kebiasaan buruk untuk mudah melupakan nama orang yang tak ia kenali, namun ia tak bisa begitu saja melupakan kejadian dua minggu lalu dimana pria itu dengan beraninya telah membuat ia tak sadarkan diri. Oke, itu mungkin bukan salah Seung Ri sepenuhnya, namun tetap saja ia yang telah memaksa Sandara, bukan?

“Kau gila? Dua minggu yang lalu aku bahkan dimarahi Dong Hae akibat kau yang memberitahunya! Lalu kau ingin menjebakku lagi, huh?”

Mianhae. Saat itu aku tak punya pilihan untuk menghubunginya karena aku khawatir padamu. Kau tertidur layaknya babi dan aku sama sekali tak bisa membangunkanmu sementara aku harus masuk kelas pagi…’

“Aku juga, bukan kau saja yang harus masuk kelas pagi,” ucap Sandara menyela.

‘Aish, sudahlah. Kau masih saja mengungkitnya.’

“Kau pikir aku bisa lupa akan kejadian itu? Dong Hae menjadi protektif padaku akhir-akhir ini. Aku tak bisa lagi bebas, bahkan aku harus tinggal di rumah setiap hari.”

Arrasseo. Mianhae. Aku bahkan telah mengatakannya ratusan kali secara langsung padamu.’

“Kau harus meminta maaf sepanjang hidupmu, Bom-ie.”

Gadis di seberang sana mendengus, memilih untuk tak berdebat lebih jauh, ‘Seung Ri mengatakan kau harus datang. Ini sebagai permintaan maafnya karena kejadian tempo hari. Kali ini ia berjanji tak akan ada lagi minuman alkohol untukmu.’

Shireo!”

‘Ayolah, Dee. Hanya untuk kali ini saja. Lagipula pesta ini tidak akan diadakan di club, tapi di rumahnya.’

“Aku tak mengenalnya secara dekat, Bom-ie. Aku tak ingin menjadi orang asing di sana.”

‘Haruskah ku kenalkan lagi kalian berdua? Oh ayolah, setidaknya kalian pernah berbincang walau bukan dalam waktu yang lama. Lagipula ini permintaan Seung Ri. Aku tak bisa menolaknya karena ia memaksa.’

Sandara menghela napas, “Dong Hae tak mungkin mengizinkanku. Jika ia tahu kali ini kau mengajakku lagi, ia mungkin akan melarangku untuk bertemu denganmu.”

‘Maka jangan buat ia tahu.’

“Kau gila!”

‘Besok hari libur, ia tak akan menjemputmu untuk kuliah. Bukankah ia juga yang menyuruhmu untuk tak kemana-mana? Ia mungkin akan berpikir bahwa kau mengurung dirimu sendiri di kamar, Dee.’

“Bom-ie, tapi…”

‘Kali ini akan ku pastikan ia tak akan tahu. Jangan banyak membantah, atau aku yang akan menyeretmu secara paksa.’

Tut! Penggilan telepon berakhir secara sepihak dan membuat Sandara menjerit frustasi.

*****

Baru saja Sandara keluar kamar, langkahnya terhenti sedetik kemudian ketika berpapasan dengan wanita yang amat dihindarinya.

“Kau mau pergi?” tanya Hye Mi seraya menyelidik.

Sandara mengangguk.

“Kemana?”

“Bom.”

“Oh, kau akan menginap lagi di sana?”

“Sepertinya.”

“Ah, sayang sekali. Padahal aku telah membuatkan makan malam untukmu.”

Sandara menyeringai seraya memalingkan wajahnya. Ck, makan malam? Haruskah wanita itu berbicara layaknya seorang ibu yang baik? Hanya mendengarnya membuat Sandara muak. Ia bahkan tak pernah makan dalam satu meja bersama wanita itu semenjak empat tahun terakhir. Sandara lebih sering makan ramyeon instan yang ia beli di minimarket dekat rumahnya, bahkan tak jarang ia melewatkan makan malamnya.

Gadis itu memutuskan untuk mengakhiri percakapan bodoh ini dengan pamit sekenanya. Hye Mi tersenyum, lalu memberitahu anak gadisnya untuk hati-hati. Sandara pergi sesaat kemudian tanpa menjawab, ia hanya merespon dengan anggukan samar. Ia tak ingin terlalu jauh berinteraksi pada wanita itu. Cukup berbicara seperlunya tanpa harus membuang-buang waktunya lebih jauh untuk menanggapi. Entah sampai kapan, namun hatinya masih tetap tak ingin berdamai dengan kenyataan menjijikkan tentang wanita itu.

Tak terasa, sepuluh menit kemudian ia telah tiba di halte bus terdekat. Ia memutuskan berangkat lebih awal dengan langit sore berwarna jingga yang masih menghiasi kota Seoul. Bom memintanya untuk datang ke tempatnya terlebih dahulu sebelum mereka akan bersama-sama pergi ke pesta Seung Ri. Jika kau tanya alasan Sandara untuk datang, maka ia sendiri pun tak memiliki jawaban untuk itu.

Memikirkan bahwa lagi-lagi ia akan membohongi Dong Hae membuat hatinya merasa tak tenang. Walau kejadian saat di club merupakan ketidaksengajaan, namun tetap saja ia seakan-akan telah menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya tersebut. Dan kali ini ia akan mengulanginya lagi bahkan dengan sengaja? Terkutuklah gadis itu!

Sandara baru saja menghela napas, namun suara dering ponselnya mengejutkan ia yang tengah melamun. Park Bom.

Wae?”

‘Kau sudah berangkat?’

“Belum. Aku masih menunggu bus datang.”

‘Di halte?’

“Kau pikir dimana lagi?”

‘Oh, syukurlah. Kau tak perlu datang ke tempatku dulu, Dee.’

Mwo? Wae?”

‘Seung Ri mengatakan akan menyuruh salah satu temannya untuk menjemputmu. Jadi kau tunggulah di sana.’

“Benarkah? Siapa yang akan datang memangnya?”

‘Aku tak tahu. Mungkin pria yang sama dengan yang mengantarmu pulang dari club.’

Deg!

‘Kalau begitu aku akan mengabari Seung Ri dimana lokasimu berada. Kau jangan kemana-mana. Bye, Dee.’

Sandara tertegun beberapa detik setelahnya. Ia bahkan tak menyadari jika Bom telah mematikan sambungan telepon di ujung sana. Pria yang sama dengan yang mengantarnya pulang dari club? Bukankah pria itu…? Ah, tidak! Tidak mungkin! Teman Seung Ri bukan hanya pria itu saja, bukan?

Namun mengapa kini jantungnya berdegup secara tidak normal? Hawa tubuhnya seakan memanas hanya dengan memikirkan pria itu lagi. Sandara menggeleng tegas dan menghembuskan napas perlahan demi menenangkan dirinya. Ia memilih untuk duduk di halte seraya mendengarkan musik dengan earphone.

Sandara terperanjat setelah hampir setengah jam tertegun memandangi jalanan ditemani musik yang mengalun di telinganya. Gadis itu seolah kerasukan saat menyadari ada tangan besar melambai tepat di depan wajahnya, “Yak!”

“Tak usah heboh seperti itu, nona.”

Manik hazelnya melebar. Pria itu!

Dengan gerakan lambat pria itu membuka kedua earphone yang masih menancap di lubang telinga gadis di hadapannya. Sementara Sandara masih terpaku dengan wajahnya yang luar biasa dungu.

“Aku sedari tadi memangilmu dari dalam mobil, namun kau sama sekali tak mengacuhkanku akibat benda sialan ini,” pria itu berucap dengan nada kesal seraya mengacungkan earphone milik Sandara, “Kajja, ikut aku.”

“Kemana?”

Pria itu mendengus, memutarkan manik kelamnya malas, “Kencan.”

Manik hazel itu makin membulat mendengar ucapan asal yang keluar dari bibir pria itu. Gila! Pria itu bahkan dengan lancang menggenggam lengannya lalu menyeret Sandara untuk masuk ke dalam mobil tanpa sanggup gadis itu cegah. Yang jelas, ekspresi wajah gadis itu makin tak bisa terkendali dengan rona merah mulai muncul di pipi mulusnya.

Oh Tuhan, ia mungkin saat ini terlihat bagai kepiting rebus. Suhu tubuhnya makin memanas seiring dengan pria itu yang duduk di belakang kemudi, bersebelahan dengan dirinya. Shit! Perasaan sialan apa ini?

.

.

.

To be continued…

 

Advertisements

24 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 6]

  1. Sukaak banget sama momen lucunya DaraGon. Kalo mereka ketemu itu berasa takdir bukan kebetulan. Trus kalo misalnya Dara ketemu Jiyong, Donghaenya dilupain😝

  2. Darong mulai goyah krn ktemu trs jidi tampa sengaja, maafin darong ya dodonghae krn bntar lg mungkin daromg berpaling k. Jidi kikiki,, ga sabar baca chap selanjutnya, mungkin klo dongdonghae tau darong bohong lg dia bakal lbh over protektif nya,, ah cwo paling nyebelin udh buang aja darong, gpp ama abng jidi aja ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s