MY GLOOMY WORLD [Chap. 6]

mgw

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Biarkanlah aku egois. Hanya untuk kali ini saja…”

.

.

.

Hanya detak jarum jam yang terdengar jelas di ruangan. Ketiga orang itu kini duduk berhadapan dengan Hye Mi yang duduk di kursi terpisah. Masih dengan gaun elegan yang melekat, ia duduk gelisah di sana dengan raut frustasi yang tergambar jelas. Tangannya terkepal menahan emosi yang hampir meledak jika saja tidak ia kontrol. Sedari tadi wanita setengah baya itu hanya mencoba untuk mengatur napasnya yang hampir memburu dengan mata terpejam.

Di sisi lain, Ji Yong hanya diam tanpa bicara dengan pandangan tertunduk. Riak mukanya lebih terlihat tenang. Berbanding terbalik dengan Sandara yang kini berusaha mati-matian menahan isak tangis yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. Jarinya tertaut satu sama lain, menyamarkan gemetaran tangan yang tak dapat ia kendalikan. Pikirannya melayang, berkelana tak tentu arah. Ia terlihat seperti orang yang dungu, seolah-olah masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Hye Mi menarik napas beratnya sebelum memulai, “Sekarang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi.”

Hening menyelimuti beberapa saat sebelum Ji Yong dengan berani menjawab, “Tak perlu dijelaskan pun, aku rasa eomma telah mengetahui apa yang terjadi di antara kami.”

Dua pasang mata milik Hye Mi dan Sandara langsung mengarah tajam pada Ji Yong. Apa-apaan pria itu? Apa ia sudah gila dengan berbicara lancang seperti itu?

“Aku mencintai Sandara, eomma.”

Manik Hye Mi makin membulat mendengar pernyataan sederhana namun menusuk yang terlontar dari bibir putranya, “Jangan gila, Ji Yong! Dia ini adikmu.”

“Bukankah sudah jelas jika aku memang mencintainya dengan tulus? Aku bahkan hanya menatap gadis ini sebagai wanita yang aku sayangi. Tak akan pernah ada yang lain.”

“Ji Yong-ah…” Sandara bersuara dengan lemahnya, mencoba memegang tangan Ji Yong.

Gadis itu bahkan kini tak menahan laju kristal bening yang menganak sungai di pipi mulusnya. Ia mengisyaratkan Ji Yong agar berhenti untuk bertindak lebih jauh lagi. Sudah cukup kenyataan yang memang telah terkuak. Tak perlulah pria itu menambah rumit masalah dengan pengakuan-pengakuan mengejutkan lain yang akan terlontar darinya yang tengah diselimuti emosi.

Alih-alih menurutinya, pria itu dengan sengaja menghempaskan tangan Sandara dengan cukup kasar, “Berhentilah menahanku untuk berbicara kebenaran, gadis bodoh!” ucapan itu terarah pada Sandara yang kini bergedik ngeri melihat pancaran mata amarah Ji Yong.

“Kebenaran apa yang akan kau katakan, Ji Yong-ah?”

Bukan suara Sandara atau Hye Mi, melainkan itu adalah suara Jun Hyung. Pria itu masih berpakaian rapi dengan tuxedo mewahnya. Ia baru saja pulang karena ada urusan mendadak di kantor sehingga membiarkan istrinya untuk pulang terlebih dahulu. Tanpa disadari kedatangannya menginterupsi perkataan yang akan Ji Yong lontarkan kepada Hye Mi.

Appa?” Sandara menyuarakan kekagetannya dengan memanggil Jun Hyung seraya berdiri.

Hening menyelimuti beberapa saat. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing dengan tubuh yang sama-sama membeku. Yang terdengar hanyalah detak jarum jam yang kini ditemani suara tangis Sandara. Sungguh, gadis yang biasanya tegar itu kini berubah menjadi gadis yang cengeng. Dirinya sendiri pun amat membenci air mata sialan yang tak kunjung berhenti keluar dari pelupuk matanya tanpa sanggup ia tahan.

“Kenyataan yang harus kalian terima adalah bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Pertemuan pertama kami bahkan telah terjadi jauh sebelum kalian saling mengenal. Selama ini kami dengan tololnya berpura-pura bahagia, memasang topeng manis di hadapan kalian, serta mencoba menjalani takdir bodoh yang terjadi,” Ji Yong menjeda, “Namun kini semua ku rasa telah cukup. Aku muak hingga tak bisa lagi menahannya.”

“Aku menyayangi Sandara. Bukan sebagai adik, namun sebagai gadis yang aku cintai.”

Kalimat terakhir sukses Ji Yong lontarkan tanpa berpikir panjang. Kalimat itu memang telah lama ingin ia sampaikan, namun baru kali ini ia wujudkan. Walau di waktu yang tidak tepat, namun ada sedikit kelegaan yang terselip di hati pria itu. Rasa lega karena telah mengutarakan kenyataan yang telah lama ia rahasiakan. Tak ada reaksi yang didapatkan dari Hye Mi maupun Jun Hyung setelah mendengar pengakuan mengagetkan Ji Yong. Jun Hyung yang Ji Yong kira akan bereaksi keras terhadapnya, kini bahkan hanya diam berdiri layaknya patung.

Tak sampai lima menit, kelegaan yang Ji Yong rasakan harus menguap begitu saja tergantikan rasa panik ketika mendapati tubuh Jun Hyung yang tiba-tiba ambruk. Jun Hyung terjatuh dengan tangan yang mengepal di dadanya dengan muka merah padam menahan nyeri luar biasa. Hal terakhir yang bisa pria paruh baya itu ingat selain jerit tangis Sandara dan juga Hye Mi adalah raut muka Ji Yong. Wajahnya sepintas tenang dan datar, namun entah mengapa Jun Hyung merasakan kepedihan di sana. Kepedihan dan rasa terguncang yang luar biasa.

*****

Tepat seminggu pria itu masih betah mengurung dirinya di kamar. Setelah kejadian Jun Hyung masuk rumah sakit dan dinyatakan koma akibat serangan jantung, Ji Yong menutupi seluruh akses kehidupannya dari dunia luar. Pintu kamarnya terkunci rapat hingga tak ada satu orang pun yang dapat masuk ke dalamnya. Makanan yang tiap harinya disimpan di luar pintu selalu berakhir ke pembuangan sampah dengan porsi yang masih utuh.

Kini di depan pintu kamar itu berdiri seorang gadis dengan tatapan nanar memandang. Sandara. Dengan hati yang selalu berjengit ngilu mendapati kondisi keluarganya yang baru saja utuh kembali namun kini harus hancur berantakan akibat ulahnya. Tapi apakah benar semua ini salahnya? Apa salahnya jika ia sendiri bahkan tak mampu menampik perasaan kasih tulusnya pada Ji Yong?

Hari kini telah berganti malam dengan Hye Mi yang masih betah menunggui Jun Hyung di rumah sakit. Nyali gadis itu kini bahkan ciut hanya untuk berpapasan dengan Hye Mi. Terlalu malu rasanya untuk sekadar menunjukkan wajahnya di depan ibu tirinya. Dengan tangan gemetar, ia meraih kenop pintu di hadapannya. Walau tahu terkunci, namun gadis itu dengan bodoh memutarnya.

Oppa, ini aku.”

Tak ada jawaban yang didapat.

“Ji Yong-ah, bukalah pintunya.”

Masih tak ada jawaban hingga beberapa saat kemudian kakinya memutuskan untuk memutar langkah, berniat untuk pergi. Baru saja kaki itu akan melangkah, terdengar suara putaran kunci yang menandakan Ji Yong membuka pintunya. Masih dengan pikiran yang mengambang, tangan dingin namun kekar itu menariknya hingga terseret masuk ke dalam kamar.

Pandangan itu tertumbuk pada ruangan yang kini dalam kondisi kacau bak kapal pecah dengan barang yang berserakan dimana-mana. Lalu manik hazel Sandara beralih pada kondisi Ji Yong yang kini tengah duduk di lantai samping ranjang dengan kepala yang tertunduk. Baju berwarna hitam pas badan yang biasa dikenakan pria itu kini terlihat longgar. Tubuhnya menyusut akibat tidak makan berhari-hari. Untuk melihat pria itu masih bernapas pun, rasanya sudah sangat melegakan bagi Sandara.

Tanpa mengatakan sepatah katapun, Sandara kini berjongkok di hadapan Ji Yong. Mencoba mengamati tampilan pria itu yang amat memprihatinkan. Pandangan itu nanar menatap pria di hadapannya yang jauh dari pria yang dulu ia kenal. Tangannya dengan gemetar perlahan terulur untuk menggapai pipi Ji Yong. Meraih wajahnya yang amat dirindukan telah lama tak terlihat.

Mereka berpandangan, dan Sandara bisa melihat mata merah yang dikelilingi kantung mata hitam besar milik Ji Yong. Pria itu frustasi. Tanpa perlu ditanya lebih jauh pun, ia tahu bahwa Ji Yong telah mengalami guncangan hebat di jiwanya. Oh Tuhan, kini gadis itu menangis. Tangis sesenggukan yang tak terasa telah mengalir dari pelupuk matanya. Kondisi Ji Yong sekarang membuat hatinya tambah berjengit ngilu. Bagaimanapun, Sandara juga telah ikut andil dengan segala kekacauan yang terjadi.

Uljjima…”

Satu kata yang berhasil membuat Sandara mematung. Kata serak bak bisikan angin yang terlontar dari mulut Ji Yong berhasil membuat gadis itu membeku seketika. Satu tangan Ji Yong juga kini terangkat, berusaha mengusap lelehan air bening di pipi gadis yang amat dikasihinya. Mereka berpandangan lagi, dengan Ji Yong yang kini berusaha memaksakan sebuah senyum tulus untuk Sandara.

Buncahan di hatinya sudah tak terbendung lagi kini. Entah itu buncahan rindu, kekecewaan, atau penyesalan, yang jelas Sandara hanya ingin meluapkan emosi yang telah lama menjadi beban di hatinya. Gadis itu memeluk Ji Yong. Memeluk erat pria itu dengan perasaan yang campur aduk. Tangisnya ia tumpahkan di bahu Ji Yong, membuat pakaian pria itu basah dengan waktu sekejap.

Mianhaemianhae, Ji Yong-ah…”

Berkali-kali hanya kata itulah yang dapat terlontar dari mulutnya dengan tangis sesenggukan. Ji Yong yang asalnya terdiam kini mulai mulai membalas pelukan Sandara dengan merengkuhkan tangannya di punggung gadis itu, seraya sesekali mengusap helaian rambutnya. Pria itu bahkan kini mengecup pucuk kepala Sandara dengan mata terpejam, menandakan bahwa rasanya masih sama seperti dulu selalu menyayangi gadis itu.

Gwaenchanna, Ra-ya.”

Ji Yong melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah menawan idamannya. Walau dengan air mata yang masih membekas di pipi, ia tetap terlihat menggemaskan bagi Ji Yong. Rasa frustasi yang dirasakan Ji Yong tiba-tiba menguap entah kemana. Dengan melihat gadis ini baik-baik saja dari jarak pandangnya, hatinya telah jauh merasa lega luar biasa.

Cup.

Satu kecupan singkat mendarat di kening Sandara.

Cup.

Kali ini di pipi.

Cup.

Yang terakhir adalah di bibir.

Tepat di bibir Sandara yang kini membuatnya melongo bak orang dungu. Oh Tuhan, beberapa menit lalu bahkan suasana dramatis yang tercipta di antara mereka. Lalu mengapa kini Ji Yong menciumnya dengan cara seperti itu? Oh ayolah, ini konyol! Ini bukan adegan drama romantis yang kalian sering lihat di televisi. Bagaimana bisa Ji Yong melakukan itu di tengah segala kekacauan yang terjadi?

“Aku mungkin telah gila, Ra-ya. Bagaimana bisa hanya dengan melihatmu berada di dekatku membuat segalanya terasa mudah dan menghilangkan akal sehatku?”

“Ji Yong-ah…”

Bibir Sandara yang melantunkan namanya dengan lemah membuat Ji Yong bereaksi dengan mengecap bibir itu lagi. Suara merdu Sandara bagai melodi terindah pembangkit gairahnya yang membuat Ji Yong menggila. Tak ada respon dari gadis itu. Sandara hanya membiarkan Ji Yong bertindak lebih dengan melumat bibirnya. Kepala pria itu bergerak ke kanan-kiri, mencoba mencari posisi yang pas demi merasakan sensasi yang lebih dahsyat dari ciuman mereka.

Gadis itu bahkan kini memejamkan matanya. Ia menikmati sensasi ciuman Ji Yong yang kini tengah berusaha mengetuk mulut Sandara dengan lidahnya, mencoba mengabsen seluruh hal yang ada di mulut gadisnya yang membuat ia candu. Beberapa saat kemudian, Ji Yong melepaskan cumbuannya. Membuat untaian saliva menggoda yang kemudian menghilang dari bibirnya dan juga bibir Sandara. Mereka bertatapan intens dengan napas yang terengah-engah. Tangan pria itu terangkat, hendak menyentuh kancing atas kemeja Sandara.

“Izinkanlah aku untuk memilikimu, Ra-ya. Jika memang kita tak akan pernah bisa menyatu akibat takdir sialan ini, maka izinkanlah aku untuk memilikimu walau sekejap.”

Sandara tahu mungkin ia telah gila karena mengikuti nafsu Ji Yong yang memburu. Seperti apa yang Ji Yong rasakan, ia juga ingin dimiliki dan memiliki Ji Yong walau hanya sekejap. Jadi biarkan kali ini ia dan Ji Yong bertindak lebih demi kebahagiaan sejenak yang akan mereka dapatkan. Seakan terhipnotis dengan ucapan pria di hadapannya, gadis itu dengan lugunya mengangguk.

Ya. Biarkanlah mereka egois untuk kali ini.

*****

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Ji Yong.

Bukan tanpa alasan pria itu mendapat tamparan dari ibu kandungnya sendiri. Hye Mi yang baru saja pulang dari rumah sakit berniat untuk mengambil beberapa pakaian seketika hanya terdiam membeku ketika melihat pintu kamar putranya yang sedikit terbuka. Barang berserakan dimana-mana, dan yang lebih mengejutkan adalah pakaian dalam wanita ada di antaranya. Saat melihat ke arah ranjang, ia tahu bahwa ada dua orang yang berada di sana dengan posisi saling memeluk.

Oh Tuhan, lebih baik ia melihat putranya tidur seranjang dengan pelacur murahan dibanding harus melihat pemandangan menjijikkan yang bahkan kini membuatnya berlinang air mata. Ji Yong di sana bersama Sandara. Putra kandungnya sedang tidur bersama anak dari pria yang dicintainya. Tak perlu diperlihatkan secara jelas pun, ia bisa mengetahui bahwa mereka dalam keadaan tak mengenakan sehelai benang pun dibalik selimut tebal yang menutupinya.

Hye Mi murka. Teramat murka hingga tak ada sepatah katapun yang dapat terlontar dari mulutnya. Kecewa, marah, dan perasaan frustasi lain sedang mengaduk-aduk hati dan pikirannya kini. Ia memutuskan untuk menutup pintu kamar dengan kasar seraya melenggang pergi. Ia menangis sejadi-jadinya, membanting tubuhnya yang limbung, hingga tak sadar telah membangunkan dua orang penyebab frustasinya.

“Pergilah.”

Satu kata yang membuat manik Ji Yong melebar. Apakah kini ia telah diusir oleh ibunya sendiri?

“Pergilah ke luar negeri untuk melanjutkan studimu. Temukan gadis idamanmu di sana, dan kembalilah jika kau telah siap menikah.”

Eomma…” Sandara yang sedari tadi hanya diam membisu di ujung ruangan mencoba menahan luapan emosi Hye Mi.

“Jika memang aku harus pergi, maka aku akan membawa Sandara bersamaku.”

Mata Hye Mi tak kalah membulat dari milik putranya. Apa-apaan dia?!

“Apa kau sudah gila? Berapa kali harus ku katakan bahwa ia ini adalah adikmu?” Hye Mi meninggikan nada suaranya, “Bagaimana bisa kalian melakukan hal-hal di luar batas? Bagaimana jika Jun Hyung tahu? Kau harus pergi, Ji Yong-ah. Biarkan Sandara di sini dan kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri di luar sana.” Hye Mi mencoba membujuk Ji Yong dengan segala cara yang ia bisa seraya linangan air mata masih terus keluar dari pelupuk matanya.

Andwae! Aku akan tetap berada di sisi Sandara.”

“Apa kau masih tidak sadar bahwa kau ini adalah kakaknya? Apa kau juga tak akan mempedulikan keadaan Jun Hyung yang masih belum sadar di rumah sakit? Berpikirlah yang jernih, Ji Yong!” Hye Mi berusaha mengontrol emosinya, “Kumohon pergilah, jangan hanya memikirkan perasaanmu sendiri, eoh?”

Ji Yong menyeringai, “Aku? Memikirkan perasaanku sendiri? Bukankah itu kau, eomma? Kau lah yang hanya memikirkan kebahagiaanmu tanpa mengerti betapa hancurnya perasaanku dan juga Sandara!”

“Jika kau tetap bersikeras untuk memisahkanku dan Sandara, maka aku juga akan tetap pada pendirianku untuk bersamanya sampai kapanpun,” lanjut Ji Yong dengan amarah melingkupi.

Ji Yong dengan segera menyeret tangan Sandara untuk pergi bersamanya. Entah tujuannya kemana, ia pun tidak tahu. Yang jelas ia hanya ingin bersama gadis itu sampai kapanpun juga. Tak ada yang bisa memisahkannya dengan Sandara. Sekalipun ia harus membangkang ibu yang seharusnya ia hormati sepenuh hati. Tak hanya raganya yang lelah, jiwanya pun telah lelah jika harus menutupi luapan kejujuran perasaannya.

Ia harus berpisah dengan Sandara dan pindah ke luar negeri? Jangan gila! Sehari saja tak melihat gadis itu hatinya bisa berjengit ngilu, apalagi jika harus berpisah? Menemukan wanita untuk membahagiakannya? Alasan tak waras macam apalagi itu? Cukup! Biarkanlah ia egois kali ini dengan tak ingin melepaskan gadisnya. Karena sampai kapanpun, yang Ji Yong butuhkan hanya Sandara seorang. Tak ada yang lain.

Sama keras kepalanya, Hye Mi pun tak membiarkan saja putranya pergi dengan begitu mudah. Tangannya yang ringkih menahan lengan kokoh putranya. Ia mencoba menarik Ji Yong agar mematuhi perkataannya, menahan laju Ji Yong sekuat yang ia mampu. Namun tindakannya ini sepertinya salah hingga tak menyadari luapan emosi Ji Yong yang semakin meledak karenanya. Ji Yong yang diliputi amarah menghempaskan tangan Hye Mi dengan sangat mudah.

Saking mudahnya hingga membuat wanita itu terjatuh dengan paksa. Tubuh mungilnya terhempas ke lantai. Dentuman suara bising memekakan telinga membuat Ji Yong dan Sandara berbalik dan mendapati Hye Mi tengah terlentang di antara pecahan kaca. Meja kaca ruangan itu pecah beserta pot bunga yang menghiasinya. Sandara yang sedari tadi kalut dengan pikirannya dan hanya menuruti Ji Yong dengan tampang dungu pun kini terperanjat. Ia kaget setengah mati mendapati luka di dahi Hye Mi yang mulai mengucurkan aliran berwarna merah segar. Darah.

–TBC–

Gimana? Makin greget kan? *tawa setan*

Comment juseyo ^^

Advertisements

10 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 6]

  1. Nggak greget lagi itu sih makin bikin para readersnya makin dongkol aja kak….. kak jangan pisahkan daragonnya ya kasihan mereka buat dikit kebahagian buat mereka udah nggak kuat nyeseknya….
    Itu knp lagi ummanya jiyong pake jatuh berdarah lg udah appanya dara masih koma ini dah ada masalah baru aja…. semoga aja next chap nggak makin rumit deh masalahnya…. ditunggu next chapnya ya kak jangan bikin baper sm linangan air mata fighting juseo ♡♡♡

  2. Aku setuju, ortunya dibikin mati aja deh biar daragonnya ga ada yg ganggu😂😂
    Karena aku gatau mesti belain yg mana, apalagi udah kaya gini mah makin sandaranya gamau di bawa jiyong
    Fighting authorr!! Lanjutkan bikin kita nyesek💪

  3. Ya author mah makin meruwetkan cerita. Jadi makin nggak bisa ketebak jalan ceritanya gimana. Berandai andai ff ini bisa happy ending. Aminnn. Ditunggu kelanjutannya. Semangat terus!!!!😘😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s