[Short Series] A Journey of A Thousand Miles : Part 3

a journey

“Jika suatu saat aku lelah berjalan, bisakah kau membantuku walau hanya sekedar untuk berdiri?”

.

.

.

Scriptwriter : VA Panda | Title : A Journey of A Thousand Miles | Duration : (short) series | Genre : Drama, Slice of Life, AU

va panda presents

Awal musim dingin, 2005

Hari sudah mencapai siang tapi di sana, matahari belum tersohor menyejukkan. Setiap detiknya, surainya justru bercumbu mesra dengan semilir angin yang membawa paket butiran es bersamanya. Sang gadis kecil duduk termenung dengan napas hangat yang keluar dari mulutnya mengosokkan kepalan tangannya yang terasa dingin hampir mati rasa. Ia masih membiarkan dirinya duduk di antara tanah yang telah hampir terselimuti salju –diam membisu dan hanya berharap segelintir orang yang menatapnya tak melangkahkan kaki menuju ke arahnya.

“Kau kedinginan? Mengapa keluar tanpa syal di lehermu?”

“Itu–”

“Aku bisa meminjamkan syalku untukmu,”

Sang gadis kecil bermata bulat merekah senyum, menggapai syal merah mencolok dari pria lucu bersama tawa renyah setelah ia mendapati sang gadis kecil langsung membiarkan lehernya terlilit warna merah mencolok.

Kyeopta,

“Oh, Gomawo … nuguseyo?

“Chanyeol. Park Chanyeol.

A Journey of A Thousand Miles

Pertengahan musim gugur, 2015

Dara melihat pantulan dirinya di depan cermin. Indah. Ia tidak bisa membohongi apa yang memang jelas terlihat dihadapannya, tapi ia juga tidak bisa mengatakan dengan mudah hal  itu karena dari kata indah yang ia katakan, jelaslah kata menyedihkan seperti satu paket dirinya.

Tadi malam, Dara cukup banyak membuang airmata setelah bermimpi akan kilasannya bersama Sohee –pertama kali mereka bertemu. Mulanya, Dara sangat mengharapkan seseorang membangunkannya dari mimpi yang menyakitkan itu, tapi Dara mengenyahkan ekspektasinya karena bagaimana pun, akan sangat menyenangkan jika bertemu Sohee yang sudah tidak akan pernah ia temui sampai akhirnya jika ia menjemput Sohee.

“Tadi kau memimpikan aku?”

Ne, sangat menyenangkan bertemu denganmu lagi tanpa meninggalkan satu kejadian saat kita pertama kali bertemu.”

“Jinjja? Well, kau sekarang terlalu banyak bicara, Dara. Kenapa baru menjadi seperti ini setelah kepergianku?”

“Mungkin itu karena sekarang kau akan mudah menghilang dari pandanganku dibandingkan sebelumnya kau akan selalu menguntitku sepanjang jalan, kan?”

“Pembohong ulung! Kau selalu bisa berbohong pada siapapun termasuk aku.”

“Tidak selamanya, Sohee. Tapi apa kau masih membenciku saat aku pernah mengatakan kebenaran yang sudah lama aku tutupi padamu?”

“Kau menyukainya, dan itu wajar karena kau sering melihatnya di tempat yang sama. Apalagi aku dengan Kau dan Jiyong bersekolah di tempat yang sama saat SMP, kan?

“Tapi kenapa? Kenapa Jiyong memilih mencintaimu dibandingkan aku yang lebih dulu mengenalnya, huh?”

“Cinta itu tidak membutuhkan waktu, Dara.”

“Tapi aku yang mencintainya lebih dulu!”

Gadis itu menerawang pada langit kamarnya. Duduk terjatuh lemas di sisi ranjang dengan tatapan tak percaya terlihat jelas di wajahnya. Pertanyaan keluar dengan mudahnya dari Dara. Kenapa dia melakukan hal ini? Dara bergetar menahan rasa perih di tangan kanannya yang berdarah, jelas serpihan kaca cermin masih nampak melekat di tangan.

Sohee selalu mengatakannya padanya bahwa dirinya adalah pembohong ulung tapi tidak tahukan bahwa tidak selamanya hal itu bisa dilakukan dengan mudah oleh Dara mengingat ia sendiri belajar dari seseorang di masa lalu.

Chanyeol. Rasa benci dan rindu Dara selalu hadir bertubrukan jika mengatakan ataupun mengingat nama Park Chanyeol itu. Menghabiskan waktu bersama saat dirinya masih kecil, jelas membawa banyak dampak untuk Dara sendiri. Sejak kecil, ataupun saat pertama kali bertemu dengan Chanyeol, itulah pertama kalinya sikap Dara berubah menjadi makhluk kaku nan dingin untuk orang di sekelilingnya tapi bisa-bisanya pria berambut ombak itu membuatnya kembali pada dirinya yang dulu –sosok Dara sebelum ibu dan kedua saudaranya pergi meninggalkan Dara di dalam sangkar emas milik ayahnya.

Chanyeol. Sosok periang itu layaknya cerminan Dara sebelum kehangatan seorang ibu telah tidak ia rasakan lagi. Dara sempat berpikir bahwa Chanyeol maupun Sohee merupakan orang yang sama. Mereka sama-sama membawa kehangatan untuk Dara, dan mereka juga sama-sama menghilang begitu saja setelah sudah merasa nyaman juga hampir menumpukkan kelemahannya pada sosok Chanyeol maupun Sohee.

Merajut penyesalan yang dirasa Dara, maka tidak seharusnya Dara membiarkan oranglain untuk masuk ke dalam kehidupannya seperti apa yang dilakukan oleh kedua orang di masa lalu itu.

“Chanyeol-ah,” suara getirnya menggelayut dalam hening suasana siang musim gugur hingga terasa lucu.

A Journey of A Thousand Miles

Musim panas, 2007

Mianhae, jeongmal mianhaeyo.”

“Wae? Wae? Wae!”

Chanyeol diam membiarkan gadis yang ia tatap dengan sendu itu mengeluarkan cairan hangat setelah lelah mencoba menahannya cukup lama. Biarlah ia menangis tersedu-sedu, sekalipun dengan berat hati mengatakan hal ini saat seulas senyum menyapa Chanyeol di gerbang menjulang gadis itu, tapi yang Chanyeol lakukan haruslah seperti ini, walau terpaksa.

“Ini untuk pengobatan noona-ku, Dara-ah. Kuharap, kau akan mengerti.” Sakit rasanya melihat Dara terus menangis yang biasanya hanya melihat tawa lepas Dara, tapi mengapa ia bisa bersikap seperti ini?

Dara menahan napasnya, entah mengapa ia merasakan oksigen yang di pompa di dalam tubuhnya seakan menghilang begitu saja, tapi Dara mencoba mengeluarkan suaranya sekalipun suaranya hampir mengilang. “Tapi kenapa kau mengatakan tidak akan pernah kembali ke Seoul lagi? Kenapa kau meninggalkan aku? Siapa lagi temanku setelah kau pergi?”

Jeongmal mianhae, aku akan mencoba mencuri waktu untuk bertemu denganmu nanti Dara. Aku berjanji.

Aniya, lupakan saja janjimu, karena jika saat kau kembali dan bertemu denganku … anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tak saling mengenal.”

Tidakkah Chanyeol bosan untuk terus meminta maaf bertubi-tubi pada Dara? Gadis itu lantas membuang muka, membiarkan buku-buku tangan yang memucat menjadi pelampiasan dirinya kini.

“Bagiku, jika orang yang telah meninggalkanku … aku akan menghapus orang tersebut dalam kisah masa laluku, seperti yang aku lakukan pada ibu dan juga kedua saudaraku. Selamat tinggal, Park Chanyeol.”

To be continued


Next >>

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6

A/N 

Ada Chanyeol ! haha, setelah sekian lama selalu pengen nyelipin Chanyeol di cerita chaptered dan akhirnya sekarang kesampaian! Salahkan lah pada rumput yang bergoyang tengah malem yang buat saya jatuh cinta lagi sama si jangkung ini! ^^
Selalu sediakan waktu untuk selipkan komentar dipostingan saya, dan inilah short series karena saya mampu cuman sampai segini panjangnya hehe

Advertisements

20 thoughts on “[Short Series] A Journey of A Thousand Miles : Part 3

  1. dara selalu ditinggalin sama org2 yg dia sayang…. 😥
    kenapa pula ji malah suka sama soohe bukannya sama dara #hhuufftt.
    ditunggu next chapnya…..semangggaaaaaaaattttt eonni…. 😉

  2. Apa chanyeol akan kmbali lg !!?? Si jigong kmna tu ,, ga da part ny di episod ni ,, wkekekek~ trus dara akan sama siapa !! Chanyeol pa jigong. Soalny jigong masi mnyukai sohee. Iishhh. Haha

  3. apakah aku udah comment di chap ini?
    bomat ahh aku mau comment lagi..
    chanyeol chanyeol chanyeol!!! aku kok mau nangis ya pas chanyeol ninggalin dara? kata-kata dara bikin nyesek.. “kalau bukan kamu yang nemenin aku siapa lagi?” dara kasian gak ada yang nemenin.. itu sohee padahal-

  4. Jiyong oppa gantiin posisinya chanyeol oppa aja dehh, biar dara unnie bisa merasakan kehangatan lagi. Orang orang yg disayangi dara unnie selalu menghilang dari kehidupan dara unnie😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s