[Part 5] My Crazy Neighbor : His Style like a Good Boy

my-crazy-neighbor--haru-pandaAuthor : Haru & VA Panda|| Title : My Crazy Neighbor || Genre : Comedy, School life, Romance, Drama || Starring : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jang Kiyong, Mizuhara Kiko, Stephanie

.

.

Ritual pagi yang tak pernah untuk Sandara lewatkan sebelum kepergiannya ke sekolah adalah mengendus harum keringatnya. Berbanding dengan tubuh mungilnya, Sandara memiliki kekuatan lebih dari rata-rata yang bahkan sulit untuk diterima kebanyakan orang. Ia, bukan seorang penari handal namun terlalu maniak akan hal itu.

“One… Two…Three…Four.” Sandara mulai menghitung, merenggangkan lengannya yang diikuti kedua kaki dengan penuh keseriusan.

Gadis itu merekahkan senyum, entah mengapa harinya sangat menyenangkan dibandingkan sebelumnya. Coret hal yang dikatakan sebelumnya, harinya memang selalu menyenangkan dan diberkati oleh Dewi Fortuna!

Sandara masih mengingat dengan sangat jelas, bahkan memori itu seolah video yang setiap saat diputarkan di otaknya. Dua hari yang lalu, tepat pada hari valentine, Jang Kiyong memberikannya coklat belgia yang begitu lezat bahkan rasa surganya masih mampu dirasa pada pangkal lidah Sandara saat ini. Lalu, satu hari yang lalu, tepatnya pada hari minggu, Jang Kiyong mengajaknya untuk menjadi tour guide yang tentunya pria itu memastikan perut Sandara terpuaskan barang hanya dua jam mereka keluar walaupun hanya ke toko buku untuk menemani Kiyong mencari buku tentang bisnis.

Karakter Sandara bukan termasuk orang yang akan terlalu ingin tahu akan urusan oranglain, hal itu berlaku saat Jang Kiyong justru lebih memilih buku bisnis dibandingkan komik seperti kebiasaan Jiyong. Sekalipun Sandara sangat penasaran akan hal itu, namun baik Kiyong maupun Jiyong, gadis itu tak pernah bertanya mengapa mereka memilih buku bisnis ataupun komik namun yang gadis itu pikirkan hanyalah … bayaran yang pantas ia terima seperti makanan dan camilan lezat!

Drrrt…Drrrt…

Selagi Sandara tengah melakukan split juga mencium lututnya, si pemilik tubuh lentur ini dikagetkan dengan getar ponsel di saku baju tidurnya.

KIYONGIE

Nama pria manis itu menghiasi layar ponsel Sandara. Dahi berkerut diikuti posisi kepala Sandara yang memiring, mengantarkan Sandara pada kebingungan. Gadis ini tidak pernah menyimpan nomor ponsel Kiyong atau bahkan menamainya dengan panggilan imut seperti itu, biasanya yang Sandara lakukan justru pemberian nama aneh pada kontak di ponselnya.

“Yeoboseyo?” dengan napas sedikit tersenggal, Sandara menyapa namun justru dijawab oleh tawa singkat dari seorang di seberang sana. “Um, apa kau yang menyimpan nomormu sendiri di ponselku?” merasa ditertawakan, dengan sedikit kesal Sandara bertanya.

“Ah, ne, Dara-ah. Itu tidak masalah bukan untukmu?” pria itu bertanya dengan suara manly yang mampu menggetarkan hati wanita siapapun di muka bumi.

“Tidak, itu tidak masalah. Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau katakan?”

“Tidak banyak, aku hanya ingin menyebarkan semangat pagiku untukmu.”

“Huh?”

“Sampai bertemu di sekolah!”

Memasang wajah terkejut, Sandara membulatkan mulut dengan napas terhenti dalam seperkian detik. Heol, orang seperti Kiyong ternyata memiliki semangat yang lebih tinggi dibandingkan dengan Sandara yang kebanyakan orang kenal. Tidak terlalu dipermasalahkan memang, selama pria yang memiliki senyuman memikat itu masih memiliki stock won untuk mentraktirnya makan siang!

“Baiklah, aku akan mandi dan berangkat sekolah!” ujar Sandara dengan membara, melemparkan ponsel ke kasur lalu beranjak masuk ke kamar mandi di pojok kiri kamarnya.

.

.

***

.

.

G-Dragon Pov

Melihat pantulan wajahku tepat pada cermin, di sanalah aku menarik lengkungan pada bibirku. Sebuah senyum tipis sengaja aku pertontonkan tepat saat aku tengah mengancingkan seragam sekolah pada dua kancing terakhir.

Kwon Jiyong, wajahmu memang sangat diberkati! Aku tertawa dengan cukup puas saat tawa itu terhenti ketika kedua mataku mengarah asal dan sialnya tepat pada kamar Sandara arah jam dua tengah melakukan split.

Aigo, lihat Chihuahua itu. Berlaga seperti ballerina dengan piyama tidurnya.” Aku berdesis, entah mengapa dengan melihat Sandara di pagi hari yang teramat cerah ini sungguh membuat kedamaianku hancur berantakan.

Dalam kurun waktu lama bertetangga dengan gadis barbar seperti Sandara memang bukan menjadi hal aneh jika gadis itu tidak pernah menutup jendela seukuran tinggi badannya itu, berbeda dengan adiknya, Park Sanghyun yang sangat rapih.

“Aku tidak yakin dia bisa memangkan kompetensi itu,” aku berasumsi selagi mataku masih memantau Sandara yang kini tengah dihubungi oleh seseorang, oh rupanya ponsel itu masih berguna dan masih pula ada yang berniat menghubunginya.

Aku menggelengkan kepala, gadis itu kini bersemangat dengan melakukan gerakan kecil setelah ia melemparkan dengan asal ponsel yang sebelumnya bersandar di telinga. “Aku sangat bersemangat untuk memasukkan Chihuahua itu ke–KYA!”

DAMN DAMN DAMN IT!

Mengumpat dan langsung memalingkan mata ke arah lain, aku menarik rambut hitam legamku dengan sedikit kesal. Lihat apa yang dilakukan Chihuahua itu dengan jendela yang terekspos luas dari luar sini, seenak jidat gadis barbar itu membuka pakaian dan melenggak-lenggokkan pinggulnya yang datar.

“Apa Chihuahua itu pikir aku bukan pria normal, huh?!” Aku bergumam dengan teramat kesal sampai dapat aku rasakan terdapat lahar yang mencuat dari kepalaku.

Masih dengan memalingkan pandangan lain, perlahan aku mulai mengarahkan kedua mataku kearah kamar Dara dengan penuh kehati-hatian sembari sedikit memejamkan mata. Bagus! Gadis itu sudah beranjak ke kamar mandi setelah dengan pasti aku tidak menemukannya dan sebuah senyum puas terukir di wajahku dengan cukup bangga, setidaknya mata coklatku tidak akan ternodai dengan melihat tubuh tak berbentuk indah seperti Sandara misalnya.

Hyung!”

Mataku mengarah tepat pada pukul tiga di mana letak kamar seberang, kamar Sanghyun berada dan dalam detik berikutnya, senyuman di wajahku pun terlihat pudar.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau mengintip kamar Noona?!” Sanghyun terpekik dengan mata membulat tak percaya sedangkan aku justru dibuat kebingungan dengan pertanyaannya.

What the hell???!!! Aku bukan penjahat atau bahkan penguntit! Masih dengan panik melihat ekspresi yang diperlihatkan Sanghyun, aku melambaikan kedua tanganku dan berkata. “TIDAK!”

***

Katak Rawa, aku tunggu kau di atap sekolah! Jangan terlalu menghamburkan waktu, kita perlu latihan!

Pada suapan terakhir, Kwon Jiyong dengan malas membuka isi pesan yang dikirimkan oleh Sandara. Memasang wajah muram, mengenakan sendok yang ia pukul pada meja, Jiyong justru menjadi perhatian di kantin sekolahnya.

“Man, apa yang kau mau membuat suatu hiburan dengan sendokmu?” Soohyun bertanya di samping Jiyong dan pria itu memasang senyum memabukkan di wajah modelnya kepada para gadis di sekitar.

“Omo, Soohyuk oppa tersenyum padaku!” salah satu gadis berdandan kpop lover addict berkata dengan heboh dan sedikit melompat pada posisi duduknya.

Jiyong hanya memutar matanya dengan gusar sedangkan Soohyuk berada dalam kesulitan saat ketiga gadis berpenampilan mencolok itu sangat bersemangat dan mulai berjalan kearah mereka.

“Soohyuk, apa yang kau lakukan dengan membangunkan ketiga orang seperti mereka.” Jiyong bergumam kecil dan bersiap untuk menaruh nampan makan siang yang sudah ia habiskan.

“Man, kau harus membantuku!” Soohyuk dengan suara kepanikannya menarik ujung baju Jiyong saat ketiga gadis dengan mata yang terus menatap kearahnya dengan lahap itu mulai mendekat kearahnya. “Apa kau tega membiarkan mereka memakanku?”

Jiyong berdecak melihat kepanikan Soohyuk yang teramat geli untuk postur tubuhnya. “YA, kau memang teman terbaik yang sangat sulit ditebak. Bukankah kau sendiri yang membuat perhatian agar ketiga gadis itu menggapaimu? Lagipula apa yang kau pikirkan, memakanmu? Tidak mungkin, yang ada mungkin wajahmu akan dipenuhi cakaran karena mereka saling berebut aroma parfummu yang memabukkan itu.” Dengan itu Jiyong beranjak meninggalkan Soohyuk yang telah seperti agar-agar namun langkahnya terhenti sejenak dan memundurkan langkahnya tepat pada telinga Soohyun. “Arah jam 4, primadonamu Lee Sung kyung datang, kau mungkin bisa meminta bantuannya dan jangan lupa kirimkan aku video yang sangat menarik!”

***

Sandara menghentakkan kaki untuk kesekian puluh kalinya. Gadis itu melipat kedua tangannya dan terus melihat kearah pintu masuk atap sekolah yang tidak mengisyaratkan kehadiran seseorang di sana. Tepat pukul satu siang pada jam tangan Sandara dan seharunya Jiyong sudah menyelesaikan makan siang sebelum sepuluh menit ini namun pria itu tak kunjung datang atau bahkan membalas pesan yang diikuti telpon yang justru di reject oleh Jiyong.

“Kau memang hebat, Dara. Seharusnya kau tidak bisa membiarkan katak rawa sepertinya menjadi partnermu dalam kompetensi itu.” Berjalan seperti setrikaan, Sandara memijat pelipisnya dan memaksakan menghela napas untuk memedam amarah.

“Kecoa! Apa kau tidak kepanasan menunggu di sana?” suara Jiyong sedikit membuat Sandara terhenyak dalam kebimbangannya.

Gadis itu merekahkan senyum sembari bertepuk tangan dengan sangat semangat yang masih menggebu-gebu seolah melupakan kekecewaan sebelumnya pada Jiyong. Sandara berlari kearah Jiyong dengan tangan terlentang dan memeluk singkat pria itu juga kebiasaan Sandara yang sempat menepuk kedua pipi Jiyong.

“Kenapa sangat lama, sih?” Sandara tak mampu menghilangkan seluruh kekesalan namun yang ia peroleh justru kekesalan yang kian memuncak.

“Bukan urusanmu lagipula kau yang memerlukanku dan bukan aku yang memerlukanmu,” pria itu membalas dengan wajah datar, mengesampingkan Sandara yang telah menunggu cukup lama di bawah terik matahari.

“Baiklah, aku tidak akan memperpanjang masalah keterlambatanmu ini. Bagaimana kalau kita mulai latihan ini?”

Sandara berteriak nyaring dan mencari playlist lagu di ponselnya, “bagaimana dengan lagu yang semangat untuk permulaan kita?” gadis itu bertanya dan memilih lagu Bangtan Boys – Danger.

Sandara menarik lengan Jiyong dan membawanya bersama. Saat musik mulai berdentum, gadis itu memulai kehebatannya dalam gerakan yang sangat aktif dimulai dari lengan yang terasa lentur lalu kaki yang mulai melompat sesuai irama.

“Ayolah, Ji. Kau harus ikut menari sesuai irama musik, jangan malu-malu aku akan mengajarkanmu dengan sangat sabar!”

“Tidak, aku tidak bisa menari dengan sangat gila seperti kecoa sepertimu.”

“Omo, apakah kau mengatakan bahwa kau tidak bisa menari sama sekali? Ayo aku ajarkan!”

Gadis itu memegang satu lengan Jiyong dan menggenggamnya, mengajarkan secara slow motion pada bagian kaki yang seperti menendang, menyapa angin.

“YA! Berhenti! Aku tidak menyukai lagu ini!” Jiyong melepaskan genggaman Sandara dan berteriak dengan sangat kesal.

“YA! Apa yang salah denganmu?!” Sandara membalas teriakan Jiyong yang keduanya saling melototkan mata di bawah terik matahari yang kian mencolok. “Bukan hanya gayamu yang kuno, huh? Tapi telingamu bahkan sangat kuno saat mendengar musik anak muda seperti ini!”

“Setidaknya aku bisa jauh lebih hebat menari dibandingkan dengan tarian kecoamu itu!”

“Kalau begitu coba buktikan bahwa kau memang bisa menari! Kau terlalu banyak bicara!”

“YA! Itu sangat lebih baik dibandingkan denganmu yang tidak berterima kasih karena kebaikan seseorang, dan apa yang sangat sulit dipercaya adalah kau tidak mengambil coklat yang aku berikan di laci!”

“Semua ini hanya karena coklat? Apakah kau marah padaku?”

“Terserah, yang jelas aku tidak bisa latihan menari denganmu jika kau tidak mempersiapkan hal terkecil sebelum kita memulai!”

Kwon Jiyong berjalan meninggalkan Sandara dengan kekesalannya. Pria itu tidak habis pikir mengapa mengungkit perihal coklat yang memang tidak diambil Sandara dua hari yang lalu. Ia bersungut dalam batinnya, tidak mampu menjelaskan mengapa moodnya menjadi berantakan saat berhadapan langsung dengan Sandara.

Jiyong bersandar sejenak pada pintu di atap lalu menghela napas dengan sedikit memijit pelipisnya untuk meredakan emosi yang tiba-tiba datang. Pria itu mulai menuruni anak tangga, dan tepat pada lorong penghubung menuju tangga keatap, Jiyong yang tengah berjalan menunduk dikejutkan dengan sosok gadis yang menyapanya dengan sungkan.

“G-Dragon,” sapaan itu berasal dari Kiko yang tengah menenteng buku-buku di kedua tangannya. “Apakah terjadi sesuatu denganmu dan Dara?” ia bertanya dan menengok pada belakang Jiyong yang tidak diikuti dengan kehadiran Sandara.

“Bagaimana kau tahu kalau aku telah bertemu dengan Dara?”

“Dara tadi mengatakan bahwa ia akan latihan menari denganmu di ruang atap. Apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya dan di mana Dara?” dengan ragu Kiko bertanya namun Jiyong hanya membalas dengan senyum lemah yang singkat kearahnya.

“Tidak ada apa-apa, hanya sedikit dialog saat aku dan Dara di sana.” Pria itu menjawab dan matanya langsung mengarah pada beban buku yang dibawa Kiko. “Apakah kau kesulitan? Kemana tepatnya buku ini perlu ditaruh?” tanpa seizin Kiko, pria itu mengambil alih buku-buku yang semula di bawa Kiko pada tangannya dan berjalan mendahului.

“Gomawo, G-Dragon … um Kim Seongsaenim menyuruhku untuk menaruhnya di mejanya.”

“Baiklah, tidak masalah. Kajja!”

.

.

***

.

.

Dara POV

Aku benar-benar jengkel dengan kelakuan katak rawa yang satu itu, membiarkanku menunggu seenaknya lalu pergi dengan seenaknya pula, dia pikir aku ini apa. Aku sungguh ingin membenam wajahnya di rawa-rawa.

“Aaaaa…. kau sungguh membuatku gila Kwon Jiyong, bagaimana bisa aku menjalani ini sendirian.”

Tunggu, ia menyinggung soal coklat tadi, ia memarahiku karna coklat taruhan yang tidak jadi ku ambil. Apa-apaan katak itu, seharusnya dia senang dengan keputusan yang ku ambil, karna itu artinya ia bisa menikmati semua coklatnya kembali. Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ia bicarakan tadi.

“Sekali katak, selamanya akan seperti katak yang menyedihkan!”

Aku beranjak dari atap yang panas itu menuju kantin dengan perasaan yang penuh dengan emosi. Tak bisakah katak rawa itu bermanis-manis padaku sekali saja, menuruti apa yang ku katakan sekali saja. Aku menggerutu sepanjang jalan sampai tiba-tiba Kiyong muncul di hadapanku dengan senyum khasnya.

“Kau sudah makan siang?”

Aku tidak tahu mengapa, tapi lelaki ini selalu ada disaat aku sedang kesulitan seperti saat ini. Ia selalu datang disaat tak terduga, dia adalah dewa penyelamatku terutama saat aku lapar. Aku merekahkan senyum selebar-lebarnya dan seolah mengerti, ia menarik tanganku menuju kantin.

“Bagaimana latihan dance mu dengan Jiyong?”

“Sangat lancar,” aku mengerutkan bibirku seketika dengan mulut penuh dengan nasi. “sangat lancar membuatku kesal.”

Kiyong tertawa kecil melihatku dan memberikan ku susu kacang yang masih hangat dan sukses membuat perasaanku berangsur baik pasca insiden Katak Rawa di atap tadi. Aku harus membuat perhitungan dengan katak rawa itu secepatnya, tak akan ku biarkan ia bersenang-senang di atas penderitaanku.

“Seharusnya dia merasa beruntung karena bisa berpasangan denganmu.”

“Eo? Benar! Ia seharusnya merasa beruntung bisa menjadi pasangan dance ku, sangat sulit menemukan gadis penuh semangat sepertiku.”

Kali ini Kiyong tertawa lepas yang membuatku sedikit bingung, apa aku terlihat seperti pelawak terselubung untuknya? Ia selalu saja tertawa di setiap kata yang ku ucapkan.

“Kau sungguh unik Sandara Park.”

“Berhenti menghinaku seperti itu Kiyongie, cukup si katak rawa yang menyebalkan itu saja yang terus-terusan menghinaku. Menjengkelkan.”

Kiyong tersenyum canggung dan meminum susu kacang di tangannya, ia mengambil ponsel di sakunya dan memperlihatkan ku sebuah video. Itu adalah festival seni yang di adakan di sekolahnya dulu.

Omo! Daebak! Kyaaaa, lihat lihat! Itu Minzy, itu adalah sahabatku yang bersekolah disana, wah lihat betapa lentur dan seksinya dia. Aigoo, aku sangat iri dengannya.”

“Cobalah beberapa tarian disini.”

Mwo? Haha kau sungguh konyol.”

Kiyong menatapku dengan ekspresi memohon dan memegang kedua pundakku untuk beranjak dari tempatku duduk.

“Baiklah, akan ku lakukan sedikit, namun tanpa musik oke? Keke”

.

.

***

.

.

Gomawo¸G-Dragon. Kau sangat membatuku.” Ujar Kiko menundukkan kepalanya malu.

“Tidak masalah, aku juga kebetulan lewat.”

Jiyong berjalan perlahan dengan Kiko berada disampingnya, sepanjang jalan itu pula tak ada pembicaraan apapun dan Kiko hanya menundukkan kepalanya melihat jalanan sepanjang koridor.

“Kau mencari sesuatu?”

Kiko melonjak kaget dan mendongkakkan kepalanya ke arah Jiyong dengan ekspresi yang membuat Jiyong sedikit menahan tawa.

“T-Tidak.. A-Aku hanya..”

Suara perut Kiko menggerutu sebal diantara keheningan jeda pembicaraannya dengan Jiyong, kali ini Jiyong melepaskan tawanya dengan Kiko memegangi perutnya malu.

“…..M-Maaf G-Dragon, aku akan pergi ke kantin sekarang, sampai jumpa.”

“Tunggu, aku akan ikut bersamamu.”

Dalam perjalanan menuju kantin, gadis-gadis di sekolah saling berbisik satu sama lain dan melihat Kiko dengan tatapan getir juga sangat marah, mereka pastilah iri dengan Kiko yang dapat dengan mudah berjalan dengan Jiyong. Kiko hanya bisa menundukkan wajahnya yang tertutup setengah oleh rambut pendeknya yang jatuh.

“Tenanglah, abaikan tatapan mereka, aku akan….”

Jiyong menghentikan langkahnya dan melihat lurus menuju arah jam 11 dimana ia menemukan Sandara dengan Kiyong sedang tertawa lepas karena kelakuan konyol Sandara bahkan di tempat yang cukup ramai di kantin.

“Benar-benar memalukan kau Chihuahua.”

“Eh? S-Siapa Chihuahua?”

“Aku akan makan disana, ikutlah denganku.”

Jiyong menarik tangan Kiko dan menghampiri Sandara dan Kiyong yang masih asik dengan dunia mereka.

“Ya, Chihuahua, apa yang kau lakukan disini sungguh memalukan.”

Sandara yang tengah membelakangi Jiyong membalikkan tubuhnya dan menatap Jiyong dengan tatapan membunuh.

“Pantas saja insting membunuhku naik ke level 10, ternyata kau disini, masih berani juga kau berbicara seperti itu setelah kau meninggalkanku?”

Jiyong memasang wajah pura-pura tidak mendengar yang tentu saja membuat Sandara lebih geram dari sebelumnya. Kali ini Sandara memutar musik Good Boy di tengah kerumunan siswa dan siswi yang ada di kantin, dengan penuh percaya diri ia naik ke atas meja kantin yang panjang dan membuat Jiyong, Kiyong, bahkan Kiko memasang ekspresi terkejut yang tak biasa.

Sandara menari dengan bebas tanpa memperdulikan ia akan terkena masalah setelah ini. Sandara melayangkan jari telunjuknya ke arah Jiyong.

“Kau gila ya?”

“Kau pecundang ya?”

Merasa terintimidasi dan tak ingin reputasinya hancur, Jiyong naik ke atas meja dan menari bebas mengalahkan tarian Sandara. Tariannya terlihat lebih luwes dan bebas, Sandara menyunggingkan senyum dan melompat-lompat senang mengikuti irama. Suasana kantin sungguh ramai dengan kehadiran Sandara dan Jiyong ditengah-tengah mereka, terlihat seperti konser mini.

Dari jauh, kelompok Stephanie menatap getir ke arah kerumunan, dan menatap geram juga cenderung membunuh ke arah Sandara. Ya, hanya Sandara. Ia menyunggingkan senyum jahat dan beranjak menuju suatu tempat.

Woohoo! Go G-Dragon Go!” Sandara masih melompat lompat senang sampai sesaat keadaan sorakan siswa dan siswi yang semula ramai, kini sepi dan membubarkan diri.

“Sandara Park, Kwon Jiyong. Ikut saya ke kantor!”

Kepala sekolah Lee! Sandara mematikan musik dan melihat ke arah Jiyong yang terlihat malu dan menyesal. Kiyong beranjak dari tempat ia berdiri dan menghampiri Sandara.

“Tenang, aku akan ikut denganmu.”

“Tidak perlu ikut campur.”

Suara Jiyong membuat Kiyong memalingkan wajah ke arahnya dan menatapnya datar setengah sinis. Kiko yang entah sejak kapan berada diantara keduanya, merentangkan tangan panjangnya yang membuat Jiyong dan Kiyong mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Aku akan mengantarmu ke ruang kepala sekolah G-Dragon.”

Sandara yang sedari tadi terus terdiam, menatap kosong ke sembarang arah lalu menjambak rambutnya pelan dan merengek seperti anak kecil.

“Haaa Eommaaaa! Jangan hukum aku Eomma!

Pabo! Pikir Jiyong lalu beranjak menuju ke ruang kepala sekolah diikuti Kiko di belakangnya.

 

 


-To be continue-

<<back  ||  next>>


Trailer Fanfiction :

A/N :
Haru : Jangan lupa kritik dan saran membangun, muah.
Pinda : Okay… tunggu part selanjutnya dan luangkan waktu sejenak untuk memberikan komentarnya :*

 

 

Advertisements

30 thoughts on “[Part 5] My Crazy Neighbor : His Style like a Good Boy

  1. Waaaa,sukaaaaaaaa
    Dara super aktif ya,Jiyoung sok cool pdahal suka sama Dara,dan Kiko,pls jgn ganggu jiyoung,biarka Dara dan jiyounh bersama*eaaaaa
    Next thor,suka bange ff yg begini,Jiyoungnya malah sok baik,wmwkwkw.

  2. kekekekeke…. gmna pun brusha mnyukai kiko ttap sj ga bisa. hahahahaha ga suka dia, aigoooo…. knpa harus dia sih. hehe… yg lain gttu. hohohoho… jiyong suka kan sama dara.hnya sj blum sadar itu namany suka. y kan. hbis knpa tiap liat dara bwaanny pgen emosi sj. hihi

  3. Hhuuhhh,knpa jiyong kasar banget sih sama dara,gak pernah manis bgt sama dara. Beda banget sma kiyong. Jiyong klo suka sama dara blg aja,gak usah sok cool gitu. Kadang2 ngeselin bgt aih sifat jiyong yg selalu ngeremehin dara.
    Arruuhhhh,si kiko bikin mood jd buruk aja. Sok kenal bgt lg sma jidi.
    Next chp ditunggu^^

  4. woahhh gd udh mulai cemburu.. tapi gd belum sadar sama perasaannya sendiri.. moga aja gd jgn sampe suka sama kiko..
    ffnya bagus, suka bangett..
    next chap thor, semangat trus utk ff colabnyaa^.^

  5. Jiyong jahat x am dara..pdhal dy udh mulai cmburu tuh am kiyong..
    Dan buat kiko smoga jiyong ga tertarik nntiny am kiko ya..
    Buat dara energik skli..wlau udh dgtuiin sm jyong tetap pntng mnyerah..wahhh semngat thor buat next ny

  6. hahaha..ampun dech kelakuan ajaib dara mungkin kyk di we broke up x ya va?
    pengeen liat dara n ji nari ga jelas tp penuh semangat gt..hihi

  7. Positifffff jiyong cemburu!!! Kiko suka deh kayanya sama jiyong. Wahhh bakal semakin seru nih kayanya kekeke
    Next chap.. fighting!!!

  8. Mereka berdua kenapa nggak saling ngaku aja sih kalo udah falling in love kagedean gengsi sih jadinya pada sewot2an kan duh…
    Walaupun di sini kiko baik tapi ntah mengapa aku tetep risih aja kalo ada dia deket2 jiyong kkeke….
    Semoga ji ma dara menang di kompetisi itu deh,, aku sebel jg sama sing geng alay itu
    Oke author di tunggu selanjutnya…. gighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s