Gonna Get Better [Chap.9]

untitled-1

Author : rmbintang

Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

Category : Romance

.

.

“Apa karena kau adalah orangnya? Orang yang menyukaiku?”

“Aku selalu memberikan pundakku saat kau sedang merasa rapuh. Aku tidak pernah melepaskan tanganmu saat kau merasa dunia terlalu kejam untukmu. Aku melakukan apapun untuk membuatmu bisa melihatku Dara, melihat ketulusan yang aku berikan hanya kepadamu”

.

.

Dara terduduk diam di dalam mobil miliknya yang kini sudah terparkir di tempat parkir khusus karyawan di kantor tempatnya bekerja. Dia sudah duduk di sana hampir selama lima belas menit, dia sedang menunggu seseorang yang selama hampir dua minggu ini sulit untuk bisa dia temui. Dara harus bicara dengan Jiyong, meminta maaf kepada Jiyong karena sikap egois Dara kepada pria itu. Namun Jiyong seperti hilang ditelan bumi setiap kali Dara mencarinya.

Dara belum bertemu dengan Jiyong sejak dia menemuinya di apartemen pria itu. Atau lebih tepatnya Dara tidak bisa bertemu dengan Jiyong karena pria itu sepertinya sengaja menghindari Dara. Dara terus berusaha untuk menghubungi Jiyong namun tidak ada satupun pesan dan telpon Dara yang Jiyong respon. Setiap istirahat makan siang Dara selalu pergi ke ruangan Jiyong hanya untuk mendapati ruangan itu kosong karena Jiyong selalu berhasil pergi sebelum Dara datang.

Biasanya setiap pagi Jiyong dan Dara akan bertemu di parkiran dan duduk di mobilnya atau mobil Jiyong untuk menikmati sarapan sehat yang selalu Jiyong bawakan untuknya, namun sejak kejadian hari itu rutinitas mereka yang satu itu tidak pernah terulang lagi.

Setiap pagi Dara selalu datang lebih awal dan menunggu di dalam mobilnya selama dua puluh menit, berharap tiba-tiba Jiyong mengetuk kaca jendela mobilnya sambil mengangkat dua buat sandwich buatannya sendiri kemudian mereka akan makan sandwich itu sambil membicarakan apa saja yang berhasil membuat Dara melupakan betapa kejamnya dunia kepadanya.

Hari ini Dara juga kembali menunggu di dalam mobilnya dengan earphone terpasang di kedua telinganya. Entah kenapa sejak kejadian malam itu Dara selalu ingin mendengarnya lagu klasik yang bisa menenangkan pikirannya, yang bisa membuatnya melupakan semua hal yang telah terjadi akhir-akhir ini kepada dirinya terutama pertemuannya dengan Soohyuk malam itu.

Awalnya Dara selalu ingin menangis jika mengingat malam itu, namun kini hatinya sudah mulai tenang dan dirinya kini sudah bisa menerima kenyataan bahwa dia dan Soohyuk tidak ditakdirkan untuk bersatu. Tapi walaupun begitu Dara masih tidak bisa bertemu dengan Soohyuk karena dia terlalu malu atas sikapnya yang sangat kasar malam itu. Dia selalu mengutuk dirinya sendiri ketika mengingat malam itu dia memohon kepada Soohyuk, memohon supaya pria itu tidak meninggalkannya dan memohon supaya pria itu membalas perasaannya. Dara berjanji tidak akan lagi meminum alkohol setelah kejadian itu.

Dara sangat bersyukur karena pada akhirnya dia bisa menata perasaannya kepada Soohyuk dan tidak lagi memikirkan pria itu namun itu bukan berarti hidup Dara terbebas dari masalah karena kini ada hal baru yang mengganggu pikirannya. Bukan hanya satu masalah tapi ada beberapa hal yang mengganggunya kini.

Pertama adalah masalahnya dengan Jiyong yang masih belum ada penyelesaiannya. Kedua adalah masalah perjodohannya dengan pria yang telah dipilihkan ole ibu dan neneknya karena sepertinya Dara tidak bisa menggap remeh hal ini, mereka bahkan telah makan malam di mansion keluarga Lee beberapa hari yang lalu.

Dari percakapan yang dia tangkap bahwa perjodohan ini bukan hanya untuk menyatukan Dara dan Donghae namun juga untuk mempererat hubungan kerja sama antara perusahaan Lee dengan perusahaan suami ibunya. Hal itu benar-benar membuat Dara frustasi karena dia sama sekali tidak ingin dijodohkan apalagi untuk alasan seperti itu, Dara bahkan tidak peduli dengan perusahaan ayah tirinya itu.

Namun yang paling mengganggu pikiran Dara adalah apa yang Soohyuk katakan malam itu, Dara memang mabuk tapi dia masih bisa mengingat semuanya. Soohyuk mengatakan bahwa Dara mencintai pria lain, bukan dirinya. Tapi siapa pria yang Soohyuk maksud Dara sama sekali tidak tahu karena selama ini dia yakin bahwa pria yang dia cintai hanya Soohyuk.

Namun untuk saat ini Dara akan fokus pada masalahnya dengan Jiyong terlebih dulu karena dia tidak ingin terlalu lama berada dalam kondisi seperti ini dengan Jiyong. Tidak bisa Dara pungkiri bahwa Jiyong adalah satu-satunya orang yang masih peduli dengannya dan Dara tidak ingin kehilangan sahabat terbaiknya itu jadi dia akan berusaha membuat hubungannya dengan Jiyong kembali seperti semula.

Dara melihat jam yang melingkar di tangannya untuk melihat waktu, dia kini sudah menunggu selama dua puluh menit dan sebentar lagi jam kantornya akan segera dimulai. Dara mendesah karena hari ini dia masih belum bisa bertemu Jiyong. Dara mengambil tas yang sejak tadi bersandar nyaman di jok sebelahnya kemudian melepaskan earphone dari telinganya lalu memasukan iPod ke dalam tas itu.

Dia akan membuka pintu mobilnya ketika dia melihat mobil Jiyong yang baru datang dari arah luar. Dara mengurungkan niatnya untuk keluar dan memilih untuk menunggu sampai Jiyong turun dari mobilnya. Mungkin hari ini akhirnya dia bisa berbicara dengan Jiyong dan menjernihkan masalah mereka berdua, meluruskan semuanya dan kembali menjalin hubungan persahabatan mereka karena Dara benar-benar sudah merindukan kehadiran Jiyong yang selalu ada disisinya selama ini.

Tanpa sadar senyuman tipis tersungging di bibirnya ketika dia melihat Jiyong keluar dari mobil itu. Dara sudah memegang knop pintu mobil dan akan membuka pintu mobilnya saat tiba-tiba dia melihat pintu sebelah kanan mobil Jiyong terbuka dan tidak lama kemudian Dara melihat sosok yang sangat dia benci keluar dari dalam mobil itu.

Darahnya mendidih ketika melihat Tiffani yang baru saja menutup pintu mobil itu kini sedikit berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Jiyong. Tanpa sadar Dara mengeratkan pegangan tangannya pada knop pintu mobil ketika melihat wanita itu melingkarkan tangannya pada lengan Jiyong dan yang membuat Dara semakin kesal adalah karena sahabatnya itu sama sekali tidak menepis tangan wanita itu.

Rasa marah kini langsung merasuki tubuh Dara karena melihat Jiyong dengan perempuan itu padahal Dara sudah berulang kali memberitahu Jiyong untuk tidak dekat-dekat dengan perempuan itu. Dara kini menyesal karena telah menunggu Jiyong karena sepertinya pria itu kini tidak lagi peduli dengan Dara. Dia juga menyesal karena telah merasa bersalah atas sikapnya kepada Jiyong sementara Jiyong sendiri sepertinya tidak terganggu dengan hubungan persahaban mereka yang memburuk.

“Aku tahu semua pria memang sama saja.” Gumam wanita itu dengan mata yang masih melihat lurus pada Jiyong dan Tiffani yang kini sedang berjalan menuju kantor.

Dara Pov

Aku tidak tahu ada apa dengan diriku hari ini sampai aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Aku tidak bisa fokus untuk mengerjakan apa yang seharusnya telah aku selesaikan saat ini bahkan yang sejak tadi aku lakukan hanyalah melihat layar komputer tanpa melakukan apapun padahal seharusnya aku sudah melakukan analisis pada proyek baru yang akan perusahaan kami lakukan tapi tidak ada satupun yang bisa aku pikirkan saat ini. Otakku sedang buntu karena kejadian sialan pagi tadi ditambah perutku yang sejak tadi berbunyi karena aku sama sekali belum memakan apapun sejak bangun tidur.

Aku sengaja tidak sarapan di rumah karena aku yang sangat naive ini sangat yakin bahwa si brengsek Jiyong akan kembali membuatkan sandwich dan memberikannya kepadaku tapi aku memang terlalu naive sehingga membiarkan perutku kelaparan karena menunggunya, sedangkan si brengsek itu sepertinya sudah sarapan dengan si j*lang sialan yang sudah menghancurkan hubunganku dengan kekasihku dulu dan sekarang wanita sialan itu sedang berencana untuk merebut Jiyong dariku. Aku tau wanita itu memang sudah mengincar Jiyong sejak lama.

Aku kesal kepada wanita sialan itu karena selalu saja mendekati Jiyong, aku kesal kepada diriku sendiri karena telah membuat Jiyong marah sehingga wanita itu bisa mengambil kesempatan untuk mendekati Jiyong, dan aku juga marah kepada Jiyong karena dia telah memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk mendekatinya atau bahkan dia memang sengaja membiarkan wanita itu mendekatinya untuk membuatku kesal setengah mati. Sialan Jiyong karena membuatku frustasi seperti ini.

Aku mematikan kembali layar komputer lalu berdiri dari tempatku duduk, mustahil aku melanjutkan pekerjaanku dengan keadaanku yang seperti ini jadi aku memilih untuk pergi keluar dari ruanganku karena melihat pekerjaanku yang masih menumpuk malah membuat rasa frustasiku semakin membesar. Aku akan pergi ke pantry untuk membuat kopi. Ya kopi pasti bisa membuat moodku lebih baik.

Aku sedikit terkesiap ketika aku memasuki pantry karena ternyata ada si brengsek Jiyong yang kini sedang membelakangiku. Dari gerakan tangannya aku tahu bahwa saat ini dia sedang mengaduk kopi. Jika kami sedang dalam keadaan normal aku yakin pasti aku akan langsung mengambil gelas Jiyong dan langsung meminum kopi itu tanpa seizinnya.

Aku juga yakin jika saja aku tidak melihatnya dengan perempuan sundal itu aku pasti sudah menyapanya dan meminta maaf kepadanya. Tapi karena aku sedang marah jadi aku akan mengurungkan niatku untuk meminta maaf kepadanya, lagipula Jiyong sepertinya sudah tidak peduli kepadaku.

Aku akan melangkahkan kakiku untuk mengambil gelas bersih saat tiba-tiba aku mendengar seseorang mencolek bahuku lalu menyapaku.

“Kenapa kau hanya berdiri saja?” Aku melihat Jiyong sedikit melirik kearahku ketika dia mendengar suara Bom namun tidak lama kemudian dia kembali membelakangi kami. “Kenapa wajahmu terlihat kusam pagi-pagi seperti ini? Kau juga sedang terlihat kesal.” Ujar Bom sambil menatapku dengan mata yang dipicingkan.

“Aku hanya lelah.” Ujarku sambil mengangkat bahu. Bom hanya menganggukan kepalanya kemudian dia mengalihkan pandangannya ketika sadar bahwa Jiyong juga ada di ruangan ini.

“Hai Jiyong, kau juga sedang membuat kopi?” Bom melepaskan tangannya dariku lalu berjalan pelan kearah Jiyong yang kini sudah berbalik untuk menghadap Bom.

“Seperti yang kau lihat.” Jiyong tersenyum sambil mengangkat gelasnya.

“Wah kebetulan sekali kau di sini.” Ujar Bom dengan suara sedikit berseri. “Bisakah kau membuatkan aku kopi? Dara selalu bilang bahwa kopi buatanmu sangat enak. Iya, kan Dara?”

“Aku tidak ingat pernah mengatakan hal itu.” Kataku acuh sambil berjalan melewati mereka berdua kemudian mengambil gelas dari lemari kecil di pantry.

“Kau memang pelupa. Jelas kau pernah mengatakan hal itu. Kalau bukan darimu mana mungkin aku tahu bahwa kopi buatan Jiyong itu enak. Dia hanya membuatkannya untukmu.” Aku mendengar lagi suara Bom namun aku tidak menanggapinya.

Noona aku tidak pernah bermaksud membuatkan kopi untuknya tapi dia selalu merebut kopiku bahkan sebelum aku meminumnya.” Ujar Jiyong yang membuatku sedikit kesal. Jadi dia tidak suka aku merebut kopinya? Arasseo, aku tidak akan melakukannya lagi kalau begitu. Aku juga bisa membuat kopi enak dengan tanganku sendiri.

“Jiyong-ah buatkan aku kopi kalau begitu. Please!” Aku memutar bola mataku ketika mendengar Bom berbicara dengan nada yang dibuat so imut kepada Jiyong.

Aigoo noona tidak perlu bertingkah imut seperti itu. Ini buatmu.” Ujar Jiyong ketika aku sedang menyobek kopi instan lalu memasukannya ke dalam gelasku.

Selama beberapa saat aku mendengarkan mereka berdua asik mengobrol. Aku sedikit kesal karena mereka tidak melibatkan aku dalam percakapan mereka, dan entah mengapa ada rasa sakit yang sedikit menusuk hatiku karena melihat sikap acuh Jiyong kepadaku, dia sama sekali tidak menyapaku. Apa aku benar-benar telah membuatnya sangat kecewa sehingga dia bisa bersikap seperti ini? atau apa dia bersikap seperti ini karena kini dia sudah tidak peduli lagi kepadaku?

“Aww!” Aku langsung menjerit ketika merasakan air panas mengenai tangan kananku. Aku terlalu sibuk dengan pemikiranku sehingga aku lupa bahwa aku sedang menuangkan air panas pada gelasku.

“Ada apa Dara?” Aku melihat Bom langsung menghampiriku dengan sedikit panik. “Ya Tuhan, kenapa tanganmu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak sengaja menumpahkan air panas pada tanganku.” Ujarku sambil memegang tanganku yang kini terasa panas dan perih dengan tangan satunya lagi.

“Apa yang terjadi?” Kini aku mendengar suara Jiyong. Dia menghampiriku lalu langsung memegang tanganku untuk melihat apa yang terjadi. Aku hanya diam sambil menatap Jiyong yang kini sedang memeriksa tanganku dengan serius. “Kenapa kau ceroboh sekali sampai membuat tanganmu sendiri terluka.” Ujar Jiyong dengan nada tegas. “Berhentilah memikirkan hal-hal tidak penting ketika kau sedang melakukan sesuatu.” Ujarnya lagi. Aku hanya mengerucutkan bibirku karena mendengar Jiyong mengomel, dia sekarang terdengar seperti seorang ayah yang sedang memarahi putrinya yang nakal. “Ini harus segera diobati!” Suara Jiyong mengembalikan aku dari lamunan.

“Aku tidak apa-apa.” Ujarku pelan sambil menarik tanganku dari pegangan Jiyong. “Aku akan membasuhnya dengan air dingin.”

“Yah apa kau gila? Membasuhnya dengan air dingin hanya akan membuat jaringan kulitmu terluka!” Aku langsung terkesiap karena Jiyong sedikit berteriak kepadaku.

“Yah kenapa kau berteriak kepadaku?” Kataku yang tidak terima dengan nada tingginya itu. “Memangnya kau sendiri tahu bagaimana cara menyembuhkan luka ini, huh?” Tanyaku lagi sambil menaikan daguku kepadanya.

“Yah kenapa kalian malah bertengkar?” Aku dan Jiyong secara bersamaan langsung mengalihkan tatapan kami kepada Bom. “Jiyong benar Dara, tanganmu harus segera diobati sebelum terjadi infeksi.” Ujar Bom kini sambil menatapku.

Arasseo.” Kataku akhirnya sambil mengangguk pelan kepada Bom. Aku akan berbalik untuk meninggalkan pantry ketika tiba-tiba aku merasakan tanganku ditahan oleh seseorang. Aku langsung mengalihkan tatapanku pada pemilik tangan itu.

“Kemarilah! Aku akan mengobatinya.” Ujar Jiyong pelan. Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung menuntunku pelan. Jiyong menarik kursi lalu mendudukan aku di kursi itu sebelum dia berbalik lagi dan berjalan untuk membuka salah satu lemari kecil. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu.

Setelah beberapa saat Jiyong lalu duduk di sampingku. Aku melihatnya menaruh sekaleng madu di meja. Tanpa berbicara apapun Jiyong langsung menarik tanganku lalu menuangkan sesendok madu itu pada tanganku yang terluka.

Aku hanya diam sambil terus melihatnya yang kini sedang mengoleskan madu itu dengan tangannya. Aku bahkan tidak merasakan rasa perih yang tadi aku rasakan karena aku terlalu terhanyut menatap pada Jiyong. Tanpa sadar aku menyimpulkan senyumanku karena aku merasa Jiyong masih peduli kepadaku. Ketika sedang menatapnya tiba-tiba saja perutku berbunyi.

“Bunyi apa itu tadi?” Aku mendengar suara Bom yang dari tadi berdiri di sampingku. Aku tanpa sadar memegang perutku dengan tanganku yang bebas. “Perutmu berbunyi?” Kini Bom bertanya ketika melihat aku memegang perutku. Aku mengangguk sambil mengerucutkan bibir.

“Aku sangat lapar saat ini. Kau punya makanan?” Aku kembali mengerucutkan bibirku karena kini aku kembali mengingat bahwa aku kelaparan karena menunggu Jiyong dan kini aku kembali mengingat dia yang datang dengan Tiffani. Aku kembali kesal ketika mengingatnya.

“Ya Tuhan Dara apa sekarang kau sudah jatuh miskin hingga tidak sanggup membeli sarapan? Atau nenekmu kini sudah tidak ingin memberimu makan lagi?” Ujar Bom sarkas sambil berdecak.

“Aku bukannya tidak sanggup membeli sarapan sendiri.” Ujarku. “Tapi aku menunggu seseorang untuk sarapan bersama tapi orang itu sepertinya sudah sarapan dengan wanita lain dan membuatku kelaparan seperti ini.” Ujarku sambil sedikit melirik Jiyong. Aku harap dia tahu bahwa orang yang aku maksud adalah dia.

Ommo kau dicampakan?” Ujar Bom kini sambil menutup mulutnya dengan satu tangan. “Oleh siapa? Soohyuk doktermu itu?”

Aku akan menjawab bukan saat tiba-tiba aku merasakan Jiyong menghempaskan tanganku yang tadi sedang dia pegang membuat tanganku yang perih kembali merasakan sakit.

“Aw..” Aku mengaduh sambil mengusap tanganku yang kini kembali berdenyut. “Apa yang kau lakukan??” Sungutku pada Jiyong.

“Ah mian aku tidak sengaja.” Aku tahu dari nada suaranya bahwa dia memang sengaja melakukan hal itu.

“Kau sengaja mengobatiku untuk membuat tanganku lebih sakit huh” Sungutku lagi yang kini kembali merasa kesal kepada Jiyong.

“Yah kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kau seharusnya berterimakasih karena aku telah mau mengobati lukamu.”

“Aku tidak akan berterimakasih karena aku tidak pernah menyuruhmu untuk melakukannya lagipula kau sepertinya tidak tulus mengobatiku makanya kau menghempaskan tanganku dengan kasar setelah kau selesai. Tanganku kini lebih sakit bukannya lebih baik.”

“Yah apa masalahmu? Kenapa kau marah-marah kepadaku?”

“Aku yang seharusnya bertanya. Ada apa denganmu?”

“Kenapa kalian malah bertengkar?” Tanya Bom yang membuat aku dan Jiyong menatapnya secara bersamaan.

“Aku tidak ingin bertengkar tapi wanita pemarah ini terus marah-marah kepadaku tanpa alasan yang jelas.”

“Yah kau bilang apa? Aku pemarah?” Sungutku lagi pada Jiyong namun dia tidak mendengarkanku dan malah menarik kursi lalu berdiri dan pergi dari ruangan itu. Aku berdesis kesal ketika dia telah keluar dari pantry.

“Ada apa denganmu huh?” Aku langsung melirik Bom ketika kembali mendengar suaranya.

“Memangnya aku melakukan apa? dia sendiri yang salah jadi salahkan saja dia bukan aku!”

“Bukankah seharusnya kau meminta maaf kepada Jiyong?”

“Kenapa aku harus meminta maaf ketika dia saja tidak peduli kepadaku?”

“Aku mengatakan hal ini karena aku sahabatmu dan sepertinya kau tidak sadar bahwa kau telah melukai Jiyong begitu dalam. Dara berhentilah melakukan hal-hal yang hanya akan kau sesali di masa depan.” Ujar Bom lagi dan itu berhasil membuatku terdiam. Aku kira dia sedang membicarakan pertengkaranku dengan Jiyong barusan tapi sepertinya aku salah. Bom sedang membicarakan kejadian hari itu. Dia tahu aku telah melukai Jiyong hari itu.

Jiyong Pov

Aku terus merutuki diriku sendiri di dalam hati sambil terus berjalan keluar dari gedung kantorku. Aku sedang menuju restoran siap saji yang terdekat di daerah ini. Aku berniat untuk membeli sandwich untuk Dara karena dia bilang dia sedang kelaparan karena belum sarapan.

Aku sedang kesal dan marah kepada Dara tapi aku tidak bisa tinggal diam jika dia melewatkan sarapan seperti ini. Jika saja aku sedang tidak marah aku pasti akan membuatkannya sandwich buatanku sendiri dan memakannya bersama di parkiran seperti yang selalu kami lakukan sebelumnya.

Aku dan Dara memang sudah berhenti bertemu. Aku tidak pernah lagi membuatkannya sandwich seperti biasa, aku tidak pernah lagi datang ke ruangannya untuk mengajaknya makan siang bersama. Setelah kerja aku selalu langsung pulang, tidak lagi datang ke ruangannya untuk mengajaknya pulang dan mengajaknya makan malam sebelum kami pulang ke tempat kami masing-masing.

Sejak hari itu kami tidak pernah lagi berbicara. Dara sempat beberapa kali menghubungiku namun aku tidak pernah meresponnya. Aku masih belum siap untuk bertemu dengannya, aku masih belum siap mendengar kata penolakannya kepadaku, aku masih belum siap mendengar dia mengatakan kata-kata yang tidak ingin aku dengar.

Jadi selama hampir dua minggu ini aku selalu berusaha untuk menghindarinya. Aku berharap cara ini bisa membantuku untuk menghempaskan perasaanku kepadanya namun sepertinya rencana ini akan sangat sulit untukku karena kenyataannya kami berada dalam satu lingkungan, aku juga tidak bisa selamanya menghindar darinya.

Dan kenyataan bahwa perasaanku kepada Dara sudah sangat dalam malah membuat melupakannya jauh dari kata mustahil. Aku tidak akan bisa melupakannya semudah itu, aku tidak akan bisa mengalihkan hatiku pada hati yang lain. Aku sadar dengan hal itu karena aku sudah berulang kali mencoba menghempaskan perasaanku kepadanya bahkan dari sejak pertama kali aku menyadari bahwa aku mencintainya tapi semakin aku berusaha melupakannya maka semakin dalam perasaanku untuknya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku, aku masih bingung antara menyerah atau berjuang untuk tetap bersamanya apapun yang terjadi tidak peduli bahwa dia balas mencintaiku atau tidak, tapi jika itu yang aku pilih maka aku harus siap untuk kembali terluka. Dan aku ragu apakah aku masih sanggup untuk terus menahan luka karena mencintainya seperti yang selalu aku lakukan selama ini?

“Jiyong!” Aku kembali dari lamunanku ketika aku mendengar suara Bom Noona menyapaku. Aku kini sedang mengantri untuk memesan makanan di restoran cepat saji.

Noona apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku ketika aku melihatnya.

“Aku akan membeli makanan untuk Dara.” Jawabnya. “Kau sendiri?” Aku diam karena jawabanku sama dengannya. “Kau akan membeli makanan untuk Dara juga?” Tanyanya lagi ketika dia mempelajari ekspresi wajahku. Aku mengangguk lalu tersenyum.

“Tapi sepertinya aku mengurungkan niatku karena Noona akan membelikannya makanan.” Aku melihat Bom noona menggelengkan kepalanya.

“Kau duluan sampai di sini jadi kau saja yang membelinya. Aku yakin kau sangat khawatir kepada Dara bukan?” Tanyanya lagi sambil tersenyum simpul. Aku hanya diam. Aku tahu Bom noona sudah tahu bahwa aku mencintai Dara, dia juga sepertinya tahu bahwa Dara sudah menolakku malam itu. “Jiyong ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Ujarnya setelah beberapa lama aku tidak menjawab. “Apa kau ada waktu?”

“Aku sedang tidak ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan jadi sekarang aku punya waktu.”

“Baguslah kalau begitu.”

Setelah memutuskan untuk berbicara sebelum kami kembali ke kantor akhirnya aku dan Bom noona memesan minuman di restoran ini dan kini kamu duduk di salah satu meja yang berada di dekat pintu.

“Jadi ada apa dengan kalian?” Tanya Bom noona tanpa basa basi.

“Maksud noona apa? siapa yang noona maksud?” Aku tahu bahwa yang Bom noona maksud adalah Dara dan aku juga tahu maksud dari pertanyaan ini tapi aku pura-pura bodoh karena aku tidak ingin membahas hal ini dengan siapapun.

“Yah apa kau sedang membodohiku huh? Aku tahu kau tahu apa yang aku maksud. Berhentilah berpura-pura bodoh dan jawab pertanyaanku!” Ujar Bom noona lagi. “Kenapa kalian terlihat berbeda sekarang huh?”

“Kami hanya bukan orang yang sama lagi.” kataku sambil mengedikkan bahu.

“Dara menolakmu?” Tanyanya lagi setelah beberapa saat. Aku menggelengkan kepala.

We’re not exactly on speaking terms right now.”

“Lalu kenapa hubungan kalian seperti ini sekarang?Aku tidak pernah lagi melihat kalian berdua, dan tadi kenapa kalian malah bertengkar tadi?” Tanya Bom noona dan hal kembali mengingatkanku pada kejadian di pantry tadi. Aku tidak berniat untuk bertengkar dengan Dara tapi ketika mndengar Bom noona tadi menyebut nama pria itu tiba-tiba membuatku kesal dan tanpa sadar menghempaskan tangan Dara yang terluka dan hal itu membuat Dara marah.

“Hubunganku dan Dara kini sudah berbeda noona.” Ujarku akhirnya. “Apa yang kami harapkan dari hubungan ini juga berbeda. Aku berharap yang lain bahkan ketika aku tahu Dara tidak bisa memberikan hal itu. And it’s hard to stay friends that way.” Ujarku sebelum akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi pada hari itu.

“Dara mungkin melakukan itu karena tidak ingin merusak hubungan kalian. Dia berpura-pura tidak tahu karena tidak ingin membuat kalian berada dalam kondisi canggung.” Ujar Bom Noona setelah aku memberitahunya bahwa Dara berpura-pura tidak tahu dengan perasaanku kepadanya. “Dara hanya tidak ingin kehilanganmu sebagai sahabatnya. Aku tahu kau penting bagi Dara.” Ujarnya lagi. “Apa kau tidak melihat beberapa hari ini dia selalu mencarimu? Dia terlihat menyesal karena telah melukaimu dan aku yakin Dara ingin memperbaiki hubungan kalian.”

“Itu bukan pointnya. Aku marah karena aku merasa dia telah membodohiku.” Ujarku tanpa menatap Bom noona. Aku hanya tidak ingin dia melihat luka dari mataku. “Aku hanya merasa dia mengkhianatiku dengan cara seperti itu.” Ujarku lagi kini dengan nada sedikit pelan.

“Lalu apa kau akan terus seperti ini dengan Dara?” Tanyanya, aku menundukan kepalaku. Tidak ada yang bisa aku katakan karena aku sama sekali tidak tahu sampai kapan aku akan terus menghindarinya seperti ini. “Kau mungkin berpikir bahwa menghindarinya adalah satu-satunya cara untuk melupakannya. Tapi, apakah kau rela kehilangan Dara dengan cara seperti ini? apakah kau sanggup tidak bertemu dan berbicara dengannya lagi? apakah kau ingin hal ini menjadi satu-satunya kenangan terakhir kalian?” Aku mendongkakan kepalaku ketika aku kembali mendengar suara Bom noona. Dia benar apakah aku benar-benar sanggup kehilangan Dara bahkan sebelum aku berjuang untuk mendapatkan hatinya?

“Aku takut, aku takut mendengar dia tidak ingin aku mencintainya.” Akuku pada Bom noona. “Aku belum siap mendengar Dara mengatakan hal itu.”

“Jiyong-ah bahkan kau belum bertanya kepada Dara dan kau sudah takut?” Ujar Bom noona kini sambil berdecak. “Aku tidak tahu bahwa ternyata kau sepengecut ini.”

****

Saat berjalan kembali ke kantor aku terus saja mengulang apa yang Bom katakan tadi di restoran. Aku tahu dia benar, aku belum siap kehilangan Dara. Memikirkannya saja sudah membuat hatiku terluka, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.

Aku terus berjalan sampai akhirnya aku berhasil mencapai ruangan Dara. Aku masuk ke dalam ruangannya namun dia tidak ada di sana. Secara perlahan aku berjalan sampai mencapai meja kerja Dara, aku meletakan sandwich dan obat untuk luka bakar yang aku beli di atas meja. Aku akan kembali berjalan keluar ketika aku melihat foto yang Dara simpan di susut meja kerjanya. Ini pertama kalinya aku melihat foto itu, sepertinya Dara baru meletakannya baru-baru ini.

Aku meraih foto yang merupakan kolase yang terdiri atas empat buat foto. Foto paling kanan adalah fotonya bersama neneknya, Dara sedang menyandarkan kepalanya pada bahu neneknya itu dengan tangan yang dia lingkarkan pada tubuh neneknya dan dia juga sedang tersenyum cantik. Tidak bisa aku pungkiri bahwa aku merindukan senyuman itu.

Di foto sebelahnya aku melihat Dara bersama sepupunya Chaerin dan seorang ahjumma, mungkin itu adalah bibi Lee yang biasa Dara ceritakan kepadaku. Aku melihat foto selanjutnya kali ini aku melihatnya berpose dengan Bom dengan pose yang aneh. Mereka berdua memang duo aneh.

Di foto terakhir aku melihat ada sosokku. Aku ingat itu adalah foto yang kami ambil saat kami berdua pergi ke Disney Sea di Jepang. Kami berdua mengenakan kaos micky mouse yang saat itu aku mati-matian tidak ingin memakainya. Aku merangkul bahu Dara dan dia tersenyum bahagia di foto itu. Aku ingat hari itu Dara sedang sedih tapi di foto ini tidak terlihat kesedihannya sama sekali. Dan aku penasaran apakah dia tersenyum karena aku? Apakah dia sudah mengetahui bahwa aku mencintainya saat itu?

Aku kembali meletakan foto itu di tempatnya semula. Aku lalu berjalan keluar dari ruangannya karena takut jika Dara datang dan memergokiku yang masih peduli kepadanya. Aku memang merindukannya namun aku masih tidak siap untuk bertemu dengannya saat ini, sudah aku katakan bahwa aku masih takut mendengar penolakan dari bibirnya.

Saat akan kembali ke ruanganku tiba-tiba aku mendapatkan pesan dari atasanku yang memintaku untuk segera menemuinya di ruangan rapat yang berada di lantai atas. Aku memasukan kembali ponselku pada saku celana lalu berbalik menuju lift.

Aku menunggu selama satu menit tapi lift itu masih belum terbuka. Aku mendongkak untuk melihat lift itu ada di lantai berapa dan ternyata lift itu kini berada di lantai paling atas. Aku mendesah dan memilih untuk menggunakan tangga.

Ketika aku akan membuka pintu tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita yang sedang marah. Sepertinya ada yang sedang bertengkar di tangga bawah. Aku tidak berniat menguping tapi suara wanita itu memang sangat tinggi sehingga aku mampu mendengarnya. Aku tidak ingin mengganggu dan ikut campur jadi aku memutuskan untuk tetap melangkah ke lantai atas dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan bunyi.

Kenapa kau tega melakukan hal ini kepadaku?” Aku kembali mendengar suara perempuan yang marah itu. Aku akan kembali menaiki tangga ketika aku mendengar suara seseorang yang sudah begitu aku kenal.

Dengarkan aku dulu!” Aku tidak salah. Itu suara Dara. Suaranya pelan dan bergetar tapi aku yakin itu suara Dara. “Aku tidak bermaksud untuk melukaimu.” Aku mendengarnya lagi kali ini dengan suara yang penuh dengan penyesalan. Dari suaranya aku tahu bahwa Dara kini sedang tertekan.

Jangan katakan apapun lagi karena apa yang akan kau katakan tidak akan merubah kenyataan bahwa kau berusaha untuk menggoda Soohyuk, tunanganku sendiri. Aku kecewa kepadamu unnie, aku sangat kecewa.” Aku melebarkan mataku ketika aku mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang yang marah kepada Dara itu. “Kau tahu unnie kita ini sepupu jadi aku tidak bisa memutuskan hubunganku denganmu begitu saja tapi aku tekankan sekarang supaya kau tidak usah lagi datang ke kehidupanku dan tunanganku.” Kata wanita itu lagi sebelum aku mendengar suara langkah kakinya yang mulai berjalan meninggalkan Dara.

Aku masih membeku pada posisiku. Apa yang aku dengar benar-benar tidak bisa aku percaya. Tidak mungkin Dara berani melakukan hal seperti itu. aku mengenalnya dan aku tahu Dara tidak akan sanggup menggoda tunangan orang lain. Tapi aku juga tidak mungkin salah dengar, dan aku juga tahu tunangan wanita itu yang ternyata Soohyuk, lelaki yang Dara sukai. Tapi apakah Dara benar-benar menggoda pria itu?

Ketika masih terlarut dalam pikiranku tiba-tiba aku mendengar Dara menjatuhkan tubuhnya ke lantai sebelum aku mendengar suara isakan Dara. Aku menutup mataku karena ini sangat menyakitkan ketika aku harus kembali mendengarnya menangis.

Tanpa sadar aku membalikan tubuhku, tidak lagi peduli dengan perintah atasanku aku terus menuruni tangga sampai akhirnya berhasil mencapai tempat Dara menangis. Dia duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya, dia kini membenamkan wajahnya pada kedua lututnya, menutupi wajahnya yang kini sedang menangis. Tubuhnya bergetar karena isakan yang terus dia keluarkan.

Aku merendahkan tubuhku lalu tanpa membuang waktu aku langsung meraih tubuhnya lalu membawanya pada pelukanku. Damn! Aku berniat melupakannya tapi lagi-lagi aku tidak bisa tinggal diam ketika melihat dia rapuh seperti ini. Dara tolong beritahu, apa yang harus aku lakukan saat ini!

****

Dara terkesiap ketika tiba-tiba dia merasakan ada yang memegang kepalanya lalu dengan perlahan membawa tubuhnya pada sebuah pelukan. Awalnya dia panik namun setelah beberapa saat dia mulai kembali tenang karena mengenali siapa yang memeluknya ini. Orang yang sama yang selalu ada di saat dia sedang rapuh seperti ini. Selama beberapa saat dia terus menangis dalam pelukan itu, mengeluarkan semua rasa sakit yang terus menggerogoti dirinya, rasa bersalah karena kesalahannya yang telah mencintai seseorang yang seharusnya tidak dia cintai.

Tanpa berkata apapun Jiyong terus mengusap lembut kepalanya, membuatnya merasa lebih baik, memberitahunya bahwa Jiyong ada untuk mendengar tangisnya, memberitahunya bahwa Jiyong tidak akan meninggalkannya. Jiyong tidak berusaha menenangkan Dara dengan kata-katanya, dia tahu kehadirannya saat ini sudah cukup membuktikan bahwa dia akan selalu ada untuk Dara dalam apapun kondisi Dara, tidak peduli bahkan jika wanita itu berulang kali menorehkan luka di hatinya.

“Pada akhirnya semua orang meninggalkanku.” Ujar Dara pelan ketika dia mendongkakan wajahnya lalu menatap Jiyong yang juga sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. “Semuanya meninggalkanku karena mereka tidak tahan denganku. Aku menyedihkan sehingga semua orang memilih untuk meninggalkanku.” Katanya lagi dengan suara lirih.

Ada luka yang terpancar dari mata Dara. Beban luka yang selama ini Dara pendam sendiri kini akhirnya dia tunjukan pada Jiyong. “Inilah aku Jiyong, orang yang sangat egois sehingga melukai hati seseorang yang begitu peduli kepadaku. Aku membalas kebaikan mereka dengan pengkhianatan. Sama yang seperti aku lakukan kepadamu.”

Jiyong tidak mengatakan apapun, ia takut mengatakan sesuatu yang salah dan keliru yang bisa membuat Dara semakin terpuruk. Jiyong mengangkat tangannya lalu menangkub wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Dia menggerakan jempol tangannya, berusaha menghapus air mata Dara yang semakin deras keluar. Jika bisa dia ingin mengenyahkan semua luka yang Dara rasakan saat ini karena itu sangat sakit melihat mata indah itu kini berubah merah karena air mata dan luka yang dia pancarkan.

“Jiyong-ah please don’t leave me!” Ujar Dara pelan dengan suara memohon. Jiyong menutup matanya karena kembali merasakan rasa sakit ketika mendengar suara Dara yang begitu lemah dan rapuh. Dara begitu putus asa karena berpikir semua orang meninggalkannya karena muak dengannya dan hal itu benar-benar membuat hatinya terasa diremas dengan begitu keras.

You know… I’ll never leave you.” Jawab Jiyong pelan dengan mata yang tidak pernah lepas dari mata indah Dara, membiarkan wanita itu tahu bahwa Jiyong serius dengan apa yang dia katakan.

Untuk pertama kalinya hati Dara bergetar ketika menatap kedua manik mata coklat Jiyong, terpancar kesungguhan dan ketulusan dari kedua mata itu. Apa Jiyong memang selalu menatapnya seperti itu? Apa Dara tidak pernah menyadarinya selama ini karena terlalu sibuk dengan perasaannya untuk Soohyuk?

Jiyong kembali menarik tubuhnya dengan lembut lalu kembali mendekapnya dengan erat. Dara menutup matanya ketika merasakan rasa nyaman pelukan ini, dia merasa aman berada dalam pelukan Jiyong. Hati Dara kembali bergetar ketika dia merasakan Jiyong mengecup puncak kepalanya. Berada dalam dekapan Jiyong seperti ini membuatnya merasa seperti berada di tempat yang tepat.

TBC

Annyeong readers-nim!!!

maafkan aku karena lama membuat kalian menunggu, *emang ada yang nunggu?* wkwkwk

Aku ngantuk nih jadi gak akan panjang panjang A/N nya. pokoknya makasih buat komentar kalian di chapter sebelumnya dan semoga tidak bosen untuk komentar lagi di chapter in…

Maafin kalau ceritanya gaje atau gak seru. dan maafkan kalau banyak typo bertebaran. Hengshoo! Love You ALL !!

Advertisements

21 thoughts on “Gonna Get Better [Chap.9]

  1. omonaaaaaaaaaaaaaa,, aku baper pas ji cium kepala dara.omooooo,, ayolaaahhh dara buka hatimu, kau sbnarnya cinta sama ji tpi gak sadar dan malah egois bilang kalo cinta sma soohyuk. duhhh makin baper hihihi

  2. Aaaaahhhhhh, moment mereka kayak gitu bikin baperr parraahh
    Gak tega bgt ngliat dara kyak gitu. Si jiyong juga kasian bgt.
    Pliiss dara balws cintanya jiyong. Kurang apa cobak dia,hm.
    Nxt chp ditunggu^^

  3. Bingung .. kalo jiyong kek gitu kasian ke daranya . Tapi kalo jiyong ga ambil sikap dara pasti ga peka peka ..
    Loser banget dirimu Kwon . Cepet nyatain cintanya 😄😄😄

  4. Huwwaaa gini dong mereka harus baikan jangan marahan terus kan jadi sedih saya liat.y,, jiyong mah apa atuh baper liat.y ,,, next chap thor DaraGon baikan pleasee ,,, semangat terus 🙂

  5. Waahh gak sabar nunggu chap berikutnyaaa authorniim ><
    Endingnyaa sweeet maksimaaall. Mbak dara sepertinya mulai sadar perasaannyaa :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s