Seoul Lovers #2

SL copy

Author : Rachi

Yeay, akhirnya sya memutuskan utk melanjutkan ff ini, hehehe, i hope you like it ^_~

***

“Maaf pak, apa ini kantor kepolisian distrik Seoul?”

“Iya benar. Ada yang bisa kubantu?”

“Hmm, hari ini aku dipindahtugaskan kesini.”

“Oh, kau polisi dari Incheon itu ya, yang bernama Kwon Jiyong kan?”

“Ya.”

“Kalau begitu masuk saja, partnermu sudah menunggu di ruangan.”

Jiyong melangkahkan kakinya malas-malasan mengikuti polisi paruh baya itu. Sebenarnya ia enggan pindah ke Seoul. Ia sudah berangan-angan meniti karier polisinya di Incheon, tapi semua itu lenyap dalam sekejap gara-gara perbuatan inspektur Kwon Jaehyun, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Ugghh! Ia benar-benar keki pada pria tua itu yang semena-mena menyuruhnya pindah.

“Jiyong-sshi, ruanganmu ada di ujung koridor sana.”

“Ne.”

“Selamat datang di Seoul.”

“Kamsahamnida.”

Jiyong berjalan mendekati ruangan di ujung koridor sesuai instruksi polisi tadi, sesekali melirik ke arah sekumpulan para polisi yang tengah bergurau sambil merokok padahal jelas-jelas di sudut ruangan terpampang tanda larangan no smooking. Salah satu dari sekian banyak alasan kenapa dirinya tak mau bergabung dengan kepolisian Seoul. Ia menghela napas berat, ini akan menjadi hari yang panjang baginya.

Pria itu menghentikan langkahnya dengan mendadak ketika mendengar namanya disebut dari dalam ruangan yang akan ia tuju.

“Jiyong. Namanya Kwon Jiyong noona, jika kau ingin tahu.”

Jiyong melongok dari balik pintu seperti orang yang sedang mengintip dan melihat seorang pria duduk bersama seorang gadis di sebuah sofa. Sepertinya si pria adalah partnernya, dilihat dari seragam yang dikenakannya. Namun ia tidak bisa melihat wajah si gadis yang duduk disebelah pria itu karena posisi duduknya yang membelakanginya.

“Ya, dan menurut desas desus kabar, orang itu sangat pendiam, bicara kalau ada perlunya, dan wajahnya. Nyaris. Tanpa. Ekspresi.”

 

Alis pria itu berkerut sebelah. Hah? Dirinya pendiam dan nyaris tanpa ekspresi? Jiyong ingin tertawa mendengarnya. Darimana pria itu mendapat kabar tidak jelas tentang dirinya?

Baru saja ia akan mengklarifikasi rumor tersebut, dirinya malah terkejut dengan ucapan gadis itu setelahnya.

“Tapi kurasa dia cukup tampan Sanghyun-ah. Aku suka.”

Well, gadis yang membicarakan dirinya adalah gadis yang kesekian kali memuji wajah tampannya. Jiyong akui dirinya memang tidak terlalu tampan seperti aktor Lee Minho atau Won Bin, tapi tetap saja ia merasa sedikit tersanjung dengan perkataan gadis itu. Mau tak mau ia menyunggingkan sedikit senyumnya.

“Kalau dia jadi kekasihku, bagaimana?”

 

Dan Jiyong mer- Apa?! Telinganya tak salah dengar kan? Gadis itu, mau jadi kekasihnya, padahal gadis itu belum kenal dengannya? Sepertinya kepala gadis itu terantuk sesuatu.

“Yah! Sandara Park!”

Jadi nama gadis itu Sandara Park. Nama yang unik, gumam Jiyong. Ia buru-buru membetulkan posisi berdirinya ketika melihat gadis itu berjalan ke arah pintu. Ia tak mau dianggap menguping pembicaraan orang lain. Ketika ia berbalik dan akan pura-pura masuk ke ruangan, tanpa sengaja gadis itu menubruknya.

“Noona, awas!”

BRUGGG

Refleks, Jiyong memegangi kedua siku tangan gadis itu agar ia tidak terjatuh ke belakang. Ia juga ikut membantu gadis itu hingga berdiri tegak.

“Ah, kamsahamnida.” ujar gadis itu.

Jiyong memandang gadis itu dari balik kacamatanya. Dan harus ia akui, gadis itu terlihat menawan dengan pakaiannya yang cukup simpel. Terlepas dari kata cantik, ia berperawakan mungil, bermata besar dan berwajah sedikit runcing di bagian dagunya –kriteria gadis idaman Jiyong selama ini. Ia membuka kacamata hitamnya agar bisa melihat gadis itu lebih detail.

“Kau, mau aku jadi kekasihmu?”

 Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jiyong seolah-olah tak ada kata-kata lain, selain hallo, perhatikan jalanmu atau kau tidak apa-apa.

 

Dan hasilnya, gadis itu menatapnya dengan sangat syok dan hampir tak berkedip. Wajahnya sedikit memerah tanda ia sangat malu. Mulutnya ternganga dengan sendirinya. Jiyong menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi gadis itu. Bibirnya nyaris membentuk sebuah sunggingan kecil dan nyatanya ia terlihat sangat menikmati mimik wajah gadis itu. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik lamanya, hingga gadis itu  tersadar dengan sendirinya dan langsung kabur begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.

Sepertinya ia harus berterimakasih pada gadis yang bernama Sandara itu, karena pagi ini ia baru saja mendapatkan kesenangan baru dan membuat Seoul tidak terlalu buruk dimatanya.

***

“Eottoke, eottoke!”

Sesampainya dirumah, Dara langsung menutup pintu rumahnya dengan keras. Jantungnya berdegup sangat kencang dan keningnya banyak mengeluarkan keringat karena saking cepatnya ia berlari dari jalan raya ke rumahnya. Ia memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan. Ia bahkan hampir tidak bisa menahan diri untuk menjedotkan kepalanya ke dinding rumahnya. Belum pernah ia merasa semalu ini.

“Kyaaahhhh!” pekiknya sangat kencang.

Tuan Park yang sedang berada di lantai dua langsung turun dengan berlarian mencari sumber suara. “Wae, wae, wae?” tanyanya panik.

“Apa, apa terjadi sesuatu?” Nyonya Park ikutan panik. Ia yang baru keluar kamar mandi langsung memegangi bahu putrinya dengan panik begitu tahu Dara yang berteriak.

“Aniyo aniyo.” Dara menggeleng cepat. “Oh tuhan, aku malu sekali. Ini bencana.” ucapnya sambil menutupi seluruh wajah dengan kedua tangannya.

 Ia sudah mempermalukan dirinya sendiri di depan teman adiknya dan parahnya pria itu tak dikenalnya! Dan saat ini ia putus asa!

“Apa yang bencana? Ada gempa?” tanya tuan Park lagi, mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah dan mendapati rumahnya baik-baik saja.

“Arrghh, aku bisa gila kalau sampai bertemu dengannya lagi.”

Tanpa mempedulikan eomma dan appa-nya yang sejak tadi mengamatinya, Dara segera berlari menuju kamarnya yang ada di lantai atas dan dengan gerakan cepat langsung membanting pintu kamarnya. Sedetik kemudian, teriakan suara cemprengnya menggelegar hingga penjuru rumah. Appa dan eomma-nya hanya bertatapan dengan bingung dengan kelakuan putrinya.

“Yeobo, ada apa dengannya?”

“Aku juga tidak tahu.”

Appa memandang wajah istrinya sambil menyipit hingga membuat eomma merasa risih dan akhirnya bertanya, “Wae?”

“Waktu kau hamil Dara, kau ngidam apa sampai anak kita jadi seperti itu?” tanya appa dengan tampang sok polos, yang berlanjut dengan diterimanya pukulan keras ke perut pria paruh baya itu. “Yeobo, appo!”

***

“Eomma, appa, noona, kalian dimana? Aku sudah pulang.”

Sanghyun segera merebahkan tubuhnya ke sofa setelah menaruh sepatunya di rak sepatu. Ia mengendus aroma masakan dari arah dapur –ia tepat pulang saat waktu makan malam tiba- dan melihat eomma-nya tergesa-gesa ke ruang tamu sambil membawa-bawa centong sayur di tangannya.

“Sanghyun-ah, kau sudah pulang? Oh siapa ini?” tanya nyonya Park pada Sanghyun setelah melihat ada seorang pria asing sedang berdiri di rumahnya.

“Selamat malam nyonya Park, tuan Park, Kwon Jiyong imnida.” sapa Jiyong ramah sambil membungkukkan badannya.

“Dia partner kerjaku yang baru appa. Aku mengajaknya menginap disini, boleh kan?”

Sanghyun mengajak Jiyong kerumah karena pria itu belum menemukan tempat tinggal yang cocok untuk ditempati. Rencananya besok pagi ia akan menemani Jiyong mencari apartemen kosong untuknya. Rumor tentang pria itu yang katanya pendiam, dingin dan tanpa ekspresi ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Nyatanya perilaku Jiyong sangat menyenangkan, tidak kaku dan punya selera humor bagus. Reaksinya yang diam dan nyaris tak berekspresi hanya berlaku jika ia sedang membaca buku. Ia akan menjadi Kwon Jiyong si manusia batu jika sudah berhadapan dengan buku. Walau terkadang sesekali ucapan pria itu bisa membuat lawan bicaranya terhenyak ketika Jiyong menampakkan ketertarikannya pada sesuatu.

“Oh tentu saja boleh.” seru nyonya Park dengan senang.

“Dongsaenggg, kau sudah pula- kyaaaahh!” jerit Dara saat melihat pria yang tidak ingin dilihatnya saat ini tengah berdiri disebelah Sanghyun dengan senyuman yang nampak mengerikan, padahal yang Jiyong lakukan hanya tersenyum pada nyonya Park.

“Kenapa dia disini!? tanya Dara pada Sanghyun yang sedang berusaha menghindari tatapan noona-nya yang terlihat sangat menyeramkan seperti ingin menerkamnya.

Jiyong menyadari ucapan Dara mengarah pada dirinya. “Aku?” kata Jiyong menunjuk dirinya sendiri. “Sanghyun yang mengajakku, kau keberatan?” ujarnya dengan tatapan yang terlihat mengejek dan sangat menikmati raut wajah gadis itu yang terlihat malu bercampur kesal.

***

Dara menundukkan kepalanya menatap makanan yang ia santap sepanjang makan malam, tak berani menoleh ke arah Jiyong yang sejak tadi tak berhenti memperhatikan gerak geriknya. Keluarganya nampak senang-senang saja dengan kedatangan pria itu, bahkan eomma dan appa-nya sudah terlihat akrab dengannya. Sesekali Jiyong juga menceritakan keluarganya yang ada di Incheon.

Eomma menyadari Jiyong terus menerus memperhatikan putrinya. Eomma menyikut siku appa, memberi kode pada suaminya bahwa mungkin terjadi sesuatu di antara Dara dan Jiyong. Appa menanggapinya biasa saja dan menyuruh eomma untuk melanjutkan makannya kembali. Tapi eomma masih penasaran dan kini gantian ia yang memperhatikan kelakuan Jiyong. Pantas saja Dara bertingkah sangat aneh, ia yang biasanya cerewet kalau waktu makan malam tiba kini nyaris tidak bersuara, bahkan hanya suara peralatan makannya saja yang terdengar. Ternyata gara-gara pria ini, pikir eomma.

“Eomma, biar aku yang cuci piring.”

Gadis itu terkesan ingin cepat-cepat pergi dari ruang makan padahal biasanya ia selalu menjadi orang terakhir yang  membersihkan meja makan. Ia buru-buru mengambil piring miliknya dan bergegas ke tempat cuci piring, meninggalkan empat orang di meja makan yang memandangnya dengan heran, tak terkecuali Jiyong yang justru memperlihatkan senyum penuh makna.

“Tuan Park, boleh aku bertanya?” tanya Jiyong tiba-tiba, memandang tuan Park dengan ekpresi tak terbaca.

“Tentu saja.” jawab tuan Park yang baru selesai makan dan ingin mengambil air dari teko.

Jiyong menimbang-nimbang, apakah ia akan benar-benar mengeluarkan pikirannya yang sejak tadi melayang-layang di otaknya dan mengatakannya sekarang atau menunggu waktu yang tepat. Namun mengingat seberapa besarnya ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu dan untuk pertama kalinya ia terpesona pada wanita –well, bukannya ia tak menyukai wanita tapi Dara adalah gadis pertama yang membuat dirinya ingin mengejar seorang gadis mati-matian-, mau tak mau Jiyong harus mengucapkannya saat ini juga, agar gadis itu tetap berada dalam jangkauannya.

“Apa anda …?”

“Ya?”

Jiyong menopang dagu dengan sebelah tangannya. Wajahnya menyiratkan ketertarikan yang luar biasa ketika menatap punggung Dara yang sedang berjalan ke tempat cuci piring.

“Apa anda berniat mencari calon untuk putrimu? Karena sepertinya aku berminat mengisi posisi itu.”

Tuan Park yang sedang menuang air di gelasnya melotot mendengar perkataan pria itu. Saking terkejutnya ia bahkan tak menyadari bahwa air di gelasnya sudah tumpah kemana-mana. Nyonya Park yang ada di sebelahnya pun membelalakkan matanya dengan lebar. Bahkan Sanghyun yang sedang melahap makanannya langsung berhenti dan terbatuk-batuk setelah memuntahkan makanan yang sudah telanjur masuk ke dalam mulutnya.

Yang menjadi objek pembicaraan lebih parah lagi. Dara nyaris terhuyung ketika mendengar omongan pria itu yang tak masuk akal. Tubuhnya terasa diangkat ke udara dan seakan-akan kakinya sudah tidak lagi menapak di bumi. Pria itu sudah gila! Mereka baru bertemu pagi ini dan malamnya pria itu terkesan ingin melamarnya?!

Jiyong mengamati mimik wajah seluruh anggota keluarga Park sembari menyeringai. Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit, sekilas melirik Dara yang berdiri mematung di tempatnya. Ia tahu gadis itu belum melakukan apa-apa karena mendengar derasnya kucuran air yang mengalir dari kran. Sesaat kemudian, Jiyong tersenyum puas karena berhasil membuat jantung gadis itu mencelos saking syoknya.

Tbc…

<<back  next>>

Advertisements

30 thoughts on “Seoul Lovers #2

  1. To the point banget nanyanya hahahaha. Ga ke bayang ekspresinya pelindung noona yang satu ini hahaha.. Jiyong serius ga sih? Semoga serius deh

  2. hahah jiyong sepertinny dapt mangsa yg bagus,,,
    sekali melihat langsung ajah keke g di lepasin…
    bener baru ktmu lang sung to the point untuk mendapatkan dara??
    apa dara akan menerimannya??
    next^^

  3. kkkk ~ jiyong aþa maksud langsung ngelamar dara kayak gtu kkk ~
    min daebak lah !! ditunggu next partnya jgn lama-lama ya min ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s