Good to You : Chap. 12

good to you

Author : Cyscha || Tittle : Good To You || Genre : Angst || Casting : Sandara Park, Kwon Jiyong dan Kiko Mizuhara || Suport cast : YoungBae, Choi Seungyun (Top), Paek Bom dan Lee Chaerin

^Happy Reading^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sandara menggunakan kereta keberangkatan tercepat. Setelah pamit dengan neneknya gadis itu segera masuk kedalam gerbong kereta kelas VIP. Ia sengaja kali ini pergi tidak menggunakan mobilnya. Gadis dengan rambut cokelat ikal itu memilih menggunakan transportasi umum dengan alasan agar ia lebih mandiri. Alasan yang sederhana, tapi sangat tepat. Kelak di seoul ia akan menetap di salah satu apartemen seorang diri tentu saja. Ia harus bisa mengurus dirinya.

Dua setengah jam kemudian, ia sampai. Gadis itu langsung menemui Chaerin yang menunggunya distasiun. Begitu turun Chaerin sudah berdiri tak jauh darinya.

“Akhirnya~” Seru Chaerin senang. Ia membantu Sandara membawa koper-kopernya.

“Sopirku menunggu. Kajja!” Tangan Chaerin menarik Sandara keluar, menuju dimana sopirnya menunggu.

“Aku senang kau memutuskan kembali kesini.” Chaerin membuka obrolan dimobil.

Sandara melirik sekilas. “Sudah kukatakan aku menyelesaikan study-ku disini.”

“Ya~ aku tau itu tujuanmu. Tapi Sandy, ada hal yang harus ku ceritakan.”

“Jika itu tentang Jiyong, aku masih terlalu lelah Chae, besok saja.” Potong Sandara cepat.

Chaerin mendesah kecewa tapi mengalah. Ia tau Sandara sedang dalam mood yang tidak baik, jadi akan menimbulkan kecanggungan jika ia memaksa menceritakan tentang apa yang ia ketahui.

“Kau sudah makan?”

“Tadi pagi. Haelmoni memasakanku iga panggang.”

“Wow~ sudah beberapa minggu aku tidak merasakan masakan haelmoni, aku jadi merindukannya.”

“Ya~ dia menanyakan keadaanmu, kau kapan pulang ke Gamcheon?”

“Aku tidak akan pulang. Kau tau, oppa butuh teman tentu saja. Orangtuaku tidak mengizinkanku kembali.” Gadis bermata kucing itu tersenyum pahit. Sandara mengelus bahu sahabatnya.

“Tidak apa-apa, aku berada diseoul juga bukan?” Hiburnya.

Chaerin mengangguk. “Aku beruntung tentang itu. Dan~ yah kau disini tidak membuatku merasa seoul buruk. Sedikit menyenangkan.”

Sandara mengulum senyumnya. Selalu ia memiliki sahabat yang baik, haelmoni yang baik, unnie yang baik, dan orangtua yang baik. Hidupnya terasa sempurna. Jika ia cukup puas meyakinkan dirinya bahwa benar orangtuanya memang menyayanginya sepertinya yang selalu dikatakan neneknya.

***

Seorang pemuda yang kelihatannya salah satu petugas diapartemen itu menyambut kedatangan Sandara dan Chaerin.

“Selamat datang, Dara-ssi.”

“Terimakasih, ah ya~ aku panggil aku sandy.” Pintanya ramah. Orang-orang memang terbiasa memanggilnya Dara jika baru kenal. Karena alasannya lebih simple.

“Sandy, tidak apa-apa jika kau gunakan nama Dara. Tidak terlalu mengerikan.” Goda Chaerin.

“Ingat aku dan Dara berbeda.” Tegas Sandara berjalan ke lift untuk menuju ruangannya.

“Nde, aku tau itu.” Chaerin mencibir mengikuti Sandara.

Sandara mengetikkan kode dipintu. Ketika pintu terbuka ia masuk lebih dulu menuju kamarnya, lalu seorang petugas masuk dibelakang Chaerin.

“Disini saja, terimakasih.” Chaerin membungkukkan badan ketika petugas itu berlalu.

“Sandy~” panggil Chaerin membuka pintu kamar Sandara.

“Aku lelah.”

“Tapi kau harus mendengarkan aku.”

“Kenapa harus?”

“Ini tentang kalian.”

“Ahh~ Chae, aku tidak ingin memulai lagi.” Geram Sandara tau bahwa apa yang akan dikatakan Chaerin.

“Dengarkan dulu.” Pinta Chaerin gemas. Ia merasakan Sandara sungguh keras kepala sekarang.

“Yeah~ aku dengarkan Chae, bicaralah.” Akhirnya Sandara menyerah.

“Aku tidak tau kenapa aku harus memberitahumu tentang ini~”

“Jika kau tidak tau apa maksudmu kenapa harus memberitahuku?” Potong Sandara.

“Bisakah kau diam? Dengarkan aku sampai aku menyelesaikan ceritaku.” Chaerin mengerang frustasi.

“Nde, teruskanlah.”

“Sandy, aku tidak bermaksud mempengaruhimu. Tapi kuharap ini bisa merubah pikiranmu. Kiko benar-benar akan dinikahkan dengan Jiyong oppa, mungkin itu yang kau harapkan. Tapi bisakah kau bayangkan bagaimana menderitanya Jiyong oppa? Sandy~ kau jangan egois sayang. Kau pernah emm~ maksudku kau dan Jiyong punya semacam perjanjian dimasa kecil, jangan bertanya aku tau darimana? Yang pasti sampai detik ini oppa mengingat hal itu. Dan yang tidak bisa kupercaya ialah bagaimana ia menerima dan berusaha mencintai Dara karena kau. Percayalah jika yang memiliki cinta pertama dan terakhir itu adalah kau.” Chaerin menyelesaikan ceritanya dengan was-was. Mata kucingnya meneliti air muka Sandara. Tapi tidak ia temukan reaksi berarti. Hanya desah nafas Sandy menerpa wajahnya halus.

“Kau mendengarkanku?” Tanya Chaerin.

Sandara hanya mengangguk.

“Katakan sesuatu.” Desak Chaerin.

Sandara hanya menatap Chaerin kosong. Apa yang harus ia katakan? Ia bahkan tidak bisa memikirkan sesuatu sekarang.

“Sandy~” Panggil Chaerin lagi.

“Chae, aku tidak bisa berpikir.” Katanya lemas. Bingung harus bagaimana.

“Nde aku mengerti. Pikirkanlah dengan baik nanti, kau harus memutuskan sesuatu yang harus kau lakukan.” Chaerin melirik jam dipergelangan kirinya.

“Aku harus pulang sekarang, appa memintaku makan siang bersama. Kau istirahatlah.”

Setelah Chaerin pamit Sandy menjadi gamang. Ia galau dan tidak bisa memikirkan apa-apa.

Nafasnya tak beraturan.

“Haruskah?” Tanyanya pada diri sendiri. Kemudian ia merebahkan tubuhnya diranjang untuk beristirahat.

***

“Kiko! Aigo~ kakiku.” Bom mengeluh. Dia berjalan terseok-seok mengikuti Kiko.

“Yang mana?” Kiko menyodorkan dua potong baju dengan model hampir serupa. Bom meliriknya bergantian.

“Hitam kurasa bagus.”

“Ah~ tapi biru juga menarik.” Kiko mendesah.

“Kenapa tidak kau ambil keduanya?” Dahi Bom berkerut.

“Ah ya~ ide bagus.” Kiko berjalan kemeja kasir. Bom menggembungkan pipinya kesal. Kadang-kadang ia ingin mencekik Kiko karena kebiasaannya.

“Aku lapar, kita makan. Ppali!” Teriak Kiko dari meja kasir. Dia sudah menerima bungkusan baju dan struck pembayarannya. Bom lagi-lagi hanya menghela nafasnya.

Mereka berjalan menuju salah satu restaurant siap saji. Menunya sebenarnya tidak semua tentang fastfood, ada beberapa makanan sehat yang disediakan untuk mereka yang tidak suka makanan dengan yang bisa melambungkan berat badan mereka.

“Bomie, aku bermimpi.”

Bom hanya mengangkat alisnya.

“Dara kembali.”

“Mwo?” Bom berseru kaget. Kali ini ia benar-benar menatap Kiko penuh rasa ingin tahu.

“Tapi mungkin cuma bunga tidur.” Kiko berkata seolah menenangkan dirinya sendiri. Baginya itu sangat nyata, tapi bagaimana bisa Dara kembali? Dia sudah mati dan apakah dia menjadi hantu?

Bom mengangguk. “Tak usah pikirkan. Cuma mimpi.” Katanya setuju.

***

Sandara terbangun saat perutnya berbunyi. Tangannya meraih ponselnya untuk mengecek jam. Dan ternyata sudah jam 4 sore. Gadis itu bangkit dari tidurnya, meraih jaketnya dan berjalan keluar.

“Kedai ramyun terdekat dimana?” Tanya Sandara pada security apartemennya.

“Tak jauh dari sini aja plaza, nona bisa menemukan restaurant cepat saji.”

Sandara mengangguk. Hanya dengan berjalan kaki ia benar menemukan sebuah pusat perbelanjaan.

***

“Aku ketoilet sebentar.” Kiko pamit pada Bom.

Bom menunggu dengan memainkan ponselnya. Saat Sandara masuk dan memesan semangkok ramyun. Ia berjalan mencari tempat duduk tak jauh dari tempat Bom menunggu.

Bom melihat sekeliling saat tak mendapati satu pesan pun diponselnya saat itulah matanya menangkap sosok Sandara. Mata bulat gadis itu terbelalak. Meskipun tidak mengenal Dara dengan baik tapi gadis yang tengah ia lihat sekarang terlalu mirip dengan Dara.

Gadis chubby itu mengerjapkan matanya berkali-kali mengharap itu hanya halusinasinya.

“Dara kembali?” Mulutnya terbuka lebar lalu ia menelan ludah takut. Jadi mimpi Kiko nyata?

“Bomie kajja!” Kiko menarik Bom. Dan gadis itu tak bereaksi kecuali mengikuti langkah cepat Kiko keluar dari restaurant tersebut.

“Kiko~” suara Bom bergetar.

“Wae?”

Mereka memasuki mobil berbarengan. Kiko mulai menstarter mobilnya ketika Bom mengajak bicara lagi.

“Aku melihatnya.”

“Nugu?”

Mata Bom terpejam sebentar. “Dia benar kembali. Dan~ aku tidak yakin sosoknya manusia atau hantu. Jika ia kembali artinya ia arwah gentayangan.”

Kiko tersedak. Mengerem mobilnya mendadak.

“Hantu? Arwah gentayangan? Maksudmu kau melihat Dara?” Tanya Kiko panik. Kepalanya menoleh kekiri dan kekanan.

“Ne, aku melihatnya direstaurant tadi.”

***

Sandara membuka pelan pintu pagar rumah Chaerin. Ia mengenakan sebuah kaos dan celana pendek yang sangat nyaman. Saat baru saja menutup pintu pagar kembali sebuah bola basket terlempar dan mengenai kepalanya.

“Kyah~” teriaknya antara sakit dan terkejut, ia terhuyung dan jatuh ketanah.

“Mianhae, kau tidak apa-apa?”

Mendengar suara seseorang, Sandara mengangkat wajahnya.

“Ji~” desisnya tak percaya.

Jiyong mengernyitkan alisnya, tersenyum manis lalu mengulurkan tangannya untuk menolong Sandara.

“Sandy~ kau tidak berubah.” Tawanya terdengar. Sandara bangkit menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.

Jiyong mengambil bolanya lalu mengajak Sandara masuk.

“Kenapa kau masuk seperti maling?” Tanya Jiyong.

“Aku pikir tidak ada yang akan membukakan pintu untukku. Chaerin bilang dia ada urusan dengan appamu, dan kau~” Sandara terlihat ragu meneruskan ucapannya.

“Aku seperti raga tanpa nyawa.” Tembak Jiyong langsung.

“Ah~ aku tidak ingin mengatakan itu.” Sandara merasa tidak enak.

“Aku senang kau datang disaat yang tepat. Apakah kau sengaja datang saat Chaerin tidak ada?” Tanya Jiyong.

Sandara mengangguk. “Bisa dibilang begitu, aku ingin berbicara hanya denganmu.”

“Kita memang perlu membahas sesuatu.”

Sandara menatap Jiyong.

“Sandy~ apakah ini ada hubungannya dengan Dara?”

“Tentu saja.”

“Aku masih terlalu sakit mengingatnya.”

Jantung Sandara berdetak seketika rasa sakit menderanya. “Mianhae~ lupakan saja bahwa aku memintamu bercerita. Aku ingin kau kembali seperti dulu.” Sandara tersenyum.

“Kau tidak ingin tau?”

Sandara menggeleng. “Tidak jika itu menyakitimu.”

“Aku sakit karena gagal. Aku tidak mampu menjaga Dara seperti permintaanmu.” Jiyong mendesah pelan. Perasaan itu menggoresnya, ia sayang pada Dara. Sebagai teman dan sebagai seseorang yang ingin ia bahagiakan. Tapi cinta sejati akan selalu menang dan tak terganti.

Sandara mengedipkan mata tak percaya. Pipinya yang terlihat lebih chubby dari Dara menggembung lalu kempes setelah ia menghembuskan nafas.

“Aku pikir kau melakukannya karena kau mencintai Dara.” Sandara masih berkata tak percaya.

“Aku memang mencintai Dara, tapi tak seperti aku mencintaimu. Dulu sekali sudah lama aku merasakannya dan itu lebih abadi.” Jiyong mengulas senyum manis membuat Sandara jengah.

Gadis itu diam. Dan lebih memilih tidak ingin memulai.

“Kau kelihatan sangat kehilangan dan kacau.” Kata Sandara setelah keheningan panjang.

“Benar. Pelan-pelan aku merasakan bahwa aku mencintainya, ingin ia bahagia. Tapi sakitnya lebih terasa saat telah kehilangan.”

“Tapi kau baik-baik saja.”

“Karena aku sempat bertemu denganmu. Tapi aku akan berubah dingin saat rumah penuh dengan orang-orang, saat Kiko datang dan mengganggu ketenanganku.” Jiyong terdengar menggeram. Ia benci Kiko dan keluarganya.

Sandara hanya diam membiarkan pikiran mereka yang bermain-main. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan tapi benarkah keputusannya sekarang? Ketika Chaerin meminta ia memilih menolak tapi kenyataannya ia menjalankan rencana Chaerin juga.

“Ji~ aku harus pergi.” Sandara melirik jam tangannya.

“Sudah sore memang, dan berhati-hatilah.” Jiyong mengantarkan gadis itu sampai kedepan pintu pagar.

Setelah Sandara menghilang dari pandangan, Jiyong tersenyum. Ia merasa jiwa lebih hangat sekarang. Bagaimana bisa ia menjadi sangat dingin ketika berhadapan dengan yang lain tapi saat bersama Sandara kebekuannya meleleh.

Sandara memang selalu memberi kehangatan padanya, lewat sentuhan tangannya ketika memotong kuku-kukunya. Lewat tatapan bola matanya yang cokelat tapi meneduhkan.

***

To be continue..

Postingan terakhir.. Setelah ini aku hiatus nulis ff.. Terimaksih untuk para readers setiaku.

Pasti mikir aku hiatus gara-gara Jiko?

Bukan bukan.. Aku hiatus karena kesibukan di real ilfeku.. Aku senang pernah berbagi sama kalian, aku terimakasih sekali lagi applers.. DG mengenalkanku pada kalian..

Untuk zhie unnie, makasih ya unn atas kesempatannya, unnie banyak membantu, unnie juga yang menawarkan aku untuk mempublish karyaku yang tidak seberapa ini disini..

Dilla unnie, hai unnie yang rempong dan selalu siap aku repotin.. Makasih yaa unn, atas posternya, atas bantuan unnie yang dengan sabar nurutin mauku, mau postingin ceritaku dengan bonus direpotin oleh bikin covernya..

Kalian berdua sangat berjasa dalam perkembanganku.. Cieeeee..

Tengkiu unnie2ku, tengkiu applers, tengkiu para admin :*

<< Back Next >>

Advertisements

34 thoughts on “Good to You : Chap. 12

  1. Akhirnya setelah sekian lama(?) jiyong oppa senyum juga, senyuman tulus yaw. Sandy unnie masih aja bingung sama keputusannya, jangan lama lama deh. Keburu ntar jiko nikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s