HELLO BITCHES [Part. 9]

km_0194-674xl900

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model), Kwon Dami, Kim Yoojung (Actress) a.k.a Choi Yoojung | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

~~~

Happy Reading!!!

Top Cs minus Jiyong tengah berkumpul di kafetaria YG KPlus- agensi model dimana mereka bernaung. Kini mereka tengah menikmati sarapan pagi mereka sebelum melakukan aktivitas yang cukup padat di hari itu. Yah, walaupun mereka memiliki aktivitas masing-masing setelah ini… tapi tak jarang mereka selalu bertemu di kafetaria YG KPlus untuk sekedar sarapan bersama- itu suatu ketidaksengajaan pada awalnya tapi kini menjadi seperti kebiasaan, tanpa perlu adanya komando untuk berkumpul… mereka akan datang dan duduk di tempat biasa mereka makan- walaupun itu tidak selalu dalam formasi lengkap.

“Hyung, ada apa di wajahmu itu? Kau ingin menyaingiku, eoh?” tanya Seungri di sela-sela makannya pada Top yang kini memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya.

“Ais. Diamlah, jangan ingatkan aku bagaimana penampilanku sekarang. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat- Choi Yoojung kembali membuat kebisingan di rumahku semalam, ia memutar musik sangat keras- menari dan menyanyi seperti orang gila.” sungut Top terlihat benar-benar kesal karena keinginannya untuk langsung beristirahat setelah jadwalnya yang cukup padat kemarin harus pupus begitu saja sesaat setelah ia melihat adik perempuannya telah menyambutnya di rumah dengan smile evil nya.

“Mwo? Adikmu datang, Hyung?” Yongbae ikut membuka suara.

Top mengangguk, “Ia mengatakan ingin mengikuti audisi lagi, entah berapa kali aku sudah katakan jika ia tak memiliki bakat sedikitpun dalam bidang menari dan menyanyi tapi tetap saja-“ Top berdecak, “Ia terlalu percaya diri.” lanjutnya- meminum teh hangatnya.

“Seperti dirimu, Hyung.” celetuk Seungri tiba-tiba, membuat Top tersedak- sementara Yongbae dan Daesung berusaha untuk tak tertawa.

“YA!” pekik Top seketika tak ingin lagi mengingatnya- mengingat bahwa ia pun dulu pernah melakukan hal yang sama. Ia pernah beberapa kali bersikeras mencoba mengikuti audisi pencarian bakat- menari dan menyanyi secara bersamaan- tapi hasilnya hanya gerakan kaku seperti robot yang terlihat dan suara berat nan dalam namun terdengar seperti makian daripada nyanyian. Hingga akhirnya ia sadar, menari dan menyanyi bukanlah bakatnya.

“Ngomong-ngomong, aku tak melihat Jiyong? Bukankah ia yang biasanya paling rajin stand by disini?” ucap Yongbae kemudian- menyadari ada yang kurang dengan mereka.

“Ah. Kau benar, Hyung. Tunggu! Daesung Hyung, bukankah kau pergi dengannya ke Octagon semalam? Apakah ia berhasil bertemu target yang akan menjadi wanita bayarannya?” tanya Seungri dan secara otomatis semua mata beralih ke Daesung.

Daesung yang semula masih menguyah makanannya dengan tenang pun mau tak mau menelannya dengan cepat karena kini tiga pasang mata tengah mengamatinya- menunggu jawaban.

“Aku tak tahu pasti apa yang terjadi semalam dengan Jiyong Hyung, karena ia meninggalkanku begitu saja saat aku masih sibuk dengan si gadis DJ… tapi ada sesuatu yang aneh saat aku menelponnya.” jawab Daesung akhirnya.

“Mwo? Sesuatu yang aneh?” Top mengernyit.

“Apa itu?” Yongbae bertanya.

“Ehm… Jiyong menjawab dengan biasa pada awalnya, tapi kemudian ia seperti tengah bersama seseorang dan kemudian suara aneh mulai terdengar… itu seperti desahan-desahan yang memburu lalu disusul seperti kecupan buas yang-“

“Ha ha ha…” Top tak mampu lagi menahan tawanya, “Itu tidak mungkinkan? Jiyong tak mungkin melakukan apa yang seperti kau kira.” Ia menambahkan.

“Itu benar.” ucap Yongbae setuju dengan cepat kali ini, “Lain bila itu adalah Seungri.”

Seungri yang sedari tadi hanya mengangguk setuju- langsung terkesiap saat namanya disebut, “YA! Kenapa kau menyebut namaku, Hyung? Aku juga tak mungkin melakukan itu- tak mungkin melakukan itu setengah-setengah maksudnya.” ucap Seungri terkekeh, disusul cengiran Top yang telah bisa menebaknya… “Kau mungkin salah dengar, Hyung.” lanjut Seungri kemudian pada Daesung yang sejenak berpikir.

“Ah. Ne.” ucap Daesung akhirnya- menyadari ia bukan berada di tempat yang tenang saat itu, “Kurasa aku benar-benar salah dengar.” lanjutnya akhirnya meyakini kalau yang ia dengar bukanlah apa-apa.

.

.

.

Dara Pov

Kulilitkan erat sebuah handuk putih untuk sekedar menutupi sebagian tubuhku. Kubiarkan rambutku yang basah untuk tetap tergerai- ini benar-benar menyegarkan. Aku pun keluar dari kamar mandi- tak kutemukan lagi pria yang bernama Jiyong itu di kamar sementara pecahan kaca dari cermin yang berserakan tak lagi terlihat.

“Omo. Ia begitu cepat membersihkannya.” gumamku mengacungi jempol untuk kecekatannya, dan ia tipe pria yang suka akan kebersihan dan kerapian kurasa… karena kini tempat tidurnya telah tertata sempurna dan tak lupa sepasang sepatu heels ku yang tak lagi berjauhan- ia letakkan dengan aman di bawah meja, “Pria yang sangat di sukai oleh ibu-ibu mertua pastinya.” cuapku lagi-lagi menilai tentang dirinya.

Aku pun meraih bra hitamku yang ia letakkan di atas meja, dan kembali tertawa saat kuingat bagaimana reaksinya saat aku menggodanya. Ia begitu lucu, tak kubayangkan bila ia mengatakan yang sebenarnya bahwa ia adalah pria baik-baik… aku tertegun sesaat, “Apa itu artinya ia pria suci yang belum ternoda?” gumamku kemudian, tapi sedetik berikutnya aku kembali tertawa… “Sangat menarik jika itu memang benar.” lanjutku akhirnya- kembali mengedarkan pandangan untuk mencari baju merah yang kukenakan semalam, dan pandanganku terhenti dengan sesuatu yang teronggok pasrah di kotak sampah.

“Omo! Bukankah ini bajuku? Ya! Apa yang ia buat, hah?” sungutku saat mendapatinya tak lagi berbentuk- kembali kuingat kain merah yang mengikat kuat pergelangan tanganku, “Cih! Apa ini yang ia gunakan untuk mengikatku semalam? Benar-benar.” geramku memastikan- ia harus menggantinya, dan tiba-tiba aku kembali teringat… aku belum mengabari Bom atau yang lain dimana aku sekarang- mereka pasti khawatir karena aku pergi begitu saja dari Octagon tanpa berpamitan dengan salah satu dari mereka, “Ah. Dimana tasku? Ponselku ada di sana, apa ia tak membawanya juga semalam?” gumamku menyadari aku tak dapat menemukannya, aku pun dengan cepat mengambil apapun yang dapat kugunakan dari lemari Jiyong yang setengah terbuka.

“YA! JIYONG, KAU TAK MEMBAWA TASKU BERSAMAMU SEMALAM?” pekikku keras ditengah-tengah kegiatanku mengenakan kemeja putihnya- yang kutahu ini akan membuatku tenggelam. Tak ada jawaban- apa ia tak mendengarnya? Dengan cepat aku mengancingnya- meraih sepatuku dan keluar dari kamarnya, “YA! JIYONG, AKU BUTUH PONSEL UNTUK-“

Deg

Seketika aku terdiam- ia tak sendiri sekarang.

Aku melihat Jiyong- Kwon Jiyong, bersama wanita yang tengah berdiri tak jauh darinya. Kini wanita itu menatap- memperhatikanku tajam.

“O… o… siapa dia?” batinku bertanya, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan… hingga akhirnya tatapanku beralih pada Jiyong yang kini juga tengah menatapku- tapi itu tak terbaca, aku tak mengerti arti dari tatapannya.

“Si- siapa dia, Jiyongie?” tanya wanita yang terlihat sedikit lebih tua darinya itu tergagap. Ia benar-benar terkejut kurasa, aku bisa melihat itu dari bola matanya yang hampir keluar saat melihatku. Cih! Apa dia menjalin hubungan dengan wanita yang lebih tua? Atau wanita itu berharap padanya? Omo. Ia tak lagi terlihat seperti pria suci sekarang? Ia tak lebih dari seorang player, neh?  batinku kembali berkomentar.

Ok. Aku akan tetap diam di tempatku- membiarkan ia untuk menjawab, bukan salahku bila ia harus menghadapi situasi seperti ini. Aku tak harus terlibat.  Benarkan?

“Aku sudah mengatakan padamu, ini bukan waktu yang tepat untuk sebuah kejutan.” ucap Jiyong kemudian, mengabaikan pertanyaan wanita itu sebelumnya.

Omo. Ia bagitu dingin, eoh?

“Ya! Katakan padaku, siapa dia?” tanyanya lagi- menatap Jiyong kali ini.

Jiyong pun berjalan meninggalkannya- menuju padaku dengan seringainya yang dapat dengan jelas kulihat. Ya… ya… ya… ia benar-benar seorang player kurasa, dan aku menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya saat telah berdiri di sampingku- ia mengalungkan salah satu lengannya di pundakku dan menarikku untuk lebih mendekat padanya.

“Ia adalah wanitaku, Noona.”

Noona? Aku mengerutkan keningku.

“Mwo?” Wanita itu kembali terkejut.

“Perkenalkanlah dirimu pada kakak perempuanku, Dara.”

EH? Dan kali ini aku yang terkejut.

.

.

.

Flashback

Teeeet… teeet… teeet…

Jiyong tengah sibuk menyiapkan omelet untuk sarapan saat bel apartemennya berbunyi, “Siapa yang datang sepagi ini?” gumamnya mau tak mau menghentikan kegiatannya dan dengan segera menuju pintu- membukanya, lalu…

“Annyeoooooong! Pagi, Jiyongie.” sapa seseorang yang sangat familiar begitu pintu terbuka.

“Dami Noona? Kau datang?” Jiyong cukup terkejut kali ini.

“Ne. Bukankah aku sudah katakan padamu, bahwa aku yang akan mengatur kita untuk bertemu dan memberimu kejutan?” jawab Dami dengan santai masuk ke apartemen Jiyong, “Aku berhasil bukan?”

“Ah. Ne, tapi ini bukan waktu yang tepat kurasa.” ucap Jiyong kemudian membuat Dami mengerutkan keningnya.

“Wae? Kau juga tidak terlihat akan pergi sekarang? Aku sangat rindu padamu, karena itu aku berkunjung untuk melihat bagaimana adik laki-lakiku tumbuh dan berkembang. Lagipula Eomma memintaku untuk mengecekmu sekali-kali, membuktikan apa kau hidup sebagai laki-laki normal atau tidak.”

“YA!”

“No… no… kau tidak boleh marah, karena itu adalah rumor yang beredar dan jika itu benar maka- baaaaam, bersiap-siaplah untuk membantuku di perusahaan.”

“Cih! Itu tidak akan pernah terjadi, Noona.”

“Benarkah? Kenapa kau begitu yakin, hah? Kau bahkan tidak bisa mengelak dengan tegas saat-“

“YA! JIYONG, KAU TAK MEMBAWA TASKU BERSAMAMU SEMALAM?” pekikkan keras itu berhasil menghentikan ucapan Dami selanjutnya. Dami mengerutkan keningnya- menatap Jiyong sekilas kemudian beralih ke arah pintu kamar Jiyong yang tertutup- dimana suara itu berasal, dan belum sempat ia bertanya… pintu kamar Jiyong telah terbuka, “YA! JIYONG, AKU BUTUH PONSEL UNTUK-“ pekikkan yang sama yang Dami dengar sebelumnya kini terhenti saat pemilik pekikkan itu menyadari kehadirannya- membalas tatapannya.

Kini dapat Dami lihat dengan jelas, pemilik pekikkan itu adalah seorang wanita- wanita yang keluar dari kamar adik laki-lakinya itu hanya menggunakan kemeja yang ia yakin milik Jiyong karena itu terlalu besar untuknya- dengan rambut yang basah dan juga sepasang heels yang ia bawa- seolah itu membuktikan wanita itu telah berada di sana semalaman.

“Si- siapa dia, Jiyongie?” tanya Dami tergagap, tak menyadari Jiyong yang tersenyum penuh arti.

“Omo! Siapa yang terkejut sekarang, Noona? Ok. Aku akan membuatmu terkejut lagi dan lagi.” batin Jiyong akhirnya bersiap memulai semuanya.

.

.

.

Jiyong Pov

Aku dapat melihat bagaimana kini Dami Noona sangat terkejut melihatku bersama wanitaku- Dara, wanita bayaranku lebih tepatnya. Aku seperti telah memberikan pukulan telak padanya, ia terlalu sering mem­bullyku… kau tahu? Dan itu benar-benar mengesalkan.

Sementara Dara- ia seperti belum mengerti akan situasi, bahkan ia hanya diam tak bereaksi saat aku menyuruhnya memperkenalkan diri, “Dasar otak lamban.” gerutuku dalam hati.

“Benarkah?” Akhirnya Dami Noona kembali bersuara, ia telah berhasil mengatasi keterkejutannya kurasa.

“Tentu saja, Noona… ia adalah wanitaku- pacarku.”

“Anio… aku tidak bertanya padamu, Jiyong. Aku bertanya padanya.” ucap Dami Noona kali ini membuatku kembali melihat Dara, “Benarkah kalian dalam suatu hubungan sekarang? Benarkah kau wanitanya?” Dami Noona memperjelas pertanyaannya.

“Ya! Jawablah, Dara.” ucapku pelan namun tegas padanya- berharap ia dengan cepat mengerti, tapi kali ini aku dapat melihatnya menyeringai singkat.

“Sepuluh kali lipat atau tidak sama sekali.” ucap Dara setengah berbisik. Cih! Tenyata ia mengerti ini dengan sangat jelas.

“Kau tidak akan menguranginya, neh?” tanyaku sepelan mungkin dengan tatapanku masih tertuju pada Dami Noona yang menunggu jawaban.

“Sepuluh kali lipat atau tidak sama sekali.” ulangnya kini, membuatku hanya bisa mengumpat dalam hati… ia begitu baik memanfaatkan keadaaan. Aku pun akhirnya mengangguk pelan dan akhirnya Dara tersenyum puas… ia pun seketika membungkukkan badannya- memberi hormat, “Annyeong… mianhe, bertemu denganmu dalam kondisi seperti ini. Jiyong tidak mengatakan kau akan datang… jadi aku tidak sempat menyiapkan diri atau apapun- karena itu… perkenalkan, aku Dara- Park Sandara dan itu benar… kami telah dalam suatu hubungan sekarang, Eonni.”

“Eonni?”

“Ah. Mian, aku tak tahu bagaimana harusnya memanggilmu. Apa itu berlebihan? Atau kau ingin aku langsung memanggilmu- kakak ipar?”

“Kakak ipar? Mwo?”

Aku berusaha keras menahan tawaku- melihat bagaimana Dami Noona sekarang… Dara berhasil dengan memasang tampang lugunya itu, ini tak bisa dipercaya dan ku akui- aku telah membayar wanita yang tepat untuk menghadapi keluargaku.

Dami Noona terlihat berusaha mengontrol mimik wajahnya agar terlihat lebih tenang, tapi aku bersumpah- itu tidak berhasil… ke ke ke.

“Ba- baiklah, panggil saja aku Eonni… itu lebih baik.” ucap Dami Noona kemudian, Dara pun mengangguk cepat.

“Ne, Eonni.”

“Ah. Kalau begitu- bisakah kau mengganti bajumu? Itu agar aku dapat bicara padamu dengan lebih nyaman.” lanjut Dami Noona, Dara sekilas melihatku- kembali tersenyum dan untuk kali ini aku tak mengerti dengan arti senyumannya. Apa yang ia pikirkan, hah?

“Itu- aku ingin… tapi sayangnya aku tak membawa baju ganti saat ini, Eonni. Jiyong telah membuatnya hingga tak berbentuk.” jawab Dara yang diluar perkiraanku, tapi ini benar-benar lucu karena Dami Noona kembali membulatkan matanya- melihatku dan Dara bergantian.

“Mwo? A- apa maksudmu?”

“Ah. Haruskah aku mengatakannya?” Dara seperti meminta persetujuan, tapi aku hanya diam berusaha keras menahan tawaku yang sewaktu-waktu mungkin meledak, “Jiyong merobeknya dengan cepat dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku semalam.” lanjut Dara seakan itu adalah sesuatu yang biasa untuk diungkapkan, membuat tawaku benar-benar akan meledak. Yah! Itu memang benar, tapi Dami Noona tentu memiliki pengertian yang berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya.

“MWO???” Dami Noona tak mampu lagi berkata-kata.

“Wae, Eonni? Kau baik-baik saja?” tanya Dara kemudian, sementara aku berbalik sesaat untuk menyembunyikan senyum geliku  yang tak mampu lagi aku tahan.

“Ah. Ne, gwaenchana. Aku- aku sepertinya harus pergi sekarang… mungkin kita dapat kembali bicara lain kali.” ucap Dami Noona yang sepertinya telah menyerah untuk menginterogasi Dara lebih dalam, “Jiyong, bisa kau ikut aku keluar?”

“Mwo?“

“Kita perlu bicara.” ucap Dami Noona cepat, aku pun mengangguk tahu apa kali ini yang akan ia bicarakan.

“Baiklah, Noona.” jawabku akhirnya.

“Aku pergi dulu, Dara.” ucap Dami Noona berpamitan pada Dara.

“Ne, Eonni… senang bertemu denganmu.” jawab Dara tak lupa membungkukkan badan, Dami Noona pun membalasnya dengan anggukan dan lebih dulu meninggalkan apartemenku. Aku beranjak untuk mengikutinya tapi sebelum itu…

“Akting yang baik.” ucapku memuji Dara.

“Sepuluh kali lipat.” Ia kembali mengingatkan, aku pun tersenyum- Cih! Ia benar-benar…

“Araesso.” jawabku akhirnya pergi menuju pintu tapi kemudian, “Tetaplah di sini. Jangan pergi kemanapun hingga aku kembali atau kau tidak akan mendapatkan sepeserpun.” lanjutku mengingatkan, karena dengan pembayaran sepuluh kali lipat aku harus kembali menegaskan apa yang boleh dan tidak boleh ia atau aku lakukan.

“Ok. Tapi ngomong-ngomong bisa aku meminjam ponselmu? Aku harus memberi kabar teman-temanku.” ucapnya kemudian.

“Pakailah.” ucapku melempar ponselku ringan padanya dan ia dengan sigap menangkapnya, “Baiklah. Kembali pada Dami Noona… kita lihat, apa yang kali ini akan ia bicarakan. Harusnya ia telah menyerah dan mengakui aku tak seperti rumor yang beredar.”

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7 8

<<back  next>>

Tinggalkan jejak seperti biasa chingu-deul. Hengsho. ^.^/

Advertisements

45 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 9]

  1. aigooo dara emang aktris yang hebat *clap clap* aku salut sama aktingnya itu aku aja sampe nahan ketawa disini. dara jjang jjang!! tapi tetep aja yaa itu otaknya ke uang haha, pengen tau akhirnya, apakah pada akhirnya jiyong akan tergoda oleh dara atau ngga. itu rahasia author kali yaa oke next chap

  2. Wahaaa ceritanya ambigu deh kayaknya wkwkw pemikiran Dami eonnie pasti udh smpe kmana2, etah berpikiran kala jiyong ganas dikasur hihihi 😄😄😄😄 keren kak zhie semangat nglanjutin ffnya yaaaa……FIGHTING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s