In Or Out [3] : The Destined Book

 inorout

inorout2

Author :: Rachy
Genre :: Romance || Fantasy || Fluff || Comedy

Annyeong yeorobun \^O^/ Whoaa, sepertinya sdh lama sekali sejak terakhir kali sya berkunjung ke sini dan menyapa chingudeul dgn bbrp one shot sya. Hehe mianhae, kesibukan di dunia nyata benar2 membuat sya harus ‘cuti’ sementara dan sya lagi malas ngetik, hehee, terus sya jg lagi kepincut sma Aaron Yan & Mike D. Angelo, hohohoo.. But now I’m back ; ) eh tp sblmnya sya mw ngucapin dulu, Happy Ied Mubarak utk chingudeul smw, mohon maaf lahir bathin yah ^_~

Oh y, mdh2an blm lupa sma cerita sya yg 1 ini, kekekee… Met reading ^_^’

***

Sinar mentari pagi yang berkilauan menyinari salah satu sudut kamar seorang namja yang setengah tertidur di lantai 2 sebuah rumah mewah. Tubuh namja itu sesekali berguling ke kiri dan kanan dengan ceria, seolah tadi malam ia bermimpi sangat indah. Ia meregangkan tubuhnya sambil duduk di tempat kasur. “Kyaaaahhh, aku suka tempat tidur ini.” Namja itu tersenyum puas sembari celingak celinguk mengamati sekeliling kamar. Bantal-bantal imut dengan berbagai karakter kartun menghiasi sofa kecil di pojok kamar.

Dengan hanya mengenakan boxer dan tanpa atasan, ia bangkit dari tempat tidur dan bergerak ke arah meja belajar yang diatasnya dipenuhi pernak pernik khusus wanita dan belasan boneka cantik yang berderet dengan rapi yang dibawa dari rumahnya. “Good morning Princess Jasmine, Cinderella, Barbie, and you my lovely Kitty, apa tidur kalian nyenyak?” Ia bertanya pada boneka-boneka itu seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya. “Semalam tidurku sangaaaattt pulas. Kalian tahu, kamar ini keren sekali. Andai eomma mengijinkanku untuk mempunyai kamar seperti ini, aku betah tidak keluar kamar, hehehe. Kyahhh, aku suka aku suka aku suka…” Namja itu memeluk erat boneka kucing berwarna pink yang menjadi favoritnya.

“Kwon Kitty, jangan bicara sendirian dengan boneka, orang lain akan menganggapmu gila.” Tiba-tiba terdengar suara wanita setengah berbisik di belakang punggung namja itu, membuat namja itu terlonjak kaget dan melempar bonekanya.

Jiyong POV

“Kwon Kitty, jangan bicara sendirian dengan boneka, orang lain akan menganggapmu gila.” Aku menengok ke belakang dan mendapati Sandara sudah berada dibelakangku. Dengan cepat aku menyambar selimut Hello Kitty-ku dan berusaha menutupi bagian terpenting dalam hidupku, yaitu dadaku yang berharga.

“Goossshhh woman, kenapa kau tak mengetuk pintu dulu, dan bisakah kau tak mengagetkanku? Aku bisa terkena serangan jantung tahu,” kataku menepuk-nepuk dada. Sandara hanya menyeringai sambil melihatku dari atas sampai bawah. “Wae?” tanyaku balik menatapnya. Dari dekat aku baru menyadari bahwa tubuh Sandara sangat kurus, bahkan sepertinya ukuran dada kami cenderung sama. Oopps, apa aku baru saja bilang kalau dadanya rata sepertiku? Itu karena Sandara mengenakan kaos longgar dan celana boxer, jadi di mataku terlihat dadanya sangat rata. Gaaahhh, aku bahkan membandingkannya dengan dadaku. Apa yang kupikirkan? Baru semalam aku tidur disini, aku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. “A-ada apa?” tanyaku lagi untuk mengalihkan perhatiannya.

“Eomma menyuruhmu turun untuk sarapan.” ujarnya.

“A-aku akan segera kesana.” kataku lagi sambil memegangi selimut agar tidak jatuh. Sandara hanya mengangguk kecil lalu berbalik meninggalkanku. Aku menghela napas, akhirnya ia pergi juga dan aku bisa bermain-main sebentar dengan boneka-boneka lucu ini sebelum turun untuk sarapan, hehehe. Namun tiba-tiba,

PLAAAAAKKKKK

“OUWCHHHH!!” Aku berteriak kencang sambil memegangi bokongku yang terasa sakit seperti habis dipukul dengan tangan kosong. Refleks aku menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang barusan terjadi.

Nice butt, Kwon.” Sandara mengerlingkan sebelah matanya padaku membuatku bingung.

Apa dia baru saja… ?

***

Dimana? Dimana? Dimanaaaa???!?!! Aku mengobrak-abrik koperku dan mengeluarkan semua isi di dalamnya tapi tak kunjung menemukan satupun ‘barang’ itu. Aku berusaha mengingat-ingat dimana kuletakkan ‘barang’ itu. Dan akhirnya kuingat, ‘barang’ itu masih tergeletak rapi di atas kasur rumahku saat Eomma memanggilku untuk segera berangkat.

Oh crap.

I.FORGOT.TO.BRING.MY.UNDERWEAR.

Dammit. Dammit. Dammit.

Aku mencoba mencari di dalam lemari, berharap siapa tahu ada celana dalam pria yang bisa kupakai. Aku tidak mungkin memakai celana dalam sebelumnya karena pasti rasanya tak nyaman, eww. Kubuka pintu lemari sebelah kiri, didalamnya hanya berisi beberapa gantungan baju. Kubuka pintu sebelah kanan cuma ada 2 pasang piyama. Aku menaruh kedua tangan di pipi dan rasa panik tingkat tinggi mulai merasukiku. Bagaimana jika tidak ada sama sekali celana dalam pria!? Harapan terakhirku hanya tinggal laci ini saja. Ketika kubuka laci itu dengan pelan, cahaya terang menderang seolah-olah keluar dari dalam laci. Oh my gosh, semuanya berisi celana dalam wanita.

Kyeopta.

Eoh, apa yang kaupikirkan Kwon! Berhenti mengagumi celana itu dan fokuslah mencari celana dalammu!

Tapi celana-celana itu lucu, berwarna pink, biru muda, ungu dan ada rendanya, ditengahnya ada motif polkadot, lalu ad-,

Shut up Kwon! Cepat cari celana dalammu!!

Apalagi celana yang bermotif polkadot itu, seakan-akan ia berkata, ‘Pakai aku, dan kau akan terlihat sexy.’

Kwoonnnnn!!!

Okay-okay, geez Jiyong kau menyebalkan!

“Aish, kenapa aku jadi bertengkar dengan diriku sendiri?”

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menghilangkan ketidakwarasanku. Jika Sandara tahu aku memakai celana dalam miliknya, habislah aku. Pasti ia akan mengejekku. Think, think, think, Jiyong! Aku berjalan mondar mandir dalam kamar dan berusaha mencari ide bagaimana mendapatkan celana dalam pria yang cepat tanpa harus keluar rumah dan yang pasti sesuai ukuranku.

Ting Tong. Tiba-tiba tercetus ide brilian di kepalaku. “Ahaa, Teddy atau Haejin hyung.”

***

Aku mengendap-ngendap keluar kamar dengan masih memakai kimono Hello Kitty-ku, dan turun ke lantai bawah mencari tempat jemuran. Aku harus cepat-cepat menemukan celana milik Teddy atau Haejin hyung, karena celana dalam milik Hanbin pasti tidak akan muat buatku. Ah, itu dia tempatnya di halaman belakang! Kulihat keadaan sekitar tidak ada satupun keluarga Park yang berkeliaran. Yes! Aku tersenyum gembira. Sampai tempat jemuran, ternyata hanya ada satu celana dalam pria berwarna kuning terang yang terjemur disitu dan itupun bermotif spongebob. Geez, hanya orang aneh saja yang mau memakai celana dalam dengan motif seperti ini.

“Dara, Jiyong, ayo sarapan.”

Kudengar nyonya Kwon berteriak dari arah ruang makan. Ooww.. Ruang makan letaknya bersebelahan dengan halaman belakang. Tanpa ba bi bu lagi, aku segera menyambar celana dalam itu dan berlari menuju kamarku lalu menutup pintu. Sebenarnya aku enggan memakai celana itu, tapi mau bagaimana lagi daripada aku tidak pakai celana.

Aku mulai mencoba celana dalam itu dan, dan,,, sepertinya ada yang salah dengan celana ini. Berkali-kali aku hampir terjatuh saat akan memasukkan kakiku yang sebelah lagi. Celananya tidak mau naik-naik ke atas. Ughh, celana ini sempit sekali.

DOK DOK DOK DOK

“Kwon Kitty, ayo cepat keluar dan sarapan, nanti kita bisa terlambat.” Suara teriakan Sandara membuyarkan konsentrasiku yang masih susah payah memakai celana. Aisht, sebenarnya ini celana siapa sih!

DOK DOK DOK DOK

“Kwon Kitty, jika kau tidak keluar dalam hitungan ke 5, aku akan meninggalkanmu!” ancamnya.

“Se-sebentar lagi.” Setelah melewati pertempuran dengan celana spongebob ini, akhirnya celana ini terpasang juga. Huff, pergulatan yang melelahkan. Dengan cepat aku memakai bajuku yang lain dan membuka pintu kamar.

“1,2,3,4,5! Kwonnnn!”

“Yah! Kenapa kau tidak sabaran sekali sih?!” omelku pada Sandara yang sedang bersandar di pinggir pintu. Ia melirikku dari atas rambut sampai ujung kaki. “Wae? Apa ada yang salah denganku?”

“Apa kau benar-benar akan mengenakan baju ini ke kampus?”

“Ya,” Aku berkali-kali mengecek atasan kaos putihku yang bergambar Kero-Keroppi dan celana skinny jeans berwarna hijau terang yang kukenakan. “Kurasa tak ada masalah, menurutku ini cute.” jawabanku malah membuat Sandara tertawa terbahak-bahak dan memegangi perutnya.

“Whatever.” katanya berlalu meninggalkanku.

***

OH.MY.GOD

Wanita ini memang gila. Apa ia baru saja menyuruhku duduk di atas jok unta untuk pergi ke kampus?! Aku menatap Sandara dengan tatapan tak percaya. “Sandara, tak bisakah kita naik bus saja? Aku tak mau naik ini!” tunjukku pada sebuah benda yang kusebut belalang tempur karena mirip dengan motor milik Kotaru Minami si ksatria baja hitam. Sandara hanya menatapku sebentar dan mulai menstarter motornya. Tanpa mendengar suaranya saja, aku tahu motor itu seperti habis tertabrak truk.

Brrmm, brrmm, brrmmmm…

“Hey Kwon Kitty, cepat naik”. Sandara menggoyangkan kepalanya menyuruhku untuk segera naik. “Jika kau tak mau naik bersamaku, kau bisa naik bus sendiri.”

Ia sungguh pintar mengancam. “Baiklah-baiklah,” Dengan manyun, aku terpaksa menurutinya. Diantara semua alat transportasi yang ada, kenapa sih dia malah memilih belalang tempur ini!? gerutuku dalam hati. “Jangan mengebut, jangan melanggar lampu lalu lintas, janga-, kyaaahhhhhhhh, Sandaraaaaaaaa!!!!!!!”

***

Wajah imutku, ada.

Tanganku, ada.

Kakiku, masih ada.

Oh thanks God, tubuh sempurnaku masih ada. Kakiku terasa lemas dan gemetaran. Wanita ini membuatku jantungan. Ia mengendarai motornya hampir 110km/jam dan rasanya seperti naik roller coster. Aku melotot pada Sandara yang dengan santai melepas helmnya. “Yah Sandara! Sudah kubilang jangan ngebut di jalanan. Tadi kita hampir saja menabrak ayam, kau tahu!” aku merengut kesal.

“Kau seperti tidak pernah naik motor saja, Kwon Kitty.”

“Memang! Aku jarang naik motor, apalagi motor aneh seperti itu. Dan berhenti memanggilku Kwon Kitty, itu benar-benar menyebalkan.” Aku menyilangkan kedua tanganku di dada pertanda aku kesal. Sepertinya aku harus berusaha keras untuk bisa mengajaknya main bersamaku. Tipis sudah harapanku untuk bermain boneka dan ke salon bersama. Ia sangat ‘berbeda’ dengan teman-teman wanita di kampusku.

“Ok.” ucapnya singkat sambil menstarter motornya lagi dan pergi. Aku segera berbalik untuk masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi akan ada ujian semester. Baru beberapa kali kakiku melangkah, kudengar Sandara memanggilku.

“Kwon!” panggilnya dari kejauhan. Aku menoleh ke arahnya.

“Jangan lupa, aku akan menjemputmu nanti sore.” katanya, lalu Sandara kembali memacu motornya untuk pergi.

Aku terdiam sebentar melihat punggungnya yang makin lama menjauh meninggalkanku. Seperti gerakan slow motion, punggungnya tampak bersinar. Gosh, ia sangat macho dengan belalang tempurnya. Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga kananku dan memainkan kaki kananku ke tanah. Dadaku sedikit berdebar-debar ketika ia mengatakan itu. Kau tahu? Rasanya seperti kekasihmu menjemput dan mengajakmu pulang bersama meski berada dalam satu kampus. Terasa hangat. Gaahhh Kwon Jiyong! Apa yang barusan kau pikirkan?! Aku segera tersadar dari lamunan gilaku dan merapikan rambutku kembali. Mungkin gara-gara ngebut di jalanan tadi membuat pikiranku jadi kacau.

***

Di ruang ujian

Krsskkk krsskkk krrsskkk

Krsskkk krsskkk krrsskkk

“Ji, ada apa denganmu? Sejak tadi kau duduk tidak tenang.” Dari belakang Bom berbisik di telingaku. Aku hanya tertawa canggung menanggapinya.

“Hmmm, tak apa-apa Bom.” Aku memasang wajah imutku dan memberi tanda ‘ok’ agar ia tak bertanya-tanya lagi.

“Apa kau yakin?” Kini Minji yang bertanya dengan aba-aba mulutnya. Aku menggeleng kepala

“Benar kau tak apa-apa?” tanya Lydia yang mencondongkan tubuhnya maju mendekatiku. Oh Lydia, kenapa kau harus bertanya lagi, huhuhu. Kali ini aku menggeleng keras. Aku tidak bisa bilang pada mereka bahwa sudah 2 jam ini aku berusaha menahan untuk tidak menggaruk ‘senjata’ku karena rasanya sangat gatal sekali. Untuk mengatasinya sejak tadi aku meremas-remas boneka mini Hello Kitty-ku dan memukul-mukul pelan mejaku. Uggh, salahku memilih duduk di depan mereka. Lalu tiba-tiba rasa gatal itu datang lagi.

“Kwon Jiyong! Berhentilah bermain-main dengan kucingmu!” Bom, Minji dan Lydia kembali ke posisi masing-masing setelah mendengar teriakan Pak Kim, dosen kami.

“I-ini namanya Hello Kitty, Pak.” Bela-ku. Dosen ini sungguh menyebalkan.

“Aku tak peduli, mau Hello Kitty, Hello Micky, Hella Hello, terserah!!! Tapi Kwon, kita sedang ada di kelas, jadi berhentilah meremas-remas Kitty-mu itu, dan cepat selesaikan kertas ujianmu.”

“Ba-baik pak.”

Arrghh, ini semua gara-gara celana spongebob!!! Huhuhu, rasanya gatal sekali, aduh aku ingin menggaruknya. Eoommmaaaaaaaaaa…..!!!

***

Sementara itu dirumah keluarga Park

“Yeobo, apa kau lihat celana spongebob-ku?” Tuan Kwon mencari-cari celana dalamnya yang tadi pagi ia jemur di tempat jemuran. Tuan Kwon garuk-garuk kepala, baru kali ini celana dalamnya raib entah kemana. Haejin dan Teddy tidak mungkin memakainya karena mereka sangat tidak suka celana bermotif kartun. Apalagi Hanbin, ia lebih memilih mengenakan boxer daripada celana dalam.

“Aniyo, apa kau yakin kau menaruhnya di tempat jemuran? Mungkin kau sudah memakainya.” Nyonya Kwon berusaha mengingatkan.

“Ah tidak mungkin, baru semalam kucuci. Aku mau memakainya hari ini supaya rapatku berjalan lancar.”

Nyonya Kwon tertawa. “Hahaha yeobo, apa kau masih melakukan ritual seperti itu sampai sekarang?” tanyanya sembari membereskan meja makan.

“Tentu saja, setiap aku memakai celana spongebob itu, aku pasti mendapatkan keberuntungan.” Tuan Kwon masih sibuk mencari di rumput halaman belakang, berharap celananya hanya terjatuh karena angin.

“Akan kutanya Dara, mungkin ia memindahkannya.” ujar Nyonya Kwon meninggalkan suaminya yang masih nampak kebingungan.

“Aneh, sepertinya tadi pagi-pagi sekali masih ada. Apa digondol kucing?” Tuan Kwon mencoba memikirkan segala kemungkinan yang ada. “Mwehh, tak mungkin kucing pakai celana dalam, huahahahaaaa….” Tuan Kwon menertawakan kebodohannya sendiri berpikir hal-hal yang tidak mungkin terjadi.

***

“Bolehkah aku… ?”

“Tidak!”

“Bagaimana dengan yang ini?”

“Tidak!”

“Kalau ini?”

“Sudah kubilang tidak-tidak-tidak! Kau tidak boleh melakukan apapun saat ini!”

Nafas Arana Chae terengah-engah. Ia geregetan menghadapi kelakuan Kudo Seungri yang membuatnya pusing. Ia tak memperbolehkan Kudo Seungri melakukan apapun sejak kejadian ciuman gratis di kedai minuman di pinggir jalan. Arana Chae mondar-mandir di sebuah rumah tak berpenghuni, sedangkan Kudo Seungri duduk manis di sebuah kursi. “Sebaiknya kita temukan mereka secepatnya, selesaikan tugas, dan kembali ke dunia atas. Jadi aku tidak perlu lama-lama bersamamu.” Ia kembali mondar mandir sambil memainkan busurnya yang berkilauan.

“Kudo Seungri, apa kau sudah menemukan mereka?” Arana Chae bertanya pada Kudo Seungri yang bertugas menemukan lokasi dimana target mereka berada. “Hey, Kudo Seungri?” Arana Chae menengok ke kiri dan ke kanan mencari Kudo Seungri, tapi tak terdengar suaranya sama sekali.

“Guk guk guk,,,” tiba-tiba dari balik kursi yang Kudo Seungri duduki tadi muncul seekor anjing. Busur yang dipegang Arana Chae jatuh ke lantai. Ternyata si Kudo itu sejak tadi sudah berubah menjadi anjing. Jadi, selama ini ia bicara panjang lebar tidak ada gunanya. Acckkkk, Arana Chae menahan kesal setengah mati.

“Guk guk,,, ” tanpa perasaan bersalah si anjing menggonggong lagi sambil mengibas-ibaskan ekornya.

***

Sudah 1 jam berlalu Jiyong duduk menunggu Dara datang, tapi gadis itu belum menampakkan batang hidungnya. Dara bilang akan menjemputnya di tempat tadi. Jiyong belum hafal jalan pulang ke arah rumah Dara jadi mau tak mau Jiyong menunggunya. Ketika ia akan berdiri, tak jauh darinya ia melihat gerombolan pria sedang berjalan menuju arahnya. Oh celaka, batinnya dalam hati. Buru-buru ia membereskan tasnya dan beranjak pergi. Tapi terlambat, salah satu dari gerombolan pria itu melihat dan memanggilnya.

“Hey pria kemayu, mau kemana kau?” Orang yang memanggil namanya berjalan menghampiri Jiyong dan memegang tasnya.

“Lepaskan tasku, Woobin!” Jiyong melepas paksa pegangan tangan orang tersebut dan melangkah mundur.

“Well well well, kau seperti melihat hantu saja.” Orang yang bernama Woobin itu tersenyum sinis seolah-olah sedang melihat mangsa bully-nya. Woobin dan gengnya terkenal sebagai geng pembuat onar di kampus. Sudah banyak orang yang menjadi incaran bully-nya. Jiyong termasuk salah satunya. Woobin mendekati Jiyong dan kembali menarik tasnya hingga Jiyong terpaksa jinjit mengimbangi tinggi Woobin.

“Le-lepaskan kataku!” Jiyong berusaha melepaskan diri namun pegangan Woobin sangat kuat. Woobin tertawa keras bersama teman-temannya dan terus mencemooh Jiyong. Ia selalu meledek Jiyong karena ia tahu Jiyong adalah pria kemayu.

“Kwon, kau tidak akan bisa melawanku. Silahkan panggil siapapun yang kau mau, karena tidak akan ada seorang pun yang akan menolongmu, hahahahaaaa…” Woobin kembali tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman prianya membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka.

“Woobin, hentikan!”

Seorang gadis berparas cantik yang satu kampus dengan mereka berusaha melerai Woobin dan Jiyong. Ia melepaskan pegangan tangan Woobin dan menarik Jiyong ke belakang punggungnya. “Sudah kubilang jangan berbuat onar disini!” Woobin hanya berdecak kencang mendengar peringatan gadis itu. “Jiyong, kau tak apa-apa kan?” Gadis cantik itu bertanya pada Jiyong yang masih berada di belakangnya.

“A-aku baik-baik saja Minyoung.” Jiyong mengangguk cepat. Tadi ia hanya sedikit shock dengan perbuatan Woobin.

“Minyoung, jangan ikut campur.” Woobin menahan kesal karena Minyong membela Jiyong.

“Kembalilah ke kelasmu Woobin.” Minyong menarik lengan Jiyong dan membawanya pergi, tak menghiraukan kata-kata Woobin. Woobin yang melihat hal itu tersulut emosinya. Ia merasa tersinggung. Ia lari dan menghadang mereka lalu menarik krah kaos Jiyong dengan kasar.

“Woobin, kubilang hentikan!” Bentak Minyong. Namun Woobin tak menghiraukan perkataan Minyoung dan terus menarik krah kaos Jiyong hingga Jiyong tambah ketakutan.

“Lepaskan dia bodoh.”

Mereka bertiga menoleh ke samping saat mendengar seseorang mengatakan hal itu. Ternyata yang bicara adalah Sandara yang sudah berdiri di antara mereka. Mata Jiyong melotot lebar ketika melihat Dara. Jiyong tak tahu bahwa sebenarnya Dara sudah sampai sejak tadi, namun Dara tak langsung menghampiri Jiyong, ia ingin melihat dulu sampai dimana Jiyong akan melawan. Tapi melihat pria itu tak berani melawan, akhirnya Dara ikut campur.

“Siapa yang kau bilang bodoh!?” dengan gusar Woobin bertanya.

“Tentu saja kau. Berhentilah mengganggunya, bodoh.” Dara menekankan kata bodoh membuat Woobin melepaskan tarikannya dan sekarang balik menatap Dara dengan marah.

“Kau berani bilang aku bodoh? Hahahaaaa…” Woobin tertawa kencang dan mendekati Dara. “Siapa kau?” tanyanya lagi.

“Kau tidak perlu tahu.” balas Dara dengan santai.

Woobin memandangi Dara dari atas sampai bawah dan malah terpesona pada kecantikannya. “Kau bukan pacarnya kan? Tidak mungkin si pria kemayu ini punya pacar secantik kau.” Woobin menjilat bibir bawahnya dan berjalan mengitari Dara yang berdiri tanpa ekspresi di wajahnya. “Hey, bagaimana kalau kau menjadi pacarku saja?” tawarnya sembari mencoba memegang dagu Dara, yang dengan spontan ditepis Dara.

“Jangan sok jual mahal, ayolah gadis cantik, siapa nam- ugghhh,,” Belum sempat woobin menyelesaikan kata-katanya, Dara sudah memelintir pergelangan tangannya dan membantingnya jatuh ke tanah, membuat semua orang di sekeliling mereka terbengong-bengong. Mereka bagai menonton pertunjukan gulat gratis di jalan. Yang paling shock tentu saja Jiyong. Ia tak menyangka Dara berani melakukan hal itu di kampusnya. Bahkan tanpa sadar, ia menggigit ujung tasnya.

Sambil jongkok Dara berbisik di telinga Woobin. “Jika lain kali kulihat kau masih mengganggunya, akan kupastikan hidupmu tak tenang.” Dara membetulkan jaket kulitnya yang sempat tertarik Woobin ketika ia akan jatuh. Diiringi tatapan orang-orang yang menontonnya, Dara menarik lengan Jiyong dan meninggalkan Woobin yang meringis kesakitan dan Minyoung yang masih terkejut. Mereka berdua mendekati motor Dara yang diparkir tak jauh dari posisi mereka saat ini.

Di parkiran motor, Jiyong tak mendengarkan perintah Dara yang menyuruhnya untuk memakai helm. Jiyong masih tak percaya Dara menolongnya. Kedua mata Jiyong mulai berair menandakan ia terharu dan akan menangis. Dara yang menyadari bahwa pikiran Jiyong masih melayang-layang, akhirnya memasangkan helm di kepala Jiyong. Ia menarik kepala Jiyong agar sedikit menunduk hingga tinggi mereka sejajar. Dara dan Jiyong saling berpandangan, tak menyadari bahwa dari jauh mereka berdua masih menjadi tontonan teman-teman kampus Jiyong.

“Ehemm..” Dara berdehem, membuat Jiyong menaikkan kepalanya dengan canggung. “Ayo pulang.” Ajak Dara. Dara memboncengi Jiyong yang sudah duduk di belakang. Meski motor sebentar lagi akan jalan, tak ada tanda-tanda Jiyong akan berpegangan, membuat Dara mengambil inisiatif duluan. Dara memegang kedua tangan Jiyong lalu mengaitkannya ke pinggang kecilnya dengan senyum kecil tersungging di bibirnya tanpa diketahui Jiyong yang mencoba mencuri-curi pandang ke arahnya.

***

Di rumah keluarga Park

Seorang wanita paruh baya tengah memasukkan sesuatu ke dalam sebuah gelas minuman berisi soju di ruang makan. Ia melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada siapapun yang melihat. Ia sedikit bersenandung dan membayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang meminumnya. “Ini akan jadi malam hebat, ohohohoohhhooo…” Wanita itu terkekeh geli.

“Eommaaaa…” terdengar suara Dara memanggilnya dari ruang tamu. Ia cepat-cepat menaruh gelas itu di dalam kulkas dan pergi ke ruang tamu.

Tak berapa lama, Jiyong berlari ke ruang makan. Mulutnya komat kamit seperti sedang membaca mantra. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. Tangannya mengibat-ngibas di depan mulutnya. Dari arah ruang tamu, terdengar suara tawa pecah karena Dara menyuruh Jiyong makan ramen pedas padahal Jiyong sangat tidak suka pedas. Dengan tergesa-gesa Jiyong mencari air untuk diminum. Ia langsung membuka kulkas dan segera menghabiskan minuman yang sebenarnya nyonya Park siapkan untuk suaminya. Jiyong merasa lega. Tenggorokannya yang serasa terbakar kini terasa menyegarkan.

***

“Yeobooooo,,,” Nyonya Kwon memanggil suaminya dengan suara menggoda keluar dari kamar mandi. Ia berjalan dengan sangat sexy mendekati Tuan Kwon. Mulut tuan Kwon menganga lebar saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan baju tidur tipis. Ia menelan ludah dalam-dalam. Sudah lama sekali istrinya tidak memakai pakaian seperti itu.

“Ye-yeah..” jawab tuan Kwon terbata-bata.

“Apa kau tidak merasa disini sangat hot?” tanya Nyonya Kwon sembari mengibas-ibaskan tangannya. Jantung tuan Kwon berdetak cepat. Matanya menangkap pemandangan luar biasa di depannya. Tubuh langsing, paras cantik dan kulit putih mulus istrinya membuat keringat tuan Kwon terasa bercucuran meski di kamar mereka terpasang pendingin ruangan. Tuan Kwon sebenarnya mengerti maksud istrinya, namun ia pura-pura tak tahu.

“Ti-tidak yeobo. Le-lebih baik kita cepat tidur saja, sudah malam.” jawabnya masih tergagap. Dengan pura-pura menguap, tuan Kwon beranjak ke kasur dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut tebalnya, meninggalkan istrinya yang bengong dengan tingkah laku anehnya.

Nyonya Kwon memajukan bibirnya. Ia menyilangkan kedua tangannya didada. Kesal karena rencana cemerlangnya gagal total. “Apa obatnya kurang kuat? Kenapa lama sekali reaksinya?”

***

Seorang wanita cantik bergaun putih selutut tengah berdiri di tepi sungai Han memandangi keindahan sungai tersebut di malam hari. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan tersenyum licik. Hampir 24 jam berlalu sejak ia memasukkan air penukar roh dalam minuman Kwon Jiyong dan Sandara Park. Ia tak sabar menantikan apa yang akan terjadi sesaat lagi. Ia memandang ke atas langit dan seolah-olah menantang seseorang. “Sudah kubilang kali ini aku yang akan menang, Inanna.” Ia kembali tersenyum dengan angkuhnya dan dalam sekejap tubuhnya hilang bersama dengan kencangnya angin malam yang datang tiba-tiba.

***

Jiyong merasa kepalanya terasa berat dan sedikit pusing ketika naik tangga. Dengan lunglai, ia berjalan menuju kamarnya yang berada di ujung melewati kamar Dara. Dari balik pintu, Jiyong memicingkan matanya ketika melihat Dara yang baru saja mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Bagai terhipnotis oleh adegan Dara mengeringkan rambut seperti di drama-drama yang ia tonton, Jiyong masuk ke dalam kamar Dara untuk melihatnya lebih dekat.

Dara terkejut melihat Jiyong yang seperti orang mabuk sudah ada di kamarnya. Lebih terkejut lagi ketika Jiyong membuka baju atasannya dan melepas celana panjangnya dengan liar, menyisakan hanya boxernya saja. Dara melihat mata Jiyong bukan seperti mata Jiyong yang biasanya. Matanya tajam, penuh aura membara dan sangat buas. Jiyong menggigit bibir bawahnya. Ia mendekati Dara lalu memeluknya.

“Kwon, apa yang kau lakukan!?”

Dara berusaha mendorong tubuh Jiyong menjauh darinya, tapi semakin ia dorong, tubuh Jiyong malah makin memeluknya erat. Jiyong yang sedang berada di bawah pengaruh obat kuat yang sudah dicampur dengan sedikit soju benar-benar tak terkendali. Ia mampu membuat Dara tak berkutik. Meski ia pria kemayu, tapi bagaimanapun ia tetap seorang pria, tenaganya bisa sangat kuat dan berbahaya. Dara berusaha menjatuhkan Jiyong dengan jurus-jurus taekwondonya, tapi hampir semuanya sia-sia. Jiyong sudah mengunci tubuhnya dengan erat.

“Sandaraaa, Sandaraa…” Jiyong berkali-kali mengigau memanggil nama Dara. Gadis itu mendongak ke atas dan mendapati kedua mata Jiyong tertutup. Untuk sesaat, cara Jiyong memanggil namanya terdengar seperti musik rock di telinga Dara. Jiyong bagai menyetrum pikiran Dara dengan pesonanya. Baru kali ini ia berpelukan intim dengan pria lain selain appa dan oppa-oppanya.

Meski tubuh Jiyong tak terlalu berotot tapi dadanya yang bidang membuat Dara berpikir Jiyong sangat manly saat ini, namun itu hanya berlangsung sebentar saja, karena tak lama setelah itu Dara menyadari bahwa apa sedang mereka lakukan itu salah. “Kwon, hentikan!” Kali ini Dara mendorong lebih kuat dan akhirnya dekapan Jiyong terlepas.

Jiyong yang masih setengah sadar, memegangi kepalanya dengan mata masih tertutup. “A-aku tak tahu, ta-tadi aku meminum segelas air di dalam kulkas. Setelah itu kepalaku terasa pening, dan tubuhku terasa sangat panas seperti orang yang terbakar. Dan begitu melihatmu, entah kenapa aku sangat ingin memelukmu.”

Dara mendengar penjelasan dari Jiyong dan kini mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Besok pagi ia akan memarahi Eomma-nya agar tak sembarangan menaruh minuman itu di dalam kulkas. “Sekarang lebih baik kau mandi saja Kwon, itu akan menenangkan pikiranmu.” Dara mendorong Jiyong agar secepatnya keluar dari kamarnya. Akan sangat berbahaya jika obat itu kembali bereaksi. Mumpung saat ini Jiyong masih tersadar. Tapi terlambat, karena Jiyong menarik tubuh Dara lebih dulu dan kembali mendekapnya. “Oh sial.” makinya.

Dara terpaksa harus menggunakan jurus pamungkasnya. Ia meninju perut Jiyong hingga Jiyong sedikit menunduk sehingga Dara bisa memelintir kepalanya lalu menjatuhkan tubuh Jiyong ke lantai. Tapi entah kekuatan apa yang merasuki tubuh Jiyong, dengan sekali gerakan Jiyong berhasil lolos dari pelintiran tangan Dara dan malah balik memeluknya dari belakang. Dara yang kaget karena Jiyong bisa membalas gerakannya dengan cepat menginjak kaki Jiyong hingga pelukannya terlepas dan ingin meninju wajah Jiyong agar ia cepat sadar.

Tapi lagi-lagi kekuatan dahsyat itu datang, Jiyong berhasil memegang tangan Dara dan kini mereka saling tarik-menarik tangan, hingga kedua kaki mereka juga saling menghadang. Akhirnya keduanya terjatuh bersamaan ke lantai dengan Jiyong menindih tubuh Dara dan tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan dengan kedua mata mereka saling memandang. Tepat saat itu, sekerjap cahaya keluar dari mulut mereka masing-masing dan sekelebat gambar-gambar tampak silih berganti, melaju dengan cepatnya diatas kepala mereka berdua, kemudian,

“Apa yang sedang kalian berdua lakukan!?”

***

Braakkk brrukkk brakk bruukkk….

Nyonya Kwon berulang kali bangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh dari lantai atas. Ia membangunkan tuan Kwon yang sudah tertidur lelap di atas kasur. Sebenarnya ia masih kesal dengan suaminya karena gagal berhoneymoon ria. Namun sejak tadi suara gaduh itu tidak hilang, malah makin bertambah kencang, membuat ia khawatir terjadi sesuatu dengan Dara dan Jiyong yang berada di lantai 2. Pikirnya ada penjahat yang datang malam-malam untuk merampok rumah mereka.

“Yeobo, yeobo, apa kau mendengar sesuatu?” tanya nyonya Kwon panik.

“Hhmmhhhmm, aku tidak mendengar apapun.” Tuan Kwon tak menghiraukan perkataan istrinya dan ingin kembali tidur. Tapi nyonya Kwon menyuruhnya bangun dan mengajaknya melihat keadaan di lantai atas. Terpaksa dengan mata masih setengah tertutup, tuan Kwon menuruti ucapan istrinya.

Nyonya Kwon sudah membawa sapu untuk berjaga-jaga. Diikuti suaminya dari belakang, mereka berdua mengendap-ngendap naik tangga dan melihat kamar Dara setengah terbuka. Nyonya Kwon segera berlari ke arah kamar Dara dan betapa kagetnya ia melihat Jiyong sedang menindih tubuh Dara dan bibir mereka menempel satu sama lain.

“Apa yang sedang kalian berdua lakukan!?”

***

<<back next>>

Advertisements

28 thoughts on “In Or Out [3] : The Destined Book

  1. Woahhh arwah dara dan jiyong bakal bertukar kahhh ? Ternyata jiyong meminum minuman itu kekkekkekekkek, omo eomma nya dara liat merekaaa ? Next chao thor fighting !!!

  2. Kyaaaa! Apa yg sedang kalian lakukan?! Keke roh mereka atau sikap mereka yg ketukar, kayanya klo roh agak horor karna mereka berarti tukeran tubuh kan????

  3. kwkwkwkkk asli gokil,,, kocak banget,,,
    dara di sini cool banget,n ngebayangin jiyong yg sok kemayu,,, ihhhh amit2 jiyong,,, (^O^)
    hhhmmm roh mereka ketukar kah???

  4. Tuan&nyonya kwon??? Authornya yg typo apa gimana nih._. Harusnya tuan&nyonya park kan???._. Pfffttt pdhl tadi pengen komen kalo sifat&kepribadian dara-jiyong mesti ditukar nih… ehhh nongol si cewe yg katanya abis ngasih air penukar roh ke minuman dara&jiyong.. tp jadinya bakal kayak secret garden ya???rohnya gausah ditukar. Kepribadiannya aja. Ga sanggup bayangin jiyong yg kemayu2 gitu soalnya XD omo omo omo>,< dara-jiyong bakal diapain nih??pemandangan yg diliat sm nyonya park itu sangat horror 😐 next chapt secepatnya juseyooo~ fighting authornim^^9

  5. lucu….sumpah.

    roh mereka ketuker ya.
    tapi setelah kejadia dara and jiyong jatuh kayaknya roh mereka balik lagi deh ke tubuh masing2 soalnya ada cahaya yg keluar dari mulut mereka….jadi penasaran..
    next thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s