MY GLOOMY WORLD [Chap. 4]

mgw

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Aku… adikmu!”

.

.

.

Gadis itu meregangkan tubuhnya. Merasa lelah dengan setumpuk tugas kuliah yang harus dikumpulkannya besok pagi. Aish, jika saja dosen itu bukanlah dosen ‘killer’, ia tak akan mati-matian seperti ini mengerjakan tugas mata kuliah yang paling dibencinya. Matematika bisnis. Bayangkan saja, Sandara telah duduk di kursi belajarnya selama lima jam penuh dan baru menyelesaikan setengah dari tugasnya. Astaga, ia memang cukup bodoh jika harus berurusan dengan angka-angka rumit itu.

Honey?”

Sandara memutar kursi belajarnya, “Ne, eommonim? Ah, mianhaeyo… eomma.”

Hye Mi tersenyum melihat Sandara yang tersenyum canggung ke arahnya. Gadis ini masih sering salah menyebut panggilan untuknya meskipun sudah tiga bulan lebih mereka tinggal di atap yang sama. Ya, waktu terasa begitu cepat semenjak Hye Mi resmi menjadi ibu tirinya.

“Masih belum menyelesaikan tugasmu?”

Sandara mengangguk.

“Mintalah Ji Yong untuk membantumu. Kau tahu? Otaknya sangat cemerlang jika mengenai pemecahan rumus-rumus. Atau haruskah aku yang memanggilnya kemari?”

Ani… aniyo, eomma. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tenang saja,” Sandara tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya, “Eomma… akan pergi?”

Manik hazel itu meneliti penampilan Hye Mi yang malam ini terlihat anggun dengan gaunpanjang berwarna keemasan. Wanita itu juga membawa mantel hitam di tangannya. Tak lupa dengan riasan sederhana namun tampak elegan yang menghiasi wajah yang tetap cantik itu walau telah menua.

“Apa kau lupa? Hari ini akan datang rekan bisnis appa-mu dari Jerman. Aku akan menemaninya untuk makan malam di luar, Dara-ya.”

Ah, benar. Seminggu yang lalu Jun Hyung memang pernah berbicara bahwa rekan bisnisnya akan datang ke Korea untuk membicarakan hubungan kerjasama antarperusahaan. Gadis itu bahkan sebelumnya telah diajak oleh Jun Hyung dan Hye Mi untuk ikut serta, namun bagaimana ia bisa datang jika tugasnya ini masih juga belum selesai? Aish, membuat kepalanya pening saja jika harus mengingat tugas sialan yang tak kunjung selesai ini.

Suara klakson dari luar rumah terdengar. Menandakan Jun Hyung yang sudah siap untuk berangkat. Hye Mi berpamitan pada Sandara, tak lupa mencium pipi gadis itu. Gadis itu tersenyum, senang mendapatkan kasih sayang yang baru dari Hye Mi. Meskipun ia bukan ibu kandungnya, namun tetap saja wanita itu selalu ramah dan memberikan kehangatan yang membuat Sandara selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya. Walaupun ia sempat membencinya, namun apalah daya yang harus ia lakukan ketika ayahnya telah memilih Hye Mi untuk menjadi pendamping hidupnya?

Sandara berdeham, merasa tak enak dengan tenggorokannya. Mengerjakan tugas selama lima jam tanpa asupan apapun membuat tenggorokannya kering. Ia juga baru menyadari bahwa ia telah melewatkan makan siang dan hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam perutnya belum diisi dengan makanan apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar, bermaksud untuk mengambil segelas air dan makanan berat yang dapat menghentikan suara perutnya yang keroncongan.

Tiba di dapur, gadis itu lebih memilih untuk menyeduh ramen dan membawanya ke kamar. Ia juga harus segera mengerjakan tugasnya, hingga ia memilih makanan instan itu untuk dibawa ke kamar dengan satu gelas penuh air putih. Langkahnya terhenti tepat di pintu kamar. Bukan, ia bukan bermaksud untuk masuk dengan segera ke kamar, namun karena ada gerak yang menginterupsinya. Ji Yong. Pria itu baru saja keluar dari kamarnya dengan hanya mengenakan kaus putih serta celana pendek hitam santainya.

Sandara melihat Ji Yong menguap dan meregangkan tubuhnya, mungkinkah pria itu baru bangun semenjak tadi siang? Seingatnya ia tak melihat pria itu lagi setelah tadi siang pria itu pamit tidur ketika ia baru sampai rumah sepulangnya dari kampus. Sungguh, apa pria itu beruang? Bisa-bisanya tertidur selama itu. Mereka kini berpandangan dengan Sandara yang memelototi Ji Yong dengan cara yang berlebihan.

Wae? Mengapa melihatku seperti itu?”

Gadis itu segera menunduk dan menggeleng berkali-kali. Ia lebih memilih untuk masuk ke kamarnya dibanding harus meladeni Ji Yong yang akhir-akhir ini jarang di rumah karena pekerjaan lemburnya. Oh, benar. Gadis itu kini mengingat bahwa Ji Yong mungkin lelah karena hampir seminggu penuh selalu menerima pekerjaan lembur. Ia bahkan jarang berkomunikasi dengan Ji Yong walaupun mereka tinggal di rumah yang sama, bahkan dengan kamar yang berdampingan.

Pria itu jauh lebih cuek semenjak pindah ke rumah ini. Ia bahkan jarang menyapa terlebih dahulu. Tak ada lagi senyum hangat yang terbit dari bibir pria itu yang dulu seringkali Sandara lihat. Mereka hanya berinteraksi seperlunya, sisanya mereka hanya sibuk diam dengan segala aktivitas masing-masing. Sandara merindukan Ji Yong yang dulu? Hmm… mungkin. Bagaimanapun, dengan status mereka kini yang telah menjadi saudara tiri mengharuskan ia memperhatikan Ji Yong.

“Buatkan ramen untukku.”

Titah Ji Yong dengan suara tegas sesaat ketika Sandara hampir memasuki kamarnya.

“Aku sedang mengerjakan tugas. Mian, oppa.”

Oppa? Cih, panggilan yang membuat Ji Yong merinding sendiri mendengarnya terlontar dari mulut Sandara. Dulu gadis itu mati-matian tak ingin memanggilnya dengan sebutan itu walaupun dengan perbedaan jarak usia yang terpaut lima tahun di antara mereka. Lalu sekarang gadis itu memanggilnya oppa? Sungguh menggelikan. Oh ya, Ji Yong baru menyadari bahwa gadis itu kini adiknya. Adik tirinya.

Ji Yong dengan lancang berdiri di depan pintu kamar Sandara, menghentikan gerak gadis itu yang akan menutup pintunya. Lebih tak tahu diri lagi Ji Yong merebut ramen di tangan Sandara dan langsung memakannya tanpa bisa Sandara cegah.

“Kau menentangku? Bagaimana bisa kau membantah oppa-mu?” seru Ji Yong dengan ramen yang memenuhi mulutnya.

Hazel itu melebar melihat Ji Yong dengan pongah berdiri di hadapannya, “Tapi aku ada tugas dan harus ku kumpulkan besok. Bagaimana bisa kau menyuruhku di saat seperti ini? Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam demi menyelesaikan tugas memuakkan ini? Aku belum makan sedari tadi dan…”

“Aish, diamlah,” Ji Yong menghentikan ocehan Sandara, “Buatlah ramen lagi untukmu dan aku akan membantumu mengerjakan tugas.”

*****

Empat bungkus ramen tergeletak di meja belajar dengan gelas besar yang tadinya terisi penuh kini telah kosong. Ji Yong dan Sandara masing-menghabiskan dua bungkus ramen saking laparnya. Pria itu menepati janjinya untuk membantu Sandara menyelesaikan tugasnya, ia bahkan telah menghabiskan waktu hampir satu jam duduk di hadapan monitor laptop untuk menyelesaikan tugas. Lihat? Bahkan pria itu dengan waktu singkat hampir menyelesaikan tugas Sandara tanpa kesulitan yang berarti. Otaknya memang brilian, seperti apa yang dikatakan Hye Mi.

Sandara menguap, setelah perutnya kenyang terisi maka kini matanya yang memberat. Kantuk menyerang dirinya yang kini tengah tengkurap memeluk guling di kasurnya. Ia sedari tadi hanya memperhatikan Ji Yong yang dengan serius tanpa berbicara sepatah katapun menyelesaikan tugasnya. Jika gadis itu sendiri yang mengerjakannya, mungkin ia harus rela untuk begadang hingga pagi menjelang. Ia harus bersyukur dengan bantuan dari pria itu.

“Tidurlah. Tugasmu hampir selesai. Setelah itu aku akan keluar dari kamarmu.”

“Aku akan menunggumu menyelesaikannya.”

Ji Yong memalingkan wajahnya pada Sandara, “Tak usah memaksakan diri, aku tahu kau mengantuk.”

“Tapi itu tugasku…”

“Aku yang akan menyelesaikannya, kau tenang saja.”

Sandara membeku. Merasa tersihir dengan senyuman Ji Yong. Walaupun itu hanya sekilas bahkan tak sampai satu detik, namun gadis itu bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat dengan begitu kencangnya. Oh Tuhan, jangan biarkan perasaan itu muncul kembali. Selama sebulan ini ia telah berusaha mati-matian untuk menganggap Ji Yong sebagai bagian dari keluarganya. Jangan biarkan perasaan yang selama ini telah coba ia kubur muncul kembali menggerogoti hatinya.

Gadis itu menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang mulai bermunculan di otaknya. Benar kata Ji Yong, lebih baik ia tidur saja. Lagipula tugasnya sudah ia percayakan pada pria yang dengan sukarela membantunya itu. Tak sampai tiga menit kemudian hingga Ji Yong dapat mendengar dengkuran halus Sandara. Gadis itu telah pergi ke alam mimpinya. Ia terlalu lelah karena tugas sialan itu.

Lima belas menit kemudian tugasnya selesai, Ji Yong meregangkan leher serta otot-otot tangannya yang pegal. Pria itu berbalik dan mendapati Sandara dengan posisi tengkurap dan masih erat memeluk guling kesayangannya. Ingin segera keluar, namun langkahnya malah menghampiri gadis itu dengan niatan untuk menyamankan posisi tidurnya. Dengan lengan kuatnya, Ji Yong menggendong Sandara hingga dalam posisi terlentang dan menaruh kepala gadis itu di bantal empuknya.

Pria itu memposisikan Sandara di posisi tidur yang paling nyaman, bahkan menyelimuti tubuh gadis itu. Ia melakukannya dengan perlahan demi tidak membangunkan gadis yang kini tengah tertidur lelap di hadapannya. Ji Yong mengamati wajah cantik itu, bagai tersihir karena memandanginya tanpa berkedip. Oh Tuhan, kutuklah ia yang dengan lancangnya masih menyimpan sejuta kasih sayang yang terpendam bagi Sandara yang kini telah menjadi adik tirinya. Walau dihalau bagaimanapun, rasa itu tak pernah padam meski dengan Ji Yong yang telah mencoba mengubur rasa sialan itu.

Perasaannya yang terlampau besar bagi Sandara menggerogoti hati hingga seluruh sendi-sendi tulangnya. Syarafnya hampir tak pernah bekerja dengan baik jika melihat gadis itu berada dalam jarak pandangnya. Ia sangat ingin merengkuh tubuh mungil ini, memilikinya hanya untuk dirinya sendiri. Namun apalah daya jika kini Tuhan menakdirkan mereka dengan status sialan ini? Maka dari itu, Ji Yong lebih memilih untuk menjadi pendiam dan jarang berinteraksi dengan Sandara. Ia lebih memilih untuk memendam lukanya sendiri.

Entah mendapat keberanian dari mana, Ji Yong kini mengikis jarak antara dirinya dan Sandara. Pria itu dengan perlahan memajukan wajahnya tepat di hadapan wajah gadis itu. Hidung mereka bersentuhan, lalu tak lama kemudian mempertemukan bibir mereka. Merasa asing dengan hembusan napas di wajahnya, mata gadis itu terbuka dan mendapati Ji Yong yang sedang memejamkan mata seraya mencium bibirnya.

Ji Yong menyadari Sandara terbangun, namun alih-alih berhenti, pria itu bahkan kini dengan santainya memagut mesra bibir cheri itu. Sandara menegang di tempatnya. Apa-apaan ini? Kejadian tak waras macam apa yang sedang dialaminya? Ia terbangun dan mendapati Ji Yong tengah mencumbunya. Bahkan kini benda lunak tak bertulang mulai mengetuk-ngetuk bibirnya untuk terbuka. Ji Yong ingin menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Sandara.

Dengan sisa kewarasan yang masih dimiliki, gadis itu berusaha mendorong tubuh Ji Yong untuk menjauh dan menghentikan hal nista padanya. Jangan gila, kini mereka telah bersaudara. Walaupun sebatas saudara tiri namun hal seperti ini sangatlah tidak pantas untuk terjadi. Makin besar usaha Sandara untuk mendorong tubuh Ji Yong, maka semakin besar pula Ji Yong bertahan untuk menikmati bibir gadis itu. Bahkan dengan tak sengaja menggigit bibir bawah Sandara, membuat ia berteriak nyeri.

Plak!

Seperti baru tersadar dari ketidakwarasannya, tubuh Ji Yong langsung menjauh dari Sandara dengan ekspresi panik terukir jelas di wajahnya. Gadis itu baru saja menampar Ji Yong. Menampar tepat di pipi mulusnya dengan kekuatan yang tak main-main.

“Sadarlah, Ji Yong! Aku ini adikmu!”

–TBC–

Advertisements

17 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 4]

  1. bisa ngrasain gmna jd daragon .
    sakiiit bgt ..
    gmna klo ntar mrreka pnya psangan msing” .apa sanggup liat.a ??
    pastii engga kn ..
    unie .buat mreka sama” agii dng kasiian liat mereka gni trus ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s