Marked by A Dragon [13] : Twist Of Circumstamces

marked-by-a-dragon

Author : Sparrow101 || Source : AFF ||  Translator : @azieziy

Author Pov

Dara berjalan menuju kamarnya. Itu tepat pukul 5:45 sore saat ia memutuskan untuk pergi dari kamar GD. Dia mengangkat tangannya ke udara, bahagia dengan cincin cartier di jarinya.

INI ADALAH CINCIN COUPLE!

AKU MENDAPATKAN SEBUAH CINCIN!

DIA JUGA MEMAKAINYA!

Bertiaklah denganku semuanya!!!!!

Dara menggoyang-goyangkan pinggulnya sepanjang jalan yang membuat pasien dan suster tertawa.

“Dia memberiku cincin couple!” katanya berseri-seri, menunjukkan cincinnya kepada mereka.

“Selamat”, para suster dan pasien membalasnya sementara ia tersenyum kepada mereka.

Dia masih terus tersenyum saat ia memasuki kamarnya meneriakkan himne ‘ini cincin couple’ yang di ciptakan oleh baby girl kita yang bernama Dara Park. Dia merangkak ke tempat tidur masih menatap kagum dengan sesuatu perak kecil di jarinya, tidak menyadari akan kehadiran Bommie di kamarnya.

“Ssantoki !!!”

Dara bangun dari tempat tidurnya menghadap Park Bom yang histeris. Tentu saja dia, Bommie, tidak tahu jika Dara menyelinap keluar dari kamarnya.

Bommie melangkah mendekati Dara,, dengan lengan disilangkan ke dadanya…. marah. dara hanya bisa menelan ludah, matanya melebar melihat sahabatnya marah padanya. Aku beritahu. Dia lebih menakutkan dari pada binatang buas.

“A-apakah ada sesuatu yang mengganggumu ? dia mencoba untuk berbicara dengan sedikit gagap.

“Tidak. Kamu, Ssantoki, yang bermasalah.” Hidungnya kembang kempis.

“Uh-oh” Dara memeluk dirinya bersama dengan jaket, yang GD berikan kepadanya,dengan kepala banteng merah tersulam di luarnya.

“Kamu seharusnya masih dalam masa penyembuhan tapi apa yang kamu lakukan, berkeliaran kemana-mana dan bertemu dengan seseorang yang memberimu ini?!” Bommie menyambar tangan Dara menunjukkan cincin di jarinya.

Baby girl hanya menatap cincin kemudian beralih ke Bom sejenak … dan tersenyum tidak menghiraukan reaksi gembira Bommie.

“Ini adalah cincin couple!” Dara tersenyum yang mendapat dua kali lipat rasa gembira Park Bom….. lebih tepatnya ekspresi terkejut.

Kemudian ruangan itu penuh dengan pekikan senang mereka, melompat seperti para gadis penggemar yang baru saja mendapat tanda tangan dari idola mereka.

“Apakah kamu…. Ciuman ?” Bom dengan semangat bertanya pada ssantoki nya yang sekarang memerah, mengingat hickey yang ada pada ‘leher berharga’ nya kemudian ia perlahan-lahan mengangguk.

“Omoneh!”

“Si Evil itu bahkan menandaiku!” Kata Dara menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

“Bagaimana bisa dia-tunggu sebentar,” Lalu dengan canggung melepaskan tangan Dara darinya, membuka jaket yang menutupinya.

“Kamu mempunyai pria yang posesif, Ssantoki.” Bommie menggigit lidahnya saat dia melihat hickey di leher rabbit kesayangannya. “Kamu sudah benar-benar melupakan Taeyang?”

Dengan penyebutan namanya, Dara memasang wajah kesalnya tidak menyadari jika mata mengintai Bom mengamati reaksinya.

“Orang ini … siapa dia?” Tanya Bom.

“Hah? GD?” Dara bingung mendengar pertanyaan tiba-tiba yang Bom lontarkan.

“Ah, GD namanya? Apakah kamu mencintainya?” Dengan nada serius.

Hening.

“Taeyang … apakah kamu masih mencintainya?” Tanya Bom lagi saat ia tidak menerima respon dari Dara.

“Apa-apaan? Tentu saja tidak! Tidak lagi!” Dia tiba-tiba menjawab, mengernyit.

“Syukurlah, kalau begitu!” Kata Bom bertepuk tangan, menyeringai seperti orang idiot.

“Yah! Lima kata emas untukmu, Bommie,” Dara menghadapnya masih dengan ekspresi kesalnya. “JANGAN-MENYEBUT-NAMA-MENJIJIKKAN-ITU.”

“Arraseo.” Bom tertawa dengan sikap kekanak-kanakan sahabatnya yang menurutnya itu lucu ketika Dara mengatakan lima kata emas tepat di depan wajahnya. “Hanya memastikan.”

“Aku sangat yakin itu! Apakah aku tidak memberitahumu tentang hal itu?!” jeritnya, menempatkan kedua tangan pada pinggangnya.

Bommie hanya menepuk-nepuk kepala Dara kemudian duduk di depan tempat tidur tersenyum dengan penuh makna memikirkan Ssantoki nya bisa melupakan masa lalunya.

“Yah! Jangan menepuk-nepuk kepalaku! Aku serius!” Dia cemberut.

Bommie hanya mengangkat bahu tidak menghiraukan rengekan Dara.

“Aku di sini untuk membantumu berkemas-kemas, Ssantoki. Kita akan pulang besok

sore.” Dia malah memberi pernyataan.

“Aku sudah boleh pulang?”

“Kenapa dengan reaksimu? kamu berencana untuk tetap tinggal di sini?” Dia tertawa kecil.

“Tidak. Ini tidak seperti itu!” Dara cemberut lagi.

“Kamu bisa memberikan priamu ciuman selamat tinggal, Ssantoki!” Dia bercanda.

“Yah!”

“Omo! Aku hanya bermain-main! Lihatlah kamu!” Sambil menunjuk wajah kecewa Dara.

Dara menginjak-nginjakkan kakinya kemudian sembarangan merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Ottokae? Dia akan membuka perbannya lusa!” Dia merengek.

“Perban?” Bommie duduk di tepi tempat tidur, menatap Dara.

Kemudian Dara menceritakan pertama kalinya ia bertemu GD termasuk gurauan antara mereka, tidak hilang satu detailpun dari hari-hari dimana ia mengunjunginya.

“Bagaimana bisa dia jatuh hati padamu!?” Bommie sedikit terkejut dengan cerita tentang seorang pria yang tidak bisa melihat sahabatnya tapi bisa jatuh cinta pada Ssantoki nya.

“Aku menarik secara alami, Bommie.” Kata Dara bangga.

“Kelinci sombong. Bagaimanapun, kamu bisa mengunjunginya lusa, bukan begitu?” ia tersenyum pada baby rabbit kesayangannya.

“Aku akan melakukannya.” Dia menanggapinya dengan tersenyum.

**

Nurse Pov

Aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa baby girl kesayangan kami bisa melukiskan senyuman pada wajah Jiyong sekarang. Dia tidak bisa berhenti tapi terus menunjukkan cincin Cartier di jarinnya lalu ia akan mengatakan bahwa ‘baby girl adalah milikku sekarang’  berulang-ulang. Orang normal akan merasa kesal dengan dia yang meneriakkan kalimat yang sama sepanjang waktu. tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu? Aku tidak bisa menahan senyum dan ekspresi gembira ketika dia berbicara tentang gadisnya. Dia sedang di mabuk cinta….

“Jam berapa ini?” Dia bertanya.

Aku melirik jam tanganku. “07:45.”

Dia melirik pintu seperti sedang menghitung menit dalam pikirannya. Setelah beberapa saat, pintu terbuka.

Gadis itu ada di sini.

Dia meletakkan kamenya di atas meja.

“Selamat pagi….”, Dia malu-malu membungkuk padaku kemudian menggigit bibirnya menghadap GD.

“Baby …. ke marilah” GD menepuk ruang kosong di sofa, masih menampakkan seringai di wajahnya. Gadis itu melangkah mendekati GD dan memberinya ciuman singkat di bibirnya yang membuatnya memperdalam ciuman antara mereka. dia menarik Dara untuk lebih dekat dengannya.

Aku menyeringai melihat mereka tenggelam dalam dunia mereka. Aku meraih kamera di atas meja, mengatur untuk membidik.

Klik

Klik

Klik

Aku periksa hasilnya. Lalu ini dia.

Si Dragon menciumnya dengan lembut, mengistirahatkan lengannya di pinggang Dara takut kehilangan dia.

Tangan gadis itu di dadanya memegang baju rumah sakitnya, bersandar erat padanya. Aku cukup yakin dia gemetar sekarang dengan sensasi yang GD berikan untuknya.

Klik.

GD mengusap bibirnya sekarang dengan jarinya kemudian menariknya lebih dekat, mendekatkan hidungnya di lehernya.

“G!” Dia menggigil saat ia menghirup aromanya, menanamkan jari-jarinya di lengannya.

“Kamu mengejekku girl …” kemudian mengklaim bibirnya lagi. “… bagaimana mungkin aromamu seperti susu?” katanya di antara ciuman mereka.

O ya, aku tidak lelah melihat mereka. Aku kagum dengan bagaimana GD mengatakan kata-kata manis padanya. Aku mengenal dia sebagai seorang pria dengan kata-kata yang logis. Tapi hari ini … tidak ada goresan itu, sejak hari dimana ia bertemu dengannya, semua kata logis hilang, semua  sifat kerasnya secara perlahan mencair menjadi kelembutan, dinding pemisah yang ia bangun selama ini hilang … Aku bahkan bisa membaca ekspresinya dengan mudah tidak seperti hari-harinya tanpa DIA. Dia tak terduga, hampa, poke face.

Hehe, Aku tahu kamu bisa membayangkan kan, ya?

Tapi, Aku khawatir sekarang … mereka berciuman seperti tidak ada seseorang di dalam ruangan ini.

Persetan dengan anak-anak ini. Mereka tidak menghiraukan keberadaanku.

Aku menempatkan kembali kamera ke meja, menggelengkan kepala.

“Omegosh!” Aku menoleh ke arah mereka ketika aku mendengar dia menjerit ngeri? Dia sangat merah menutupi bagian atas tubuhnya dengan kedua lengannya.

“Dada yang imut, baby girl.” Dengan nakal dia menyeringai padanya.

“G! kamu sangat pervert!” desisnya melebarkan mata.” Ia menunjuknya dengan malu-malu.

“Apa? Aku hanya merasakannya.” Tanyanya dengan polos.

“Merasakannya? kamu … kamu MENYENTUH itu!” Katanya cukup histeris.

Dia tertawa hangat dengan reaksinya.

**

Sandara Pov

AKU TIDAK PERCAYA !!!

DIA BARU SAJA MENYENTUH B *** S KU DENGAN TANGANNYA!

Ya benar, punya ku kecil, hampir seperti ukuran dada anak kecil, tapi hei, itu tetep aja masih dada!

“Merasakannya? kamu … kamu menyentuhnya!” Ucapku sambil menunjuk dia seperti seorang kriminal yang hanya menghasilkan tertawa keras darinya.

Itu dia! Aku akan membunuhnya!

“GD!” Aku menyerangnya dengan tendangan, dengan pukulan dan dengan- “ekk!”

Aku berteriak terkejut saat ia meraih pinggangku masih tertawa dengan keras. Dia menidurkanku di sofa, aku mencoba untuk membebaskan diri tapi dia sangat kuat.

“Aku menyukainya, baby girl…” Dia kemudian berbisik ke telingaku. “Aku ingin melihatmu sekarang … “ katanya menghujaniku dengan ciuman-ciuman kecil.

Aku menahan napas berusaha menenangkan kegelisahanku ok, hatiku. Ini resmi, pertanyaan Bommie terjawab.

Aku sedang jatuh cinta!

‘GD, namanya? Apakah kamu mencintainya?’

Pertanyaan Boom terngiang-ngiang dalam pikiranku.

“Ya.” dengan tidak sadar aku menjawab Bommie.

“Huh?” Tanyanya bingung dengan kata ‘ya’ dariku.

“Tidak ada”, kataku mencapai bibirnya lalu dengan cepat membebaskan diri darinya. “Aku ingin menenangkan ini …” kataku sambil menunjuk hatiku dan berlari ke kamar mandi. Seringai nakalnya tak luput dari pandanganku. Aku berbalik sekali lagi ketika aku berada di pintu kamar mandi, mengucapkan kata ‘I love you’ yang aku yakin dia tidak melihat. Aku melihat ke arah suster dan tersenyum. Tapi tunggu dulu, dia memegang kameraku? Dia tidak mengambil video kejadian tadi, bukan?

Aku melihatnya mengedipkan mata padaku yang menjawab pertanyaanku. Aku menaruh jari telunjukku di antara bibirku mengatakan kalimat ‘jangan katakan padanya’ lewat mataku.

Dia tersenyum padaku, mengerti maksud yang aku siratkan. Aku kemudian menatap GD yang masih tersenyum sebelum aku menutup pintu. Aku tidak tahu apakah ini hanya suasana sesaat atau ini perasaanku untuknya, bahwa segala sesuatunya berjalan dalam gerakan lambat. Aku mengernyit sedikit ketika hatiku berdebar kencang untuk alasan yang tidak diketahui. Dengan ragu-ragu aku menutup pintu. Ketika aku di dalam aku menyalakan keran dari wastafel.

Aku memercik air di wajahku sementara membiarkan aliran air bebas dari keran. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin.

“Tenang, baby girl …” ucapku menangkup wajahku dengan tanganku. Aku masih memerah, iya. Aku tidak pernah melihat wajahku bahagia seperti ini. Aku tidak percaya bahwa aku jatuh cinta lagi. Kemudian ketakutan menyelimutiku. “Dia berbeda, ok?” aku meyakinkan diri.

Aku memercikkan air di wajaku lagi mencoba untuk mendinginkan pikiran panikku. Lalu aku menyambar handuk, menyeka wajahku. Aku melirik cermin untuk terakhir kalinya, senyum terpasang di wajahku tanpa sadar.

**

Author Pov

Hanya setelah pintu kamar mandi tertutup, pintu utama kamar GD terbuka, muncullah Moon Geun Young.

Keduanya GD dan suster berpaling ke arahnya kompak. Ada sesuatu yang terjadi dari ekspresi mukanya yang pucat.

“J-Jiyong …” dia menyapanya lalu cepat-cepat menyerbu mendekatinya. “Lee Minhoo di sini.”

Itu hanya sebuah pernyataan biasa tapi membuatnya sangat kaget. Dilihat dari ekspresinya, dia sangat takut dengan kabar ini. Dia melirik tajam ke arah kamar mandi di mana  baby girl sekarang berada.

“Sh * t!” Ia mengumpat, membuat suster tersentak dari tempatnya. Tiba-tiba suasana berubah menjadi kacau dari suasana hangat dan senang beberapa waktu lalu.

Dia berdiri mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia mondar-mandir memikirkan hal itu.

“Baby girl di sini …” ucapnya, ekspresinya penuh dengan ketakutan.

“Kita harus mengeluarkan dia dari sini, Jiyong.” ucapnya.

“Tidak.” katanyanya dengan gigi terkatup.

“Kamu tidak bisa melindunginya dengan kondisi seperti itu, Jiyong.”

“Sialan!”

“Ini bukan waktu yang tepat untuk keras kepala, Master Kwon.”

Dia menghela napas dalam-dalam membenci dirinya sendiri karena dalam situasi ini.

“Kamu tahu kamu tidak bisa melindunginya dari kekuatan Minhoo, Jiyong.” Katanya sesuai dengan kenyataan. Dia tahu cukup baik sejauh mana Minhoo bisa membuat masternya menderita dan  membalas dendam kepadanya. Pria itu bahkan dijinakkan ayah Jiyong dan berhasil sampai menjadi pemimpin YG underground arena. Jika hal itu sampai terjadi bahwa ia melihat baby girl, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakan nya agar bisa menyiksa Jiyong.

Dia menyeringai dengan lemah memperbaiki perhatiannya tak tentu arah. Dia seperti tidak sedang berada di dunianya dan kebingungan. Di duduk di sofa memangku wajahnya dengan telapak tangannya. Tidak lama kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi tidak menyadari keributan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Dia menatap pada ketiganya kemudian memfokuskan pandangannya  pada GD yang duduk di sofa. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi tapi dia hanya menganggapnya sebagai rasa tidak nyamannya.

“G, apa yang terjadi?” Serunya menelusuri langkah ke arahnya.

“Keluar.” Kata GD dalam suara monoton, tidak repot-repot untuk menatapnya.

Dara tidak mampu mengambil langkah lain, berdiri membeku di tempatnya, bingung dengan sikap dinginnya yang berubah tiba-tiba.

“Apa yang terjadi padamu sekarang, G?” Katanya cukup canggung.

**

Nurse Pov

GD masih membungkuk dengan tangan memangku wajahnya.

“Apa yang terjadi padamu, G.” Aku mendengar dia bertanya masih berdiri jauh darinya.

Aku bisa merasakan napas berat GD ditekan karena aku berdiri di sampingnya. Aku memfokuskan pandanganku pada GD dan aku melihat bibirnya gemetar. Aku menatap Nona Young bertanya melalui mataku untuk membantuku menghentikan penderitaannya.

Tapi ia lebih terluka melihat GD seperti itu. Dia memalingkan muka mencoba untuk mempertahankan poker facenya.

Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum dia mendongak.

“Apakah kamu tuli atau jalang yang lamban ?!” teriaknya. “Aku katakana cepat keluar!”

“Yah! Jangan panggil aku jalang!” Dia menjawabnya tak mau kalah.

“Hanya keluarlah.” Dia terlihat seperti memohon tapi kurasa gadis itu tidak dapat membaca ekspresinya sekarang karena ia terlalu sibuk dengan GD yang memanggilnya dengan sebutan jalang.

Aku tahu jika dia sangat membenci kata itu, aku tahu bahwa GD cukup sensitif tentang hal itu juga, tapi ia memilih untuk menggunakannya sekarang padanya.

“Hei Dami!” Serunya, yang mengejutkanku. Aku mendongak dan matanya sekarang berkilau dengan air mata yang akan jatuh setiap saat. “Apakah dia …” dia menghela napas masih menyeka air mata. “Apakah dia sudah mm-minum obat?”

Aku melirik ke arah GD lalu aku memlihat rahangnya terkatup, buku jarinya menjadi pucat.

Aku juga, aku terluka melihat dan melibatkan diri dalam menyakiti gadis itu. Apa yang kurasakan menjadi dua kali lipat ketika ia bertanya padaku apakah dia sudah minum obat nya. Ia mesti sangat kesulitan untuk menemukan alasan mengapa GD bertingkah seperti itu.

“G, kamu harus minum obat sekarang.” Katanya dengan suara rendah ia mulai mondar-mandir mendekati GD.

“Jangan mendekat, tetaplah berada di tempatmu!” Dia berteriak keras.

**

Jiyong Pov

Aku bisa merasakan diriku mati rasa sekarang dari kata-kata yang keluar dari mulutku. Ini sangat aneh bagaimana bisa aku menangkap setiap gerakannya dan setiap hembusan napas yang ia hirup.

Hatiku tercekat lebih saat dia bertanya pada suster apakah aku sudah meminum obatku.

Aku sangat butuh obat sekarang. Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku tertidur dan biarkan aku menganggap kejadian ini sebagai mimpi buruk.

“G, kamu harus minum obat sekarang.” Aku mendengarnya berkata yang membuat hatiku seperti tertusuk-tusuk pisau. Dia melangkah dengan cepat mendekatiku yang membuatku khawatir.

Aku tahu dengan baik bahwa setelah ia ada di dekatku,  aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menariknya dalam pelukanku dan tidak akan pernah membiarkan ia pergi. Aku tidak bisa menjanjikan diriku untuk bisa menyembunyikan keinginanku hanya untuk bersamanya. Aku sekarang berada di puncak untuk mengontrol diriku sendiri. Aku tidak bisa berdiri jika dia ada di dekatku. Aku tidak bisa …

“Jangan bergerak, dan tetaplah pada posisimu sekarang!” Aku marah berteriak, terkejut dengan kemarahanku.

Aku mendengar dia terkejut. Sialan! Sialan! Sialan!

“Tidak bisakah kamu melihat girl? Permainan telah berakhir!” jerit Moon.

Aku terdiam saat rangkaian umpatan terus terngiang dalam pikiranku sekarang.

**

Sandara Pov

“Tidak bisakah kamu melihat girl? Permainan sudah berakhir!” Aku menatapnya penuh tanya, mengingat setiap kata-katanya saat kami berbicara tentang GD. Jadi itu hanya sebuah permainan. Aku seperti idiot sekarang sementara aku memfokuskan pandanganku kembali  pada GD yang tetap tenang dengan situasi ini.

“Apakah itu sebuah permainan bagimu, G?” Tanyaku.

Aku tertawa canggung karena aku tidak mendapat respon darinya.

“Apakah itu sebuah permainan bagimu, Dami?” tanyaku pada suster tapi dia membungkuk tidak menatap mataku.

Baiklah aku bisa melalui ini. Terlalu banyak kepura-puraan dan kebohongan, penipuan dan… perasaan palsu darinya.

Aku tersesat dengan dugaan yang salah, bukan begitu?, dugaan tentang dia, mencintaiku karena aku mencintainya.

Lalu sebuah pikiran menyadarkanku.

Apakah ia pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku?

Apakah ia pernah mengatakan bahwa ia menginginkanku dalam hidupnya?

Betapa bodohnya aku? Aku berada di situasi ini sebelumnya dan aku pikir aku telah belajar banyak dari itu, tetapi aku sangat bodoh cukup percaya diri dengan memberi diriku kesempatan lain lagi.

“Apa artinya aku bagimu, aku hanya seorang jalang yang masuk tanpa izin di ruangan ini.” Kataku dengan melebarkan lenganku, melemparkan senyuman lemah untuk masing-masing dari mereka. Aku ingin menahan langkahku dan hanya keluar dari ruangan ini. Tapi rasa sakit ini tak tertahankan. Aku menutup mulutku untuk menghentikan tangisanku tapi satu isakan keluar dariku.

Aku mengambil kameraku di atas meja dan berlari menjauh ke pintu. Aku menggigit bibir dalam setiap langkahku dan air mata jatuh bebas dari mataku. Mungkin aku lupa mematikan kran di kamar mandi? Mereka seperti sungai yang tak berujung.

Aku membuka pintu dan berbalik untuk terakhir kalinya. Aku menghela napas dalam-dalam dan melontarkan senyum yang mengejutkan suster dan gadis yang berpakaian lucu itu.

“Maaf aku masuk ruangan yang salah.” Kemudian aku lari dan lari dari ruangan itu.

Ini adalah kesalahan yang melibatkan diri ini terlalu banyak dengan orang asing. Harusnya aku tidak pernah memasuki ruangan itu. Aku berharap aku melewatkan waktu saat aku bertemu dengannya.

Aku tidak punya arah tujuan sekarang dan penglihatanku kabur membuatku menabrak dua sosok orang.

**

Ps:

~mian lama gag posting ~ banyak kerjaan yang harus di selesaikan~ semoga next chap gag telat lagi updatenya~ tapi jangan terlalu banyak berharap.

selalu tinggalkan jejak kalian guys, biar aku gag males translate,, kkk ~ see you on next chapie ^^

 

<< Back  Next >>

Advertisements

25 thoughts on “Marked by A Dragon [13] : Twist Of Circumstamces

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s