[Oneshoot] Ladybird

ladybird

L A D Y B I R D,


“You came to me by coincidence and embraced me, as we blankly stared at each other. you said goodbye.”


PARK SANDARA | KWON JIYONG | PARK CHANYOL
Vignette    Romance, Slice of Life, Sad | G

©2015, Haru

***

“Jiyong-aaaah tunggu akuuu. Kau berlari terlalu cepat.

“Darongie lihat ada kumbang kepik, uwa! Lihat warna merahnya!”

“Aish kau ini seperti baru hidup kemarin saja, serangga ini banyak di kebun kakekku. Kakekku bilang ia bersahabat dengan para kumbang.”

“Benarkah?”

“Ng! Kakekku juga berkata bahwa jika sepasang kekasih menemukan dua kumbang kepik saat musim dingin usai, cinta mereka akan abadi selamanya.”

“Musim dingin usai? Dara-ya saat masa itu tiba ayo kita cari kumbang kepik bersama kau mau kan? Agar kita tetap bersama selamanya.”

“Kwon Jiyongie kita baru kelas 6 SD.”

“Ibuku bilang cinta tidak mengenal usia. Jadi, aku boleh mencintaimu Darongie.”

“Baiklah, sepertinya aku juga akan mencintaimu. Ayo kita cari saat masa itu datang.”

Memori itu terekam jelas sekali sampai saat ini. Aku dan Jiyong memang sudah kenal sejak kecil, dia adalah penolongku disaat aku dilanda kesepian karena ayah dan ibuku harus bekerja diluat kota. Entah, sampai saat ini kami akan masuk dunia perkuliahan dia masih menjadi penolongku sekaligus sebagai kekasihku.

Saat itu, kami hanya menemukan satu kumbang kepik namun ia bersikeras tetap akan mencari satu kumbang lainnya.

“Aigoo Darongie jangan bergerak jebal, bagaimana aku bisa menggambarmu jika kau terus bergerak. Sedikit lagi….. Okay! Sudah selesai.”

“Ya! Aku duduk di bawah pohon setengah jam lalu yang kau gambar adalah rumah. Apa wajahku terlihat seperti bangunan untukmu?”

Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang memerah dan bibirku yang mengerucut.

“Hahaha Darongie aku menggambar rumah untuk kita nanti, aku akan menjadi mahasiswa arsitektur kau tau itukan?”

Aku masih memasang wajah yang sama, aku memalingkan wajahku ke arah sketsa yang ia buat. Rumah itu berada di tengah-tengah pohon yang rindang dengan banyak pintu kaca yang panjang dan ukiran kayu yang cantik. Ia menggambarnya dengan  begitu sempurna.

Ia mengambil sketsanya dan menulis sebuah kalimat diatas sketsa yang bertuliskan ‘Sandara x Jiyong will live here together soon.’

“Kita akan banyak mendapat pasangan kumbang disana sehingga kita akan terus bersama-sama. Saranghae.” Ia mengecup pipi kanan dan kiriku lalu beralih ke kening dan yang terakhir jatuh di bibirku.

Perasaanku saat ini sungguh tidak karuan karena pengumuman masuk universitas akan diumumkan hari ini. Aku terus membolak-balikan kotak masuk e-mail berharap segera dapat pesan baik.

Suara ponselku berdering yang menandakan ada telepon. Jiyongie.

“Yoboseyo?”

“DARONGIE! AKU RESMI MENJADI MAHASISWA ARSITEKTUR!”

“Aish! Selalu berteriak seperti tarzan jika bersemangat. Menyebalkan.”

“Hehe mianhae honeya, bagaima dengan calon mahasiswa sastra disana?”

“Belum ada pesan, huh. Sepertinya aku tidak diterima.”

“Ya! Kau harus diterima agar aku selalu berada didekatmu araseo?”

“Tapi kita akan berada di kampus yang berbeda Kwon Jiyongie.” Jawabku malas sambil kembali me-refresh e-mail dan tanpa disangka  pemberitahuan itu akhirnya datang! Aku resmi menjadi mahasiswa sastra!

“KYAAAA!! KWON JIYONGIE AKU DITERIMA MENJADI MAHASISWA SAS…..” Ia menutup sambungan teleponnya sebelum aku menyelesaikan  ucapanku, menyebalkan.

“DARA-YA! CHUKKAE!” Suara Jiyong terdengar dari jendela kamarku, ia ada dibawah sambil tersenyum lebar dan mengangkat tangannya keatas membentuk hati.

Hari pertama menempati tempat baru dimulai, Jiyong membantuku berkemas. Ia sudah terlebih dahulu pindah karena terlalu bersemangat.

“Honeya! Barang-barangmu sunggu banyak sekali. Kau ini tidak berniat untuk pulang ya?”

“Kau seperti membaca pikiranku Jiyongie.” Aku terkikik pelan sambil mengacak-acak rambutnya.

Aku akan tinggal di apartemen yang cukup luas ini selama kuliah nanti, orang tuaku sungguh memfasilitasi semua namun tak pernah turut andil dalam seluruh kegiatanku.

“Gomawo Jiyongie, kau harus sering kesini ara?”

“Hey, jarak kita hanya 24 km honeya! Kau juga bisa sering ke apartemenku jika ada waktu, ara?”

Aku tertawa mendengarnya menduplikat cara pengucapanku, ah…. Aku mencintainya. Sungguh.

Jiyongi memutuskan untuk menginap setelah lelah membantu mengemas dan merapikan barang di apartemenku yang sangat banyak dan penuh dengan buku-buku baik novel maupun ilmu pengetahuan, dia tertidur lelap di sofa didepan TV. Wajahnya terlihat sungguh kelelahan, aku merasa bersalah padanya. Aku duduk dibawah sofa dan memandangi wajahnya sambil membelainya, aku ingin terus seperti ini.

Pagi-pagi sekali aku terbangun mendengar suata berisik orang sedang memasak. Dan hey, aku ada ditempat tidur. Bukankah aku ada didekat sofa?

Aku beranjak ke dapur dan melihat Jiyong berusaha keras membuat sarapan.

“Omo! Annyeong honeya! Bagaimana tidurmu?”

Aku menjawabnya dengan senyuman lebar dan memeluknya dari belakang.

“Gomawo Jiyongie, Kwon Jiyongie.”

Ia tertawa dan menjawabnya dengan canda tawa. Ia benar-benar lelaki yang tak akan didapat dimanapun.

“Darongie, aku akan mengunjungi mu lagi nanti. Okay honeya?”

“Baiklah, hubungi aku terlebih dahulu. Aku akan membuat sesuatu untuk kita makan nanti, ara?”

Ia melambaikan tangannya bersemangat dan memberikan flying kiss padaku. Aku mengulaskan senyum bahagia padanya dengan tangan yang terus mengayun.

Sungguh aku tak tau waktu cepat berlalu dan aku akan menjadi mahasiswa besok. Kampusku tidak jauh dari apartemen jadi aku bisa menempuhnya dengan berjalan kaki.

Aku mulai menulis cerita seperti kebiasaanku saat kecil, aku akan membuat cerita pendek mengenai kumbang yang mulai beranjak dewasa dan jatuh cinta. Aku menjadikan cerita ini sebagai diary tidak langsung, apa yang aku lewati kemarin dengan Jiyong akan dituliskan dalam cerita ini.

Hari-hari berlalu begitu cepat dan aku belajar begitu keras untuk mendapat nilai bagus seperti semester sebelumnya. Ya aku sudah semester 3 sekarang sungguh waktu cepat berlalu.

Jiyongie sudah mulai disibukkan dengan tugas-tugasnya yang masuk ke level yang lebih sulit. Aku memutuskan untuk mengunjunginya sepulang dari kampus. Aku sering mengunjunginya saat waktu renggang seperti saat ini, besok tidak ada jadwal kuliah jadi aku dapat menghabiskan waktu disana.

Di kampus aku memiliki teman baru yang sangat berisik dan selalu ramai jika berada didekatnya.

“Dara-ya! Omona! Mengapa aku bodoh sekali di pelajaran ini mengapaaaaa?” Teriak Bom selesai pelajaran mengenai filsafat.

Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang begitu heboh, ia adalah teman sekelasku di semester ini.

Dari jauh terlihat seorang lelaki tinggi dengan wajah yang begitu manis berdiri dibalik pohon cemara, ia terlihat sangat gugup. Sepertinya mahasiswa baru, wajahnya masih lugu.

“A-annyeong Dara nuna.” Sapa lelaki itu dengan wajah yang menunduk, lalu tersenyum ke arahku.

“Hanya Dara saja? Hanya Dara yang ada disini? Aigoo, apa aku hanya ke bungkusan snack kosong yang sehabis dimakan lalu menimbulkan lemak? Omo! Kau mahasiwa baru jeongmal! Park Chanyeol-a? Benarkan? Aigoo… Aigoo. Ayo kita pergi saja Dara-ya, annyeong Chanyeol! Aigoo tidak jadi annyeong jeongmaal.”

Kami pergi begitu saja dan ia hanya mematung mendengar Bommie berbicara, gadis ini sungguh menimbulkan keributan.

Aku membuka pintu apartemennya, aku memegang kunci duplikasi yang diberikan Jiyong agar aku dapat kemari kapan saja sekalipun Jiyong tidak ada ditempat. Bentuk kepercayaan untukku mungkin?

Benar, ia tidak ada disana dan kamarnya begitu acak-acakan. Banyak kertas, baju kotor, segala macam perlengkapan lelaki ada disana. Aku memutuskan merapikan semuanya dan memasakkan sup ayam untuknya, aku akan bermalam disini.

Saat merapikan tumpukan kertas, aku melihat sketsa wajah perempuan berambut pendek dengan seulas senyum yang manis. Wajahnya tak seperti diriku, mungkin temannya. Mungkin ini adalah tugasnya, aku berusaha berpikir jernih.

Sudah lewat dari jam 5 sore namun Jiyongie belum pulang, pesanku pun tidak dibalas olehnya.

Sup ayamnya hampir dingin, bagaimana ini?

“Aku pu….. Darongie! Uwa! Aku senang sekali kau kemari lagi honeya, apa ini? Sup ayam? Kau yang terbaik.” Serunya sambil memelukku dan mencium pipiku.

Ia membawa begitu banyak barang, gulungan kertas itu benar-benar banyak. Rasa curigaku perlahan memudar.

“Gomawo honeya, kau merapikan semua ini dan memasakan masakan untukku. Uwaaah!”

“Bagaimana kuliahmu?”

“Sepertinya aku tak akan punya cukup waktu seperti dulu lagi Darongie, para dosen itu membuatku gila. Aku kira menjadi arsitek itu mudah namun benar-benar membuatku gila.”

Ia melanjutkan ceritanya, kami bercerita sambil bercanda sesekali di balkon apartemennya menarik sofa sambil memandang langit. Dengan perlahan semangatku mulai turun dan aku tidur dibahunya, namun masih samar mendengar suaranya bercerita tentang peternakan kumbang di rumah kami nanti. Sungguh menarik.

Semakin hari, Jiyong semakin sibuk dan tak ada waktu untukku. Pikiranku tertuju pada sketsa yang kutemukan saat itu. Aku sedang dikampus saat ini tak mungkin bisa ke apartemennya.

“Yoboseyo? Jiyongie?”

“Ne, Darongie. Ada apa?” Ada apa? Dia tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Tidak, aku hanya ingin bertanya padamu. Siapa gadis yang ada di sketsamu itu?”

“Sketsa? Hm.. Yang itu? Itu Kiko, temanku dari Jepang. Ia memintaku memggambar sketsa dan dia lupa untuk membawanya kembali ke Jepang.”

Entah bagaimana aku harus bersikap. Apa aku harus marah? Apa aku harus jujur bahwa aku tak suka ia dekat dengan perempuan lain?

“Ah, araseo Jiyongie. Kapan kau akan ke apartemenku? Aku merindukanmu.”

“Segera setelah tugas-tugas gila ini selesai.”

“Okay, aku akan menunggumu. Saranghae.”

“Nado saranghae honeya. Annyeong.” Ia menutup sambungan telepon dengan nada yang sungguh bukan dirinya. Apa yang harus aku lakukan? Apa dia tidak mencintaiku lagi? Pikiranku benar-benar kalut saat ini.

“Dara nuna?” Suara berat seorang lelaki mengalihkan lamunanku.

“Oh annyeong Park Chanyeol.” Sapaku dengan senyuman dan ia membalas dengan senyum dan duduk disampingku.

“Kau terlihat tidak sehat hari ini, mau ku antar ke klinik?”

“Ah, tidak usah aku tidak apa-apa. Bagaimana kuliah disini? Menarik ya haha” aku membuka percakapan dengan tawa riang, ia balik tersenyum padaku. Kami berbincang cukup lama sampai aku tak sadar sebentar lagi jam masuk jadwal terakhir akan dimulai.

“Chanyeol-ah, aku pergi dulu.”

“Tunggu nuna, apa nuna ada waktu besok sore?” Aku tau lelaki ini tertarik padaku, Bommie yang memberitahuku.

“Ah ne, aku ada acara bersama temanku. Mianhae Chanyeol-ah, mungkin lain kali ne?” Ia hanya mengangguk tenang, terlihat sedikit kekecewaan diwajahnya. Aku berlalu menuju kelas.

Hari ini Jiyong akan mengunjungi apartemenku, memang saat ini sedang libur di kampusku dan ada minggu tenang sebelum masuk semester selanjutnya.

Ia terlihat begitu dingin saat ini, benar-benar bukan Jiyong yang aku kenal.

“Bagaimana kuliahmu?”

“Aku tak mau membicarakannya saat ini, aku benar-benar sedang kacau. Tugasku ditolak berkali-kali.” Ia terlihat kurang tidur dan lebih tirus dari sebelumnya. Aku hanya diam mendengarnya berkata demikian.

Pertemuan kali ini benar-benar tidak membuatku senang sama sekali, aku tak merasakan kehadiran Jiyong sekalipun ia duduk disampingku saat ini.

Hari demi hari dilalui dengan sungguh dingin, aku tidak tau berbuat apa. Ia bilang akan mengunjungiku lagi sekarang, aku tak tau mengapa perasaan ini begitu pahit sekali.

“Darongie, aku membawa sesuatu untukmu. Coklat yang hanya ada untuk hari ini, aku akan taruh di kulkas.”

“Mengapa kau berubah dingin seperti ini?” Tanyaku dengan nanya sedikit getir dan kesal, dia hanya memandangiku sambil mengerutkan celah diantara kedua alisnya.

“Aku tak berubah, kau terlalu berlebihan. Aku sama seperti biasanya, Jiyong milikmu.”

“Aku tak bisa secepat itu menerima perubahan Kwon Jiyong.”

“Dara-ya, dengar aku banyak masalah akhir-akhir ini jadi…”

“Apa kau pernah membaginya bersamaku? Apa gunanya aku ada jika kau tidak berbagi denganku?”

“Dara, stop menjadi seperti anak kecil. Kita sudah lama bersama, berhentilah bersikap seperti ini. Sangat menggangguku. Aku sedikit jenuh dengan semuanya”

Entah mengapa kalimat yang dilontarkannya begitu sakit untuk didengar, air mata yang ku tahan sudah tak terbendug lagi. Ia benar-benar bukan Jiyong yang aku kenal.

Aku terduduk sambil memegang wajahku yang penuh dengan aliran air mata.

Jiyong tampak merasa bersalah dengan ucapannya dengan memelukku, sudah terlambat ucapan itu akan merubah kami.

Aku hanya berjuang sendiri selama ini, bagaimana bisa.

Setelah kejadian itu kami jadi benar-benar menjauh, aku hanya menghubunginya jika perlu. Bommie menyuruhku mengakhiri semua, mengakhiri impian yang kami bangun dan membuka hati untuk orang lain. Aku menurutinya, kami sepakat mengakhiri hubungan ini. Dan dari sana aku tidak percata pada kumbang lagi.

Aku berubah menjadi penjahat setelah hubunganku dengan Jiyong berakhir, aku menjalin hubungan dengan juniorku Park Chanyeol.

Aku tidak sepenuhnya menyukai Chanyeol, aku benar-benar penjahat menjadikannya sebagai pelampiasan.

Aku sesekali menanyakan kabar Jiyong pada teman kampusnya yang ku kenal, Seungri. Seungri berkata padaku bahwa ia terlihat lebih kacau dari sebelumnya namun kadang bahagia dari sebelumnya. Aku sungguh merindukannya.

“Dara nuna, saat libur semester depan bagaimana jika kita liburan ke Jepang?” Ide bagus, aku memang harus menjauhinya saat ini. Sudah 4bulan aku tidak saling berhubungan, aku pikir dia sudah lupa padaku. Namun aku masih mengaharapkannya kembali.

“Baik, mari kita lakukan! Bagaimana saat hati Valentine saja? Kita masih libur kan saat itu?”

Chanyeol mengangguk senang dan aku mengulas senyum tanda ikut senang.

Pesawat mendarat pukul 9 pagi di bandara internasional Haneda, aku benar-benar bersemangat karna ini kali pertamaku keluar negeri. Sungguh menyenangkan.

Chanyeol menggandeng tanganku menuju taksi dan ia terlihat lebih bahagia dariku, aku merasa bersalah menjadikannya pelampiasan.

Kami menjelajahi tujuan wisata di Jepang dengan penuh bersemangat, sesekali Chanyeol bertindak bodoh dan membuatku tertawa.

Tak terasa hari sudah malam dan kami memutuskan untuk makan di restoran yang cukup terkenal.

Restorannya sangat menunjukkan hawa tradisional jepang dan aku sangat menikmatinya.

Saat aku dan Chanyeol sedang berbincang, tak sengaja pandanganku menuju lelaki kurus  rambutnya tidak begitu rapih, duduk sendirian. Kwon Jiyong.

Sungguh aku merindukannya, aku benar-benar ingin memeluknya saat ini. Apa ia masih mencintaiku?

Aku memandangnya untuk waktu yang cukup lama sampai mata kami akhirnya bertemu, ia begitu terkejut namun langsung berubah tersenyum dan menghampiriku dan Chanyeol. Ia bertingkah seolah kami dulu adalah sahabat baik, sahabat yang sudah lama tak bertemu.

“Dara annyeong! Apa kabarmu?” Sapanya dengan senyum yang selalu aku rindukan, yang selalu hadir di lamunanku.

Air mataku tak terbendung, rasa rindu dan rasa sakit beradu saat ini.

Chanyeol berusaha membuatku tenang, sekaligus bingung denganku.

Air muka Jiyong berubah seketika saat aku menangis.

“Aku tidak apa-apa, jeongmal hahaha aku tidak apa Chanyeolie. Aku hanya terharu bertemu dengan sahabat lamaku. Aku merindukannya, sangat.” Aku tersenyum dengan air mata yang tak dapat dihentikan.

“Ya, aku memang bersahabat lama sekali dengannya. Aku menunggunya sejak lama sampai hari ini tiba. Tak kusangka aku bertemu dengan sepasang kumbang disini.” Jiyong berdiri dengan air muka yang sangat berbeda, aku pun tak tau apa itu.

“Jadi, nikmati liburan kalian. Annyeong! Dara-ya hapus air matamu. Sampai jumpa!”

Sesederhana inikah perpisahan? Semudah itukah ia melupakan segalanya? Sebodoh itukah aku mengharap ia kembali sementara ada hati yang akan terluka? Bagaimana bisa aku membuat kesalahan seperti ini.

Jiyongie, aku sungguh ingin mengulang hari dimana kita bertengkar. Jika saja aku dapat menahan rasa curigaku, jika saja aku tak menjadikan seseorang memberikan cintanya yang tulus.

Jiyongie, aku tak akan melupakanmu. Saranghae.


“I hope time hurries up and brings you to me, I hope you will tell me just once tings that are unbelievable…..”


END

Titip komentarnya di sini aja deh sekalian. Jadi ini fanfic buatan sodara ketemu gede,  salah satu member 2ne1 yang hilang salah satu sahabat Aku yang juga sebelumnya udah pernah posting Fic ke sini >>> [cek ini] XD
Bagi yang gak terima apa yang terjadi di Fic ini jangan salahkankoooh! Salahkan lah authornya wakakakak (berasa jerumusin yaak) untuk itu, tulislah sepatah-dua patah di kolom komentar :*

Advertisements

18 thoughts on “[Oneshoot] Ladybird

  1. Dr awal baca jdulny udh ad perasan gk enak ini, and trnyata bner kan? Merekaa pisahhh?!?!? Wae wae wae??? Hikss, mgkn lom jdoh… _rachi_ Dr awal baca jdulny udh ad perasan gk enak ini, and trnyata bner kan? Merekaa pisahhh?!?!? Wae wae wae??? Hikss, mgkn lom jdoh… _rachi_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s