[Part 6] My Crazy Neighbor : Troublemaker

my-crazy-neighbor-ff-daragonAuthor : Haru & VA Panda|| Title : My Crazy Neighbor || Genre : Comedy, School life, Romance, Drama || Starring : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jang Kiyong, Mizuhara Kiko, Stephanie

.

.

 

Sandara dengan mata berkaca-kaca seperti anak kucing duduk berdampingan dengan Jiyong si muka datar dengan tatapan tidak peduli. Sandara menundukkan kepalanya dan melirik ke arah Jiyong yang terlihat murka dengan tatapan tidak peduli namun penuh arti.

Kepala sekolah Lee kembali duduk dan menopang kedua tanggannya dan membetulkan kacamatanya, ia berdehem pelan yang memaksa Sandara melihat tegak ke arahnya.

“Sandara-ssi,”

Mati aku!. Sandara menenggak salivanya dan menjawab panggilan kepala sekolah Lee dengan anggukkan.

“Kau tau apa yang telah terjadi karena ulahmu?”

Sandara menggenggam erat tangan yang berada dipangkuannya dan sedikit menarik rok biru cerahnya.

“Aku sangat menyesal songsaengnim, aku…..”

“Ini semua salahku songsaengnim.” Jiyong memotong pembicaraan gagap Sandara yang sukses membuat Sandara terlonjak kaget.

“T-Tidak S-Songsaengnim, aku…..”

“Sandara hanya mengikuti yang kusuruh, dia memang terlihat lusuh dan penurut.”

“Mwo?!”

Sandara menggebrak meja dan membuat kepala sekolah Lee terlihat kaget dan membetulkan rambut palsunya. Ia berdiri dan sekali lagi berdehem yang membuat Sandara dan Jiyong melihat ke arahnya dengan serentak.

“Aku sangat kecewa denganmu Jiyong-ssi, kami sangat berharap banyak padamu karena kau adalah siswa berprestasi.”

Jiyong menundukkan kepalanya sampai sesaat kemudian Jang Kiyong memasuki ruang kepala sekolah, air muka Jiyong seperti tidak senang dengan kehadirannya saat ini. Ia mengalihkan pandangan ke arah Sandara yang terlihat sangat senang seolah Jang Kiyong adalah dewa penyelamatnya.

“Kepala sekolah Lee, akulah yang bertanggung jawab atas keributan ini.”

“Kiyong-ssi? Aku tidak percaya dengan ini.” Kepala sekolah Lee mengerutkan dahi dan menggeleng kepala pelan. “siapa yang harus disalahkan jika begini?”

“Kau tidak perlu ikut campur, kau hanya orang baru, seberapa mengerti kau tentang kami? Siapa kau?” Ujar Jiyong beruntun tanpa melihat ke arah Kiyong.

Sandara merasakan hal yang tidak enak akan segera terjadi yang membuatnya merasa harus melakukan sesuatu, memang benar, bukan Sandara jika ia tidak memiliki seribu akal untuk menyelesaikan masalah.

“Kepala sekolah Lee!” Suara nyaring Sandara membuyarkan hawa tegang yang ada di ruangan kala itu, Sandara membungkuk sedalam-dalamnya ke arah kepala sekolah Lee. “Aku akan bertanggung jawab atas kejadian ini, ini salahku songsaengnim.”

Jiyong menatap datar ke arah Sandara dan mengalihkannya seolah tidak peduli. Kiyong melangkah mendekati kepala sekolah Lee dan membungkuk dalam sama seperti yang dilakukan Sandara dan memohon untuk memaafkan Sandara.

Pengaruh Kiyong memang besar di SMA Sevit, bagaimana tidak dengan donasi yang diberikan oleh keluarganya, ditambah sikapnya yang sopan membuat para guru segan dan senang dengan keberadaannya. Kaya dan memiliki sifat yang sangat baik, itulah Kiyong.

“Baiklah, jika bukan karena kau Jang Kiyong, mungkin Sandara-ssi si pembuat keributan ini sudah bertambah mungil jika ku suruh lari seharian” Sandara menunduk dan menggigit bibirnya kesal. “Dan Jiyong, kami mengandalkanmu.”

Mendengar perkataan itu, Jiyong beranjak dari ruang kepala sekolah. Sesaat keluar dari pintu, ia melihat Kiko tidur terduduk di bangku ruang tunggu dan menatapnya datar.

.

.

***

.

.

Dara POV

Aku berjalan mengikuti irama langkah kaki Kiyong dengan wajah yang mungkin tak ingin dilihat Kiyong saat ini. Aku memasang wajah jengkel, marah, kesal namun merasa bersalah juga jika ingat kejadian tadi.

Argh si bodoh Kwon Jiyong!

“Dara-ya kau tidak apa-apa?” ujar Kiyong setelah melihat ke arahku tepat saat aku menjambak rambutku pelan dan melompat kesal.

“A-Aku tidak apa-apa,” seruku diikuti tawa canggung.

Kiyong tersenyum ke arahku yang sukses membuat pipiku merona merah dan jantungku berdegup kencang seolah melupakan masalahku dengan Jiyong. Tunggu…. Merona merah?! Jantung berdegup kencang?!

Aku melebarkan mataku tak percaya, apa aku menyukainya? Andwae! Aku tidak mungkin menyukainya. Lagi pula kasta ku sangat jauh di bawahnya.

Aku kembali mengikuti langkah kaki Kiyong yang panjang entah menuju kemana, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya yang tak sengaja kecolongan olehku. Aku menabrak punggung lebarnya.

“Omo!”

“Berhenti!”

Aku terhenyak. Mengusap hidungku yang sedikit terasa sakit seperti terbentur oleh tembok. Apasih yang sebenarnya Kiyong buat sampai hariku terasa semakin suram seperti ini. Aku tahu bukan suatu kesengajaan jika Kiyong tiba-tiba berhenti melangkah tapi apakah pria yang aku kira baik-baik ini sudah membuat onar sampai dengan ….. tunggu, bukankah tadi terdengar jelas seperti suara katak rawa?

“Jiyong?” Aku bertanya selaras menyembulkan kepala dari balik tubuh Kiyong dan sesekali melirik kearah Kiyong dan juga Jiyong secara bergantian.

Ada apa dengan ekspresi yang Jiyong pasang di wajahnya, bukankah mata setajam elang dengan wajah seriusnya sangat dapat dinilai bahwa ia tengah meneror orang? Heol, tenang Sandara Park, kau jangan terlalu banyak mengkhayal seperti adegan drama cinta segitiga yang selalu kau tonton dengan Durami setiap malam.

Baiklah, situasi ini memang sangat persis seperti kebanyakan adegan yang sudah hatam di kepalaku tapi jika sang tokoh adalah Kwon Jiyong, maka ini bukan drama percintaan.

“Apa yang kau lakukan dengan berlagak sok pahlawan seperti tadi, murid baru?”

Omo, sudah berapa menit aku buang dengan sia-sia dan semua guyonan imajinasiku tentang ekspresi Jiyong huh? Lihatlah sekarang, Kiko bahkan tepat berada di samping Jiyong dan matanya sedikit memberi instruksi untukku.

Wae?” bisikku kebingungan dan secara refleks kakiku langsung melangkah menuju ke depan tepatnya ke arah Kiko, namun satu lengan menarik pergelangan tanganku cukup keras sampai baru aku sadari bahwa Kiyonglah yang menariku sedangkan matanya menatap lurus ke arah … Jiyong?

Apakah mereka melakukan perkelahian dengan mata mereka seperti yang biasa aku lakukan dengan Jiyong?

“Aku bukan pahlawan tapi yang aku lakukan di ruang kepala sekolah adalah sebagai bentuk rasa tanggungjawab, G-Dragon.” Jang Kiyong berujar dengan suara yang teramat tenang namun tetap berkharisma. Sebenarnya apasih yang ia makan sampai bisa membuatku mudah untuk meleleh dalam waktu seperkian detik.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan Chihuahua karena ia bisa mengurus dirinya sendiri, murid baru!”

“YA! Kwon Jiyong! Di mana sikap sopan santunmu itu huh?!” Aku berkata keras sampai sekiranya membuat Kiko membulatkan mata karena kaget, uh beruntunglah aku sudah berada di lorong yang cukup jauh dari ruang kepala sekolah. “Lagipula seharusnya kita tidak bicara dulu karena aku masih teramat dendam dan sangat ingin mencekikmu!”

“Aish, diam saja kau Dara! Dan apa yang kau lakukan dengan terus membututi orang ini huh?!” Suara Jiyong tak kalah oktaf denganku, membuat setidaknya aku memundurkan langkah terlebih dengan ekspresi yang sudah sangat sering aku lihat jika kita saling bertingkai dalam hal sepele.

“Maaf G-Dragon, tapi sebenarnya kau tidak berhak tahu apa yang aku lakukan bersama Dara.” Ujar Kiyong yang dengan cepat mengalungkan lengan di pundakku.

“Um… Jiyong, ini Kiyong dan kau tidak perlu khawatir karena aku sudah mengenalnya dengan cukup baik.” Aku berkata dengan sungkan sekarang, nyatanya situasi seperti ini sangat mudah membuatku seperti jelly. Jiyong berlaku memang semau apa yang ia lakukan dan sekalipun kami sama-sama bersikap keras, pada akhirnya akulah yang terlebih dahulu segan dengan sikap kasarnya ini.

Lihat tatapan Jiyong yang terasa menusuk sampai ketulang rusuk dan lihatlah tatapan tenang Kiyong yang justru kian membuat gumpalan lahar panas meletus di atas kepala Jiyong. Baiklah, jika kalian berada diposisiku pasti tidak banyak ucap yang akan mampu dikeluarkan dari mulut, begitu pula dengan aku.

Aku sekelebat menatap Kiko dan teman polosku yang satu itu memberi peringatan dari mulut tanpa suaranya. G-Dragon ingin berbicara denganmu, setidaknya itu kalimat yang aku tangkap dari wajah tegang Kiko.

“Ji…yong? Kalau ada hal yang perlu kita bicarakan, mungkin kita bisa membicarakannya di rumahku, bagaimana?”

Jadi, di sinilah aku yang tengah membuat penawaran untuk menghentikan tatapan menusuk yang terus menyita waktu, sebenarnya apa yang salah dengan si katak rawa. Ekspresi wajah yang ia perlihatkan kali ini bahkan sangat jarang ditemui, kecuali saat terakhir kali aku lebih memilih bermain istana boneka dengan Bom. Tunggu …. Apakah si katak rawa ini cemburu jika aku memilih berteman dengan Kiyong? Omo, entah mengapa seburat rona merah rasanya baru saja merekah di kedua pipiku.

“Terserah, toh berbicara dengan Chihuahua sepertimu tidak berarti apapun!”

Damn, beruntung bagiku seorang Sandara Park yang diberkati kekuatan sabar dari para dewa-dewi. Konyol jika memikirkan bahwa Jiyong terlalu posesif terhadap tetangga dan juga teman sejak kecilnya ini. Pria katak itu justru melenggang pergi dengan wajah culas bahkan sengaja menabrak bahu Kiyong yang tak bersalah sama sekali. Cih, sangat kekanakan sekali.

“Aish, dasar katak rawa sialan.” Umpatku dengan menendang dan memukul udara setelah sosoknya mengecil sebelum akhirnya menghilang di persimpangan koridor menuju kelasnya.

“Dara,”

“Ah, ya Kiko?”

“Apa kau tidak ada masalah dengan kepala sekolah Lee?”

Ah, aku sangat lupa bahwa Kiko tadi berada di luar ruang tunggu kepala sekolah. Terdengar jahat mungkin saat aku tidak membangunkannya yang tengah tertidur duduk dan justru memilih melenggang pergi bersama Kiyong.

Aku tersenyum simpul sembari mengacungkan jempolku dengan sangat gembira sebagai bentuk jawabanku. Yosh, lagipula apa yang akan terjadi jika tanpa bantuan Kiyong yang aku tahui sebagai sumber setengah dari keuangan di sekolah ini.

“Baguslah kalau begitu, aku pikir sekolah memberikanmu surat teguran untuk yang kedua kalinya.” Ungkap Kiko dengan tenang sedangkan mataku mencolos mengingat surat teguran pertama kalinya yang aku dapat hampir enam bulan yang lalu.

“Sepertinya kau sudah biasa dengan situasi ini, tapi yang aku lihat justru kau seperti orang awam.” Kiyong sedikit mengeluarkan tawanya setelah Kiko ikut pergi meninggalkanku dengan pria yang sudah terpampang jelas tengah menertawaiku tanpa henti di detik berikutnya.

.

.

***

.

.

G-Dragon POV

Aku akan selalu gagal paham dengan Chihuahua yang masih memilih berteman dengan seorang pria si murid baru itu. Coba saja bayangkan, pria itu bahkan belum sampai satu minggu berada di sekolah ini tapi berhasil membuat Dara berada dalam masalah karena kekonyolan. Menari memang kelihaian Dara namun justru hal itu bisa menjadi boomerang baginya jika saja gadis itu kembali menengok masa lalu.

Bagaimana bisa jika Dara melupakan masalah yang menyebabkannya mendapatkan teguran dari kepala sekolah SMA Sevit? Aku yang bahkan berada di ruang tunggu kala itu masih mengingat dengan teramat jelas suara kepala Lee yang menggema sampai membuat Park Bom yang waktu itu berada di sampingku bergidik ngeri.

Siang itu sama seperti siang biasanya yang aku lalui bersama Sandara. Gadis hiperaktif ini tidak pernah kehabisan akal untuk melakukan berbagai macam tindakan bodoh dengan bekal makan siangnya. Ya, saat ini kami berada di samping gedung sekolah yang sangat jarang dihampiri kebanyakan siswa dan siswi SMA Sevit.

Kiranya sudah limabelas menit berselang dan aku sudah menghabiskan bekal makananku sedangkan gadis gila itu sama sekali belum menghabiskan bekal makanannya. Sandara malah lebih banyak berbicara dan juga berjingkrakan saat memutar lagu boyband EXO yang sangat ia banggakan.

“Bisakah kau hanya menghabiskan bekal makan siangmu dan kembali ke kelas bersama?” Aku bertanya dengan muram, sangat menjengkelkan untuk melihat keaktifannya di tengah siang bolong seperti ini.

“Jiyong, jika kau dianugerahi bakat sepertiku … tentu kau akan melakukan hal yang sama. Kau yang tidak pernah berhenti bermain basket dan aku yang tidak pernah berhenti menari, kita memiliki kesamaan.” Ujarnya dengan tawa sembari menepuk kedua tangannya dengan penuh semangat.

“Sandara, dari duapuluh empat jam yang kau punya dipotong dengan tidurmu delapan jam … kau lebih banyak memakan waktu untuk menari dibandingkan serius dengan sekolahmu. Apa kau akan terus menjalani hidupmu seperti ini, huh?”

Sandara sejenak terdiam. Ia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyantap bulat telur gulung yang menjadi akhir makan siangnya kali ini. Mulutnya sudah terisi dengan penuh namun gadis itu justru bertingkah seperti mau berkata banyak sekarang.

“Habiskan sisa makananmu, dasar babi.”

Aku menyindirnya sedangkan yang Sandara lakukan hanya tertawa sampai akhirnya tersedak.

“Mi-num, Ji-Yong, mi-num.”

“Aish, sudah aku bilang untuk menyantap makananmu dengan tenang!” Aku memarahinya yang kini bahkan kesulitan untuk bernapas.

Aku menengok pada botol air mineral yang sudah kosong, oh ya, gadis ini memang seperti duyung yang selalu kehausan. Lantas aku meninggalkannya, berlari ke arah kantin dengan terburu-buru. Aneh memang jika melihat seorang sepertiku bertingkah konyol seperti berlari kesetanan di jam istirahat, tingkah yang sama dilakukan oleh para pembuat gaduh di sekolah ini.

“Jiyong, Dara …. Dara dalam masalah!”

Baru dalam hitungan menit aku mendapatkan air mineral, Park Bom dengan kuncir kuda juga kacamata bulatnya mengagetkanku. Gadis ini bisa dikatakan berada dalam satu ras yang sama seperti Sandara namun Sandara berada di derajat yang lebih tinggi karena keaktifannya.

“Ada apa?” Aku bertanya dengan tenang melupakan fakta bahwa Park Bom menarik lengannya dengan cukup histeris.

Kpop lover addict itu membuat masalah dengan Sandara!” Park Bom berteriak. Gadis itu kini menjambak rambutnya sendiri seolah frustasi

Sial, ada masalah apa lagi sebenarnya dengan Sandara. Aku berlari menuju samping gedung sekolah meninggalkan Bom yang berada di belakangku. Berjarak dua meter, aku melihat kerumunan ramai dan sorakan yang sangat menusuk telinga.

“YA! WANITA JALANG!”

Demi Tuhan, bagaimana bisa siswa SMA Sevit berteriak nyaring dengan umpatannya? Aku tidak mengenal suara itu dan yang aku harapkan itu bukanlah Sandara karena jika ia berkata kotor seperti tadi, besar kemungkinan ia akan mendapatkan hukuman yang cukup membuatnya ingin pindah sekolah.

“KAU … dan mulut kotormu perlu aku cabik huh?”

Sandara? Ya, itu adalah suaranya. Sekarang aku masih berjuang di tengah kerumunan yang bahkan sulit memberikanku celah untuk berada di barisan penonton paling depan. Penonton? Ya, bisa dikatakan demikian. Lagipula apa yang mereka harapkan jika terus memanasi suasana tanpa ada maksud untuk melerai perkelahian para gadis yang mungkin bisa menjadi beringas.

“Jiyong! Hentikan Sandara atau mereka semua akan habis di tangannya.”

Samar-samar aku mendengar suara Park Bom yang menginstruksi. Habis di tangannya? Heol, yang benar saja. Sandara bahkan saat terakhir aku tinggal sudah kewalahan untuk bernapas karena tersedak makanan, lalu apa yang dapat aku harapkan untuk ia bisa menjaga dirinya sendiri yang pasti diamuk oleh lebih dari dua orang para kpop lover addict –salah satu pembuat onar di sekolah namun cukup sulit untuk dihilangkan komunitasnya.

“BERHENTI MENGGANGGU G-DRAGON KAMI!”

Aku mendengar suara teriakan kesakitan dan sumber suara itu berasal dari Sandara yang tengah adu menjambak rambut dengan dua orang di kiri dan kanannya. Aku membulatkan mulut dengan sangat tidak percaya, perkelahian para gadis memang lebih menyeramkan dibandingkan perkelahian tinju kelas dunia.

Masih dengan keterkejutan, aku menengok pada satu gadis berambut blonde yang terjatuh di belakang posisi Sandara, cukup mengenaskan. Wajahnya terlihat memar dan lipstick terlihat berantakan di sekitar pipinya. Gadis itu tersungkur dan wajah dengan rambut berantakan itu terlihat pucat pasi bahkan bukan bermaksud membantu kedua temannya yang masih berkelahi dengan Sandara, gadis berambut blonde itu justru berlari masuk di antara kerumunan.

“DARA! Apa yang kau lakukan?!”

Setelah detik berselang, aku berhasil mengatur emosi dan mampu mengamati situasi. Sandara Park memang termasuk siswi aneh yang dimiliki SMA Sevit tapi gadis itu hanya memiliki keanehan karena tingkahnya yang tidak pernah berhenti menari juga akal jahil yang masih dapat di kategorikan sebagai tindakan biasa, namun ketiga orang yang menamai dirinya sebagai kpop lover addict ini lebih termasuk kategori parasit. Kenapa? Karena setiap tindakan keseharian mereka hanya dilakukan menjadi paparazzi yang terus membututi dan merasa memiliki pria-pria yang mereka anggap sebagai titisan dewa karena memiliki wajah yang dapat dikatakan sempurna menurut mereka.

“Aw, hentikan wanita jalang!” salah satu gadis berambut hijau menyala itu memberontak lebih saat Sandara kehilangan fokusnya karena mengamatiku yang tiba-tiba saja muncul dan memanggil namanya.

Sekarang, situasi cukup berbalik. Sandara berada di bawah kekerasan gadis berambut hijau menyala. Gadis itu tersenyum picik, menendang tulang kering Sandara dengan cukup keras sampai mampu membuat Sandara tersungkur dan temannya membantu dengan menjambak erat rambut Sandara hingga membuat Sandara mengaduh kesakitan.

“Sekarang, posisi berbalik!” Kata si gadis berambut hijau menyala yang aku tebak sepertinya hanyalah rambut palsu karena letak posisi rambutnya terlihat miring dan sekilas terlihat rambut hitam di antaranya.

“YA! Nenek sihir! Berhenti mengganggu Sandara!” Aku berteriak gusar. Mataku menyala dan langkahku kian pasti menghampiri mereka. Penonton itu memang sangat tidak manusiawi untuk hanya melihat oranglain tersakiti tanpa bermaksud untuk menyudahi perkelahian mereka.

“G-Dragon,” kini gadis berambut hijau menyala itu melepaskan cengkramannya pada Sandara diikuti oleh temannya dan keduanya kini memundurkan langkah sebelum akhirnya menegak salivanya dengan cukup kesulitan.

“YA! Dara, kau baik-baik saja?” Aku bertanya sembari menepuk kedua pipi Sandara.

Gadis itu kehilangan kesadarannya dan dari dekat terlihat cukup jelas memar di pipi ditambah dengan luka sobek di bibirnya. Sial, perkelahian apa sih yang baru saja mereka semua buat?

“Aku akan memastikan kalian mendapatkan hukuman yang pantas atas hal ini!” Kataku dengan tatapan tajam yang langsung membuat mereka seperti domba yang hendak diterkam oleh serigala.

.

.

***

.

.

Sandara melahap roti dengan selai strwaberry untuk kelima kalinya. Ia mengembungkan pipi, melihat dengan malas pada Jang Kiyong yang terus tertawa saat ia menceritakan bagaimana ia mendapatkan surat teguran untuk pertama kalinya. Sebenarnya, Sandara sedikit beruntung untuk mendapatkan surat teguran itu karena setidaknya ia memiliki waktu tiga hari untuk beristirahat di rumah dan mengembalikan stamina juga wajah memarnya sampai kembali seperti normal namun yang sangat ia benci adalah akibat lain dari surat teguran itu bahwa kenyataan jika eommanya akan siap kapanpun untuk memastikan Sandara berhenti menari dengan mangambil semua peralatan pendukung untuk ia menari.

“Dari semua kasus yang pernah aku dengar, kasusmu lah yang sangat tidak masuk akal!” Kiyong tertawa puas sekali lagi.

Pria itu bahkan hampir menangis karena mendengar cerita Sandara yang kini membuat gadis itu ketakutan jika bersangkutan dengan kepala sekolah Lee.

“YA! Jika kau berada diposisiku, kau pasti akan kalah menghadapi tiga orang sekaligus!” Sandara menggebrak meja kantin dan matanya menatap lurus kearah Kiyong yang kini berhenti tertawa.

“Kau belum menceritakan alasanmu kenapa kau mau meladeni para kpop lover addict itu. Tadi kau mengatakan kalau saat Jiyong pergi membeli air mineral, tiba-tiba mereka datang dan mengucapkan kata-kata kasar kearahmu … bukankah kau sebelumnya mengatakan tidak peduli pandangan orang terhadapmu, tapi kenapa kau akhirnya meladeni mereka.”

“Sudah sangat lama, aku membenci mereka.”

“Membenci? Mengapa?”

“Kau pasti tahu kalau Jiyong sangat terkenal dan banyak yang mengaguminya sedangkan aku justru berbanding terbalik dengannya. Dulu sekali sebelum Jiyong terlihat menarik di mata mereka, aku yang lebih dahulu mengenalnya dan aku pula yang selalu menghabiskan waktu bersama Jiyong.” Ucap Sandara seolah menerawang jauh pada masa lalunya dengan Jiyong.

“Lalu?” tanya Kiyong yang berusaha mengembalikan kesadaran Sandara yang semula seperti tengah mengelana jauh pada menit sebelumnya saat terciptanya keheningan.

“Huh? Oh, itu akan sangat panjang jika aku menceritakannya. Yang jelas aku membenci mereka yang sebelumnya memandang Jiyong dengan sebelah mata dan sekarang justru mengaguminya seolah tindakan mereka sangat murni begitu saja, bukan begitu semestinya … mereka hanyalah fans dadakan yang baru tersadar pesona Jiyong yang sebelumnya tersembunyi.”

“Sandara-ssi,”

“Ne?”

“Apakah kau menyukai Kwon Jiyong?”

 


-To be continue-

<<back  ||  next>>


Trailer Fanfiction  BARU!!!:

A/N :
Haru : Jangan lupa kritik dan saran membangun, muah.
Pinda : Dan setelah sekian lama, terciptalah part 6, kkkkk~

 

 

Advertisements

18 thoughts on “[Part 6] My Crazy Neighbor : Troublemaker

  1. Akhirnya nih ff dilanjutin kirain bakalan hiatus hehehe…..
    itu knp dara sm jiyong nggak pernah akur sih padahal kan udah keliatan bgt tuh klu jiyong itu cemburu sm dara …..
    dan dara jg nggak peka klu jiyong itu nggak suka sm kiyong krn jiyong itu sebenarnya cemburu liat dara sm kiyong itu deket….. kpn nih jiyong ngomong sm dara klu dia itu cinta sm dara jangan diam terus nanti dara keburu jatuh cinta sm kiyong dan akhirnya jiyong menyesal
    Next chapnya ditunggiin ya thor jangan lama2 makin penasaran sm sikap hiperaktifnya dara dan kecemburuannya jiyong hehehehe~~~~~

  2. Sukaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk bangetttttttttttt sama chapter ini #capsjebol. Duh kangen juga sama author author kecenyaaaa. Gimana kabarnya? yang pasti baek lah yaaaa. Sorry karena baru nongol, hihihi..😁

  3. Udah klewat momentnya tapi baru komen mianhaeeee 😯 kaya gini kebiasaan kalo kebawa kesel sama alur. Author(s) kena banget sihh.. jadi ikutan greget liat katak rawa sama cihuahua

  4. Aku geregetan sama mereka berdua
    Kalau suka kenapa harus dipendam???
    Nanti kalau salah satu ada yang jadian baru nyesel
    Fangirl mah gitu ya???
    Kalau ada yang deket sama biasnya pasti teriak gitu
    Sprti diatas triaknya “BERHENTI
    MENGGANGGU G-DRAGON KAMI!”
    Pengen tau apa jawaban dara

  5. Yeassss dara sepertinya juga suka sama jiyong. Jiyong suka sama dara dari dlu kayanya ya. Soalnya dia perhatian banget sampe lari kaya orang kesetanan pas dara keselek.
    Next chapt. Fighting🙌🙌🙌🙌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s