SOMETHING CALLED LOVE – Lebih Dekat [Chap. 6]

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

Sudah 2 bulan semenjak pelariannya dan jiyong sudah merasa nyaman berada ditempat ini. keadaannya yang nyaman, teman baru yang walaupun annoying to the hell tapi baik kepadanya, pekerjaannya yang cukup dan juga orang-orang yang ramah disana. Itu semua membuatnya tidak merasa kalau dirinya masih berstatus buronan dan dicari-cari orang.

Dia ingat celotehan dongahe yang mengakatan jika kedekatannya dengan sarang membuatnya jadi dekat dengan dara dan memperlihatkan ada sesuatu yang harus dibahas diantara mereka. Memang jiyong selalu mengelak tapi dia juga tahu bahwa dalam benaknya sudah tumbuh sesuatu baru, namun dia takut, takut membawanya kedalam sesuatu yang bahaya makanya dia menahan diri. Dia juga bertanya-tanya bagaimana awalnya bisa begini? Apakah benar karena sarang? Entahlah.. mungkin perasaan aneh ini hanya jiyong yang merasakan dan dara tidak menganggap lebih, mungkin iya karena perlakuannya yang ramah dan hangat bukan hanya dilakukannya kepadanya saja melainkan kepada yang lainnya juga, walaupun demikian donghae temannya yang bawel itu selalu berkata jika jiyong harus sadar bahwa dia juga tahu kalau dara hanya mampu tersenyum lepas saat bersamanya.

Entahlah.. lagi-lagi jiyong hanya menganggap omelan donghae sebagai angin yang berlalu.

Dia ingat kejadian 2 bulan yang lalu awal kedekatannya dengan donghae manusia jelangkung yang tidak pernah mau menunjukan rumahnya itu,

Dipersimpangan jalan dari arah toko dara, jiyong melihat donghae tengah berjalan dan jiyong iseng memukul kepalanya sambil membawa sepedanya.

“kebetulan sekali!” seru jiyong bernada jahil.

PLAK.

 

“yaaa.. siapa itu?” teriak donghae dan ketika dia melihat jiyong tengah mengendarai sepeda melewati dirinya, donghae sudah bisa menebak curut mana yang tadi memukul kepalanya.

 

“yaaaa…. kwon jiyong!” teriak donghae berlari mengejarnya.

Sesampainya, donghae menjatuhkan diri di sofa dan melenguh kecapean.

 

“sialan! Kau enak sekali pake sepeda.. aku ngos-ngosan harus lari tahu tidak!!” gerutu donghae namun jiyong malah mengabaikannya dan membereskan kantung hitam besar yang ia bawa.

 

“gak apa-apa buat olahraga sekali-kali ‘kan tidak ada ruginya!!” ejek jiyong membuat donghae bangkit berdiri dan menjitak kepalanya yang lagi sibuk dikamarnya itu.

 

“awww.. yaaa!!” teriak jiyong memegangi kepalanya, “SATU SAMA!!” kata donghae lalu membaringkan tubuhnya di ranjang jiyong.

 

“lagian kwon.. aku ini setiap hari olahraga. 3 jam setiap hari tahu tidak..” “yeah olahraga jari.. 1 jam main game golf dan 2 jam main game bola! Lama-lama matamu bisa buta setiap hari lihat layar terus..!” potong jiyong membuat donghae tertawa..

 

“mwehehehe.. kok tahu?”

 

“terlihat jelas diwajahmu!!” balas jiyong cuek, donghae hanya manyun.

 

“eh hae, tadi pagi kamu pulang jam berapa? Aku cari-cari kirain muntah-muntah di kamar mandi soalnya semalam mabuk berat..”

 

“hahah.. sorry yah.. begini-begini juga aku adalah morning person jadi tidak biasa bangun siang seperti kebo kaya kamu!!” ejek donghae yang dapat timpukan baju dari jiyong.

 

Donghae tertawa ngeliat ekspresi wajah temannya, teman yang sudah resmi kemarinitu. Lalu dia melirik baju-baju yang dilemparkan jiyong kepadanya. Dahinya mengkerut, sejak kapan dia punya baju? Perasaan dia masih pinjam baju dia? Lalu sebuah senyuman jahil tersirat kala dia mengetahui dimana baju-baju ini berasal.

 

“its not difficult to say sorry, right?” jiyong meliriknya, “boh?”

 

“ini.. baju dari dara… dara.. itu ‘kan? Hm..”

jiyong mendesah, “ndeh.. aku sudah meminta maaf dan berterima kasih kepadanya! Lagian kau emang masih ingat, bukannya semalem itu kita ngebahas ini pas saat mabuk yah?” donghae menaikan bahunya, “well.. siapa yang mabuk? Kau pikir aku bisa pulang pagi-pagi jika aku mabuk?” jiyong menyipitkan matanya,

 

“yaaa… jadi kemarin tu kau pura-pura mabuk hah?” teriak jiyong menyerang kepalanya dengan bantal, donghae menghindar.. “ya aku tidak pura-pura, aku hanya ngantuk!! Yaaa.. awww.. yaa.. kepalaku!!” donghae merengek-rengek lalu menjauhinya.

 

“aku ini tidak bohong, kau saja yang bodoh baru 3 botol udah mabuk!!” jiyong mendengus lalu melanjutkan pekerjaannya yang tadi yaitu membereskan baju-baju dari dara.

 

“hari ini enggak kerja?” tanya donghae sambil ngebantuin dia.

 

“libur. Danaunya lagi tinggi jadi rumah makannya tutup takut airnya naik.. katanya!” donghae hanya mengangguk-ngangguk.

 

“oh.. ya nanti sore aku mau keluar jadi cepatlah kau enyah dari rumahku!” donghae mengabaikan omongan sarcasmnya, “memang mau kemana?”

 

“not your business!” sahut jiyong membuat donghae manyun,

 

“ayyyy.. kwon! Mulai jadi manusia menyebalkan lagi!” jiyong tertawa dengan tingkah antik temannya itu, “araseoo.. aku mau ke toko dara soalnya mau ambil pesanan baju!” mata donghae melotot, mengesampingkan kata-kata lain semua yang telinganya dengar adalah dara.. dara.. dara……

 

“wow.. kalian cepat sekali progresnya!”

 

“apa maksudmu?”

 

“udah dapet nomer ponselnya belum?”

 

“hah…?”

 

“ah.. aniyoo..” jiyong menaikan bahunya tidak terlalu peduli  dengan pikiran bodoh nan aneh temannya itu lalu melanjutkan pekerjaannya.

Setelah kejadian itu semua prediksi-prediksi yang dikeluarkan donghae selalu benar dan firasat donghae pun selalu benar jika memang diantara mereka ada sesuatu. Melihat hal itu donghae pun tersenyum lega, dia percaya bahwa jiyong adalah orang baik yang pantas untuk wanita super baik seperti dara.

***

still not getting anything, buddy?” woobin berjalan masuk kedalam ruangannya dan menaruh satu gelas berisi kopi untuknya.

Haejin langsung meminum kopi itu tanpa melepaskan pandangan matanya pada layar komputer, “thanks buddy!”

Woobin duduk dikursi samping dan mendesah melihat bagaimana keadaan temannya itu. Sudah hampir 2 bulan lebih dia menggila seperti ini, bahkan sampai melalaikan pekerjaannya. Who’s getting mad? Woobinlah yang menanggung semuanya, dan entah kenapa kali ini dia sudah muak dan ingin menyadarkan temannya itu untuk sadar dan move on.

“kau belum mengerjakan tugasmu!” perlahan mata hyejin melirik woobin, “boh?”

“aku tahu, aku paham keadaanmu, tapi kau ini juga mempunyai tanggung jawab lain yang harus kau urus. Man.. 2 months.. is enough! And ENOUGH IS ENOUGH!” haejin mengacak-acak rambutnya dan mendesah, giginya terkatup dan rahangnya mengeras.

“dia belum aku temukan woobin, lalu bagaimana bisa kau mengatakan hal itu kepadaku yang jelas-jelas tahu kalau bajingan itu masih beredar disana dan bisa saja membunuh istri-istri lainnya…!!” woobin menatapnya tidak percaya dan mendesah.

“apa kau tidak mempercayaiku, woobin?” tanya haejin menatapnya dengan tajam.

its really ridiculous!! FUCK! Jika kau pikir aku tidak mempercayaimu lalu yang kulakukan selama 2 bulan ini apa? Hahh..?” woobin mulai kehilangan kesabaran. Haejin menelan ludahnya yang kering dan menahan emosinya, lalu dia menatap mata woobin dengan dalam.

“apa kau tidak mempunyai istri? Apa kau tahu apa yang kurasakan saat ini?” tanyanya,

“ara.. ara..” woobin menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Tapi bukan itu masalahnya! Kau harus bisa melihat kedepan, kau ini mempunyai tanggung jawab dan tugas yang mesti kau emban. Kau ini komandan disini haejin~ah, kau ini komandan ..kau harus ingat itu!!”

“aku tahu itu, makanya aku ingin segera menemukan dia dan menuntaskan masalah ini!”

FUCK!!” Gerutu woobin saat temannya itu tetap saja masih belum bisa paham.

Woobin berdiri dan menatapnya. “sebaiknya daripada kau berdiam disini dan melototi komputer terus lebih baik kau kunjungi makam istrimu! Biar otakmu jalan dan sadar!!” balas woobin dengan frustasi lalu berjalan keluar.

Haejin menangkup wajahnya dan mengumpat kesal, “FUCK!!”

Tubuh haejin melunglai, dia lalu menempelkan kepalanya pada meja dan membanting-bantingkan kepalanya. Dia lalu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar.

Woobin melihatnya keluar tapi menghiraukannya, terlalu muak dengan tingkahnya.

Seikat bunga mawar merah tergenggam ditangannya, ditatapnya dengan nanar sebuah makam bertuliskan nama istrinya itu. Dia masih tidak percaya bahwa dengan mudahnya dia pergi dari hidupnya, dia masih tidak percaya dia lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya yang sungguh-sungguh mencintainya sampai mati itu. Tangannya meremas batang bunga mawar merah itu, tidak memperdulikan setetes darah yang keluar karena tertusuk duri. Sepertinya rasa sakit sudah menghilang dari tubuhnya. Melihat istrinya mati didepan mata adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dia rasakan selama hidupnya dan itu tak ada duanya. Setelah itu, rasa sakit perlahan menghilang dari dirinya seakan tubuhnya sudah beku karena hatinya yang sudah mati itu.

Dia menjatuhkan bunga mawar itu lalu berbalik untuk meninggalkan makam. Langkahnya seakan melayang dan semuanya terasa gelap. Dia membuka pintu mobilnya dan menyandarkan tubuh lelahnya disana sebelum meluncur pergi.

Tangannya meraih foto taeyeon dan menyimpannya di dada, berharap rasa sakitnya akan berkurang namun tetap disitu, sakitnya tetap ada. Dia memberhentikan mobilnya dan tak sadar jika dia membawa mobilnya ke komplek perumahannya sendiri. Sudah berapa lama dia tidak mengunjungi rumahnya? Dia lebih memilih tertidur di kantor daripada harus tinggal dirumahnya dan terbayang-bayangi kejadian itu.

Haejin menerawang keseluruh jalan, rumah-rumah disini kebanyakan kosong dan keadaannya pun selalu sepi. Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam dirinya? Sudahkah dia memeriksa perumahan disini? Saat dia tidak mendapatkan jawaban matanya langsung beronjak ingin keluar. Seingat dia pembersihan dilakukan 30 menit setelah kejadian terjadi dan itu juga dilakukan acak, haejin juga yakin kalau yang melakukan pembersihan hanyalah orang-orang bodoh suruhan dinas bawah. Setelah mendapatkan ide itu dia langsung melesat ke kantornya terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.

***

“hanbin~ah.. tolong bantu bawa tas yang sudah omma siapkan di dalam..!” kata dara masih sibuk dengan barang bawaannya dan merapihkannya ke dalam mobil.

“… ndeh…” balas hanbin malas-malasan.

Sarang muncul dibalik pintu toko lalu berteriak-teriak kesal..

“omma.. kapan kita berangkatnya, udah lama sarang nungguinnya tahu enggak…!!” rengek sarang menggoyang-goyangkan kemeja putih dara.

“sarang.. baby, omma sedang sibuk. Tunggu sebentar yah.. habis ini kita langsung berangkat ok!!” dara mengelus-elus pipi sarang yang cemberut itu.

Sarang  mengangguk paham dan menghampiri hanbin yang sedang sibuk membawa tas yang ternyata besar itu.

“oppaaa… sini biar sarang bantu!!” hanbin menolehnya dengan malas, “aigoo.. udah sana duduk aja! Nanti makin lama kalau kamu ganggu terus!” sarang hanya bisa cemberut mendengarnya. Dia lalu duduk ditepi toko dan menunggu mereka dengan cemberut. Lalu tiba-tiba dia melihat jiyong sedang mengendarai sepeda menuju kearah tokonya. Tanpa pikir panjang dia berlari menghampirinya,

“samcheon.. samcheon..!” panggil sarang membuat jiyong harus mendadak berhenti.

“aigoo.. ada apa?” tanyanya sedikit kaget.

“samcheon mau kemana?” tanya sarang, jiyong tersenyum lalu mengerutkan dahinya saat melihat toko didepannya bertuliskan “CLOSE”..

“tadinya samcheon mau ke toko ada yang mau dibeli tapi kayanya lagi tutup jadi samcheon pulang lagi aja…” sarang mengangguk-ngangguk dengan mulut membentuk huruf O.

Tiba-tiba sarang dapat ide, lalu dia beralih kepada dara.

“omma..omma…?” teriak sarang membuat dara menoleh kepadanya, “weoh.. ?” dan saat dia menemukan disana ada jiyong, dara langsung mengangguk kecil kepadanya.

“omma.. ajak samcheon yah.. biar rame!! Ajakin samcheon.. yah.. yah.. yahh!!” rengek sarang sambil menarik-narik tangan jiyong.

“aigoo.. sarang! Jiyong samcheon mungkin gak bisa..”

“bisa kok, iya kan samcheon..!!” sarang melirik jiyong dengan wajah memelas.

“sarang.. baby, kamu jangan gitu. Jangan paksa, jiyong samcheonnya mungkin sibuk..!”

“aniyo.. samcheon tadi bilang mau ke toko tapi karena tutup jadi dia mau pulang aja.. iya kan samcheon!!” melihat sarang yang sudah hampir menangis membuat jiyong tidak tega, lagian dipikir-pikir lagi lumayan daripada diam di rumah.

“memang kalian mau kemana?” tanyanya kepada dara, namun malah sarang yang menjawab.

“kita mau ke pantai.. pantai beneran bukan danau kaya gini!” seru sarang membuat jiyong tersenyum.

“mm.. sepertinya menarik juga!” balas jiyong membuat sarang tersenyum.

“horeeeee….!!” sarang bersorak. Jiyong menyimpan sepeda dibelakang toko dan sarang sudah menarik-nariknya tak sabar membawanya berjalan-jalan.

“omma..?” dara menoleh kebelakang mendengar hanbin memanggilnya.

“weh…?”

“emang gak apa-apa ahjusi itu ikut?” tanya hanbin yang melirik jiyong dan sarang yang sedang berjalan menuju ke mobil. Dara menaikan bahunya, “kenapa, omma sih gak apa-apa. Kamu memang gak suka?” tanyanya, namun hanbin menggeleng dan menatap dia dengan dingin..

“hanya canggung aja..aku ‘kan gak kenal dia!” katanya, lalu memasang headset dan memainkan musik diponselnya saat jiyong dan sarang masuk ke dalam mobil.

“kamu nyetir?” tanya jiyong sedikit kaget dan kagum..

“weh? Gak pernah lihat wanita menyetir?” tanya dara sedikit tertawa mendengarnya, jiyong menggaruk-garuk lehernya lalu tersenyum malu.

Mereka pun tiba disebuah pantai yang ternyata cukup jauh dari area mereka tinggal, tapi semuanya bersorak gembira saat kaki mereka menyentuh pasir putih disana. Sarang lalu menarik jiyong untuk ikut berlari dengannya,

“tangkap sarang.. kalau bisa yeyeyeye..?” ejek sarang sembari menangkup air dan melemparkannya pada wajah jiyong.. mulut jiyong terbuka lebar merasakan rasa dingin pada wajahnya, lalu sedetik kemudian sarang dan jiyong saling berlari kejar-kejaran yang tentunya jiyong yang menang.

Jiyong mengangkat tubuh sarang dan membawanya maju ke permukaan air, sarang menjerit dan mengencangkan genggamannya pada leher jiyong sudah menggelantung seperti koala saat jiyong mengancamnya akan menjatuhkannya dibawah air.

Dara dari kejauhan tersenyum dan menyiapkan untuk makan mereka, dia menggelarkan kain dan menyusun satu per satu makanan dan minuman. Sedangkan hanbin sedang sibuk dengan pancingannya, dia seolah-olah sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

“jangan jauh-jauh hanbin~ah…” teriak dara saat melihat hanbin berjalan mendekati air laut dan melemparkan kail pancingannya. Dara  tersenyum hambar saat tidak mendapat respon apa-apa darinya.

Dara mendesah lalu melanjutkan pekerjaannya.

“kau tidak mau basah-basahan..” kata jiyong sambil menjipratkan air kepada kepalanya, dara berusaha menghindar dan mengeluh menatap jiyong dengan kesal.

“yaa.. jadikan basah!” gerutu dara membuat jiyong tertawa.

“kau ini.. aneh! Datang ke pantai tapi gak mau basah-basahan!” sahut jiyong yang duduk disampingnya.

“aku hanya menemani mereka! Setiap liburan mereka pasti memintaku membawa mereka ke sini!” balas dara sambil mengamati sarang dan hanbin. Tangan dara melambai diatas saat melihat sarang melambaikan tangan kepadanya, saat ini sarang tengah sibuk membuat kerajaan dengan pasir.

“omma… sarang buat banyak kerajaan!” teriak sarang, dara tersenyum dan membalasnya dengan riang. ”araseo.. nanti bawa satu kerajaannya buat omma yah!”  sarang mengangguk antusias, “ndeh!!”

Jiyong tersenyum memperhatikan mereka, hangat dan menenangkan. Pikirnya menatap wajah dara.

Lalu pemandangannya terusik saat dara beronjak bangun saat mendengar sarang menangis dan berlari menghampirinya, “weoh.. sarang..  baby kamu kenapa?” tanya dara menatapnya cemas, jiyong berlari mengikutinya.

Sarang menunjuk hanbin yang berdiri tidak terlalu jauh darinya, “oppa.. merusak kerajaannya!! Nappun oppa..!” dara menoleh ke arah hanbin yang menatapnya dengan wajah tak berdosa,

“wehh..” kata hanbin tenang, “hanbin kamu jangan gitu sama adik kamu!!” kata dara namun tidak dianggap oleh hanbin.

“abisnya kerajaannya jelek. Lagian kalau bukan sama aku nanti juga rusak sama ombak pantai!” dara menahan napasnya, “tapi tetap kamu gak boleh kaya gitu!” hanbin membanting pancingannya, “ribet!” katanya sambil berjalan ketempat makanan yang sudah disiapkan dara tadi. Dara menggeleng lalu memeluk sarang.

“kwencahana.. sekarang kita makan yah..! omma udah buat sandwich kesukaan sarang!” sarang mengangguk walaupun mulutnya masih manyun.

Jiyong melirik hanbin yang sangat dingin itu, dalam hatinya dia bertanya.. ada apa dengan anak itu?

Setelah mereka makan, mereka melanjutkan kegiatan mereka. Sarang kembali membuat kerajaan dari pasir dan hanbin yang masih sibuk dengan pancingannya yang tak dapat-dapat itu. Dara dan jiyong duduk berdua mengamati mereka. Tak tahan dengan keheningan dara pun menoleh kearahnya,

so, you stay or just passing by?” jiyong menoleh kepada dara. Dia lalu tersenyum, “i dont know. Aku juga sedang mencari tahu itu!”

whats happen? Why you come here?”

“hmm.. penasaran?” jiyong tersenyum dan tangannya tak sengaja bersentuhan dengannya, mereka saling tatap lalu sama-sama membuang muka.

“mm.. jika kamu pikir itu terlalu private.. kamu gak usah jawab..” seru dara dengan canggung.

“aku butuh perubahan. Aku ingin memulai hidup baru. Anggap saja aku terlalu banyak dosa sehingga memilih pergi lebih memungkinkan daripada diam dan membusuk disana!!” mata dara menoleh kearahnya dengan penasaran ditatapnya lekukan wajah jiyong.

Bagaimana dia bisa mempunyai banyak dosa jika yang dia lihat bahwa pria  yang ditatapnya penuh dengan ketulusan dan penyayang?

Lalu wajah jiyong meliriknya, “apa ada masalah dengan hanbin?” “hah…?”

“ah.. aku hanya penasaran merasa anak itu lebih memilih menjauh dan menyendiri?” dara lalu menoleh kearah hanbin berada.

“dia begitu setelah dia kehilangan appa.nya! dia belum bisa menerima kenyataan itu!” dara lalu melirik jiyong dan tersenyum canggung, “mm.. nanti juga bisa hilang dengan waktu!” kata dara bernada ragu dan sedih.

“jangan hanya berharap, lebih baik kau jelaskan padanya jangan kau biarkan begitu saja! Terkadang waktu tidak bisa menghapus atau merubah suatu memory, dan terkadang malah menajdi bumerang tersendiri.” dara menatapnya dengan lekat, lalu jiyong berdiri dan berlari menghampiri hanbin. Dara menatapnya dengan terkejut.

“hey hanbin..” panggil jiyong, namun hanbin tidak menghiraukannya.

Lalu tanpa aba-aba jiyong mengambil pancingan hanbin, “ahjusi apa yang kau lakukan?” hanbin menatapnya marah dan mencoba merebut pancingannya lagi.

“lihat ini.. kau salah memasangkannya makanya dari tadi ikan-ikan selalu kabur!” kata jiyong membuat hanbin menatapnya dengan bingung, jiyong tersenyum..

“kau sebenarnya tidak bisa memancing ‘kan?” tanya jiyong dan hanbin terkejut mendengarnya.

“bagaimana ahjusi bisa tahu?” tanya hanbin menjadi penasaran.

“kau hanya ingin menghindar.. walaupun seharusnya kau harus belajar dan memasangkan alat pancing dengan benar supaya setidaknya kau tidak menghabiskan waktumu dengan tidak menghasilkan apa-apa… itu tidak berguna bukan?” hanbin tidak menjawabnya dan hanya menunduk.

Lalu hanbin merebut pancingannya, “tahu apa kau ini ahjusi!” katanya sambil berjalan menjauhinya. Namun jiyong mengejarnya.

Dara yang memperhatikannya menjadi khawatir. Sarang berjalan menghampirinya lalu menarik-narik kemeja dara..

“omma .. omma?”

“heuh…?” dara menoleh kearah sarang.

“samcheon dan hanbin oppa mau kemana?” tanya sarang polos namun dara menggeleng.

“molla.. tapi omma yakin mereka akan baik-baik aja! Ayo.. sarang udah puas mainnya? Pulang sekarang?” tanyanya dan sarang mengangguk sambil menggigil kedinginan. dara langsung memberikannya handuk dan mengganti pakaiannya.

Setelah menaruh sarang ke dalam mobil juga barang-barang yang lainnya, dara lalu menerawang mencari keberadaan hanbin dan jiyong.

“omma.. pulang?” dara berbalik melihat ada hanbin dan jiyong yang berjalanmenghampirinya.

“oh.. iya! Ayo..” katanya sambil melirik jiyong dengan wajah penuh tanya dan jiyong hanya memberikannya senyuman.

TBC^^

Ada yang bisa nebak belum donghae tu disini jadi apa?

Masih belum keliat kali yah, soalnya baru sedikit clue nya..

Oh iya, pada nanya kenapa jiyong jadi buronan sedangkan haejin yang nembak taeyeon.. aigoo.. ini artinya aku nulisnya kurang baik lagi.. maafkan author ini yang masih abal-abal..

Aku kasih clue deh,

  • Kan haejin suaminya

  • Haejin itu “psikopat”

Advertisements

14 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – Lebih Dekat [Chap. 6]

  1. Donghe manusia kan? Agak aneh sama donghe yg gamau nunjukin rumahnya, yg kayak jelangkung, beneran jelangkung kah? Wkwk
    Penasaran apa yg dibicarain jiyong hanbin, next fighting!!

  2. jiyong dara semakin dket aja,apalagi ji skrg udah bisa dket sama hanbin kkkkk ohh harjin psikopat tohh tapi bsa jdi polisi?komandan lagii hebattt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s