My Lovely PRETTY BOY : 009

little-sun

Author : Little Sun

Genre : Romance

Ratting : T

Long : 9/10 chapter

Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong, Jang Wooyoung, Ahn Sohee

**

Chapter 9

Jiyong duduk di tepi atap YG Building. Angin berhembus menerpa dirinya. Menerbangkan helaian rambutnya. Jiyong menarik napas, kemudian menghembuskannya kembali. Terik sinar matahari yang menyengat mengenai kulitnya tidak sebanding dengan semua perasaan yang saat ini berkecamuk di dalam dadanya. Semua kejadian-kejadian yang telah terjadi kembali berputar di dalam kepalanya.

Jiyong memandang warna kuning yang membentang di hadapannya. Musim gugur sudah hampir tiba dan semua masalah yang terjadi sejak hari itu belum juga selesai. Dara semakin sering pergi keluar bersama dengan Wooyoung. Bom, Chaerin, dan Minzy akan selalu bersama dengan Dara saat Wooyoung pergi dan mereka tidak pernah memberikan Jiyong kesempatan untuk berbicara dengan Dara. Jiyong sudah beberapa kali mencoba untuk menelpon Dara, tetapi selalu saja bukan Dara yang menjawab, melainkan Bom atau Chaerin atau Minzy. Jika tidak, panggilan itu pasti akan langsung di-reject. Selalu seperti itu. Jiyong juga sudah beberapa kali mencoba mengetuk pintu apartement Dara dan hasilnya sama. Menyedihkan? Ya, sepertinya begitu. Padahal hanya sebuah tembok tipis yang tak lebih dari sepuluh sentimeter yang memisahkan mereka berdua.

Jiyong meletakkan kedua tangannya di atas lutut kirinya lalu menyandarkan kepalanya. Kepalanya benar-benar terasa mau pecah jika dia mengingat semua itu. Belum lagi kemunculan Sohee yang membuat semuanya menjadi semakin buruk. Yeoja itu benar-benar datang di saat yang tidak tepat. Always like that.Hubungan mereka benar-benar telah berakhir saat yeoja itu memutuskan untuk meneruskan sekolahnya ke luar negeri. Bukan hanya karena Jiyong tidak bisa melakukan long distance relationship. Bukan. Tetapi karena yeoja itu sendirilah yang telah merusak semua kepercayaannya.

Beberapa bulan setelah yeoja itu pergi, Jiyong memutuskan untuk mengunjungi yeoja itu. Semua scenario indah yang selalu dia pikirkan dan dia putar di dalam kepalanya berubah saat dia melihat yeoja itu bersama dengan seorang namja. Mereka berjalan berdua dengan mesra. Sohee bahkan tidak menyadari kehadiran Jiyong yang berjalan melewatinya. Dia terlalu sibuk dengan namja barunya itu.

Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, semua terbongkar. Jiyong mengetahui siapa namja itu sebenarnya dan apa hubungannya dengan Sohee. Well, that’s to sick to know all of that things, but that was happened. Namja itu adalah Im Seulong. Salah seorang putra pemilik sekolah tempat Sohee berada. Mereka berkenalan tepat pada hari pertama Sohee menginjakkan kakinya di sekolah itu dan seminggu kemudian mereka telah menjadi sepasang kekasih.

Dan yang lebih membuat segalanya menjijikkan adalah perkataan yang dengan mudah yeoja itu lontarkan.

Well, it is how our relationship works. You can get one if you want. We are on LDR, baby. I can’t do it anymore. I knew, I am the one who ask you to do this, but.. I take it back. I can’t. Lets continou our relation when I am back,”

Stupid, right?

 That’s how everything change on Jiyong’s life.

Jiyong menarik napas lalu mengembuskannya lagi. Terlalu lama dia berada di tempa ini, sehingga dia tidak menyadari berapa lama waktu telah berlalu tanpanya. Dia merebahkan tubuhnya di lantai dan memandangi langit malam yang tertutup awan. Bahkan sepertinya bintang-bintang pun tidak ingin keluar hanya untuk menyapanya atau sedikit memberikan dukungan padanya.

Am I so stupid?” gumam Jiyong lalu memejamkan kedua matanya. Dia meletakkan tangan kanannya di atas kedua matanya.

**

Tidak ada bintang, hanya kegelapan malam yang membentang. Mengukuhkan semua kegelapan dan kesedihan yang telah menyelimutinya selama beberapa bulan terakhir ini. Dara mengeratkan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Memerikan sedikit kehangatan pada tubuhnya.

Semua kejadian yang terjadi selama beberapa bulan ini benar-benar telah menguras habis seluruh tenaganya. Secara fisik dan secara mental. It’s a mess! Dan perasaan yang berkembang di dalam hatinya tidak cukup membantu untuk semua hal yang telah dia lakukan untuk membuat segalanya kembali normal.It’s so hard! Dia tidak ingin semua yang terjadi pada masa lalunya kini akan kembali terjadi dan kini dialah orang yang akan menghancurkan segalanya.

Tidak. Dia tidak ingin melakukan semua ini. Cukup dia yang merasakan semua perasaan yang menyakitkan ini. Dia harus merasakannya karena dia yang telah memulai semuanya. Ya, dia yang telah memulainya. Jika dia mengatakan tidak sejak awal maka semua hal-hal gila ini tidak akan terjadi padanya.

Dan Bom, Minzy, Chaerin, Wooyoung dengan jelas tau tentang masalah ini. Mereka sangat membantunya untuk melewati beberapa bulan yang sangat menyakitnya ini. Mereka dengan setia terus memberinya semangat dan membantunya. Without them, she will never stand here right now.

Dara memejamkan kedua matanya. Membiarkan hembusan angin malam menerpanya. Aroma musim gugur yang sejuk memberikan sedikit terapi untuknya untuk melepaskan semua penat yang terus membayanginya. Semua sesak di dalam rongga dadanya yang selalu membuatnya muak. Dan untuk semua hal-hal gila ini.. mungkin inilah akhir yang harus dia ambil. Demi semua.. dan demi dirinya.

Damn it! Tidak kah kau tau kami menunggumu di rumah?” teriak seorang yeoja dari ruang keluarga.
Dara duduk di balik pintu kamarnya sambil memeluk boneka ungunya. Tubuhnya bergetar. Air matanya tak juga berhenti mengalir. Hatinya takut.. ya.. dia sangat takut saat semua hal ini terjadi. Teriakan-teriakan itu, suara pecahan kaca, suara pintu dibanting dengan keras, suara tamparan, semua suara-suara yang membuatnya merasa ketakutan. Suara-suara mengerikan yang terdengar dari balik pintu kamarnya.
“Menungguku? Kau bahkan tidak pernah di rumah saat aku pulang ke rumah ini!” teriak seorang namja lalu diikuti dengan suara sebuah benda menghantam tembok.
“Kau.. kau menyalahkanku?” tanya yeoja itu.
“Tentu saja! Tugas seorang istri dan seorang eomma adalah untuk menjaga keluarganya dengan baik!” teriak namja itu,”Tidak berkeliaran dengan laki-laki di bar!”
“Laki-laki di bar?” tanya yeoja itu dengan suara melengking, “Mereka adalah atasanku! Aku hanya mengantar mereka! Aku bahkan tidak meminum alcohol dari tempat itu walau hanya setetes!”
“Pembohong!” teriak namja itu, “Pelacur!”
Dara mulai mengeluarkan suara isak tangisnya. Suara isakan yang sangat pelan, tetapi terdengar jelas di dalam kamar kecil Dara yang dipenuhi dengan kegelapan. Tirai-tirainya terbuka dan begitu pula dengan kaca-kaca jendela yang ada di kamar Dara. Tirai-tirai putih mengayun, melayang mengikuti hembusan angin malam yang masuk ke dalam ruangan itu. Menebarkan hawa dingin di dalamnya.
Dari balik pintu itu mulai terdengar suara isakan pelan seorang yeoja, “Kau..,” kata yeoja itu di sela-sela tangisnya, “Kau.. menyebutku.. pe.. pelacur?”
“Ne! Kau memang seorang pelacur! Kau menjual dirimu pada bos-bos kayamu itu dan mendapatkan uang yang kau sebut sebagai hasil jeri payahmu itu kan?” teriak namja itu.
“Cukup!”
“Wae?” tanya namja itu dengan suara yang lebih pelan, “Wae? Wae? Kau tidak menyangka aku mengetahui semua itu?”
 “Cu.. cukup!”
“Wae? Kau pikir aku hanya akan diam saja melihat dan mendengar semua kabar itu?”
Suara isakan Dara terdengar semakin kencang. Napasnya mulai tidak beraturan. Jari-jari kecil Dara mengeratkan genggamannya pada boneka ungu di tangannya. Lalu ia menenggelamkan wajahnya di balik lututnya yang telah ia tarik mendekat ke dadanya.
“AKU BUKAN PELACUR!” teriak yeoja itu.
Terdengar suara tamparan yang cukup keras. Diam selama beberapa saat.
“Kau berani menamparku?” bisik sebuah suara seorang namja.
“A.. aku..,”
“Kau berani menamparku?” tanya namja itu dengan suara sedikit keras.
“A.. aku..,”
PLAAKKK!!

 

Dara duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke pagar besi di belakangnya. Angin dingin berhembus menghantam punggungnya. Dia menarik lututnya lalu menenggelamkan wajahnya di balik tangannya yang dia letakkan di atas kedua lututnya.

Eomma..,” bisiknya lirik, “Neomu apayoo,”

**

Dedaunan musim gugur berjatuhan tertiup angin. Menutupi setiap permukaan jalan dengan berbagai warna kuning hingga kecoklatan. Hembusan angin dingin menerpa setiap orang yang berjalan di tepian jalan. Menguatkan aroma musim gugur di tengah Kota Seoul.

Oppa, ayo beli es krim!”

Seungri menoleh pada seorang yeoja yang berjalan di sampingnya. Lee Jieun, melingkarkan tangan kanannya di lengan kiri Seungri sambil berjalan menyusuri taman yang dipenuhi dengan orang-orang yang asyik menghabiskan akhir pekannya bersama dengan orang yang mereka sayangi.

“Di cuaca sedingin ini?” tanya Seungri.

Jieun mengedipkan matanya, “Wae?”

“Apa kau tidak takut sakit?” tanya Seungri.

Jieun tersenyum, “Ani,” jawab Jieun, “Karena ada Oppa yang akan selalu menjagaku,”

Seungri membuka mulutnya tak percaya, “Mwo?” tanya Seungri, “Apakah sekarang aku babysitter-mu?”

Ani,” jawab Jieun, “My bodyguard,”

Bodyguard?”

Ani! Ani! Ani!” jawab Jieun sambil menggeleng. Dia melepaskan tangannya dari lengan Seungri lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang, “You are my slave!” kata Jieun mantap.

MWOYA?”

Jieun terkekeh, “Ne!” jawab Jieun sambil mengangguk.

Seungri mengulurkan tangannya lalu mencubit kedua pipi Jieun, “Anak nakaaaaaaaallll,” kata Seungri.

“A..aa..aaa..appaaayyooo…,” kata Jieun lalu memukul tangan Seungri. Dia mengerutkan bibirnya dan menyipitkan kedua matanya pada Seungri, “Hate you!”

“Jincayo?” tanya Seungri dengan nada bercanda.

Absolutely!” jawab Jieun.

Seungri tersenyum, “Jadii.. kau sudah tidak mau es krim?”

Raut wajah Jieun langsung berubah saat dia mendengar kata es krim, “Ani.. anii..,” kata Jieun sambil melingkarkan lengannya di leher Seungri, “Neomu.. neomu.. saranghae!”

Seungri tertawa saat mendengar kata-kata Jieun, “Arrayo,” kata Seungri, “Ayo beli es krim,”

“Yey!”

**

Musim gugur yang membosankan. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Chaerin. Sejak kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu semuanya berubah. Tidak hanya hubungan Dara dan Jiyong, tetapi juga hubungan kelima namja itu dan keempat yeoja ini –Chaerin, Bom, Dara, dan Minzy. Tidak ada lagi hubungan dekat seperti dulu. Hubungan mereka saat ini tak lebih dari sunbae dan hokbae.

Well, kecuali Bom dengan Seunghyun dan Daesung dengan Minzy. Pada awalnya Bom dan Seunghyun-lah yang paling tidak bisa disatukan, tetapi satu bulan terakhir ini secara tidak sengaja Chaerin selalu menangkap basah mereka berdua. Entah saat Seunghyun mengantar Bom pulang, saat Bom diam-diam menyelinap keluar untuk pergi dengan Seunghyun, saat Bom diam-diam membuatkan bekal makan siang yang ‘katanya’ akan dia berikan pada anak kucing yang dia temukan di kampus. Anak kucing, huh? Bahkan anak kecil tidak akan semudah itu percaya pada kata-kata itu.

Dan hubungan Daesung dan Minzy juga berjalan lancar. Sejak awal mereka sangat cocok menjadi sahabat dan begitulah hubungan mereka saat ini berkembang. Daesung sering mengajak Minzy keluar secara terang-terangan di depan umum. Entah untuk belajar bersama, bermain bersama, atau berbagai hal lain yang tidak Chaerin ketahui.

Dara? Akhir-akhir ini yeoja itu selalu keluar dengan Wooyoung. Menghabiskan setiap waktu mereka berdua.Like a married couple? Yes! Hanya dia sendiri yang akan tinggal di apartement dan menunggu kedatangan mereka bertiga di rumah. Membersihkan rumah, menonton televisi, membaca buku, atau pergi ke caféuntuk bekerja. Ahh, tidak ada yang menyenangkan jika kau melakukan semua hal itu sendirian.

Chaerin berjalan di bawah guguran daun berwarna kecoklatan sambil membetulkan letak syalnya. Udara dingin perlahan mulai menembus jaket tebal yang dia gunakan. Di sekitarnya, setiap orang berlalu -lalang dengan orang yang mereka kenal, sedangkan dia? Berjalan sendiri tanpa tentu arah. Menyebalkan!

Chaerin mengecek handphone-nya, tetapi tidak ada satu pun pesan yang masuk. Hanya wallpaper rilakkuma yang setia menghiasi layar handphone-nya. Chaerin mendesah lalu berjalan ke salah satu bangku di dekatnya.

“Bosan,” gumam Chaerin sambil menyandarkan tubuhnya.

Dia mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Oppa, es krimnya enak!”

“Berikan padaku,” kata seorang namja.

Chaerin menoleh saat mendengar suara itu. Kedua matanya melebar saat mengenali namja yang sedang berjalan dengan seorang yeoja tak jauh dari tempatnya duduk.

Aniyo,” jawab yeoja itu.

Wae?”

Ini es krimku,” jawab yeoja itu.

Chaerin menghembuskan napasnya lalu berdiri dari kursi. Dia menarik tudung hoodie-nya lalu berjalan ke arah kedua orang itu. Semakin dekat dan dia bisa melihat dengan jelas raut wajah mereka berdua. Chaerin berjalan melewati mereka berdua sambil memegangi tudung hoodie-nya dengan tangan kanannya. Kepalanya sedikit menunduk dan tangan kirinya tersimpan di dalam sakunya.

Oppa, kenapa berhenti berjalan?” Chaerin dari jauh mendengar yeoja itu bertanya.

Selama beberapa saat tidak terdengar jawaban.

Ani,” jawab namja itu kemudian, “Ayo pulang,”

Ne,” jawab yeoja itu.

Chaerin mengeratkan bajunya dan mempercepat langkah kakinya meninggalkan tempat itu. Menuju ke tempat lain yang  bisa mengalihkan pikirannya dari semua perasaan tidak mengenakkan ini.

**

Langkah kaki Jiyong menggema di sekeliling tangga yang dia naiki. Sebuah tangga yang selama beberapa bulan terakhir ini tidak pernah dia lewati. Sebuah tangga yang menghubungkannya ke sebuah tempat yang telah mengubur jutaan kenangannya di masa lalu.

Tidak ada pemandangan yang berubah setelah beberapa bulan ini dia tidak melewati tangga ini. Hanya.. terasa berbeda. Jiyong berhenti anak tangga terakhir, di depan sebuah pintu tua yang permukaannya mulai mengeluarkan karat. Dia menaik napas perlahan lalu menggenggam gagang pintu itu dan membukanya. Cahaya matahari masuk mengenainya dan membuat matanya sedikit silau sehingga dia harus menggunakan tangan kanannya untuk menghalau sinar itu.

Jiyong melangkah melewati pintu itu.

I miss you,”

Langkahnya terhenti saat mendengar suara itu. Sebuah suara yang selama ini dia rindukan. Sebuah suara yang selalu menghantui malam-malamnya. Jiyong mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru atap gedung itu hingga pandangannya berhenti pada seorang yeoja berambut pendek yang berdiri di tepi pagar. Tubuhnya terbalut dalam pakaian casual dan sebuah cardigan hijau tua. Tubuh yeoja itu membelakangi  Jiyong, sehingga yeoja itu tidak menyadari kehadirannya.

Neol.. paboya!” teriak yeoja itu.

Jiyong hanya terdiam dan berhenti di tempatnya. Jantungnya mulai berdetak kencang seolah kembali hidup. Mendengar suara yeoja itu, melihat yeoja itu, seolah telah menghidupkan kembali dirinya yang telah mati selama beberapa bulan ini.

Hatinya ingin dia bergerak, menggapai tubuh yeoja itu, memeluk yeoja itu, menggenggamnya dan tak pernah melepaskannya untuk selamanya. Namun, entah kenapa tubuhnya tidak bergerak dan hanya diam di tempatnya. Hanya terdiam dan tak bergerak. Pabo! Kwon Jiyong pabo! Luapan emosi memenuhi setiap relung hatinya. Mengisi semuanya dengan berbagai emosi yang tiba-tiba saja datang dan menyambutnya.

Pabo! Pabo! Pabo! Pabooooooooo! Kwon Jiyong pabo!” teriak yeoja itu, “Apakah dia se-special itu hingga kau tidak mengejarku lagi? Seperti dulu? Saat pertama kita bertemu?” yeoja itu mendesah, “PABOO!” yeoja itu meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Aku benci padamuuu! Kwon Jiyong pabo!”

Jiyong tersenyum mendengarnya.

Yeoja itu menendangkan kakinya pada pagar besi, “Aigoo~! Apa!”

Mata Jiyong melebar saat melihat hal itu, tetapi dia masih juga tidak bergeming dari tempatnya.

“Ini semua gara-gara Kwon Jiyong!” gerutu yeoja itu, “Pabo!”

Tiba-tiba saja terdengar suara handphone berbunyi dan yeoja itu mengeluarkan handphone-nya dari dalam saku.

“Hmm.. Park Bom sedang menungguku di luar,” gumam yeoja itu.

Yeoja itu bergerak dan mulai berbalik. Jiyong langsung bergerak dan berjalan ke balik pintu dengan cepat. Bersembunyi di balik daun pintu tua itu.

“Sepertinya.. kau benar-benar telah melupakanku,” kata yeoja itu lalu berjalan keluar.

Jiyong hanya diam dan memperhatikan tubuh yeoja itu perlahan keluar dan melewatinya. Tanpa yeoja itu ketahui sepasang mata yang telah merindukannya ini terus mengawasinya dan sebuah senyum mengembang di wajah Jiyong. Senyum bodoh seorang namja yang baru saja menemukan kembali kehidupannya.

Dara-ah!” Jiyong mengenali suara itu sebagai suara Bom, “Cepat turun! Aku lapar!”

Ne,” jawab yeoja itu dan langsung berlari menuruni tangga.

“Kenapa kau di atas sana?” tanya Bom.

“Membuang kesialan,” jawab yeoja itu.

Jiyong tertawa tanpa mengeluarkan suara, “Membuang kesialan?” gumam Jiyong sambil terus memperhatikan punggung yeoja itu berjalan menjauh meninggalkannya bersama dengan Bom. Yeoja itu.. sekarang terlihat lebih bahagia. Jika Jiyong tidak mendengar kata-kata yeoja itu barusan, dia pasti akan semakin menjauhinya dan meninggalkannya bersama dengan Wooyoung. Pasti!

Pabo,”

**

Cafetaria dipenuhi dengan siswa-siswa yang sedang menikmati makan siang mereka. Istirahat makan siang sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu. Dara dan Bom langsung berjalan ke meja yang biasa mereka duduki. Di meja itu sudah ada Chaerin dan Minzy yang asyik dengan yogurt mereka.

Eonni!” teriak Minzy saat melihat kedua eonni-nya berjalan ke arah mereka.

Dara dan Bom tersenyum dan langsung duduk di kursi.

“Mana yogurt-ku?” tanya Bom.

“Ini,” jawab Chaerin sambil memberikan sekotak yogurt jagung pada Bom.

Yummy!” kata Bom.

“Dan ini untuk Dara eonni,” kata Minzy sambil memberikan yogurt strawberry padanya.

“Bagaimana kelas kalian?” tanya Dara sambil memakan yogurt-nya.

“Keren! Teddy baru saja mengajarkan cara baru untuk mengkomposer lagu!” kata Minzy bersemangat, “Kau harus melihatnya secara langsung,”

Chaerin terkekeh, “Magnae kita telah menjadi penggemar beratnya,”

Dara tertawa, “Jincayo,”

Minzy mengangkat kedua bahunya, “Well, dia keren,” jawab Minzy dengan nada cool-nya.

“Kau ini,” kata Bom sambil mengusap kepala Minzy.

Eonni, aku sudah besar,” protes Minzy.

Chaerin, Dara, dan Bom tertawa mendengar protes Minzy.

“Perlakukan aku seperti yeoja dewasa,” tambah Minzy.

Mereka bertiga semakin tertawa. Tawa Dara terhenti saat dia melihat namja yang selama ini selalu menghantui malam-malamnya berjalan memasuki cafetaria dengan wajah bahagia. Dara tidak tau apa yang baru saja namja itu alami, tetapi sepertinya dia sangat bahagia.

Oppa, ke mana saja kau pergi?” tanya Sohee yang tiba-tiba saja muncul di depan Jiyong dan langsung melingkarkan tangannya di lengan namja itu.

Jiyong tidak menjawab dan hanya tersenyum dan kembali berjalan.

“Katakan padaku!” protes Sohee, tetapi Jiyong tidak menjawab. Dia langsung berjalan menghampiri keempat temannya yang lain yang telah duduk di tempat yang biasa mereka duduki.

Dara eonni,” panggil Chaerin.

Dara mengalihkan pandangannya dan pada Chaerin, “Wae?”

“Cepat makan. Nanti yogurt-mu tidak enak lagi,” kata Chaerin.

Dara tersenyum kikuk. Dia tau, alasan sebenarnya Chaerin memanggilnya adalah agar dia tidak kembali memperhatikan namja itu, tetapi dia mencoba menggunakan alasan lain. Dara langsung memakan yogurt-nya dan menenggelamkan pikirannya dalam obrolan yang dibawa oleh ketiga sahabatnya ini.

Selama beberapa bulan terakhir ini, mereka telah bekerja keras untuk membuatnya melupakan namja itu. Melupakan permainan konyol mereka dan kembali fokus pada hidupnya seperti sebelum dia mengenal namja itu. Meski cukup sulit dengan kenyataan mereka bersekolah di sekolah bersama dan namja itu merupakan siswa istimewa di sini. Well, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin mereka pindah sekolah hanya karena alasan tidak masuk akal kan? Lagi pula itu juga merupakan tindakan pengecut. Dara tidak mau melakukan hal itu.

Wooyoung juga telah membantu banyak. Dia selalu menemaninya kapan pun Dara membutuhkannya dan selalu ada di sampingnya. Membuatnya kembali ceria seperti dulu saat mereka masih tinggal bersebelahan. Beberapa waktu yang lalu Wooyoung juga sempat mengantarnya pergi ke Busan dan mengunjungi Eomma-nya. Sanghyun, adiknya dari pernikahan kedua Eomma-nya, sepertinya telah merawat Eomma-nya dengan baik. Jadi, Dara bisa sedikit lebih lega untuk kembali melanjutkan kehidupannya di sini.

Dara-ah! Ya~! Dara,” panggil Bom.

Dara menoleh. Ketiga sahabatnya menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Kau melamun lagi, Eonni,” kata Minzy.

Wae?” tanya Chaerin.

Dara tersenyum, “A.. aniya,” jawabnya sambil tertawa kikuk, “Tadi kalian sedang membicarakan apa?” tanya Dara.

Bom mendesah, “Kami sedang membicarakan pergi ke China Town,”

“Pergi ke sana sepertinya menarik,” kata Minzy, “Ku dengar sedang ada festival lampion,”

“Aku punya kenalan teman yang memiliki restaurant di daerah itu,” kata Chaerin.

“Benarkah?” tanya Dara, “Wahh.. sepertinya menyenangkan,”

“Benarkan?” kata Bom, “Ideku memang selalu bagus,” Bom menyombongkan diri sambil melipat kedua tangannya.

“Baru sekarang, Eonni,” kata Minzy.

“Siapa yang menyarankan kita berlibur ke pantai di tengah musim dingin yang penuh badai?” tanya Chaerin.

“Berlibur ke gunung di tengah musim panas,” kata Minzy.

“Dan berlibur ke gua di musim semi yang indah,” tambah Dara.

Bom mengerutkan bibirnya, “Ya~! Kalian kejam sekali padaku,”

Eonni lebih kejam karena menyarankan kita pergi ke tempat seperti itu,” jawab Minzy.

“Huft!”

Dara, Chaerin, dan Minzy tertawa melihat ekspresi Bom.

**

Bom berjalan di antara deretan rak-rak buku. Rak-rak tinggi yang menjulang dipenuhi dengan berbagai buku yang tertata rapi. Menyimpan berbagai macam buku dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Bom sendiri sampai sekarang masih bingung, kenapa di sekolah musik ada perpustakaan dengan berbagai macam buku seperti ini. Aneh!

“Shuutt!”

Bom menoleh saat mendengar suara itu, tetapi tidak ada seorang pun di tempat itu. Bom kembali berjalan dan menelusuri setiap rak. Mengamatinya dengan seksama.

“Shuutt!”

Suara itu kembali terdengar dan Bom kembali mengedarkan kepalanya, tetapi masih sama. Tidak ada seorang pun yang ada di sekitarnya.

“Jangan bilang ruangan ini berhantu,” gumam Bom, “Hiii~”

Hanya dengan membayangkan hal itu saja telah membuat bulu kuduknya berdiri. Hantu? Kau bercanda!

Bom kembali berjalan. Kali ini dia berjalan sambil membaca buku yang ditariknya dari salah satu rak. Well,hanya sebagai alat berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Hanya berjaga-jaga, okey? Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sambil mencari beberapa buku yang sedang dicarinya.

Tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di perutnya dan memeluknya erat dari belakang. Bom berteriak, tetapi teriakannya tertahan oleh sebuah tangan yang membekap mulutnya dengan kencang. Panik, Bom langsung mengayunkan buku yang digenggamnya dan memukulkannya pada siapapun yang saat ini berdiri di belakangnya.

“Auuu!” teriak namja di belakang Bom.

Bom langsung berbalik dan langsung membelalakkan matanya saat mengenali namja itu.

Seunghyun-ah!” teriak Bom. Dia langsung berlutut dan mengecek keadaan Seunghyun yang membungkuk sambil memegangi kepalanya. Dia menutup kepalanya dengan kedua tangannya, sehingga membuat Bom semakin panik.

Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Gagar otak? Pendarahan? Tidak! Jangan sampai mati!

Seunghyun-ah! Katakan sesuatu,” pinta Bom sambil menggerakkan tubuh Seunghyun, “Ayolah! Seunghyun-ah!”

Namun namja itu tidak bergerak dan masih merintih kesakitan.

“Seunghyun! Katakan sesuatu padaku!” kata Bom. Bom menarik paksa kedua tangan namja itu hingga kini dia bertatapan dengan dua mata coklat Seunghyun yang saat ini bagian putihnya telah berwarna merah. Bom semakin panik saat menyadari hal itu, “Omo~! Mianhae!” kata Bom sambil membelai wajah Seunghyun dengan kedua tangannya.

Seunghyun hanya terdiam dan menatap Bom dalam diam.

Seunghyun-ah! Katakan sesuatu. Jebal!” pinta Bom.

Seunghyun kembali terdiam.

Seunghyun-ah! Jebal,” kata Bom.

Seunghyun mengedipkan matanya sekali, “Kiss me,” kata Seunghyun.

Mwo?” tanya Bom, “M..mwoya? Ki.. Kiss?”

Seunghyun mengangguk sambil tersenyum senang.

“Ya~!” Bom meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Neo.. neol!”

“Wae? Itu balasan yang setimpal karena telah memukul kepalaku,” kata Seunghyun.

“Se..setimpal?” tanya Bom.

“Yep!” jawab Seunghyun sambil mengangguk.

Bom mendesah lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Seunghyun.

“Bom! Bom-ah!” panggil Seunghyun, tetapi Bom tidak menghiraukannya dan terus berjalan.

Seunghyun langsung mengejar Bom dan melingkarkannya di sekeliling pinggangnya.

Don’t mad at me,” bisik Seunghyun tepat di telinga kanan Bom.

Bom hanya diam.

Please..,”

Bom mendesah, “Arraseo,” jawab Bom lalu tersenyum.

**

Lampu-lampu lampion terpasang di sepanjang jalan. Menghiasi setiap sudutnya dengan cahaya yang indah. Orang-orang berlalu-lalang di bawahnya. Berbagai barang di perjualbelikan di sekitar kawasan itu. Berbagai makanan juga tersedia di kedai-kedai dan restaurant-restaurant yang berada di sepanjang jalan.

Bom, Dara, Chaerin, dan Minzy berjalan di sepanjang jalan China Town sambil mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru tempat itu. Hanya merah dan kuning, warna-warna yang menghiasi tempat itu. Mendominasi tempat itu dengan penuh keberuntungan.

“Mana restaurant-nya?” tanya Bom, “Aku ingin makan jagung!”

Minzy menoleh, “Jagung di China Town?”

“Ku dengar mereka tidak menjual itu,” kata Dara.

Bom mendesah, “Benarkah?” tanya Bom, “Jangan membohongiku!”

“Aku juga mendengar hal itu,” kata Chaerin.

Bom mengerutkan bibirnya, “Kalau begitu kita pulang saja!” kata Bom langsung berbalik, tetapi tangan Chaerin dan Minzy lebih cepat. Mereka langsung menggandeng tangan Bom dan menariknya ke salah satu restaurant yang tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri. Dara hanya terkekeh dan mengikuti mereka bertiga.

Minzy membuka pintu dan saat mereka melangkah masuk. Suasana negeri tirai bambu itu telah menyambut mereka dengan hangat.

Welcome to our lovely restaurant!” teriak setiap pekerja saat mereka mendengar pintu depat terbuka.

Mereka berempat tersenyum kikuk dan langsung berjalan ke salah satu meja yang ada di ujung. Di dekat sebuah patung panda.

“Panda ini mengingatkanku pada sesuatu,” gumam Chaerin, “Apa ya?”

Bom langsung menarik Chaerin dan mengajaknya duduk, “Cepat pesankan makanan untukku!” kata Bom.

Dara tersenyum, sedangkan Minzy langsung membuka daftar menu yang ada di depan mereka. Di depan mereka tertulis berbagai makanan dalam huruf hanja yang rumit dan tak mereka mengerti. Keempatnya melihat setian nama dalam menu itu tanpa satu pun yang mereka mengerti.

Minzy mendongak, “Sepertinya ide kita salah pergi ke tempat ini,” kata Minzy.

“Aku.. tidak mengerti makanan apa ini,” kata Bom.

“Aku belum pernah belajar bahasa mandarin,” kata Dara.

Mereka bertiga menoleh pada Chaerin. Chaerin mendongak sambil menampakkan senyumnya, “Me too,”

“Yaaahhh! Bagaimana kita bisa makan?” gerutu Bom.

“Bersedia ku bacakan?”

Mereka berempat mendongak. Di samping mereka berdiri seorang yeoja cantik dalam balutan pakaian China. Mereka memperhatikan yeoja itu dari atas sampai bawah dan mereka berhenti pada kaki yeoja itu.Ani! Dia namja! Omo! Mereka berempat mendongak dan mendapati yeoja, ani, namja itu menatap mereka dengan tajam.

“Memperhatikan daerah pribadi itu tidak sopan,” kata namja itu tajam.

Pipi mereka berempat langsung merona merah saat menyadari maksud dari perkataan namja itu.

Heechul-ah, jangan terlalu kejam pada pelanggan. Salahmu sendiri memakai pakaian seperti itu,” kata seorang namja dengan wajah khas China yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka.

Han oppa!” teriak Chaerin.

Annyeong!” kata namja itu.

Chaerin langsung berdiri dan memeluknya.

“Akhirnya kau keluar! Aku tidak tau, tempat macam apa ini?” gumam Chaerin.

“Ini adalah Hanchul House,” kata namja bermana Han itu.

Dara, Bom, dan Minzy menatap kedua namja asing itu bergantian.

Namja bernama Han itu tersenyum, “Sepertinya aku harus memperkenalkan diri dulu,” kata namja itu sambil tersenyum, “Jeonun Han Geng imnida, tetapi orang-orang biasa memanggilku Han atau Hankyung,” kata Han, “Dan ini Kim Heechul,” kata Han sambil menunjuk namja di sampingnya yang hanya menatap keempat yeoja itu dengan tatapan tajam.

“Ee.. Minzy imnida,” kata Minzy dengan senyum kikuk.

Han tertawa, “Heechul-ah! Sepertinya kau telah membuat mereka ketakutan,” kata Han.

Heechul langsung menoleh pada Han sambil tersenyum, “Jincayo?” tanya Heechul dengan nada ceria.

Ne,” jawab Han, “Mian atas sikapnya barusan. Dia memang senang menggoda pelanggan kami,”

“Hanya menguji mereka,” jawab Heechul sambil tersenyum, “Kalian tidak takutkan? Cantik,” kata Heechul sambil berkedip.

“Hehehe.. sedikit,” jawab Bom.

“Dia adalah pemilik restaurant ini,” kata Han, “Dan aku kepala koki di sini,”

“Benarkah? Kau pemiliknya?”

Mereka berenam menoleh saat mendengar suara itu. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, lima orang namja dan dua orang yeoja berdiri. Minzy dan Chaerin saling bertukar pandang saat mengenali tamu baru mereka, Dara langsung mengalihkan pandangannya pada sumpit-sumpit di depannya, sedangkan Bom bertukar senyum rahasia dengan Seunghyun.

Kelima namja itu adalah Jiyong, Seunghyun, Daesung, Seungri, dan Yongbae. Salah satu yeoja itu adalah Sohee, sedangkan yeoja yang satu lagi, yang saat ini sedang bergelayut manja di tangan Seungri, mereka tidak mengenali siapa dia.

Chaerin mencoba mengenali yeoja itu. Ada sesuatu yang terasa familiar dengan yeoja itu, tetapi dia tidak tau apa.. yeoja itu..

Taman! Yeoja di taman!

Kedua mata Chaerin melebar saat menyadari hal itu dan langsung mengalihkan pandangannya dari mereka.

Ne,” jawab Heechul, “Aku pemiliknya. Wae?” tanya Heechul.

Sohee berjalan mendekat lalu mengulurkan tangannya pada Heechul, “Ahn Sohee imnida. Pewaris AS Group,” kata Sohee. Senyumnya mengembang dengan angkuh di bibirnya.

Heechul hanya menatap tangan Sohee yang terulur lalu menoleh pada ketiga yeoja di sampingnya, “Kalian berita belum mengenalkan diri padaku,” kata Heechul sambil menoleh pada Dara, Bom, dan Chaerin.

“Kau tidak sopan sekali,” kata Sohee saat menyadari perlakuan Heechul padanya.

“Aku tidak suka berkenalan dengan Nona Plastik,” jawab Heechul.

MWO?” pekik Sohee.

Minzy, Bom, dan Chaerin tersenyum saat melihat hal itu. Akhirnya ada ‘orang yang cukup waras’ untuk menolah Ahn Sohee di depan umum. Huh! Heaven!

“Jadi.. namamu?” tanya Heechul pada Bom sambil tersenyum.

“Bom,” kata Bom, “Park Bom imnida,”

“Musim semi,” gumam Heechul, “Nama yang bagus,”

Kamsahamnida,” kata Bom.

“Tolong tanggalkan formalitas kalian saat berbicara denganku,” kata Heechul lalu mengedipkan sebelam matanya.

Bom tersenyum. Kedua pipinya merona, “Arraseo,”

Lee Chaerin imnida,” kata Chaerin sambil mengulurkan tangannya pada Heechul.

Heechul menyambut tangan Chaerin dan menyalaminya.

Sohee yang melihat hal itu langsung melemparkan tatapan benci pada Chaerin.

“Kau.. yeoja yang sering Han ceritakan padaku,” kata Heechul.

“Kami bertemu di Paris,” kata Han.

Jinca?” tanya Heechul.

Ne,” jawab Chaerin.

Heechul menoleh pada Han, “Kau berselingkuh dariku,” kata Heechul dengan nada ketus.

Aniyo, Heechul-ah,” jawab Han santai.

Jinca?” tanya Heechul.

Ne,” jawab Han sambil tersenyum.

Heechul menoleh pada Dara, “Dan kau.. yeoja paling manis yang pernah aku lihat. What’s your name?”tanya Heechul sambil mengulurkan tangannya pada Dara.

Jeonum.. Sandara Park imnida,” jawab Dara sambil mengulurkan tangannya.

Heechul menarik uluran tangan Dara lalu memberikan sebuah ciuman di tangan Dara. Minzy, Bom, dan Chaerin saling bertukar pandang saat melihat hal itu, sedangkan sepasang mata lain mencoba menahan emosinya yang tiba-tiba saja memuncak saat melihat kejadian itu.

Nan chohayo,” kata Heechul.

M..mwo?” tanya Dara.

“Dia hanya bercanda, Dara-ah,” kata Han saat menyadari ekspresi Dara yang menjadi panik mendengar kata-kata Heechul.

Heechul melepaskan tangannya lalu tersenyum.

“Cepat urusi tamumu itu. Aku akan mengurus keempat yeoja ini,” kata Han.

Arraseo,” kata Heechul lalu berjalan ke arah tamu baru mereka, Jiyong, Seunghyun, Daesung, Seungri, Yongbae, Sohee, dan yeoja baru itu.

“Kami tidak tau harus memesan apa,” kata Chaerin.

Han tersenyum, “Tenang saja. Akan aku buatkan yang paling lezat untuk keempat yeoja cantik seperti kalian,” kata Han lalu berjalan meninggalkan mereka berempat.

“Kau lihat ekspresi Jiyong saat melihat Heechul mencium tangan Dara tadi?” bisi Bom.

Minzy dan Chaerin mengangguk, sedangkan Dara hanya menatap bingung ketiga sahabatnya.

Skat mat!” pekiknya dan ketiga yeoja itu terkekeh.

**

Suasana restaurant itu dipenuhi dengan berbagai ornament dan furniture yang membuat siapa saja yang meninjakkan kakinya di restaurant itu nyaman dan bisa menikmatinya dengan bahagia. Tetapi tidak untuk Jiyong. Awalnya saat dia melihat Dara duduk di salah satu kursi di restaurant itu dengan Minzy, Bom, dan Chaerin, hatinya bahagia. Namun, setelah melihat perlakuan namja Heechul itu pada Dara, entah kenapa dia seolah ingin keluar dari tempat itu dan membawa Dara bersamanya. Tidak akan pernah kembali ke tempat itu! Ever!

Mata Jiyong tidak pernah sedetik pun lepas dari Dara. Mengamati yeoja itu dalam setiap geraknya. Heechul, entah kenapa namja itu memilih duduk bersama mereka dan mengobrol. Tidak seperti Han yang masih melanjutkan tugasnya untuk bekerja.

Shit!

Jiyong ingin sekali menarik namja itu menjauh dan membawa Dara keluar. Jika tidak karena Daesung yang terus menggenggam bahunya, dia pasti sudah melakukan hal itu. Jiyong telah mencoba berbagai cara untuk membuat hatinya tenang, tetapi selalu gagal saat melihat namja itu duduk begitu dekat dengan Dara. Menyebalkan! Kenapa setelah dia tau hal itu, Dara malah terlihat dekat dengan namja lain. Apakah Dara telah menyerah? Dia tidak lagi memiliki perasaan untuknya? Benarkah?

Jiyong terus mengumpat dalam berbagai bahasa dan dalam berbagai cara yang dia ketahui. Dia juga telah mengulang berbagai adegan dalam kepalanya untuk membunuh namja itu. Memutilasinya dan memberikan bangkainya pada Gaho. Tidak! Gaho terlalu baik untuk mendapatkan bangkainya. Dia harus membuang bangkainya jauh-jauh. Atlantik kalau perlu. Dia itu pengaruh buruk! Buruk! Buruk! Hah!

“Kau tidak makan, Oppa?” tanya Jieun.

Yeoja itu menatapnya dengan tatapan khawatir. Jiyong, Seunghyun, Daesung, dan Yongbae telah mengenal yeoja ini sejak mereka kecil. Dia adalah sepupu Seungri yang sedang melajutkan kuliahnya di Jepang. Saat ini dia sedang berada di Seoul karena ada sebuah proyek yang harus dia kerjakan. Untuk itulah mereka bisa pergi makan bersama.

Hanya tinggal mereka berenam di meja itu. Sohee langsung berjalan pergi saat mendapatkan penolakan dari Heechul. Sepertinya harga dirinya yang tinggi jatuh. Jiyong bahkan tidak mempedulikan hal itu. Dia membiarkan yeoja itu mengikutinya karena dia ingin membuat Dara cemburu.

Sejak awal dia sudah tau Dara akan makan di sini dengan Bom, Chaerin, dan Minzy dari Seunghyun. Namja itu tidak sengaja mengucapkannya di depan Jiyong dan Jiyong langsung menarik mereka semua ke tempat itu. Namun, sepertinya rencananya berbalik seratus delapan puluh derajat. Bukan Dara yang cemburu, tetapi dia. DIA! KWON JIYONG CEMBURU!

Jiyong menoleh, “Aku tidak lapar,” jawab Jiyong.

Jincayo?” tanya Jieun.

Ne,” jawab Jiyong.

“Dia sedang sakit,” kata Daesung.

Kedua mata Jieun langsung melebar, “Jincayo?” tanya Jieun.

Ne,” jawab Seunghyun sambil mengangguk.

“Sakit apa?” tanya Jieun.

“Kau lihat yeoja itu?” tanya Yongbae sambil menunjuk Dara dengan sumpitnya.

Jieun mengikuti arah yang ditunjuk lalu mengangguk.

“Dialah penyakit Jiyong hyung,” kata Daesung.

Mwo?” tanya Jieun, “Aku tidak mengerti,”

Jiyong hyung hanya akan makan jika yeoja itu yang menyuapinya,” kata Seungri sambil sibuk memakan makanannya.

“Ahhh~!” kata Jieun sambil tersenyum, “You babyboy! Akhirnya ada yeoja yang berhasil menaklukanmu,” kaya Jieun.

“Kau tau? Awalnya dia mengira Jiyong seorang yeoja,” kata Yongbae.

Jieun melebarkan matanya, terkejut dan mulutnya melebar, “Jangan bercanda! Oppa-ku yang se-macho ini disangka yeoja?”

Daesung dan Seunghyun mengangguk.

“Ceritakan padaku!” kata Jieun.

“Sudahlah.. jangan bahas masalah itu,” kata Jiyong.

Arraseo,” jawab Seunghyun sambil terkekeh.

“Aku ingin mengenalnya,” kata Jieun, “Benar-benar menarik!”

“Ya,” kata Jiyong, “Menarik,”

**

Sepasang mata menatap Seungri dari jauh. Mengamati punggung namja itu yang membelakanginya. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Tidak. Entah kenapa matanya selalu kembali pada namja itu dan mengikuti setiap geraknya, meski hal itu selalu membuat jantungnya berdetak sakit.

Hatinya telah mati sejak beberapa bulan yang lalu ketika namja itu tiba-tiba saja menjauh darinya dan mulai kembali bermain dengan setiap yeoja yang dia temui. Bermain dengan mereka tepat di depan hidungnya. Menyakitkan? Ya! Sangat. Dan dia tidak tau apalagi yang harus dia lakukan. Sepertinya percuma. Mungkin dia hanya.. salah satu dari yeoja yang dipermainkan oleh Seungri seperti yeoja lainnya. Dan kini, sepertinya namja itu telah menemukan yang baru.

Yeoja baru, huh?

Dia tersenyum sinis lalu memainkan sumpitnya di atas makannya.

 

 

to be continue ..


see you next time!

©2012Littlesun

Please read, like, and comments! 😀


Advertisements

27 thoughts on “My Lovely PRETTY BOY : 009

  1. What the hell, bom unnie pacaran diem diem nih sama seunghyun oppa, curang ihh nggak mau nungguin pasangan daragon, daemin, ma ririn😄 jiyong oppa jadi pengaggum rahasia gitu yah selalu liat dara unnie dari jauh😍😝 makanya jangan bikin orang cemburu, malah kebalik kan cemburunya #nyindir.

  2. dsini bsa dcium bau bau dukungan bom nd top. kkkkkkkk
    ngakak tau pas baca sohe ngjk kenlan. hahahahaha dngr kata pemilik kafe, dtng2 nyodr tangan hahaha, nona plastic

  3. Hehe, mau buat Dara cemburu malah Jiyong yg cemburu 😆
    Tapi Jiyong udh tau kan kalo Dara msh suka sama dia
    Semoga Ji bisa jelasin semuanya ke Dara ya
    Dan Chae bisa jadian juga ma si Panda

  4. Oooo jiyong ksian ya…knapa saat dara teriak gtu dy nongol..trus blang klw smwa ny slah pham..kn dara ga tw gmna sohee sbnrny..
    Dn skrng cm bsa liatin dari jauh aja..hmmm mkin pnsaran ni m klnjutan ny..lnjutttt thor..

  5. Omoo hanchulku mncul di ff daragon kkkkk sneng bacanya^^
    aishhh jiyong pke acra mau bkin dara cmburu lagi bkin nmbh ribet aja kkkk kenapa gak lsg mmperbaiki hbgan mreka brdua aja biar cpet baliknya kan sama2 sukajugaan kkkk

  6. Jadi jiyong mau bikin dara cemburu?? Tapi malah dia sendiri yang cemburu.. itu namanya senjata makan tuan,kekekeke >.<
    Makanya cepet jelasin semuanya ke dara,biar kalian bersatu kembali ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s