NEVER TOO LATE [Chap. 1]

♡First Chapter♡

NEVER TOO LATE

by Zia Nisa

[Length : Chaptered]

Romance Comedy; School-life (Rate T)

Main Cast : Kwon Jiyong; Park Sandara; Lee Donghae; Jung So-jung

~~~

Like playing RPG

I have to be ready

for making strategy

How to always looks like your enemy

when the truth is

I love you. Definitely.

 

Tidak peduli pagi, siang, atau malam, tidak ada yang lebih disukai Jiyong selain bermain game di ponsel atau PC nya. Baginya, game adalah hiburan sekaligus teman sejati yang selalu bisa diandalkan. Ia sudah malas berteman dengan anak-anak gang sebelah yang ingusan dan suka ngutang. Lebih baik bermain game, toh di dalamnya dia juga bisa berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya sesama gamer.

Seperti pada pagi yang masih awal ini, ia sengaja bangun pagi-pagi untuk memainkan game online yang baru dirilis. Rencananya, ia akan membuat review di forum para gamers kota Seoul.

Pletak! Saat sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba ada kerikil mengenai kepalanya. Jiyong langsung bangkit berdiri. Sambil memegangi kepala, ia berjalan ke arah jendela kamarnya untuk mengetahui oknum yang telah mengusik ketentraman hidupnya pagi ini.

“Hei Kwon Jiyong! Ayo jalan-jalan denganku!” teriak gadis berkepang dua yang sudah membawa kantong plastik hitam yang disinyalir Jiyong berisi kerikil untuk membombardirnya.

Park Sandara. Satu-satunya teman karibnya yang bukan gamers tapi entah bagaimana selalu bisa menyita waktunya lebih daripada game.

“Tidak mau! Jalan-jalan sendiri saja sana!” tolak Jiyong mentah-mentah. Pagi-pagi dingin begini, mau jalan-jalan kemana? Apalagi dengan Dara, ia harus mewanti-wanti gadis itu untuk tidak membawanya ke tempat aneh-aneh seperti toko kuteks atau lebih parah lagi, toko dalaman. Sepertinya kebersamaan mereka dari kecil, telah membuat Dara lupa kalau dirinya adalah seorang pria.

Dara menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga kedua kepangnya ikut bergoyang, “Tidak! Tidak akan kubiarkan hari yang indah ini kau lewatkan dengan mengurung diri di dalam kamarmu yang sudah seperti kandang babi! Ayo keluar.. keluar!” Benar saja, Dara mengeluarkan segenggam kerikil dari dalam kantong plastik dan dengan gaya melempar bola kasti andalannya dia melemparkannya ke arah jendela kamar Jiyong di lantai dua.

Jiyong langsung menggunakan kedua tangannya untuk menghalau serangan tanpa jeda dari Dara tersebut, “Hei, hei, hentikan! Ya ampun, Dara, tidakkah kau punya pekerjaan lain selain mengusik hidupku?!!”

“Makanya ayo jalan-jalan denganku!!” teriak Dara tak mau kalah. Ia menyiapkan segenggam kerikil lagi untuk dilemparkan pada Jiyong.

“Iya.. Baiklah.. Tapi hentikan perbuatanmu, kerikilmu bisa mengenai komputerku, tau!” Jiyong segera beringsut mundur dan menutup jendela.

“Kau pikir aku bisa semudah itu takluk padamu? Hah!” kata Jiyong sambil mengunci jendela. Ia menghidupkan lampu kamar lalu kembali duduk di singgasananya di depan komputer. Ia harus kembali menyelesaikan level yang tadi gagal ia selesaikan karena Dara.

Brak!

Bagai diterpa angin tornado, pintu kamarnya yang memang tak dikunci terbuka lebar karena telah didorong dengan kekuatan penuh.

“Astaga!” Jiyong berjengit ke belakang. Untung saja kursi yang ia duduki punya sandaran, coba kalau tidak. Pasti sekarang dia sudah jatuh terjengkang ke lantai.

“Ckckck.. Sudah kubilang keluar malah masih asik memelototi layar komputer.” si pelaku, siapa lagi kalau bukan Dara, tanpa sedikitpun merasa bersalah, memasuki kamr Jiyong dan berdiri di depan namja itu sambil berkacak pinggang.

Masih syok, Jiyong menunjuk-nunjuk Dara dengan agak gemetaran karena kaget, “Kau.. Bagaimana caranya kau bisa masuk? Bukankah pintu depan dikunci?”

Tring! Dara mengayunkan kunci berbandul monyet di depan mata Jiyong seraya tersenyum mengejek, “Ahjussi memberikan kunci cadangannya padaku. Dia memintaku untuk memastikan kau tetap hidup selayaknya manusia selama dia pergi.”

Jiyong melongo. Tangannya meraba-raba meja untuk mencari ponselnya. Ia harus menelepon ayahnya. Ia harus memintanya untuk menghentikan Dara menyiksanya. Atau dia akan mati sia-sia oleh didikan militer ala Dara yang kejamnya minta ampun.

“Sudah, tidak usah menelepon ahjussi.” kata Dara seakan tahu apa yang hendak Jiyong lakukan, “Ayo cuci muka dan sarapan di rumahku. Ibu membuat sup kacang merah kesukaan kita. Ayo!”

Tidak ada yang bisa menolak sup kacang merah buatan Nyonya Shin. Jiyong pun, meski dengan cemberut dan bersungut-sungut akhirnya mematikan perangkat komputernya lalu dengan gontai berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka.

“Aku benar-benar tidak bisa menolakmu, dasar nenek sihir.”

***

Panasnya sinar matahari tidak menghentikan Dara untuk menyelesaikan tugasnya. Sementara di depannya, Jiyong tampak anteng dan serius membaca buku Sejarah. Untuk beberapa menit, memang tidak ada yang aneh. Tapi setelah hampir setengah jam dan Dara mendapati Jiyong masih membaca halaman yang sama, Dara pun mulai curiga.

“Baca bab berapa sih?” tanya Dara sambil merebut paksa buku Jiyong. Seketika Dara mendapati salah satu tangan Jiyong tengah memegangi smartphone dan memainkan video game.

“Ya ampun..! Kukira untuk sebentar saja kau sudah mulai waras, ternyata..”

Jiyong mencibir, “Sudahlah. Yang penting tugasku sudah beres. Kau lanjut belajar saja, belajar sepuasmu.”

 .

“Lalu kau akan main game sepuasmu?”

Jiyong mengangkat bahu dan kembali bermain game. Dara menggeleng-gelengkan kepalanya. Berpikir bagaimana caranya untuk bisa merubah Jiyong yang sudah kecanduan game. Lama-lama tubuhnya yang kini masih terlihat proporsional itu bisa berubah jadi kerempeng dan otaknya bisa busuk. Masa depannya bisa hancur hanya karena hal sepele. Astaga, itu benar-benar tidak boleh terjadi.

“Ji, aku mau ke kamar mandi. Kau jangan kemana-mana! Jaga laptopku!” peringat Dara seraya beranjak berdiri.

“Tsk! Aku bukan anak kecil, ahjumma. Kalau mau pergi, pergi saja.”

Dikatai ahjumma, Dara hampir saja menoyor kepala namja itu. Ia pun segera berjalan cepat menuju kamar mandi untuk buang air kecil.

“Dara eonni?”

Oh, jangan sekarang, batin Dara saat ia mendengar namanya disebut. Ia yang hendak membuka pintu kamar mandi memutar tubuhnya dan mendapati So-jung–adik kelasnya baru saja mencuci tangan di wastafel.

“Oh, h-hai So-jung!” sapa Dara sambil menyilangkan kakinya. Sebenarnya ia sudah tidak tahan lagi, tapi apa daya..

“Kau kesini dengan Jiyong oppa, ya?” tanya So-jung ramah.

Dara mengangguk, “I-yya. Seperti biasa.”

So-jung tersenyum, sama sekali tidak menyadari posisi berdiri Dara yang aneh. “Boleh tidak aku gabung?”

“Ya.. Gabung saja.” jawab Dara agak terengah, “Maaf.. Aku sudah tidak tahan lagi.” Dara pun langsung ngacir ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, saat Dara kembali, So-jung sudah duduk di depan Jiyong yang masih saja asik dengan smartphonenya.

“Kau disini sudah lama?” tanya Dara begitu ia duduk dan mulai memberesi barang-barangnya yang berserakan di atas meja.

“Sudah. Tadi aku duduk di belakang kalian. Tapi kalian terlihat serius sekali jadi aku takut mengganggu.” jawab So-jung manis.

Dara mengangguk sambil melirik Jiyong yang jangankan menyapa, mengetahui keberadaan So-jung di depannya saja tidak. Dara pun berdeham beberapa kali hingga akhirnya Jiyong menengadah, “Ada apa?”

“Dasar babo. Sesekali simpan gadgetmu dan perhatikan sekeliling. Apa kau tidak melihat ada So-jung disini?”

“So-jung?” tanya Jiyong, ia pun memutar kepalanya dan pandangannya pun bertemu dengan So-jung.

“Kau siapa?” tanya Jiyong kaku. So-jung, dengan canggung, mengulurkan tangannya, “Perkenalkan oppa, aku Jung So-jung, anak kelas 1-1.”

Padahal So-jung begitu terkenal di sekolah, tapi Jiyong tetap saja tidak mengenalnya. Ya ampun.., batin Dara gemas.

Jiyong membalas uluran tangan So-jung dan dengan cepat melepasnya kembali, “Kwon Jiyong.”

“Jadi dia hoobae kita?” tanya Jiyong pada Dara.

Dara mengangguk, “Keterlaluan sekali kau tidak mengenalnya.”

“Ya sudah, kalian para gadis ngobrol saja. Tidak usah pedulikan aku. Santai saja.”

So-jung tertegun melihat sikap Jiyong yang begitu cuek kepadanya. Namja itu seperti terikat sepenuhnya pada benda kotak di genggamannya dan sama sekali tidak menatapnya lagi. Padahal kebanyakan namja di sekolahnya rela menunggu di tempat ia biasa lewat hanya untuk mengagumi kecantikannya.

 Dara yang menyadari arti tatapan So-jung langsung menimpali, “Sudah biarkan saja. Dia ini memang tidak sopan. Karena satu-satunya hal yang mampu menarik perhatianmya hanyalah game dan game lagi.”

So-jung melambaikan tangannya, “Tidak apa, kok. Anak cowok memang begitu. Kakakku juga suka main game.”

“Lho, kau punya kakak? Kupikir kau anak tunggal.” tanya Dara heran.

“Bukan kakak kandung. Dia kakak sepupuku yang baru pulang dari Amerika. Sebentar lagi dia akan menjemputku.” jelas So-jung yang membuat Dara manggut-manggut.

Tak lama kemudian, sebuah Lexus hitam behenti di bahu jalan cafe tersebut. Cafe itu memang tidak mempunyai tempat parkir yang luas. Maklum, hanya cafe kecil yang target pasarannya adalah pelajar biasa. Karena itulah Dara agak bingung mengapa anak direktur seperti So-jung main sendirian di tempat seperti ini.

“Nah, itu dia oppaku.” ujar So-jung menunjuk ke arah pintu.

Dara memutar kepalanya. Manik hazelnya menangkap sosok pria yang berjalan tegap menuju ke mejanya. Pria itu mengenakan ripped jeans dan kaos v-neck putih serta kacamata hitam.

“Kau mau pulang sekarang, So-jung?” tanya pria itu begitu sampai di meja mereka bertiga.

Suaranya.. Batin Dara, menatap pria itu tanpa berkedip. Suaranya manly sekali!

“Tidakkah kau mau duduk dulu dan memperkenalkan diri pada teman-temanku, oppa?” ujar So-jung.

Pria itu tertawa kecil, “Baiklah.” Lalu menyeret sebuah kursi dan duduk di atasnya. Kursi di samping Dara. Aroma cytrus langsung tercium oleh indra penciuman Dara. Dan gadis itu baru menyadari, bahwa detak jantungnya berdegup semakin cepat dari saat pria ini memasuki cafe.

“Perkenalkan aku Lee Donghae.” Ujar pria bernama Donghae ini, menyerongkan duduknya pada Dara. Dara menengadah sedikit untuk bisa melihat wajah Donghae yang jauh lebih tinggi daripada dirinya itu. Ia seakan membeku di tempat begitu melihat paras dewa tersebut dari dekat.

“Aku Donghae, siapa namamu?” tanya Donghae gemas karena lawan bicaranya justru hanya menatapnya dengan tatapan seakan ingin mengulitinya dan bukannya membalas uluran tangannya.

“Oh.. Maaf.. Na-namaku Dara.” jawab Dara gelagapan. Ia membalas uluran tangan Donghae yang langsung menggenggam tangannya. Hatinya bagai melambung di udara saat Donghae tersenyum simpul padanya.

Dara merasakannya. Merasakan semesta yang menghapus ruang dan waktu di sekelilingnya dan hanya menyisakan dirinya dan laki-laki ini.

Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.

***

Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat saat Dara dan Jiyong menyusuri trotoar menuju ke halte. Tidak seperti biasanya, Dara hanya terdiam sepanjang jalan sambil mendekap tas laptopnya di dada.

“Minggu depan kita belajar di rumahmu saja. Aku malas harus capek-capek keluar.” ujar Jiyong dengan nada menggerutunya.

“Hmm baiklah.” tanggap Dara sambil lalu.

Jiyong melirik Dara sedikit, mencoba menilai eskpresi gadis itu. Karena hanya ada tiga hal yang bisa membalikkan keadaan menjadi dirinya yang lebih cerewet daripada Dara. Yang pertama, saat gadis itu marah besar. Yang kedua, saat gadis itu sedih. Yang ketiga, saat ia sakit.

“Kau marah padaku?” tanya Jiyong sambil mengerutkan dahi.

Dara menggeleng, “Memangnya kau salah apa?”

Jiyong mengangkat bahu bingung, “Kalau begitu, apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

Ya, aku sedang memikirkan sesuatu. Suara namja itu, bagaimana caranya menyebut namaku.. Kata Dara dalam hati. Selarik senyuman nyaris saja terpatri di wajah cantiknya sebelum tiba-tiba Jiyong menempelkan punggung tangannya pada dahi Dara.

“Apa kau sakit? Kau lupa minum vitamin tadi pagi, ya?”

“Hih, kau ini kenapa sih?!” gertak Dara, melepaskan tangan Jiyong dari dahinya, “Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja.”

Jiyong mengangkat sebelah alisnya heran. Tidak biasanya Dara yang seolah punya ribuan watt cadangan energi itu bisa kecapekan dan kemudian diam saja selama lebih dari lima belas menit. Seperti ada yang tidak beres dengan gadis ini.

“Hari ini aku seperti sekuntum bunga yang akhirnya mendapatkan siraman cahaya mentarinya.” ujar Dara saat mereka berdua tiba dan duduk di halte.

“Apa maksudmu? Kau sedang mengigau?” sahut Jiyong.

Dara mencibir dan melambaikan tangannya, “Ah percuma saja bicara denganmu. Kau tidak akan bisa mengerti.”

Jiyong semakin bingung. “Terserah deh. Sepertinya kau mulai senewen karena kebanyakan belajar.”

Sebuah bus biru meluncur tak lama kemudian. Itu bus jurusan mereka. Dara buru-buru bangkit, jemari lentiknya terpaut pada jemari Jiyong, “Ayo kita pulang. Nanti keburu malam.”

Dan dengan langkahnya yang ringan, Dara membawa Jiyong memasuki bus yang sesak. Sementara tanpa Dara sadari, Jiyong menguatkan genggaman itu. Berharap untuk sedetik saja waktu berhenti. Karena untuk sebuah alasan yang masih tak jelas, Jiyong ingin tetap menggenggam tangan gadis ini.

***

Sudah jam dua belas lewat, tapi Jiyong masih belum bisa memejamkan mata. Ia tiba-tiba saja terusik dengan kejadian di cafe tadi. Saat dia berkenalan dengan kakak sepupu Jung So-jung.

“Lee Donghae.” ujar Donghae, mengulurkan tangannya pada Jiyong dengan sedikit berdiri karena Jiyong ada di seberang meja.

 

“Kwon Jiyong.” balas Jiyong dengan posisi yang sama.

 

Donghae menaikkan sebelah alisnya. “Kwon.. siapa?”

 

“Jiyong.” ulang Jiyong kemudian ia duduk lagi.

 

“Ah.. Kwon Jiyong rupanya.” tukas Donghae sambil tersenyun. Entah apa arti dari senyuman itu. Sama seperti Jiyong, ia pun lantas duduk kembali seraya berkata, “Senang berkenalan denganmu.”

 

“Ya, aku juga.”

 

Jiyong merasa benar-benar mengenalnya. Senyuman dan tatapan mata orang bernama Donghae itu terasa begitu familiar. Seperti ia pernah bertemu dan berinteraksi sebelumnya. Tapi.. kapan dan dimana? Sambil bermain Red Arlert II di perangkat komputer Linux di kamar ayahnya ia berusaha mengingat-ingat. Tapi tetap saja gagal.

“Ah sudahlah.” decak Jiyong pada dirinya sendiri. “Mungkin hanya perasaanku saja.” lanjutnya sambil mematikan komputer.

Jarum pendek pun akhirnya menunjuk angka satu saat Jiyong sudah merebahkan dirinya. Lagi-lagi ia masih saja tidak bisa tidur. Dengan resah ia berguling kesana kemari. Sepertinya sindrom insomnia yang dideritanya belum juga sembuh.

“Fokuskan pandanganmu ke satu titik dan mulailah berhitung dalam hati. Satu.. Dua.. Tiga.. Sampai nanti akhirnya kau akan terlelap dengan sendirinya. Tapi jangan lupa berdoa dulu ya!” kata Dara waktu itu.

Jiyong terkekeh sendiri. Gadis itu memang penuh dengan solusi. Dia selalu punya jawaban atas segala pertanyaan dan masalahnya. Meski cerewet dan nekadnya minta ampun. Seperti saat ini, kamar Jiyong semakin tidak jelas rupa bentuknya akibat kerikil-kerikil yang masih berserakan di lantai. Jiyong belum berniat untuk merapikannya. Andai Dara tahu mungkin dia akan menoyor kepalanya sambil bilang, “Dasar pemalas! Jorok! Cepat bereskan kamarmu!”

Sebagai manusia biasa apalagi laki-laki, tentu saja tak jarang Jiyong merasa tersinggung atas perlakuan semena-mena itu, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia sadar, sikap seperti itulah yang dibutuhkan untuk membuatnya menjadi lebih baik. Jiyong bersyukur memiliki Dara sebagai orang terdekatnya. Seseorang yang selalu memberinya apa yang dia butuhkan, bukan apa yang dia inginkan.

***

Perasaan ini sungguh istimewa. Kau tidak akan bisa berhenti memikirkannya. Segala sesuatu tentangnya membuat jantungmu berdebar. Senyumannya, suaranya, hingga caranya berjalan. Semoga Tuhan mempertemukanku lagi dengannya.

Dara menutup buku hariannya dan memasukkan benda berwarna biru toska itu ke dalam tas. Sebelumnya ia sama sekali tidak pernah menulis buku harian seperti kebanyakan gadis lainnya. Namun, sejak kejadian kemarin ia merasa gatal ingin menuangkan perasaannya yang menggebu-gebu. Karena Min Hyeri–teman wanita terdekatnya- tidak bisa dihubungi, akhirnya Dara menulis buku harian.

Kwrk.. Kwrk..

Suara berisik apa ini? Gumam Dara. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Jiyong sedang tertidur pulas sampai mengorok. Ya Tuhan, pagi-pagi di bus begini ia masih saja tidur. Pasti begadang main game semalaman, pikirnya.

“Hei, bangun-bangun!” Dara menepuk pipi Jiyong pelan. Tak lama kemudian kedua mata Jiyong terbuka. Manik kelabunya bertemu dengan manik hazel Dara yang menatapnya jengkel. Namun, di mata Jiyong, Dara justru terlihat seperti anak kucing yang menggemaskan.

“Sungguh, mau jadi apa bangsa dan negara kita ini kalau spesies anak mudanya seperti dirimu semua? Apa kau tidak malu dilihat orang-orang?” hardik Dara.

Alih-alih bangun dan menegakkan posisi duduknya, Jiyong justru tersenyum tengil dan menyandarkan kepalanya pada bahu Dara.

“Biarkan aku tidur sebentar saja. Aku kelelahan.” ungkap Jiyong dengan mata terpejam.

Dara berdeham karena merasa tidak nyaman dengan posisi ini di tempat umum. Namun akhirnya ia berkata, “Tidurlah. Tapi jangan ngorok!”

“Arasseo. Aku tidak akan ngorok kalau tidur dengan posisi ternyaman seperti ini.”

Seiring dengan bus yang terus melaju, Jiyong terbuai dalam mimpi indahnya yang baru dimulai. Benih cinta yang mulai dipupuk tanpa ia niatkan dan tanpa ia sadari. Karena semua yang ia tahu hanyalah Dara lebih dari sekedar berarti untuknya.

Bersambung…

 

Annyeonghaseyo chingudeul! Perkenalkan. Aku Zia yang baru banget nulis di daragonindo. Hopefully kalian suka sama series ini ya. Maaf kalau ada grammatical errors atau typo. Ditunggu banget kritik sarannya untuk perbaikan chap. selanjutnya.

 

Ketjup peluk,

Z.

 

Advertisements

6 thoughts on “NEVER TOO LATE [Chap. 1]

  1. suatu saat nanti lo akan merindukan’y nong saat dunia dara sdh teralihkan oleh donghae😂dan gw harap dunia game lo gak teralihkan oleh sojung tp oleh dara sj😀ternyata jenong duluan yah yg sadar akan perasaan’y bhw mereka lebih dr sekedar tmn😁hwaiting utk next’y yah..gomawo😘

  2. Hahahha jiyong gamer yaa wkwkwk lucu juga sih, owww dara mnemukan cinta prtamanya, ahh syg bukan jiyong tpi donghae. Ji suka yaa sama dara, aigooo. Ad apa dgn donghae dan jiyong, hmm penasarannn.
    Bgusss critany, udh lama gak bca yg school life gini. Lanjuttt

  3. Daragon vers sekolah 😍😀😀 ceritanya Bagus min, alurnya ga bikin bosen dan ttep trs pgn lanjutin baca,,
    Jd dsni ceritanya gd dluan yoo yg suka sma dara.. Hihi smoga dra cepet sadar deh sma benih” Cinta nya GD, hmm dan pnasaran apa maksudnya GD kya pernah knal donghae 😅 semangat min buat bikin chap 2 nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s