SOMETHING CALLED LOVE – Keraguan [Chap. 9]

 

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

 

WARNING!

Ada scene 17+ yah..

Tatapan hanbin begitu tajam melihat ibunya dengan jiyong. Mereka berdua tengah duduk beriringan dipinggir dermaga danau dengan tenang yang tak begitu jauh dari toko. Kepala dara tersandar nyaman pada pundak jiyong dan jiyong tengah memainkan jemari dara. Mereka sesekali tersenyum dan tertawa. Hanbin mendesah, dia tidak bodoh. Dia sudah besar untuk memahami hal-hal seperti ini walau dara tidak menjelaskan apa-apa. hanya saja dalam lubuk hatinya dia belum siap jika ibunya itu memiliki pasangan baru. Dia tidak siap untuk menggantikan ayahnya.

Dia tahu jiyong begitu baik dan sangat peduli kepada dara. Dia juga bisa melihat hari demi hari dara menjadi ceria dan jarang murung lagi. Hanya saja hatinya tetap belum siap. terlalu berat dan terlalu cepat.

Dia lagi-lagi mendesah dan berbalik berjalan ke dalam toko. Dia merasa egois dengan pemikirannya ini namun dia tidak bisa menekan hatinya. hanbin begitu dekat dengan ayahnya makanya saat kecelakaan itu terjadi rasanya seperti jiwanya juga ikut mati dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan jika dia harus menerima pengganti ayahnya.

“oppa..?” terdengar suara lembut adiknya, sarang. Hanbin menoleh kepadanya.

“weh?” balasnya singkat.

Tiba-tiba tangan mungil sarang menarik hanbin untuk ikut dengannya. lalu dia berhenti ditempat yang baru saja dia tinggalkan. Sarang dengan ceria menunjuk dimana dara dan jiyong berada.

“paba.. oppa.. aigoo omma dan jiyong samcheon co cwiit yaa..” dengan polos sarang menoleh ke arah hanbin.

Kerutan di dahi hanbin membesar, lagi-lagi dia hanya bisa mendesah. Sarang berbeda dengannya, sarang lebih bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah tiada, karena dia selalu percaya bahwa ayahnya selalu sayang dan mengawasinya dari atas. Padahal sarang lebih kecil tapi pemikirannya lebih dewasa dalam hal ini, makanya dia sama sekali tidak keberatan jika dara memiliki suami baru dan dia mempunyai appa baru.

“jiyong samcheon sangat baik oppa, sarang suka jiyong samcheon untuk omma!” perkataan itu otomatis membuat hanbin sedikit kesal. Bagaimana semudah itu menerima orang baru? Pikirnya yang hanya mampu dia pendam sendiri dan bergegas pergi meninggalkan sarang yang bingung dengan sikap kakaknya itu.

“ooohh… sarang~ah!!”

Sarang mendengar ada yang memanggilnya dari kejauhan dan ternyata itu dari jiyong. Sarang tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya. Jiyong dan dara lalu berjalan menjauhi dermaga dan mendekati sarang.

“aigoo.. apa yang sarang lakuin disini?” tanya jiyong berjongkok dihadapannya. Lalu sarang tersenyum dan melirik jiyong dan dara bergantian.. “heheh.. tadi sarang mengintip omma dan samcheon!” balasnya polos lalu dara dan jiyong sama-sama tertawa kecil kepadanya.

“lain kali jangan mengintip araseo? Lebih baik sarang menghampiri kami saja ne? Jangan ngintip jauh-jauhan mending deket-dekatan.” kata jiyong sambil mengelus-elus rambut sarang dan sarang dengan antusias mengangguk.

Jiyong lalu bangkit berdiri dan menatap dara, “kalau begitu aku berangkat kerja dulu ne!” seru jiyong lalu mengecup kening dara.

“mmm.. fighting!” balas dara tersenyum.

dont forget about tonight?” goda jiyong membuat dara memukul dadanya.

Sarang mengamati mereka dengan senyuman lucu, walaupun dia tidak paham apapun tapi baginya mereka sudah seperti sepasang suami istri. Omma dan appa.nya yag baru.

“araseo..” jiyong tersenyum dan sekali lagi mengecup dara dan kali ini dia mengarahkannya pada bibirnya membuat dara terkejut.”YAK!” tapi jiyong hanya cengengesan tidak peduli.

Dara lalu melirik Sarang… dan mendesah melihat tatapan polos dari sarang.

“kamu ini.. gak lihat yah ada sarang!” gerutu dara dengan lucu. Tapi jiyong malah tertawa, dia lalu setengah berjongkok menatap sarang. “sarang~ah jangan kaget yah samcheon bakalan sering ngelakuin hal itu ke dara omma ne!” katanya tenang, sedangkan dara terkejut setengah mati mendengarnya.

“yak jiyong!” lagi-lagi dara mengomelinya namun jiyong hanya memberinya senyuman polos lalu secepat kilat meraih wajah dara dan mencium bibirnya lagi.

“anyeong..sarang~ah!”

Jiyong melambaikan tangannya pada saranglalu berlari pergi. Mata dara mengikuti langkah kakinya yang menjauh lalu hanya bisa menggeleng-geleng.

“anyeong samcheon!” balas sarang melambaikan tangannya. Lalu wajah  polos sarang beralih kepada dara. “omma.. apa itu berarti aku juga boleh ngelakuin itu sama temen sarang yah?” mata dara melotot lalu menggeleng.

“aniyoo baby, kamu gak boleh ngelakuin itu ke siapapun kecuali omma aja araseo!!”

“tapi tadi samcheon?” balas sarang bingung.

“aahahhah tadi samcheon bercanda baby. Udah yah lupain aja.. ayo sekarang masuk bantuin omma jagain toko minzy onnie nungguin tuh di dalem!” sahut dara mencoba mengalihkan pembicaraan.

Walau dalam hatinya dia merutuk jiyong. Tapi dia juga tersenyum dengan tindakan dadakan jiyong ini. aneh rasanya, karena dara bukan lagi remaja yang baru kenal hal-hal seperti ini, dia sudah pernah menikah dan kini memiliki 2 anak tapi tindakan jiyong tadi sejujurnya membuatnya malu, like butterfly is flying on her stomach everywhere. Dara menggeleng-geleng dan tersenyum kecil.

Sedangkan dari kejauhan,

Donghae menatap mereka dengan hati yang berat seakan sedang tersayat pisau tajam. Walau begitu dia hanya terdiam menatap mereka dari kejauhan tanpa melakukan apa-apa. Sakit. Sangat. Saat ini, yang dia inginkan adalah bahwa ini semua adalah sebuah mimpi.

“apa yang kupikirkan? Bukankah aku sendiri yang mendorong  jiyong untuk bersama dara?” katanya kesal.

“tapi mengapa ini rasanya seperti ini? ini terlalu menyakitkan?” lanjutnya lalu menjatuhkan dirinya dan menangkup kakinya sebagai sandaran.

Hyung ini terlalu menyakitkan? Mengapa kau membuatku seperti ini? mengapa kau tidak memberitahuku jika rasanya sakit seperti ini? mengapa kau malah pergi?mengapa kau melemparkan semua ini kepadaku? Jika aku tahu akhirnya begini dari awal aku tidak akan mau melakukan ini untukmu.

Dia mendesah dan lagi-lagi hanya bisa menekan hatinya kuat-kuat.

***

Dengan penampilan simple namun cukup membuat para mata wanita menatapnya dengan wow jiyong membawa satu ikat bunga mawar merah ditangannya. Dia tengah berada didepan rumah dara menunggu pujaan hatinya untuk keluar.

Jiyong tersenyum malu dengan pikirannya, pujaan hati?  Ujar hatinya lalu menggeleng-geleng.

Seperti janji mereka, jiyong akan menjemput dara pada pukul 7 malam.

Sejujurnya jiyong sedikit gugup. Walau tampangnya begini jiyong jarang sekali berkencan dengan wanita. Ini juga alasan dia belum menikah-menikah. Sebelum ada taeyeon, jiyong dikenal dengan pria dingin dan jarang sekali memulai hubungan dengan wanita. Woobin heran karena jiyong adalah salah satu letnan terkenal karena ketampanan dan dedikasi kerjanya yang bagus tapi jiyong malah sangat anti kepada wanita. Woobin dan haejin sering menjodohkan atau mengenalkan dirinya kepada wanita-wanita yang teman-temannya pilihkan tapi jiyong tetap saja tidak berkutik.

Jiyong terlalu focus terhadap pekerjaannya jadi dia tidak mau mencampuri hidupnya dengan wanita yang menurutnya hanya akan mengganggu dan membuang-buang waktunya sampai akhirnya taeyeon datang dan merubah 180 derajat kehidupannya. Sebenarnya jiyong, haejin, woobin dan taeyeon adalah teman lama. Mereka sudah saling kenal dari masa-masa kuliah di academy kepolisian. Taeyeon juga merupakah salah satu polisi wanita yang terkenal namun setelah menikah dengan haejin, dia berhenti dari kepolisian.

Semua ini adalah kesalahpahaman. Namun sudah terlambat untuk dijelaskan, taeyeon sudah tak ada, haejin sudah menggila dan semua orang sudah menyudutkannya jika semua ini adalah kesalahannya. Dia tidak bisa mengelak jika dia juga termasuk dalam penyebab semua ini. namun jika dia lebih awal menjelaskan dan memecahkan masalah semua ini tidak akan sampai seperti ini.

Dia terlalu percaya diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak menyadari jika semua orang tahu apa yang dia lakukan benar-benar riskan. Tapi dia tetap melakukannya karena dia tidak ingin kehidupan sahabatnya hancur namun semua memburuk saat taeyeon memiliki suatu rasa yang salah kepadanya. Tak ada niatan, dari awal jiyong tidak pernah menginginkan ini berbalik seperti ini namun ini terjadi dan dia tidak bisa melakukan apapun selain melarikan diri.

Dia bukannya takut dipenjara, dia tahu cepat atau lambat semuanya akan terjadi. Namun dia hanya tidak sanggup menghadapi hati sahabatnya. Dia memang seharusnya menghampiri haejin dan menjelaskan semuanya dan meminta maaf namun ini semua sudah beda. Jiyong yakin haejin tidak akan pernah memaafkan dan mencerna semua penjelasan jiyong. Haejin sudah berubah menjadi psikopat dan jiyong tahu itu, maka dari itu dia dan taeyeon bisa terjadi.

Dia berpikir wanita memang membuat hidupnya complicated. Lalu datanglah dara dalam hidupnya yang merubah pengertiannya tentang wanita. Dara begitu beda dengan semua wanita yang ia kenal, beda sekali dengan taeyeon. Entah kenapa tanpa banyak kata pun dara mampu menariknya untuk ingin jauh lebih mengenalinya.

Awal pertemuannya jiyong memang melihat sedikit kemiripan antara dia dengan taeyeon namun setelah lama tinggal disini dan mengenalinya, jiyong sadar dara dan taeyeon bukanlah orang yang sama. Taeyeon begitu hangat dan selalu peduli kepadanya, taeyeon yang selalu pertama menghapirinya. Sedangkan dara, wanita ini jika sehari saja tak bertemu sepertinya jiyong akan mudah dilupakan begitu saja. Begitu membuatnya penasaran dan seakan membuatnya selalu terdorong untuk mengunjunginya setiap saat. Dia tidak sehangat wanita yang sering ia kenal tapi ketika sudah dekat dengannya dia bahkan lebih perhatian daripada wanita yang dia anggap hangat diluaran itu. Ini bukanlah alasan dia menyadari bahwa dia menyayangi dara dan bukan karena sarang pula.. ini benar-benar muncul begitu saja.

“jiyong?” jiyong tersadar dari lamunannya saat suara yang saat ini memenuhi pikirannya memanggilnya.

“dara.” Lalu tatapan jiyong jatuh pada senyuman manis yang terpampang indah di wajah dara. Mata jiyong lalu menatapnya dari atas sampai kebawah.

im ready. Kaja..” seru dara, namun jiyong malah membatu dengan tatapan mata yang sudah ingin memakan dara secara hidup-hidup.

“ji?” “yepooo.. nomu yepo!” katanya terlontar begitu saja membuat pipi dara yang sudah merona itu bertambah memerah.

“aigo.. jiyong kamu berlebihan!” kata dara lalu memukul tangannya pelan.

Jiyong tertawa kecil lalu menjulurkan tangannya dan menunjukannya satu ikat mawar yang dia bawa, “for my lady…?” katanya lalu dengan sedikit malu dara meraih bunga itu dan menghirup bunga itu. Mulut jiyong terbuka, sungguh pemandangan yang sangat indah di hadapannya ini.

Setelah itu jiyong meraih tangan dara dan menyematkan jemarinya.

Mereka lalu pergi menggunakan mobil dara ke tempat yang sudah jiyong janjikan kepada dara. Tidak begitu lama mereka pun tiba. Jiyong dengan gentle membukakan pintu dan menuntun dara untuk turun, walaupun dara tertawa dengan tingkahnya yang berlebihan itu namun dara hanya mengikuti permainannya saja.

“hmm.. apa ini jiyong?” tanya dara saat dia melihat tempat yang mereka datangi begitu sepi dan tentunya begitu dara kenali.

“ini spesial.. just for my lady” katanya sambil menuntun dara untuk duduk.

“bukannya ini rumah makan soomin halmoni?” tanya dara heran, jiyong menyipitkan matanya,

“ssstt.. malam ini lupakan jika ini rumah makan soomin halmoni araseoo..” katanya bernada perintah. Dara tertawa kecil dan mengangguk.. “ndeh.. ndeh…”

“aku spesial memilih spot ini agar kita bisa melihat pemandangan indah ini. walaupun sangat susah merayu soomin halmoni untuk merubah dekorasinya heheh..” sahut jiyong antusias membuat dara tertawa.

“ohhh.. tunggu sebentar!”

Jiyong lalu menghilang ke dalam rumah makan, dara mengamatinya dengan senyuman yang masih menempel diwajahnya. Lalu dia menerawang kesekitarnya. Cahaya lampu perlak-perlik menghiasi dengan bantuan lilin-lilin cahaya menjadi sedikit terang walaupun masih remang-remang. Pemandangan dipinggir danau begitu indah dengan hanya pantulan cahaya rembulan.

Dia menjadi termenung, tiba-tiba dia mengingat kejadian 2 tahun yang lalu saat suaminya masih ada. Entah ini benar-benar kebetulan atau apa tapi spot ini adalah percis saat mereka merayakan annyversay mereka yang terakhir sebelum suaminya pergi selamanya dari hidupnya. Mengingat ini semua membuatnya menjadi sakit kembali.

Dia merutuk hatinya, mengapa dia harus seperti ini di saat-saat penting seperti ini.

“dara..?” panggil jiyong khawatir melihat wajah dara yang termenung.

“euh..?” dara menoleh kepadanya.

“kamu baik-baik aja?” tanya jiyong lalu menaruh satu botol wine, 2 gelas dan 1 piring berisi pasta.

“ohh.. tentunya. Aigoo.. apa ini semua kamu yang menyiapkan?” tanya dara tergesa-gesa seakan sedang mengalihkan perhatian.

Jiyong tersenyum lalu duduk kembali dihadapan dara.

Lalu dara menoleh ke arah jiyong dengan heran, “ji.. kenapa hanya satu piring?” jiyong merespon dara dengan tertawa kecil.

“heheh.. you know ada yang bilang kalau berkencan itu enaknya makan sepiring berdua!” mendengar itu dara tertawa kencang, “aigoo.. jiyong kau ini! kita sudah terlalu besar untuk melakukan hal-hal seperti ini!”

Jiyong manyun, “eyy.. dara sudahlah nikmati saja! Anggap saja kita ini masih anak SMA.lagian seumur hidupku baru kali ini aku melakukan ini!”

“aigoo.. araseo.. araseo..!”

Mereka pun mulai menyantap makanan dengan jiyong sesekali menyuapi dara. Jiyong menuangkan wine untuk dara dan untuknya.

“aku harap kamu suka dara.. jujur aku tidak tahu bagaimana cara mengesankan wanita!” tiba-tiba jiyong mendesah dan menunduk. Dara mengerutkan dahinya melihat tingkah jiyong yang aneh, “jiyong?”

“apa kamu tidak suka? Ini pasti membosankan bukan?” tanya jiyong sambil mengangkat wajahnya untuk menatap dara.

Dara menggeleng-geleng, “ani.. aku senang kok!”

“tapi aku perhatikan wajahmu dari tadi berbeda. Kau bahkan diam saja, apa ada yang salah?” tanya jiyong, lalu jiyong meraih tangan dara dan menangkupnya di tengah meja.

“apa ada sesuatu dara?” kali ini dara yang mendadak terdiam. Dara menarik napas dalam-dalam lalu menatap jiyong dengan senyuman ragu.

“aigoo.. itu hanya pikiranmu saja. Aku tidak apa-apa, aku sangat senang dengan semua yang kau persiapkan ini!”

Jiyong tidak merespon namun matanya tajam menatap dara, dia elus dengan pelan tangannya lalu mengecup tangan dara tanpa melepaskan pandangannya. Jiyong merasa ada yang salah dengan dara namun dia menghempaskan perasaannya itu.

“mau pulang? Mian.. hari ini aku sepertinya gagal!” seru jiyong sambil berekpresi kecewa namun dengan lucu. Dara tersenyum, “aniyoo jiyong.. aku puas dan sangat senang. Jadi kamu jangan berpikir seperti itu! Sudah dong jangan manyun kaya gitu!”

Jiyong tersenyum lalu mengecup tangan dara lagi.

***

Mereka pun pulang. Jujur jiyong sangat kecewa saat ini. dia masih ingin bersama dara dan saling tukar cerita namun melihat dara perasaan jiyong berkata jika ada yang salah dan sepertinya pilihan pulang lebih baik.

“ji..?” panggil dara. Jiyong yang saat ini menyetir menoleh kepadanya sebentar, “weoh..?”

“mian..” katanya pelan sambil mendesah “…aku sungguh terkesan dengan semua yang kamu siapkan. Hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Lanjutnya.

Jiyong tidak menoleh kepada dara tapi dia mendengarkan.

“aku ingin jujur kepadamu. Aku masih belum bisa melu..” “ohhh dara sepertinya hujan!” potong jiyong saat mendengar suara rintikan air hujan.

“aigoo.. padahal tadi aku lihat berita cuaca kalau hari ini tidak akan ada hujan!” kata jiyong. Namun dara bukan memikirkan hal itu.. otaknya tengah memikirkan hal lain dan dara ingin mengatakan yang sejujurnya kepada jiyong jika kali ini dara sadar jika dia belum siap untuk menjalin hubungan baru dengannya. dara masih memikirkan suaminya bahkan tadi pun dia tidak bisa focus menatap jiyong karena bayangan suaminya selalu tersirat.

“ji..” dara memanggilnya lagi.

“mmmhh..?”

“aku ingin berbicara sesuatu kepadamu!” suara dara semakin mengecil entah karena dara ragu dan takut ataukah karena suara dari hujan.

“apa? Aku tidak jelas mendengarnya?” tanpa melepaskan pandangannya pada jalanan didepan jiyong membalasnya.

Dara menggigit ujung bibirnya merasa sangat gugup. Bagaimana caranya mengatakan ini tanpa harus menyakiti jiyong?

Tiba-tiba dara terkejut ketika mobil berhenti.

“aigoo.. dara sepertinya mobilnya mogok!” sahut jiyong yang berusaha keras menstarter mobil namun mobil tetap tidak bergerak.

“sincha? Lalu bagaimana?” peristiwa ini berhasil mengalihkan pikiran dara.

“aku coba cek keluar dulu. Kamu tunggu disini!” jiyong lalu melepaskan seatbeltnya dan membuka pintu untuk keluar namun dara menahannya.

“tunggu jiyong.. kamu jangan keluar begitu aja ini lagi hujan.” Dara lalu menoleh kebelakang jok mobilnya mencoba mencari ada payung atau tidak lalu saat menyadari tidak ada tanda-tanda payung dia pun mendesah. Jiyong tersenyum melihatnya, “kwenchana.. basah sedikit gak apa-apa! Nanti kamu coba nyalakan mobilnya ne..” katanya lalu keluar dari mobil. Dara menatapnya dengan khawatir.

Namun jiyong sudah beberapa lama diluar mobil memeriksa mesin mobil dan dara sudah frustasi karena mobil tak kunjung menyala.

“ji uda.. masuk dulu kamu udah basah kuyup!” teriak dara memanggilnya, namun suara hujan yang semakin membesar ini menenggelamkannya. Dara lalu melepaskan seatbeltnya dan keluar mobil menghampiri jiyong.

“ji.. udah ayo masuk!” kata dara sambil menyentuh tangannya. Jiyong terkejut yang melihat dara keluar dari mobil. Dengan cepat jiyong menutup bagasi mobil dan menarik dara untuk masuk ke dalam mobil lagi, jiyong juga lalu bergegas masuk.

“apa yang kamu lakuin dara? Nanti kamu kehujanan!” gerutu jiyong dengan wajah yang sangat khawatir. Dara termenung menatap pria dihadapannya ini, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu sedangkan dirinyalah yang saat ini sudah basah kuyup. Tapi jiyong malah memperdulikan dara yang baru sebentar diluar mobil dibanding dia yang sudah berlama-lama diluar.

Dara menjadi bersalah, perasaannya menjadi terenyuh melihat jiyong begitu menyayanginya. Dia lalu meraih tubuh jiyong dan memeluknya erat.

“dara?” tanya jiyong bingung namun dara menggeleng.

“dara.. aigoo.. nanti kamu basah! Nanti kamu sakit.” Sahut jiyong mencoba melepaskan pelukan dara.

“ani jiyong~ah.. aku melakukan ini agar kamu gak kedinginan. aku gak mau kamu sakit!” kata dara lalu semakin mengeratkan pelukannya.

Jiyong sebentar terdiam menanggapi tindakan dara ini lalu beberapa menit kemudian dia tersenyum.

“dara.. kamu gak perlu khawatirin aku. Aku ini kuat basah kuyup karena hujan tidak akan membuatku sakit.” Jiyong lalu merenggangkan pelukan dara, tangannya meraih wajah dara.. “kamu tu yang mesti mikirin tubuh kamu. Aku gak mau kamu sakit, kamu masih punya 2 anak yang menunggumu di rumah!” sahut jiyong lalu dara menunduk mendengarnya.

“wehh? Apa kamu ingin sekali memelukku?.” dara perlahan mengangkat wajahnya dan menatap jiyong dengan sedikit kesal.

“Yak! Kamu ini dalam keadaan seperti ini masih saja bisa menggombal!” dara menjauhi jiyong dan memukuli dadanya dengan pelan lalu jiyong tertawa kecil, “Aigoo… dara aku selalu siap dipeluk sama kamu tapi kali ini beda.. aku lagi basah kuyup dan aku gak mau bikin kamu masuk angin karena kedinginan araseoo…” sahut jiyong sambil meraih wajahnya lagi.

“ndeh.. ndeh.. araseoo!” kata dara lalu memajukan bibirnya seperti anak kecil. Dara lalu tersenyum menyadari perilakunya yang tak sangka kekanak-kanakan itu dan mereka pun akhirnya tertawa bersama.

“ji”

“dara”

Mereka mengatakannya bersama-sama.

Mereka berdua lalu tersenyum lagi. Selang beberapa menit mereka hanya terdiam saling berpandangan. Lalu tatapan jiyong dan dara itu berubah menjadi sesuatu yang beda dan mereka sama-sama merasakan situasi itu. Mata jiyong lalu jatuh pada bibir dara, dengan perlahan jemari jiyong meraih pipi dara dan mengelusnya lembut, entah mengapa jari jiyong berakhir pada bibir dara. Perlahan menyentuh dan mengelusnya, tatapan jiyong lalu kembali beralih pada mata dara yang masih menatapnya dengan sama tajamnya itu. Bergantianmata jiyong menatap mata dara dan bibir dara. Dara sendiri sedang menahan napasnya menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi. Tatapan jiyong begitu membuatnya tak mampu bernapas. wajah jiyong setiap detiknya semakin mendekat memperkecil jarak diantara mereka. Mata mereka masih sama-sama terbuka dan tubuh mereka sudah sama-sama panas. Keadaan mereka berdua yang basah semakin memperkeruh situasi saat ini.

Jiyong memiringkan wajahnya perlahan lalu dorongan itu datang, dimana dara harus menutup matanya. “dara..” suara lembut jiyong menusuk telinganya membuat sekujur tubuhnya merinding. Melihat dara yang menutup matanya jiyong semakin terdorong untuk melakukan hal yang sudah mendidih dalam benaknya namun dia tak ingin terlalu terburu-buru dan merusak momennya ini. perlahan jiyong pun menutup matanya dan mendekati bibir dara.

Ketika bibir mereka akhirnya bersentuhan, dara merasakan seakan ada sengatan listrik disekujur tubuhnya saat ini. jiyong tidak bergerak dan dara pun sama, namun ketika tangan dara meraih leher jiyong, semuanya menjadi putih bagi jiyong. Dengan segenap hatinya dia mencium dara dengan sangat dalam seakan tak ada napas.

Satu tangan jiyong meraih pinggang dara menarik tubuhnya untuk semakin mendekat dan satu tangannya lagi meraih kepala dara untuk lebih menekankan ciumannya. Dara mendesah, dan jiyong yang mendengarnya mengerang.

Shit.. pikirnya memanas.

Jiyong memainkan bibir dara dengan lihai dan dara hanya bisa mengikuti jiyong. Tiba-tiba tangan jiyong menarik rambut dara sedikit membuat dara terkejut dan membuka mulutnya, kesempatan ini tak di sia-siakan oleh jiyong dengan begitu jiyong bisa sepuasnya memperdalam ciumannya. Lidah mereka beradu dengan jiyong yang lebih agresif. Lagi-lagi dara mengeluarkan suara desahan dan itu sungguh membuat naga yang ada di dalam tubuhnya semakin mengamuk.

Keadaan mobil yang sempit tak menghalangi jiyong, dia lalu melepaskan ciuman itu untuk melepaskan bajunya. Lalu tanpa menunggu lama jiyong meraih wajah dara lagi dan melahap bibirnya lagi yang sudah pucat itu. Tangan jiyong yang satunya lagi sibuk mengelus-elus tubuh dara.

Tangan dara tak kalah agresifnya, dia meraih rambut jiyong dan sesekali menariknya membuat jiyong mengerang dan memperdalam ciuman mereka.

“dara.. saranghae..

..saranghae..”

 disela-sela ciuman panasnya jiyong mengatakan hal itu membuat jiwa dara tiba-tiba termenung. Jiyong masih dengan agresif menciuminya, kini jiyong beralih menyerang leher dara memberikan bercak-bercak merah disana. Perlakuan jiyong yang sangat membuatnya panas ini berhasil mengalihkan pemikirannya tadi, lalu dara mendesah dan tangannya sibuk menyentuh punggung jiyong yang penuh tato itu.

“saranghae.. dara!” kata-kata itu kembali keluar dari mulut jiyong membuat dara kembali termenung. Saat jiyong akan menciuminya lebih bawah tangan dara menahan kepala jiyong. Jiyong menatapnya dengan tatapan mata yang masih high itu, namun belum juga lama jiyong sudah menyerang bibir dara lagi.

“ji..” panggil dara.

“ji..?” kali ini dara menangkup wajahnya dan menatap matanya sebentar  lalu tiba-tiba dara memalingkan wajahnya dari jiyong dan merapihkan pakaiannya yang sudah berantakan itu. Jiyong termenung menatapnya dengan sejuta rasa bingung dan kesal namun dia mencoba tenang walaupun keadaan tubuhnya sudah tidak bisa ditenangkan.

“dara? Ada apa? Apa ada yang salah?” tanya jiyong khawatir. Tapi dara tetap tak mau menatapnya.

Jiyong meraih wajahnya namun dara memalingkan wajahnya lagi.

DEG.

Jantung jiyong seakan mendadak mendapat heart attack.

“dara?” lagi dia mencoba memanggilnya.

“dara.. apa ada yang salah? Apa aku menyakitimu?” suara jiyong begitu terdengar rapuh saat ini, lalu dara berbalik menatapnya.

“mianhae jiyong.. aku .. ini salah.. aku belum bisa..” dara dengan terbata membalasnya lalu saat air mata dara berjatuhan dan suara tangisannya menusuk telinganya baru jiyong sadari apa yang telah terjadi dengan dara.

TBC^^

Guys guys..

Gimana tuh clue nya suami dara udah ada walaupun secomot tapi aku yakin ada gamabaran hahaha..

Aigoo.. nih hot-hot scenenya canggung gak? Jangan sambil dibayangin yah bacanya hahah.. nanti jadi gila kekek ^_^ udah mending nonton video #DARAGON kemarin.. gimana.. pada baper yah? Aku aja ampe shock pas liatnya.. uda ampir rusak layar hp karena terusan di pencet replay hahah.. soalnya gak puas!! Kapan lagi kita dapet moment langka kaya gitu.. si naga mau PDA didepan VIP pula wkwk.. kayanya mau ngumumin deh.. eh tapi si Engkong YG masih takut jadi moment kemarin disebut JOKE.. bullshit abis dah

Oh ya minggu depan off dulu guys.. aku Ujian dulu.. doain yoowww…semoga lancar dan nilai bagus #ngarep

Jadi penuhin komenannnya biar semangat ngetik chapternya wkwkw..

Oh iya komenan kalian, makasih udah nyempettin buat ngetik ama mikirnya heheh.. spekulasinya pada seru tapi belum ada yang seutuhnya ngena ke cerita ini.. FIGHTING buat terus menebak.. kekek

HENGSHO

 

Advertisements

23 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – Keraguan [Chap. 9]

  1. oh jd dara blm bisa move on dr suaminya…. oh jd donghae ada hubungannya sm suaminya dara apa mungkin donghae itu adiknya suaminya dara dan dara nggak tau tentang itu ya kak…. ah jd kasihan sm jiyong padahal dis itu sayang bgt sm dara tp dara malah blm bisa move on dr suaminya….. sabar aja deh buat bang jiyong buat nungguin dara move on dr suaminya dan dara cpt dong buka hatimu buat bang jiyong…… wah kak daragon momentnya nanggung bgt sih bikin baper aja sih wkwkwk
    Aq jg sm kaya authornya nonton vidio GD ama dara smp berkali-kali kan jarang” tuh gd gituin dara didpn kamera meski sikakek YG itu bilang cuma joke tp kita semua nggak percaya pokoknya daragon itu real……
    Fighting buat ujiannya ya kak dan semoga hasilnya memuaskan dan ditungguin kelanjutan ffnya masih baper nih sm sikapnya dara hehehe……

  2. ahhh jadi donghae ada hubungannya sama suami dara yg lama ?tapi kenapa dia mesti smbunyi gt mantau daraaa
    semoga ji bisa sabar ngguin daraa moveonnn kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s